Monitorday.com – Diskusi adalah bagian dari kehidupan manusia. Kita berdiskusi di ruang kelas, di tempat kerja, di meja makan, hingga di kolom komentar media sosial. Tapi sering kali, diskusi justru berakhir ricuh, penuh emosi, atau malah jadi ajang saling menjatuhkan. Apa yang salah? Jawabannya sering kali terletak pada satu hal yang sederhana namun sangat fundamental: adab berdiskusi.
Adab berdiskusi adalah seperangkat sikap, etika, dan kebiasaan yang harus dijunjung tinggi saat bertukar pikiran. Ia bukan hanya soal berkata sopan, tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain saat tidak sepakat. Di tengah dunia yang makin ramai dengan opini, adab ini menjadi semakin penting untuk menjaga nalar sehat, menghargai perbedaan, dan membangun peradaban dialog yang positif.
Bukan Sekadar Menang Argumen
Sering kali orang masuk ke dalam diskusi dengan satu tujuan: menang. Padahal, hakikat diskusi bukanlah saling mengalahkan, tetapi saling melengkapi dan mencari kebenaran bersama. Ketika adab diabaikan, diskusi berubah menjadi debat kusir yang lebih banyak menghasilkan kebencian ketimbang pemahaman.
Adab berdiskusi mengingatkan kita bahwa setiap orang punya hak untuk berbicara, dan setiap pendapat layak untuk didengar. Dalam diskusi yang sehat, tidak ada tempat untuk menyerang pribadi, menyela, atau meremehkan pendapat orang lain. Menang bukan karena suara paling keras, tapi karena argumen paling bijak.
Menjaga Martabat Diri dan Orang Lain
Salah satu alasan utama adab berdiskusi penting adalah karena ia mencerminkan martabat seseorang. Cara seseorang berdiskusi bisa menunjukkan tingkat kedewasaan, wawasan, dan kematangan emosinya. Orang yang bisa berbeda pendapat tanpa emosi adalah orang yang kuat secara mental.
Di sisi lain, adab berdiskusi juga berfungsi menjaga harga diri orang lain. Bahkan jika kita tidak setuju dengan sebuah pendapat, kita tetap bisa menyampaikannya tanpa merendahkan. Ini bukan hanya soal sopan santun, tapi soal respect—bahwa setiap manusia pantas dihormati meski pikirannya berbeda dengan kita.
Adab Berdiskusi dalam Perspektif Keislaman
Dalam Islam, adab berdiskusi bukan hal yang sepele. Banyak ayat dalam Al-Qur’an dan hadis yang menunjukkan betapa pentingnya berdialog dengan cara yang baik. Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah QS. An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Ayat ini memberi kita panduan jelas bahwa bahkan dalam perbedaan ideologi atau agama sekalipun, Islam mengajarkan untuk berdebat dengan cara terbaik, bukan dengan caci maki atau emosi.
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang sangat tenang dalam berdiskusi. Beliau tidak pernah memotong lawan bicara, tidak merendahkan, dan selalu menjawab dengan penuh hikmah. Ini menjadi teladan bagi kita bahwa berdiskusi dengan adab adalah bagian dari akhlak mulia.
Tantangan di Era Digital: Diskusi Tanpa Wajah
Hari ini, banyak diskusi terjadi di dunia maya—grup WhatsApp, kolom komentar, atau media sosial. Tantangannya, ketika diskusi dilakukan tanpa tatap muka, banyak orang merasa bebas berkata seenaknya. Anonimitas memberi ruang bagi komentar pedas, serangan pribadi, bahkan ujaran kebencian.
Di sinilah adab berdiskusi menjadi sangat krusial. Kita harus menyadari bahwa di balik setiap akun ada manusia yang punya perasaan. Ketika adab ditinggalkan, internet bukan lagi tempat belajar dan bertukar ide, tapi jadi ladang konflik yang melelahkan.
Maka penting bagi kita semua—khususnya generasi muda—untuk menjadikan adab berdiskusi sebagai bagian dari literasi digital. Bukan hanya bisa menulis atau membaca, tapi juga tahu bagaimana menyampaikan ide dengan baik dan menghargai yang berbeda.
Manfaat Menjaga Adab dalam Diskusi
Berikut beberapa manfaat nyata dari menjaga adab saat berdiskusi:
- Membangun Citra Positif
Orang yang santun dan tenang dalam diskusi akan dihormati, bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan. Ia akan dikenal sebagai pribadi yang dewasa dan berkelas.
- Meningkatkan Daya Pengaruh
Ide yang baik bisa tidak diterima jika disampaikan dengan cara yang salah. Sebaliknya, ide yang biasa-biasa saja bisa didengar jika disampaikan dengan adab dan strategi komunikasi yang tepat.
- Menghindari Konflik yang Tidak Perlu
Banyak konflik sebenarnya bisa dicegah jika sejak awal diskusi dijalankan dengan adab. Emosi bisa diredam, perbedaan bisa dijembatani.
- Membuka Jalan Kolaborasi
Diskusi yang sehat bisa membuka jalan bagi kerja sama, inovasi, dan solusi bersama. Ini jauh lebih produktif dibanding saling menjatuhkan.
Kesimpulan: Saatnya Kembali ke Nilai-Nilai Dasar
Di tengah dunia yang makin gaduh, kita butuh ruang diskusi yang sehat dan bermartabat. Adab berdiskusi bukan hanya soal gaya bicara, tapi tentang bagaimana kita membangun dunia yang lebih toleran, adil, dan saling menghormati. Ia adalah jembatan antara perbedaan dan pemahaman.
Jadi mulai sekarang, sebelum menanggapi sebuah pendapat—baik di dunia nyata maupun digital—cobalah tanyakan pada diri sendiri:
Apakah saya sedang berdiskusi untuk mencari kebenaran, atau hanya ingin menang?
Apakah kata-kata saya membangun, atau justru menyakiti?
Jika jawabannya membangun dan menghargai, maka kita telah mempraktikkan adab berdiskusi. Dan itu adalah langkah kecil namun sangat berarti untuk menciptakan perubahan besar.