Connect with us

Ruang Sujud

Menjemput Berkah di Ranjang

Jauh dari kesan tabu, Islam memandang aktivitas seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah sebagai sedekah dan sumber pahala bagi pelakunya.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan hukum atau sosial, melainkan sebuah ibadah yang sangat mulia. Salah satu dimensi penting dalam pernikahan adalah hubungan intim antara suami dan istri. Jauh dari kesan tabu, Islam memandang aktivitas seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah sebagai sedekah dan sumber pahala bagi pelakunya.

Banyak orang mungkin bertanya, bagaimana mungkin aktivitas biologis bisa bernilai pahala? Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa dalam hubungan intim yang dilakukan suami istri terdapat nilai sedekah. Hal ini karena pasangan tersebut telah memilih cara yang halal untuk menyalurkan hasratnya dan menjauhi perbuatan zina yang diharamkan Allah SWT.

Tujuan utama dari hubungan ini bukan sekadar pemuasan nafsu, melainkan untuk membangun kasih sayang (mawaddah), menjaga kesehatan mental dan fisik, serta upaya untuk melahirkan generasi muslim yang saleh dan saleha.

Islam adalah agama yang sangat detail dalam mengatur etika, termasuk urusan ranjang. Ada beberapa adab yang disunnahkan untuk dilakukan:

  1. Membersihkan Diri dan Berhias: Sebelum memulai, hendaknya suami maupun istri menjaga kebersihan badan dan menggunakan wewangian. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa nyaman dan meningkatkan daya tarik di mata pasangan.
  2. Menciptakan Suasana yang Nyaman: Pastikan ruangan dalam keadaan tertutup dan privasi terjaga sepenuhnya dari pandangan orang lain, termasuk anak-anak.
  3. Membaca Doa: Ini adalah poin krusial agar aktivitas tersebut diberkahi. Doa yang dianjurkan adalah:
    “Bismillah, Allahumma jannibnas-syaythana wa jannibis-syaythana ma razaqtana”
    (Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami).

Islam sangat memperhatikan kepuasan kedua belah pihak. Seorang suami dilarang langsung melakukan penetrasi tanpa adanya “pendahuluan.” Rasulullah SAW menganjurkan adanya pesan cinta, ciuman, dan rayuan sebelum berhubungan. Hal ini penting agar istri tidak merasa hanya dijadikan objek pemuas, melainkan sebagai partner yang setara dalam mendapatkan kebahagiaan batin. Komunikasi yang baik selama berhubungan sangat disarankan untuk menciptakan keharmonisan.

Meskipun Islam memberikan kebebasan dalam mengeksplorasi posisi atau gaya bercinta, ada batasan-batasan syariat (garis merah) yang tidak boleh dilanggar:

  • Dilarang Melalui Dubur (Anus): Islam dengan tegas mengharamkan hubungan seksual melalui jalur belakang. Perbuatan ini dianggap sebagai dosa besar dan melanggar fitrah manusia.
  • Larangan Saat Haid dan Nifas: Suami dilarang melakukan hubungan seksual (penetrasi) saat istri sedang dalam masa menstruasi atau nifas. Namun, aktivitas bermesraan lainnya selain penetrasi tetap diperbolehkan.
  • Menjaga Rahasia Ranjang: Salah satu pelanggaran berat dalam etika Islam adalah menceritakan detail hubungan intim kepada orang lain. Rahasia di atas tempat tidur bersifat sakral dan hanya menjadi milik suami-istri.

Setelah menyelesaikan hubungan, pasangan diwajibkan untuk melakukan mandi janabah atau mandi wajib sebelum mereka diizinkan melaksanakan ibadah ritual seperti salat atau membaca Al-Qur’an. Jika ingin mengulangi hubungan atau ingin tidur terlebih dahulu sebelum mandi, disunnahkan untuk setidaknya mencuci kemaluan dan berwudu.

Secara psikologis, hubungan intim yang sehat dan dilakukan sesuai tuntunan agama akan memperkuat ikatan emosional antara suami dan istri. Hal ini menjadi benteng pertahanan keluarga dari godaan pihak luar. Ketika kebutuhan batin terpenuhi dengan cara yang makruf (baik), maka suasana rumah tangga akan menjadi lebih tenang, damai, dan penuh kasih sayang (sakinah).

Hubungan suami istri dalam Islam adalah perpaduan antara pemenuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Dengan mengikuti adab dan aturan yang telah ditetapkan, aktivitas ini tidak hanya memuaskan raga, tetapi juga menenteramkan jiwa dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan rumah tangga.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Ibnu Haytham: Ilmuwan Muslim Pertama yang Mengubah Cara Dunia Berpikir

Published

on

Di dunia yang hari ini penuh jawaban, kita justru kehilangan satu hal yang paling penting: pertanyaan.

Segalanya tersedia. Informasi mengalir tanpa henti. Jawaban hadir bahkan sebelum kita selesai berpikir. Namun di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang diam-diam hilang—cara kita mencari kebenaran. Kita terbiasa menerima, jarang menguji. Kita cepat percaya, lambat meragukan.

Dalam konteks inilah, Ibnu al-Haytham menjadi relevan—bukan sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai cara berpikir yang terasa semakin langka.

Dalam sebuah forum ilmiah santri di STAIMA Al-Hikam, Malang, Wamendikti Saintek Profesor Stella, sempat menyebut namanya sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia. Sebuah klaim yang, pada awalnya, terdengar berlebihan. Bukankah sebelum Ibnu Haytham sudah ada banyak pemikir besar?

Namun, pertanyaannya bukan siapa yang lebih dulu menemukan sesuatu. Pertanyaannya adalah: siapa yang pertama kali mengajarkan bagaimana menemukan.

Di masa sebelum Ibnu Haytham, pengetahuan berjalan di atas otoritas. Apa yang dikatakan oleh para pemikir besar diterima sebagai kebenaran. Dunia percaya karena memang tidak ada alasan untuk tidak percaya. Tradisi berpikir belum mengenal keraguan sebagai metode.

Ibnu Haytham datang dengan sesuatu yang berbeda.

Ia tidak menolak pengetahuan sebelumnya, tetapi ia tidak tunduk padanya. Ia membaca, lalu meragukan. Ia memahami, lalu menguji. Bahkan terhadap pemikir besar seperti Ptolemy dan Aristoteles, ia memilih untuk tidak sekadar menerima.

Baginya, pencari kebenaran harus berani menjadi “musuh” bagi apa yang ia baca.

Dari situlah sesuatu yang baru lahir—bukan sekadar teori, tetapi metode.

Ibnu Haytham memperkenalkan pendekatan yang hari ini menjadi fondasi sains modern: observasi, eksperimen, dan verifikasi. Ia tidak hanya bertanya “apa”, tetapi juga “bagaimana kita tahu bahwa ini benar”. Ia tidak berhenti pada penjelasan, tetapi melanjutkan pada pembuktian.

Dalam karyanya Kitab al-Manazir, ia menjelaskan bahwa penglihatan terjadi karena cahaya masuk ke mata, bukan sebaliknya. Temuan ini mungkin terdengar sederhana hari ini, tetapi pada zamannya, ia mengguncang cara manusia memahami dunia.

Namun, sekali lagi, yang lebih penting dari temuannya adalah cara ia sampai pada temuan itu.

Ia menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang dicari. Bahwa ilmu bukan milik mereka yang berbicara paling keras, tetapi mereka yang mampu membuktikan dengan paling jujur.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama.

Bukan karena ia yang pertama berpikir, tetapi karena ia yang pertama merumuskan cara berpikir itu sendiri.

Di hadapan para santri, gagasan ini menemukan momentumnya. Selama ini, banyak dari kita memaknai belajar sebagai proses menerima—menerima penjelasan, menerima teks, menerima otoritas. Padahal, dalam tradisi ilmiah yang ditunjukkan Ibnu Haytham, belajar justru dimulai dari bertanya.

Menjadi santri ilmiah bukan berarti meninggalkan iman. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk memuliakan akal sebagai bagian dari pencarian kebenaran. Ibnu Haytham tidak memisahkan antara ilmu dan spiritualitas. Baginya, memahami dunia adalah bagian dari memahami ciptaan.

Bagi Ibnu Haytham, pencarian ilmiah berakar pada tauhid. Ia memulai tulisannya dengan menyebut nama Allah, dan menutupnya dengan pujian serta shalawat—bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai kesadaran bahwa ilmu adalah bagian dari penghambaan. Dalam dirinya, sains bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan ubudiyyah: upaya mendekat kepada Tuhan melalui kejujuran dalam mencari kebenaran. Dari keyakinan itulah lahir disiplin, ketekunan, dan keberanian untuk menguji. Ia tidak meneliti untuk sekadar tahu, tetapi untuk memahami ciptaan dengan cara yang paling jujur.

Dan memahami ciptaan, pada akhirnya, adalah jalan menuju Sang Pencipta.

Namun, relevansi Ibnu Haytham tidak berhenti di ruang-ruang kajian. Ia justru semakin terasa penting di era hari ini—era ketika kecerdasan artifisial mampu menjawab hampir segala hal.

Kita hidup dalam zaman di mana mesin bisa memberi jawaban, tetapi tidak semua manusia mampu mengajukan pertanyaan.

Di sinilah letak paradoks kita.

Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi cara berpikir kita tidak selalu ikut tumbuh. Kita memiliki akses pada pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki metode untuk memahaminya. Kita tahu banyak hal, tetapi belum tentu tahu bagaimana memastikan bahwa yang kita tahu itu benar.

Jika Ibnu Haytham hidup hari ini, mungkin ia tidak akan terpesona oleh kecanggihan teknologi. Ia justru akan bertanya: apakah kita masih menguji, atau hanya menerima dalam bentuk yang lebih canggih?

Sebab tanpa metode, pengetahuan hanya akan menjadi ilusi yang terlihat meyakinkan.

Ibnu Haytham mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi mendasar: bahwa ilmu dimulai dari keraguan yang jujur. Dari keberanian untuk tidak langsung percaya. Dari kesediaan untuk menunda kepastian, demi menemukan kebenaran yang lebih utuh.

Maka, ketika ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia, mungkin yang dimaksud bukanlah urutan sejarah, melainkan sebuah lompatan cara berpikir.

Ia tidak hanya menemukan jawaban. Ia menemukan cara untuk tidak mudah puas dengan jawaban.

Dan di dunia yang hari ini penuh dengan kepastian instan, mungkin itulah pelajaran yang paling kita butuhkan.

Continue Reading

News

Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadan

Bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana, menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah bulan Ramadan. Pernyataan ini disampaikan dalam tausiah reflektif pada acara Gerakan Subuh Mengaji yang diselenggarakan pada Sabtu (28/03).

Ayi Yunus Rusyana menekankan bahwa bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan. Ia mengakui tantangan dalam mempertahankan konsistensi ibadah pasca-Ramadan.

Banyak umat, kata Ayi, cenderung menganggap Ramadan sebagai “garis finis” setelah sebulan penuh beribadah, yang berakibat pada penurunan semangat ibadah di bulan Syawal. Kondisi ini terlihat dari masjid-masjid yang kembali lengang, berkurangnya tilawah Al-Qur’an, dan merosotnya semangat bersedekah secara drastis setelah Ramadan.

“Fenomenanya begitu. Ramadan terasa sempit karena jamaah membludak, tetapi Syawal membuat masjid kembali ‘luas’,” ujarnya.

Ia juga menyinggung data penghimpunan zakat, infak, dan sedekah yang mencapai puncaknya di bulan Ramadan, namun kembali menurun pada bulan berikutnya. Menurut Ayi, kondisi ini menunjukkan adanya pandangan ibadah sebagai aktivitas musiman, padahal Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 92 telah mengingatkan agar manusia tidak seperti orang yang merusak kembali benang yang telah dipintal kuat. Ia menambahkan, tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni la’allakum tattaqun, menunjukkan proses berkelanjutan, bukan hasil instan.

“Takwa itu bukan status yang selesai diraih setelah Ramadan, tetapi proses yang terus dijalani,” jelasnya.

Continue Reading

News

Masa Depan Zakat Berbasis Edge AI

Permasalahan utama terletak pada kurangnya kepercayaan (trust) dari muzaki dan efisiensi dalam proses distribusi

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Filantropi Islam di Indonesia berada di titik krusial menuju tahun 2026, menghadapi tantangan besar dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional. Meskipun Indonesia Zakat Outlook 2026 mencatat potensi zakat mencapai lebih dari Rp 327 triliun, realitas penghimpunan nasional masih sangat rendah, seringkali hanya menyentuh angka belasan persen dari potensi tersebut. Situasi ini mendorong pemikiran ulang tentang bagaimana teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), dapat dimanfaatkan.

Permasalahan utama terletak pada kurangnya kepercayaan (trust) dari muzaki dan efisiensi dalam proses distribusi. Pembayar zakat menuntut transparansi real-time, sementara lembaga amil membutuhkan kecepatan dalam memvalidasi penerima yang berhak. Dalam konteks ini, AI tidak hanya dipandang sebagai tren, melainkan sebagai infrastruktur esensial untuk menjaga kemurnian amanah umat sesuai koridor syariah dan mengatasi celah lebar antara potensi dan realisasi.

Riset menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pengelolaan zakat mampu meningkatkan efisiensi penghimpunan hingga 40 persen dan mempercepat distribusi bantuan sebesar 55 persen. Namun, penting ditekankan bahwa digitalisasi tanpa kerangka riset yang kuat berisiko menciptakan otomasi yang “buta” terhadap nilai-nilai lokal dan prinsip fikih. Banyak pihak terkadang terjebak pada keinginan mengilmiahkan zakat hingga mengaburkan batasan syariat yang telah ditetapkan.

Penting untuk memastikan klasifikasi penerima zakat tidak meleset dari batasan syariat. Kecerdasan Buatan memiliki peran vital dalam menegaskan hal ini.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fisabilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Melalui pendekatan algoritma klasifikasi, AI memungkinkan penentuan yang presisi terhadap kategori penerima zakat. Misalnya, AI dapat menganalisis Debt-to-Income Ratio untuk mengidentifikasi gharimin (orang terlilit utang demi kebutuhan pokok) atau menggunakan geospatial analytics untuk memetakan musafir yang membutuhkan bantuan darurat (ibnu sabil). Dengan formula rasio kecukupan, AI membantu amil mengambil keputusan yang lebih objektif.

Hasil implementasi ini sangat signifikan, dengan potensi menekan kesalahan sasaran (inclusion and exclusion error) dalam distribusi zakat hingga 22 persen. Angka ini memiliki arti besar bagi keadilan sosial dan penguatan kepercayaan publik. Pendekatan Whitecyber Research Framework (WRF) digunakan untuk menganalisis implementasi AI untuk Zakat, Infaq, dan Shodaqoh, memastikan teknologi diintegrasikan sebagai ekosistem yang mencakup keamanan data, kecerdasan buatan, dan dampak sosial yang terukur.

Continue Reading

News

Saat Habibie Belajar dari Dua Yahudi tentang Kunci Kesuksesan

Published

on

Monitorday.com – Ada satu sisi dari Bacharuddin Jusuf Habibie yang jarang diceritakan—bukan tentang pesawat, bukan tentang jabatan, tapi tentang sebuah malam yang diam-diam mengubah arah hidupnya.

Di RWTH Aachen University, Jerman, Habibie muda dikenal sebagai mahasiswa jenius. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya: ia selalu berada di peringkat tiga. Di atasnya, dua mahasiswa lain—yang konsisten menempati posisi pertama dan kedua.

Rasa penasaran itu tidak bisa ia abaikan.

Suatu hari, ia bertanya langsung, “Apa rahasia kalian?”

Keduanya hanya tersenyum. Tidak ada jawaban.

Waktu berlalu, hingga suatu malam, Habibie mendapat kesempatan menginap di rumah mereka. Di sanalah, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia duga.

Pukul dua dini hari. Bukan suasana tidur, bukan pula hening yang biasa. Dua temannya itu justru sedang duduk serius, membaca.

Habibie mendekat. Ia ingin tahu buku apa yang membuat mereka begitu tekun, bahkan di jam yang bagi banyak orang adalah waktu terlelap. Dan saat itu, ia terdiam. Yang mereka baca adalah Al-Qur’an.

Habibie kaget. “Itu kitab suci agama saya. Kenapa kalian membacanya?”

Jawaban mereka sederhana, tapi menghantam sangat dalam.

“Rudy… seandainya umatmu benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an, mereka tidak akan bisa dikalahkan. Ini kunci yang ditinggalkan oleh umatmu sendiri.”

Kalimat itu tidak keras. Tapi justru karena tenang, ia terasa lebih tajam.

Malam itu, Habibie tidak langsung menjawab. Ia pulang dengan pikiran yang penuh. Ada sesuatu yang terasa janggal—seolah ia diingatkan tentang sesuatu yang seharusnya sudah ia miliki sejak awal.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Ia mulai bangun di malam hari. Bersuci. Menunaikan tahajud. Lalu membaca Al-Qur’an—bukan sekadar membaca, tapi merenungi.

Perubahan itu mungkin tak terlihat oleh orang lain. Tapi dalam diam, ia membangun sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar prestasi akademik: kedalaman, ketenangan, dan kejernihan berpikir.

Kisah ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih pintar di kelas. Ini tentang sebuah kesadaran sederhana: kadang, kita kehilangan sesuatu yang paling dekat dengan kita. Dan ironisnya, orang lain justru melihat nilainya lebih dulu.

Habibie tidak hanya belajar tentang teknologi di Jerman. Ia belajar tentang dirinya sendiri. Bahwa kecerdasan bukan hanya soal logika, tapi juga tentang hati yang terhubung.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sejati—bukan pada apa yang kita kejar, tapi pada apa yang kita hidupkan kembali.

Continue Reading

News

Inilah Erlyanie, ART yang Sukses Bangun Bisnis dengan Nilai Spiritual

Published

on

Monitorday.com – Perjalanan hidup Erlyanie tidak dimulai dari ruang rapat berpendingin udara atau meja kerja yang nyaman. Ia memulainya dari dapur orang lain—sebagai asisten rumah tangga (ART), menjalani hari-hari dengan keterbatasan, tetapi menyimpan satu hal yang tidak pernah padam: keyakinan bahwa hidup bisa berubah.

Dalam sebuah podcast yang dipandu konsultan strategi brand Verra Oktaviani, Erlyanie bercerita dengan jujur tentang fase hidupnya yang keras. Ia datang ke Jakarta bukan dengan modal finansial, melainkan keberanian. Tidak ada jaminan masa depan. Tidak ada privilege. Yang ada hanya kemauan untuk bertahan, dan pelan-pelan, mencari celah untuk naik.

Namun, yang menarik dari kisahnya bukan sekadar transformasi ekonomi—melainkan cara ia membangun fondasi hidupnya. Erlyanie tidak hanya belajar tentang bisnis. Ia membangun dirinya dari dalam. Dalam podcast tersebut, terlihat jelas bahwa ada satu kekuatan yang ia pegang teguh: nilai spiritual.

Ketika akhirnya ia mulai merintis usaha kosmetik, yang kini dikenal sebagai BL Cosmetic (B Erl Cosmetics), ia tidak membangun bisnis hanya dengan logika pasar. Ia membangun dengan keyakinan.

Bagi Erlyanie, bisnis bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang membentuk manusia. Ia percaya bahwa ketika hati ditata, maka kerja akan mengikuti. Ketika hubungan dengan Tuhan dijaga, maka hubungan dengan sesama akan lebih jujur dan bertanggung jawab.
Nilai ini kemudian menjadi semacam “energi tak terlihat” dalam perusahaannya—yang tidak tercatat di laporan keuangan, tetapi terasa dalam cara timnya bekerja.

Di perusahaannya, ada kebiasaan yang tidak lazim di banyak bisnis modern: shalat lima waktu menjadi rutinitas yang dijaga, dan sebelum aktivitas kerja dimulai, karyawan diajak untuk mengaji bersama. Ini bukan formalitas. Ini adalah kultur.

Dari sisi bisnis, pendekatan ini justru memperkuat fondasi. Di tengah kerasnya persaingan industri kecantikan, BL Cosmetic tumbuh dengan model distribusi berbasis komunitas dan reseller. Namun di balik itu, ada kohesi tim yang tidak hanya dibangun oleh target, tetapi oleh nilai bersama. Erlyanie memahami satu hal yang sering dilupakan banyak pelaku usaha: bisnis yang kuat bukan hanya soal strategi, tetapi soal karakter orang-orang di dalamnya.

Perjalanan dari ART menjadi pengusaha bukan sekadar lompatan status sosial. Itu adalah perjalanan kesadaran. Dari bekerja untuk orang lain, menjadi seseorang yang memberi kerja. Dari bertahan hidup, menjadi pencipta nilai.

Dan di titik itulah, Erlyanie mengambil pilihan yang tidak semua orang ambil—ia tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual ketika bisnisnya tumbuh. Ia justru menjadikannya sebagai fondasi. Kisahnya menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang semakin cepat dan kompetitif, masih ada ruang untuk membangun bisnis dengan cara yang lebih dalam. Bukan hanya mengejar profit, tetapi juga keberkahan.

Dari dapur sederhana hingga membangun perusahaan, Erlyanie menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang, ia tumbuh dari keyakinan yang dijaga dengan disiplin—setiap hari, setiap waktu.

Continue Reading

News

Lebaran di Rusia, Putin: Momentum Kemurahan Hati dan Penguat Persatuan

Published

on

Monitorday.com – Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan ucapan selamat Idulfitri 1447 Hijriah kepada umat Muslim di Rusia, sekaligus menegaskan peran penting mereka dalam pembangunan negara.


Dalam pesan resminya yang dilansir dari RT News, Ahad (22/3), Putin menggambarkan Idulfitri bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momen yang sarat nilai kemanusiaan.

Ia menyebut, “Idulfitri sebagai momentum yang sarat dengan nilai-nilai luhur seperti kemurahan hati, kasih sayang, dan peningkatan kualitas moral umat.”


Menurutnya, perayaan ini punya makna lebih luas karena mampu memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat Rusia yang beragam.


Putin juga memberikan apresiasi kepada umat Muslim yang dinilai konsisten menjaga tradisi spiritual dan sejarah leluhur. Ia mencatat, suasana Idulfitri dirayakan secara luas—baik di lingkungan keluarga maupun komunitas—yang pada akhirnya memperkuat kohesi sosial bangsa.


Tak hanya itu, ia menyoroti aktivitas positif selama Ramadan. Mulai dari kegiatan amal, budaya, pendidikan, hingga program untuk anak-anak. Baginya, hal ini menunjukkan peran nyata umat Islam dalam memperkuat keluarga sekaligus membina generasi muda.


Putin juga mengapresiasi organisasi-organisasi Muslim yang aktif membangun dialog dengan pemerintah dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam berbagai inisiatif—baik patriotik, kemanusiaan, maupun pendidikan—telah memberi kontribusi penting bagi stabilitas Rusia.


Di akhir pesannya, Putin menyampaikan penghormatan kepada umat Muslim yang turut berjuang untuk negara dan mendukung keluarga para pahlawan.


Ia pun berharap seluruh Muslim di Rusia selalu diberikan kesehatan, kesuksesan, dan kebaikan.
Diketahui, umat Islam di Rusia merayakan Idulfitri tahun ini pada 20 Maret 2026, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan.

Continue Reading

News

Mengurai Perbedaan Lebaran di Indonesia

Published

on

[domain_ca[ital} – Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia kembali terjadi tahun ini. Umat Islam merayakan Lebaran dalam tiga waktu berbeda—Kamis, Jumat, dan Sabtu. Fenomena ini memicu perdebatan publik, terutama di media sosial, yang kerap memandang perbedaan tersebut sebagai bentuk perpecahan.

Namun, para ulama menegaskan bahwa perbedaan ini justru merupakan bagian dari kekayaan tradisi keilmuan Islam, yang berakar pada konsep ijtihad.

Perbedaan penentuan Idul Fitri pada dasarnya bersumber dari tiga metode utama, yakni rukyat global, hisab, dan rukyat lokal. Masing-masing metode memiliki landasan dalil dan argumentasi yang kuat dalam khazanah fikih Islam.

Metode rukyat global berpegang pada prinsip bahwa jika hilal telah terlihat di suatu wilayah, maka hal tersebut berlaku bagi seluruh umat Islam di dunia. Pendekatan ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat Islam untuk berpuasa dan berbuka berdasarkan penglihatan hilal.

Sementara itu, metode hisab menggunakan pendekatan astronomi modern untuk menentukan posisi hilal secara presisi. Pendekatan ini dianut oleh Muhammadiyah melalui konsep wujudul hilal, yakni penetapan awal bulan ketika posisi bulan sudah berada di atas ufuk, tanpa harus menunggu pengamatan langsung.

Adapun metode rukyat lokal, yang digunakan pemerintah melalui sidang isbat dan diikuti oleh Nahdlatul Ulama, menetapkan awal bulan berdasarkan pengamatan hilal di wilayah Indonesia dengan kriteria tertentu. Jika hilal tidak terlihat, maka bulan digenapkan menjadi 30 hari.

Perbedaan metode ini bukanlah hal baru. Dalam sejarah Islam, perbedaan serupa telah terjadi sejak masa sahabat Nabi. Salah satu riwayat yang sering dijadikan rujukan adalah peristiwa yang melibatkan sahabat Ibnu Abbas dan Muawiyah.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim, disebutkan bahwa penduduk Syam memulai puasa lebih awal setelah melihat hilal, sementara Ibnu Abbas di Madinah memilih untuk mengikuti rukyat lokal dan menyempurnakan bulan hingga 30 hari. Ketika ditanya mengapa tidak mengikuti hasil rukyat di Syam, Ibnu Abbas menjawab bahwa demikianlah yang diperintahkan Rasulullah.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah telah ada sejak generasi awal Islam dan diterima sebagai bagian dari ijtihad.

Pemerintah Indonesia sendiri menegaskan bahwa sidang isbat bertujuan untuk menetapkan, bukan memaksakan. Berbagai organisasi Islam turut dilibatkan dalam proses tersebut sebagai bagian dari musyawarah bersama.

Para ulama menyebut perbedaan ini sebagai “khilaf mu’tabar”, yakni perbedaan pendapat yang sah dan dapat ditoleransi. Karena itu, perbedaan hari raya seharusnya tidak menjadi alasan untuk memecah belah umat.

Sebaliknya, momentum Idul Fitri justru diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, saling memahami, dan menghormati perbedaan yang ada.

Di tengah keragaman metode dan pandangan, para ulama mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah menyeragamkan tanggal, melainkan menjaga ukhuwah dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Continue Reading

News

Diskriminasi Muslim Amerika Meningkat di Tengah Konflik Timur Tengah

Para pemimpin komunitas Muslim di AS memperingatkan bahwa individu yang jauh dari wilayah konflik dapat mengalami dampak negatif, termasuk diskriminasi dan peningkatan permusuhan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Komunitas Muslim dan Arab di Amerika Serikat dilaporkan menghadapi peningkatan permusuhan di tengah eskalasi konflik di negara-negara Teluk, termasuk Iran dan Lebanon. Para pemimpin komunitas Muslim di AS memperingatkan bahwa individu yang jauh dari wilayah konflik dapat mengalami dampak negatif, termasuk diskriminasi dan peningkatan permusuhan.

Konflik yang semakin meluas di Timur Tengah ini telah menargetkan warga sipil, sumber daya alam, destinasi wisata, dan pangkalan militer AS di wilayah tersebut. Peningkatan ketegangan ini mendorong pusat-pusat komunitas Muslim di AS untuk memperketat keamanan, mengantisipasi potensi ancaman langsung yang berpotensi terjadi di dalam negeri.

Fouad Berry, seorang anggota dewan di Islamic Institute of Knowledge di Dearborn, Michigan, menyatakan bahwa pusat komunitas dan masjid tersebut meningkatkan keamanannya karena situasi perang. Pihaknya kerap menerima panggilan ancaman setiap kali terjadi konflik di Timur Tengah.

“Kami menerima panggilan ancaman sepanjang waktu, terutama ketika hal-hal seperti itu terjadi di Timur Tengah,” ujarnya baru-baru ini kepada WXYZ. “Dan kami mengantisipasi hal itu.”

Risiko kekerasan lebih lanjut diperparah oleh retorika anti-Muslim yang disebarkan oleh beberapa pemimpin politik nasional. Pada 9 Maret 2026, Rep. Andy Ogles, seorang Republikan dari Tennessee, menulis di platform media sosial X bahwa “Muslim tidak pantas berada di masyarakat Amerika.” Rep. Randy Fine, seorang Republikan dari Florida, juga baru-baru ini menulis di X bahwa pilihan antara anjing dan Muslim bukanlah pilihan yang “sulit.”

Pernyataan-pernyataan tersebut, bersama dengan eskalasi konflik di luar negeri, berkontribusi pada lingkungan yang memicu kecemasan dan potensi diskriminasi lebih lanjut terhadap komunitas Muslim dan Arab di Amerika Serikat, memperburuk situasi keamanan mereka.

Continue Reading

Ruang Sujud

Hasan Al-Rammah dan Asal-Usul Teknologi Roket

Published

on

Monitorday.com – Ketika dunia modern berbicara tentang roket, rudal balistik, dan teknologi militer mutakhir, banyak orang mengira bahwa semua itu adalah penemuan abad ke-20. Padahal, jejak awal teknologi roket telah muncul jauh sebelumnya—bahkan pada abad ke-13 dalam peradaban Islam. Salah satu tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah Hasan al-Rammah, seorang ilmuwan Muslim dari Suriah yang dikenal sebagai pelopor pengembangan teknologi roket dan senjata berbasis mesiu.

Hasan al-Rammah hidup pada masa Kesultanan Mamluk dan dikenal sebagai ahli kimia sekaligus insinyur militer. Ia menulis sebuah karya penting berjudul Kitab al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Buku tentang Kavaleri Militer dan Perangkat Perang Inovatif). Dalam karya ini ia mendokumentasikan berbagai teknologi senjata berbasis bubuk mesiu, termasuk roket, bom api, dan alat peledak lainnya. 

Mengembangkan Formula Mesiu

Mesiu atau gunpowder sebenarnya pertama kali ditemukan di Tiongkok pada abad ke-9. Namun pengetahuan tersebut menyebar ke berbagai wilayah Eurasia, termasuk dunia Islam. Pada abad ke-13, para ilmuwan Muslim mulai mempelajari dan menyempurnakan teknologi tersebut. 

Hasan al-Rammah memainkan peran penting dalam proses ini. Ia menuliskan puluhan resep pembuatan mesiu dan menjelaskan cara memurnikan saltpeter (kalium nitrat) melalui proses kimia seperti pelarutan dan kristalisasi. Metode ini dianggap sebagai penjelasan ilmiah pertama tentang proses pemurnian bahan utama mesiu. 

Dalam bukunya tercatat sekitar 107 formula mesiu, dan 22 di antaranya secara khusus digunakan untuk roket. Komposisinya bahkan sangat mirip dengan formula roket modern—sekitar 75 persen nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen arang. 

Roket dan Torpedo Pertama

Kontribusi paling terkenal dari Hasan al-Rammah adalah desain perangkat roket dan torpedo awal. Ia menggambarkan sebuah alat yang disebut “telur yang bergerak dan terbakar sendiri”—sebuah torpedo yang digerakkan oleh roket. Perangkat ini terdiri dari dua lembar logam yang disatukan, diisi dengan bahan peledak, kemudian didorong oleh roket untuk meluncur di permukaan air menuju target. 

Konsep tersebut sering disebut sebagai torpedo roket pertama dalam sejarah. Meski masih sangat sederhana dibandingkan teknologi modern, gagasan ini menunjukkan bahwa prinsip dasar sistem rudal—propulsi roket yang membawa bahan peledak menuju target—telah dipahami oleh ilmuwan Muslim sejak abad pertengahan. 

Warisan Teknologi yang Mempengaruhi Dunia

Pengetahuan tentang mesiu dan roket yang dikembangkan dalam dunia Islam kemudian menyebar ke Eropa melalui terjemahan karya-karya ilmiah Arab. Banyak sejarawan teknologi menilai bahwa tulisan-tulisan Arab, termasuk karya Hasan al-Rammah, berperan penting dalam memperkenalkan teknologi roket ke dunia Barat. 

Dengan demikian, sejarah teknologi roket tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Hasan al-Rammah menjadi contoh bagaimana pengetahuan kimia, teknik, dan militer berkembang pesat di dunia Islam jauh sebelum era revolusi industri.

Hari ini, ketika roket digunakan untuk berbagai tujuan—dari eksplorasi luar angkasa hingga sistem pertahanan modern—kita dapat menelusuri akar konsep tersebut hingga berabad-abad lalu, ketika seorang ilmuwan dari Suriah mencoba merancang “telur yang bergerak sendiri dan terbakar”, sebuah ide yang pada masanya mungkin tampak mustahil, tetapi kemudian menjadi fondasi teknologi rudal modern.

Continue Reading

News

Berburu Lailatul Qadr di Masjid At-Thohir Kota Depok

Published

on

Monitorday.com – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H/2026 M, sejumlah umat Islam mulai memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak ibadah melalui itikaf di masjid. Salah satu masjid yang secara khusus membuka program itikaf bagi jamaah adalah Masjid At-Thohir di Kota Depok.

Itikaf merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ibadah ini dilakukan dengan berdiam diri di masjid untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai aktivitas ibadah seperti sholat malam, membaca Alquran, zikir, dan doa, sekaligus mengharapkan keutamaan malam Lailatul Qadar.

Di Masjid At-Thohir, program itikaf digelar dengan rangkaian kegiatan ibadah yang terstruktur. Jamaah yang mengikuti itikaf akan menjalani berbagai aktivitas seperti qiyamul lail berjamaah, zikir, tadarus Alquran, kultum atau kajian singkat, hingga sahur bersama menjelang waktu subuh.

Namun, jamaah yang ingin mengikuti itikaf di masjid ini disarankan melakukan pendaftaran terlebih dahulu secara daring. Pendaftaran dilakukan melalui tautan khusus yang dibagikan di akun Instagram resmi @masjid.atthohir. Kuota peserta juga terbatas, biasanya hanya tersedia sekitar 75 peserta ikhwan dan 75 peserta akhwat untuk setiap malam selama sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pendaftaran ini juga penting karena jamaah yang terdaftar akan mendapatkan fasilitas sahur bersama yang disediakan oleh panitia. Sementara jamaah yang datang tanpa mendaftar tetap diperbolehkan beritikaf, namun tidak tercatat sebagai peserta resmi dan tidak memperoleh fasilitas sahur gratis dari panitia.

Masjid yang dibangun oleh keluarga Boy Thohir dan Erick Thohir ini berlokasi di Jalan Mochamad Thohir, RT 01/RW 12, Tapos, Kecamatan Tapos, Kota Depok, dan dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu tujuan favorit jamaah untuk menjalankan itikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



LakeyBanget32 minutes ago

Maudy Ayunda Soroti Ketimpangan Akses Bioskop di Hari Film Nasional

News1 hour ago

Prajurit TNI UNIFIL Gugur, Menlu RI Kecam Serangan Israel di Lebanon

News2 hours ago

Gandeng Kemenag dan Kemendagri, Kemendikdasmen Terbitkan SEB tentang Upacara Bendera

News2 hours ago

Dari Tokyo, Prabowo Canangkan Lompatan Besar: Energi Hijau, Hilirisasi, dan Diplomasi Ekonomi

Ruang Sujud9 hours ago

Menjemput Berkah di Ranjang

News11 hours ago

Ibnu Haytham: Ilmuwan Muslim Pertama yang Mengubah Cara Dunia Berpikir

News12 hours ago

Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadan

News12 hours ago

Masa Depan Zakat Berbasis Edge AI

News12 hours ago

Iran Usulkan Pakta Keamanan Regional Tanpa AS-Israel

LakeyBanget14 hours ago

Pelatih Bulgaria Sebut Duel Lawan Indonesia Sangat Spesial

News14 hours ago

Hilirisasi Pertanian Jadi Prioritas

News15 hours ago

Tiba di Tokyo, Prabowo Disambut Diaspora Indonesia dengan Haru dan Bangga

LakeyBanget15 hours ago

Ukir Sejarah! Bezzecchi Menang 5 Seri Beruntun, Samai Rekor Rossi dan Marquez

News15 hours ago

Kemendikdasmen Sabet Penghargaan PSSI Award Berkat Program Gala Siswa Indonesia

News1 day ago

AS Susun Skenario Serangan Darat ke Iran

LakeyBanget1 day ago

Mauro Zijlstra Absen Bela Timnas Indonesia, Siapa Penggantinya?

News1 day ago

Makan Bergizi Gratis Disalurkan 5 Hari Sekolah, Kecuali…

News1 day ago

Pemerintah Pastikan Jadwal Haji 2026 Sesuai Rencana di Tengah Konflik Timteng

News1 day ago

Bertolak ke Jepang, Prabowo Bakal Bertemu Kaisar Naruhito

News1 day ago

DPR Terapkan Kebijakan Efisiensi, Batasi Operasional Lift-Jamuan Rapat

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.