Di dunia yang hari ini penuh jawaban, kita justru kehilangan satu hal yang paling penting: pertanyaan.
Segalanya tersedia. Informasi mengalir tanpa henti. Jawaban hadir bahkan sebelum kita selesai berpikir. Namun di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang diam-diam hilang—cara kita mencari kebenaran. Kita terbiasa menerima, jarang menguji. Kita cepat percaya, lambat meragukan.
Dalam konteks inilah, Ibnu al-Haytham menjadi relevan—bukan sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai cara berpikir yang terasa semakin langka.
Dalam sebuah forum ilmiah santri di STAIMA Al-Hikam, Malang, Wamendikti Saintek Profesor Stella, sempat menyebut namanya sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia. Sebuah klaim yang, pada awalnya, terdengar berlebihan. Bukankah sebelum Ibnu Haytham sudah ada banyak pemikir besar?
Namun, pertanyaannya bukan siapa yang lebih dulu menemukan sesuatu. Pertanyaannya adalah: siapa yang pertama kali mengajarkan bagaimana menemukan.
Di masa sebelum Ibnu Haytham, pengetahuan berjalan di atas otoritas. Apa yang dikatakan oleh para pemikir besar diterima sebagai kebenaran. Dunia percaya karena memang tidak ada alasan untuk tidak percaya. Tradisi berpikir belum mengenal keraguan sebagai metode.
Ibnu Haytham datang dengan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak menolak pengetahuan sebelumnya, tetapi ia tidak tunduk padanya. Ia membaca, lalu meragukan. Ia memahami, lalu menguji. Bahkan terhadap pemikir besar seperti Ptolemy dan Aristoteles, ia memilih untuk tidak sekadar menerima.
Baginya, pencari kebenaran harus berani menjadi “musuh” bagi apa yang ia baca.
Dari situlah sesuatu yang baru lahir—bukan sekadar teori, tetapi metode.
Ibnu Haytham memperkenalkan pendekatan yang hari ini menjadi fondasi sains modern: observasi, eksperimen, dan verifikasi. Ia tidak hanya bertanya “apa”, tetapi juga “bagaimana kita tahu bahwa ini benar”. Ia tidak berhenti pada penjelasan, tetapi melanjutkan pada pembuktian.
Dalam karyanya Kitab al-Manazir, ia menjelaskan bahwa penglihatan terjadi karena cahaya masuk ke mata, bukan sebaliknya. Temuan ini mungkin terdengar sederhana hari ini, tetapi pada zamannya, ia mengguncang cara manusia memahami dunia.
Namun, sekali lagi, yang lebih penting dari temuannya adalah cara ia sampai pada temuan itu.
Ia menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang dicari. Bahwa ilmu bukan milik mereka yang berbicara paling keras, tetapi mereka yang mampu membuktikan dengan paling jujur.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama.
Bukan karena ia yang pertama berpikir, tetapi karena ia yang pertama merumuskan cara berpikir itu sendiri.
Di hadapan para santri, gagasan ini menemukan momentumnya. Selama ini, banyak dari kita memaknai belajar sebagai proses menerima—menerima penjelasan, menerima teks, menerima otoritas. Padahal, dalam tradisi ilmiah yang ditunjukkan Ibnu Haytham, belajar justru dimulai dari bertanya.
Menjadi santri ilmiah bukan berarti meninggalkan iman. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk memuliakan akal sebagai bagian dari pencarian kebenaran. Ibnu Haytham tidak memisahkan antara ilmu dan spiritualitas. Baginya, memahami dunia adalah bagian dari memahami ciptaan.
Bagi Ibnu Haytham, pencarian ilmiah berakar pada tauhid. Ia memulai tulisannya dengan menyebut nama Allah, dan menutupnya dengan pujian serta shalawat—bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai kesadaran bahwa ilmu adalah bagian dari penghambaan. Dalam dirinya, sains bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan ubudiyyah: upaya mendekat kepada Tuhan melalui kejujuran dalam mencari kebenaran. Dari keyakinan itulah lahir disiplin, ketekunan, dan keberanian untuk menguji. Ia tidak meneliti untuk sekadar tahu, tetapi untuk memahami ciptaan dengan cara yang paling jujur.
Dan memahami ciptaan, pada akhirnya, adalah jalan menuju Sang Pencipta.
Namun, relevansi Ibnu Haytham tidak berhenti di ruang-ruang kajian. Ia justru semakin terasa penting di era hari ini—era ketika kecerdasan artifisial mampu menjawab hampir segala hal.
Kita hidup dalam zaman di mana mesin bisa memberi jawaban, tetapi tidak semua manusia mampu mengajukan pertanyaan.
Di sinilah letak paradoks kita.
Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi cara berpikir kita tidak selalu ikut tumbuh. Kita memiliki akses pada pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki metode untuk memahaminya. Kita tahu banyak hal, tetapi belum tentu tahu bagaimana memastikan bahwa yang kita tahu itu benar.
Jika Ibnu Haytham hidup hari ini, mungkin ia tidak akan terpesona oleh kecanggihan teknologi. Ia justru akan bertanya: apakah kita masih menguji, atau hanya menerima dalam bentuk yang lebih canggih?
Sebab tanpa metode, pengetahuan hanya akan menjadi ilusi yang terlihat meyakinkan.
Ibnu Haytham mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi mendasar: bahwa ilmu dimulai dari keraguan yang jujur. Dari keberanian untuk tidak langsung percaya. Dari kesediaan untuk menunda kepastian, demi menemukan kebenaran yang lebih utuh.
Maka, ketika ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia, mungkin yang dimaksud bukanlah urutan sejarah, melainkan sebuah lompatan cara berpikir.
Ia tidak hanya menemukan jawaban. Ia menemukan cara untuk tidak mudah puas dengan jawaban.
Dan di dunia yang hari ini penuh dengan kepastian instan, mungkin itulah pelajaran yang paling kita butuhkan.