Monitorday.com – Nubuwah atau kenabian merupakan salah satu fondasi dalam ajaran Islam. Keimanan kepada para Nabi merupakan rukun iman yang ketiga. Untuk memahami dan meyakini kenabian secara utuh, umat Islam merujuk pada dua sumber utama: Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya menyajikan bukti otentik, sejarah yang valid, serta penjelasan yang lengkap tentang hakikat nubuwah, keaslian risalah, dan kebenaran para Nabi.
Al-Qur’an sebagai Bukti Nubuwah
Al-Qur’an mengandung banyak kisah dan ayat yang menjelaskan eksistensi, misi, dan tantangan yang dihadapi oleh para Nabi. Allah menyebutkan nama-nama Nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan tentu saja Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan kesinambungan nubuwah sebagai sistem bimbingan Ilahi bagi umat manusia.
Dalam QS. An-Nisa: 163, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi setelahnya…”
Ayat ini menjadi bukti bahwa kenabian adalah institusi yang berlangsung sejak manusia pertama hingga Nabi terakhir.
Fungsi Al-Qur’an dalam Memvalidasi Nubuwah
1. Menjelaskan Silsilah Kenabian
Al-Qur’an menyajikan narasi sejarah yang menghubungkan kenabian dari satu Nabi ke Nabi berikutnya, menunjukkan adanya kesinambungan ajaran.
2. Mengungkap Mukjizat sebagai Bukti Kenabian
Mukjizat seperti tongkat Musa yang berubah menjadi ular, kelahiran Isa dari seorang perawan, dan yang paling monumental: Al-Qur’an sendiri sebagai mukjizat intelektual Rasulullah SAW.
3. Menegaskan Sifat-Sifat Nabi
Al-Qur’an menggambarkan para Nabi sebagai orang-orang yang jujur, sabar, dan penuh kasih. Ini menguatkan bahwa mereka bukan manusia biasa.
4. Menyampaikan Dialog Langit dan Bumi
Banyak ayat yang mencatat percakapan langsung antara Allah dan para Nabi, seperti kisah Nabi Ibrahim atau dialog antara Allah dan Musa AS di Bukit Sinai.
Hadis sebagai Sumber Pendukung Nubuwah
Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW memperkuat konsep nubuwah secara lebih personal dan kontekstual. Hadis mencatat bagaimana Rasulullah menerima wahyu, bagaimana perilaku beliau sehari-hari, serta sabda-sabda beliau yang mengarah pada penguatan keimanan umat terhadap kenabian.
Contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Hadis ini menjelaskan misi inti dari kenabian Rasulullah.
Bukti Historis dalam Hadis
Hadis-hadis yang sahih juga menjelaskan tentang:
Proses turunnya wahyu melalui Malaikat Jibril
Reaksi Rasulullah terhadap wahyu pertama di Gua Hira
Tantangan dan penolakan yang beliau hadapi dari masyarakat Quraisy
Perintah-perintah dakwah yang beliau jalankan sesuai dengan perintah Allah
Semua ini memperlihatkan bahwa Rasulullah bukanlah seorang pemimpi atau pembuat ajaran baru, melainkan utusan Allah yang menjalankan misi kenabian yang otentik.
Nubuwah dan Prediksi Masa Depan
Salah satu bukti keaslian kenabian adalah kemampuan para Nabi, dengan izin Allah, untuk menyampaikan kabar tentang masa depan. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, banyak nubuwat (prediksi) yang terbukti kebenarannya. Misalnya:
Kemenangan Romawi atas Persia (QS. Ar-Rum: 2-4)
Penaklukan kota Mekkah
Perluasan Islam ke wilayah Persia dan Romawi seperti yang dijanjikan Rasulullah
Prediksi-prediksi ini bukan hasil ramalan, melainkan wahyu yang terbukti akurat seiring waktu.
Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian
Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi terakhir:
“… tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Hadis juga memperkuat hal ini, seperti dalam sabda beliau:
“Sesungguhnya perumpamaanku di antara para Nabi seperti seorang laki-laki yang membangun rumah lalu menyempurnakannya, hanya satu batu bata yang belum diletakkan, maka akulah batu bata itu dan akulah penutup para Nabi.” (HR. Bukhari)
Pernyataan ini menegaskan bahwa rangkaian kenabian telah sempurna dan tak ada Nabi setelah beliau.
Menangkal Klaim Palsu tentang Kenabian
Seiring berjalannya waktu, banyak klaim palsu tentang kenabian yang muncul. Namun, Al-Qur’an dan Hadis menjadi benteng utama untuk memverifikasi keabsahan seseorang sebagai Nabi. Siapa pun yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an atau mengklaim kenabian setelah Muhammad SAW, maka jelas termasuk pendusta.
Relevansi Nubuwah di Zaman Modern
Nubuwah bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi memiliki dampak nyata dalam kehidupan masa kini:
Memberi standar moral dan etika universal
Menjadi landasan dalam pendidikan Islam dan hukum syariat
Menginspirasi umat untuk menjalani hidup yang bermakna dan bertanggung jawab
Mendorong semangat dakwah dan penyebaran kebenaran secara damai
Penutup
Nubuwah adalah pilar agung dalam keimanan Islam. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, kita menemukan bukti yang jelas dan kokoh tentang keaslian dan kebenaran para Nabi. Kenabian bukan hanya sejarah spiritual, tetapi juga realitas yang membentuk dunia dan umat manusia hingga hari ini. Tugas umat sekarang adalah menjaga risalah para Nabi, mengamalkannya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.