Connect with us

Ruang Sujud

Nubuwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis: Bukti Keaslian dan Kebenarannya

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Nubuwah atau kenabian merupakan salah satu fondasi dalam ajaran Islam. Keimanan kepada para Nabi merupakan rukun iman yang ketiga. Untuk memahami dan meyakini kenabian secara utuh, umat Islam merujuk pada dua sumber utama: Al-Qur’an dan Hadis. Keduanya menyajikan bukti otentik, sejarah yang valid, serta penjelasan yang lengkap tentang hakikat nubuwah, keaslian risalah, dan kebenaran para Nabi.

Al-Qur’an sebagai Bukti Nubuwah

Al-Qur’an mengandung banyak kisah dan ayat yang menjelaskan eksistensi, misi, dan tantangan yang dihadapi oleh para Nabi. Allah menyebutkan nama-nama Nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan tentu saja Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan kesinambungan nubuwah sebagai sistem bimbingan Ilahi bagi umat manusia.

Dalam QS. An-Nisa: 163, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi setelahnya…”

Ayat ini menjadi bukti bahwa kenabian adalah institusi yang berlangsung sejak manusia pertama hingga Nabi terakhir.

Fungsi Al-Qur’an dalam Memvalidasi Nubuwah

1. Menjelaskan Silsilah Kenabian
Al-Qur’an menyajikan narasi sejarah yang menghubungkan kenabian dari satu Nabi ke Nabi berikutnya, menunjukkan adanya kesinambungan ajaran.

2. Mengungkap Mukjizat sebagai Bukti Kenabian
Mukjizat seperti tongkat Musa yang berubah menjadi ular, kelahiran Isa dari seorang perawan, dan yang paling monumental: Al-Qur’an sendiri sebagai mukjizat intelektual Rasulullah SAW.

3. Menegaskan Sifat-Sifat Nabi
Al-Qur’an menggambarkan para Nabi sebagai orang-orang yang jujur, sabar, dan penuh kasih. Ini menguatkan bahwa mereka bukan manusia biasa.

4. Menyampaikan Dialog Langit dan Bumi
Banyak ayat yang mencatat percakapan langsung antara Allah dan para Nabi, seperti kisah Nabi Ibrahim atau dialog antara Allah dan Musa AS di Bukit Sinai.

Hadis sebagai Sumber Pendukung Nubuwah

Selain Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad SAW memperkuat konsep nubuwah secara lebih personal dan kontekstual. Hadis mencatat bagaimana Rasulullah menerima wahyu, bagaimana perilaku beliau sehari-hari, serta sabda-sabda beliau yang mengarah pada penguatan keimanan umat terhadap kenabian.

Contohnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Hadis ini menjelaskan misi inti dari kenabian Rasulullah.

Bukti Historis dalam Hadis

Hadis-hadis yang sahih juga menjelaskan tentang:

Proses turunnya wahyu melalui Malaikat Jibril

Reaksi Rasulullah terhadap wahyu pertama di Gua Hira

Tantangan dan penolakan yang beliau hadapi dari masyarakat Quraisy

Perintah-perintah dakwah yang beliau jalankan sesuai dengan perintah Allah

Semua ini memperlihatkan bahwa Rasulullah bukanlah seorang pemimpi atau pembuat ajaran baru, melainkan utusan Allah yang menjalankan misi kenabian yang otentik.

Nubuwah dan Prediksi Masa Depan

Salah satu bukti keaslian kenabian adalah kemampuan para Nabi, dengan izin Allah, untuk menyampaikan kabar tentang masa depan. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, banyak nubuwat (prediksi) yang terbukti kebenarannya. Misalnya:

Kemenangan Romawi atas Persia (QS. Ar-Rum: 2-4)

Penaklukan kota Mekkah

Perluasan Islam ke wilayah Persia dan Romawi seperti yang dijanjikan Rasulullah

Prediksi-prediksi ini bukan hasil ramalan, melainkan wahyu yang terbukti akurat seiring waktu.

Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa Muhammad SAW adalah Nabi terakhir:

“… tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Hadis juga memperkuat hal ini, seperti dalam sabda beliau:
“Sesungguhnya perumpamaanku di antara para Nabi seperti seorang laki-laki yang membangun rumah lalu menyempurnakannya, hanya satu batu bata yang belum diletakkan, maka akulah batu bata itu dan akulah penutup para Nabi.” (HR. Bukhari)

Pernyataan ini menegaskan bahwa rangkaian kenabian telah sempurna dan tak ada Nabi setelah beliau.

Menangkal Klaim Palsu tentang Kenabian

Seiring berjalannya waktu, banyak klaim palsu tentang kenabian yang muncul. Namun, Al-Qur’an dan Hadis menjadi benteng utama untuk memverifikasi keabsahan seseorang sebagai Nabi. Siapa pun yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an atau mengklaim kenabian setelah Muhammad SAW, maka jelas termasuk pendusta.

Relevansi Nubuwah di Zaman Modern

Nubuwah bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi memiliki dampak nyata dalam kehidupan masa kini:

Memberi standar moral dan etika universal

Menjadi landasan dalam pendidikan Islam dan hukum syariat

Menginspirasi umat untuk menjalani hidup yang bermakna dan bertanggung jawab

Mendorong semangat dakwah dan penyebaran kebenaran secara damai

Penutup

Nubuwah adalah pilar agung dalam keimanan Islam. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, kita menemukan bukti yang jelas dan kokoh tentang keaslian dan kebenaran para Nabi. Kenabian bukan hanya sejarah spiritual, tetapi juga realitas yang membentuk dunia dan umat manusia hingga hari ini. Tugas umat sekarang adalah menjaga risalah para Nabi, mengamalkannya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ruang Sujud

Islam dan Lingkungan Sumut

MUI Sumut mendorong pelestarian lingkungan sebagai bagian dari amanah keagamaan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Amalan Saliha

Published

on

3 Poin Utama:

  • MUI Sumut membahas pelestarian lingkungan dalam perspektif Islam dan sunnah.
  • Ulama menekankan tanggung jawab manusia menjaga air, hutan, tumbuhan, hewan, dan lingkungan.
  • Kepedulian ekologis didorong masuk ke dakwah, pendidikan pesantren, masjid, dan kegiatan sosial umat.

Monitorday.com– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara mengangkat isu pelestarian lingkungan dalam Muzakarah Fatwa MUI Sumut, Ahad, 27 September 2026. Sekretaris Umum MUI Sumut, Prof. Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA, menyampaikan materi bertajuk “Pelestarian Lingkungan dalam Perspektif Sunnah”.

Dalam pemaparannya, Ardiansyah menjelaskan bahwa Islam memiliki perhatian terhadap kebersihan, kesucian, dan kelestarian lingkungan. Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menyangkut tanggung jawab manusia terhadap sesama dan alam (Prof. Ardiansyah, Muzakarah Fatwa MUI Sumut, 2026).

Ia menyebut sejumlah prinsip dalam sunnah Nabi Muhammad SAW yang relevan dengan persoalan lingkungan. Di antaranya menjaga kebersihan tempat ibadah dan fasilitas umum, menyingkirkan gangguan dari jalan, tidak mencemari sumber air, menggunakan air secara tidak berlebihan, serta menjaga tumbuhan dan hewan.

Perspektif tersebut juga dikaitkan dengan kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam kerangka ini, manusia memiliki amanah untuk menjaga kehidupan dan tidak melakukan eksploitasi yang menyebabkan kerusakan. Ardiansyah mengaitkannya dengan QS. Ar-Rum ayat 41 mengenai kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia.

Perhatian terhadap lingkungan, menurut materi muzakarah, dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan. Penggunaan air secara bijaksana, penghijauan, perlindungan hutan, pencegahan pencemaran, serta perlindungan habitat hewan merupakan contoh konkret bagaimana nilai keagamaan diterjemahkan menjadi perilaku ekologis.

MUI Sumut juga mendorong agar isu lingkungan menjadi bagian dari dakwah dan pendidikan umat. Masjid, pesantren, lembaga pendidikan, dan organisasi Islam dapat menjadi ruang edukasi mengenai kebersihan, penghijauan, pengelolaan air, pencegahan pencemaran, dan pelestarian ekosistem.

Menariknya, pembahasan lingkungan di MUI Sumut juga melibatkan perspektif ilmiah. Pada hari yang sama, MUI Sumut membahas strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan berbasis risiko serta ketahanan ekologis bersama Onrizal, Ph.D., akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Pendekatan ini menunjukkan upaya mempertemukan pengetahuan keagamaan dengan ilmu lingkungan dalam menghadapi persoalan ekologis.

Dengan demikian, pelestarian lingkungan ditempatkan bukan semata sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab keumatan. Nilai Al-Qur’an dan sunnah dapat menjadi landasan moral, sementara ilmu pengetahuan membantu menerjemahkannya ke dalam langkah yang konkret dan sesuai dengan kondisi lingkungan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Masjid di Padang

Sekitar 6.000 warga Aisyiyah dan Muhammadiyah menghadiri Tabligh Akbar di Masjid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Padang.

Amalan Saliha

Published

on

3 Poin Utama:

  • Sekitar 6.000 warga Aisyiyah dan Muhammadiyah menghadiri pengajian akbar di Padang.
  • Tabligh Akbar mengangkat tema persiapan ibadah haji dan penguatan kehidupan keagamaan.
  • Kegiatan dirangkai dengan kerja sama PWA Aisyiyah Sumbar dan Bank Syariah Indonesia.

Monitorday.com– Sekitar 6.000 warga Aisyiyah dan Muhammadiyah dari berbagai daerah di Sumatera Barat memadati Masjid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Padang, dalam Tabligh Akbar pada Minggu, 13 September 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Aisyiyah dan Muhammadiyah Sumbar Berhaji, Langkah Emas Lebih Dekat ke Baitullah”.

Pengajian tersebut merupakan agenda tiga bulanan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat dan telah memasuki penyelenggaraan ke-10. Menurut Ketua PWA Sumbar Syur’aini, kegiatan pertama kali digelar pada 2022 dan antusiasme warga terus meningkat dari waktu ke waktu.

Kehadiran ribuan jemaah menunjukkan kuatnya tradisi pengajian dan konsolidasi keumatan di lingkungan Aisyiyah dan Muhammadiyah Sumbar. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar Hendri Novigator mengatakan kedatangan warga sejak malam mencerminkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap kegiatan keagamaan (PWA Sumbar, 2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir mendorong penguatan kembali fungsi surau sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan penguatan nilai keagamaan. Menurutnya, pendidikan berbasis nilai keagamaan diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda.

Tabligh Akbar juga diisi ceramah Ustaz Azka Ummah yang menekankan pentingnya majelis ilmu, adab, serta kasih sayang dalam keluarga. Pesan tersebut menempatkan keluarga sebagai salah satu ruang penting dalam pembentukan karakter dan pendidikan generasi berikutnya.

Selain pengajian, PWA Aisyiyah Sumbar dan Bank Syariah Indonesia menandatangani nota kesepahaman. Kerja sama tersebut diarahkan antara lain untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mempersiapkan pelaksanaan ibadah umrah maupun haji khusus.

Kegiatan di Masjid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi ini memperlihatkan bahwa pengajian tidak hanya menjadi ruang penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi, pendidikan karakter, dan kerja sama sosial-ekonomi umat di Sumatera Barat.

Continue Reading

Ruang Sujud

Kemenag-MUI Perkuat Pembinaan Umat

Kemenag Sumut dan MUI Sumut memperkuat kerja sama pembinaan keagamaan, pendidikan Islam, dakwah, serta pengembangan akhlak generasi muda.

Amalan Saliha

Published

on

3 Poin Utama:

  • Kemenag Sumut dan MUI Sumut menandatangani nota kesepahaman penguatan pembinaan umat.
  • Kerja sama mencakup pendidikan, dakwah, seni budaya Islam, serta pembinaan akhlakul karimah.
  • Kedua lembaga juga mendorong moderasi beragama, kerukunan, penelitian, dan pertukaran data.

Monitorday.com– Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut memperkuat sinergi pembinaan keagamaan Islam di daerah. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Medan pada Rabu, 23 September 2026.

Kepala Kanwil Kemenag Sumut Ahmad Qosbi mengatakan kerja sama tersebut mencakup penguatan pembinaan umat, seni dan budaya Islam, serta pengembangan keumatan. Sasaran program meliputi tenaga pendidik dan kependidikan agama Islam, siswa atau santri madrasah, serta lembaga pendidikan Islam di lingkungan Kemenag Sumut.

Sinergi juga diarahkan pada kegiatan dakwah dan syiar Islam di madrasah serta pondok pesantren. Kemenag dan MUI berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk karakter dan akhlakul karimah peserta didik.

“Kali ini berkolaborasi bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama, semoga membawa banyak manfaat bagi umat Islam di Sumatera Utara,” kata Ketua MUI Sumut Maratua Simanjuntak (ANTARA, 24 September 2026).

Selain pembinaan keagamaan, kerja sama tersebut mencakup bimbingan akhlakul karimah, penelitian dan pengkajian, penguatan moderasi beragama serta kerukunan umat beragama. Kedua lembaga juga menyepakati pertukaran data dan informasi serta pemanfaatan sumber daya untuk mendukung berbagai program pembinaan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran lembaga keagamaan dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara yang memiliki keragaman sosial dan agama. Sebelumnya, Kemenag Sumut juga mendorong penguatan sinergi lintas pihak untuk mencegah konflik sosial berdimensi keagamaan dan memperkuat moderasi beragama di daerah.

Dengan kolaborasi Kemenag dan MUI, pembinaan Islam diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi program pendidikan, dakwah, penguatan karakter, dan pengembangan masyarakat yang berkelanjutan.

Continue Reading

Ruang Sujud

OKI Desak Penyelesaian Menyeluruh Krisis Rohingya

Kelompok Kontak Menteri OKI meminta pemulihan hak kewarganegaraan Rohingya dan pemulangan pengungsi secara aman serta sukarela.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Kelompok Kontak Menteri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk Rohingya menyerukan penyelesaian politik yang menyeluruh dan berkelanjutan atas krisis yang menimpa komunitas Muslim tersebut. Pertemuan berlangsung pada 20 September di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Sekretaris Jenderal OKI menyerukan koordinasi internasional yang lebih kuat untuk mencari jalan keluar atas krisis Rohingya. Ia juga mengapresiasi Gambia yang memimpin respons OKI dan Bangladesh yang menampung pengungsi.

Kelompok tersebut meminta pemerintah Myanmar menangani akar persoalan dan memulihkan hak-hak Rohingya, terutama hak atas kewarganegaraan penuh.

OKI juga mendesak perlindungan bagi komunitas Muslim Rohingya serta pemulangan pengungsi dan warga yang mengungsi ke rumah mereka di Rakhine State.

Pemulangan itu, menurut seruan kelompok kontak, harus berlangsung secara sukarela, aman, bermartabat, dan berkelanjutan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Jakarta Gelar Konferensi Imam Internasional

Konferensi Grand Imam Internasional di Jakarta mengangkat diplomasi keagamaan dan upaya meredakan konflik.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– International Grand Imams Conference 2026 digelar di Jakarta pada 25–28 September. Pertemuan ini mempertemukan pemuka agama Islam dari berbagai kawasan untuk membahas peran diplomasi keagamaan dalam merespons konflik global. 

Peserta konferensi berasal dari sejumlah wilayah, termasuk Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, dan Amerika. Forum ini juga melibatkan akademisi, pengamat perdamaian, serta tokoh lintas agama.

Penyelenggara menempatkan penderitaan warga Palestina di Gaza sebagai salah satu perhatian utama dalam pembahasan kemanusiaan.

Agenda konferensi mendorong pemuka agama menggunakan dialog dan pendekatan kemanusiaan untuk membantu meredakan ketegangan serta membangun saling pengertian.

Pertemuan di Jakarta ini menjadi ruang bagi para pemimpin agama untuk bertukar pandangan dan membahas kemungkinan kerja sama lintas negara dalam mendukung perdamaian. MUI – Majelis Ulama Indonesia

Continue Reading

Ruang Sujud

Indonesia–Malaysia Bentuk Dewan Halal, Bidik Kerja Sama ASEAN

Indonesia dan Malaysia memulai kerja sama yang ditargetkan berkembang menjadi Dewan Halal ASEAN.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Indonesia dan Malaysia membentuk Malaysia-Indonesia Halal Council untuk memperkuat diplomasi dan kerja sama halal. Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hassan menyebut kerja sama ini sebagai langkah menuju pembentukan Dewan Halal ASEAN. 

Dalam susunan awal, Indonesia akan memimpin dewan, sementara Malaysia menjadi sekretaris jenderal. Pertemuan pertama dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Haikal mengatakan dewan bilateral itu diharapkan menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dan memperluas kerja sama di bidang halal.

Tahap berikutnya yang dibidik adalah pembentukan Dewan Halal ASEAN dengan melibatkan negara-negara anggota kawasan. Haikal menyebut potensi pasar kawasan tersebut sangat besar.

Rencana menuju badan halal tingkat dunia masih berupa gagasan yang perlu dibahas bersama. Pembentukan dewan ASEAN dan cakupan kerja samanya akan bergantung pada kesepakatan negara-negara yang terlibat.

Continue Reading

News

Langkah Kultural Abdul Mu’ti Menyulam Diplomasi Buku

Dua buku karya Abdul Mu’ti tentang Kristen Muhammadiyah dan pluralisme positif resmi terintegrasi ke dalam sistem perpustakaan Universitas Oxford sebagai referensi keilmuan global.

Muchlas Rowi

Published

on

Buku adalah duta besar yang tidak pernah pensiun dan tidak perlu paspor untuk berbicara ke dunia luar. Ketika sebuah negara ingin mengenalkan jati diri terdalamnya, mereka tidak mengirim pejabat, namun aksara atau buku berusia ratusan tahun.

Di tahun 1973 misalnya, Negarakertagama pulang ke tanah air dalam kunjungan kenegaraan Ratu Juliana ke Indonesia. Kini naskah itu tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan kode NB 9. Pada 2008, UNESCO menempatkannya dalam Memory of the World—sebuah pengakuan bahwa aksara lama itu menyimpan ingatan yang bernilai universal.Aksara lama itu pun menjelma duta yang melintasi zaman.

Langkah kultural inilah yang melatari peristiwa bersejarah di Marston Road, Inggris, saat jajaran rak buku Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS) resmi menyambut dua buah pemikiran dari Indonesia. Ditulis oleh Abdul Mu’ti, buku ‘Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan’ serta ‘Pluralisme Positif: Gagasan dan Pengalaman Muhammadiyah dalam Pendidikan’ menjadi karya Menteri Pendidikan Indonesia pertama yang berhasil dikatalogisasi ke dalam sistem Perpustakaan Global Universitas Oxford.

Dua buku tersebut tentu tak berhenti sebagai catatan tentang pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola keberagamaan. Ia membawa pengalaman lokal memasuki percakapan akademik yang lebih luas. Ini adalah babak baru diplomasi buku kita: saat narasi inklusivitas madrasah dan sekolah Muhammadiyah bertransformasi menjadi bahan kajian para ilmuwan internasional. 

Masuknya kedua buku ini bukan sekadar urusan seremonial serah terima cendera mata. Perpustakaan Oxford, khususnya OCIS, dikenal memiliki standar kurasi yang sangat ketat. Sebuah karya harus memiliki kontribusi keilmuan yang signifikan agar dapat lolos dan terintegrasi ke dalam sistem SOLO (Search Oxford Libraries Online). Melalui proses ini, gagasan Abdul Mu’ti tentang bagaimana Islam dan pluralisme hidup berdampingan di Indonesia kini resmi diakui sebagai referensi ilmiah global.

Esensi KrisMuha

Dua buku yang ditulis Abdul Mu’ti juga membawa tesis kuat tentang keharmonisan yang organik, bukan sekadar toleransi pasif di atas kertas. Karena itu, esensi dari diplomasi buku ini terletak pada bobot pesan yang dibawanya.

Di buku ‘Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan’ yang ditulisnya bersama Fajar Riza Ul Haq, Mu’ti memotret fenomena sosiologis unik di wilayah-wilayah perbatasan atau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kristen di Ende, serta berbagai daerah di Papua.

Di wilayah-wilayah berpenduduk Muslim minoritas tersebut, banyak warga Kristen dan Katolik yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di sekolah maupun perguruan tinggi Muhammadiyah. Fenomena ini melahirkan varian sosiologis yang populer disebut ‘KrisMuha’ (Kristen Muhammadiyah).

Buku ini secara empiris membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu menjadi ruang aman bagi komunitas non-Muslim tanpa harus melakukan sinkretisme ataupun asimilisasi paksa. Para siswa Kristen tetap mendapatkan hak pendidikan agama sesuai keyakinan mereka sendiri, sejalan dengan mandat Undang-Undang Sistem Pendidikan nasional Indonesia.Identitas teologis masing-masing pihak tetap terjaga rapat, namun kolaborasi sosial kemanusiaan mereka berjalan lekat.

Sementara itu, dalam buku kedua, ‘Pluralisme Positif’, yang ditulis bersama Azaki Khoirudin, Mu’ti menawarkan sebuah reorientasi konseptual. Muhammadiyah tidak sekadar’membiarkan’ perbedaan (toleransi pasif), melainkan aktif membangun infrastruktur sosial-pendidikan yang merangkul semua golongan demi kemajuan bersama (pluralisme aktif).

Benang Merah Historis

Menariknya, ada momen emosional dan historis yang terekam dalam peristiwa diplomasi buku ini di Inggris. Direktur OCIS, Dr. Farhan Nizami, menyambut hangat saat melihat lembar kata pengantar dalam buku Kristen Muhammadiyah. Lembaran tersebut ditulis oleh almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra, tokoh intelektual Muslim Indonesia legendaris yang juga merupakan mantan Fellow Akademis di OCIS (1994-1995).

Azyumardi Azra juga merupakan anggota dewan penyunting Journal of Islamic Studies terbitan Oxford University Press. Pertemuan garis sejarah ini menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan Abdul Mu’ti adalah kelanjutan dari estafet diplomasi intelektual yang telah dirintis para pemikir bangsa.

Secara global, fenomena koeksistensi unik di Indonesia ini sebenarnya telah memantik perhatian para peneliti internasional. Masuknya pemikiran Mu’ti ke Oxford menegaskan relevansi riset-riset terdalam mengenai Islam Indonesia. Contohnya, sosiolog ternama Robert W. Hefner dalam studinya bertajuk ‘Making Modern Muslims: The Prospects for Islamic Democracy in Indonesia” (2009) menyatakan bahwa organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, memiliki peran krusial dalam meletakan fondasi masyarakat sipil yang demokratis dan inklusif. Hefner menilai pola pendidikan Islam di Indonesia berhasil memadukan nilai keagamaan yang kokoh dengan kesadaran penuh terhadap realitas pluralitas bangsa.

Lebih spesifik lagi, riset kolega Oxford dari Universitas Birmingham, Stefanus Hendrianto (2020) dalam jurnal akademik mengenai hukum dan agama di Asia Tenggara, mencatat bahwa model akomodasi pendidikan berbasis agama di wilayah timur Indonesia memberikan pelajaran penting bagi Dunia Barat. Hendrianto berpendapat bahwa institusi pendidikan berbasis agama di Indonesia seringkali berfungsi sebagai jembatan sipil di daerah pasca-konflik atau daerah minoritas. Menurutnya, ini sebuah pencapaian yang jarang ditemukan dalam Diskursus Sekularisme Barat yang cenderung memisahkan agama dari ruang publik pendidikan.

Di tengah lanskap global yang sering kali melihat dunia Islam melalui lensa stereotip konflik, ketegangan geopolitik, atau radikalisme, Indonesia memamerkan alternatif yang menyegarkan. Di Indonesia, Islam tidak semata hadir sebagai identitas, tetapi sebagai kekuatan kultural yang mampu merawat perbedaan tanpa kehilangan akar keyakinan.

Diplomasi buku ala Abdul Mu’ti membuktikan dua poin strategis. Pertama, ekspor praktik baik. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif dari teori-teori Barat tentang multikulturalisme, melainkan bertransformasi menjadi eksportir model toleransi praktis di ranah akar rumput.

Kedua, soft power yang autentik. Pendidikan dan manajemen keberagaman adalah wajah terbaik dari soft powerIndonesia. Dunia internasional – khususnya ekosistem ilmiah barat, memerlukan dokumentasi tentangan bagaimana mayoritas muslim di Indonesia mampu mengelola perbedaan secara dewasa.

Kini, dua buku tersebut telah berdiri tegak di rak perpustakaan Marston Road, siap dipinjam, dibaca, dan dibedah oleh para peneliti, mahasiswa, serta pembuat kebijakan dari berbagai belahan dunia. Dari rak itulah, pengalaman Indonesia berpeluang memasuki percakapan yang jauh lebih luas: tentang agama, pendidikan, dan cara sebuah masyarakat merawat keberagaman.

Langkah akademis sekaligus politis dari Abdul Mu’ti ini mengingatkan kita semua bahwa diplomasi terbaik tidak selalu diteriakan di mimbar-mibar politik yang bising. Terkadang, ia bekerja dalam senyap, berbisik secara elegan melalui lembar demi lembar halaman buku yang dibaca di sudut perpustakaan, sambil perlahan merestrukturisasi cara dunia memandang peradaban Islam Indonesia.

Continue Reading

Ruang Sujud

Jika AI mengambil keputusan, siapa yang memikul dosa dan tanggung jawab?

AI Agent berkembang dari sekadar menjawab perintah menjadi sistem yang mampu merencanakan, memilih tindakan, menggunakan berbagai alat, dan menjalankan tugas dengan keterlibatan manusia yang semakin sedikit.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Menurut International Journal of Noesantara Islamic Studies, perkembangan AI menghadirkan persoalan baru mengenai agensi moral dan tanggung jawab karena sistem kecerdasan buatan semakin mampu melakukan penalaran dan memengaruhi keputusan manusia. Kemampuan tersebut membuat batas antara alat teknologi dan pengambil keputusan semakin kompleks.

Menurut AI and Ethics, AI Agent dapat menjalankan aktivitas yang lebih kompleks dengan keterlibatan manusia yang minimal. Perkembangan ini memberikan peluang besar untuk otomatisasi pekerjaan, tetapi juga membawa risiko terhadap privasi, otonomi manusia, keadilan, transparansi dan akuntabilitas.

Dalam perspektif Islam, persoalan tersebut dapat dikaitkan dengan konsep amanah. Mesin dapat menjalankan instruksi dan menghasilkan keputusan berdasarkan algoritma, tetapi tidak memiliki kesadaran moral, niat dan tanggung jawab spiritual sebagaimana manusia. Karena itu, penggunaan AI tetap membutuhkan manusia sebagai pihak yang mengawasi dan mempertanggungjawabkan dampaknya.

Persoalan menjadi semakin penting ketika AI Agent digunakan dalam bidang strategis seperti kesehatan, keuangan, pendidikan, pemerintahan dan keamanan. Semakin besar kewenangan yang diberikan kepada AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap mekanisme pengawasan manusia. Keputusan yang berdampak pada kehidupan manusia tidak cukup hanya dinilai dari akurasi algoritma, tetapi juga dari aspek keadilan dan kemaslahatan.

Dari perspektif Islam, kecerdasan mesin tidak otomatis berarti munculnya subjek moral baru. AI dapat menjadi alat yang sangat canggih, bahkan mampu mengambil keputusan secara otonom secara teknis, tetapi manusia tetap memegang amanah atas desain, penggunaan dan konsekuensi sistem tersebut.

Karena itu, perkembangan AI Agent seharusnya tidak hanya diarahkan untuk membuat mesin semakin otonom, tetapi juga membuat manusia semakin bertanggung jawab. Prinsip amanah, keadilan, kemaslahatan dan perlindungan terhadap martabat manusia dapat menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola AI.

AI boleh semakin pintar dan semakin mandiri dalam menjalankan pekerjaan. Namun dalam perspektif Islam, otonomi teknis tidak sama dengan tanggung jawab moral. Ketika mesin semakin mampu bertindak, manusia justru harus semakin kuat memegang kendali etis.

Continue Reading

News

Al-Khawarizmi: Arsitek Angka dari Jalur Sutra

Menelusuri perjalanan hidup dan transformasi intelektual Al-Khawarizmi dari wilayah oasis Khwarazm hingga menjadi pelopor sistem aljabar terkemuka di Baghdad.

Umar Satiri

Published

on

CERITA KECIL sering kali menyimpan rahasia dari sebuah lompatan besar sejarah. Kita mungkin mengenal Al-Khawarizmi sebagai bapak aljabar yang jenius, namun bagi masyarakat Baghdad abad ke-8, ia mulanya hanyalah seorang bocah imigran yang gemar memperhatikan cara orang menghitung di pasar. 

Lahir sekitar tahun 780 M di Khwarazm, sebuah kota oasis subur di Uzbekistan, masa kecilnya dipenuhi dengan dinamika lingkungan yang kelak membentuk cara berpikirnya dalam mengubah dunia matematika. Tumbuh di salah satu pusat perdagangan terpenting Jalur Sutra membuat Al-Khawarizmi kecil terbiasa melihat dunia dari sudut pandang yang sangat luas dan multikultural sejak dini.

Bagi Al-Khawarizmi kecil, hiruk-pikuk pasar di tanah kelahirannya bukanlah sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan sebuah laboratorium ide yang hidup. Di sana, ia sering berdiri terpaku memperhatikan karavan pedagang yang datang dari Tiongkok, India, hingga Persia. 

Keberagaman tersebut membakar rasa ingin tahunya ketika menyadari bahwa setiap bangsa memiliki metode tersendiri untuk menghitung hasil bumi dan komoditas dagang mereka. Pengamatan visual terhadap transaksi sehari-hari ini perlahan bertransformasi menjadi sebuah obsesi yang mendalam terhadap pola angka dan logika.

Namun, kedamaian masa kecil di kota oasis itu harus terusik ketika ketegangan politik melanda wilayah Khwarazm. Keluarganya terpaksa mengambil keputusan berat untuk bermigrasi jauh ke selatan menuju Baghdad, yang kala itu merupakan megapolitan terhebat di dunia Islam. Perjalanan sebagai pendatang baru tentu tidak mudah bagi seorang anak, tetapi Al-Khawarizmi justru menemukan oase baru di tengah kota yang penuh dengan buku dan ilmuwan tersebut. 

Alih-alih merasa minder sebagai imigran, atmosfer intelektual Baghdad yang begitu hidup justru menyalakan api pembelajar yang jauh lebih besar di dalam dirinya. Di pasar-pasar Baghdad inilah, sebuah momen magis terjadi yang kelak mengubah jalannya sejarah sains dunia. 

Al-Khawarizmi pertama kali bersinggungan langsung dengan sistem bilangan yang dibawa oleh para pedagang dari India. Ia sangat terpesona oleh efisiensi sistem sepuluh angka tersebut, terutama ketika ia diperkenalkan pada konsep ruang kosong yang kita kenal sebagai angka nol. Pertemuan emosional dengan angka India ini menjadi titik balik krusial yang mengobsesi seluruh sisa hidupnya untuk menyempurnakan sistem perhitungan manusia.

Kejeniusan Al-Khawarizmi yang mulai mekar di Baghdad bukanlah sekadar bakat alami yang muncul tanpa arah, melainkan buah dari pola pendidikan yang sangat terstruktur dan adaptif pada Zaman Keemasan Islam. Langkah awal pembentukan intelektualnya dimulai dari penguasaan bahasa. Sejak muda, ia mempelajari bahasa Arab, Yunani, dan Sanskerta secara mendalam. 

Pola pendidikan asimilasi ilmu ini memungkinkannya untuk membaca manuskrip geometri Yunani yang kaku seperti karya Euclid, lalu mengawinkannya secara fleksibel dengan sistem numerik India. Kemampuan multibahasa ini memberinya jembatan untuk menarik kesimpulan yang melampaui sekat-sekat budaya zamannya.

Selain kaya akan teori lintas peradaban, pola belajar Al-Khawarizmi juga sangat menekankan pada metode pemecahan masalah nyata atau problem-based learning. Ia tidak pernah mengurung diri dalam menara gading teori yang mati di atas kertas, melainkan turun langsung ke lapangan untuk mengamati kerumitan konkret yang dihadapi oleh masyarakat sehari-hari. 

Ia mempelajari bagaimana hukum waris Islam yang rumit dibagi secara adil, bagaimana para arsitek kerajaan mengukur luas lahan untuk pembangunan saluran air, serta bagaimana para saudagar menghitung keuntungan dagang mereka. Kegelisahan melihat masalah praktis inilah yang memicunya menciptakan metode sistematis untuk menyamakan dua sisi persamaan, yang ia tuangkan dalam kitab legendarisnya, Al-Jabar.

Puncak dari seluruh perjalanan pendidikan Al-Khawarizmi terjadi ketika bakat luar biasanya tercium oleh Khalifah Al-Ma’mun, pemimpin Dinasti Abbasiyah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Al-Khawarizmi kemudian diangkat menjadi anggota utama di Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), sebuah pusat riset dan perpustakaan terbesar di dunia pada masa itu. Di bawah atap institusi megah ini, pola pendidikannya berubah menjadi riset mandiri yang merdeka. Tanpa dikekang oleh kurikulum yang kaku, ia diberikan fasilitas tanpa batas, akses ke seluruh manuskrip kuno dunia, serta ruang untuk berdiskusi dengan para pemikir terbaik di zamannya.

Perpaduan antara kerasnya pengalaman hidup sebagai pengembara, ketajaman observasi lapangan, dan ekosistem belajar yang merdeka di Bayt al-Hikmah akhirnya berhasil melahirkan aljabar dan algoritma. Al-Khawarizmi telah membuktikan kepada dunia bahwa kecerdasan sejati selalu bermula dari sebuah cerita kecil tentang rasa penasaran seorang anak yang dirawat oleh pola pendidikan yang tepat.

Continue Reading

Ruang Sujud

Indonesia Pacu Produk Halal Tembus Pasar Global

Indonesia memperkuat ekosistem industri halal melalui sertifikasi, pengembangan rantai nilai, dan perluasan akses pasar internasional.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Kementerian Perindustrian terus mendorong industri halal nasional agar tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing di pasar internasional. Menurut ANTARA, penguatan tersebut dilakukan melalui pengembangan ekosistem halal, peningkatan akses pasar, fasilitasi sertifikasi, serta penguatan rantai nilai industri dari hulu hingga hilir.

Upaya tersebut dilakukan karena pasar produk halal global terus berkembang dan memberikan peluang bagi industri Indonesia. Kemenperin menilai industri halal dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi Islam global. Salah satu agenda yang disiapkan adalah Halal Indo 2026 pada 24-27 September 2026 di ICE BSD City, Tangerang, yang diarahkan untuk mempertemukan pelaku industri dengan pasar dan mitra potensial.

Menurut Kemenperin, peningkatan daya saing tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk yang memenuhi ketentuan halal. Pelaku industri juga perlu memperkuat kualitas produk, inovasi, infrastruktur industri halal, sertifikasi, serta kemampuan memasuki rantai pasok global. Pemerintah juga mendorong pelaku industri kecil dan menengah agar mampu meningkatkan nilai tambah dan identitas produknya.

Dari sisi regulasi, pemerintah juga sedang memperkuat kepastian halal di dalam negeri. Menurut ANTARA, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah menerbitkan Peraturan BPJPH Nomor 4 Tahun 2026 mengenai pemastian kesesuaian produk halal luar negeri yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia. Regulasi tersebut menjadi bagian dari persiapan penerapan kewajiban sertifikasi halal yang lebih luas mulai Oktober 2026.

Langkah Indonesia juga diarahkan pada penyelarasan standar halal secara internasional. Menurut ANTARA, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan sebelumnya menyerukan adanya standar tunggal produk halal dunia dan menyatakan Indonesia siap menjadi salah satu penggeraknya. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa sertifikasi halal tidak hanya dipandang sebagai kewajiban domestik, tetapi juga sebagai instrumen untuk meningkatkan kepercayaan dan daya saing produk dalam perdagangan global.

Dengan demikian, strategi pengembangan industri halal Indonesia mencakup apa yang diproduksi, bagaimana standar dan sertifikasinya dipenuhi, serta ke mana produk tersebut dipasarkan. Tantangannya adalah memastikan pelaku industri, khususnya IKM, memiliki kemampuan memenuhi standar, menjaga kualitas, memperoleh sertifikasi, dan membangun jaringan pasar internasional secara berkelanjutan.

Continue Reading
News7 menit ago

Prabowo Tegaskan Komitmen Pemerintah Lindungi Kekayaan Negara untuk Rakyat

LakeyBanget27 menit ago

Tinggalkan Timnas Portugal, Ronaldo Siap Dihukum Federasi

News10 jam ago

MK Tolak Permohonan Gugatan Ijazah Gibran

LakeyBanget11 jam ago

Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Indonesia Kantongi Hadiah Segini

News12 jam ago

Mendikdasmen: Guru Harus Jadi Teladan, Bangun Sekolah yang Aman dan Nyaman

News21 jam ago

IHSG Menguat Tajam Jelang Penutupan Pasar

News22 jam ago

Menempa Karakter Besi Emil Audero Mulyadi: Kisah Bocah Lombok yang Menghapus Dahaga 35 Tahun Ibu Pertiwi

News23 jam ago

Nobel 2026: Ketika Cahaya Membuka Rahasia Otak

News24 jam ago

Performa Saham Teknologi Raksasa Melemah

News24 jam ago

Tekan Beban Negara, Danantara Pangkas 354 BUMN

News1 hari ago

189 Orang Dipantau, Rusia Selidiki Dugaan Wabah Pes

LakeyBanget1 hari ago

Indonesia Akhiri Puasa Gelar 35 Tahun

LakeyBanget1 hari ago

Selamat! Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

News2 hari ago

Bakteri Mematikan Bocor dari Laboratorium Rusia, 1 Peneliti Meninggal dan Ratusan Orang Siaga 1

News2 hari ago

Pemerintah Gulirkan Stimulus Ekonomi Kuartal IV 2026

News2 hari ago

Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru di HUT TNI, Berikut Daftarnya

LakeyBanget2 hari ago

Singapura Siapkan Polisi Robot Humanoid Berbasis AI

News2 hari ago

Prestasi WorldSkills, Cermin Kemajuan Pendidikan Vokasi Indonesia

News2 hari ago

Prabowo Tekankan Komunikasi Pemerintah yang Sederhana dan Dialogis

LakeyBanget2 hari ago

Scaloni: Laga Perpisahan Messi Bakal Jadi Momen Emosional