Connect with us

Pesan Untuk Warga Muhammadiyah

Mendekati tahun politik 2024, PP Muhammadiyah memberi pesan khusus bagi warganya untuk meramaikan pesta demokrasi dengan penuh kegembiraan, dan tidak fanatisme berlebihan.

Deni Irawan

Published

on

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Selamatkan Lansia Saat Kebakaran Hutan Korsel, Sugiyanto Terima Penghargaan Ini

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Seorang nelayan asal Indonesia, Sugiyanto, yang berhasil menyelamatkan warga lanjut usia saat kebakaran hutan di Korea Selatan, akan menerima sejumlah penghargaan dari Pemerintah Indonesia.

Dalam sebuah video yang diunggah di media sosial pada Kamis (3/4), Menteri Perlindungan Pekerja Migran, Abdul Kadir Karding, menghubungi Sugiyanto melalui panggilan video untuk menyampaikan apresiasi atas keberaniannya.

“Saya sangat bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Mas Sugiyanto. Insyaallah, Pemerintah Indonesia akan memberikan penghargaan sebagai bentuk penghormatan, yang akan disampaikan melalui keluarganya di Indramayu,” ujar Abdul Kadir.

Selain penghargaan, pemerintah juga tengah mengupayakan agar Sugiyanto memperoleh visa F-2, yakni visa residensi jangka panjang di Korea Selatan. Lebih lanjut, ia juga akan diangkat sebagai Duta Pekerja Migran Indonesia, dengan harapan bisa menjadi teladan bagi pekerja migran lainnya.

Kisah heroik Sugiyanto terjadi saat kebakaran besar melanda kawasan Uiseong pada 25 Maret 2025 malam. Api yang menjalar hingga ke desa pesisir tempatnya tinggal memaksa warga untuk segera mengungsi. Tanpa ragu, Sugiyanto bersama kepala komunitas nelayan setempat, Yoo Myung-sin, bergegas membangunkan warga dan membantu mereka menyelamatkan diri.

Dalam proses evakuasi, Sugiyanto bahkan menggendong beberapa lansia menuju titik aman. Aksinya ini mendapat pujian luas, bahkan seorang warga berusia 90 tahun mengungkapkan, “Jika bukan karena dia, kami semua pasti sudah meninggal.”

Berkat keberaniannya, semua warga desa berhasil selamat dari musibah tersebut. Namanya kini menjadi perbincangan hangat di Korea Selatan sebagai pahlawan dari Indonesia.

Sugiyanto telah bekerja sebagai nelayan di desa pesisir Chuksan-myeon selama delapan tahun terakhir dengan visa kerja. Keluarganya tinggal di Indonesia, dan ia hanya bisa pulang setiap tiga tahun sekali.

Penghargaan yang akan diberikan oleh pemerintah Indonesia menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan kepahlawanannya, sekaligus sebagai inspirasi bagi pekerja migran lainnya di seluruh dunia.

Continue Reading

Ruang Sujud

Jika Hendak Ceraikan Istri Sebab tak Lagi Cinta, Ingat Pesan Sahabat Nabi ini

Cinta bukan satu-satunya dasar pernikahan. Umar bin Khattab mengingatkan bahwa rumah tangga dibangun di atas komitmen dan kesabaran. Jika cinta memudar, tetaplah bersama dalam kebaikan.

Published

on

Monitorday.com – Suatu hari, seorang suami datang menghadap Umar bin Khattab dengan wajah ragu dan gelisah. Ia ingin menceraikan istrinya. Alasannya? Ia sudah tak lagi mencintainya.

Mendengar itu, Umar justru menatapnya tajam dan bertanya, “Apakah rumah tangga hanya dibangun di atas cinta?”

Pertanyaan itu menusuk. Sebuah tamparan halus bagi siapa saja yang mengira pernikahan hanya tentang rasa berbunga-bunga. Umar ingin mengingatkan bahwa cinta bukan satu-satunya bahan bakar yang menjaga pernikahan tetap berjalan. Ada tanggung jawab, komitmen, dan kesetiaan yang jauh lebih bernilai daripada sekadar perasaan sesaat.

Dalam perjalanan rumah tangga, cinta bisa naik turun. Ada hari-hari penuh gairah, ada pula saat-saat hambar. Ketika masa-masa sulit datang, pasangan sering kali lupa alasan mereka menikah. Mereka hanya fokus pada kekurangan, lupa akan segala kebaikan yang pernah ada.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Pesan ini begitu dalam. Jangan buru-buru menceraikan pasangan hanya karena rasa cinta memudar. Mungkin ada kebaikan yang belum terlihat.

Coba lihat lebih dekat. Apakah dia istri yang setia? Apakah dia ibu yang baik bagi anak-anakmu? Apakah dia mendukungmu dalam agama dan kehidupan? Jika jawabannya ya, maka cinta bukan segalanya.

Kita hidup di era media sosial, di mana kehidupan orang lain tampak sempurna. Kita melihat pasangan yang saling memuji, berbagi kebahagiaan, penuh kemesraan. Tapi benarkah itu gambaran nyata? Tidak semua yang tampak indah di luar benar-benar indah di dalam. Ada yang penuh kepalsuan, ada yang menyimpan luka.

Kita sering kali mencari kesempurnaan dalam diri pasangan, berharap mereka selalu memenuhi ekspektasi kita. Padahal, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Jika kita terus mencari tanpa pernah menerima, kita hanya akan terjebak dalam kekecewaan.

Umar bin Khattab mengajarkan satu hal penting: jika cinta memudar, maka pernikahan harus tetap berdiri di atas kebaikan dan kebersamaan. Jika semua rumah tangga bergantung pada cinta semata, maka banyak yang akan runtuh. Namun, mereka yang membangunnya di atas komitmen, saling menghormati, dan memahami, akan bertahan dalam ujian kehidupan.

Mungkin kamu merasa tidak lagi mencintainya. Tapi coba tanyakan pada dirimu, apakah itu alasan yang cukup untuk menghancurkan rumah tangga yang telah dibangun bertahun-tahun?

Cinta bisa tumbuh kembali. Dengan kesabaran, dengan usaha, dengan mengingat semua kebaikan yang pernah ada. Jika kamu merasa kehilangan cinta, temukan kembali alasan mengapa kamu memilihnya dulu. Karena pada akhirnya, bukan hanya tentang mencintai, tapi juga tentang memilih untuk tetap bersama, dalam suka dan duka.

Continue Reading

News

Elon Musk Bakal Tinggalkan Jabatan di Pemerintahan Trump

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Elon Musk dikabarkan akan segera mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala Kementerian Efisiensi Pemerintahan (DOGE) dalam beberapa minggu mendatang.

Kabar ini mencuat setelah Presiden Donald Trump menyiratkan hal tersebut dalam pernyataannya kepada media pada Senin (31/3), sebagaimana dilaporkan The Guardian pada Rabu (2/3).

“Dia harus menjalankan perusahaan besar… pada suatu saat dia akan kembali,” ujar Trump. “Saya akan mempertahankannya selama saya bisa mempertahankannya.”

Spekulasi semakin menguat karena Musk hanya diperbolehkan menjabat sebagai pegawai pemerintah khusus selama 130 hari. Jika dihitung sejak pelantikannya pada Januari 2025, masa jabatan Musk kemungkinan akan berakhir pada akhir Mei.

Meski begitu, Gedung Putih membantah rumor pengunduran diri Musk, menegaskan bahwa ia “akan tetap di sini.” Namun, sumber dalam pemerintahan yang dikutip Politico pada Rabu (2/3) menyebutkan bahwa Musk memang akan segera meninggalkan jabatannya sebagai “tukang gergaji anggaran” dalam waktu dekat.

Menanggapi laporan tersebut, Musk membantah klaim tersebut sebagai berita “palsu.” Sekretaris Gedung Putih, Karoline Leavitt, juga menyebut laporan itu sebagai “sampah.”

“Elon Musk dan Presiden Trump sama-sama menyatakan secara terbuka bahwa Elon akan meninggalkan layanan publik sebagai pegawai pemerintah khusus saat pekerjaannya yang luar biasa di DOGE selesai,” jelas Leavitt.

Terlepas dari kepergian Musk, departemen yang ia pimpin, DOGE, akan tetap beroperasi hingga 2026 sesuai dengan instruksi dari Presiden Trump. Beberapa pejabat yang ditunjuk Musk di berbagai lembaga pemerintah juga kemungkinan akan tetap menjabat lebih lama dari dirinya.

Sejak Musk bergabung dengan DOGE pada Januari 2025, lembaga ini telah melakukan pemangkasan besar-besaran di berbagai departemen pemerintah AS. Pekan ini saja, DOGE telah memberhentikan 10 ribu pegawai Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, serta berupaya menghapus lembaga seperti USAID dan media pemerintah Voice of America.

Menurut New York Times, sekitar 56 ribu pegawai pemerintah pusat telah diberhentikan sejak 20 Januari, dengan 75 ribu lainnya menerima pesangon sukarela. Target pengurangan tenaga kerja ini diperkirakan akan mencapai setidaknya 171 ribu pegawai di masa mendatang.

Musk mengklaim bahwa langkah-langkah efisiensi ini telah menghemat anggaran sebesar $140 miliar, meskipun sejumlah media menyoroti adanya kesalahan dalam perhitungan tersebut. Kepada Fox News, Musk menyatakan ambisinya untuk “mengurangi defisit sebesar $1 triliun” sebelum masa jabatannya berakhir.

Namun, keberadaan Musk di pemerintahan telah menimbulkan kekhawatiran terkait konflik kepentingan, terutama mengingat kontrak pemerintah yang melibatkan perusahaannya. Selain itu, sebagai pegawai pemerintah khusus, rincian keuangan Musk tetap dirahasiakan, menambah kontroversi dalam masa kepemimpinannya di DOGE.

Continue Reading

Sportechment

Final Liga Voli Korea: Perjuangan Gigih Megawati Cs Buat Kagum Bintang Pink Spider

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Bintang andalan Pink Spiders, Kim Yeong-koung, mengungkapkan kekagumannya terhadap perjuangan gigih Red Sparks dalam final Liga Voli Korea.

Pemain yang dijuluki “Ratu Voli Korea” ini memuji semangat juang Megawati Hangestri Pertiwi dan rekan-rekannya, yang sempat unggul lebih dulu sebelum akhirnya kalah dalam pertandingan dramatis.

Pada laga kedua final yang berlangsung di Incheon Samsan World Gymnasium, Rabu (2/4), Red Sparks berhasil memimpin 2-0 lebih dulu. Namun, Pink Spiders bangkit dan membalikkan keadaan dengan kemenangan 3-2 setelah merebut tiga set terakhir dengan skor 25-22, 25-12, dan 15-12.

Menanggapi pertandingan tersebut, Kim Yeong-koung mengapresiasi kerja keras kedua tim yang telah berjuang hingga titik akhir musim ini.

“Sebenarnya sulit bagi semua orang untuk mencapai titik ini. Tim kami juga menghadapi banyak cedera, tetapi kami mampu mengatasinya dan terus bermain di kejuaraan. Itu menunjukkan semangat juang,” ujarnya, dikutip dari Sport Chosun.

Yeong-koung juga memuji daya juang Red Sparks. “Saya pikir sangat luar biasa melihat mereka bertahan sampai akhir. Tim kami yang mampu mengatasi mereka juga hebat,” tambahnya.

Di pertandingan ini, Yeong-koung berkontribusi besar dengan torehan 22 poin yang membantu Pink Spiders bangkit dari situasi sulit. Kemenangan ini membuat Pink Spiders hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk memastikan gelar juara Liga Voli Korea musim ini.

Di sisi lain, Megawati Hangestri Pertiwi juga tampil impresif untuk Red Sparks dengan mencetak 25 poin, menunjukkan bahwa timnya tidak kalah bersinar meskipun harus menelan kekalahan.

Pertandingan selanjutnya akan menjadi penentu apakah Pink Spiders mampu mengamankan gelar atau Red Sparks bisa bangkit untuk memperpanjang perjuangan mereka di final.

Continue Reading

Review

Against Israel and the USA, Arab Leaders Are Nothing but Pathetic Toothless Tigers

Middle Eastern nations are growing weaker in the face of Israeli and American aggression. The cowardice of Arab leaders and their dependence on the West leave them with nothing but empty condemnations.

Published

on

Monitorday.com – Explosions shake Gaza, sirens wail in the dark night. Blood flows through the streets, children’s screams echo in narrow alleys. Meanwhile, Middle Eastern leaders sit in plush chairs, hold emergency meetings, and emerge with worthless statements that amount to nothing more than empty words. America sends weapons, Europe sends funds, Israel pulls the trigger. And the Arab world? They watch.

The world witnesses genocide in Gaza, but not with the concern it should. Tel Aviv has no need to worry about reactions from neighboring countries. Egypt closes the Rafah border, Jordan is busy maintaining internal stability, Saudi Arabia makes mild comments while continuing its trade with America. The oil-rich Gulf nations strengthen their ties with Israel for economic interests. Meanwhile, in the negotiation rooms, the Arab League gathers, agreeing on the one thing they do best: condemnation.

Year after year, decade after decade, the story remains the same. Palestine fights alone against a massive force fully backed by the West. If Arab nations once tried to resist in the Arab-Israeli Wars, now they have surrendered without a fight. Egypt, once brave in the Yom Kippur War, now remains silent. Syria, which once sent tanks to the Golan Heights, is now preoccupied with civil war. Iraq, once possessing a powerful military, has been shattered by the American invasion.

There is no longer a solid resistance bloc. Iran, the only nation that speaks out, has instead become the target of sanctions and isolation. Hezbollah and Palestinian resistance groups fight alone, without real support from their fellow believers. The Arab world seems to have forgotten that Al-Quds is part of their history and identity.

America and Israel fully understand this weakness. With deep-rooted economic and political interests in the Arab region, they manipulate Middle Eastern leaders like chess pieces. The Gulf states’ dependence on American weapons and military protection prevents them from fighting back. Kings and emirs fear losing their power more than losing Palestine. And this is Israel’s greatest weapon: division among the Arab nations themselves.

The dream of Islamic unity once championed by revolutionary leaders is now a relic of the past. Arab nationalism, once a force against imperialism, has faded, replaced by self-interest and fear of Western intervention. The Middle East is no longer a center of resistance but a stage where major powers play as they please.

The Palestinian people wait. They wait for a miracle that may never come. They wait for solidarity that has long vanished. They wait for the Arab world to rise, though they themselves know that hope is slipping away. Meanwhile, bombs continue to fall, bullets continue to be fired, and the world chooses to look away.

Continue Reading

News

Idul Fitri 1446 H, Mendikdasmen: Menjaga Hati, Mengendalikan Diri

Khutbah Idulfitri 1446 H oleh Abdul Mu’ti menekankan pentingnya mengendalikan hawa nafsu, bijak dalam bermedia sosial, serta membangun karakter dan persatuan umat. Konsistensi setelah Ramadan menjadi kunci keberkahan hidup.

Published

on

Monitorday.com – Lebaran selalu menghadirkan suasana kebahagiaan. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: menjaga hati tetap bersih dan mengendalikan diri dari amarah.

Inilah pesan utama yang disampaikan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Mendikdasmen, Prof Abdul Mu’ti, dalam khutbah Idulfitri 1446 H. Ia menekankan bahwa keberhasilan seseorang dalam menahan hawa nafsu merupakan kunci kehidupan yang lebih berkah dan harmonis.

Dalam khutbahnya, Prof Mu’ti mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tin ayat 4. Namun, kemuliaan ini tidak hanya berasal dari fisik, melainkan juga dari akal dan kemampuannya untuk berpikir serta bertindak dengan bijak. Ia juga mengutip QS. Al-Isra’ ayat 70, yang menegaskan bahwa manusia dimuliakan dengan ilmu dan keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain.

Meski demikian, potensi kemuliaan ini bisa tercoreng jika seseorang tidak mampu mengendalikan nafsu. “Nafsu bisa menjadi sumber kebaikan, tetapi jika dibiarkan lepas kendali, ia juga bisa menjadi pintu keburukan,” tegas Mu’ti. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus membersihkan hati dan menata jiwa agar tetap berada di jalan yang diridai Allah.

Tantangan zaman modern pun tak luput dari perhatiannya. Prof Mu’ti menyoroti betapa derasnya arus informasi di era digital, di mana kebenaran dan kebohongan sering kali bercampur. Hoaks dan ujaran kebencian bertebaran di media sosial, mengancam persatuan dan memicu perpecahan. “Di era ini, antara haq dan hoaks sulit dibedakan jika kita tidak terbiasa melakukan tabayun (klarifikasi),” ungkapnya.

Sebagai bentuk solusi, ia mengajak umat Islam untuk lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi. Tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang populer itu baik. Dalam Islam, menjaga lisan dan tulisan merupakan bagian dari akhlak mulia. Mu’ti mengingatkan akan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai pendidik, Prof Mu’ti juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Menurutnya, membangun karakter tidak cukup hanya dengan ceramah atau perintah, melainkan harus melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan kecil seperti menepati janji, berkata jujur, dan menghormati orang lain dapat membentuk karakter yang kuat dan unggul. “Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong,” tambahnya.

Prof Mu’ti juga menegaskan bahwa umat Islam harus saling mendukung dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Persatuan dan solidaritas menjadi faktor utama dalam menghadapi tantangan zaman. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadan bukan diukur dari seberapa banyak ibadah yang dilakukan, tetapi dari seberapa istiqamah seseorang dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan berlalu.

Menutup khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Syawal sebagai momentum evaluasi diri. “Jangan sampai kita kembali kepada kebiasaan buruk setelah Ramadan usai. Mari kita terus berbuat baik dan menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” pungkasnya.

Continue Reading

News

Sekolah Rakyat dan Revolusi Pendidikan Baru

Bayangkan sebuah sekolah tanpa batasan tahun ajaran, di mana siswa bisa masuk dan keluar sesuai dengan kesiapan mereka. Inilah konsep Sekolah Rakyat yang diusung dengan model multi-entry dan multi-exit.

Published

on

Monitorday.com – Bayangkan sebuah sekolah tanpa batasan tahun ajaran, di mana siswa bisa masuk dan keluar sesuai dengan kesiapan mereka. Inilah konsep Sekolah Rakyat yang diusung dengan model multi-entry dan multi-exit.

Seperti sebuah pintu yang selalu terbuka, konsep ini memungkinkan anak-anak untuk masuk sekolah tidak harus di awal tahun ajaran, melainkan bisa secara bergelombang. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Abdul Mu’ti menyebut bahwa kurikulum Sekolah Rakyat akan dirancang khusus, berbeda dari kurikulum sekolah formal, namun tetap memberikan fasilitas setara bagi semua siswa.

“Kita menyebutnya tailor-made, karena kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan siswa,” kata Mu’ti. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan fleksibilitas, tetapi juga pengalaman belajar yang lebih personal dan sesuai dengan kemampuan mereka.

Model multi-entry dan multi-exit (MEME) sebelumnya sudah diterapkan di dunia pendidikan politeknik untuk memberikan akses lebih luas bagi masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dengan pendekatan ini, siswa dapat mulai belajar kapan saja dan menyelesaikan pendidikan mereka berdasarkan pencapaian yang telah mereka selesaikan.

Bayangkan seorang anak yang harus bekerja membantu keluarga, tetapi masih memiliki keinginan untuk belajar. Dengan model ini, ia tidak harus menunggu tahun ajaran baru untuk kembali ke sekolah. Ia bisa masuk kapan saja dan melanjutkan pendidikan tanpa harus merasa tertinggal. Begitu pula dengan siswa yang sudah memiliki cukup bekal untuk masuk ke dunia kerja lebih awal, mereka bisa menyelesaikan pendidikan tanpa harus menunggu sampai tahun ajaran berakhir.

Dalam penerapannya, setiap siswa akan diasramakan begitu mereka masuk ke dalam sistem. Dengan begitu, lingkungan belajar dapat lebih terkontrol, dan mereka bisa fokus pada pengembangan diri tanpa harus terbebani faktor eksternal. Selain itu, sistem ini juga diharapkan bisa menekan angka putus sekolah, yang sering kali menjadi tantangan utama dalam dunia pendidikan Indonesia.

Namun, penerapan model ini tentu tidak tanpa tantangan. Penyesuaian kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga meskipun siswa masuk dan keluar dalam waktu yang berbeda, menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.

Di sisi lain, model ini membuka peluang lebih besar bagi inovasi dalam metode pengajaran. Dengan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis proyek, siswa bisa lebih mudah memahami materi tanpa harus terpaku pada sistem klasikal yang kaku. Pendekatan ini juga memberi ruang bagi tenaga pengajar untuk lebih kreatif dalam menyampaikan materi dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa.

Jika konsep ini berhasil diterapkan, bukan tidak mungkin Sekolah Rakyat akan menjadi model pendidikan masa depan, di mana fleksibilitas dan aksesibilitas menjadi prioritas utama. Dengan sistem yang lebih inklusif, pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif bagi mereka yang bisa mengikuti jadwal konvensional, tetapi menjadi hak bagi siapa saja yang ingin belajar.

Seperti sebuah perjalanan, setiap anak memiliki ritme dan jalannya sendiri dalam mengejar ilmu. Dengan multi-entry dan multi-exit, pendidikan bisa lebih adaptif, dinamis, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Continue Reading

News

Wanita Ini Jadi Korban Kekerasan Seksual Tentara Israel

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Mia Schem, seorang wanita Israel, sebelumnya disandera oleh faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza.

Setelah dibebaskan, Mia diduga mengalami pemerkosaan oleh instruktur gym Israel bernama Nati Avidan.

Hadi Nasrallah, aktivis Palestina, mengungkapkan dugaan pemerkosaan tersebut melalui sebuah postingan di media sosial.

Mia diduga dibius oleh Avidan sebelum tindakan keji tersebut terjadi.

Hadi menyebutkan bahwa ini mencerminkan kondisi buruk masyarakat Israel yang lebih berbahaya daripada Hamas.

Mia Schem sempat terkenal karena video permohonannya untuk dibebaskan bersama para sandera lainnya.

Dalam video itu, Mia mengatakan bahwa dirinya dibawa ke Gaza dari Sderot pada pagi hari.

Dia mengaku terluka di tangannya saat dibawa ke Gaza dan menjalani operasi selama tiga jam.

Mia mengungkapkan bahwa para pejuang Palestina merawatnya dengan baik setelah ia terluka.

Dia memuji kebaikan para pejuang Palestina yang memberinya perawatan medis dan makanan yang baik.

Namun, setelah dibebaskan, Mia mengalami kekerasan dari seorang warga Israel sendiri.

Netizen menanggapi insiden ini dengan mengkritik masyarakat Israel yang dianggap bobrok.

Beberapa warganet berpendapat bahwa Mia merasa lebih aman selama ditawan oleh Hamas.

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana masyarakat Israel dianggap lebih berbahaya dibandingkan dengan pejuang Palestina.

Warganet lainnya menyebut kejadian ini sebagai bukti dari obsesi buruk sebagian orang Israel terhadap kekerasan seksual.

Kasus ini menciptakan kecaman luas terhadap perilaku buruk yang terjadi di masyarakat Israel.

Continue Reading

Sportechment

Timnas U-17 Siap Tempur di Ajang Piala Asia 2025, Erick Thohir Kirim Pesan Ini

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyampaikan dukungan penuh kepada Timnas Indonesia U-17 yang akan berlaga di Piala Asia U-17 2025.

Erick berharap skuad Garuda Asia dapat menampilkan performa terbaik dan mengamankan tiket ke Piala Dunia U-17 2025.

Indonesia tergabung di Grup C bersama Korea Selatan, Yaman, dan Afghanistan. Tim Merah Putih akan mengawali perjuangannya dalam turnamen ini dengan menghadapi Korea Selatan di laga perdana grup.

“Tim terbaik dari masing-masing grup akan lolos ke babak perempat final dan secara otomatis mendapatkan tiket ke Piala Dunia U-17 2025,” ujar Erick Thohir melalui akun Instagram resminya.

“Kita dukung dan doakan Timnas Indonesia U-17 agar bisa memberikan yang terbaik dan membawa Garuda ke panggung dunia,” tambahnya.

Pelatih Nova Arianto telah membawa sejumlah pemain andalan untuk berjuang dalam turnamen yang digelar pada 3-20 April mendatang. Beberapa nama yang diharapkan menjadi pilar utama tim antara lain Putu Panji, Mathew Baker, Fabio Azkairawan, Evandra Florasta, Zahaby Gholy, hingga Mochamad Mierza.

Timnas Indonesia U-17 akan memulai perjuangannya dengan menghadapi Korea Selatan di Stadion Prince Abdullah Al Faisal, Jeddah, pada Jumat (4/4) pukul 18.00 waktu setempat atau pukul 22.00 WIB.

Selanjutnya, Indonesia akan bertemu Yaman di lokasi yang sama pada Senin (7/4) pukul 18.00 waktu setempat atau pukul 22.00 WIB. Laga terakhir fase grup akan mempertemukan Indonesia dengan Afghanistan pada Kamis (10/4) pukul 20.15 waktu setempat atau Jumat (11/4) pukul 00.15 WIB.

Dengan target besar untuk lolos ke Piala Dunia U-17, Tim Garuda Asia siap memberikan yang terbaik di setiap pertandingan. Dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia pun diharapkan menjadi tambahan semangat bagi para pemain dalam mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Continue Reading

Ruang Sujud

Jejak Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya melibatkan pejuang fisik di medan perang, tetapi juga para ulama yang memberikan kontribusi besar, baik dalam aspek spiritual maupun sosial-politik. Ulama memiliki peran yang sangat strategis dalam membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia melalui dakwah, fatwa, dan gerakan sosial yang mereka pimpin. Jejak mereka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia membuktikan bahwa ulama tidak hanya berperan dalam ranah agama, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan dalam sejarah bangsa.

Peran Ulama dalam Menumbuhkan Semangat Nasionalisme

Ulama di Indonesia sejak awal sudah memberikan pengaruh yang besar dalam membentuk semangat nasionalisme. Sebagai pemimpin spiritual, mereka menggunakan media dakwah untuk membangkitkan rasa cinta tanah air dan kesadaran akan pentingnya perjuangan melawan penjajahan. Dalam kondisi yang penuh tekanan dan penjajahan Belanda, ulama menjadi pendorong utama dalam mempersatukan berbagai elemen bangsa untuk berjuang bersama meraih kemerdekaan.

Salah satu contoh penting adalah peran ulama dalam pergerakan Syarikat Islam (SI). Organisasi ini, yang dipimpin oleh ulama-ulama terkemuka seperti Haji Agus Salim, memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan kemerdekaan dengan mengedepankan semangat persatuan dan nasionalisme berbasis agama. Dalam berbagai ceramah dan khutbahnya, mereka menekankan pentingnya persatuan umat Islam untuk meraih kemerdekaan.

Ulama dan Pergerakan Pesantren dalam Perjuangan Kemerdekaan

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam yang berkembang pesat di Indonesia, menjadi pusat kegiatan politik dan sosial yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan. Para kiai dan ulama pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menyebarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Mereka mendidik generasi muda dengan nilai-nilai perjuangan, keadilan, dan kebebasan.

Selain itu, pesantren menjadi tempat penting bagi pembentukan kader-kader pejuang yang kemudian terlibat langsung dalam perlawanan fisik. Kiai Hasyim Asy’ari, seorang ulama terkemuka asal Nahdlatul Ulama (NU), misalnya, tidak hanya dikenal sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai pemimpin perlawanan terhadap penjajahan Jepang dan Belanda. Beliau menjadi inisiator resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 yang menggerakkan umat Islam untuk berperang melawan Belanda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peran Ulama dalam Organisasi Nasional dan Gerakan Perjuangan

Ulama juga berperan besar dalam mendirikan dan mengembangkan berbagai organisasi nasional yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Organisasi seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Syarikat Islam memiliki ulama sebagai tokoh sentral dalam perjuangan mereka. Tidak hanya menggerakkan umat melalui organisasi agama, tetapi ulama juga menggerakkan umat untuk berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan secara langsung.

Pada masa penjajahan Belanda, ulama terlibat dalam berbagai pergerakan kemerdekaan, baik secara diplomatis maupun melalui aksi-aksi revolusioner. Mereka mendirikan organisasi-organisasi sosial dan politik, serta berperan dalam menyebarkan ideologi kemerdekaan. Melalui ceramah dan fatwa-fatwa, ulama mengajak umat Islam untuk berjuang melawan kolonialisme dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai bangsa merdeka.

Ulama dan Keterlibatannya dalam Perundingan Kemerdekaan

Selain melalui dakwah dan perjuangan fisik, ulama juga terlibat dalam proses perundingan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1945, setelah Jepang menyerah, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Dalam periode ini, ulama terlibat aktif dalam merumuskan dasar negara, terutama dalam pembahasan Piagam Jakarta, yang menegaskan prinsip-prinsip Islam dalam sistem negara Indonesia. Peran ulama dalam hal ini sangat krusial, mengingat mereka tidak hanya menjadi penjaga ajaran agama, tetapi juga penjaga nilai-nilai moral yang ingin diterapkan dalam sistem negara yang baru merdeka.

Jejak Ulama dalam Perjuangan Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, ulama tetap memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas negara dan memperjuangkan kesejahteraan umat. Mereka berperan dalam memberikan pandangan mengenai pembangunan nasional yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam. Melalui organisasi keagamaan, ulama terus berkontribusi dalam pembangunan sosial dan politik Indonesia, menjaga moralitas bangsa, dan memperjuangkan keadilan sosial.

Salah satu contoh peran ulama pasca kemerdekaan adalah keterlibatan mereka dalam pembentukan undang-undang dan kebijakan yang sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, ulama juga aktif dalam pendidikan dan dakwah untuk membentuk karakter generasi muda Indonesia yang berkepribadian Islami.

Kesimpulan

Jejak ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pahlawan nasional yang berperan dalam membangun dan mempertahankan kemerdekaan negara. Mereka memainkan peran yang sangat besar dalam membangkitkan semangat perjuangan, menjaga moralitas bangsa, serta berkontribusi dalam perumusan dasar-dasar negara yang merdeka. Dalam sejarah Indonesia, ulama memiliki peran sentral yang tidak hanya terbatas pada aspek agama, tetapi juga dalam aspek sosial, politik, dan kemerdekaan bangsa. Tanpa kontribusi besar dari para ulama, perjuangan kemerdekaan Indonesia mungkin tidak akan berjalan sekuat dan semulia itu.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News30 minutes ago

Selamatkan Lansia Saat Kebakaran Hutan Korsel, Sugiyanto Terima Penghargaan Ini

Ruang Sujud2 hours ago

Jika Hendak Ceraikan Istri Sebab tak Lagi Cinta, Ingat Pesan Sahabat Nabi ini

News5 hours ago

Elon Musk Bakal Tinggalkan Jabatan di Pemerintahan Trump

Sportechment6 hours ago

Final Liga Voli Korea: Perjuangan Gigih Megawati Cs Buat Kagum Bintang Pink Spider

Review9 hours ago

Against Israel and the USA, Arab Leaders Are Nothing but Pathetic Toothless Tigers

News9 hours ago

Idul Fitri 1446 H, Mendikdasmen: Menjaga Hati, Mengendalikan Diri

News9 hours ago

Sekolah Rakyat dan Revolusi Pendidikan Baru

News17 hours ago

Wanita Ini Jadi Korban Kekerasan Seksual Tentara Israel

Sportechment17 hours ago

Timnas U-17 Siap Tempur di Ajang Piala Asia 2025, Erick Thohir Kirim Pesan Ini

Ruang Sujud18 hours ago

Jejak Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

News21 hours ago

Terjadi Saat Shalat Jumat, Ratusan Muslim Dikhawatirkan Syahid Akibat Gempa Myanmar

Ruang Sujud22 hours ago

Peran Ulama dalam Membangun Peradaban Islam

Sportechment24 hours ago

Trump Bicara Soal Jelang TikTok Kena Banned 5 April

Review24 hours ago

Strategi Global, Dimana Posisi Indonesia?

Sportechment24 hours ago

Val Kilmer, Pemeran Batman Forever Meninggal Dunia di Usia 65 Tahun

Review1 day ago

Jika Pilpres di 2026: Prabowo-Dedi Mulyadi, Duet Paling Tepat!

News1 day ago

Zakat dari Harta Haram, Apa Hukumnya?

Ruang Sujud1 day ago

Ulama dan Perkembangan Ilmu Keislaman di Nusantara

News1 day ago

Syaikh Usamah Ar Rifa’i Terpilih Jadi Mufti Agung Suriah

Sportechment1 day ago

Pengakuan Carlo Ancelotti Usai Real Madrid Kebobolan 4 Gol