News
Prajurit TNI UNIFIL Gugur, Menlu RI Kecam Serangan Israel di Lebanon
Published
54 minutes agoon
Monitorday.com – Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mengecam keras serangan militer Israel di wilayah Lebanon Selatan yang menewaskan seorang prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian dunia.
Prajurit yang gugur diketahui bernama Farizal Rhomadhon. Ia tewas setelah sebuah proyektil menghantam pos pasukan penjaga perdamaian di Adchit Al Qusayr, area penugasan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
“Kami mengecam keras insiden ini dan serangan-serangan yang dilakukan oleh Israel di wilayah Lebanon Selatan,” ujar Sugiono dalam keterangan resmi, Senin (30/3).
Selain korban tewas, tiga prajurit TNI lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Satu di antaranya dalam kondisi kritis dan koma, sementara dua lainnya mengalami luka ringan.
Sugiono juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya prajurit tersebut. “Kami, atas nama pemerintah Republik Indonesia, menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan,” katanya.
Pemerintah Indonesia mendesak semua pihak untuk segera menahan diri dan menurunkan eskalasi konflik yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Ia menekankan bahwa dampak konflik di kawasan tersebut sudah sangat besar dalam satu bulan terakhir.
Sementara itu, pemerintah masih menunggu hasil investigasi dari pihak UNIFIL terkait pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kementerian Luar Negeri juga telah menginstruksikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut untuk memantau kondisi prajurit Indonesia di lapangan serta menyiapkan proses pemulasaraan jenazah almarhum.
Selain itu, Perwakilan Tetap Indonesia untuk PBB di New York dijadwalkan bertemu dengan pejabat tinggi PBB yang membidangi operasi penjaga perdamaian guna membahas pemulangan jenazah, mendorong investigasi menyeluruh, serta menyerukan deeskalasi konflik.
Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di tengah memanasnya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Mungkin Kamu Suka
-
Iran Usulkan Pakta Keamanan Regional Tanpa AS-Israel
-
Israel Kembali Tutup Masjid Al-Aqsa untuk Shalat Jumat
-
AS–Israel Berselisih soal Akhir Perang Iran, Negosiasi Gencatan Senjata Mengemuka
-
Viral Netanyahu Bandingkan Yesus dengan Genghis Khan, Reaksi Kristen Indonesia?
-
Warga Dunia Nantikan Rudal Iran Hancurkan Duo Setan Trump dan Nyetanyahu
News
Gandeng Kemenag dan Kemendagri, Kemendikdasmen Terbitkan SEB tentang Upacara Bendera
Published
1 hour agoon
30/03/2026
Monitorday.com – Pemerintah memperkuat pelaksanaan upacara bendera di sekolah melalui penerbitan Surat Edaran Bersama (SEB) lintas kementerian. Kebijakan ini melibatkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, serta Kementerian Dalam Negeri guna memastikan pelaksanaannya berjalan terstruktur dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya penguatan karakter dan penanaman nilai cinta tanah air di kalangan pelajar.
“Upacara bendera menanamkan nilai disiplin, kerja sama, rasa percaya diri, dan tanggung jawab yang mendorong lahirnya sikap berbangsa dan bernegara,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Dalam SEB tersebut, pemerintah menetapkan bahwa upacara bendera wajib dilaksanakan di satuan pendidikan formal maupun pendidikan keagamaan minimal pada:
- Setiap hari Senin pagi
- Peringatan Hari Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus
- Hari besar nasional lainnya
Aturan ini berlaku secara seragam bagi sekolah umum dan madrasah. Dengan diterbitkannya kebijakan baru ini, sejumlah aturan sebelumnya resmi dicabut agar tidak terjadi tumpang tindih regulasi.
Salah satu poin penting dalam kebijakan ini adalah kewajiban pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia dalam setiap upacara. Ikrar tersebut memuat lima komitmen utama, mulai dari keimanan, penghormatan kepada orang tua dan guru, semangat belajar, kerukunan antarsesama, hingga kecintaan terhadap tanah air.
Langkah ini dinilai strategis untuk membangun kesadaran kolektif pelajar terhadap nilai kebangsaan dan etika sosial sejak dini.
Penguatan upacara bendera juga sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional, termasuk implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembentukan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, seperti religiusitas, gotong royong, kemandirian, dan nasionalisme.
Selain itu, pemerintah mendorong pendekatan kultural dengan menganjurkan siswa menyanyikan atau mendengarkan lagu bertema persatuan setelah upacara hari Senin, guna memperkuat nilai kebersamaan secara lebih kontekstual.
Implementasi kebijakan ini juga melibatkan pemerintah daerah. Gubernur serta Bupati/Wali Kota melalui dinas pendidikan dan kantor wilayah Kementerian Agama diminta aktif melakukan sosialisasi dan pengawasan di wilayah masing-masing.
Sinergi ini memperkuat pelaksanaan kebijakan pendidikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pemerintah menilai, upacara bendera bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan instrumen penting dalam pendidikan karakter jika dilakukan secara konsisten dan bermakna.
Melalui kebijakan ini, diharapkan nilai kedisiplinan, nasionalisme, serta tanggung jawab sosial semakin tertanam kuat dalam diri pelajar Indonesia di tengah tantangan global yang terus berkembang.
News
Dari Tokyo, Prabowo Canangkan Lompatan Besar: Energi Hijau, Hilirisasi, dan Diplomasi Ekonomi
Published
2 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk menjalankan transformasi ekonomi secara menyeluruh, memperkuat kemitraan strategis, serta mempercepat transisi menuju energi hijau. Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato kuncinya pada Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Tokyo, Senin (30/03/2026).
Di bidang energi, Presiden mengungkapkan bahwa Indonesia tengah melakukan transformasi besar menuju energi bersih dan terbarukan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Dalam tiga tahun ke depan, kami ingin mencapai 100 gigawatt energi surya. Bagi kami, ini lebih mendesak karena situasi yang kami lihat,” ujar Presiden.
Selain energi surya, Presiden juga menyoroti potensi besar Indonesia dalam energi terbarukan lainnya seperti panas bumi, serta pengembangan bahan bakar nabati. Presiden menegaskan bahwa Indonesia memiliki salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia dan tengah mempercepat produksi bahan bakar berbasis kelapa sawit, termasuk peningkatan campuran biodiesel dari 40 persen menjadi 50 persen, serta pengembangan bahan bakar berbasis etanol dan berbagai komoditas nabati lainnya.
“Dengan upaya-upaya ini, kita akan berada dalam posisi yang aman untuk menghadapi ketidakpastian apa pun yang ada,” tutur Presiden.
Menyoroti dinamika global yang penuh ketidakpastian, Presiden Prabowo menekankan pentingnya menjaga hubungan ekonomi yang rasional di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin kompleks.
“Saat ini kita hidup dalam lingkungan global yang berbeda, penuh risiko, penuh ketidakpastian. Mempertahankan hubungan ekonomi yang rasional sangatlah penting,” ujar Presiden.
Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan karakter ekonomi terbuka yang sangat bergantung pada perdagangan dan kemitraan internasional. Oleh karena itu, Indonesia konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan prinsip persahabatan seluas-luasnya.
“Filosofi kami adalah 1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Indonesia berada dalam posisi yang nyaman karena kami tidak memiliki musuh,” ungkap Presiden.
Menurut Presiden, kondisi geopolitik global saat ini menjadi bukti bahwa negara yang mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk kekuatan besar dunia, akan berada pada posisi yang lebih rasional dan bijak. Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya hubungan Indonesia dengan Jepang sebagai mitra strategis yang harus terus diperkuat.
Kepala Negara juga menekankan bahwa Indonesia tengah menjalankan reformasi nyata untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien.
“Rakyat kita menuntut tata pemerintahan yang baik, tata pemerintahan yang bersih, dan tata pemerintahan yang efisien. Dan saya bertekad untuk melanjutkan apa yang telah saya mulai ketika menerima mandat dari rakyat saya,” ucap Presiden.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa transformasi strategis Indonesia mencakup transformasi ekonomi yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Indonesia tidak lagi ingin bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mendorong industrialisasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya perlindungan sumber daya alam, termasuk hutan, yang tidak hanya berdampak bagi Indonesia tetapi juga dunia.
“Hutan kita harus dilindungi. Hutan-hutan yang telah hancur, kita harus melakukan reboisasi besar-besaran, bukan hanya untuk kebaikan Indonesia tetapi juga untuk kebaikan dunia,” kata Presiden.
Dengan visi besar, langkah cepat, dan arah yang jelas, Indonesia kini tampil sebagai kekuatan baru yang siap memimpin di era energi hijau dan industri masa depan serta menjadi mitra strategis yang stabil, terbuka, dan menjanjikan bagi dunia.
News
Ibnu Haytham: Ilmuwan Muslim Pertama yang Mengubah Cara Dunia Berpikir
Published
11 hours agoon
30/03/2026By
Umar Satiri
Di dunia yang hari ini penuh jawaban, kita justru kehilangan satu hal yang paling penting: pertanyaan.
Segalanya tersedia. Informasi mengalir tanpa henti. Jawaban hadir bahkan sebelum kita selesai berpikir. Namun di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang diam-diam hilang—cara kita mencari kebenaran. Kita terbiasa menerima, jarang menguji. Kita cepat percaya, lambat meragukan.
Dalam konteks inilah, Ibnu al-Haytham menjadi relevan—bukan sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai cara berpikir yang terasa semakin langka.
Dalam sebuah forum ilmiah santri di STAIMA Al-Hikam, Malang, Wamendikti Saintek Profesor Stella, sempat menyebut namanya sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia. Sebuah klaim yang, pada awalnya, terdengar berlebihan. Bukankah sebelum Ibnu Haytham sudah ada banyak pemikir besar?
Namun, pertanyaannya bukan siapa yang lebih dulu menemukan sesuatu. Pertanyaannya adalah: siapa yang pertama kali mengajarkan bagaimana menemukan.
Di masa sebelum Ibnu Haytham, pengetahuan berjalan di atas otoritas. Apa yang dikatakan oleh para pemikir besar diterima sebagai kebenaran. Dunia percaya karena memang tidak ada alasan untuk tidak percaya. Tradisi berpikir belum mengenal keraguan sebagai metode.
Ibnu Haytham datang dengan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak menolak pengetahuan sebelumnya, tetapi ia tidak tunduk padanya. Ia membaca, lalu meragukan. Ia memahami, lalu menguji. Bahkan terhadap pemikir besar seperti Ptolemy dan Aristoteles, ia memilih untuk tidak sekadar menerima.
Baginya, pencari kebenaran harus berani menjadi “musuh” bagi apa yang ia baca.
Dari situlah sesuatu yang baru lahir—bukan sekadar teori, tetapi metode.
Ibnu Haytham memperkenalkan pendekatan yang hari ini menjadi fondasi sains modern: observasi, eksperimen, dan verifikasi. Ia tidak hanya bertanya “apa”, tetapi juga “bagaimana kita tahu bahwa ini benar”. Ia tidak berhenti pada penjelasan, tetapi melanjutkan pada pembuktian.
Dalam karyanya Kitab al-Manazir, ia menjelaskan bahwa penglihatan terjadi karena cahaya masuk ke mata, bukan sebaliknya. Temuan ini mungkin terdengar sederhana hari ini, tetapi pada zamannya, ia mengguncang cara manusia memahami dunia.
Namun, sekali lagi, yang lebih penting dari temuannya adalah cara ia sampai pada temuan itu.
Ia menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang dicari. Bahwa ilmu bukan milik mereka yang berbicara paling keras, tetapi mereka yang mampu membuktikan dengan paling jujur.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama.
Bukan karena ia yang pertama berpikir, tetapi karena ia yang pertama merumuskan cara berpikir itu sendiri.
Di hadapan para santri, gagasan ini menemukan momentumnya. Selama ini, banyak dari kita memaknai belajar sebagai proses menerima—menerima penjelasan, menerima teks, menerima otoritas. Padahal, dalam tradisi ilmiah yang ditunjukkan Ibnu Haytham, belajar justru dimulai dari bertanya.
Menjadi santri ilmiah bukan berarti meninggalkan iman. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk memuliakan akal sebagai bagian dari pencarian kebenaran. Ibnu Haytham tidak memisahkan antara ilmu dan spiritualitas. Baginya, memahami dunia adalah bagian dari memahami ciptaan.
Bagi Ibnu Haytham, pencarian ilmiah berakar pada tauhid. Ia memulai tulisannya dengan menyebut nama Allah, dan menutupnya dengan pujian serta shalawat—bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai kesadaran bahwa ilmu adalah bagian dari penghambaan. Dalam dirinya, sains bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan ubudiyyah: upaya mendekat kepada Tuhan melalui kejujuran dalam mencari kebenaran. Dari keyakinan itulah lahir disiplin, ketekunan, dan keberanian untuk menguji. Ia tidak meneliti untuk sekadar tahu, tetapi untuk memahami ciptaan dengan cara yang paling jujur.
Dan memahami ciptaan, pada akhirnya, adalah jalan menuju Sang Pencipta.
Namun, relevansi Ibnu Haytham tidak berhenti di ruang-ruang kajian. Ia justru semakin terasa penting di era hari ini—era ketika kecerdasan artifisial mampu menjawab hampir segala hal.
Kita hidup dalam zaman di mana mesin bisa memberi jawaban, tetapi tidak semua manusia mampu mengajukan pertanyaan.
Di sinilah letak paradoks kita.
Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi cara berpikir kita tidak selalu ikut tumbuh. Kita memiliki akses pada pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki metode untuk memahaminya. Kita tahu banyak hal, tetapi belum tentu tahu bagaimana memastikan bahwa yang kita tahu itu benar.
Jika Ibnu Haytham hidup hari ini, mungkin ia tidak akan terpesona oleh kecanggihan teknologi. Ia justru akan bertanya: apakah kita masih menguji, atau hanya menerima dalam bentuk yang lebih canggih?
Sebab tanpa metode, pengetahuan hanya akan menjadi ilusi yang terlihat meyakinkan.
Ibnu Haytham mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi mendasar: bahwa ilmu dimulai dari keraguan yang jujur. Dari keberanian untuk tidak langsung percaya. Dari kesediaan untuk menunda kepastian, demi menemukan kebenaran yang lebih utuh.
Maka, ketika ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia, mungkin yang dimaksud bukanlah urutan sejarah, melainkan sebuah lompatan cara berpikir.
Ia tidak hanya menemukan jawaban. Ia menemukan cara untuk tidak mudah puas dengan jawaban.
Dan di dunia yang hari ini penuh dengan kepastian instan, mungkin itulah pelajaran yang paling kita butuhkan.
News
Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadan
Bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan
Published
12 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com–Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana, menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah bulan Ramadan. Pernyataan ini disampaikan dalam tausiah reflektif pada acara Gerakan Subuh Mengaji yang diselenggarakan pada Sabtu (28/03).
Ayi Yunus Rusyana menekankan bahwa bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan. Ia mengakui tantangan dalam mempertahankan konsistensi ibadah pasca-Ramadan.
Banyak umat, kata Ayi, cenderung menganggap Ramadan sebagai “garis finis” setelah sebulan penuh beribadah, yang berakibat pada penurunan semangat ibadah di bulan Syawal. Kondisi ini terlihat dari masjid-masjid yang kembali lengang, berkurangnya tilawah Al-Qur’an, dan merosotnya semangat bersedekah secara drastis setelah Ramadan.
“Fenomenanya begitu. Ramadan terasa sempit karena jamaah membludak, tetapi Syawal membuat masjid kembali ‘luas’,” ujarnya.
Ia juga menyinggung data penghimpunan zakat, infak, dan sedekah yang mencapai puncaknya di bulan Ramadan, namun kembali menurun pada bulan berikutnya. Menurut Ayi, kondisi ini menunjukkan adanya pandangan ibadah sebagai aktivitas musiman, padahal Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 92 telah mengingatkan agar manusia tidak seperti orang yang merusak kembali benang yang telah dipintal kuat. Ia menambahkan, tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni la’allakum tattaqun, menunjukkan proses berkelanjutan, bukan hasil instan.
“Takwa itu bukan status yang selesai diraih setelah Ramadan, tetapi proses yang terus dijalani,” jelasnya.
News
Masa Depan Zakat Berbasis Edge AI
Permasalahan utama terletak pada kurangnya kepercayaan (trust) dari muzaki dan efisiensi dalam proses distribusi
Published
12 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com–Filantropi Islam di Indonesia berada di titik krusial menuju tahun 2026, menghadapi tantangan besar dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional. Meskipun Indonesia Zakat Outlook 2026 mencatat potensi zakat mencapai lebih dari Rp 327 triliun, realitas penghimpunan nasional masih sangat rendah, seringkali hanya menyentuh angka belasan persen dari potensi tersebut. Situasi ini mendorong pemikiran ulang tentang bagaimana teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), dapat dimanfaatkan.
Permasalahan utama terletak pada kurangnya kepercayaan (trust) dari muzaki dan efisiensi dalam proses distribusi. Pembayar zakat menuntut transparansi real-time, sementara lembaga amil membutuhkan kecepatan dalam memvalidasi penerima yang berhak. Dalam konteks ini, AI tidak hanya dipandang sebagai tren, melainkan sebagai infrastruktur esensial untuk menjaga kemurnian amanah umat sesuai koridor syariah dan mengatasi celah lebar antara potensi dan realisasi.
Riset menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pengelolaan zakat mampu meningkatkan efisiensi penghimpunan hingga 40 persen dan mempercepat distribusi bantuan sebesar 55 persen. Namun, penting ditekankan bahwa digitalisasi tanpa kerangka riset yang kuat berisiko menciptakan otomasi yang “buta” terhadap nilai-nilai lokal dan prinsip fikih. Banyak pihak terkadang terjebak pada keinginan mengilmiahkan zakat hingga mengaburkan batasan syariat yang telah ditetapkan.
Penting untuk memastikan klasifikasi penerima zakat tidak meleset dari batasan syariat. Kecerdasan Buatan memiliki peran vital dalam menegaskan hal ini.
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fisabilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)
Melalui pendekatan algoritma klasifikasi, AI memungkinkan penentuan yang presisi terhadap kategori penerima zakat. Misalnya, AI dapat menganalisis Debt-to-Income Ratio untuk mengidentifikasi gharimin (orang terlilit utang demi kebutuhan pokok) atau menggunakan geospatial analytics untuk memetakan musafir yang membutuhkan bantuan darurat (ibnu sabil). Dengan formula rasio kecukupan, AI membantu amil mengambil keputusan yang lebih objektif.
Hasil implementasi ini sangat signifikan, dengan potensi menekan kesalahan sasaran (inclusion and exclusion error) dalam distribusi zakat hingga 22 persen. Angka ini memiliki arti besar bagi keadilan sosial dan penguatan kepercayaan publik. Pendekatan Whitecyber Research Framework (WRF) digunakan untuk menganalisis implementasi AI untuk Zakat, Infaq, dan Shodaqoh, memastikan teknologi diintegrasikan sebagai ekosistem yang mencakup keamanan data, kecerdasan buatan, dan dampak sosial yang terukur.
News
Iran Usulkan Pakta Keamanan Regional Tanpa AS-Israel
Keamanan kawasan tidak seharusnya bergantung pada kekuatan eksternal, melainkan dapat diwujudkan melalui sistem pertahanan kolektif oleh negara-negara Muslim
Published
12 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com– Republik Islam Iran menyatakan kesiapan untuk membangun aliansi keamanan dan militer bersama negara-negara kawasan, tanpa melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Usulan ini disampaikan melalui seruan terbuka kepada dunia Arab dan Islam di tengah eskalasi konflik regional yang semakin meluas.
Pesan tersebut dibacakan oleh Juru Bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, pada momentum Idul Fitri Rabu, 25 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa keamanan kawasan tidak seharusnya bergantung pada kekuatan eksternal, melainkan dapat diwujudkan melalui sistem pertahanan kolektif oleh negara-negara Muslim sendiri, tanpa campur tangan kekuatan di luar kawasan.
“Kita sama sekali tidak membutuhkan negara yang berjarak ribuan kilometer untuk menjamin keamanan kawasan kita,” kata Zolfaqari.
Zolfaqari menambahkan bahwa Amerika Serikat selama ini cenderung memprioritaskan kepentingan Israel di atas stabilitas dunia Islam. Washington digambarkan sebagai aktor yang melihat kawasan semata dari nilai strategis energi dan kepentingan geopolitik.
“Kita tidak membutuhkan negara yang memprioritaskan keamanan dan kepentingan Israel di atas segalanya,” ujar Zolfaqari.
Pernyataan ini membawa pesan politik luas bahwa Iran ingin mendorong arsitektur keamanan regional yang dibangun dari dalam kawasan, bukan dipaksakan dari luar. Zolfaqari mengajak negara-negara Muslim untuk bergerak menuju pakta keamanan kolektif yang berlandaskan prinsip Islam dan kepentingan bersama, menyebut persatuan keamanan regional sebagai kebutuhan strategis.
News
Hilirisasi Pertanian Jadi Prioritas
Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah komoditas pertanian
Published
14 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com– Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program hilirisasi sektor pertanian sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Langkah ini disebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah komoditas pertanian.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa upaya ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas serta memastikan nilai tambah produk pertanian dinikmati oleh masyarakat dan petani di Indonesia.
“Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani,” kata Mentan Amran.
Mentan Amran menjelaskan bahwa selama ini sebagian besar komoditas pertanian Indonesia masih dijual dalam bentuk bahan baku. Kondisi ini menyebabkan margin keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara pengolah. Oleh karena itu, paradigma tersebut harus diubah melalui hilirisasi yang terstruktur dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Hari ini kita ubah paradigma. Petani tidak boleh hanya menjual hasil panen, tetapi harus masuk dalam rantai industri. Kita bangun dari hulu sampai hilir agar nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” ujarnya.
Mengacu pada arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya industrialisasi berbasis sumber daya alam, Mentan Amran menilai sektor pertanian memiliki posisi strategis sebagai fondasi hilirisasi nasional. Ia menyoroti konsep pohon industri sebagai pendekatan dalam pengembangan komoditas pertanian. “Setiap komoditas punya banyak turunan. Kelapa bisa menjadi puluhan produk, kakao menjadi berbagai olahan, singkong bisa diolah menjadi tepung hingga bioetanol. Inilah yang kita sebut pohon industri,” jelasnya.
News
Tiba di Tokyo, Prabowo Disambut Diaspora Indonesia dengan Haru dan Bangga
Published
15 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com – Suasana hangat penuh kebanggaan menyelimuti kedatangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di hotel tempatnya bermalam di Tokyo, Jepang, pada Minggu (29/03/2026) malam. Sekitar pukul 20.00 waktu setempat, Kepala Negara tiba dan langsung disambut antusias oleh diaspora Indonesia yang telah menanti kedatangannya.
Di pintu masuk hotel, momen penyambutan berlangsung penuh nuansa budaya. Tiga anak Indonesia yang mengenakan pakaian tradisional tampak berdiri rapi seraya menyerahkan bunga kepada Presiden Prabowo. Gestur sederhana tersebut menjadi simbol kerinduan sekaligus kebanggaan diaspora terhadap pemimpin negaranya.
Memasuki area hotel, suasana semakin semarak. Sejumlah menteri Kabinet Merah Putih yang telah lebih dahulu tiba di Jepang turut menyambut, bersama puluhan diaspora Indonesia dari berbagai latar belakang profesi dan pendidikan. Mereka berbaris rapi, sebagian tak kuasa menyembunyikan rasa haru saat akhirnya dapat melihat Presiden Prabowo dari dekat.
Bagi Taufiq, seorang engineer yang bekerja sebagai konsultan pada perusahaan kelistrikan di Jepang, momen tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
“Hari ini pertama kali bertemu langsung dengan Bapak Prabowo Subianto. Rasanya luar biasa ya, jadi kenapa luar biasanya? Karena dari 280-290 juta orang kita bisa punya kesempatan bertemu langsung dengan Presiden RI kita. Jadi ini luar biasa sekali, sangat bahagia dan juga tentunya akan menjadi core memory tersendiri untuk saya,” ujarnya.
Perasaan serupa juga dirasakan Ara, seorang perawat yang telah lama menetap di Jepang. Ia mengaku sempat tak menyangka dapat bertemu langsung dengan Presiden.
“Sebenarnya deg-degan. Di luar ini sih ekspektasi bisa bertemu. Dan mungkin kan ini juga kesempatan untuk diaspora di Jepang bisa ketemu,” tutur Ara.
Kesempatan tersebut bahkan semakin berkesan ketika Ara berhasil mendapatkan tanda tangan Presiden Prabowo. Ia pun menceritakan momen tersebut dengan penuh antusias.
“Mungkin juga posisinya barisan juga kan, barisan juga di ujung, pas banget dengan Bapak, dan Bapak juga sangat ramah juga kan, dan mendatangi satu persatu kami, dan alhamdulillah juga dapat kesempatan bisa ditanda tangani,” katanya.
Sementara itu, Tiwi, pelajar S3 di Chuo University yang hadir bersama perwakilan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang, menyampaikan rasa bahagia terhadap kunjungan Presiden kali ini. Bagi Tiwi, meskipun belum sempat berdialog langsung, kehadiran Presiden Prabowo tetap menjadi momen berharga.
“Senang sekali, tentu saja. Dan ini pertama kalinya bisa bertemu langsung, walaupun belum bisa berbincang-bincang, tapi sudah senang bisa melihat kehadiran Bapak Presiden,” ujarnya.
Tiwi menaruh harapan besar terhadap hubungan diplomatik Indonesia dan Jepang yang semakin erat melalui kunjungan ini.
“Dari saya sendiri, saya berharap dengan adanya hubungan diplomatik yang bagus antara Jepang dan Indonesia, ini akan membuka berbagai macam kesempatan untuk diaspora di Indonesia, dan juga dari yang ada di Indonesia untuk bisa datang ke Jepang atau Jepang ke Indonesia, baik dalam hal transfer knowledge, investasi, dan ekonomi, ini menjadi lebih bagus ke depannya,” tuturnya.
Kehadiran Presiden Prabowo di Tokyo bukan hanya menjadi agenda diplomatik semata, tetapi juga menghadirkan ruang temu yang hangat antara pemimpin negara dan warganya di perantauan. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota Jepang, malam itu menjadi saksi bagaimana rasa bangga, haru, dan harapan bertemu dalam satu momen yang melekat bagi diaspora Indonesia.
News
Kemendikdasmen Sabet Penghargaan PSSI Award Berkat Program Gala Siswa Indonesia
Published
15 hours agoon
30/03/2026
Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menegah (Kemendikdasmen) meraih penghargaan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Award kategori Football Development Program of The Year. Penghargaan tersebut diraih Kemendikdasmen melalui program Gala Siswa Indonesia (GSI) yang dinilai sukses melakukan program pembinaan sepak bola pelajar tingkat SMP dari 38 provinsi di seluruh Indonesia.
Dengan pembinaan yang mencakup berbagai aspek dan pelatih profesional, GSI dinilai menjadi fondasi kuat dalam pengembangan sepak bola Indonesia yang menghasilkan pemain muda berkualitas. Lewat Football Development Program of the Year, PSSI memberikan penghargaan untuk program pengembangan sepak bola yang terlaksana dengan baik dan memiliki cakupan kegiatan yang jelas. Selain itu, penilaian penghargaan ini juga mempertimbangkan keberlanjutan dan potensi pengembangan jangka panjang.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua Umum PSSI, seluruh jajaran PSSI, serta jajaran Kemendikdasmen atas penghargaan Football Development Program of The Year.
“Terima kasih juga atas dukungan para kepala sekolah dan insan pendidikan yang terus berkomitmen untuk melahirkan generasi Indonesia yang hebat, generasi yang berprestasi, khususnya dalam bidang sepak bola. Semoga kami bisa terus berbuat yang terbaik dan bersinergi untuk melahirkan pemain-pemain sepak bola top dunia dari tanah air kita Indonesia,” ungkap Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, di Jakarta, Sabtu (28/3).
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olaharaga, sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengatakan bahwa PSSI Award merupakan ajang pemberian penghargaan atas dedikasi, kerja keras, dan pengabdian kepada para insan yang telah berkontribusi bagi kemajuan sepak bola Indonesia. PSSI Award menjadi ajang penghargaan pertama di Indonesia yang secara khusus memberikan pengakuan menyeluruh bagi insan sepak bola Indonesia serta diharapkan menjadi tolok ukur prestasi bagi talenta-talenta terbaik di olahraga sepak bola Indonesia.
“Penghargaan ini bukan semata tentang siapa yang terbaik, tapi juga tentang siapa yang memberikan dampak, menginspirasi, dan terus mendorong sepak bola Indonesia agar melangkah lebih maju,” ujar Erick.
Selanjutnya, dukungan untuk GSI turut diungkapkan oleh Kapten Tim Nasional Indonesia yang kini sedang berkiprah di Serie A Italia, Jay Idzes. “Selamat untuk Kemendikdasmen atas penghargannya dan semoga GSI terus sukses ke depannya,” ucap Jay Idzes yang juga terpilih sebagai Men’s Player of The Year.
Sebagai informasi, GSI merupakan sebuah ajang talenta di bidang sepak bola yang diselenggarakan untuk peserta didik jenjang SMP. Ajang GSI diselenggarakan secara bertingkat mulai dari daerah hingga nasional, untuk menjaring peserta terbaik dari 38 provinsi. Mekanisme bertingkat tersebut merupakan salah satu cara untuk memberikan kesempatan yang sama dan adil bagi peserta didik di seluruh Indonesia untuk berprestasi dan menjadi bibit-bibit talenta sepak bola yang potensial.
Monitorday.com – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah merancang sejumlah skenario operasi darat ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, keputusan akhir terkait pelaksanaan operasi tersebut tetap berada di tangan Presiden AS, Donald Trump.
Laporan The Washington Post menyebutkan bahwa rencana ini dapat menjadi “fase baru perang” yang berpotensi jauh lebih berbahaya bagi pasukan AS dibandingkan konflik yang telah berlangsung selama empat pekan terakhir.
Sejumlah pejabat yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa operasi darat yang disiapkan bukan berupa invasi besar-besaran, melainkan aksi terbatas seperti penyergapan oleh pasukan operasi khusus dan infanteri.
Namun, skenario tersebut dinilai tetap berisiko tinggi karena pasukan AS akan menghadapi ancaman serius, mulai dari serangan drone, rudal, tembakan darat, hingga penggunaan bahan peledak rakitan.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa penyusunan rencana ini merupakan bagian dari tugas militer untuk menyediakan opsi terbaik bagi presiden.
“Tugas Pentagon adalah membuat persiapan agar Panglima Tertinggi mendapatkan pilihan yang paling optimal. Hal tersebut bukan berarti Presiden telah membuat keputusan,” ujarnya.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah operasi militer di Pulau Kharg, yang merupakan titik vital ekspor minyak Iran. Selain itu, terdapat pula skenario penyergapan di kawasan Selat Hormuz untuk mengamankan jalur pelayaran internasional.
Durasi operasi masih menjadi perdebatan. Sejumlah pejabat memperkirakan misi dapat berlangsung dalam hitungan pekan, sementara lainnya menilai operasi bisa memakan waktu hingga beberapa bulan.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan tidak berencana mengerahkan pasukan darat ke wilayah mana pun. Hal senada juga disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menegaskan bahwa konflik dengan Iran tidak akan menjadi perang berkepanjangan dan dapat diselesaikan tanpa pengerahan pasukan darat.
Di sisi lain, korban di pihak militer AS terus bertambah. Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, sebanyak 13 personel dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka akibat serangan di kawasan Teluk.
Opini publik di dalam negeri juga menunjukkan penolakan terhadap rencana operasi darat. Sebuah jajak pendapat mencatat 62 persen responden menolak pengerahan pasukan darat ke Iran, sementara hanya 12 persen yang menyatakan dukungan.
Pakar militer, Michael Eisenstadt, mengingatkan besarnya risiko yang akan dihadapi pasukan AS jika operasi darat benar dilakukan. Ia menyoroti ancaman serangan drone Iran serta pentingnya mobilitas tinggi dalam operasi militer.
“Saya tidak ingin berada di wilayah sempit dengan kemampuan Iran menghujani pasukan menggunakan drone,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah wilayah di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dan penerbangan global.
Monitor Saham BUMN
Maudy Ayunda Soroti Ketimpangan Akses Bioskop di Hari Film Nasional
Prajurit TNI UNIFIL Gugur, Menlu RI Kecam Serangan Israel di Lebanon
Gandeng Kemenag dan Kemendagri, Kemendikdasmen Terbitkan SEB tentang Upacara Bendera
Dari Tokyo, Prabowo Canangkan Lompatan Besar: Energi Hijau, Hilirisasi, dan Diplomasi Ekonomi
Menjemput Berkah di Ranjang
Ibnu Haytham: Ilmuwan Muslim Pertama yang Mengubah Cara Dunia Berpikir
Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadan
Masa Depan Zakat Berbasis Edge AI
Iran Usulkan Pakta Keamanan Regional Tanpa AS-Israel
Pelatih Bulgaria Sebut Duel Lawan Indonesia Sangat Spesial
Hilirisasi Pertanian Jadi Prioritas
Tiba di Tokyo, Prabowo Disambut Diaspora Indonesia dengan Haru dan Bangga
Ukir Sejarah! Bezzecchi Menang 5 Seri Beruntun, Samai Rekor Rossi dan Marquez
Kemendikdasmen Sabet Penghargaan PSSI Award Berkat Program Gala Siswa Indonesia
AS Susun Skenario Serangan Darat ke Iran
Mauro Zijlstra Absen Bela Timnas Indonesia, Siapa Penggantinya?
Makan Bergizi Gratis Disalurkan 5 Hari Sekolah, Kecuali…
Pemerintah Pastikan Jadwal Haji 2026 Sesuai Rencana di Tengah Konflik Timteng
Bertolak ke Jepang, Prabowo Bakal Bertemu Kaisar Naruhito
