Monitorday.com – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) bersama ICMI Bogor menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama di kediaman Anggota DPR RI, Komisi IV, Prof Rokhmin Dahuri, Ahad (1/03). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, akademisi, serta unsur masyarakat.
Hadir dalam kesempatan itu Wakil Menteri Agama RI, Dr. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, yang dalam sambutannya menekankan makna Ramadhan sebagai bulan pendidikan dan latihan spiritual bagi umat Islam.
Wamenag menyampaikan bahwa Ramadhan terbagi dalam tiga fase pembinaan diri.
“Sepuluh hari pertama mengajarkan tentang rahmat, bagaimana kita membangun kasih sayang dan empati. Sepuluh hari kedua mengajarkan maghfirah atau ampunan, momentum memperbaiki diri dan memperkuat introspeksi. Sepuluh hari ketiga menguatkan kita dari api neraka, membangun keteguhan iman dan konsistensi dalam kebaikan,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti pada tataran ritual semata. Ia menegaskan bahwa ilmu dan jabatan yang dimiliki seseorang akan sia-sia apabila tidak memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
“Apa pun profesi dan latar belakang kita, apakah Senator, Anggota DPR, Guru Besar, atau profesi lainnya, jika ilmu tidak dimanfaatkan untuk kemaslahatan, maka tidak akan bernilai di hadapan Allah,” tegasnya.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Hadis tersebut, menurutnya, menjadi landasan bahwa keunggulan seorang Muslim harus terukur dari dampaknya bagi masyarakat dan negara.
Wamenag juga menekankan pentingnya menjadikan ibadah sebagai energi transformasi sosial. Sholat, puasa, haji, dan umrah, kata dia, harus membentuk karakter yang berintegritas dan peduli terhadap persoalan umat.
“Ibadah bukan sekadar ritual, tetapi harus melahirkan dampak nyata dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kebangsaan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku miris melihat kondisi dunia Islam saat ini yang dinilainya masih dilanda perpecahan. Menurutnya, ketiadaan persatuan, khususnya di sejumlah negara Arab, menjadi salah satu faktor lemahnya posisi umat di tengah dinamika global yang serba tidak pasti.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas dan moderasi Islam di tingkat global. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan tradisi demokrasi yang relatif stabil, Indonesia dinilai mampu menjadi contoh harmoni antara nilai keislaman dan kebangsaan.
Acara silaturahmi dan buka puasa tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Selain tausiyah, kegiatan juga diisi dengan dialog kebangsaan serta doa bersama untuk persatuan umat dan kemajuan Indonesia.