Connect with us

Ruang Sujud

Saat Abdurrahman bin Auf Mengimami Rasulullah

Published

on

Sepanjang hidupnya, saat menunaikan shalat lima waktu, Rasulullah Saw hampir tak pernah menjadi makmum bagi siapa pun. Beliau selalu berdiri di depan, memimpin langsung para sahabat. Namun ada satu kisah istimewa yang tercatat dalam Shahih Muslim: hanya satu sahabat yang pernah benar-benar menjadi imam ketika Rasulullah Saw ikut shalat bersamanya. Dialah Abdurrahman bin Auf.

Beberapa kali Rasulullah Saw sebenarnya pernah meminta para sahabat untuk maju menjadi imam. Tapi setiap kali itu pula mereka mundur. Tak ada yang merasa pantas berdiri di depan manusia paling mulia di muka bumi. Rasa hormat dan cinta membuat mereka gemetar untuk mengambil posisi itu.

Suatu hari, ketika Rasulullah Saw sedang sakit, Abu Bakar Ash-Shiddiq akhirnya maju menjadi imam. Di tengah shalat, saat tasyahud awal, Rasulullah Saw datang dengan dipapah Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya. Beliau lalu duduk di belakang Abu Bakar. Menyadari kehadiran Rasulullah, Abu Bakar spontan mundur. Ia tak sanggup meneruskan shalat sebagai imam di hadapan Nabi.

Namun setelah shalat usai, Rasulullah Saw justru menegur dengan lembut. “Mengapa tadi tidak engkau teruskan saja? Supaya suatu saat ada pengganti ketika aku sakit atau berhalangan,” sabda beliau. Abu Bakar menjawab dengan rendah hati, “Bagaimana mungkin saya menjadi imam bagi manusia paling sempurna di muka bumi?”

Keesokan harinya, menjelang shalat Ashar, waktu sudah masuk awal. Rasulullah Saw sedang pergi untuk menunaikan hajat. Para sahabat bersiap shalat. “Shalat di awal waktu adalah ajaran beliau sendiri,” kata salah satu sahabat. Tapi lagi-lagi, tak ada yang berani maju menjadi imam.

Tiba-tiba, Abdurrahman bin Auf melangkah ke depan. Tanpa ragu ia mengangkat takbir dengan suara lantang dan merdu. Shalat pun dimulai.

Di tengah rakaat, Rasulullah Saw datang dan ikut bergabung sebagai makmum. Para sahabat yang melihat itu memberi isyarat—seakan meminta Abdurrahman mundur agar Rasulullah maju menjadi imam. Tapi Abdurrahman tetap tenang. Ia tak menoleh, tak goyah. Ia melanjutkan shalat hingga selesai.

Selesai salam, sebagian sahabat cemas. Jangan-jangan Rasulullah Saw marah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah tersenyum, lalu menepuk pundak Abdurrahman bin Auf. “Bagus. Engkau telah melaksanakan shalat sesuai dengan ajaran dan hadits yang aku sampaikan.”

Dari kisah ini, ada pelajaran besar tentang keberanian dan ketaatan. Bukan soal siapa yang berdiri di depan, tapi soal konsistensi menjalankan perintah. Abdurrahman bin Auf bukan sedang merasa paling pantas. Ia hanya sedang patuh pada prinsip: shalat di awal waktu, dan ketika dibutuhkan, maju tanpa ragu.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Buah Khuldi yang Dimakan oleh Adam dan Hawa Tidaklah Seperti yang Kita Bayangkan

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Di taman surga nan indah, Nabi Adam Alaihissalam dan Siti Hawa menikmati segala buah-buahan dan kenikmatan surga.

Mereka bebas mencicipi apa saja, kecuali satu pohon terlarang yang diperingatkan Allah untuk tidak mendekatinya.

Pohon misterius itu kemudian tersohor sebagai pohon khuldi, meski Al-Qur’an tidak pernah menyebut nama buah tersebut.

Iblis pun melihat celah untuk menggoda. Ia berbisik dengan tipu daya bahwa pohon terlarang itu sebenarnya “pohon keabadian” yang akan membuat Adam dan Hawa kekal di surga.

Terpedaya rayuan tersebut, keduanya memetik dan memakan buah itu.

Seketika aurat mereka tersingkap dan penyesalan pun memenuhi hati.

Mereka telah melanggar titah Ilahi, sehingga harus turun dari surga ke bumi, memulai hidup baru sambil memohon ampunan Tuhan.

Misteri buah terlarang itu pun mengundang tanya, sebab Al-Qur’an tak pernah merincinya dan hanya menyebutnya sebagai “pohon”.

Para ulama berbeda pendapat tentang apa sebenarnya buah huldi itu.

Sebagian mengatakan bahwa buah khuldi adalah anggur, karena menyimbolkan sesuatu yang memabukkan hingga hilang kesadaran.

Sementara yang lain ada yang menyebut buah khuldi adalah gandum, atau bahkan membayangkannya sebagai buah apel.

Namun lebih banyak ulama menegaskan bahwa manusia tak perlu memastikan jenis buah ini.

Cendekiawan modern Sayyid Qutub bahkan menganggap “pohon khuldi” adalah sekedar simbol larangan Tuhan yang dihadapi manusia di bumi.

Sebab, inti kisah ini adalah ujian ketaatan dan konsekuensi melanggar perintah Allah, bukan pada jenis buah tersebut.

Continue Reading

News

Bedah Buku 30 Fatwa Ramadhan Ustadz Abdul Somad

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Ustadz Abdul Somad memimpin acara Tarhib Ramadhan yang berfokus pada bedah buku “30 Fatwa Ramadhan”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, menarik perhatian jamaah yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang hukum dan tata cara ibadah puasa.

Acara tersebut bertujuan untuk membekali umat Islam dengan pengetahuan yang komprehensif mengenai berbagai permasalahan fiqih seputar Ramadhan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan syariat, serta memaksimalkan keberkahan di bulan yang mulia.

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Somad menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi dalam setiap amal ibadah. “Sesungguhnya, beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan,” ujar Ustadz Abdul Somad. “Ramadhan adalah waktu untuk meningkatkan ketakwaan, dan ketakwaan itu harus didasari oleh pemahaman yang benar.”

Beliau juga menggarisbawahi relevansi dan urgensi pembahasan fatwa-fatwa terkait Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari umat. “Buku ’30 Fatwa Ramadhan’ ini hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering muncul di tengah masyarakat,” katanya. “Dengan memahami fatwa ini, umat akan lebih mantap dalam beribadah dan menjauhi keraguan.”

Kegiatan Tarhib Ramadhan yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Somad ini disambut antusias oleh para hadirin. Diskusi interaktif juga menjadi bagian dari acara, memberikan kesempatan bagi jamaah untuk bertanya langsung mengenai persoalan fiqih yang mereka hadapi.

Antusiasme jamaah dalam mengikuti bedah buku dan ceramah menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya persiapan spiritual dan intelektual menjelang Ramadhan. Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas ibadah puasa umat Islam.

Continue Reading

Ruang Sujud

MBG: Dari Nilai Sahabat Nabi ke Kebijakan Nasional

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Program makan bergizi gratis yang kini digagas Presiden Prabowo Subianto sejatinya bukanlah gagasan yang lahir dari ruang hampa. Dalam sejarah Islam, semangat berbagi makanan telah dicontohkan sejak masa para sahabat Nabi Muhammad SAW. Solidaritas sosial dibangun bukan atas dasar kemewahan hidangan, melainkan atas niat tulus memenuhi kebutuhan dasar sesama.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, misalnya, diriwayatkan bahwa beliau kerap berkeliling pada malam hari untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Ketika menemukan keluarga yang hanya merebus batu karena tak memiliki makanan, Umar sendiri memikul gandum dari Baitul Mal dan memasaknya hingga anak-anak itu tertidur dalam keadaan kenyang. Pesan moralnya jelas: yang utama adalah memastikan perut rakyat terisi, bukan memperdebatkan menu yang tersaji.

Kisah serupa juga tampak pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tetap memberi makan fakir miskin meski dalam kondisi sederhana. Bahkan dalam berbagai riwayat, para sahabat tidak pernah mempermasalahkan apakah lauk yang dibagikan hanya kurma, gandum, atau roti kasar. Nilai yang dijunjung adalah keberkahan berbagi dan keadilan sosial.

Dalam konteks kekinian, kebijakan makan bergizi gratis yang digagas Prabowo Subianto dapat dibaca dalam semangat yang sama. Program ini bertujuan memastikan anak-anak Indonesia—terutama dari keluarga kurang mampu mendapat asupan gizi yang layak demi tumbuh kembang optimal. Tentu dalam praktiknya, menu yang disajikan akan menyesuaikan ketersediaan bahan pangan lokal dan standar gizi yang ditetapkan. Tidak selalu mewah, tidak selalu variatif setiap hari.

Namun di ruang publik, muncul nada-nada sumbang yang meremehkan. Ada yang menyindir, “itu-itu saja menunya, cuma tempe, daging, dan seterusnya.” Kritik tentu sah dalam demokrasi. Tetapi kritik yang terjebak pada nyinyir tanpa melihat substansi kerap mengaburkan tujuan besar program tersebut. Bukankah yang terpenting adalah kandungan gizi, bukan gengsi hidangan?

Semangat gotong royong ini juga mendapat dukungan dari Listyo Sigit Prabowo selaku Kapolri (Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo). Dukungan institusi kepolisian menunjukkan bahwa program ini dipandang sebagai upaya strategis membangun generasi sehat sekaligus menjaga stabilitas sosial. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, potensi kerawanan sosial akibat kesenjangan ekonomi dapat ditekan.

Belajar dari teladan para sahabat Nabi, kebijakan publik yang berpihak pada pemenuhan kebutuhan dasar adalah wujud kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan. Kita boleh berbeda pandangan, boleh mengkritisi teknis pelaksanaan, tetapi jangan sampai mengabaikan niat baik dan semangat berbagi yang menjadi ruh kebijakan tersebut.

Pada akhirnya, sejarah mengajarkan bahwa peradaban besar dibangun bukan oleh kemewahan jamuan, melainkan oleh kepedulian terhadap yang lapar. Jika hari ini negara hadir memastikan anak-anaknya makan bergizi, semangat itu patut diapresiasi. Sebab dari piring sederhana yang terisi, masa depan bangsa sedang dipupuk.

Continue Reading

Ruang Sujud

Kisah Berhala yang Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Pada masa awal kemunculan Islam, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan sebuah peristiwa yang menggetarkan hati.

Suatu hari, seorang lelaki bernama Ghossan bin Malik Al-Amiri datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam setelah menempuh perjalanan panjang yang berat.

Ia membawa kisah aneh dari kaumnya, tentang sebuah berhala yang selama ini mereka sembah di bulan Rajab.

Ketika seorang lelaki bernama Ushom hendak menyembelih persembahan di hadapan berhala itu, tiba-tiba terdengar suara dari dalamnya yang menyeru bahwa Islam telah datang, berhala adalah batil, dan agama yang benar telah tampak.

Beberapa waktu kemudian, peristiwa serupa terjadi pada Thoriq, yang juga mendengar suara berhala mengabarkan diutusnya seorang Nabi dari keturunan Hasyim yang membawa petunjuk menuju penyembahan kepada Allah semata.

Kabar-kabar itu mengguncang keyakinan mereka hingga Ghossan sendiri mendengar seruan yang sama. Berhala tersebut bahkan jatuh telungkup seakan mengakui kebatilan dirinya.

Ketika Ghossan menyampaikan kisahnya itu, Rasulullah bertakbir dan para sahabat pun mengikutinya.

Dengan penuh keyakinan, Ghossan melantunkan syair dan bersaksi bahwa Allah adalah Yang Maha Esa, serta Islam adalah agama yang ia yakini sepanjang hidupnya.

Continue Reading

Ruang Sujud

Inilah Kota dengan Waktu Puasa Terlama di Dunia

Published

on

Monitorday.Com – Berpuasa di Indonesia bisa dibilang “bersahabat”. Di Jakarta misalnya, umat Islam rata-rata menjalani puasa sekitar 13 jam sehari, mulai dari azan Subuh hingga azan Magrib. Dibanding sejumlah negara lain, durasi ini tergolong sedang, bahkan relatif singkat.

Faktanya, lama puasa di berbagai belahan dunia memang berbeda-beda. Ada yang hanya sekitar 12 jam, tapi ada juga yang tembus 18 jam. Semua bergantung pada panjang siang dan malam di masing-masing wilayah. Semakin panjang siang hari, semakin lama pula waktu berpuasa.

Lalu, di mana puasa berlangsung paling lama?

Mengutip Al-Jazeera, Kota Nuuk di Greenland disebut sebagai salah satu wilayah dengan durasi puasa terpanjang di dunia. Di sana, umat Islam bisa berpuasa hingga sekitar 18 jam 12 menit dalam sehari—mengikuti rentang waktu dari terbit hingga terbenamnya matahari.

Greenland sendiri merupakan pulau terbesar di dunia, terletak di kawasan Arktik dan Atlantik Utara. Wilayah ini berada sangat jauh di utara dan masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Letaknya yang mendekati Kutub Utara membuat durasi siang hari bisa jauh lebih panjang dibanding negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia.

Tak hanya Greenland, negara-negara lain di belahan Bumi utara seperti Islandia juga mengalami durasi puasa yang lebih panjang dibanding negara-negara di belahan selatan. Perbedaan ini terjadi karena posisi Bumi terhadap matahari yang membuat panjang siang dan malam berubah sepanjang tahun.

Menariknya, durasi puasa di belahan Bumi utara sebenarnya akan sedikit berkurang setiap tahunnya hingga 2031. Pada periode itu, Ramadan diperkirakan bertepatan dengan titik balik matahari musim dingin—hari terpendek dalam setahun. Artinya, waktu siang lebih singkat dan jam puasa pun lebih pendek.

Setelah melewati fase tersebut, durasi puasa akan kembali bertambah seiring Ramadan bergerak menuju musim panas, ketika siang hari menjadi semakin panjang.

Jadi, kalau di Indonesia 13 jam terasa cukup menantang, bayangkan menjalani puasa lebih dari 18 jam di wilayah dekat Kutub Utara. Perbedaan ini menunjukkan betapa uniknya Ramadan dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia—semuanya tetap dalam satu ibadah yang sama, meski dengan panjang hari yang berbeda.

Continue Reading

Ruang Sujud

Daging Impor dari Negara Mayoritas Kristen, Halal atau Haram?

Perdebatan soal kehalalan daging impor dari negara mayoritas Kristen kembali mengemuka, terutama bagi Muslim yang hidup sebagai minoritas di luar negeri.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Persoalan mengonsumsi daging yang diimpor dari negara-negara Barat dengan mayoritas penduduk beragama Kristen menjadi isu penting dalam fikih kontemporer. Isu ini terutama dirasakan oleh umat Islam yang tinggal di negara non-Muslim seperti Jepang, di mana pasokan daging sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Australia, dan negara Eropa.

Terdapat dua pandangan besar ulama. Pendapat pertama menyatakan daging impor dari negara mayoritas Kristen haram dikonsumsi jika tidak ada kepastian bahwa hewan tersebut disembelih secara syar‘i. Pandangan ini berangkat dari kaidah bahwa hukum asal daging adalah haram sampai terbukti halal, serta kekhawatiran bahwa hewan mati akibat metode modern seperti stunning sebelum disembelih.

Sementara itu, pendapat kedua membolehkan konsumsi daging impor dari negara mayoritas Kristen selama tidak ada bukti jelas bahwa hewan tersebut mati tanpa penyembelihan syar‘i. Pandangan ini merujuk pada keumuman QS. Al-Maidah ayat 5 yang menghalalkan sembelihan Ahli Kitab, serta hadis Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan kebolehan memakan sembelihan Yahudi tanpa menelusuri detail proses penyembelihan.

Dalam kajian yang disampaikan pada Milad Muhammadiyah ke-113, Muhamad Rofiq Muzakkir  menilai pendapat kedua lebih kuat (rajih). Alasannya, hukum asal sembelihan Ahli Kitab adalah halal, dan keraguan tidak dapat mengalahkan keyakinan hukum asal tersebut. Namun, kebolehan ini gugur jika terbukti hewan mati karena dicekik, dipukul, atau disetrum hingga mati sebelum disembelih.

Menurut Suara Muhammadiyah, sikap ini sejalan dengan pendekatan fikih minoritas yang menyeimbangkan antara kehati-hatian (iḥtiyāṭ) dan kemudahan (taysīr). Dengan pendekatan tersebut, umat Islam di luar negeri tetap dapat menjaga prinsip kehalalan tanpa terjebak pada beban verifikasi yang berlebihan di tengah sistem pangan global modern.

Continue Reading

Ruang Sujud

Rahasia Besar di Balik Sujud

Published

on

Dalam sunyi yang paling hening, manusia meletakkan dahinya di bumi. Di titik itu, antara tanah dan langit, ada perjumpaan yang tak kasat mata. Kita menyebutnya sujud. Sebuah gerak yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam—bahkan, konon, menyimpan rahasia biologis yang memikat seorang ilmuwan dari Texas.

Nama itu adalah Fidelma O’Leary. Pada 2012, ia menerima penghargaan Woman of Spirit. Latar belakangnya bukan teolog, bukan pula dai. Ia seorang profesor biologi dan neurosains di St. Edward’s University, juga dokter neurologi di Amerika Serikat. Hidupnya berkutat pada jaringan saraf, impuls listrik, dan misteri otak manusia.

Konon, dalam penelitiannya tentang sistem saraf, ia menemukan sesuatu yang membuatnya tertegun: ada bagian-bagian tertentu dari jaringan otak yang tidak selalu teraliri darah secara maksimal. Padahal, kita tahu, setiap sel otak membutuhkan suplai oksigen agar tetap hidup dan bekerja. Otak adalah organ yang rakus energi; ia menyedot sekitar 20 persen suplai darah tubuh meski beratnya hanya sekitar dua persen dari total berat badan.

Rasa ingin tahu membawanya lebih jauh. Ia meneliti, mengamati, mengkaji ulang. Hingga pada satu fase, ia menemukan bahwa perubahan posisi tubuh—terutama ketika kepala lebih rendah dari jantung—dapat memengaruhi distribusi aliran darah ke otak. Di sanalah ia mulai melirik satu gerakan yang asing baginya, tetapi akrab bagi jutaan Muslim: sujud dalam salat.

Manfaat fisiologis

Sujud melibatkan tujuh titik tumpu: dahi dan hidung, dua telapak tangan, dua lutut, serta ujung-ujung jari kaki. Secara spiritual, ia adalah simbol perendahan diri. Secara psikologis, ia adalah latihan melepas ego. Dalam sujud, manusia berada di posisi paling rendah secara fisik, namun justru di situ ia merasa paling dekat dengan Yang Maha Tinggi.

Dalam tradisi Islam, sujud bukan sekadar gerak ritual. Ia adalah momen intim untuk memuji, memohon, dan membersihkan hati dari kesombongan, riya’, dan takabur. Ketika dahi menyentuh bumi, ada pengakuan sunyi: bahwa kita hanyalah hamba.

Sebagian kalangan kemudian mengaitkan gerakan ini dengan manfaat fisiologis. Posisi kepala yang lebih rendah dari jantung dipercaya membantu aliran darah menuju otak. Dalam beberapa literatur populer kesehatan, disebutkan bahwa perubahan posisi tubuh memang memengaruhi distribusi sirkulasi darah. Tidak heran jika banyak orang merasakan ketenangan dan kesegaran setelah salat dengan khusyuk.

Namun, penting untuk bersikap bijak. Klaim bahwa ada “urat saraf yang hanya teraliri darah saat sujud” atau bahwa orang yang tidak salat pasti mengalami gangguan fungsi otak, belum memiliki dasar ilmiah yang terverifikasi secara luas dalam jurnal medis arus utama. Dunia sains bekerja dengan uji berulang dan pembuktian ketat. Sementara kisah-kisah spiritual sering kali bergerak di wilayah pengalaman personal.

Antara Iman dan Ilmu

Bagi sebagian orang, iman datang dari perenungan teks suci. Bagi yang lain, ia tumbuh dari laboratorium dan mikroskop. Kisah Dr. Fidelma—apa pun detail akademisnya—sering diceritakan sebagai contoh bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi jembatan menuju keyakinan.

Setelah mendalami Islam melalui buku dan diskusi, ia akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebuah keputusan yang lahir bukan dari emosi sesaat, melainkan dari proses pencarian. Ia menemukan kedamaian dalam Islam—sebuah agama yang memadukan dimensi spiritual dan disiplin ritual harian.

Dalam Islam, waktu-waktu salat—Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya—mengatur ritme hidup. Lima kali sehari, tubuh dan jiwa diajak berhenti. Membungkuk. Bersujud. Seolah ada jeda berkala untuk menyelaraskan ulang detak jantung dengan detak nurani.

Sebagian ulama juga menganjurkan untuk memperpanjang sujud, terutama pada rakaat terakhir. Dari sisi spiritual, itu adalah momen paling intim untuk berdoa. Dari sisi psikologis, ia memberi ruang relaksasi, memperlambat napas, dan menenangkan sistem saraf otonom. Dalam dunia medis modern, kita mengenal konsep mind-body connection—hubungan erat antara kondisi mental dan kesehatan fisik. Salat yang khusyuk, termasuk sujud yang tenang, bisa menjadi bentuk meditasi aktif yang terstruktur.

Rahasia Sesungguhnya

Apakah benar bentuk saraf otak menyerupai orang bersujud? Itu lebih merupakan metafora visual ketimbang fakta anatomi literal. Tetapi metafora sering kali bekerja lebih kuat daripada data statistik. Ia berbicara ke wilayah rasa.

Rahasia sujud, barangkali, bukan semata pada aliran darah. Bukan pula sekadar pada klaim medis yang sensasional. Rahasia itu mungkin terletak pada kesadaran: bahwa manusia perlu menunduk agar tidak terlampau tinggi oleh egonya sendiri.

Dalam dunia yang memuja pencapaian, sujud mengajarkan keterbatasan. Dalam masyarakat yang sibuk mengejar citra, sujud melatih keheningan. Dalam kepala yang penuh beban, sujud menawarkan jeda.

Maka ketika dahi menyentuh bumi, mungkin yang paling disegarkan bukan hanya otak—melainkan hati. Dan di situlah, rahasia itu bekerja.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menjalankan Puasa Secara Mendalam [Deep Fasting]

Published

on

Puasa sering kita pahami sebatas menahan lapar dan haus. Padahal, jika merujuk pada pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa adalah proses pendalaman diri—sebuah perjalanan naik tingkat. Dalam bahasa pendidikan modern, ini mirip dengan konsep deep learning dari Benjamin Bloom: belajar yang tidak berhenti pada tahu, tetapi bertransformasi menjadi laku dan karakter.

Puasa tingkat pertama adalah puasa awam: menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan. Ini fondasi. Dalam kerangka Bloom, ini seperti tahap remembering dan understanding—kita tahu aturannya dan mematuhinya. Penting, tetapi masih permukaan.

Naik satu tingkat, kita masuk ke puasa khusus. Mata, lidah, telinga, tangan, dan kaki ikut berpuasa. Kita belajar mengendalikan respons, menahan komentar sinis, menghindari gosip, menjaga pandangan. Ini fase applying dan analyzing: ajaran tidak lagi disimpan di kepala, tetapi diuji dalam realitas. Ada kesadaran diri. Ada refleksi.

Lalu sampailah pada puasa khususil khusus—puasanya hati. Di sinilah deep fasting benar-benar dimulai. Hati dibersihkan dari ambisi duniawi yang berlebihan. Pikiran tidak lagi sibuk menghitung menu berbuka sejak siang hari. Fokus beralih pada zikir, kedekatan, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Ini setara tahap evaluating dan creating: kita mengevaluasi orientasi hidup, lalu membentuk ulang diri menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan empatik.

Deep fasting juga menuntut konsistensi etis. Makanan sahur dan berbuka harus halal dan baik. Berbuka tidak berlebihan. Sabar dijaga—dalam ketaatan, dalam menjauhi maksiat, bahkan dalam menahan hal sia-sia. Puasa bukan ajang balas dendam pada malam hari, melainkan latihan mengurangi dominasi nafsu.

Jika deep learning melahirkan higher order thinking skills, maka deep fasting melahirkan higher order spiritual skills. Puasa menjadi laboratorium transformasi. Setiap hari adalah eksperimen kesadaran. Setiap magrib adalah evaluasi diri.

Akhirnya, menjalankan puasa secara mendalam bukan tentang berapa lama kita menahan lapar, tetapi sejauh mana kita berubah. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menumbuhkan kualitas diri. Di situlah puasa menjadi bukan hanya ibadah tahunan, tetapi perjalanan pembelajaran seumur hidup.

Continue Reading

Ruang Sujud

Meneguhkan Iman di Era Disrupsi

Di tengah arus modernitas dan krisis makna, akidah menjadi jangkar spiritual yang meneguhkan arah hidup manusia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Di tengah derasnya arus modernitas, manusia menghadapi perubahan yang begitu cepat dalam teknologi, budaya, dan pola pikir. Globalisasi menghadirkan kemudahan sekaligus kegamangan, sementara disrupsi digital mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, bahkan memahami dirinya sendiri. Dalam situasi ini, pertanyaan mendasar kembali mengemuka: di manakah posisi akidah ketika dunia bergerak tanpa henti? Menurut sejumlah pengkaji pemikiran Islam yang dirangkum Ruang Sujud, akidah justru menemukan relevansinya yang paling mendalam di tengah krisis makna seperti hari ini.

Secara historis, modernitas membawa semangat rasionalisme dan kebebasan individu. Namun, pada saat yang sama, ia melahirkan relativisme nilai dan krisis spiritual. Banyak orang kehilangan orientasi hidup karena kebenaran dianggap cair dan subjektif. Dalam konteks inilah akidah Islam, sebagaimana dirumuskan dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, menawarkan kepastian teologis yang bersumber dari wahyu. Akidah tidak tunduk pada perubahan selera zaman, karena ia berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah yang tetap. Prinsip ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar identitas sosial, melainkan komitmen keyakinan yang kokoh.

Iman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa menjadi titik tolak dalam merespons modernitas. Ketika manusia modern cenderung memusatkan segalanya pada kemampuan akal dan teknologi, akidah mengingatkan bahwa segala daya dan ciptaan tetap berada dalam kehendak-Nya. Islam tidak menolak akal, tetapi menempatkannya dalam posisi yang proporsional. Akal adalah alat untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, bukan untuk menggantikan otoritas wahyu. Dengan keseimbangan ini, seorang muslim dapat berpartisipasi aktif dalam kemajuan ilmu tanpa kehilangan kesadaran transendennya.

Selain itu, iman kepada hari akhir memberi perspektif yang berbeda terhadap kehidupan dunia yang serba material. Modernitas sering kali menilai keberhasilan dari ukuran ekonomi dan popularitas. Namun akidah mengajarkan bahwa dunia hanyalah fase sementara sebelum kehidupan yang kekal. Keyakinan ini membentuk etika tanggung jawab: setiap tindakan memiliki konsekuensi di hadapan Allah. Dalam masyarakat yang sering terjebak pada pragmatisme, kesadaran eskatologis ini menjadi penyeimbang moral yang sangat penting.

Tradisi pemurnian akidah yang dikembangkan oleh gerakan seperti Muhammadiyah juga menunjukkan bahwa respons terhadap modernitas tidak harus bersifat defensif. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menegaskan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sembari membuka diri terhadap kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Menurut berbagai catatan sejarah organisasi tersebut, pendekatan ini memadukan keteguhan akidah dengan semangat tajdid atau pembaruan. Artinya, modernitas dihadapi bukan dengan kompromi terhadap prinsip iman, melainkan dengan penguatan fondasi tauhid.

Iman kepada qadha dan qadar pun relevan dalam menghadapi ketidakpastian global—mulai dari krisis ekonomi hingga bencana kemanusiaan. Akidah mengajarkan bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan Allah, tetapi manusia tetap dituntut untuk berikhtiar. Sikap ini melahirkan pribadi yang tangguh: tidak sombong ketika berhasil dan tidak putus asa saat gagal. Dalam era yang sarat tekanan psikologis, keseimbangan antara tawakal dan usaha menjadi kebutuhan mendasar.

Dengan demikian, akidah bukanlah warisan masa lalu yang terpisah dari realitas kekinian. Ia adalah fondasi yang menjaga arah kehidupan di tengah perubahan zaman. Modernitas boleh bergerak cepat, tetapi iman memberikan pijakan yang stabil. Seorang muslim yang memahami akidahnya tidak akan tercerabut dari akar keyakinan, meskipun hidup di tengah dunia yang terus berubah. Di situlah letak kekuatan akidah: meneguhkan hati, menjernihkan pikiran, dan menuntun langkah menuju tujuan akhir yang abadi.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menentukan Kehalalan Daging di Luar Negeri, Ini Prinsip Fikihnya

Status halal daging di negara non-Muslim tidak bisa disimpulkan secara sederhana dan membutuhkan pemahaman fikih serta konteks sosial setempat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Menentukan kehalalan daging menjadi persoalan paling krusial bagi umat Islam yang hidup di luar negeri, terutama di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim. Kompleksitas industri pangan modern membuat proses penyembelihan tidak selalu transparan, sehingga umat Islam dihadapkan pada dilema antara kehati-hatian dan kemudahan dalam menjalankan syariat.

Dalam kajian fikih, kehalalan daging ditentukan oleh beberapa unsur utama. Pertama adalah jenis hewan yang dikonsumsi. Islam secara tegas mengharamkan daging babi, darah, bangkai, serta hewan buas bertaring dan burung bercakar. Prinsip ini bersifat qat’i dan tidak mengalami perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Kedua, faktor agama penyembelih. Dalam fikih, sembelihan seorang Muslim dan Ahlul Kitab—Yahudi dan Nasrani—pada dasarnya adalah halal. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 5. Namun, kehalalan ini dapat gugur apabila terbukti bahwa penyembelihan dilakukan dengan menyebut nama selain Allah atau dengan cara yang tidak sesuai syariat.

Ketiga adalah metode penyembelihan itu sendiri. Hewan harus disembelih dalam keadaan hidup dan saluran vitalnya terputus secara sempurna. Jika hewan mati akibat dipukul, dicekik, atau disetrum sebelum disembelih, maka statusnya menjadi bangkai dan haram dikonsumsi. Di sinilah persoalan industri modern sering menimbulkan keraguan di kalangan Muslim minoritas.

Aspek keempat adalah pembacaan basmalah. Ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban membaca basmalah saat menyembelih, terutama bagi penyembelih Ahlul Kitab. Mayoritas ulama berpandangan bahwa sembelihan Ahlul Kitab tetap halal meskipun tidak diketahui apakah basmalah dibaca, selama tidak ada bukti pelanggaran syariat.

Umat Islam di luar negeri dianjurkan memahami prinsip dasar fikih sembelihan agar tidak terjebak pada sikap berlebihan, baik dalam bentuk kelonggaran tanpa dasar maupun kehati-hatian yang berujung pada kesulitan hidup. Pendekatan moderat inilah yang menjadi kunci dalam menjaga kehalalan konsumsi di tengah realitas global.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Ruang Sujud2 minutes ago

Buah Khuldi yang Dimakan oleh Adam dan Hawa Tidaklah Seperti yang Kita Bayangkan

Ruang Sujud49 minutes ago

Saat Abdurrahman bin Auf Mengimami Rasulullah

News5 hours ago

Wamen Fajar: Gerakan ASRI Menguatkan Budaya Sekolah

News6 hours ago

Perkuat Pemahaman Islam Modern Melalui HPT dan KHGT

News6 hours ago

Muhammadiyah: Merokok Haram dan Batalkan Puasa

LakeyBanget12 hours ago

Israr Megantara Dilirik Klub Spanyol, Peluang Wujudkan Karier Profesional

News12 hours ago

Bedah Buku 30 Fatwa Ramadhan Ustadz Abdul Somad

News12 hours ago

Mendikdasmen: Sekolah Terdampak Bencana di Sumatera Beroperasi Penuh

News12 hours ago

Prabowo: “Indonesia Incorporated” Kunci Daya Saing Ekonomi

News13 hours ago

Prof. Rokhmin Highlights Digital Transformation in International Academic Forum

News13 hours ago

Prabowo Paparkan “Indonesia Incorporated” di Forum Indonesia Economic Outlook 2026, Apa Itu?

News14 hours ago

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Suntik Motivasi Siswa di Gowa: Kenali Diri, Percaya Diri, dan Disiplin

News14 hours ago

Kemendikdasmen Borong 7 Penghargaan PRIA 2026, Bukti Komunikasi Publik Makin Strategis

LakeyBanget1 day ago

Janice Tjen Bidik Hattrick Babak Kedua di Timur Tengah, Tantang Yastremska di Dubai

LakeyBanget1 day ago

Prediksi Grid MotoGP 2027 Versi Marc Marquez: Alex Marquez ke Ducati

LakeyBanget1 day ago

Terinspirasi Real Madrid, Striker Persib Bertekad Hajar Ratchaburi

News1 day ago

Kemendikdasmen Raih Nilai Indeks Reformasi Birokrasi 91,56, Lampaui Rata-Rata Nasional

Ruang Sujud1 day ago

MBG: Dari Nilai Sahabat Nabi ke Kebijakan Nasional

Ruang Sujud1 day ago

Kisah Berhala yang Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad

News1 day ago

Empat Skema MBG di Bulan Ramadhan

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.