Monitorday.com – Sangat disayangkan, ketika dunia bergerak cepat dan umat Islam di berbagai belahan dunia berlomba mencetak prestasi ekonomi dan sosial, ada sebagian kecil oknum ormas di negeri ini yang justru masih sibuk mempertengkarkan hal-hal remeh. Mereka terus mengangkat isu identitas yang kian basi—bahas habib, debat jenggot, sindir sarung, mempertentangkan Arab dan non-Arab. Padahal, yang benar-benar dibutuhkan umat saat ini bukan narasi perpecahan, tapi narasi pemberdayaan.
Ironisnya, kita masih temui di group-group media sosial, masih ada saja video dan narasi ancaman yang memiliki tendensi membakar emosi daripada menyalakan semangat perubahan. Imbasnya, mereka lupa soal ekonomi yang saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Lantas, sampai kapan umat dibawa berputar-putar dalam pusaran konflik identitas tanpa arah yang jelas?
Sudah waktunya energi umat diarahkan ke jalur yang produktif. Daripada terus-terusan debat soal siapa yang paling “Indonesia”, lebih baik duduk bareng membangun koperasi. Daripada sibuk menuding siapa yang paling “nusantara”, lebih baik merancang strategi pengembangan UMKM. Dunia butuh solusi, bukan orasi kosong. Umat butuh aksi nyata, bukan diksi pemecah belah.
Mari berkaca pada organisasi masyarakat yang telah berhasil mentransformasikan potensi umat menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang nyata. Ada yang telah mendirikan ribuan sekolah dari Sabang sampai Merauke, membangun rumah sakit yang terstandar internasional, merintis perguruan tinggi dengan reputasi yang diperhitungkan, bahkan mendirikan cabang amal usaha di luar negeri. Mereka tidak sibuk berteriak di podium, tapi bekerja dalam senyap untuk kebermanfaatan umat.
Inilah saatnya meninggalkan retorika sempit dan menggantinya dengan kerja nyata. Umat tidak butuh lagi narasi “kami dan mereka”. Yang dibutuhkan adalah narasi kolaborasi, narasi tentang membangun, menguatkan, dan memberdayakan. Jangan sampai umat Islam terjebak menjadi penonton di negeri sendiri, sibuk bertengkar soal simbol sementara dunia sudah bicara soal teknologi, inovasi, dan kemandirian ekonomi.
Bayangkan jika seluruh ormas Islam bersatu dalam visi pemberdayaan umat. Setiap majelis taklim menjadi pusat literasi keuangan. Setiap pesantren mengajarkan kewirausahaan dan digital marketing. Setiap pengajian menjadi ruang belajar inovasi sosial. Bukankah lebih indah ketika masjid tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga tempat umat bangkit secara ekonomi?
Kita punya warisan keilmuan dan semangat kebersamaan yang luar biasa. Jangan dikerdilkan dengan wacana yang memecah belah. Bangun narasi baru: narasi pemberdayaan. Karena sejatinya, keberislaman seseorang tidak ditentukan oleh panjang jenggotnya atau gaya sorbannya, tapi oleh kontribusinya dalam memajukan umat.
Bukankah negara ini lama sekali merdeka itu karena suburnya perpecahan. Lihat betapa suksesnya devide et empera yang dilancarkan belanda melalui Christiaan Snouck Hurgronje , Orientalis Belanda.
Pernyataan tersebut menyoroti keberhasilan strategi divide et impera Belanda, khususnya melalui figur seperti Christiaan Snouck Hurgronje, dalam memecah belah umat Islam di Hindia Belanda. Snouck memanfaatkan studi orientalisnya untuk mengklasifikasikan umat berdasarkan etnis dan praktik keagamaan, memicu pertentangan internal antara kelompok Arab dan non-Arab. Hal ini memperlemah kekuatan kolektif umat Islam dalam melawan kolonialisme.
Perpecahan yang ditanamkan bukan hanya taktis, tapi juga ideologis, menjadikan umat sibuk dengan konflik identitas dan isu furu’iyah (cabang), sementara penjajah memperkuat cengkeramannya. Kritik atas kondisi ini bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi refleksi atas pola perpecahan yang masih relevan. Ketika narasi persatuan digantikan oleh perdebatan identitas dan sektarianisme, maka semangat kemerdekaan pun terkikis. Bangsa yang besar seharusnya belajar dari sejarah, bukan mengulanginya dalam bentuk baru yang lebih halus.
Jika terus menerus membahas isu remeh temeh, lantas apa bedanya kita dengan Snouck Hurgronje? Apakah kita juga mau mewarisi kebiadaban Belanda. Sudahlah, hentikan narasi melalui video atau tulisan yang terlihat jauh dari kata “kemajuan”.
Sudah cukup waktu kita terbuang untuk debat kusir yang tidak menghasilkan apa-apa. Saatnya ormas-ormas Islam berlomba menghadirkan solusi, bukan kontroversi. Jadilah pelita di tengah kegelapan, bukan bara api yang menyulut perpecahan. Umat butuh pemimpin yang merangkul, bukan yang menghakimi. Butuh penggerak yang bekerja, bukan penceramah yang hanya bicara.
Kini, mari kita hentikan drama identitas dan fokus pada satu hal yang jauh lebih penting: memberdayakan umat. Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling vokal dalam berdebat, tapi siapa yang paling nyata dalam bergerak.