Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah (PAUD Dikdasmen) menegaskan pentingnya revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam membangun generasi peserta didik yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan Penguatan Peran UKS di Satuan Pendidikan Tahun 2025 yang digelar di Karawang, Jawa Barat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, dalam sambutannya menyebut UKS sebagai ujung tombak layanan kesehatan sekolah yang tidak hanya menjaga fisik, tetapi juga mendukung pertumbuhan mental, emosional, hingga sosial anak.
“Anak yang sehat akan lebih mudah belajar, tumbuh bahagia, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat. UKS harus menjadi wadah pembiasaan hidup bersih, sehat, dan berkarakter di setiap satuan pendidikan,” kata Fajar, Kamis (9/10/2025).
Fajar menekankan bahwa keberhasilan UKS harus menjadi gerakan bersama antara sekolah, pemerintah daerah, hingga kementerian dan lembaga lain. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pelatihan, edukasi, serta layanan kesehatan di sekolah berjalan optimal.
“Program ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi merupakan gerakan bersama dunia pendidikan, kesehatan, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan dukungan terhadap kampanye “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, yang mencakup olahraga rutin, pola makan sehat, dan perilaku hidup bersih.
Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, menyatakan bahwa UKS memainkan peran vital dalam mendukung dua program prioritas nasional Presiden, yakni Makan Bergizi dan Cek Kesehatan Gratis untuk peserta didik.
“UKS harus kembali menjadi pusat layanan kesehatan sekolah yang aktif dan nyata manfaatnya. UKS jadi garda depan dalam memastikan anak-anak kita makan sehat, mendapat edukasi gizi, dan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” jelas Gogot.
Ia menambahkan pentingnya ketersediaan infrastruktur pendukung seperti air bersih, ruang UKS yang layak, dan fasilitas sanitasi yang memadai di sekolah-sekolah.
Meski program UKS telah lama dikenal, data menunjukkan tingkat keaktifan UKS di satuan pendidikan masih rendah—di bawah 50 persen. Untuk itu, pemerintah mendorong sekolah-sekolah yang belum memiliki UKS agar segera membentuknya.
“Yang sudah ada tapi belum aktif harus segera dihidupkan kembali. Yang sudah aktif perlu menjadi sekolah pengimbas bagi satuan pendidikan lainnya,” tegas Gogot.
Direktur SMP, Maulani Mega Hapsari, menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan menjadikan UKS sebagai sarana pembelajaran hidup sehat dan pembentukan karakter siswa.
“UKS bukan sekadar ruang kesehatan, tetapi harus jadi ruang edukasi. Anak belajar hidup bersih, menjaga makanan, cuci tangan, hingga memahami pentingnya gizi seimbang,” ujarnya.
Mega menutup dengan menekankan pentingnya partisipasi aktif guru dan Tim Pembina UKS dalam memastikan program ini berjalan efektif di semua jenjang pendidikan.