Ruang Sujud
Fathul Makkah: Kemenangan Besar Umat Islam Tanpa Pertumpahan Darah
Published
1 year agoon
By
Yusuf Hasyim
Monitorday.com – Fathul Makkah atau Penaklukan Makkah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam. Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 Hijriah (630 M) dan menjadi titik balik bagi umat Islam dalam menyebarkan ajaran tauhid. Tidak seperti penaklukan pada umumnya yang diwarnai pertumpahan darah, Rasulullah ﷺ dan pasukannya berhasil memasuki Makkah dengan damai dan tanpa perlawanan berarti.
Latar Belakang Fathul Makkah
Sebelum Fathul Makkah terjadi, umat Islam dan kaum Quraisy terikat dalam Perjanjian Hudaibiyah yang disepakati pada tahun 6 Hijriah. Salah satu isi perjanjian itu adalah tidak adanya peperangan antara kedua belah pihak selama 10 tahun. Namun, perjanjian ini dilanggar oleh kaum Quraisy ketika mereka membantu sekutu mereka, Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu kaum Muslimin.
Melihat pengkhianatan ini, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk bertindak. Beliau mempersiapkan pasukan besar berjumlah sekitar 10.000 orang untuk berangkat ke Makkah. Strategi yang digunakan Nabi sangat cerdas, yaitu merahasiakan rencana ekspedisi ini agar Quraisy tidak sempat menyusun strategi perlawanan.
Strategi Rasulullah dalam Penaklukan Makkah
Sebelum tiba di Makkah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukannya untuk menyalakan banyak api unggun di sekitar perkemahan guna menciptakan efek psikologis bagi Quraisy. Ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraisy saat itu, menyaksikan besarnya pasukan Muslim, ia pun sadar bahwa mereka tidak akan mampu melawan.
Abu Sufyan akhirnya ditangkap oleh pasukan Muslim dan dibawa menghadap Rasulullah ﷺ. Dalam pertemuan itu, beliau menawarkan tiga pilihan keselamatan bagi penduduk Makkah:
1. Masuk Islam dan mendapatkan jaminan keselamatan.
2. Berlindung di rumah Abu Sufyan yang dijadikan tempat aman.
3. Tetap berada di dalam rumah masing-masing dan tidak melakukan perlawanan.
Setelah itu, Abu Sufyan pun menyatakan keislamannya dan kembali ke Makkah untuk mengajak penduduknya menerima tawaran damai tersebut.
Masuknya Rasulullah ke Makkah
Pada 20 Ramadan 8 Hijriah, pasukan Muslim memasuki Makkah dari berbagai arah tanpa perlawanan berarti. Rasulullah ﷺ sendiri memasuki kota dengan penuh ketawadhuan, menundukkan kepala hingga hampir menyentuh pelana unta, sebagai simbol kerendahan hati dan syukur kepada Allah.
Sesampainya di Ka’bah, Rasulullah ﷺ langsung menghancurkan berhala-berhala yang masih berada di sekelilingnya sambil membacakan firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 81:
“Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.’”
Seluruh berhala dihancurkan, menandakan akhir dari penyembahan berhala di Makkah dan awal dari kembalinya kota suci ini ke ajaran tauhid.
Pemaafan yang Luar Biasa
Salah satu momen paling mengharukan dalam Fathul Makkah adalah ketika Rasulullah ﷺ memberikan pengampunan kepada kaum Quraisy yang sebelumnya telah menyakiti dan mengusirnya dari kota ini.
Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka:
“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan kepada kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia dan anak dari saudara yang mulia.”
Lalu Rasulullah ﷺ berkata:
“Pergilah kalian, karena kalian telah bebas.”
Keputusan ini sangat mengejutkan, mengingat kaum Quraisy selama bertahun-tahun telah memusuhi Islam. Namun, kebesaran hati Rasulullah ﷺ justru membuat banyak dari mereka akhirnya memeluk Islam dengan sukarela.
Dampak Fathul Makkah
Fathul Makkah membawa perubahan besar dalam sejarah Islam dan Jazirah Arab. Beberapa dampak penting dari peristiwa ini adalah:
1. Makkah menjadi pusat Islam. Dengan dihancurkannya berhala-berhala dan disucikannya Ka’bah, kota ini kembali menjadi pusat tauhid sebagaimana yang dimaksudkan sejak zaman Nabi Ibrahim.
2. Banyaknya orang yang masuk Islam. Keputusan Rasulullah ﷺ untuk tidak membalas dendam justru membuat penduduk Makkah dan suku-suku di sekitarnya masuk Islam dalam jumlah besar.
3. Munculnya stabilitas politik. Sebelumnya, Jazirah Arab dipenuhi konflik antarsuku. Setelah Fathul Makkah, banyak suku mulai tunduk kepada kepemimpinan Islam.
4. Penyebaran Islam yang lebih luas. Setelah penaklukan ini, dakwah Islam berkembang pesat hingga ke seluruh Jazirah Arab.
Pelajaran dari Fathul Makkah
Fathul Makkah mengajarkan kita banyak hal, di antaranya:
Kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi tantangan. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi berbagai cobaan sebelum akhirnya mendapatkan kemenangan ini.
Pentingnya strategi dalam berjuang. Nabi tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga diplomasi dan efek psikologis untuk memenangkan hati musuh.
Kekuatan pemaafan dan kasih sayang. Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar mengalahkan musuh, tetapi meraih hati mereka dengan kasih sayang.
Kesimpulan
Fathul Makkah bukan sekadar penaklukan militer, tetapi sebuah kemenangan moral dan spiritual yang menunjukkan keagungan Islam. Keputusan Rasulullah ﷺ untuk tidak membalas dendam dan memberikan pengampunan justru menjadi faktor utama yang membuat banyak orang akhirnya menerima Islam. Peristiwa ini juga menandai titik balik dalam sejarah Islam, menjadikan Makkah sebagai pusat peradaban Islam yang tetap bertahan hingga kini.
Dari kisah Fathul Makkah, kita belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah pada pedang, tetapi pada akhlak yang mulia dan sikap penuh kasih sayang terhadap sesama manusia.
Mungkin Kamu Suka
News
Perjumpaan Simbolik Pangeran Diponegoro dan Iran, Ketika Pohon Menjadi Bahasa Perlawanan
Published
3 hours agoon
02/04/2026By
admin
H. Erdy Nasyrul, M.I.Kom
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta
Monitorday.com – Langit sejarah kerap mempertemukan hal-hal yang tak pernah benar-benar saling bersentuhan. Ia tidak mempertemukan tokoh dalam ruang dan waktu yang sama, tetapi mempertemukan makna, dalam bentuk simbol yang hidup, berpindah, dan menemukan resonansinya kembali di zaman yang berbeda.
Di tanah Jawa abad ke-19, Pangeran Diponegoro memimpin sebuah perlawanan yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada jaringan kultural yang halus dan nyaris tak terlihat. Dalam gerak gerilya yang senyap itu, pohon, terutama sawo kecik, menjadi lebih dari sekadar tanaman. Ia hadir sebagai penanda, sebagai kode, sebagai bahasa diam yang hanya dimengerti oleh mereka yang berada dalam lingkar perjuangan.
Pohon itu tidak berbicara, tetapi ia memberi tahu. Ia tidak berteriak, tetapi ia menghubungkan.
Dalam lanskap yang berbeda, berabad kemudian, simbol yang sama kembali muncul, kali ini di tengah gejolak Timur Tengah. Mojtaba Khamenei, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Tasnim, menyerukan rakyat Iran untuk menanam pohon di seluruh negeri, sebagai penghormatan kepada para martir yang gugur dalam konflik.
Seruan itu bukan sekadar ajakan ekologis. Ia adalah narasi. Ia adalah upaya membangun memori kolektif, menanam harapan di atas tanah yang baru saja menyerap luka. Setiap bibit yang ditanam diposisikan sebagai simbol kehidupan yang tidak tunduk pada kematian, sebagai tanda bahwa bangsa yang diserang masih memiliki masa depan.
Di titik ini, sejarah seperti berbisik pelan, ada sesuatu yang sama.
Namun kesamaan itu bukanlah hubungan langsung. Tidak ada garis sejarah yang menghubungkan Diponegoro dengan Iran modern. Tidak ada warisan yang berpindah secara literal. Yang ada adalah perjumpaan simbolik, dua peradaban yang, dalam tekanan dan krisisnya masing-masing, menemukan bahasa yang sama untuk mengekspresikan perlawanan.
Pada masa Diponegoro, pohon bekerja dalam kesunyian. Ia menjadi bagian dari strategi, penanda lokasi, simpul komunikasi, sekaligus identitas kultural yang mengikat para pengikutnya. Dalam tradisi Jawa, sawo kecik sendiri tidak berdiri sebagai objek biasa. Ia dimaknai sebagai sarwo becik, lambang kebaikan, keteguhan, dan keselarasan hidup.
Dengan demikian, pohon dalam konteks Diponegoro bukan hanya alat, tetapi juga nilai. Ia menyatukan dimensi spiritual dan perlawanan dalam satu simbol yang sederhana.
Di Iran, makna itu mengalami transformasi. Pohon tidak lagi tersembunyi sebagai kode, melainkan tampil di ruang publik sebagai ekspresi kolektif. Ia menjadi ritual nasional, ditanam untuk mengenang, sekaligus untuk menegaskan bahwa kematian tidak mengakhiri narasi sebuah bangsa.
Jika dalam perang Diponegoro pohon adalah “jejak yang ditinggalkan”, maka dalam konteks Iran pohon adalah “masa depan yang ditanam”.
Perbedaan ini justru memperjelas satu hal, simbol yang sama dapat hidup dalam bentuk yang berbeda, tetapi tetap membawa pesan yang serupa.
Baik di Jawa maupun di Iran, pohon menjadi metafora tentang waktu. Ia tumbuh perlahan, berakar dalam, dan bertahan lama. Ia tidak memberikan kemenangan instan, tetapi menjanjikan keberlanjutan.
Dalam dunia yang sering kali mengukur kekuatan dari kecepatan dan daya hancur, simbol ini menawarkan perspektif lain, bahwa ketahanan sejati justru dibangun dari sesuatu yang tumbuh, bukan yang menghancurkan.
Di tengah konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pertanyaan tentang “siapa yang menang” sering kali terdengar terlalu tergesa. Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu menjadi penentu akhir dari sebuah peradaban. Bahkan, dalam banyak kasus, pihak yang tampak kalah justru meninggalkan jejak yang lebih dalam dan lebih bertahan lama.
Penyair Romawi Horace pernah menulis, Graecia capta ferum victorem cepit. Artinya, Yunani yang ditaklukkan justru menaklukkan penakluknya yang buas. Kekuasaan boleh datang dengan pedang, tetapi pengaruh sering kali datang melalui budaya, melalui nilai, melalui simbol yang hidup lebih lama dari kemenangan itu sendiri.
Pengalaman Nusantara memberi cermin yang serupa. Secara kasat mata, negeri ini pernah ditaklukkan oleh Belanda. Namun dalam perjalanan waktu, interaksi itu tidak berjalan satu arah. Banyak jejak Nusantara justru hidup dalam ruang budaya Belanda, baik dalam kuliner, bahasa, maupun kebiasaan sosial. Sebuah pengingat bahwa relasi penakluk dan yang ditaklukkan tidak pernah sesederhana hitam dan putih.
Dalam konteks itulah, simbol pohon menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar metafora ekologis, tetapi representasi dari sesuatu yang lebih besar, bahwa peradaban yang berakar kuat tidak mudah ditaklukkan, bahkan ketika secara militer ia ditekan.
Kadang, perlawanan justru tumbuh dari sesuatu yang paling sunyi, sebuah bibit yang ditanam, akar yang menembus tanah, dan keyakinan bahwa kehidupan akan terus berlanjut.
Dari Jawa hingga Iran, pohon mengajarkan hal yang sama, bahwa perlawanan bukan hanya tentang bertahan dari hari ini, tetapi tentang memastikan bahwa masa depan tetap memiliki tempat untuk tumbuh.
Mungkin, di situlah makna terdalam dari simbol ini, bahwa setiap pohon yang ditanam adalah bentuk perlawanan paling tenang, tetapi juga paling panjang umur.
News
Paradoks Hubungan Sains dan Agama
Mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan
Published
9 hours agoon
02/04/2026
Monitorday.com–Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Religion and Spirituality mengungkapkan bagaimana sistem keyakinan pribadi seseorang membentuk pandangan mereka tentang hubungan antara sains dan agama. Penelitian ini menemukan pola yang berbeda: individu dengan keyakinan agama yang kuat cenderung melihat sains dan agama sebagai dua entitas yang saling melengkapi, sementara mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan.
Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana kerangka pemahaman yang berbeda memengaruhi persepsi seseorang tentang hubungan yang kompleks antara sains dan agama. Hasil studi ini menambah dimensi pada perdebatan global yang telah berlangsung selama berabad-abad mengenai kompatibilitas kedua domain tersebut.
Perdebatan mengenai hubungan antara sains dan agama memang telah berlangsung lama. Ada kelompok yang berpendapat bahwa keduanya adalah jalur yang saling melengkapi untuk memahami dunia dan realitas, sementara kelompok lain beranggapan bahwa keduanya pada dasarnya tidak selaras dan saling bertentangan.
Studi-studi sebelumnya seringkali fokus pada situasi di mana sains dan agama dibandingkan atau dipertentankan secara langsung. Akibatnya, masih ada pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana keyakinan pada salah satu bidang, baik sains atau agama, memengaruhi persepsi tentang kompatibilitas keduanya, terlepas dari perbandingan langsung tersebut.
Untuk mengatasi kesenjangan penelitian ini, para peneliti dalam studi terbaru ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana keyakinan pada sains dan keyakinan agama, sebagai sistem makna yang terpisah, dapat memprediksi apakah seseorang akan melihat sains dan agama sebagai kompatibel atau bertentangan.
Dengan melibatkan 684 partisipan dari berbagai latar belakang budaya dan agama di Inggris, Belanda, dan Kazakhstan, para peneliti berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana keyakinan-keyakinan ini berinteraksi dalam konteks yang beragam.
News
Kisah Nabi Isa AS dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menggambarkan Nabi Isa AS sebagai seorang utusan Allah yang mulia, lahir dari Bunda Maryam tanpa ayah melalui mukjizat
Published
1 day agoon
01/04/2026
Monitorday.com–Pemahaman akidah mengenai sosok Nabi Isa AS menjadi perhatian khusus dalam diskursus keagamaan, terutama menjelang dan selama bulan Desember. Dalam Islam, kisah Nabi Isa AS diuraikan secara komprehensif dalam Al-Qur’an, menyajikan perspektif yang berbeda dari narasi yang dikenal secara luas di luar ajaran Islam.
Pentingnya meluruskan pemahaman akidah ini ditekankan oleh para ulama tafsir guna memastikan umat Muslim memahami esensi ajaran Islam yang benar tentang salah satu nabi utama. Klarifikasi ini bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman dan memperkuat keyakinan berdasarkan sumber-sumber otentik Al-Qur’an dan Sunnah.
Al-Qur’an menggambarkan Nabi Isa AS sebagai seorang utusan Allah yang mulia, lahir dari Bunda Maryam tanpa ayah melalui mukjizat. Beliau diutus untuk Bani Israil dengan membawa pesan tauhid, menyerukan penyembahan hanya kepada Allah SWT, serta diberi berbagai mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati (dengan izin Allah), dan berbicara saat masih bayi di buaian.
Para ulama tafsir secara konsisten menjelaskan bahwa Nabi Isa AS adalah manusia pilihan Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan. Kelahirannya yang ajaib adalah bukti kekuasaan Allah, bukan indikasi ketuhanan. Tafsir-tafsir ini menegaskan status Nabi Isa sebagai hamba dan Rasul Allah yang patut dihormati, tetapi tidak disembah.
Selain itu, narasi Al-Qur’an juga membantah klaim penyaliban dan kematian Nabi Isa di kayu salib. Menurut keyakinan Islam, Allah SWT mengangkat Nabi Isa AS ke langit, dan orang lain yang serupa dengannya disalibkan. Beliau akan kembali ke bumi sebelum hari kiamat untuk menegakkan keadilan dan syariat Islam.
Dengan demikian, pemahaman akidah yang lurus mengenai Nabi Isa AS, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan tafsir ulama, menjadi fundamental bagi umat Muslim. Hal ini tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan tetapi juga mengukuhkan keyakinan pada keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW sebagai penutup para nabi.
News
Makna Mawaddah dan Rahmah Melampaui Hubungan Biologis dalam Islam
Hubungan suami istri dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi ibadah yang sarat cinta, empati, dan ketenangan batin
Published
2 days agoon
31/03/2026
Monitorday.com– Konsep hubungan suami istri dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai aktivitas biologis, melainkan sebagai ibadah yang sarat nilai spiritual. Dalam konteks ini, istilah mawaddah dan rahmah menjadi fondasi utama yang membentuk kualitas hubungan intim pasangan. Menurut berbagai sumber kajian keislaman yang dikutip, kedua konsep ini bukan hanya teori, tetapi harus terwujud nyata dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari, termasuk di ranjang.
Secara konseptual, mawaddah merujuk pada cinta yang penuh gairah, ketulusan, dan keinginan untuk membahagiakan pasangan. Apa maknanya dalam praktik? Mawaddah tercermin dalam upaya suami istri untuk saling memberi kepuasan secara halal (what), dengan cara yang penuh kehangatan dan komunikasi emosional (how). Kapan hal ini dilakukan? Dalam setiap momen kebersamaan yang dilandasi niat ibadah (when). Siapa yang terlibat? Tentu kedua pasangan yang sah (who). Di mana? Dalam ruang privat pernikahan (where). Mengapa penting? Karena hal ini menjadi sarana menjaga keharmonisan dan menjauhkan diri dari penyimpangan (why), sebagaimana dijelaskan menurut media yang dikutip sebagai sumber.
Lebih jauh, mawaddah juga mengandung unsur keaktifan dan kreativitas dalam membangun kedekatan. Suami dan istri tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pemberi kebahagiaan. Bahasa cinta, sentuhan lembut, serta perhatian kecil menjadi bagian dari “pupuk” yang menjaga keintiman tetap hidup. Dengan demikian, hubungan intim tidak menjadi rutinitas kosong, melainkan ekspresi cinta yang terus diperbarui.
Di sisi lain, rahmah hadir sebagai penyeimbang dari mawaddah. Rahmah adalah kasih sayang yang berakar pada empati dan kelembutan hati. Dalam praktiknya, rahmah berarti memahami kondisi pasangan, seperti saat lelah atau sakit, serta tidak memaksakan kehendak. Menurut media yang dikutip sebagai sumber, konsep ini sejalan dengan filosofi Al-Qur’an yang menyebut suami istri sebagai “pakaian” satu sama lain—saling melindungi, menjaga kehormatan, dan menutupi kekurangan.
Rahmah juga menuntut penerimaan fisik dan emosional pasangan apa adanya. Dalam konteks ini, hubungan intim menjadi ruang aman yang bebas dari perbandingan, tekanan, atau ekspektasi yang tidak realistis. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan keamanan emosional dalam pernikahan, sehingga hubungan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.
Ketika mawaddah dan rahmah berjalan beriringan, maka lahirlah sakinah, yaitu ketenangan dalam rumah tangga. Bagaimana dampaknya? Hubungan intim tidak hanya menjadi sarana pemenuhan kebutuhan, tetapi juga alat meredam konflik, mempererat ikatan batin, dan menjaga kesetiaan. Menurut media yang dikutip sebagai sumber, pasangan yang mampu mengelola dua aspek ini akan lebih tahan terhadap godaan eksternal serta memiliki hubungan yang lebih harmonis dan bermakna.
Dengan demikian, Islam memandang hubungan suami istri sebagai ibadah yang utuh—menggabungkan cinta, gairah, empati, dan tanggung jawab. Mawaddah menghidupkan api cinta, rahmah menenangkan jiwa, dan keduanya bersama-sama mengantarkan pasangan menuju sakinah dalam kehidupan rumah tangga.
Ruang Sujud
Menjemput Berkah di Ranjang
Jauh dari kesan tabu, Islam memandang aktivitas seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah sebagai sedekah dan sumber pahala bagi pelakunya.
Published
3 days agoon
30/03/2026
Monitorday.com– Dalam pandangan Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan hukum atau sosial, melainkan sebuah ibadah yang sangat mulia. Salah satu dimensi penting dalam pernikahan adalah hubungan intim antara suami dan istri. Jauh dari kesan tabu, Islam memandang aktivitas seksual yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah sebagai sedekah dan sumber pahala bagi pelakunya.
Banyak orang mungkin bertanya, bagaimana mungkin aktivitas biologis bisa bernilai pahala? Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa dalam hubungan intim yang dilakukan suami istri terdapat nilai sedekah. Hal ini karena pasangan tersebut telah memilih cara yang halal untuk menyalurkan hasratnya dan menjauhi perbuatan zina yang diharamkan Allah SWT.
Tujuan utama dari hubungan ini bukan sekadar pemuasan nafsu, melainkan untuk membangun kasih sayang (mawaddah), menjaga kesehatan mental dan fisik, serta upaya untuk melahirkan generasi muslim yang saleh dan saleha.
Islam adalah agama yang sangat detail dalam mengatur etika, termasuk urusan ranjang. Ada beberapa adab yang disunnahkan untuk dilakukan:
- Membersihkan Diri dan Berhias: Sebelum memulai, hendaknya suami maupun istri menjaga kebersihan badan dan menggunakan wewangian. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa nyaman dan meningkatkan daya tarik di mata pasangan.
- Menciptakan Suasana yang Nyaman: Pastikan ruangan dalam keadaan tertutup dan privasi terjaga sepenuhnya dari pandangan orang lain, termasuk anak-anak.
- Membaca Doa: Ini adalah poin krusial agar aktivitas tersebut diberkahi. Doa yang dianjurkan adalah:
“Bismillah, Allahumma jannibnas-syaythana wa jannibis-syaythana ma razaqtana”
(Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami).
Islam sangat memperhatikan kepuasan kedua belah pihak. Seorang suami dilarang langsung melakukan penetrasi tanpa adanya “pendahuluan.” Rasulullah SAW menganjurkan adanya pesan cinta, ciuman, dan rayuan sebelum berhubungan. Hal ini penting agar istri tidak merasa hanya dijadikan objek pemuas, melainkan sebagai partner yang setara dalam mendapatkan kebahagiaan batin. Komunikasi yang baik selama berhubungan sangat disarankan untuk menciptakan keharmonisan.
Meskipun Islam memberikan kebebasan dalam mengeksplorasi posisi atau gaya bercinta, ada batasan-batasan syariat (garis merah) yang tidak boleh dilanggar:
- Dilarang Melalui Dubur (Anus): Islam dengan tegas mengharamkan hubungan seksual melalui jalur belakang. Perbuatan ini dianggap sebagai dosa besar dan melanggar fitrah manusia.
- Larangan Saat Haid dan Nifas: Suami dilarang melakukan hubungan seksual (penetrasi) saat istri sedang dalam masa menstruasi atau nifas. Namun, aktivitas bermesraan lainnya selain penetrasi tetap diperbolehkan.
- Menjaga Rahasia Ranjang: Salah satu pelanggaran berat dalam etika Islam adalah menceritakan detail hubungan intim kepada orang lain. Rahasia di atas tempat tidur bersifat sakral dan hanya menjadi milik suami-istri.
Setelah menyelesaikan hubungan, pasangan diwajibkan untuk melakukan mandi janabah atau mandi wajib sebelum mereka diizinkan melaksanakan ibadah ritual seperti salat atau membaca Al-Qur’an. Jika ingin mengulangi hubungan atau ingin tidur terlebih dahulu sebelum mandi, disunnahkan untuk setidaknya mencuci kemaluan dan berwudu.
Secara psikologis, hubungan intim yang sehat dan dilakukan sesuai tuntunan agama akan memperkuat ikatan emosional antara suami dan istri. Hal ini menjadi benteng pertahanan keluarga dari godaan pihak luar. Ketika kebutuhan batin terpenuhi dengan cara yang makruf (baik), maka suasana rumah tangga akan menjadi lebih tenang, damai, dan penuh kasih sayang (sakinah).
Hubungan suami istri dalam Islam adalah perpaduan antara pemenuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Dengan mengikuti adab dan aturan yang telah ditetapkan, aktivitas ini tidak hanya memuaskan raga, tetapi juga menenteramkan jiwa dan mendatangkan keberkahan bagi kehidupan rumah tangga.
News
Ibnu Haytham: Ilmuwan Muslim Pertama yang Mengubah Cara Dunia Berpikir
Published
3 days agoon
30/03/2026By
Umar Satiri
Di dunia yang hari ini penuh jawaban, kita justru kehilangan satu hal yang paling penting: pertanyaan.
Segalanya tersedia. Informasi mengalir tanpa henti. Jawaban hadir bahkan sebelum kita selesai berpikir. Namun di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang diam-diam hilang—cara kita mencari kebenaran. Kita terbiasa menerima, jarang menguji. Kita cepat percaya, lambat meragukan.
Dalam konteks inilah, Ibnu al-Haytham menjadi relevan—bukan sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai cara berpikir yang terasa semakin langka.
Dalam sebuah forum ilmiah santri di STAIMA Al-Hikam, Malang, Wamendikti Saintek Profesor Stella, sempat menyebut namanya sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia. Sebuah klaim yang, pada awalnya, terdengar berlebihan. Bukankah sebelum Ibnu Haytham sudah ada banyak pemikir besar?
Namun, pertanyaannya bukan siapa yang lebih dulu menemukan sesuatu. Pertanyaannya adalah: siapa yang pertama kali mengajarkan bagaimana menemukan.
Di masa sebelum Ibnu Haytham, pengetahuan berjalan di atas otoritas. Apa yang dikatakan oleh para pemikir besar diterima sebagai kebenaran. Dunia percaya karena memang tidak ada alasan untuk tidak percaya. Tradisi berpikir belum mengenal keraguan sebagai metode.
Ibnu Haytham datang dengan sesuatu yang berbeda.
Ia tidak menolak pengetahuan sebelumnya, tetapi ia tidak tunduk padanya. Ia membaca, lalu meragukan. Ia memahami, lalu menguji. Bahkan terhadap pemikir besar seperti Ptolemy dan Aristoteles, ia memilih untuk tidak sekadar menerima.
Baginya, pencari kebenaran harus berani menjadi “musuh” bagi apa yang ia baca.
Dari situlah sesuatu yang baru lahir—bukan sekadar teori, tetapi metode.
Ibnu Haytham memperkenalkan pendekatan yang hari ini menjadi fondasi sains modern: observasi, eksperimen, dan verifikasi. Ia tidak hanya bertanya “apa”, tetapi juga “bagaimana kita tahu bahwa ini benar”. Ia tidak berhenti pada penjelasan, tetapi melanjutkan pada pembuktian.
Dalam karyanya Kitab al-Manazir, ia menjelaskan bahwa penglihatan terjadi karena cahaya masuk ke mata, bukan sebaliknya. Temuan ini mungkin terdengar sederhana hari ini, tetapi pada zamannya, ia mengguncang cara manusia memahami dunia.
Namun, sekali lagi, yang lebih penting dari temuannya adalah cara ia sampai pada temuan itu.
Ia menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang dicari. Bahwa ilmu bukan milik mereka yang berbicara paling keras, tetapi mereka yang mampu membuktikan dengan paling jujur.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama.
Bukan karena ia yang pertama berpikir, tetapi karena ia yang pertama merumuskan cara berpikir itu sendiri.
Di hadapan para santri, gagasan ini menemukan momentumnya. Selama ini, banyak dari kita memaknai belajar sebagai proses menerima—menerima penjelasan, menerima teks, menerima otoritas. Padahal, dalam tradisi ilmiah yang ditunjukkan Ibnu Haytham, belajar justru dimulai dari bertanya.
Menjadi santri ilmiah bukan berarti meninggalkan iman. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk memuliakan akal sebagai bagian dari pencarian kebenaran. Ibnu Haytham tidak memisahkan antara ilmu dan spiritualitas. Baginya, memahami dunia adalah bagian dari memahami ciptaan.
Bagi Ibnu Haytham, pencarian ilmiah berakar pada tauhid. Ia memulai tulisannya dengan menyebut nama Allah, dan menutupnya dengan pujian serta shalawat—bukan sebagai formalitas, tetapi sebagai kesadaran bahwa ilmu adalah bagian dari penghambaan. Dalam dirinya, sains bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan ubudiyyah: upaya mendekat kepada Tuhan melalui kejujuran dalam mencari kebenaran. Dari keyakinan itulah lahir disiplin, ketekunan, dan keberanian untuk menguji. Ia tidak meneliti untuk sekadar tahu, tetapi untuk memahami ciptaan dengan cara yang paling jujur.
Dan memahami ciptaan, pada akhirnya, adalah jalan menuju Sang Pencipta.
Namun, relevansi Ibnu Haytham tidak berhenti di ruang-ruang kajian. Ia justru semakin terasa penting di era hari ini—era ketika kecerdasan artifisial mampu menjawab hampir segala hal.
Kita hidup dalam zaman di mana mesin bisa memberi jawaban, tetapi tidak semua manusia mampu mengajukan pertanyaan.
Di sinilah letak paradoks kita.
Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi cara berpikir kita tidak selalu ikut tumbuh. Kita memiliki akses pada pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki metode untuk memahaminya. Kita tahu banyak hal, tetapi belum tentu tahu bagaimana memastikan bahwa yang kita tahu itu benar.
Jika Ibnu Haytham hidup hari ini, mungkin ia tidak akan terpesona oleh kecanggihan teknologi. Ia justru akan bertanya: apakah kita masih menguji, atau hanya menerima dalam bentuk yang lebih canggih?
Sebab tanpa metode, pengetahuan hanya akan menjadi ilusi yang terlihat meyakinkan.
Ibnu Haytham mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi mendasar: bahwa ilmu dimulai dari keraguan yang jujur. Dari keberanian untuk tidak langsung percaya. Dari kesediaan untuk menunda kepastian, demi menemukan kebenaran yang lebih utuh.
Maka, ketika ia disebut sebagai ilmuwan sejati pertama di dunia, mungkin yang dimaksud bukanlah urutan sejarah, melainkan sebuah lompatan cara berpikir.
Ia tidak hanya menemukan jawaban. Ia menemukan cara untuk tidak mudah puas dengan jawaban.
Dan di dunia yang hari ini penuh dengan kepastian instan, mungkin itulah pelajaran yang paling kita butuhkan.
News
Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadan
Bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan
Published
3 days agoon
30/03/2026
Monitorday.com–Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana, menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah bulan Ramadan. Pernyataan ini disampaikan dalam tausiah reflektif pada acara Gerakan Subuh Mengaji yang diselenggarakan pada Sabtu (28/03).
Ayi Yunus Rusyana menekankan bahwa bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan. Ia mengakui tantangan dalam mempertahankan konsistensi ibadah pasca-Ramadan.
Banyak umat, kata Ayi, cenderung menganggap Ramadan sebagai “garis finis” setelah sebulan penuh beribadah, yang berakibat pada penurunan semangat ibadah di bulan Syawal. Kondisi ini terlihat dari masjid-masjid yang kembali lengang, berkurangnya tilawah Al-Qur’an, dan merosotnya semangat bersedekah secara drastis setelah Ramadan.
“Fenomenanya begitu. Ramadan terasa sempit karena jamaah membludak, tetapi Syawal membuat masjid kembali ‘luas’,” ujarnya.
Ia juga menyinggung data penghimpunan zakat, infak, dan sedekah yang mencapai puncaknya di bulan Ramadan, namun kembali menurun pada bulan berikutnya. Menurut Ayi, kondisi ini menunjukkan adanya pandangan ibadah sebagai aktivitas musiman, padahal Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 92 telah mengingatkan agar manusia tidak seperti orang yang merusak kembali benang yang telah dipintal kuat. Ia menambahkan, tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni la’allakum tattaqun, menunjukkan proses berkelanjutan, bukan hasil instan.
“Takwa itu bukan status yang selesai diraih setelah Ramadan, tetapi proses yang terus dijalani,” jelasnya.
News
Masa Depan Zakat Berbasis Edge AI
Permasalahan utama terletak pada kurangnya kepercayaan (trust) dari muzaki dan efisiensi dalam proses distribusi
Published
3 days agoon
30/03/2026
Monitorday.com–Filantropi Islam di Indonesia berada di titik krusial menuju tahun 2026, menghadapi tantangan besar dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional. Meskipun Indonesia Zakat Outlook 2026 mencatat potensi zakat mencapai lebih dari Rp 327 triliun, realitas penghimpunan nasional masih sangat rendah, seringkali hanya menyentuh angka belasan persen dari potensi tersebut. Situasi ini mendorong pemikiran ulang tentang bagaimana teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), dapat dimanfaatkan.
Permasalahan utama terletak pada kurangnya kepercayaan (trust) dari muzaki dan efisiensi dalam proses distribusi. Pembayar zakat menuntut transparansi real-time, sementara lembaga amil membutuhkan kecepatan dalam memvalidasi penerima yang berhak. Dalam konteks ini, AI tidak hanya dipandang sebagai tren, melainkan sebagai infrastruktur esensial untuk menjaga kemurnian amanah umat sesuai koridor syariah dan mengatasi celah lebar antara potensi dan realisasi.
Riset menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pengelolaan zakat mampu meningkatkan efisiensi penghimpunan hingga 40 persen dan mempercepat distribusi bantuan sebesar 55 persen. Namun, penting ditekankan bahwa digitalisasi tanpa kerangka riset yang kuat berisiko menciptakan otomasi yang “buta” terhadap nilai-nilai lokal dan prinsip fikih. Banyak pihak terkadang terjebak pada keinginan mengilmiahkan zakat hingga mengaburkan batasan syariat yang telah ditetapkan.
Penting untuk memastikan klasifikasi penerima zakat tidak meleset dari batasan syariat. Kecerdasan Buatan memiliki peran vital dalam menegaskan hal ini.
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (amil), para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fisabilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil), sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)
Melalui pendekatan algoritma klasifikasi, AI memungkinkan penentuan yang presisi terhadap kategori penerima zakat. Misalnya, AI dapat menganalisis Debt-to-Income Ratio untuk mengidentifikasi gharimin (orang terlilit utang demi kebutuhan pokok) atau menggunakan geospatial analytics untuk memetakan musafir yang membutuhkan bantuan darurat (ibnu sabil). Dengan formula rasio kecukupan, AI membantu amil mengambil keputusan yang lebih objektif.
Hasil implementasi ini sangat signifikan, dengan potensi menekan kesalahan sasaran (inclusion and exclusion error) dalam distribusi zakat hingga 22 persen. Angka ini memiliki arti besar bagi keadilan sosial dan penguatan kepercayaan publik. Pendekatan Whitecyber Research Framework (WRF) digunakan untuk menganalisis implementasi AI untuk Zakat, Infaq, dan Shodaqoh, memastikan teknologi diintegrasikan sebagai ekosistem yang mencakup keamanan data, kecerdasan buatan, dan dampak sosial yang terukur.
News
Saat Habibie Belajar dari Dua Yahudi tentang Kunci Kesuksesan
Published
6 days agoon
27/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Ada satu sisi dari Bacharuddin Jusuf Habibie yang jarang diceritakan—bukan tentang pesawat, bukan tentang jabatan, tapi tentang sebuah malam yang diam-diam mengubah arah hidupnya.
Di RWTH Aachen University, Jerman, Habibie muda dikenal sebagai mahasiswa jenius. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya: ia selalu berada di peringkat tiga. Di atasnya, dua mahasiswa lain—yang konsisten menempati posisi pertama dan kedua.
Rasa penasaran itu tidak bisa ia abaikan.
Suatu hari, ia bertanya langsung, “Apa rahasia kalian?”
Keduanya hanya tersenyum. Tidak ada jawaban.
Waktu berlalu, hingga suatu malam, Habibie mendapat kesempatan menginap di rumah mereka. Di sanalah, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia duga.
Pukul dua dini hari. Bukan suasana tidur, bukan pula hening yang biasa. Dua temannya itu justru sedang duduk serius, membaca.
Habibie mendekat. Ia ingin tahu buku apa yang membuat mereka begitu tekun, bahkan di jam yang bagi banyak orang adalah waktu terlelap. Dan saat itu, ia terdiam. Yang mereka baca adalah Al-Qur’an.
Habibie kaget. “Itu kitab suci agama saya. Kenapa kalian membacanya?”
Jawaban mereka sederhana, tapi menghantam sangat dalam.
“Rudy… seandainya umatmu benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an, mereka tidak akan bisa dikalahkan. Ini kunci yang ditinggalkan oleh umatmu sendiri.”
Kalimat itu tidak keras. Tapi justru karena tenang, ia terasa lebih tajam.
Malam itu, Habibie tidak langsung menjawab. Ia pulang dengan pikiran yang penuh. Ada sesuatu yang terasa janggal—seolah ia diingatkan tentang sesuatu yang seharusnya sudah ia miliki sejak awal.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Ia mulai bangun di malam hari. Bersuci. Menunaikan tahajud. Lalu membaca Al-Qur’an—bukan sekadar membaca, tapi merenungi.
Perubahan itu mungkin tak terlihat oleh orang lain. Tapi dalam diam, ia membangun sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar prestasi akademik: kedalaman, ketenangan, dan kejernihan berpikir.
Kisah ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih pintar di kelas. Ini tentang sebuah kesadaran sederhana: kadang, kita kehilangan sesuatu yang paling dekat dengan kita. Dan ironisnya, orang lain justru melihat nilainya lebih dulu.
Habibie tidak hanya belajar tentang teknologi di Jerman. Ia belajar tentang dirinya sendiri. Bahwa kecerdasan bukan hanya soal logika, tapi juga tentang hati yang terhubung.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sejati—bukan pada apa yang kita kejar, tapi pada apa yang kita hidupkan kembali.
News
Inilah Erlyanie, ART yang Sukses Bangun Bisnis dengan Nilai Spiritual
Published
1 week agoon
25/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Perjalanan hidup Erlyanie tidak dimulai dari ruang rapat berpendingin udara atau meja kerja yang nyaman. Ia memulainya dari dapur orang lain—sebagai asisten rumah tangga (ART), menjalani hari-hari dengan keterbatasan, tetapi menyimpan satu hal yang tidak pernah padam: keyakinan bahwa hidup bisa berubah.
Dalam sebuah podcast yang dipandu konsultan strategi brand Verra Oktaviani, Erlyanie bercerita dengan jujur tentang fase hidupnya yang keras. Ia datang ke Jakarta bukan dengan modal finansial, melainkan keberanian. Tidak ada jaminan masa depan. Tidak ada privilege. Yang ada hanya kemauan untuk bertahan, dan pelan-pelan, mencari celah untuk naik.
Namun, yang menarik dari kisahnya bukan sekadar transformasi ekonomi—melainkan cara ia membangun fondasi hidupnya. Erlyanie tidak hanya belajar tentang bisnis. Ia membangun dirinya dari dalam. Dalam podcast tersebut, terlihat jelas bahwa ada satu kekuatan yang ia pegang teguh: nilai spiritual.
Ketika akhirnya ia mulai merintis usaha kosmetik, yang kini dikenal sebagai BL Cosmetic (B Erl Cosmetics), ia tidak membangun bisnis hanya dengan logika pasar. Ia membangun dengan keyakinan.
Bagi Erlyanie, bisnis bukan hanya tentang menjual produk, tetapi tentang membentuk manusia. Ia percaya bahwa ketika hati ditata, maka kerja akan mengikuti. Ketika hubungan dengan Tuhan dijaga, maka hubungan dengan sesama akan lebih jujur dan bertanggung jawab.
Nilai ini kemudian menjadi semacam “energi tak terlihat” dalam perusahaannya—yang tidak tercatat di laporan keuangan, tetapi terasa dalam cara timnya bekerja.
Di perusahaannya, ada kebiasaan yang tidak lazim di banyak bisnis modern: shalat lima waktu menjadi rutinitas yang dijaga, dan sebelum aktivitas kerja dimulai, karyawan diajak untuk mengaji bersama. Ini bukan formalitas. Ini adalah kultur.
Dari sisi bisnis, pendekatan ini justru memperkuat fondasi. Di tengah kerasnya persaingan industri kecantikan, BL Cosmetic tumbuh dengan model distribusi berbasis komunitas dan reseller. Namun di balik itu, ada kohesi tim yang tidak hanya dibangun oleh target, tetapi oleh nilai bersama. Erlyanie memahami satu hal yang sering dilupakan banyak pelaku usaha: bisnis yang kuat bukan hanya soal strategi, tetapi soal karakter orang-orang di dalamnya.
Perjalanan dari ART menjadi pengusaha bukan sekadar lompatan status sosial. Itu adalah perjalanan kesadaran. Dari bekerja untuk orang lain, menjadi seseorang yang memberi kerja. Dari bertahan hidup, menjadi pencipta nilai.
Dan di titik itulah, Erlyanie mengambil pilihan yang tidak semua orang ambil—ia tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual ketika bisnisnya tumbuh. Ia justru menjadikannya sebagai fondasi. Kisahnya menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang semakin cepat dan kompetitif, masih ada ruang untuk membangun bisnis dengan cara yang lebih dalam. Bukan hanya mengejar profit, tetapi juga keberkahan.
Dari dapur sederhana hingga membangun perusahaan, Erlyanie menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari modal besar. Kadang, ia tumbuh dari keyakinan yang dijaga dengan disiplin—setiap hari, setiap waktu.
Monitor Saham BUMN
Perjumpaan Simbolik Pangeran Diponegoro dan Iran, Ketika Pohon Menjadi Bahasa Perlawanan
Paradoks Hubungan Sains dan Agama
Dibuka 1 April 2026, Ratusan Pendaki Auto Serbu Gunung Rinjani
Luna Maya Nilai Kedalaman Karakter Jadi Kekuatan Utama Film Zona Merah
Gempa M7,6 Guncang Bitung, Sejumlah Wilayah di Sulut dan Malut Berstatus Siaga Tsunami
Wamendikdasmen: TKA Bukan Sekadar Ujian Tapi Mengukur Kemampuan Siswa
Prabowo Terima Penghargaan The Grand Order of Mugunghwa dari Presiden Korsel
WFH Bukan Libur, Mendikdasmen Pastikan Sekolah Tetap Normal dan Budaya Kerja Sehat Diperkuat
Irak Lolos ke Piala Dunia 2026, Bojan Hodak Dukung Frans Putros Tampil di Panggung Terakhirnya
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Bentuk Keadilan untuk Seluruh Pelaku Ekonomi Kreatif
Kisah Nabi Isa AS dalam Al-Qur’an
46 Negara Pastikan OTW Piala Dunia 2026, Sisakan Dua Tiket
Italia Gagal ke Piala Dunia Tiga Edisi Berturut-turut, Rekor Memalukan Sang Juara 4 Kali
Daftar Lengkap Harga BBM Per 1 April 2026
Pemerintah Gulirkan 8 Poin Kebijakan Transformasi Budaya Kerja Nasional, Apa Saja?
Pemerintah Resmi Terapkan WFH 1 Hari untuk ASN Setiap Jumat
Avenged Sevenfold Bakal Guncang Jakarta, Cek Harga Tiketnya?
Taylor Swift Rilis Single “Elizabeth Taylor”, Hadirkan Klip Tribut Penuh Arsip Legendaris
DK PBB Gelar Rapat Darurat Usai Tiga Prajurit TNI Tewas di Lebanon Selatan
