Connect with us

News

Dirjen-Diktiristek Sebut Muhammadiyah Berperan Besar Majukan Pendidikan Indonesia

N Ayu Ashari

Published

on

Monitorday.Com – Direktur Jenderal [Dirjen] Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi [Diktiristek] Kemendikbudristek, Abdul Haris mengatakan perguruan tinggi swasta [PTS] seperti milik Muhammadiyah berperan besar membantu pemerintah memajukan pendidikan tinggi di Indonesia. Ini terlihat dari data, dimana 53 persen mahasiswa Indonesia berada di dalam PTS.

“Muhammadiyah memiliki amal usaha yakni PTMA yang telah memiliki pendidikan luar biasa dan menghasilkan alumni yang berkiprah di masyarakat,” ujar Abdul Haris saat bersilaturrahim bersama Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyah [PTMA], di SM Tower Yogyakarta, Sabtu [11/5/2024].

Meski begitu, Guru Besar bidang Ilmu Geofisika FMIPA UI ini juga mengingatkan, perguruan tinggi swasta khususnya PTMA saat ini menghadapi tiga masalah prioritas pendidikan tinggi di Indonesia yakni ketimpangan akses, kesenjangan kualitas, dan kurangnya relevansi PT dengan lulusan yang dihasilkan. 

“Rendahnya pendidikan berdampak pada global talent competitiveness index. Hal ini yang menyebabkan Indonesia berada di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina,” paparnya di hadapan para Rektor, Ketua, dan Direktur PTMA.

Tantangan lainnya, menurut Abdul Haris, adalah ketidakcukupan dana, SDM, fasilitas, dosen, serta kualitas lulusan yang tidak merata. Karena itu, kata dia, PTMA perlu menerapkan strategi menuju PTS berkelas dunia. 

“Strategi tersebut berupa pengajaran berstandar internasional, penelitian berstandar dunia, peningkatan kapabilitas inovasi, melahirkan talenta global, jejaring internasional dan lainnya,” ujar pria kelahiran Pemalang, 21 September 1970 ini.

Merespon persoalan tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib mengklaim sebagian besar strategi tersebut sudah dilaksanakan oleh PTMA. 

“Ada 11 PTMA yang unggul saat ini, berarti keberadaan PTMA juga turut mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia,” paparnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Menempa Besi di Ruang Sunyi: Cetak Biru Pola Asuh yang Membentuk Maudy Ayunda

Ma'ruf Mutaqin

Published

on

CERITA KECIL Maudy Ayunda bukanlah panggung sandiwara digital dimana jutaan jempol netizen bersekongkol mendikte takdirnya lewat kolom komentar. Tapi sebuah narasi tentang keberanian memilih, ketangguhan menghadapi kebaruan, kapasitas adaptasi tanpa kompromi.

Di balik binar lampu sorot panggung hiburan dan deretan jubah akademis universitas kelas dunia, ia adalah seonggok produk dari penempaan karakter besi nan konsisten. Keberhasilannya hari ini tidak turun begitu saja dari langit. Ia dirajut dari ruang-ruang sunyi masa kecil, dimana fondasi mentalitas anti-rapuh diletakan oleh tangan dingin orangtuanya sejak dini.

Lahir di Jakarta, sebuah kota megapolitan yang bising dan bergegas, Maudy kecil tumbuh dalam sebuah ekosistem keluarga yang tak kenal kata manja. Meski dikelilingi kecukupan materi, rumahnya bukanlah zona nyaman yang menidurkan daya juang.

Rumah adalah sebuah laboratorium mental. Sejak tangan-tangan mungilnya baru bisa menggenggam erat, sang ibu telah memberlakukan hukum kemandirian yang ketat. Tidak ada sistem rumah tangga yang boleh melayaninya untuk urusan pribadi.

Kita anak-anak seusianya bermanja-manja menunggu segala keperluan disiapkan, Maudy harus menyampul buku sekolahnya sendiri, menyemir sepatunya sendiri, dan mengambil segelas air minum dengan kakinya sendiri. Keistimewaan finansial tidak pernah diizinkan menjadi candu yang melemahkan otot-otot karakternya.

Namun, ujian adaptasi yang sesungguhnya datang menghantam ketika ia baru menginjak usia sekolah dasar. Di kelas dua, sebuah keputusan besar diambil oleh orang tuanya: memindahkannya dari kenyamanan sistem sekolah nasional ke sebuah sekolah internasional yang menggunakan kurikulum asing. 

Hari pertama di sekolah baru itu berubah menjadi sebuah labirin yang menakutkan bagi seorang anak kecil. Ia terlempar ke dalam ruang kelas yang asing, di mana setiap bibir melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang tak satu pun ia pahami.

Kesepian segera menyergap. Di sudut-sudut halaman bermain, ia menjadi penonton bisu yang terasing, terjebak dalam kebingungan bahasa yang mengisolasi batinnya. Saat itu, ada gemuruh hebat di kepalanya—sebuah perpaduan antara rasa rendah diri, ketakutan gagal, dan luka pada harga dirinya. Ia sempat ingin menyerah, menangis, dan kembali ke pelukan lingkungan lama yang ramah. Kulitnya belum cukup tebal untuk menghadapi dinginnya penolakan lingkungan baru. 

Namun, di sinilah titik krusial di mana cetak biru ketahanan mentalnya diuji. Alih-alih meratap, Maudy kecil memilih untuk memeluk rasa tidak nyaman itu. Ia memaksa telinganya mendengar lebih tajam, matanya membaca lebih lama, dan lidahnya mengeja kosakata baru setiap malam. Kesepian di sekolah ia sulap menjadi bahan bakar untuk membangun sebuah benteng pertahanan baru dalam dirinya: penguasaan bahasa.

Kemampuan adaptasi yang berdarah-darah itu akhirnya menemui jangkar emosionalnya di dalam rumah. Melalui metode pengasuhan yang melampaui zamannya, sang ibu tidak pernah membiarkan Maudy menjadi robot penghafal nilai. 

Setiap malam, meja makan di rumah mereka berubah menjadi ruang sidang kecil yang demokratis. Setiap kali Maudy meminta sesuatu atau dihadapkan pada sebuah pilihan hidup, sebuah pertanyaan retoris selalu menantangnya: “Mengapa kamu memilih itu? Apa alasan logismu?”Pertanyaan-pertanyaan itu menguliti setiap argumennya, memaksanya berpikir kritis, dan membentuk nalar problem-solving sejak dini. Ia dididik untuk tidak sekadar patuh pada otoritas, melainkan bertanggung jawab atas setiap inci keputusan yang ia ambil.

Titik balik pencapaiannya pun meledak ke permukaan ketika kedewasaan mulai menyapa. Dunia kemudian mengenal Maudy Ayunda bukan hanya sebagai wajah cantik di layar perak yang mahir berakting dan bernyanyi, melainkan sebagai anomali di industri hiburan tanah air. 

Ketika ia diterima di Universitas Oxford untuk jurusan Philosophy, Politics, and Economics (PPE)—sebuah jurusan bergengsi yang terkenal angker—publik terperangah. Namun bagi Maudy, Oxford hanyalah laboratorium mental berikutnya. Kemampuan adaptasi tingkat tinggi yang ia pelajari saat menangis di kelas dua SD kembali ia gunakan untuk menaklukkan dinginnya tekanan akademis di Inggris. Tak cukup sampai di sana, ia melanjutkan pembuktiannya dengan meraih gelar ganda master dari Universitas Stanford.

Kini, gemuruh ketakutan di masa kecilnya telah menjelma menjadi suara perubahan yang didengar oleh jutaan orang. Di usianya saat ini, Maudy Ayunda telah bergeser dari seorang penjelajah ilmu menjadi seorang pembangun fondasi. Profesi terkininya sebagai aktris, pembicara isu pendidikan, serta investor bagi berbagai startup lokal mencerminkan kontribusi nyatanya bagi lingkungan sekitar. Ia menginvestasikan modal dan energinya untuk mendukung ekosistem kewirausahaan muda dan membuka jalan bagi akses pendidikan yang lebih kritis di Indonesia. 

Ia membagikan filosofi hidupnya yang kokoh: bahwa pendidikan sejati bukanlah tentang seberapa banyak lembar ijazah yang kita kumpulkan, melainkan seberapa lentur kita mampu menekuk ego untuk belajar kembali saat dunia berubah. 

Maudy Ayunda adalah bukti hidup bahwa anak yang adaptif tidak dilahirkan dari kemewahan fasilitas, melainkan ditempa dari disiplin kata, kemandirian rumah, dan keberanian menghadapi ketidakpastian sejak cerita kecilnya dimulai.

Continue Reading

News

Trump-Netanyahu Dikabarkan Bahas Serangan Baru ke Iran

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan membahas kemungkinan melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran di tengah mendekatnya pemilu di kedua negara. Namun, Gedung Putih membantah kedua pemimpin membicarakan dimulainya kembali perang.

Laporan Axios pada Selasa (13/10), yang mengutip dua pejabat AS dan sejumlah sumber lain, menyebut pembahasan itu berlangsung sebelum Trump secara terbuka menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.

Menurut salah satu sumber, Netanyahu menyampaikan informasi intelijen Israel yang mengindikasikan Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya. Upaya tersebut disebut mencakup kemungkinan pengoperasian fasilitas Pickaxe Mountain untuk pengayaan uranium.

Seorang pejabat Gedung Putih membantah laporan bahwa Trump dan Netanyahu membahas dimulainya kembali perang. Pejabat itu menegaskan Trump telah mengesampingkan opsi serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela AS.

Meski demikian, sumber-sumber yang dikutip Axios menyebut militer AS dan Israel tetap siaga serta menuntaskan persiapan jika Trump mengubah kebijakannya.

Seorang pejabat AS menggambarkan sikap Trump sebagai tidak tegas. Menurutnya, Trump meminta Netanyahu tetap bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer, tetapi tidak memberikan komitmen untuk melancarkan serangan.

Laporan tersebut menyebut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan pimpinan Komando Pusat AS (CENTCOM) termasuk pihak yang paling kuat mendukung opsi serangan baru terhadap Iran.

Sebaliknya, sebagian besar penasihat Trump disebut lebih memilih melanjutkan sanksi dan tekanan ekonomi sebagai cara menekan Teheran tanpa membuka kembali konflik bersenjata.

Di pihak Israel, Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Eyal Zamir dilaporkan telah memperingatkan Ketua Dewan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengenai risiko pecahnya pertempuran dalam tiga pekan mendatang.

Menurut laporan itu, Zamir menilai serangan balasan rudal Iran berpotensi memaksa penundaan pemungutan suara di Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober.

Di tengah ketidakpastian arah kebijakan Washington dan Tel Aviv, upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan masih berlangsung. Qatar, yang berperan sebagai mediator, disebut masih menunggu tanggapan Iran atas usulan balasan terbaru dari Amerika Serikat.

Perbedaan pandangan di lingkaran pemerintahan Trump, kesiagaan militer kedua negara, serta belum tuntasnya jalur diplomasi membuat kemungkinan eskalasi tetap menjadi perhatian. Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada kepastian bahwa AS dan Israel akan melancarkan operasi militer baru terhadap Iran.

Continue Reading

News

Jerman Kembali Terpilih Jadi Anggota Dewan HAM PBB

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Jerman dipastikan kembali bergabung dengan Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk periode 2027–2029 setelah meraih 163 suara dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB di New York, menurut laporan media Der Spiegel, Selasa (13/10).

Perolehan tersebut jauh melampaui ambang batas mayoritas yang disyaratkan. Jerman juga tidak menghadapi persaingan ketat untuk kursi yang dialokasikan bagi negara-negara Eropa Barat, karena hanya Jerman dan Irlandia yang mencalonkan diri untuk dua kursi kawasan tersebut.

Dengan hasil itu, Jerman akan kembali menjadi anggota Dewan HAM PBB untuk keenam kalinya sejak badan tersebut dibentuk.

Selain Jerman, anggota Dewan HAM PBB periode 2027–2029 akan mencakup Irlandia, Brasil, Burundi, Republik Dominika, Ghana, Jepang, Kuwait, Yordania, Nepal, Nigeria, Moldova, Ukraina, Uruguay, dan Zambia.

Jerman sebelumnya pernah menduduki kursi Dewan HAM PBB pada periode 2023–2025. Kembalinya negara tersebut ke badan PBB yang beranggotakan negara-negara terpilih itu menandai upaya berkelanjutan Berlin untuk terlibat dalam forum internasional terkait perlindungan hak asasi manusia.

Keberhasilan Jerman di Dewan HAM PBB kontras dengan kegagalannya meraih kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Dalam pemilihan yang digelar Majelis Umum PBB pada 3 Juni untuk periode 2027–2028, Jerman hanya mengantongi 104 suara. Angka tersebut berada di bawah ambang batas dua pertiga suara, atau sedikitnya 127 suara, yang dibutuhkan untuk memenangkan kursi.

Hasil tersebut menjadi pukulan bagi upaya diplomatik Jerman untuk kembali menempati posisi strategis di Dewan Keamanan PBB. Meski demikian, Berlin kini memperoleh kesempatan baru untuk berperan dalam agenda perlindungan dan pemajuan HAM melalui keanggotaannya di Dewan HAM PBB.

Continue Reading

News

Abdul Mu’ti Teratas sebagai Menteri Berkinerja Terbaik Versi Arawicaksa Institute

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman menempati dua posisi teratas dalam survei penilaian menteri Kabinet Merah Putih yang dirilis Arawicaksa Institute menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.

Abdul Mu’ti meraih skor tertinggi, yakni 8,1 dari skala 10, disusul Amran dengan nilai 8,0. Hasil survei tersebut menempatkan keduanya sebagai menteri dengan penilaian paling tinggi di antara 10 nama yang dievaluasi.

Peneliti senior Arawicaksa Institute, Rudi Hartono, mengatakan perhatian publik tertuju pada menteri yang dinilai menghadirkan terobosan dan kebijakan yang berdampak terhadap citra pemerintahan.

“Publik menyoroti kinerja sejumlah menteri dengan gebrakan dan terobosan yang membantu terjaganya citra pemerintahan Prabowo-Gibran,” kata Rudi dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Arawicaksa menilai upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi salah satu faktor yang mengangkat penilaian terhadap Abdul Mu’ti. Program revitalisasi sekolah menjadi sorotan, terutama melalui perluasan sasaran perbaikan fasilitas pendidikan.

Pada 2025, program tersebut menyasar 16.617 sekolah dengan tingkat kerusakan bangunan beragam, dari ringan hingga berat. Pada 2026, pemerintah memperluas target menjadi 71.744 sekolah, termasuk sekolah terdampak bencana dan lembaga pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Mu’ti juga dinilai mendorong penguatan kemampuan dasar siswa. Data yang disampaikan dalam bahan survei menunjukkan skor literasi membaca meningkat dari 359 menjadi 365. Sementara itu, literasi sains mengacu pada standar Programme for International Student Assessment (PISA).

Di bawah Mu’ti, Amran Sulaiman memperoleh skor 8,0. Penilaian tersebut antara lain dikaitkan dengan peningkatan produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada 2025, naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi beras pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, dengan surplus beras tercatat sebesar 3,56 juta ton.

Meski demikian, Rudi mengingatkan bahwa upaya mempertahankan swasembada pangan masih menghadapi sejumlah risiko. Potensi kemarau panjang, fenomena El Niño, bencana alam, serta kebakaran hutan dan lahan dapat mengganggu produksi dan pasokan pangan nasional.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menempati posisi ketiga dengan skor 7,8. Berikutnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi meraih 7,5, disusul Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dengan skor 7,4.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya berada di posisi keenam dengan nilai 7,1. Rudi menilai Prasetyo berperan dalam menyampaikan sikap dan kebijakan pemerintah kepada publik, termasuk merespons tindakan menteri yang memicu kontroversi. Teddy juga dinilai aktif menjelaskan berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.

Berikut daftar 10 menteri dan pejabat dengan skor tertinggi versi survei Arawicaksa Institute:

  1. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah — 8,1
  2. Amran Sulaiman, Menteri Pertanian — 8,0
  3. Nasaruddin Umar, Menteri Agama — 7,8
  4. Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara — 7,5
  5. Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan — 7,4
  6. Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet — 7,1
  7. Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan — 6,8
  8. Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian — 6,7
  9. Armanatha Nasir, Menteri Luar Negeri — 6,5
  10. Sjaffrie Sjamsoeddin, Menteri Pertahanan — 6,4

Survei dilaksanakan pada 3–8 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan metode multistage random sampling.

Arawicaksa menyebut survei tersebut memiliki margin of error ±2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil ini merupakan gambaran penilaian responden dalam survei, bukan ukuran tunggal kinerja seluruh menteri maupun representasi mutlak pandangan publik.

Continue Reading

News

Toto Sugiri: Pekerja yang Tak Adaptif terhadap AI Berisiko Tergantikan

Adopsi AI bukan sekadar ancaman bagi pekerjaan, melainkan peluang meningkatkan produktivitas yang menuntut kesiapan pekerja dan dunia pendidikan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Direktur Utama PT DCI Indonesia Tbk, Toto Sugiri, mengingatkan pekerja untuk mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pekerjaan sehari-hari. Ia menilai pekerja yang tidak mampu memanfaatkan AI berisiko tergantikan oleh mereka yang lebih adaptif terhadap teknologi. Pesan tersebut menegaskan bahwa kemampuan menggunakan AI semakin relevan dalam menghadapi perubahan dunia kerja.

Toto menyampaikan pandangannya dalam sebuah acara di The Kasablanka Hall, Jakarta, pada 13 Oktober 2026. Ia menekankan perlunya mempersiapkan generasi berikutnya agar mampu menggunakan AI, sembari memberikan ruang transisi bagi tenaga kerja yang saat ini sedang beradaptasi. Perubahan teknologi, menurut perspektif tersebut, tidak cukup dihadapi dengan kekhawatiran, tetapi membutuhkan peningkatan keterampilan secara berkelanjutan.

AI tidak harus dipandang sebagai teknologi yang semata-mata menghilangkan pekerjaan manusia. Dalam banyak konteks, teknologi ini dapat membantu mempercepat pekerjaan, mengolah informasi, dan meningkatkan ketepatan proses. Perubahan dari pembukuan manual menuju perangkat lunak menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi mengubah cara kerja tanpa selalu menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan manusia.

Toto juga menyoroti pentingnya akses terhadap pengetahuan. Ia membandingkan masa ketika mahasiswa harus mengandalkan buku teks dan fotokopi dengan era internet yang memungkinkan akses informasi lebih cepat. AI berpotensi melanjutkan perubahan tersebut dengan membantu manusia memahami informasi, menyusun analisis, dan mengeksplorasi berbagai alternatif penyelesaian masalah.

Namun, manfaat AI tidak muncul secara otomatis. Pengguna tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, serta menentukan apakah hasil yang diberikan AI layak digunakan. Tanpa keterampilan tersebut, AI justru berisiko mempercepat penyebaran kesalahan dan menghasilkan keputusan yang kurang tepat.

Dalam sektor industri, peningkatan produktivitas juga bergantung pada pemilihan alat yang sesuai. Toto mencontohkan pekerjaan pemasangan kabel di proyek pusat data yang masih melibatkan sekitar 15 pekerja secara manual. Penggunaan alat penarik kabel bermotor dinilai dapat membantu pekerjaan menjadi lebih presisi dan efisien. Contoh ini menunjukkan bahwa transformasi teknologi tidak hanya berkaitan dengan AI generatif, tetapi juga pemanfaatan otomasi untuk memperbaiki proses kerja.

Bagi dunia pendidikan Indonesia, pandangan Toto membawa pesan penting. Pembelajaran AI perlu melampaui pengenalan aplikasi dan keterampilan menulis perintah atau prompt. Murid perlu dibekali kemampuan memecahkan masalah, literasi digital, pemahaman data, etika, dan kesadaran terhadap keterbatasan teknologi. Dengan demikian, mereka tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi mampu menilai dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Tantangan berikutnya adalah memastikan proses adaptasi berlangsung secara adil. Perusahaan perlu menyediakan pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap perangkat yang memadai. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu memperluas kesempatan belajar agar kesenjangan keterampilan digital tidak semakin besar. Pekerja yang belum terbiasa menggunakan AI seharusnya mendapatkan kesempatan meningkatkan kompetensi, bukan langsung dianggap tidak relevan.

Pada akhirnya, pesan Toto Sugiri menegaskan bahwa masa depan pekerjaan akan semakin dipengaruhi oleh kemampuan manusia berkolaborasi dengan teknologi. AI memang dapat mengotomatisasi sebagian tugas, tetapi dampaknya terhadap pekerjaan akan berbeda menurut jenis profesi, keterampilan, dan kesiapan organisasi. Karena itu, strategi terbaik bukan sekadar menggunakan AI sebanyak mungkin, melainkan mengetahui kapan teknologi membantu, kapan manusia harus mengambil alih, dan bagaimana memastikan produktivitas berjalan seiring dengan tanggung jawab.

Continue Reading

News

Wajib Halal 18 Oktober 2026, Peluang dan Tantangan bagi UMKM

Kebijakan Wajib Halal Oktober 2026 menjadi langkah pemerintah memperkuat perlindungan konsumen sekaligus meningkatkan daya saing industri halal Indonesia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Pemerintah Indonesia bersiap menerapkan kebijakan Wajib Halal mulai 18 Oktober 2026 untuk memperkuat perlindungan konsumen dan meningkatkan daya saing produk nasional. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem halal yang terpercaya sekaligus memperluas peluang produk Indonesia di pasar domestik dan internasional.

Menurut pemberitaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 10 Oktober 2026, penerapan kebijakan tersebut tetap diarahkan sesuai jadwal, dengan penyesuaian teknis yang mempertimbangkan kesiapan pelaku usaha. Penyesuaian atau penundaan dapat dipertimbangkan bagi perusahaan tertentu yang belum siap memenuhi ketentuan. Namun, cakupan dan mekanisme penerapannya perlu merujuk pada ketentuan resmi pemerintah.

Kementerian Perdagangan juga mendorong peningkatan mutu produk serta kesiapan usaha mikro dan kecil (UMK) agar mampu memenuhi persyaratan pasar. Bagi pelaku usaha, sertifikasi halal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga dapat menjadi nilai tambah untuk membangun kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pemasaran.

Tantangan utama kebijakan ini terletak pada kesiapan UMKM, terutama dalam memenuhi persyaratan administrasi, menyiapkan bahan baku yang sesuai, dan menjalani proses sertifikasi. Keterbatasan biaya, informasi, serta pendampingan dapat menjadi hambatan bagi usaha kecil yang belum memiliki sistem dokumentasi dan pengendalian produk secara memadai.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan dukungan sertifikasi halal, pendampingan usaha, dan penyederhanaan proses berjalan efektif. Kolaborasi antara kementerian, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), lembaga pemeriksa halal, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat juga diperlukan agar pelaku usaha memperoleh informasi yang jelas serta akses layanan yang terjangkau.

Pada akhirnya, keberhasilan Wajib Halal Oktober 2026 tidak hanya ditentukan oleh penerapan aturan pada 18 Oktober, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah dan pelaku usaha membangun sistem halal yang berkelanjutan. Jika dilaksanakan dengan dukungan yang memadai, kebijakan ini berpotensi memperkuat kepercayaan konsumen, mendorong pertumbuhan ekonomi syariah, dan meningkatkan posisi produk Indonesia dalam persaingan industri halal global.

Continue Reading

News

Mendikdasmen: Pengawas Sekolah Harus Jadi Mitra Guru

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pengawas sekolah harus mengambil peran lebih besar dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tak cukup hanya menjalankan supervisi, pengawas dituntut menjadi mitra guru dan kepala sekolah untuk memastikan kebijakan pendidikan berdampak nyata bagi murid.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam Rapat Koordinasi Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) di Surabaya, Jawa Timur, Senin (12/10/2026). Ia mendorong pengawas meningkatkan kompetensi agar mampu mendampingi sekolah menghadirkan pembelajaran berkualitas sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

“Pengawas memiliki tugas yaitu melaksanakan supervisi pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurut dia, pengawasan pendidikan perlu ditopang pembagian tugas yang jelas dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan. Dengan begitu, pengawas dapat membantu guru dan kepala sekolah menerapkan kebijakan baru secara efektif, termasuk pembelajaran mendalam (deep learning) serta pengenalan koding dan kecerdasan buatan (AI).

Abdul Mu’ti menekankan, peningkatan kapasitas tidak boleh hanya menyasar guru dan kepala sekolah. Pengawas juga perlu mendapatkan pelatihan agar memahami arah kebijakan pendidikan dan mampu memberikan pendampingan yang tepat.

“Oleh karena itu, kita berusaha mengejar itu dengan melatih para guru dan tentu saja juga melatih para kepala sekolah dan pada waktunya nanti juga melatih para pengawas,” katanya.

Dalam penerapan pembelajaran mendalam, pengawas diharapkan mampu mendorong sekolah mengubah pendekatan belajar yang selama ini berorientasi pada penyampaian materi. Pembelajaran perlu diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai, serta kemampuan berpikir murid secara menyeluruh.

Sementara itu, koding dan AI diperkenalkan sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas V sekolah dasar hingga jenjang pendidikan menengah. Pengawas berperan memastikan kesiapan sekolah, termasuk kompetensi guru dan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.

Abdul Mu’ti mengingatkan, penggunaan AI harus berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan etika. Teknologi seharusnya mendukung pembelajaran, bukan menggantikan kemampuan murid untuk mengolah informasi dan mengembangkan gagasan secara mandiri.

Selain mendorong pembelajaran berkualitas, Kemendikdasmen menempatkan keamanan dan kenyamanan sekolah sebagai perhatian utama. Pengawas diminta ikut memperkuat pencegahan perundungan dan kekerasan serta memastikan layanan bimbingan dan konseling berjalan optimal.

“Kita ingin bangun relasi itu. Sehingga dengan budaya sekolah yang aman dan nyaman itu, kita ingin menjadikan sekolah sebagai rumah bagi anak-anak kita,” jelas Abdul Mu’ti.

Ia juga menegaskan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bukan penentu kelulusan murid. Hasil tes tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi capaian pembelajaran dan memetakan aspek yang perlu diperbaiki. Adapun keputusan kelulusan tetap menjadi kewenangan guru dan satuan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Abdul Mu’ti turut meminta pengawas memastikan berbagai program pendidikan berjalan sesuai tujuan, termasuk pemanfaatan papan interaktif digital dan pelaksanaan kegiatan Pagi Ceria.

Kegiatan Pagi Ceria meliputi Senam Anak Indonesia Hebat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan berdoa bersama untuk membangun kebiasaan positif di lingkungan sekolah.

“Berbagai kebijakan harus terlaksana. Terutama memang yang menyangkut berbagai macam yang berkaitan dengan peningkatan mutu. Nah pengawas sekolah harus jadi pengawas yang hadir,” tegasnya.

Penguatan peran pengawas diharapkan membuat kebijakan pendidikan tidak berhenti pada aturan administratif, tetapi benar-benar diterapkan di ruang kelas. Melalui pendampingan yang aktif dan kompetensi yang terus ditingkatkan, Kemendikdasmen menargetkan sekolah mampu memberikan pembelajaran bermutu sekaligus mendukung perkembangan murid secara menyeluruh.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Continue Reading

News

Kapolri Suyudi Perintahkan Perangi Narkoba, Bandar Diburu

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memerintahkan seluruh jajaran Polri memperkuat pemberantasan peredaran narkotika di Indonesia. Ia menegaskan, penindakan harus dilakukan lebih masif dan berkelanjutan untuk mempersempit ruang gerak bandar serta melindungi masyarakat dari bahaya narkoba.

“Saya ingin membersihkan Indonesia dari peredaran narkoba yang sekarang sudah semakin masif. Kita harus lebih masif dalam bertindak,” ujar Suyudi dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026).

Suyudi menekankan, pemberantasan narkotika tidak bisa hanya mengandalkan kepolisian. Menurut dia, keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk mencegah peredaran narkoba sekaligus memutus jaringan distribusinya hingga ke tingkat daerah.

“Pemberantasan narkoba tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kerja sama seluruh pihak agar peredaran narkotika dapat dicegah dan ruang gerak bandar semakin terbatas,” katanya.

Dalam arahannya, Suyudi meminta jajarannya membedakan penanganan hukum terhadap pengguna narkotika dengan bandar dan pengedar. Pengguna yang memenuhi ketentuan diarahkan menjalani rehabilitasi, sedangkan bandar serta pengedar harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemberantasan narkoba yang tidak hanya mengandalkan penindakan, tetapi juga pencegahan dan pemulihan bagi pengguna yang memenuhi persyaratan.

Suyudi juga menekankan pentingnya semangat Polisi Bersama Masyarakat. Ia mengajak warga berperan aktif mencegah peredaran narkotika dan menjaga lingkungan agar tidak dimanfaatkan sebagai lokasi transaksi maupun distribusi barang terlarang.

Polri, lanjut Suyudi, akan memperkuat koordinasi lintas lembaga untuk membongkar jaringan narkotika, termasuk menelusuri pemasok dan pihak-pihak yang berada di balik peredarannya.

Menurut dia, kombinasi penegakan hukum, pencegahan, rehabilitasi, dan partisipasi masyarakat diperlukan agar pemberantasan narkoba berjalan konsisten serta menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Sebelumnya, Polri telah menggencarkan operasi terpadu di sejumlah wilayah Indonesia. Penindakan menyasar kawasan yang diduga menjadi pusat peredaran narkotika, mulai dari Jakarta, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan hingga sejumlah wilayah di Sulawesi dan Kalimantan.

Perintah terbaru Kapolri tersebut menegaskan bahwa pemberantasan narkoba menjadi agenda berkelanjutan Polri, dengan bandar dan jaringan pemasok sebagai sasaran utama penindakan.

Continue Reading

News

Mengintip Pola Asuh Masa Kecil Peraih Nobel Matematika, Jacob Tsimerman

Ma'ruf Mutaqin

Published

on

CERITA KECIL Jacob Tsimerman bukanlah sebuah roman picisan tentang keberuntungan atau keajaiban yang jatuh dari langit, melainkan sebuah manifertasi dari dedikasi mutlak dan ketangguhan menghadapi kegagalan.

Sebelum namanya diukir dengan tinta emas di atas plakat Fields Medal 2026 (Hadiah Nobel Matematika), ia hanyalah seorang bocah laki-laki biasa yang kerap terasing di hadapan deretan angka.

Kelahirannya di sebuah sudut sunyi tidak serta merta melahirkannya sebagai seorang anak ajaib yang memegang tongkat sihir kejeniusan. Sebaliknya, masa lalunya adalah sebuah laboratorium mental yang bising, penuh dengan coretan kegagalan, kebingungan, dan keputusan-keputusan besar yang mempertaruhkan kenyamanan sebuah keluarga demi sebuah obsesi yang saat itu belum memiliki nama.

Lahir dari keluarga imigran dengan latar belakang akademis yang sederhana, garis hidup Jacob berubah haluan secara ekstrem ketika ia baru menginjak usia 8 tahun. Ayahnya, seorang ilmuwan komputer yang pendiam, dan ibunya, seorang guru matematika sekolah menengah, melihat percikan yang tak biasa pada diri sang putra.

Sang ayah merasa jika potensi Jacob tidak akan tergali jika tetap berapa di tanah kelahirannya di Kazan, Rusia. Karena itu mereka pun mulai berkelana. Dari Rusia, ke Israel, lalu ke Toronto, Kanada. Jacob harus mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas.

Namun di Toronto, Kanada, tanah baru tempat mereka menancapkan akar kehidupan, Jacob tidak langsung menemukan karpet merah. Ia adalah anak imigran yang harus beradaptasi dengan dinginnya angin Amerika Utara, bahasa yang asing di lidah, dan lingkungan yang menuntutnya untuk memiliki kulit tebal agar tidak tergilas kerasnya persaingan.

Rumah mereka tidak dipenuhi kemewahan materi, melainkan tumpukan buku-buku teks tua pemberian sang ibu, yang menjadi satu-satunya jendela Jacob untuk melarikan diri dari kesepian masa kecilnya.

Titik nadir hidup Jacob kecil terjadi pada sebuah malam yang dingin saat ia menginjak usia dua belas tahun, sebuah fase ketika harga diri seorang anak laki-laki berada di titik paling rapuh. Ia baru saja pulang dari sebuah kompetisi matematika regional pertamanya di Kanada dengan kepala tertunduk. Ia gagal total. 

Lembar soal geometri sore itu berubah menjadi monster yang mencabik-cabik kepercayaan dirinya. Bagi anak-anak lain, kekalahan memalukan seperti itu akan menjadi alasan yang cukup untuk mengunci buku dan melupakan matematika selamanya. Namun, di dalam kepala Jacob, yang bergemuruh bukanlah ratapan pasrah, melainkan sebuah pemberontakan batin. Jiwanya yang anti-rapuh menolak untuk takluk pada rasa malu.

Malam itu, ketika seluruh kota telah terlelap dan lampu-lampu rumah mulai dipadamkan, kamar Jacob menjelma menjadi medan pertempuran yang sunyi. Selama enam jam nonstop, tanpa jeda dan tanpa keluhan, bocah dua belas tahun itu memaku tubuhnya di atas kursi. 

Dengan jemari yang gemetar memegang pensil, ia memeras otaknya hanya untuk menyelesaikan satu soal geometri tunggal yang telah menumbangkannya di ruang lomba. Keringat dingin menetes di atas kertas yang robek oleh hapusan yang berulang-ulang. Di sanalah, dalam kesendirian yang mencekam itu, Jacob menemukan karakter besinya.

Ketika jam dinding berdentang subuh dan solusi rumit itu akhirnya terpecahkan, ia tidak hanya menemukan jawaban matematika; ia menemukan takdirnya. Ia jatuh cinta pada rasa sakit proses memecahkan teka-teki.

Di balik keteguhan yang nyaris keras kepala itu, Jacob tidak berjalan sendirian. Ia beruntung memiliki jangkar emosional yang luar biasa kuat dalam diri kedua orang tuanya. Sang ibu dengan jeli mendidik Jacob menggunakan metode teka-teki logika kontekstual sejak usia tiga tahun, membangun fondasi berpikir tanpa pernah sekalipun memberikan tekanan untuk menjadi yang nomor satu. 

Sementara sang ayah menjadi pelindung yang paling setia. Cerita yang kerap ditulis tentang masa kecil Jacob selalu menyertakan bayang-bayang sang ayah yang berdiri di luar ruang ujian yang dingin selama berjam-jam, membawa roti lapis daging sapi sederhana demi menjaga energi sang anak tetap menyala. Kehadiran orang tuanya yang suportif, yang memberikan autonomi penuh tanpa tuntutan ambisius, menjadi bahan bakar utama yang membuat mentalitas Jacob tetap sehat di tengah lingkungan kompetisi yang bertekanan tinggi.

Pengorbanan dan latihan spartan selama lima jam sehari pasca-tragedi kelas tujuh itu akhirnya mulai menampakkan hasil yang spektakuler. Di usia lima belas tahun, Jacob berhasil menyabet medali emas di International Mathematical Olympiad (IMO) 2003 di Tokyo, disusul dengan raihan nilai sempurna (Perfect Score) pada tahun berikutnya di Athena. 

Gerbang pendidikan tinggi terbuka lebar saat ia baru berusia enam belas tahun, melompati batas usia normal demi menuntaskan gelar sarjananya di University of Toronto hanya dalam waktu dua tahun. Dunia mulai menyadari bahwa bocah yang dulu terduduk lesu di depan lembar soal geometri telah menjelma menjadi raksasa baru di panggung sains internasional.

Kini, setelah berhasil membawa pulang Fields Medal 2026 ke institusi Kanada untuk pertama kalinya dalam sejarah,Jacob Tsimerman tidak silau oleh lampu sorot panggung penghargaan. Kontribusi nyatanya kini didekasikan sepenuhnya untuk melatih dan menginspirasi generasi muda di universitas, meruntuhkan dogma bahwa matematika adalah momok yang menakutkan. 

Filosofi hidupnya tetap sama sejak ia berusia dua belas tahun: bahwa kejeniusan sejati tidak diukur dari seberapa cepat seseorang menemukan jawaban, melainkan dari seberapa lama ia mampu bertahan dalam kegelapan ketidaktahuan sebelum akhirnya menemukan cahaya kebenaran. Jacob adalah bukti hidup bahwa sebuah kegagalan di masa kecil, jika disambut dengan ketekunan yang membaja, mampu melahirkan seorang legenda dunia.

Continue Reading

News

Kepala Bakom: Gibran Tak Bisa Dimakzulkan Buntut Putusan MK

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, Syahganda Nainggolan, menegaskan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak bisa dimakzulkan hanya karena putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait keabsahan dokumen pendidikan sebagai syarat pencalonannya pada Pilpres 2024.

Syahganda mengatakan pemerintah menghormati putusan MK sebagai lembaga yudikatif. Menurut dia, pemerintah yang berada di ranah eksekutif harus menghormati kewenangan lembaga peradilan dalam menjalankan tugasnya.

“Yang paling penting kan kita menghormati, sebagai eksekutif menghormati yudikatif ya dan itu kekuasaan yudikatif sudah jelas bahwa tidak bisa di-impeach, ya kan. Dari pasangan Bapak Presiden maupun Bapak Wakil Presiden,” kata Syahganda di Kantor Lemhannas, Jakarta, Sabtu (10/10).

Ia menyebut pemerintah masih memantau perkembangan polemik tersebut. Syahganda juga membuka kemungkinan persoalan ini berlanjut melalui jalur politik maupun proses hukum lain, meski tidak merinci mekanisme yang dimaksud.

“Terkait tadi ke mana alurnya, ini kan kita masih melihat kan. Itu alurnya kan bisa ke politik, bisa ke kemudian ke hukum lainnya, dan lain-lain,” ujarnya.

Di tengah polemik putusan MK, Syahganda turut menyayangkan tindakan seorang anggota DPRD di daerah yang menurunkan foto Gibran setelah putusan dibacakan.

Menurut dia, Gibran masih menjabat sebagai wakil presiden sehingga tindakan tersebut dinilai tidak pantas dilakukan oleh pejabat publik.

“Kalau yang turunin foto misalkan tukang becak di pinggir jalan sih enggak ada masalah ya kan, tapi kalau anggota DPRD dia kan makan dari gaji negara,” ucapnya.

Sebelumnya, MK memutus perkara yang mempersoalkan keabsahan dokumen pendidikan Gibran sebagai persyaratan pencalonan wakil presiden pada Pilpres 2024.

Dalam persidangan, pemohon Denny Indrayana mempersoalkan dokumen yang digunakan sebagai syarat pencalonan Gibran. Ia menjelaskan bahwa dokumen tersebut berupa surat keterangan penyetaraan dari Kementerian Pendidikan, bukan bukti kelulusan berupa ijazah.

Dalam putusannya, MK menyatakan tidak dapat menerima gugatan tersebut karena para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan.

Namun, perhatian publik tertuju pada pertimbangan hakim yang menyebut MK tidak menemukan dokumen yang menunjukkan Gibran memiliki ijazah sebagai bukti telah menamatkan pendidikan di luar negeri yang setara dengan SMA atau sederajat.

Dalam pertimbangan yang dibacakan hakim konstitusi Adies Kadir, MK menegaskan bahwa Gibran secara faktual bukan lagi berstatus sebagai calon wakil presiden. Persoalan mengenai bukti ijazah pendidikan setara SMA tersebut dinilai menjadi ranah lembaga lain yang memiliki kewenangan berdasarkan UUD 1945.

Dengan demikian, putusan MK itu tidak menerima gugatan yang diajukan para pemohon, bukan memutus pembatalan jabatan Gibran sebagai wakil presiden.

Terpisah, Gibran menyatakan menghormati seluruh tahapan dan proses hukum yang berlangsung di MK. Ia menegaskan akan tetap menjalankan tugasnya sebagai wakil presiden.

“Kita hormati seluruh tahapan-tahapan dan proses-proses yang ada di MK. Yang paling penting sekarang, saya akan terus fokus bekerja untuk masyarakat dan mensukseskan visi-misi dan program dari Bapak Presiden selaku pimpinan kami,” kata Gibran kepada wartawan, Rabu (7/10).

Polemik dokumen pendidikan Gibran pun masih menjadi perhatian publik. Namun, putusan MK dalam perkara tersebut berfokus pada kedudukan hukum para pemohon dan tidak dengan sendirinya mengubah status Gibran sebagai wakil presiden.

Continue Reading
News2 jam ago

Menempa Besi di Ruang Sunyi: Cetak Biru Pola Asuh yang Membentuk Maudy Ayunda

LakeyBanget2 jam ago

Cegah Dualisme Kepengurusan Organisasi Kepemudaan, Menpora Erick Dorong Transparansi

News3 jam ago

Trump-Netanyahu Dikabarkan Bahas Serangan Baru ke Iran

News3 jam ago

Jerman Kembali Terpilih Jadi Anggota Dewan HAM PBB

News4 jam ago

Abdul Mu’ti Teratas sebagai Menteri Berkinerja Terbaik Versi Arawicaksa Institute

LakeyBanget4 jam ago

Debut di Liga Champions, Calvin Verdonk Cetak Sejarah

News7 jam ago

Toto Sugiri: Pekerja yang Tak Adaptif terhadap AI Berisiko Tergantikan

News7 jam ago

Wajib Halal 18 Oktober 2026, Peluang dan Tantangan bagi UMKM

Review7 jam ago

OpenAI dan Anthropic Berdebat soal Transparansi Keamanan AI

LakeyBanget16 jam ago

Timteng Tak Kondusif, PSSI Siapkan Lawan Alternatif Timnas Indonesia

News16 jam ago

Mendikdasmen: Pengawas Sekolah Harus Jadi Mitra Guru

News17 jam ago

Kapolri Suyudi Perintahkan Perangi Narkoba, Bandar Diburu

News19 jam ago

Mengintip Pola Asuh Masa Kecil Peraih Nobel Matematika, Jacob Tsimerman

News22 jam ago

Kepala Bakom: Gibran Tak Bisa Dimakzulkan Buntut Putusan MK

News22 jam ago

BSU 2026 Rp900 Segera Cair, Baca Syaratnya

News23 jam ago

Siswa SMAN 1 Taman Sulap Rumus Matematika Jadi Batik Berbasis AI

Review1 hari ago

Strategi Mobil Listrik Jepang Menjaga Industri

LakeyBanget1 hari ago

FFI 2026 Umumkan Nominasi Piala Citra, 5 Film Berebut Gelar Terbaik

LakeyBanget1 hari ago

Jadwal Liga Champions: MU Tantang Atletico, Man City Hadapi PSG

LakeyBanget1 hari ago

Nilai Pasar Pemain Melonjak Usai Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026