Connect with us

Ruang Sujud

Jabal Magnet: Bukit Ajaib di Madinah yang Bikin Mobil Jalan Sendiri

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Pernah dengar Jabal Magnet di Madinah? Destinasi unik ini sering disebut sebagai “bukit magnet” karena konon mobil bisa bergerak sendiri tanpa sopir saat berada di jalur tertentu. Fenomena ini membuat banyak jamaah umrah dan wisatawan penasaran—sekali datang, rasanya ingin membuktikan langsung.

Lokasi dan Daya Tarik Jabal Magnet

Jabal Magnet berada di kawasan bukit tandus sekitar 60 km dari Kota Madinah, tepat di tengah padang pasir. Sekilas tampak biasa. Namun, begitu kendaraan diposisikan di titik tertentu, mobil seolah “meluncur” sendiri menuju bukit. Sensasi inilah yang jadi magnet—secara harfiah maupun viral—bagi pengunjung.

Tak hanya itu, jarum kompas kerap tidak stabil di area ini. Kompas bisa berputar tanpa arah jelas, yang makin menambah kesan misterius tempat ini.

Dari Lembah Jin ke Destinasi Wisata

Nama asli Jabal Magnet adalah Manthiqa Baidha (Perkampungan Putih). Dahulu kawasan ini dikenal sebagai Lembah Jin. Konon, para pengembara Badui yang pertama kali menyaksikan mobil bergerak sendiri mengira ada gangguan makhluk gaib.

Seiring meningkatnya minat wisatawan, pemerintah Arab Saudi menata area ini dengan jalur khusus agar pengunjung bisa merasakan fenomena tersebut dengan aman. Bahkan tersedia area tenda bagi yang ingin singgah atau bermalam di sekitar lokasi.

Penjelasan Ilmiah di Balik Fenomena

Secara ilmiah, Madinah berdiri di atas Arabian Shield, formasi geologi berusia sekitar 700 juta tahun. Kawasan ini merupakan endapan lava luas (±180.000 km²) yang terhubung dengan zona rengkahan vulkanik panjang.

Rengkahan ini membentuk sabuk vulkanik yang dikenal sebagai Makkah–Madinah–Nufud. Kondisi geologi tersebut diduga memengaruhi persepsi kemiringan dan medan lokal—menciptakan ilusi optik yang membuat kendaraan tampak bergerak “melawan arah”.

Beberapa literatur berbagai literatur dan kajian ilmiah lain menyebut, bahwa Jabal Magnet Madinah tidak memiliki magnet alami raksasa. Fenomena yang kerap dianggap “ajaib” tersebut lebih tepat dijelaskan sebagai gravity hill atau ilusi optik, ketika mata dan otak manusia keliru membaca kemiringan jalan. Lanskap gurun yang luas, minim pepohonan, serta ketiadaan patokan visual seperti bangunan dan garis horizon yang jelas membuat jalan yang sebenarnya sedikit menurun tampak seperti menanjak, sehingga kendaraan yang bergerak mengikuti gravitasi terlihat seolah-olah melaju sendiri melawan arah (Goldstein, 2014).

Di luar sensasi dan sains, kunjungan ke Jabal Magnet sering mengajak kita merenung: alam menyimpan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta. Fenomena yang tampak “ajaib” ini mengingatkan untuk tetap rendah hati, bersyukur, dan kagum pada keteraturan ciptaan-Nya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Indonesia Perkuat Inisiatif B57+ untuk Ekonomi Halal Global

Inisiatif B57+ didorong sebagai platform strategis untuk memperkuat konektivitas perdagangan dan investasi ekonomi syariah antarnegara Islam.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indonesia memperkuat inisiatif B57+ sebagai langkah strategis memperdalam integrasi ekonomi halal global. Upaya ini ditegaskan dalam gelaran Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan investor dari berbagai negara Islam.

Inisiatif B57+ dirancang sebagai platform kerja sama perdagangan dan investasi bagi negara-negara Islam, khususnya di kawasan Asia-Pasifik dan sekitarnya. Melalui forum ini, Indonesia mendorong terciptanya konektivitas pasar, harmonisasi kebijakan, serta kolaborasi bisnis lintas negara berbasis prinsip syariah.

Pemerintah menilai B57+ dapat menjadi pengungkit penting dalam memperluas akses pasar produk halal, memperkuat rantai pasok global, serta meningkatkan arus investasi syariah. Fokus kerja sama mencakup sektor keuangan syariah, industri halal, logistik, pariwisata ramah muslim, hingga ekonomi digital Islam.

Dalam IES 2026, para pelaku usaha menyambut positif inisiatif tersebut karena dinilai mampu menjembatani kesenjangan antarnegara Islam dalam hal standar, pembiayaan, dan akses pasar. B57+ juga dipandang sebagai ruang dialog strategis antara pemerintah dan sektor swasta.

Indonesia memosisikan diri sebagai fasilitator utama dalam inisiatif ini, memanfaatkan kekuatan pasar domestik, stabilitas ekonomi, serta pengalaman dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah nasional. Peran ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi Islam global.

Menurut pemberitaan media ekonomi nasional yang meliput Indonesia Economic Summit 2026, penguatan B57+ menjadi salah satu agenda utama Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi halal dunia yang lebih inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Continue Reading

News

Indonesia Dorong Integrasi Pasar Ekonomi Islam Global & Investasi Halal

Indonesia memperkuat langkah integrasi ekonomi Islam dunia dengan mendorong arus investasi halal dan memperluas kepercayaan investor global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indonesia aktif mendorong integrasi pasar ekonomi Islam global dengan memperkuat ekosistem investasi halal nasional. Upaya ini ditujukan untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama investasi syariah dunia sekaligus simpul penting perdagangan ekonomi Islam lintas negara.

Dorongan tersebut terlihat dari capaian transaksi investasi halal sepanjang 2023 yang mencapai sekitar 40 transaksi dengan nilai total USD 1,6 miliar. Angka ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap stabilitas, regulasi, dan potensi pasar ekonomi syariah di Indonesia.

Pemerintah menilai integrasi pasar ekonomi Islam global menjadi kebutuhan strategis di tengah pertumbuhan populasi Muslim dunia dan meningkatnya permintaan produk serta jasa halal. Indonesia memposisikan diri bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai produsen dan pusat distribusi dalam rantai nilai halal global.

Selain memperkuat regulasi dan insentif investasi, Indonesia juga mendorong kolaborasi lintas negara Islam melalui berbagai forum ekonomi internasional. Kerja sama ini mencakup sektor keuangan syariah, industri halal, logistik, hingga pengembangan sumber daya manusia ekonomi Islam.

Langkah tersebut sejalan dengan visi jangka menengah pemerintah untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional berbasis nilai-nilai syariah yang inklusif dan berkelanjutan. Integrasi pasar dinilai mampu membuka akses pembiayaan lebih luas serta mempercepat pertumbuhan usaha halal domestik.

Menurut laporan dan data pemerintah yang dirujuk oleh KNEKS dan Kementerian Investasi, penguatan integrasi pasar ekonomi Islam global menjadi fondasi penting agar Indonesia mampu berperan sebagai pemain utama dalam peta ekonomi syariah dunia.

Continue Reading

Ruang Sujud

Masjid dan Pertumbuhan Jumlah Muslim di Eropa Barat

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Di tengah hiruk-pikuk kota-kota besar Eropa Barat, berdirilah masjid-masjid baru yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan komunitas Muslim Albania membangun identitasnya jauh dari tanah kelahiran. Dari Swiss hingga Jerman, dari Austria hingga Italia, komunitas ini perlahan, tapi pasti, meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar bangunan fisik: jejak solidaritas, tradisi, dan kepercayaan.

Bagi banyak keluarga Albania di luar negeri, masjid bukan sekadar menara dan kubah. Ia adalah ruang di mana anak-anak belajar bahasa dan ajaran agama, di mana orang tua berkumpul membahas kehidupan dan saling menopang, dan di mana generasi muda menemukan akar identitas mereka di tengah lingkungan yang asing. Pembangunan masjid-masjid ini dijalankan dengan hati-hati, terencana, dan penuh kesabaran, sebuah cerminan ketekunan komunitas yang ingin melestarikan nilai-nilai mereka tanpa menimbulkan gesekan sosial.

Proses ini bukanlah pekerjaan individu. Setiap proyek masjid adalah kerja kolektif yang melibatkan imam, pengurus komunitas, dan sukarelawan dari Albania maupun Balkan Barat. Mereka menggalang dana, merancang program pendidikan, hingga menjalin koordinasi dengan otoritas lokal. Hasilnya adalah bangunan yang bukan hanya menakjubkan secara arsitektur, tetapi juga hidup sebagai pusat kegiatan sosial dan spiritual.

Di balik angka-angka penggalangan dana dan blueprint arsitektur, tersimpan cerita manusia. Ada seorang ibu di Zurich yang setiap minggu menyumbang sebagian kecil dari pendapatannya demi memastikan anak-anaknya bisa belajar Al-Quran di masjid baru. Ada seorang imam di Jerman yang rela menempuh perjalanan berjam-jam demi mengajar generasi muda. Ada pemuda yang mendesain ruang kelas dan perpustakaan di masjid agar bisa menjadi pusat belajar yang nyaman dan inspiratif. Semua kontribusi itu, kecil atau besar, menjadi bagian dari mimpi besar: keberlanjutan komunitas di tanah asing.

Pembangunan masjid ini juga menjawab kebutuhan nyata. Jumlah umat Muslim Albania di Eropa Barat terus bertambah, dan kebutuhan akan fasilitas ibadah yang representatif meningkat. Masjid-masjid baru ini kini menjadi simbol kohesi sosial, membuktikan bahwa komunitas yang terorganisir mampu menjaga identitas dan nilai-nilai spiritual mereka, sambil tetap menyesuaikan diri dengan norma setempat.

Lebih dari sekadar batu dan semen, masjid-masjid ini menegaskan keberadaan komunitas Muslim Albania: kuat dalam solidaritas, kaya dalam tradisi, dan berani menatap masa depan. Mereka membangun lebih dari tempat ibadah—mereka membangun rumah spiritual, pusat pendidikan, dan ruang kebersamaan yang akan dikenang generasi mendatang.

Di balik setiap kubah dan menara, terselip pesan sederhana namun mendalam: di mana pun berada, identitas, keyakinan, dan komunitas bisa tumbuh dengan damai dan berkelanjutan, asalkan ada niat, kerja keras, dan solidaritas yang tulus.

Continue Reading

News

Film Palestina Menang Penghargaan, Namun Terhambat Tembus Pasar Global

Karya sineas Palestina diakui festival dunia, tetapi distribusi internasional masih dibatasi faktor politik dan tekanan industri.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Film-film karya sineas Palestina terus meraih pengakuan di panggung internasional dengan memenangkan dan diputar di berbagai festival film bergengsi. Namun, capaian tersebut belum berbanding lurus dengan akses distribusi global yang luas, terutama di bioskop komersial dan platform streaming arus utama.

Sejumlah sutradara Palestina mengungkapkan bahwa meski film mereka diapresiasi di ajang seperti Cannes Film Festival dan Venice Film Festival, jalan menuju penonton global masih penuh hambatan. Mereka menyebut faktor ketakutan politik, tekanan industri, dan sensitivitas isu Palestina sebagai penyebab utama.

Menurut para pembuat film, banyak distributor dan platform besar memilih bersikap aman dengan tidak mengambil risiko menayangkan film bertema Palestina. Kekhawatiran akan reaksi politik, boikot, atau tekanan dari kelompok tertentu membuat karya-karya tersebut kerap berhenti di lingkaran festival saja.

Situasi ini dinilai ironis, mengingat film-film tersebut sering kali mengangkat isu kemanusiaan universal seperti kehilangan, identitas, dan kehidupan di bawah konflik. Para sineas menegaskan bahwa karya mereka bukan sekadar propaganda politik, melainkan ekspresi artistik dan kesaksian atas realitas hidup sehari-hari rakyat Palestina.

Para pengamat perfilman menilai kondisi ini mencerminkan adanya standar ganda dalam industri hiburan global, di mana kebebasan berekspresi tidak selalu berlaku setara. Mereka mendorong adanya ruang yang lebih adil bagi film-film dari wilayah konflik untuk menjangkau audiens internasional.

Meski menghadapi keterbatasan distribusi, para pembuat film Palestina menyatakan akan terus berkarya dan mencari jalur alternatif agar suara mereka tetap terdengar. Mereka berharap keberanian festival-festival internasional dapat diikuti oleh distributor global, sehingga sinema Palestina tidak hanya diakui, tetapi juga ditonton secara luas, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

News

Jam Kiamat Makin Dekat, Dunia Tinggal 85 Detik Menuju Tengah Malam

Para ilmuwan memperingatkan umat manusia kini berada di titik paling berbahaya sepanjang sejarah Jam Kiamat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Para ilmuwan internasional kembali menggeser posisi Jam Kiamat (Doomsday Clock) semakin mendekati tengah malam. Kini, jarum jam tersebut berada di posisi 85 detik menuju tengah malam, jarak terdekat sejak Jam Kiamat pertama kali diperkenalkan hampir 80 tahun lalu.

Pengumuman ini disampaikan oleh Bulletin of the Atomic Scientists, lembaga yang secara rutin menilai tingkat ancaman global terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Penyesuaian waktu ini mencerminkan meningkatnya risiko kehancuran akibat berbagai faktor global yang saling berkaitan.

Menurut para ilmuwan, ancaman utama datang dari eskalasi senjata nuklir, krisis perubahan iklim yang semakin tak terkendali, serta perkembangan kecerdasan buatan yang melaju lebih cepat dibandingkan kemampuan regulasi dan etika global. Selain itu, penyebaran disinformasi juga dinilai memperparah ketidakstabilan politik dan konflik internasional.

Mereka menilai dunia saat ini berada dalam kondisi rapuh, di mana kesalahan perhitungan politik atau teknologi dapat berujung pada konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan. Ketegangan geopolitik antarnegara pemilik senjata nuklir disebut menjadi salah satu faktor paling mengkhawatirkan.

Para ahli menyerukan langkah kolektif global yang lebih serius, termasuk penguatan diplomasi, pengendalian senjata, komitmen nyata terhadap penanganan krisis iklim, serta tata kelola kecerdasan buatan yang bertanggung jawab. Tanpa upaya bersama, peringatan Jam Kiamat ini dikhawatirkan bukan lagi sekadar simbol, melainkan gambaran nyata masa depan umat manusia, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

News

Fikih Umrah Berkemajuan, Menjaga Kesahihan Ibadah di Tengah Praktik Massal

Fikih umrah berkemajuan menegaskan keseimbangan antara ketepatan syariat dan kemaslahatan jemaah di tengah meningkatnya praktik umrah massal.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Umrah merupakan ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam, meskipun tidak termasuk rukun Islam seperti haji. Dalam praktiknya, umrah menjadi ibadah yang semakin diminati umat Islam Indonesia, bahkan sering dilakukan lebih dari sekali. Fenomena ini menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait pemahaman fikih umrah agar ibadah tidak hanya sah secara ritual, tetapi juga selaras dengan tujuan syariat.

Secara fikih, umrah memiliki ketentuan yang relatif lebih ringkas dibandingkan haji, namun tetap mensyaratkan pemahaman yang tepat. Fikih umrah membahas syarat, rukun, wajib, serta larangan selama ihram. Rukun umrah meliputi ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul. Keempat rukun ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditinggalkan. Dalam pandangan Manhaj Tarjih Muhammadiyah, ketepatan dalam melaksanakan rukun menjadi fondasi utama kesahihan ibadah.

Dari aspek what (apa), fikih umrah berfungsi sebagai panduan normatif agar setiap rangkaian ibadah dilakukan sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Ihram bukan sekadar mengenakan pakaian tertentu, tetapi juga memasuki keadaan spiritual yang menuntut pengendalian diri. Tawaf, sa’i, dan tahallul memiliki makna simbolik yang menegaskan ketaatan dan ketundukan manusia kepada Allah SWT.

Dilihat dari who (siapa), umrah dapat dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Tidak adanya batasan waktu tertentu seperti haji menjadikan umrah lebih fleksibel. Namun fleksibilitas ini sering kali disalahpahami sebagai kelonggaran tanpa batas. Menurut Muhammadiyah.or.id, pembimbing ibadah memiliki peran penting dalam meluruskan pemahaman jemaah agar tidak terjebak pada praktik yang kurang tepat, seperti mengabaikan larangan ihram atau memaksakan ibadah di luar kemampuan fisik.

Aspek where (di mana) dalam fikih umrah menegaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah hanya sah dilakukan di Masjidil Haram dan tempat-tempat terkait, dengan memulai ihram dari miqat yang telah ditentukan. Kesalahan dalam menentukan miqat atau ketidaktahuan tentang ketentuannya dapat berimplikasi pada kewajiban dam. Oleh karena itu, pemahaman fikih umrah yang aplikatif menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi jemaah pemula.

Sementara itu, umrah dapat dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada waktu-waktu tertentu yang diperselisihkan ulama. Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah, umrah dipandang sah dilakukan kapan saja, termasuk pada bulan-bulan haji, selama memenuhi ketentuan syariat. Pandangan ini menunjukkan fleksibilitas fikih yang tetap berlandaskan dalil yang kuat.

Fikih umrah perlu ditegaskan kembali muncul dari realitas umrah massal yang kerap berorientasi pada kuantitas. Tidak sedikit jemaah yang menunaikan umrah berulang kali, tetapi kurang memperhatikan nilai-nilai etik dan sosial yang terkandung di dalamnya. Menurut Republika, tantangan utama umrah saat ini bukan pada akses, melainkan pada kualitas pemahaman ibadah.

Dalam konteks how (bagaimana), fikih umrah berkemajuan menekankan prinsip kemudahan dan penghilangan kesulitan tanpa mengabaikan kesahihan. Penggunaan alat bantu, pengaturan waktu tawaf untuk menghindari kepadatan, hingga pelaksanaan sa’i dengan kursi roda dipandang sah selama memenuhi syarat fikih. Prinsip رفع الحرج menjadi landasan utama dalam menghadapi kondisi jemaah yang beragam.

Lebih jauh, fikih umrah juga menuntut refleksi pasca-ibadah. Umrah tidak berhenti pada selesainya tahallul, tetapi harus berdampak pada akhlak dan kehidupan sosial jemaah. Ibadah ini seharusnya melahirkan sikap tawaduk, kepedulian sosial, dan kesadaran spiritual yang lebih kuat. Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, nilai inilah yang menjadi esensi umrah yang diterima Allah SWT.

Dengan pendekatan fikih yang berkemajuan, umrah tidak sekadar menjadi ritual berulang, tetapi sarana pembinaan spiritual yang berkelanjutan. Fikih umrah hadir sebagai penuntun agar ibadah ini tetap bermakna, sah secara syariat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Continue Reading

News

CAIR Kecam Penetapan Kelompok Muslim sebagai Teroris oleh Pemerintahan Trump

Koalisi organisasi sipil menilai kebijakan tersebut melanggar konstitusi dan mengancam kebebasan sipil umat Muslim di Amerika Serikat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Koalisi pakar hukum dan organisasi masyarakat sipil mengecam keputusan pemerintahan Donald Trump yang menetapkan sejumlah kelompok Muslim yang dikaitkan dengan Muslim Brotherhood sebagai organisasi teroris. Kebijakan ini dinilai berpotensi melanggar konstitusi Amerika Serikat dan merusak prinsip kebebasan sipil.

Menurut Council on American-Islamic Relations (CAIR), penetapan tersebut dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas dan mengabaikan fakta bahwa Muslim Brotherhood bukanlah satu organisasi tunggal, melainkan jaringan longgar dengan konteks dan aktivitas yang berbeda di setiap negara.

CAIR menegaskan bahwa kebijakan ini berisiko memperluas praktik profiling terhadap warga Muslim di Amerika Serikat. Mereka menilai pelabelan teroris berbasis afiliasi ideologis dapat membuka jalan bagi pengawasan berlebihan, pembatasan kebebasan berekspresi, serta kriminalisasi aktivitas keagamaan yang sah.

Para pakar hukum yang tergabung dalam koalisi tersebut juga mengingatkan bahwa pendekatan keamanan semacam ini dapat menciptakan preseden berbahaya. Negara, menurut mereka, seharusnya menindak individu atau kelompok berdasarkan tindakan kriminal yang terbukti, bukan pada asumsi ideologis yang bersifat umum.

Kritik ini disampaikan menyusul meningkatnya kekhawatiran komunitas Muslim Amerika terhadap arah kebijakan keamanan nasional yang dinilai semakin politis. CAIR dan organisasi sipil lainnya menyerukan peninjauan ulang kebijakan tersebut agar tetap sejalan dengan prinsip hak asasi manusia dan supremasi hukum, menurut laporan Muslim Network TV.

Continue Reading

Ruang Sujud

Diplomasi Damai Rasulullah SAW, Teladan Hubungan Lintas Iman

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Diplomasi Rasulullah SAW dengan para penguasa non-Muslim menjadi salah satu pilar penting dalam sejarah peradaban Islam. Di tengah realitas politik yang keras dan sarat konflik, Rasulullah justru menampilkan pendekatan diplomasi yang berlandaskan perdamaian, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pendekatan ini tidak hanya membangun stabilitas sosial dan politik, tetapi juga memperlihatkan wajah Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.

Prinsip dasar diplomasi Rasulullah SAW sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menjadi landasan moral bahwa interaksi dengan siapa pun, termasuk non-Muslim, harus mengedepankan kasih sayang dan kemaslahatan bersama.

Salah satu instrumen diplomasi yang digunakan Rasulullah adalah surat-menyurat kepada para penguasa besar dunia. Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Raja Najasyi dari Habasyah, Kaisar Heraklius dari Romawi Timur, serta Muqauqis penguasa Mesir. Isi surat tersebut disampaikan dengan bahasa yang santun, penuh penghormatan, dan tanpa paksaan. Hal ini selaras dengan prinsip dakwah dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125).

Selain diplomasi verbal, Rasulullah SAW juga menegaskan komitmen perdamaian melalui perjanjian tertulis. Piagam Madinah menjadi bukti konkret bagaimana Islam mengatur kehidupan masyarakat multikultural. Dokumen tersebut menjamin hak dan kewajiban yang setara bagi seluruh penduduk Madinah, termasuk komunitas Yahudi. Prinsip keadilan ini sejalan dengan perintah Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah” (QS. An-Nisa: 135).

Perjanjian Hudaibiyah juga mencerminkan kecerdasan diplomasi Rasulullah. Meski dianggap merugikan secara simbolik, gencatan senjata dengan kaum Quraisy justru membuka jalan bagi penyebaran Islam secara luas dan damai. Rasulullah menempatkan stabilitas dan perdamaian di atas ambisi konflik. Dalam hadis riwayat Bukhari, perjanjian ini kemudian terbukti menjadi pintu masuk kemenangan dakwah Islam.

Dalam ranah sosial dan ekonomi, Rasulullah SAW tetap menjalin hubungan muamalah dengan non-Muslim. Beliau melakukan transaksi jual beli dan bahkan menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi. Praktik ini menunjukkan kejujuran dan keadilan dalam interaksi ekonomi lintas iman. Rasulullah bersabda: “Barang siapa menzalimi seorang non-Muslim yang terikat perjanjian, maka aku menjadi lawannya pada hari kiamat” (HR. Abu Dawud).

Sikap penghormatan terhadap keadilan universal juga tampak ketika Rasulullah mengutus para sahabat untuk meminta suaka politik kepada Raja Najasyi di Habasyah. Meski berbeda keyakinan, Najasyi dikenal sebagai penguasa yang adil. Langkah ini menegaskan bahwa Islam mengakui dan menghormati keadilan di luar komunitas Muslim.

Secara keseluruhan, diplomasi Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perbedaan akidah bukanlah penghalang interaksi sosial dan politik. Dengan menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, dan komitmen kemanusiaan, Rasulullah mewariskan teladan diplomasi yang relevan sepanjang zaman, terutama dalam membangun harmoni di tengah masyarakat global yang majemuk.

Continue Reading

Ruang Sujud

3 Pelaut Muslim Dikenang Sepanjang Masa

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Ruang Sujud kali ini akan membahas 3 pelaut Muslim tangguh yang kiprahnya tercatat dalam sejarah maritim dunia dan dikenang sepanjang masa. Ketiga tokoh ini dikenal tidak hanya karena kemampuan mengarungi samudra luas, tetapi juga karena kontribusi mereka dalam pengembangan ilmu navigasi, diplomasi lintas budaya, serta penyebaran nilai-nilai perdamaian melalui jalur laut.

Dalam sejarah peradaban Islam, pelayaran bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan interaksi antarbangsa. Para pelaut Muslim pada masa lalu menguasai astronomi, geografi, dan teknologi navigasi yang memungkinkan mereka menjelajah wilayah yang sangat luas dengan tingkat ketepatan tinggi. Penggunaan astrolab, kompas, serta pemahaman mendalam tentang angin dan arus laut menjadi fondasi utama pelayaran jarak jauh.

Tokoh pertama yang dikenang adalah Ahmad bin Majid, seorang pelaut dan navigator asal Jazirah Arab yang hidup pada abad ke-15. Ia dikenal sebagai ahli navigasi Samudra Hindia dan jalur pelayaran di sekitar Teluk Persia serta pesisir Afrika Timur. Ahmad bin Majid menulis berbagai karya penting tentang ilmu pelayaran, termasuk ensiklopedia navigasi yang berisi panduan arah angin, arus laut, posisi bintang, dan rute-rute strategis perdagangan. Karyanya menjadi rujukan utama bagi pelaut di masanya dan menunjukkan tingginya tradisi keilmuan maritim dalam dunia Islam.

Pelaut Muslim kedua adalah Cheng Ho atau Zheng He, seorang laksamana dan penjelajah laut asal Cina yang lahir dari keluarga Muslim. Pada awal abad ke-15, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi maritim besar yang menjangkau Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga pesisir Afrika Timur. Armada yang dipimpinnya dikenal sebagai salah satu armada laut terbesar dan paling maju pada zamannya. Selain menjalankan misi pelayaran, Cheng Ho juga berperan sebagai diplomat yang membangun hubungan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan yang disinggahinya.

Tokoh ketiga merepresentasikan tradisi luas pelaut Muslim yang berperan penting dalam menghubungkan jalur perdagangan dunia. Para navigator, kartografer, dan pedagang laut Muslim turut memperkuat jaringan maritim global dengan pendekatan damai. Mereka membawa komoditas, ilmu pengetahuan, serta nilai toleransi yang memperkaya peradaban di berbagai wilayah yang mereka singgahi.

Kiprah tiga pelaut Muslim tangguh ini menjadi bukti bahwa sejarah maritim dunia tidak lepas dari kontribusi besar peradaban Islam. Hingga kini, warisan mereka terus dikenang sebagai simbol keunggulan ilmu navigasi, keberanian menjelajah, dan semangat pelayaran yang mengedepankan perdamaian serta kerja sama antarbangsa.

Continue Reading

Ruang Sujud

Imam Al-Ghazali Mundur Sebagai Rektor Universitas, ketika Banyak Ulama Sibuk Menjilat Penguasa

Faisal Maarif

Published

on

RuangSujud – masa mudanya, Al-Ghazali adalah merupakan Akademisi Mashur. Di mana saat usia 33 tahun, ia menjabat sebagai pemimpin Madrasah Nidhomiyyah di Baghdad, universitas paling prestisius di dunia Islam saat itu.

Posisinya setara dengan Rektor Universitas Negeri dan Penasihat Presiden saat ini. la dekat dengan Sultan, gajinya besar, dan fatwanya ditunggu-tunggu oleh negara.

Namun, di puncak kejayaan itu, Al-Ghazali melihat sesuatu yang busuk.

la menyadari bahwa kampus yang dipimpinnya bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan Alat Politik Negara.

Kurikulum didesain untuk mencetak hakim dan birokrat yang loyal pada penguasa Bani Seljuk.

Ulama berlomba-lomba menjilat istana demi jabatan. Ilmu agama dijadikan komoditas untuk meraih status sosial.

Tapi Al-Ghazali tidak menunjuk hidung orang lain. Justru Ia menunjuk dirinya sendiri.

Dalam otobiografinya, ia menulis pengakuan yang jujur: “Aku memeriksa niatku dalam mengajar. Ternyata itu tidak murni karena Allah, melainkan demi mencari popularitas.

la sadar, bahwa dirinya adalah bagian dari masalah. Karena la adalah “petinggi” dari sistem yang memproduksi kemunafikan.

Krisis batin itu begitu hebat. Hatinya menolak untuk terus berpura-pura menjadi pejabat saleh di tengah sistem yang korup.

Al-Ghazali pun kemudian mengambil keputusan yang mengguncang Baghdad. la mengundurkan diri. la tinggalkan jabatan, dan semua fasilitas mewah yang selama ini ia dapat.

la kemudian memilih menjadi pengembara miskin, menyapu lantai masjid di Damaskus, demi menyelamatkan integritas jiwanya.

Dalam pengasingannya, ia menulis karya momumental, Ihya Ulumuddin, untuk mengingatkan bahwa ilmu agama yang diterapkan dalam kehidupan kita, harus disertai dengan ruh spiritualitas.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News3 minutes ago

Penipuan Umrah Masih Terjadi, Kemenhaj Bagikan Tips Memilih Travel yang Aman

News8 minutes ago

Mendikdasmen: AI Hanya Alat Bantu, Peran Guru Tetap tak Tergantikan

Ruang Sujud20 minutes ago

Jabal Magnet: Bukit Ajaib di Madinah yang Bikin Mobil Jalan Sendiri

News3 hours ago

Mantan Menlu Marty Nilai Keterlibatan RI di Board of Peace Perlu Dikawal Ketat

News4 hours ago

Presiden Prabowo Temui Menlu dan PKB Bahas Arah Diplomasi Indonesia

News5 hours ago

Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Tarik Diri dari Board of Peace Jika Tak Sejalan Prinsip RI

News6 hours ago

Indonesia Perkuat Inisiatif B57+ untuk Ekonomi Halal Global

News6 hours ago

Pro–Kontra Indonesia Gabung Board of Peace Menguat di Ruang Publik

News6 hours ago

Indonesia Dorong Integrasi Pasar Ekonomi Islam Global & Investasi Halal

News7 hours ago

Prabowo Terima Tokoh Nasional Bahas Strategi Kebijakan Pemerintah

News8 hours ago

Rakornas 2026: Prabowo Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas dan Aktif Tetap Jadi Prinsip

News10 hours ago

KPK Tangkap Tiga Kepala Daerah Hasil Pilkada 2024 dalam OTT

News10 hours ago

Isu Independensi Polri Kembali Mengemuka dalam Pembahasan DPR

News10 hours ago

Presiden Prabowo Buka Rakornas Pemerintah Pusat–Daerah 2026

LakeyBanget11 hours ago

Selepas 14 Tahun Vakum, Afgan Kembali Berakting Lewat Film Ini

LakeyBanget11 hours ago

Persib Bandung Segera Datangkan Striker Asal Spanyol, Siapa?

News15 hours ago

Iuran Board of Peace Rp17 Triliun, Menkeu: ini Sumber Pendanaannya

News16 hours ago

Tragedi Siswa SD di NTT: Bunuh Diri Karena Tak Punya Buku

Ruang Sujud16 hours ago

Masjid dan Pertumbuhan Jumlah Muslim di Eropa Barat

Review17 hours ago

Gentengisasi Prabowo dan Solusi Ekologis

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.