Connect with us

Ruang Sujud

Mengulas Akar Syirik dari Zaman Nabi Nuh hingga Fenomena Spiritual Modern

Perjalanan sejarah syirik serta relevansinya dalam praktik spiritual kontemporer.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Kita perlu mencoba menata kembali substansi pembahasan tersebut secara reflektif, dengan menyoroti konteks historis, definisi teologis, hingga relevansinya di era modern. Persoalan syirik bukan sekadar isu masa lalu, tetapi tantangan akidah yang terus hadir dalam wajah baru.

Sebelum masa Nuh, manusia berada dalam kondisi bertauhid. Syirik muncul bukan secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap. Ketika orang-orang saleh wafat, generasi setelahnya membuat patung sebagai simbol penghormatan dan pengingat kesalehan. Pada tahap ini belum ada penyembahan. Namun generasi berikutnya mulai menjadikan simbol tersebut sebagai perantara doa, hingga akhirnya berubah menjadi objek ibadah. Di sinilah letak akar penyimpangan: pergeseran niat dari penghormatan menjadi pengkultusan. Nabi Nuh kemudian berdakwah selama 950 tahun untuk mengembalikan umatnya kepada tauhid, tetapi hanya sedikit yang beriman sebelum datangnya banjir besar sebagai azab dan titik balik sejarah manusia.

Syirik besar dipahami sebagai tindakan menyekutukan Allah secara langsung, seperti menyembah berhala, meyakini benda memiliki kekuatan ilahiah, atau bergantung pada jimat dengan keyakinan mistis. Sementara itu, syirik kecil lebih bersifat internal, seperti riya—beribadah demi pujian manusia. Secara teologis, syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi dapat menghapus pahala dan membuka jalan menuju penyimpangan yang lebih besar. Distingsi ini penting agar umat tidak menyederhanakan persoalan akidah hanya pada aspek ritual lahiriah.

Bagian yang cukup relevan dengan konteks kekinian adalah pembahasan tentang ramalan, zodiak, dan praktik perdukunan. Praktik tersebut bertumpu pada informasi gaib yang diyakini berasal dari setan yang mencuri berita dari langit lalu mencampurnya dengan kebohongan. Konsekuensi teologisnya cukup berat: mendatangi dukun meski hanya bertanya disebut dapat menyebabkan salat tidak diterima selama 40 hari, sementara mempercayainya dianggap sebagai bentuk kekufuran terhadap ajaran Muhammad. Ulasan ini menunjukkan bahwa fenomena yang sering dianggap hiburan atau tradisi populer ternyata memiliki implikasi akidah yang serius.

Fenomena modern seperti pawang hujan dan klaim indigo juga dikritisi. Praktik pawang hujan dipandang sebagai bentuk campur tangan makhluk gaib dalam urusan yang sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Sementara klaim kemampuan indigo dinilai lebih dekat pada gangguan jin daripada kelebihan spiritual. Dalam perspektif yang dibahas, tantangan terbesar bukan pada eksistensi fenomena tersebut, melainkan pada cara masyarakat memaknainya—apakah tetap dalam koridor tauhid atau justru mengarah pada ketergantungan gaib yang menyimpang.

Menariknya, wacana ini tidak berhenti pada praktik ekstrem, tetapi juga menyinggung “syirik tipis” dalam kehidupan sehari-hari. Menganggap benda tertentu membawa keberuntungan secara supranatural, meminta pertolongan kepada orang saleh yang telah meninggal, atau mengkultuskan tokoh secara berlebihan menjadi contoh yang diulas. Di sisi lain, meminta doa kepada orang yang masih hidup tetap dibolehkan selama tidak melampaui batas syariat. Di sinilah letak urgensi literasi akidah: membedakan antara penghormatan yang wajar dan pengkultusan yang berlebihan.

Secara keseluruhan, ulasan ini menunjukkan bahwa pesan utama diskusi tersebut adalah menjaga kemurnian tauhid di tengah kompleksitas zaman. Syirik tidak selalu hadir dalam bentuk penyembahan berhala seperti pada masa Nabi Nuh, tetapi bisa menyusup dalam praktik modern yang tampak biasa. Siapa pun berpotensi terjebak jika tidak memiliki pemahaman akidah yang kuat. Karena itu, memperdalam ilmu, bersikap kritis terhadap fenomena spiritual populer, dan meneguhkan niat ibadah menjadi langkah preventif agar fondasi tauhid tetap kokoh dalam setiap fase kehidupan.

Sumber : YouTube Richard Lee 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Cara Menyapa Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Published

on

Monitorday.com – Ramadan disebut sebagai bulan al-Qur’an bukan sekadar tradisi lisan, melainkan penegasan langsung dari al-Qur’an. Allah berfirman:

“Syahru Ramadhānal ladzī unzila fīhil Qur’ān…”
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Bahkan ditegaskan lagi:

“Innā anzalnāhu fī lailatil qadr.” (QS. Al-Qadar: 1)
“Innā anzalnāhu fī lailatin mubārakah.” (QS. Ad-Dukhān: 3)

Para ulama menjelaskan, al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar—malam yang diberkahi. Maka Ramadan bukan hanya bulan puasa, tetapi bulan turunnya petunjuk hidup.

Ramadan dan Al-Qur’an Tak Terpisahkan

Dalam riwayat sahih disebutkan:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar memberi. Semangat beliau dalam memberi lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau… Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan, lalu mengajarkan Al-Qur’an…” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Setiap malam Ramadan, Rasulullah SAW mudarasah (saling menyimak dan mempelajari) al-Qur’an bersama Jibril. Bahkan di tahun wafatnya, beliau mengkhatamkan dua kali (HR. Bukhari no. 4998).

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Lathaif Al-Ma’arif menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan anjuran memperbanyak tilawah dan mempelajari al-Qur’an di bulan Ramadan.

Al-Qur’an pun lebih kuat menyentuh jiwa ketika dibaca malam hari:

“Sesungguhnya di waktu malam lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzammil: 6)

Karena itu, Ramadan adalah momentum pulang—pulang kepada wahyu.

Tahapan Interaksi dengan Al-Qur’an

Agar Ramadan benar-benar menjadi bulan al-Qur’an, interaksi kita tidak boleh berhenti pada bacaan. Setidaknya ada empat tahapan yang bisa ditempuh:

1. Tilawah: Membaca dengan Tartil

Tahap paling dasar adalah membaca dengan tajwid dan makharijul huruf yang benar.

“Membaca satu huruf Al-Qur’an mendatangkan 10 kebaikan.”

Tilawah adalah fondasi. Di Ramadan, banyak orang menargetkan satu juz per hari. Ini baik. Tetapi jangan berhenti di sana.

2. Qira’ah: Membaca dan Memahami Makna

Tidak semua Muslim menguasai bahasa Arab. Maka membaca terjemahan adalah jembatan menuju pemahaman.

Qira’ah berarti membaca dengan kesadaran makna. Satu ayat yang dipahami seringkali lebih mengubah hidup dibanding satu halaman yang hanya dilafalkan.

3. Tadarus: Menggali Tafsir dan Diskusi

Tadarus bukan sekadar membaca bersama, tetapi mendalami tafsir dan asbāb al-nuzūl agar tidak salah memahami ayat.

Contoh klasik adalah ayat:

“Al-fitnatu asyaddu minal qatl.”

Tanpa konteks, orang bisa salah kaprah memaknai “fitnah” secara sempit. Tadarus melindungi kita dari pemahaman yang tergesa.

4. Tadabbur: Menghidupkan Al-Qur’an dalam Realitas

Inilah puncaknya. Tadabbur bukan lagi soal berapa juz yang selesai dibaca, tetapi sejauh mana Al-Qur’an mengubah diri kita. Pada tahap ini, setiap ayat terasa personal. Jika ia perintah, kita bertanya: sudahkah saya jalankan? Jika ia larangan, kita gelisah: sudahkah saya tinggalkan? Tadabbur adalah keberanian untuk bercermin—membiarkan ayat-ayat itu menegur, membimbing, sekaligus meluruskan langkah.

Di sinilah Al-Qur’an benar-benar hidup. Ia tidak berhenti sebagai bacaan yang merdu, tetapi menjelma menjadi kompas dalam keputusan, sikap, dan tindakan. Ia hadir dalam cara kita bekerja, memimpin, berbicara, dan memperlakukan sesama. Al-Qur’an tidak diturunkan sekadar untuk dilantunkan, melainkan untuk dihidupkan—dan tadabbur adalah saat wahyu itu benar-benar bekerja dalam kehidupan kita.

Transformasi

KH. Ahmad Dahlan memberi contoh konkret bagaimana berinteraksi dengan al-Qur’an secara utuh. Beliau tidak hanya membaca (tilawah), tetapi memahami (qira’ah), mendalami tafsir (tadarus), lalu mengamalkan (tadabbur).

Ketika membaca Surah al-Ma’un, beliau tidak berhenti pada hafalan. Beliau bertanya: bagaimana ayat ini diwujudkan? Maka lahirlah gerakan sosial yang menolong fakir miskin dan anak yatim—yang kemudian menjadi cikal bakal gerakan Muhammadiyah.

Inilah tafsir transformatif: Al-Qur’an turun dari langit, tetapi bekerja di bumi.

Momentum Naik Level

Ramadan seharusnya menjadi tangga peningkatan spiritual. Kita memulainya dari tilawah—membaca dengan tartil dan penuh hormat. Lalu naik ke qira’ah—membaca dengan memahami makna. Tidak berhenti di sana, kita melangkah ke tadarus—mendalami tafsir dan mendiskusikan pesan-pesannya. Hingga akhirnya sampai pada puncaknya: tadabbur, ketika al-Qur’an benar-benar menyentuh cara berpikir dan bertindak kita.

Karena itu, jangan sampai al-Qur’an hanya menjadi ritual seremonial—khatam karena target, atau dibaca karena kebiasaan tahunan. Interaksi sejati tidak bisa diwakilkan. Ia harus dilakukan sendiri, meski hanya satu ayat. Satu ayat yang direnungkan dengan sungguh-sungguh dan diamalkan, seringkali lebih bermakna daripada lembaran-lembaran yang berlalu tanpa bekas.

Pada akhirnya, Ramadan disebut Bulan Al-Qur’an bukan hanya karena wahyu pertama turun di dalamnya, tetapi karena di bulan inilah al-Qur’an seharusnya paling hidup dalam diri kita. Ramadan memang bulan puasa. Namun lebih dari itu, ia adalah bulan pulang—pulang kepada wahyu, pulang kepada petunjuk, pulang kepada cahaya yang menuntun hidup.

Continue Reading

Ruang Sujud

Sinar Mas dan APP Group Wakafkan 2.000 Mushaf Al-Qur’an kepada ICMI

Published

on

Monitorday.com – Sinar Mas dan APP Group kembali menunjukkan komitmennya di bulan Ramadan. Lewat Yayasan Muslim Sinar Mas (YMSM), mereka mewakafkan 2.000 mushaf Al-Qur’an kepada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Penyerahan dilakukan secara simbolis di ICMI Center, Jakarta Selatan. Wakil Ketua Dewan Pembina YMSM Feri Wibisono menyerahkan langsung mushaf kepada Ketua Umum ICMI Arif Satria. Nantinya, al-Qur’an tersebut akan disalurkan ke berbagai masjid, musala, hingga lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah.

Acara ini turut disaksikan jajaran pengurus YMSM dan pimpinan ICMI. Ketua YMSM yang juga Managing Director Sinar Mas, Saleh Husin, mengatakan wakaf ini bukan sekadar distribusi kitab suci, tetapi juga bagian dari upaya menumbuhkan nilai-nilai kebaikan.

“Wakaf kami niatkan agar kita berkesempatan meraih akhlak mulia melalui berpuasa serta memaknai dan mengamalkan nilai kebaikan juga toleransi yang diamanatkan dalam al-Qur’an,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).

Bagi Sinar Mas, kegiatan sosial keagamaan seperti ini adalah bentuk tanggung jawab moral yang dijalankan secara konsisten. Feri Wibisono menambahkan, mushaf yang diwakafkan dicetak menggunakan kertas hasil pengembangan dan produksi dari salah satu unit usaha Sinar Mas.

Direktur APP Group Agus Wahyudi menegaskan, kertas khusus Al-Qur’an yang digunakan dalam program wakaf ini diproduksi di fasilitas manufaktur dalam negeri milik APP Group.

“Selain sebagai bagian dari kontribusi kami pada aspek sosial keagamaan, wakaf ini juga menunjukkan kapabilitas industri nasional dalam menghadirkan kertas khusus Al-Qur’an yang diproduksi APP Group dengan standar kualitas tinggi untuk kebutuhan kitab suci dan buku-buku keagamaan,” ujarnya.

Program wakaf Al-Qur’an ini bukan hal baru. Sejak 2008, lebih dari 1,4 juta mushaf telah didonasikan melalui dukungan APP Group bersama pilar bisnis Sinar Mas lainnya. Penyalurannya menjangkau lembaga keagamaan, sekolah, komunitas, hingga kesatuan TNI-Polri, termasuk di wilayah terluar Indonesia.

Tak hanya mushaf, APP Group juga rutin mendukung distribusi buku panduan membaca al-Qur’an seperti Juz Amma. Upaya ini ditujukan agar generasi muda bisa belajar dan mencintai al-Qur’an sejak usia dini.

Continue Reading

Ruang Sujud

Puasa Ramadan di Rusia Tembus 18 Jam

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Ketika nama Rusia disebut, imajinasi publik global hampir selalu tertuju pada kekuatan militer, geopolitik, dan musim dingin yang ekstrem. Rusia dipandang sebagai simbol kekuatan keras (hard power), negara superpower dengan sejarah panjang konflik, ekspansi, dan pengaruh global. Namun, di balik citra itu, terdapat sisi lain yang jarang mendapat sorotan: Rusia juga merupakan rumah spiritual bagi lebih dari 30 juta Muslim.

Fakta ini bukan sekadar statistik demografis, melainkan cermin dari realitas sosial yang kompleks dan sering kali luput dari narasi arus utama. Islam bukan entitas asing di Rusia. Ia telah hadir selama berabad-abad, jauh sebelum Rusia modern terbentuk. Di republik seperti Tatarstan, Chechnya, dan Dagestan, Islam bukan minoritas simbolik, melainkan bagian inti dari identitas budaya dan kehidupan masyarakat.

Ramadan di Rusia menghadirkan ujian fisik yang jauh lebih berat dibandingkan di banyak negara Muslim lainnya. Letak geografisnya di lintang tinggi membuat durasi siang hari bisa mencapai lebih dari 18 jam. Ini berarti umat Muslim harus menahan lapar, haus, dan segala pembatal puasa hampir sepanjang hari.

Namun justru di sinilah letak makna terdalamnya.

Puasa di Rusia bukan sekadar ritual, tetapi manifestasi keteguhan iman di tengah kondisi alam yang ekstrem. Ketika seseorang tetap berpuasa meski matahari hampir tak pernah “menghilang”, ibadah itu berubah menjadi simbol ketahanan spiritual. Ia menjadi bukti bahwa iman tidak tunduk pada kenyamanan geografis.

Momentum berbuka puasa pun berubah menjadi perayaan kolektif yang sarat makna. Di kota-kota seperti Moskow dan Saint Petersburg, ribuan Muslim berkumpul, berbagi makanan, doa, dan kebersamaan. Dalam suhu dingin sekalipun, kehangatan solidaritas tetap terasa.

Masjid Soekarno: Jejak Indonesia dalam Lanskap Spiritual Rusia

Salah satu simbol menarik dari kehidupan Islam di Rusia adalah Masjid Soekarno di Saint Petersburg. Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi simbol hubungan historis dan emosional antara Rusia dan dunia Muslim, termasuk Indonesia.

Keberadaan masjid ini mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar arsitektur. Ia adalah pengingat bahwa Islam di Rusia bukan hanya bertahan, tetapi hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari lanskap nasional.

Ramadan di masjid ini bukan hanya ritual keagamaan, melainkan pernyataan eksistensi—bahwa identitas Muslim tetap berdiri kokoh bahkan di negara yang sering dipersepsikan sebagai pusat kekuatan sekuler.

Rusia dan Pelajaran tentang Identitas yang Kompleks

Sering kali dunia melihat negara melalui satu lensa tunggal: militer, ekonomi, atau politik. Rusia adalah contoh nyata betapa pendekatan itu bisa menyesatkan. Negara ini bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga ruang bagi kehidupan spiritual yang dinamis.

Keberadaan jutaan Muslim di Rusia menunjukkan bahwa identitas sebuah negara tidak pernah tunggal. Ia selalu berlapis, kompleks, dan penuh paradoks.

Ramadan di Rusia mengajarkan satu hal penting: iman tidak bergantung pada geografi. Ia tidak melemah oleh dingin, tidak goyah oleh panjangnya siang, dan tidak hilang oleh dominasi narasi politik global.

Justru di negeri yang dikenal membekukan, Ramadan menunjukkan sesuatu yang hangat—bahwa spiritualitas, solidaritas, dan keyakinan mampu tumbuh bahkan di tempat yang paling tak terduga.

Pada akhirnya, Rusia bukan hanya tentang kekuatan militer. Ia juga tentang kekuatan iman.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ikuti Anjuran Nabi, Pria Ini Raih Kekayaan Rp208 Triliun

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Sosok nabi sejak dahulu dikenal sebagai teladan bagi umat manusia. Para pembawa risalah Tuhan tersebut tidak hanya menyampaikan ajaran spiritual, tetapi juga menunjukkan pola hidup yang sarat dengan nilai disiplin, ketekunan, dan keteguhan, yang dapat dijadikan inspirasi dalam meraih keberhasilan.

Kesuksesan dan kemakmuran merupakan impian banyak orang. Menariknya, seorang pria asal Amerika Serikat berhasil menjadi pengusaha sukses dengan kekayaan melimpah, yang ia yakini tidak lepas dari penerapan prinsip-prinsip hidup yang terinspirasi dari keteladanan Nabi Nuh dalam menjalani kehidupannya.

Pria yang berupaya menjalani hidup dengan meneladani keteguhan Nabi Nuh itu adalah David Steward. Pengusaha asal Missouri, Amerika Serikat, tersebut tercatat memiliki kekayaan senilai US$ 12,4 miliar atau sekitar Rp 208 triliun, menurut data Forbes.

Kisah Nabi Nuh menjadi sumber inspirasi bagi Steward, terutama tentang keteguhan dalam melakukan hal yang benar meski menghadapi cemoohan. Dalam kisah tersebut, Nabi Nuh tetap membangun bahtera meskipun banyak orang meragukan dan mengejeknya.

Sebagaimana diketahui, Nabi Nuh mendapat perintah dari Tuhan untuk membangun sebuah bahtera sebagai persiapan menghadapi banjir besar yang akan melanda bumi. Ia kemudian membangun kapal raksasa yang mampu menampung manusia, hewan, dan berbagai makhluk hidup lainnya. Selama proses itu, Nabi Nuh menghadapi ejekan dan penolakan dari masyarakat yang menganggap tindakannya tidak masuk akal.

Mereka menilai Nabi Nuh aneh karena membangun kapal besar di tengah kondisi tanpa tanda-tanda bencana. Namun, Nabi Nuh tetap teguh pada keyakinannya. Ketika bahtera itu selesai, banjir besar benar-benar terjadi, dan bahtera tersebut menjadi sarana penyelamatan bagi Nabi Nuh, keluarganya, serta makhluk hidup lainnya.

“Saat kamu memiliki ambisi besar, orang-orang cenderung meremehkan dan meragukanmu. Mereka akan mengatakan bahwa kamu tidak seharusnya mengejar mimpi tersebut,” ujar Steward kepada Forbes pada 2004.

Keteguhan seperti itulah yang kemudian diterapkan Steward dalam hidupnya. Sejak kecil, ia telah menghadapi diskriminasi dan ejekan karena latar belakangnya sebagai orang kulit hitam yang tumbuh dalam kondisi ekonomi terbatas.

Saat masih bersekolah, ia harus menjalani sistem segregasi rasial yang memisahkan siswa berdasarkan warna kulit. Kondisi tersebut membentuk mentalnya untuk bertahan menghadapi berbagai tantangan.

Ketika dewasa dan memutuskan memulai bisnis pada awal 1990-an, Steward kembali menghadapi keraguan dan cemoohan. Namun, terinspirasi oleh kisah Nabi Nuh, pria kelahiran 2 Juli 1951 itu memilih untuk tidak menyerah.

Ia mendirikan World Wide Technology (WWT), perusahaan yang menyediakan layanan teknologi komputer untuk korporasi. Pada masa itu, sektor tersebut masih tergolong baru dan belum banyak dipahami, sehingga banyak pihak meragukan prospeknya.

Meski demikian, Steward tetap yakin bahwa teknologi komputer dan internet akan menjadi kebutuhan utama di masa depan. Ia terus mengembangkan usahanya, meskipun harus melalui berbagai tantangan dan masa sulit.

Keyakinannya akhirnya terbukti. Seiring perkembangan teknologi global, layanan yang disediakan WWT semakin dibutuhkan. Forbes pada 2022 mencatat WWT sebagai perusahaan swasta terbesar ke-27 di Amerika Serikat sekaligus perusahaan terbesar milik pengusaha kulit hitam, dengan pendapatan mencapai US$ 17 miliar atau sekitar Rp 285 triliun.

Kisah David Steward menjadi contoh nyata bahwa keteguhan, keyakinan, dan keberanian untuk tetap berjalan di tengah keraguan orang lain dapat mengantarkan seseorang menuju kesuksesan besar.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ramadan Dan Momentum Kepulangan Kepada Tuhan

Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, tilawah terdengar dari berbagai sudut kota, dan meja makan sahur menjadi ruang sunyi tempat doa-doa lirih dipanjatkan. Namun, di balik semua ritual yang tampak, Ramadan sejatinya bukan sekadar perubahan jadwal makan atau bertambahnya rakaat salat malam. Ramadan adalah momentum kepulangan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam salah satu kajian yang disiarkan di kanal Youtube-nya dengan judul Rahasia dan Hikmah di Balik Bulan Ramadhan, Ustadz Adi Hidayat mengajak kita menyelami struktur Al-Qur’an, khususnya dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah. Di sana terdapat susunan ayat yang sangat menarik. Ayat 185 berbicara tentang kewajiban puasa dan kemuliaan Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadan. Ayat 187 menjelaskan detail hukum terkait relasi suami-istri dan batasan waktu dalam berpuasa. Namun, di antara dua ayat fiqih itu, terselip ayat 186 yang berbicara tentang doa dan kedekatan Allah dengan hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

Mengapa ayat tentang kedekatan dan doa itu diletakkan di tengah pembahasan hukum yang teknis? Di situlah letak rahasianya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Fiqih hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Allah menggunakan panggilan “’Ibadi”—hamba-hamba-Ku. Sebuah panggilan penuh kasih. Bukan “wahai orang beriman” saja, bukan pula “wahai manusia,” tetapi hamba-hamba-Ku. Di dalamnya ada sentuhan cinta. Ramadan seakan menjadi surat undangan resmi dari Allah untuk kembali pulang.

Seruan ini menyasar dua golongan sekaligus. Pertama, mereka yang telah terbiasa taat. Bagi golongan ini, Ramadan adalah ruang akselerasi. Banyak ulama terdahulu yang ketika Ramadan tiba, menghentikan aktivitas publiknya demi fokus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka tidak merasa cukup dengan ibadah rutin sepanjang tahun. Ramadan dijadikan sebagai momen kalibrasi niat, membersihkan kemungkinan riya, serta memastikan bahwa setiap amal benar-benar bermuara kepada Allah.

Namun yang lebih menyentuh, panggilan “’Ibadi” itu juga ditujukan kepada mereka yang merasa jauh, yang hidupnya mungkin penuh noda dan kesalahan. Ramadan bukan milik orang-orang suci semata. Ia justru menjadi “rumah sakit” bagi jiwa-jiwa yang sedang sakit. Dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 53, Allah memanggil hamba-hamba yang melampaui batas agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ini adalah deklarasi kasih sayang yang luar biasa.

Sering kali seseorang merasa tidak pantas datang ke masjid karena masa lalunya. Ia malu pada manusia, lalu perlahan menjauh dari Tuhan. Padahal, getaran kecil di dalam dada—keinginan mendengar ceramah, rasa haru ketika azan berkumandang, atau dorongan untuk membuka mushaf—itu bisa jadi tanda bahwa Allah sedang memanggilnya. Hidayah sering hadir dalam bentuk kegelisahan yang lembut.

Ramadan memberi peluang transformasi identitas. Seorang yang sebelumnya tenggelam dalam maksiat, ketika memutuskan bertaubat di bulan ini, sering merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan karena hidupnya tiba-tiba tanpa masalah, tetapi karena hatinya menemukan arah pulang.

Keajaiban taubat di bulan Ramadan bukan hanya pada penghapusan dosa, melainkan juga pada perubahan narasi hidup. Masa lalu yang kelam bisa Allah ubah menjadi pelajaran yang menguatkan orang lain. Luka yang dulu menjadi aib, dapat menjelma menjadi sumber empati. Inilah cara Allah memuliakan hamba yang kembali.

Kedekatan yang dijanjikan dalam ayat 186 itu bukanlah kedekatan fisik, melainkan kedekatan respons. Allah menegaskan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia memohon kepada-Nya. Namun, ada syarat yang tersirat: “maka hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku.” Artinya, hubungan ini bersifat dua arah. Allah sudah dekat. Tinggal kita yang menentukan, apakah ingin menyambut atau justru menjauh.

Ruang sujud menjadi simbol paling nyata dari kedekatan itu. Di sanalah dahi menyentuh bumi, sementara hati mengetuk langit. Tidak ada jarak sosial di hadapan Allah. Tidak ada status, jabatan, atau citra. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya.

Ramadan seharusnya mengubah kualitas sujud kita. Dari sekadar gerakan rutin menjadi percakapan intim. Dari bacaan yang dihafal menjadi pengakuan yang tulus. Jika sepanjang bulan ini kita belum merasakan getaran rindu dalam doa, mungkin yang perlu diperbaiki bukan durasi puasanya, tetapi arah hatinya.

Pada akhirnya, Ramadan adalah tentang kepulangan. Tentang keberanian mengakui bahwa kita lelah berjalan sendiri. Tentang kesediaan membuka pintu hati ketika Allah sudah lebih dulu mengetuknya dengan panggilan kasih. Pintu maaf-Nya jauh lebih luas daripada samudera kesalahan kita.

Maka sebelum Ramadan berlalu, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mendekat? Atau kita hanya sibuk menjalankan ritual tanpa pernah pulang? Di ruang sujud itulah jawabannya sering ditemukan—dalam hening, dalam air mata, dalam doa yang pelan namun penuh harap.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ketika Rasulullah Menegur Sahabat yang Berlebihan dalam Beribadah, Termasuk Puasa

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Dalam satu hadits riwayat Imam al-Bukhari dikisahkan, suatu hari datang tiga orang sahabat ke istri-istri Nabi.

Mereka semua penasaran dengan ibadah Nabi. Sebagai orang yang tinggal serumah, istri Nabi tentu tahu detail aktivitas Nabi, termasuk dalam hal ibadah.

Kunjungan tiga sahabat itu tidak diketahui Rasulullah. Begitu mereka mendengar penjelasan apa dan bagaimana ibadah Nabi, mereka heran, ternyata ibadah Nabi tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.

Dalam pandangan mereka, sebagai Nabi yang tentu memiliki tingkat spiritualitas tinggi, ibadahnya pasti luar biasa. Tapi realitasnya tidak demikian.

Mereka pun berkesimpulan, “Wajar Nabi ibadahnya sedikit begitu, ia kan sudah dijamin mendapat ampunan dari Allah. Kalau kita? Ya tetap harus berlomba dalam beribadah. Siapa yang ibadahnya paling hebat, dia lah yang pahalanya terbanyak,” kata mereka.

Sejurus kemudian, mereka bertekad untuk beribadah dengan lebih melangit lagi. Ada yang berjanji akan melaksanakan shalat malam selamanya.

Ada pula yang bersikukuh untuk berpuasa setiap hari. Bahkan, ada juga yang mantap menyatakan untuk membujang seumur hidup demi fokus beribadah.

Tekad konyol mereka ini sampai ke telinga Rasulullah. Segeralah Rasulullah menemui mereka. “Apa betul kalian yang berkata demikian?” Nabi mengawali.

“Demi Allah, aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Tapi tidak selamanya juga aku shalat malam, tidak setiap hari pula aku berpuasa, dan aku juga tetap menikahi wanita!.”

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukanlah dari bagianku!” tegas Nabi.

Continue Reading

Ruang Sujud

Inilah Alasan Sejarawan Husein Haikal Menulis Sirah Nabi secara Rasional, Dan Kesampingkan Kisah-Kisah Ajaib

Faisal Maarif

Published

on

Ruangsujud.com – Muhammad Husein Haikal, sejarawan Mesir, menulis biografi Nabi Muhammad dalam bukunya “Hayat Muhammad” dengan pendekatan rasional.

Ia menggambarkan Rasulullah sebagai manusia agung yang berakhlak mulia, bukan sosok yang dikelilingi keajaiban supranatural.

Berlatar belakang pendidikan Barat dan pengaruh pemikiran Islam modernis, Haikal menekankan analisis sejarah yang logis dan ilmiah dalam menuturkan kisah hidup Nabi.

Menurutnya, pendekatan ini penting agar teladan Nabi dipahami secara realistis dan relevan oleh manusia biasa.

Pendekatan kritis Haikal sempat menuai kontroversi hebat di kalangan ulama tradisional Mesir.
Namun, Haikal meyakini bahwa keagungan Nabi tampak dalam sisi kemanusiaannya, mulai dari perjuangan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan beliau.

Bagi Haikal, mukjizat terbesar yang tak terbantahkan dari Rasulullah adalah Al-Qur’an.

Pesan Al-Qur’an serta keberhasilan misi Nabi dianggapnya sebagai bukti paling rasional atas kenabian Muhammad, sehingga Haikal merasa tak perlu mengandalkan kisah-kisah fantastis untuk menunjukkan kemuliaan Rasulullah.

Konsisten dengan pendekatan tersebut, Haikal mengesampingkan berbagai cerita legendaris yang terlalu ajaib dan minim bukti sejarah.

Misalnya, ia tidak memasukkan kisah malaikat Jibril membelah dada Nabi saat kecil, karena dianggap tak berdasar kuat secara historis dan mungkin bersifat simbolis saja.

Demikian pula, Haikal menghindari kisah-kisah tanda ajaib saat kelahiran Muhammad, serta mukjizat spektakuler seperti Nabi membelah bulan.

Baginya, yang utama dari kisah Rasulullah ialah keteladanannya sebagai manusia dan nilai-nilai luhur yang dibawanya, sehingga kebesaran Nabi tampak tanpa perlu dibalut mitos supranatural.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menjaga Amanah dalam Sunyi

Published

on

Monitorday.com – Kisah ini bukan bermula dari ruang konferensi atau forum resmi, melainkan dari sebuah unggahan media sosial. Dinukil dari laman Facebook Haedar Nashir, Selasa dini hari, 10 Februari 2026, sebuah pengalaman kecil di perjalanan kereta api berubah menjadi refleksi tentang kepercayaan (amanah) dan profesionalisme layanan publik.

“Tepat pukul 01.24 WIB saya turun di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Kereta api Gajayana jurusan Malang,” tulisnya.

Kereta Api Gajayana berhenti sebentar di Stasiun Tugu Yogyakarta. Proses turun berjalan normal. Tak ada firasat apa pun. Namun baru sepertiga perjalanan menuju rumah, kesadaran itu datang: iPad mini yang biasa dipakai mengetik tertinggal di kereta.

“Kehilangan Ipad tentu sangat merisaukan. Bukan bendanya, tapi isinya,” tuturnya.

Di dalam perangkat itu tersimpan data, dokumen, serta bahan kuliah untuk mahasiswa S3 Program Studi Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Malam sebelumnya, ia memang sempat menulis bahan kuliah saat keberangkatan dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB. Kantuk yang datang setelah agenda seharian membuatnya tertidur sesaat. Tanpa disadari, iPad terjatuh di pinggir kursi dan terlupakan ketika turun.

Laporan resmi segera dibuat. Petugas merespons dengan sigap dan detail, menanyakan jenis, warna, casing, hingga nomor kursi. Dalam situasi dini hari, respons cepat itu menjadi titik awal tumbuhnya harapan.

Karena menyangkut barang penting, Haedar Nashir juga menghubungi Kepala Stasiun Yogyakarta, Raja Husein Pandapotan Harahap, yang sebelumnya dikenal saat bertugas di Stasiun Gambir. Pesan WhatsApp dikirim pukul 01.49 WIB.

“Rasanya tidak nyaman mengganggu Pak Raja yang tentu sudah istirahat, tapi apa boleh buat,” tulisnya.

Balasan datang cepat. “Siap Bapak,” jawab Raja, sebagaimana dikisahkan Haedar Nashir.

Namun pukul 02.15 WIB, kabar berikutnya belum menggembirakan. iPad belum ditemukan di gerbong. Kegundahan sempat muncul.

“Sudahlah, kalau memang rizkinya, Ipad akan kembali. Kalau pun tidak, semoga ada yang menemukan dan berkenan mengembalikan,” ujarnya.

Pukul 06.15 WIB, kabar baik akhirnya datang. iPad ditemukan dalam perjalanan terakhir di Stasiun Kota Malang. Foto perangkat tersebut dikirim sebagai bukti. Rasa lega pun menyelimuti pagi itu.

Meski tanpa iPad, pukul 10.00 WIB kuliah tetap berlangsung. “Saya mengabarkan kalau kali ini kuliah tanpa tayangan powerpoint,” tulisnya. Ia menyebut bahan kuliah sedang “jalan-jalan” bersama Kereta Api Gajayana ke Malang. Perkuliahan berjalan menggunakan papan tulis whiteboard, bahkan terasa lebih leluasa.

Siang harinya, sekitar pukul 14.25 WIB, iPad tiba kembali di Yogyakarta dan diambil perwakilan tim Media Komunikasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Serah terima berlangsung resmi dan terdokumentasi.

“Alhamdulillah Ipad sudah saya terima dengan baik di rumah… Terimakasih untuk seluruh kru KAI atas pelayanan dan bantuan terbaiknya,” tulisnya lagi dalam pesan yang ia kirimkan kepada Kepala Stasiun.

Kisah sederhana ini menjadi catatan tentang bagaimana sistem layanan publik bekerja. Bagi Haedar Nashir, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang perangkat yang kembali.

“KAI saat ini makin baik dan luar biasa pelayanannya… Tandanya manajemen KAI kian berkembang modern,” tuturnya.

Dalam perspektif administrasi publik, peristiwa ini menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengalaman konkret warga ketika berhadapan dengan layanan negara. Seperti dikemukakan Mark H. Moore, nilai publik (public value) terbentuk ketika institusi mampu menghadirkan manfaat nyata dan dapat dirasakan. Respons cepat, koordinasi yang efektif, dan akuntabilitas dalam pengembalian barang adalah bentuk nilai itu.

Paradigma New Public Service yang diperkenalkan Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt menegaskan bahwa tugas aparatur bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi melayani warga dengan integritas. Profesionalisme bukan hanya soal sistem, tetapi juga etika.

Dan di situlah kisah Sang Ketum PP Muhammadiyah ini menemukan resonansinya dengan bulan puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan integritas—berbuat benar meski tak diawasi. Aparatur yang tetap bekerja sigap pukul 02.00 WIB, tanpa sorot kamera, tanpa publikasi, sejatinya sedang mempraktikkan nilai yang sama: bekerja dalam sunyi, tetapi bernilai bagi orang lain.

Jika puasa melatih manusia untuk jujur pada Tuhan dalam kesendirian, maka profesionalisme melatih aparatur untuk jujur pada amanah dalam tugasnya. Keduanya bertemu pada satu titik: kepercayaan.

Dan mungkin, pagi itu, yang kembali bukan hanya iPad.

Yang kembali adalah keyakinan bahwa pelayanan publik, seperti puasa, menemukan maknanya justru ketika dijalankan dengan tulus—meski tak selalu terlihat.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ekonomi Berdikari Prabowo dalam Perspektif Pemikir Dunia dan Indonesia

Konsep ekonomi berdikari yang digaungkan Presiden Prabowo dinilai memiliki akar kuat dalam teori kemandirian ekonomi global dan gagasan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan pentingnya “ekonomi berdikari” sebagai arah pembangunan nasional di tengah ketidakpastian global. Menurut sejumlah pidato dan pernyataan resmi yang dikutip media nasional, Prabowo menyebut bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi, terutama dalam sektor pangan, energi, dan industri strategis.

Secara konseptual, gagasan berdikari memiliki resonansi kuat dengan pemikiran Soekarno. Dalam pidato-pidatonya, Soekarno menekankan prinsip “berdikari dalam ekonomi” sebagai bagian dari Trisakti: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Bagi Soekarno, ketergantungan pada kekuatan asing berpotensi melemahkan kedaulatan nasional. Konsep ini menempatkan produksi nasional dan penguasaan sumber daya sebagai fondasi kemerdekaan sejati.

Dari sisi teori ekonomi dunia, gagasan ekonomi berdikari dapat dikaitkan dengan pemikiran Friedrich List tentang “National System of Political Economy”. List menolak liberalisme pasar bebas absolut yang digagas Adam Smith, dan menekankan perlunya proteksi industri nasional pada tahap awal pembangunan. Menurut List, negara berkembang perlu melindungi dan memperkuat industrinya sebelum bersaing secara penuh di pasar global. Pendekatan ini relevan dengan strategi hilirisasi dan substitusi impor yang kini digencarkan pemerintah.

Selain itu, teori “dependency” yang dipopulerkan oleh Andre Gunder Frank juga memberi konteks akademik pada ekonomi berdikari. Teori ini menjelaskan bagaimana negara berkembang sering terjebak dalam ketergantungan struktural terhadap negara maju melalui ekspor bahan mentah dan impor produk jadi. Dalam perspektif ini, hilirisasi sumber daya alam yang didorong pemerintah menjadi upaya memutus pola ketergantungan tersebut.

Di Indonesia sendiri, pemikiran Mohammad Hatta tentang koperasi sebagai sokoguru perekonomian juga sejalan dengan semangat berdikari. Hatta menekankan ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong, bukan dominasi modal besar semata. Konsep ini tercermin dalam dorongan pemerintah untuk memperkuat UMKM, petani, dan pelaku usaha lokal sebagai aktor utama pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, pendekatan ekonomi berdikari juga dapat dibaca melalui perspektif pembangunan struktural ala Alexander Hamilton yang mendorong industrialisasi nasional Amerika Serikat melalui kebijakan proteksi dan penguatan manufaktur. Strategi hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit yang kini dijalankan Indonesia menunjukkan kemiripan dengan strategi industrial policy yang pernah diterapkan negara-negara maju pada fase awal pertumbuhannya.

Namun, ekonomi berdikari bukan berarti autarki atau menutup diri dari perdagangan internasional. Dalam teori ekonomi modern, keterbukaan tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kapasitas domestik yang kuat. Pendekatan ini selaras dengan gagasan “strategic trade policy” dalam ekonomi internasional yang memungkinkan negara melindungi sektor-sektor strategisnya tanpa sepenuhnya keluar dari sistem global.

Menurut sejumlah analis yang dikutip media nasional, implementasi ekonomi berdikari membutuhkan konsistensi kebijakan, investasi pada sumber daya manusia, dan penguatan infrastruktur. Tanpa reformasi struktural, visi kemandirian berisiko menjadi retorika. Namun dengan bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki modal objektif untuk mewujudkan strategi tersebut.

Pada akhirnya, ekonomi berdikari yang disebut Prabowo merupakan sintesis antara warisan pemikiran pendiri bangsa dan teori pembangunan modern dunia. Ia menggabungkan semangat nasionalisme ekonomi ala Soekarno, ekonomi kerakyatan ala Hatta, serta pendekatan industrial policy ala List dan Hamilton. Tantangan global justru menjadi momentum untuk menata ulang struktur ekonomi nasional agar lebih tangguh, berdaulat, dan berdaya saing dalam jangka panjang.

Continue Reading

Ruang Sujud

KHGT Tawarkan Kepastian, Perbedaan Awal Ramadan Tetap Tak Terhindarkan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah memicu diskusi mengenai potensi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan pemerintah. Isu ini mencuat dalam sesi tanya jawab pada Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (13/02).

Para peserta menyoroti adanya perbedaan mendasar antara kriteria hisab yang kini diadopsi Muhammadiyah dengan metode imkanur rukyat yang digunakan pemerintah, serta implikasi sistem kalender global terhadap keseragaman awal ibadah puasa.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah beralih dari metode hisab hakiki wujudul hilal lama ke KHGT yang berbasis kriteria astronomis global. Ia menerangkan bahwa standar KHGT lebih ketat, yaitu tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, berbeda dengan wujudul hilal sebelumnya yang hanya mensyaratkan ijtimak dan hilal di atas ufuk berapapun ketinggiannya.

Menekankan prinsip global KHGT, Maesyarah menyatakan, “Kalau kriteria itu terpenuhi di mana pun di dunia, selama ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC, maka dihitung sebagai awal bulan hijriah.”

Menurut Maesyarah, perbedaan dengan pemerintah berpotensi terjadi karena pemerintah mengadopsi pendekatan wilayah lokal (wilayatul hukmi), sementara KHGT berpegang pada prinsip matlak global. Hal ini mengakibatkan hasil penetapan awal bulan berpotensi tidak selalu sama.

Ia menegaskan perbedaan mendasar tersebut, “Karena kita global, sementara pemerintah lokal. Jadi tidak selalu bertemu.”

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Review14 minutes ago

Ada apa dengan Telkom? Kuota Sebulan yang Tak Pernah Genap

Ruang Sujud5 hours ago

Mengulas Akar Syirik dari Zaman Nabi Nuh hingga Fenomena Spiritual Modern

News6 hours ago

Indonesia Kecam Pernyataan Dubes AS soal Pendudukan Tepi Barat

News7 hours ago

Revitalisasi Sekolah 2026 Prioritaskan Rusak Berat, 3T, dan Terdampak Bencana

LakeyBanget7 hours ago

Cristiano Ronaldo Ungkap Rasa Bahagia di Al Nassr: Saya Milik Arab Saudi

News9 hours ago

Raja Salman Gelontorkan Rp13 Triliun untuk Bantuan Ramadan, 1 Keluarga Terima Segini

News9 hours ago

Cara Menyapa Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

News9 hours ago

AI Impact Summit 2026: Indonesia Dorong Kecerdasan Artifisial untuk Kepentingan Publik

Ruang Sujud10 hours ago

Sinar Mas dan APP Group Wakafkan 2.000 Mushaf Al-Qur’an kepada ICMI

Ruang Sujud17 hours ago

Puasa Ramadan di Rusia Tembus 18 Jam

Review17 hours ago

17 T Board of Peace, Bisa Buat 200 Sekolah dan 25 Rumah Sakit di Indonesia

Review17 hours ago

Darurat Narkoba di Tubuh Polri

News22 hours ago

Peran Indonesia di Gaza Begini Tanggapan Hamas

News1 day ago

Bulog Siapkan 100 Ribu Ton Minyakita Saat Ramadan dan Jelang Lebaran

LakeyBanget1 day ago

Bertemu Menpora RI, Dubes Indonesia untuk Malaysia Bahas SEA Games 2027

LakeyBanget1 day ago

Duel Panas di GBLA: Persib Bandung Usung Misi Revans Lawan Persita Tangerang

LakeyBanget1 day ago

Ronaldo Puasa Ramadan Bareng Pemain Al Nassr

LakeyBanget1 day ago

Prabowo Bertemu Pemilik Chelsea, Dihadiahi Jersey Reece James

Ruang Sujud2 days ago

Ikuti Anjuran Nabi, Pria Ini Raih Kekayaan Rp208 Triliun

News2 days ago

Jaga Populasi OAP, Provinsi Papua Tengah Lakukan ini

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.