Connect with us

Ruang Sujud

Ramadan Dan Momentum Kepulangan Kepada Tuhan

Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, tilawah terdengar dari berbagai sudut kota, dan meja makan sahur menjadi ruang sunyi tempat doa-doa lirih dipanjatkan. Namun, di balik semua ritual yang tampak, Ramadan sejatinya bukan sekadar perubahan jadwal makan atau bertambahnya rakaat salat malam. Ramadan adalah momentum kepulangan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam salah satu kajian yang disiarkan di kanal Youtube-nya dengan judul Rahasia dan Hikmah di Balik Bulan Ramadhan, Ustadz Adi Hidayat mengajak kita menyelami struktur Al-Qur’an, khususnya dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah. Di sana terdapat susunan ayat yang sangat menarik. Ayat 185 berbicara tentang kewajiban puasa dan kemuliaan Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadan. Ayat 187 menjelaskan detail hukum terkait relasi suami-istri dan batasan waktu dalam berpuasa. Namun, di antara dua ayat fiqih itu, terselip ayat 186 yang berbicara tentang doa dan kedekatan Allah dengan hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

Mengapa ayat tentang kedekatan dan doa itu diletakkan di tengah pembahasan hukum yang teknis? Di situlah letak rahasianya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Fiqih hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Allah menggunakan panggilan “’Ibadi”—hamba-hamba-Ku. Sebuah panggilan penuh kasih. Bukan “wahai orang beriman” saja, bukan pula “wahai manusia,” tetapi hamba-hamba-Ku. Di dalamnya ada sentuhan cinta. Ramadan seakan menjadi surat undangan resmi dari Allah untuk kembali pulang.

Seruan ini menyasar dua golongan sekaligus. Pertama, mereka yang telah terbiasa taat. Bagi golongan ini, Ramadan adalah ruang akselerasi. Banyak ulama terdahulu yang ketika Ramadan tiba, menghentikan aktivitas publiknya demi fokus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka tidak merasa cukup dengan ibadah rutin sepanjang tahun. Ramadan dijadikan sebagai momen kalibrasi niat, membersihkan kemungkinan riya, serta memastikan bahwa setiap amal benar-benar bermuara kepada Allah.

Namun yang lebih menyentuh, panggilan “’Ibadi” itu juga ditujukan kepada mereka yang merasa jauh, yang hidupnya mungkin penuh noda dan kesalahan. Ramadan bukan milik orang-orang suci semata. Ia justru menjadi “rumah sakit” bagi jiwa-jiwa yang sedang sakit. Dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 53, Allah memanggil hamba-hamba yang melampaui batas agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ini adalah deklarasi kasih sayang yang luar biasa.

Sering kali seseorang merasa tidak pantas datang ke masjid karena masa lalunya. Ia malu pada manusia, lalu perlahan menjauh dari Tuhan. Padahal, getaran kecil di dalam dada—keinginan mendengar ceramah, rasa haru ketika azan berkumandang, atau dorongan untuk membuka mushaf—itu bisa jadi tanda bahwa Allah sedang memanggilnya. Hidayah sering hadir dalam bentuk kegelisahan yang lembut.

Ramadan memberi peluang transformasi identitas. Seorang yang sebelumnya tenggelam dalam maksiat, ketika memutuskan bertaubat di bulan ini, sering merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan karena hidupnya tiba-tiba tanpa masalah, tetapi karena hatinya menemukan arah pulang.

Keajaiban taubat di bulan Ramadan bukan hanya pada penghapusan dosa, melainkan juga pada perubahan narasi hidup. Masa lalu yang kelam bisa Allah ubah menjadi pelajaran yang menguatkan orang lain. Luka yang dulu menjadi aib, dapat menjelma menjadi sumber empati. Inilah cara Allah memuliakan hamba yang kembali.

Kedekatan yang dijanjikan dalam ayat 186 itu bukanlah kedekatan fisik, melainkan kedekatan respons. Allah menegaskan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia memohon kepada-Nya. Namun, ada syarat yang tersirat: “maka hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku.” Artinya, hubungan ini bersifat dua arah. Allah sudah dekat. Tinggal kita yang menentukan, apakah ingin menyambut atau justru menjauh.

Ruang sujud menjadi simbol paling nyata dari kedekatan itu. Di sanalah dahi menyentuh bumi, sementara hati mengetuk langit. Tidak ada jarak sosial di hadapan Allah. Tidak ada status, jabatan, atau citra. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya.

Ramadan seharusnya mengubah kualitas sujud kita. Dari sekadar gerakan rutin menjadi percakapan intim. Dari bacaan yang dihafal menjadi pengakuan yang tulus. Jika sepanjang bulan ini kita belum merasakan getaran rindu dalam doa, mungkin yang perlu diperbaiki bukan durasi puasanya, tetapi arah hatinya.

Pada akhirnya, Ramadan adalah tentang kepulangan. Tentang keberanian mengakui bahwa kita lelah berjalan sendiri. Tentang kesediaan membuka pintu hati ketika Allah sudah lebih dulu mengetuknya dengan panggilan kasih. Pintu maaf-Nya jauh lebih luas daripada samudera kesalahan kita.

Maka sebelum Ramadan berlalu, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mendekat? Atau kita hanya sibuk menjalankan ritual tanpa pernah pulang? Di ruang sujud itulah jawabannya sering ditemukan—dalam hening, dalam air mata, dalam doa yang pelan namun penuh harap.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Kisah Haru Fardhan, Berhaji di Usia 13 untuk Gantikan Amanah Sang Ayah

Remaja 13 tahun, Fardhan Aruna Syafzani Wibowo, akan menunaikan ibadah haji di usia belia. Ia menggantikan porsi sang ayah yang telah meninggal, menjadi CJH termuda dari Bali 2026.

Ishana Zaynab

Published

on

Monitorday.com – Di usia ketika kebanyakan remaja masih sibuk dengan buku pelajaran dan rutinitas sekolah, Fardhan Aruna Syafzani Wibowo justru bersiap menapaki perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya. Remaja 13 tahun ini tercatat sebagai calon jemaah haji (CJH) termuda dari Provinsi Bali tahun 2026.

Perjalanan Fardhan ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah, tetapi juga bentuk pengabdian atas amanah yang belum sempat ditunaikan oleh sang ayah, Candra Hastiwibowo, yang telah berpulang. Kursi haji yang semula menjadi hak sang ayah kini beralih kepada dirinya, melalui keputusan keluarga yang sarat makna.

“Qadarullah suami saya meninggal dunia. Sehingga porsi haji almarhum ayahnya digantikan ananda,” ujar ibunya, Siska Aprilia Wahyu Endriyanti, Jumat (24/4/2026).

Kisah ini berakar dari perjalanan panjang. Siska dan suaminya telah mendaftar haji sejak 2013. Namun takdir berkata lain. Pada 2023, sang suami meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker, meninggalkan harapan yang belum sempat ditunaikan.

Kesempatan itu kembali datang pada November 2025, ketika pihak Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Bali menghubungi keluarga. Dari sanalah mereka mengetahui bahwa porsi haji dapat dialihkan kepada ahli waris.

“Ternyata bisa ke ahli waris, dalam hal ini anak,” katanya.

Keberangkatan Fardhan juga dimungkinkan oleh perubahan kebijakan terkait batas usia minimal jemaah haji, dari sebelumnya 17 tahun menjadi 13 tahun. Pada saat kesempatan itu datang, usia Fardhan telah memenuhi syarat.

“Alhamdulillah saat itu usianya sudah memenuhi syarat, jadi kami urus limpahan porsi dan diberi kemudahan,” imbuh Siska.

Bagi keluarga, perjalanan ini bukan sekadar keberangkatan ibadah, tetapi juga lanjutan dari pesan yang pernah dititipkan sang ayah. Siska mengingat bagaimana almarhum kerap mengingatkan Fardhan untuk menjaga keluarga.

“Almarhum dulu sering bilang ke Fardhan supaya menjaga ibu dan adik-adiknya. Jadi ini seperti bagian dari tanggung jawab itu juga,” ujarnya.

Di tengah usia yang masih belia, Fardhan mencoba mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia menjaga kondisi fisik dengan rutin berolahraga setiap akhir pekan.

“Saya olahraga setiap Sabtu dan Minggu. Minimal jalan kaki selama 30 menit,” kata siswa kelas VII SMP itu.

Di sisi lain, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai pelajar, menyelesaikan tugas sekolah, dan telah mendapatkan izin untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. Ia dijadwalkan berangkat bersama sang ibu pada 10 Mei 2026, tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 71 Surabaya.

Saat ditanya tentang perasaannya, jawaban Fardhan singkat, namun menyimpan kedalaman yang tak sederhana.

“Terharu,” ucapnya.

Di balik satu kata itu, tersimpan perjalanan panjang tentang kehilangan, tanggung jawab, dan keberanian. Sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak, di usia 13 tahun, melangkah jauh—bukan hanya ke Tanah Suci, tetapi juga menuju kedewasaan yang datang lebih cepat dari waktunya.

Continue Reading

News

War Tiket Haji Digagas, Solusi Antrean Panjang atau Sekadar Wacana?

Gagasan war tiket haji muncul sebagai alternatif atasi antrean haji. Sistemnya akan diatur pemerintah untuk memangkas waktu tunggu, bukan seperti pasar bebas.

Umar Satiri

Published

on

Monitorday.com – Antrean haji yang kian mengular seolah tak pernah benar-benar menemukan ujungnya. Di tengah kegelisahan itu, sebuah gagasan baru muncul ke permukaan—war tiket haji, sebuah konsep yang mulai diperbincangkan sebagai jalan alternatif untuk memecah kebuntuan daftar tunggu.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Barat, Kamaludin, melihat wacana ini layak disambut dengan pikiran terbuka. Baginya, ide tersebut bukan sekadar sensasi kebijakan, melainkan potensi solusi yang bisa memberi napas baru bagi mereka yang terlalu lama menunggu giliran berangkat.

Namun, ia menegaskan, konsep ini masih berada pada tahap awal. Pemerintah bersama DPR disebut akan menjadi aktor utama dalam merancang mekanisme yang tidak liar, tidak pula tanpa kendali.

“Jika diterapkan, sistemnya akan diatur pemerintah dan DPR, bukan seperti pasar bebas,” ujarnya, Jum’at, 17 April 2026.

Pernyataan itu seolah menjadi garis batas yang jelas: bahwa “war” yang dimaksud bukanlah perebutan tanpa aturan, melainkan sistem yang tetap berpijak pada regulasi. Dalam bayangan Kamaludin, skema ini justru dirancang untuk tetap tertib, terukur, dan tidak mengganggu ekosistem haji yang sudah berjalan selama ini.

Ia juga memastikan, mekanisme baru ini tidak akan menyentuh kuota yang sudah ada—baik kuota haji reguler, tambahan, maupun khusus. Artinya, wacana ini berdiri sebagai jalur alternatif, bukan menggantikan sistem yang telah mapan.

Harapannya sederhana, namun krusial: memangkas waktu tunggu yang selama ini terasa terlalu panjang, terutama di wilayah Kalimantan Barat.

Di sisi lain, kehati-hatian tetap terasa. Kepala Kemenhaj Kota Pontianak, Muslimin, memilih untuk belum banyak bersuara. Baginya, berbicara terlalu jauh tanpa kejelasan sistem justru bisa menimbulkan tafsir yang beragam di masyarakat.

“Kalau sistemnya sudah jelas, tentu akan kami sampaikan dan sosialisasikan kepada masyarakat,” katanya.

Di titik ini, wacana war tiket haji masih berdiri sebagai kemungkinan—belum menjadi kepastian. Namun, satu hal yang mulai terasa: ada upaya untuk mencari jalan keluar, di tengah antrean panjang yang selama ini hanya bisa ditunggu, tanpa banyak pilihan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Pernikahan sebagai Benteng Zina: Masihkah Relevan di Era Modern?

Di tengah kebebasan relasi modern, pernikahan tetap menjadi benteng moral yang menjaga martabat manusia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Di tengah arus modernitas yang semakin permisif terhadap hubungan bebas, konsep pernikahan dalam Islam tetap diposisikan sebagai benteng utama untuk mencegah zina. Islam tidak hanya memandang pernikahan sebagai ikatan sosial, tetapi juga sebagai sistem perlindungan moral dan spiritual. Menurut literatur fikih dan pandangan ulama yang dikutip sebagai sumber, pernikahan berfungsi menjaga kehormatan individu sekaligus stabilitas masyarakat.

Apa yang dimaksud dengan pernikahan sebagai benteng zina? Pernikahan adalah institusi yang melegalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kerangka tanggung jawab. Siapa yang membutuhkan? Setiap individu yang memiliki dorongan biologis dan keinginan membangun keluarga. Kapan relevansinya diuji? Justru di era modern seperti sekarang, ketika akses terhadap konten seksual dan kebebasan relasi semakin terbuka. Di mana tantangannya paling terasa? Pada ruang digital dan lingkungan sosial yang permisif. Mengapa tetap penting? Karena tanpa batasan yang jelas, manusia rentan pada perilaku destruktif. Bagaimana Islam menjawabnya? Dengan menempatkan pernikahan sebagai solusi yang realistis dan bermartabat.

Di era digital, godaan terhadap zina tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga hadir melalui media sosial, aplikasi kencan, hingga konten daring yang mudah diakses. Situasi ini membuat nilai-nilai pengendalian diri semakin teruji. Pernikahan, dalam konteks ini, bukan sekadar legalitas hubungan, tetapi juga komitmen untuk menjaga diri dari godaan yang semakin kompleks.

Namun demikian, tantangan modern juga menuntut pemahaman baru terhadap pernikahan. Faktor ekonomi, kesiapan mental, hingga perubahan gaya hidup sering menjadi alasan penundaan pernikahan. Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih kontekstual, bahwa pernikahan bukan sekadar formalitas, tetapi kesiapan membangun kemitraan yang sehat, setara, dan bertanggung jawab.

Islam juga tidak menutup mata terhadap realitas ini. Selain mendorong pernikahan, Islam mengajarkan pengendalian diri melalui puasa, menjaga pandangan, dan memperkuat spiritualitas. Artinya, pernikahan adalah solusi utama, tetapi bukan satu-satunya upaya dalam menjaga diri dari zina.

Dengan demikian, pernikahan tetap relevan sebagai benteng dari zina di era modern, bahkan menjadi semakin penting. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi mekanisme perlindungan yang menyentuh aspek biologis, emosional, dan spiritual manusia. Dalam dunia yang serba bebas, pernikahan justru menjadi ruang aman untuk menjaga martabat, cinta, dan keberkahan hidup.

Continue Reading

Ruang Sujud

Mengapa Islam Tidak Menganggap Seks sebagai Hal Tabu?

Islam memandang seks sebagai fitrah manusia yang harus diarahkan, bukan disembunyikan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Islam memandang seks sebagai bagian dari fitrah manusia yang tidak perlu ditabukan, melainkan harus dipahami, diatur, dan diarahkan secara benar. Dalam kerangka ajaran Islam, segala sesuatu yang merupakan kebutuhan dasar manusia tidak ditolak, tetapi justru diberikan panduan agar tetap berada dalam koridor moral dan spiritual. Menurut literatur fikih dan hadis yang dikutip sebagai sumber, pendekatan ini menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara naluri dan nilai.

Mengapa seks tidak dianggap tabu dalam Islam? Karena ia merupakan kebutuhan biologis yang diciptakan langsung oleh Allah sebagai bagian dari naluri manusia. Siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki dorongan tersebut. Kapan dorongan ini muncul tidak bisa dihindari, terutama saat seseorang mencapai usia baligh. Di mana pun manusia berada, naluri ini tetap ada. Mengapa harus diakui? Karena menutupinya justru berpotensi melahirkan penyimpangan. Bagaimana Islam mengelolanya? Dengan memberikan aturan melalui pernikahan sebagai jalan yang halal.

Dalam banyak riwayat hadis yang menjadi rujukan para ulama, pembahasan tentang hubungan intim disampaikan secara terbuka namun tetap beradab. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menganggap seks sebagai sesuatu yang kotor, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang suci jika dilakukan dengan benar. Bahkan, Nabi Muhammad SAW memberikan panduan yang detail tentang adab hubungan suami istri, mulai dari komunikasi, foreplay, hingga larangan menyakiti pasangan.

Selain itu, Islam melihat bahwa sikap tabu terhadap seks justru dapat menimbulkan dampak negatif, seperti kurangnya edukasi, kesalahpahaman, hingga perilaku menyimpang. Dengan membuka ruang diskusi yang sehat dan terarah, Islam mendorong umatnya untuk memahami seks secara benar, bukan sekadar berdasarkan mitos atau hawa nafsu. Inilah yang membedakan pendekatan Islam dengan sebagian budaya yang cenderung menutup rapat pembahasan ini.

Namun, keterbukaan ini tetap dibingkai dengan etika yang kuat. Islam melarang eksploitasi seksual, pornografi, dan segala bentuk hubungan di luar pernikahan. Artinya, keterbukaan bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan dalam memahami dan menjalankan fungsi biologis secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, Islam tidak menganggap seks sebagai hal tabu karena ia adalah bagian dari fitrah yang harus diarahkan, bukan ditekan. Pendekatan ini justru menciptakan keseimbangan antara keterbukaan dan moralitas, sehingga manusia dapat menjalani kehidupan yang sehat, bermartabat, dan bernilai ibadah.

Continue Reading

Ruang Sujud

Seks dalam Islam: Harmoni antara Kebutuhan Biologis dan Spiritualitas

Hubungan intim dalam Islam bukan sekadar pemenuhan hasrat, tetapi juga ibadah yang sarat nilai spiritual.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Dalam perspektif Islam, hubungan seksual antara suami dan istri tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan biologis semata, melainkan juga sebagai bagian dari ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Konsep ini menempatkan aktivitas intim dalam kerangka yang lebih luas, yaitu menjaga keharmonisan rumah tangga sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. Menurut berbagai literatur fikih yang dikutip sebagai sumber, Islam mengatur hubungan ini secara seimbang antara hak, kewajiban, dan etika.

Apa yang dimaksud dengan seks dalam Islam? Seks dalam Islam adalah aktivitas biologis yang dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah, dengan tujuan tidak hanya untuk reproduksi tetapi juga untuk mempererat hubungan emosional antara pasangan. Siapa yang terlibat tentu adalah suami dan istri yang sah. Kapan dilakukan tidak dibatasi secara kaku, selama tetap memperhatikan kondisi dan adab. Di mana pun diperbolehkan selama dalam ruang privat. Mengapa hal ini penting? Karena Islam memandangnya sebagai sarana menjaga kehormatan dan menghindari perbuatan zina. Bagaimana pelaksanaannya diatur? Melalui prinsip adab, saling ridha, dan tanggung jawab.

Menurut sumber-sumber hadis yang sering dirujuk dalam kajian keislaman, hubungan intim bahkan dapat bernilai sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara aspek duniawi dan ukhrawi. Aktivitas biologis yang dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal dapat menjadi ladang pahala. Oleh karena itu, niat menjadi kunci utama dalam mengubah aktivitas fisik menjadi bernilai ibadah.

Lebih jauh, Islam juga menekankan pentingnya unsur mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang) dalam hubungan seksual. Ini berarti bahwa hubungan intim tidak boleh didasarkan pada pemaksaan atau ego semata, melainkan harus dilandasi oleh kasih sayang, penghormatan, dan komunikasi yang baik. Dalam konteks ini, kepuasan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan spiritual.

Namun demikian, Islam juga memberikan batasan yang jelas terkait hubungan seksual. Larangan seperti berhubungan saat haid atau melalui cara yang tidak sesuai dengan syariat menjadi bagian dari aturan yang bertujuan menjaga kesehatan, kebersihan, dan moralitas. Aturan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengakomodasi kebutuhan manusia, tetapi juga mengarahkannya agar tetap berada dalam koridor yang sehat dan bermartabat.

Dengan demikian, seks dalam Islam merupakan perpaduan harmonis antara kebutuhan biologis dan nilai spiritual. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga medium untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Perspektif ini menegaskan bahwa Islam sebagai agama yang komprehensif mampu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk yang paling personal sekalipun.

Continue Reading

Ruang Sujud

Nikmat Mana, Kebaikan atau Kemaksiatan?

Umar Satiri

Published

on

Monitorday.com – Sering kali manusia terjebak pada cara pandang yang keliru: apa yang terasa menyenangkan dianggap baik, sementara apa yang menuntut disiplin justru dipandang sebagai beban. Dalam logika seperti ini, maksiat terlihat menggoda karena memberi kenikmatan instan, sedangkan ketaatan terasa berat karena menuntut kesungguhan. Padahal, ukuran kebahagiaan tidak pernah sesederhana rasa nyaman sesaat.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam salah satu pengajian pernah mengingatkan bahwa persepsi tersebut perlu diluruskan. Menurutnya, manusia sering tertipu oleh “rasa awal”—sesuatu yang tampak ringan belum tentu membawa ketenangan, dan sesuatu yang terasa berat belum tentu menyusahkan dalam jangka panjang. Justru, kebahagiaan yang hakiki lahir dari ketaatan, bukan dari kebebasan tanpa arah.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menegaskan bahwa penilaian manusia sering kali terbatas pada apa yang tampak di permukaan. Maksiat mungkin terasa menyenangkan di awal karena mengikuti hawa nafsu, tetapi bisa membawa dampak buruk yang tidak langsung terlihat. Sebaliknya, ketaatan yang terasa berat justru menyimpan kebaikan yang mendalam.

Dalam banyak kesempatan, Gus Baha menjelaskan bahwa ketaatan melatih manusia untuk mengendalikan diri. Dari situlah lahir ketenangan. Orang yang terbiasa taat tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga membangun struktur batin yang kuat—ia lebih sabar, lebih jernih dalam berpikir, dan tidak mudah goyah oleh tekanan hidup.

Hal ini juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (berat), dan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan (sesuai hawa nafsu).” (HR. Muslim)

Hadis ini memberikan gambaran yang sangat jelas: jalan menuju kebaikan sering kali tidak mudah, sementara jalan menuju keburukan justru tampak menyenangkan. Namun, kemudahan itu bersifat semu.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini mudah ditemukan. Banyak orang mengejar kesenangan instan—baik dalam gaya hidup, kebiasaan, maupun pilihan-pilihan yang impulsif. Namun, setelah itu, muncul kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan. Inilah yang disebut Gus Baha sebagai kenikmatan yang menipu—memberi rasa sesaat, tetapi menyisakan kehampaan.

Sebaliknya, ketaatan mungkin menuntut pengorbanan di awal: bangun lebih pagi, menahan diri, atau memilih jalan yang tidak selalu populer. Namun dari proses itulah lahir ketenangan yang lebih dalam dan bertahan lama.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang mana yang terasa lebih enak di awal, tetapi mana yang membawa ketenangan di akhir. Ketaatan bukanlah beban, melainkan kebutuhan jiwa. Ia adalah jalan pulang—tempat di mana manusia menemukan makna, arah, dan kedamaian yang sejati.

Continue Reading

News

Perjumpaan Simbolik Pangeran Diponegoro dan Iran, Ketika Pohon Menjadi Bahasa Perlawanan

Published

on

By

H. Erdy Nasyrul, M.I.Kom
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Monitorday.com – Langit sejarah kerap mempertemukan hal-hal yang tak pernah benar-benar saling bersentuhan. Ia tidak mempertemukan tokoh dalam ruang dan waktu yang sama, tetapi mempertemukan makna, dalam bentuk simbol yang hidup, berpindah, dan menemukan resonansinya kembali di zaman yang berbeda.

Di tanah Jawa abad ke-19, Pangeran Diponegoro memimpin sebuah perlawanan yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada jaringan kultural yang halus dan nyaris tak terlihat. Dalam gerak gerilya yang senyap itu, pohon, terutama sawo kecik, menjadi lebih dari sekadar tanaman. Ia hadir sebagai penanda, sebagai kode, sebagai bahasa diam yang hanya dimengerti oleh mereka yang berada dalam lingkar perjuangan.

Pohon itu tidak berbicara, tetapi ia memberi tahu. Ia tidak berteriak, tetapi ia menghubungkan.

Dalam lanskap yang berbeda, berabad kemudian, simbol yang sama kembali muncul, kali ini di tengah gejolak Timur Tengah. Mojtaba Khamenei, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Tasnim, menyerukan rakyat Iran untuk menanam pohon di seluruh negeri, sebagai penghormatan kepada para martir yang gugur dalam konflik.

Seruan itu bukan sekadar ajakan ekologis. Ia adalah narasi. Ia adalah upaya membangun memori kolektif, menanam harapan di atas tanah yang baru saja menyerap luka. Setiap bibit yang ditanam diposisikan sebagai simbol kehidupan yang tidak tunduk pada kematian, sebagai tanda bahwa bangsa yang diserang masih memiliki masa depan.

Di titik ini, sejarah seperti berbisik pelan, ada sesuatu yang sama.

Namun kesamaan itu bukanlah hubungan langsung. Tidak ada garis sejarah yang menghubungkan Diponegoro dengan Iran modern. Tidak ada warisan yang berpindah secara literal. Yang ada adalah perjumpaan simbolik, dua peradaban yang, dalam tekanan dan krisisnya masing-masing, menemukan bahasa yang sama untuk mengekspresikan perlawanan.

Pada masa Diponegoro, pohon bekerja dalam kesunyian. Ia menjadi bagian dari strategi, penanda lokasi, simpul komunikasi, sekaligus identitas kultural yang mengikat para pengikutnya. Dalam tradisi Jawa, sawo kecik sendiri tidak berdiri sebagai objek biasa. Ia dimaknai sebagai sarwo becik, lambang kebaikan, keteguhan, dan keselarasan hidup.

Dengan demikian, pohon dalam konteks Diponegoro bukan hanya alat, tetapi juga nilai. Ia menyatukan dimensi spiritual dan perlawanan dalam satu simbol yang sederhana.

Di Iran, makna itu mengalami transformasi. Pohon tidak lagi tersembunyi sebagai kode, melainkan tampil di ruang publik sebagai ekspresi kolektif. Ia menjadi ritual nasional, ditanam untuk mengenang, sekaligus untuk menegaskan bahwa kematian tidak mengakhiri narasi sebuah bangsa.

Jika dalam perang Diponegoro pohon adalah “jejak yang ditinggalkan”, maka dalam konteks Iran pohon adalah “masa depan yang ditanam”.

Perbedaan ini justru memperjelas satu hal, simbol yang sama dapat hidup dalam bentuk yang berbeda, tetapi tetap membawa pesan yang serupa.

Baik di Jawa maupun di Iran, pohon menjadi metafora tentang waktu. Ia tumbuh perlahan, berakar dalam, dan bertahan lama. Ia tidak memberikan kemenangan instan, tetapi menjanjikan keberlanjutan.

Dalam dunia yang sering kali mengukur kekuatan dari kecepatan dan daya hancur, simbol ini menawarkan perspektif lain, bahwa ketahanan sejati justru dibangun dari sesuatu yang tumbuh, bukan yang menghancurkan.

Di tengah konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pertanyaan tentang “siapa yang menang” sering kali terdengar terlalu tergesa. Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu menjadi penentu akhir dari sebuah peradaban. Bahkan, dalam banyak kasus, pihak yang tampak kalah justru meninggalkan jejak yang lebih dalam dan lebih bertahan lama.

Penyair Romawi Horace pernah menulis, Graecia capta ferum victorem cepit. Artinya, Yunani yang ditaklukkan justru menaklukkan penakluknya yang buas. Kekuasaan boleh datang dengan pedang, tetapi pengaruh sering kali datang melalui budaya, melalui nilai, melalui simbol yang hidup lebih lama dari kemenangan itu sendiri.

Pengalaman Nusantara memberi cermin yang serupa. Secara kasat mata, negeri ini pernah ditaklukkan oleh Belanda. Namun dalam perjalanan waktu, interaksi itu tidak berjalan satu arah. Banyak jejak Nusantara justru hidup dalam ruang budaya Belanda, baik dalam kuliner, bahasa, maupun kebiasaan sosial. Sebuah pengingat bahwa relasi penakluk dan yang ditaklukkan tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Dalam konteks itulah, simbol pohon menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar metafora ekologis, tetapi representasi dari sesuatu yang lebih besar, bahwa peradaban yang berakar kuat tidak mudah ditaklukkan, bahkan ketika secara militer ia ditekan.

Kadang, perlawanan justru tumbuh dari sesuatu yang paling sunyi, sebuah bibit yang ditanam, akar yang menembus tanah, dan keyakinan bahwa kehidupan akan terus berlanjut.

Dari Jawa hingga Iran, pohon mengajarkan hal yang sama, bahwa perlawanan bukan hanya tentang bertahan dari hari ini, tetapi tentang memastikan bahwa masa depan tetap memiliki tempat untuk tumbuh.

Mungkin, di situlah makna terdalam dari simbol ini, bahwa setiap pohon yang ditanam adalah bentuk perlawanan paling tenang, tetapi juga paling panjang umur.

Continue Reading

News

Paradoks Hubungan Sains dan Agama

Mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Religion and Spirituality mengungkapkan bagaimana sistem keyakinan pribadi seseorang membentuk pandangan mereka tentang hubungan antara sains dan agama. Penelitian ini menemukan pola yang berbeda: individu dengan keyakinan agama yang kuat cenderung melihat sains dan agama sebagai dua entitas yang saling melengkapi, sementara mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan.

Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana kerangka pemahaman yang berbeda memengaruhi persepsi seseorang tentang hubungan yang kompleks antara sains dan agama. Hasil studi ini menambah dimensi pada perdebatan global yang telah berlangsung selama berabad-abad mengenai kompatibilitas kedua domain tersebut.

Perdebatan mengenai hubungan antara sains dan agama memang telah berlangsung lama. Ada kelompok yang berpendapat bahwa keduanya adalah jalur yang saling melengkapi untuk memahami dunia dan realitas, sementara kelompok lain beranggapan bahwa keduanya pada dasarnya tidak selaras dan saling bertentangan.

Studi-studi sebelumnya seringkali fokus pada situasi di mana sains dan agama dibandingkan atau dipertentankan secara langsung. Akibatnya, masih ada pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana keyakinan pada salah satu bidang, baik sains atau agama, memengaruhi persepsi tentang kompatibilitas keduanya, terlepas dari perbandingan langsung tersebut.

Untuk mengatasi kesenjangan penelitian ini, para peneliti dalam studi terbaru ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana keyakinan pada sains dan keyakinan agama, sebagai sistem makna yang terpisah, dapat memprediksi apakah seseorang akan melihat sains dan agama sebagai kompatibel atau bertentangan.

Dengan melibatkan 684 partisipan dari berbagai latar belakang budaya dan agama di Inggris, Belanda, dan Kazakhstan, para peneliti berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana keyakinan-keyakinan ini berinteraksi dalam konteks yang beragam.

Continue Reading

News

Kisah Nabi Isa AS dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Isa AS sebagai seorang utusan Allah yang mulia, lahir dari Bunda Maryam tanpa ayah melalui mukjizat

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Pemahaman akidah mengenai sosok Nabi Isa AS menjadi perhatian khusus dalam diskursus keagamaan, terutama menjelang dan selama bulan Desember. Dalam Islam, kisah Nabi Isa AS diuraikan secara komprehensif dalam Al-Qur’an, menyajikan perspektif yang berbeda dari narasi yang dikenal secara luas di luar ajaran Islam.

Pentingnya meluruskan pemahaman akidah ini ditekankan oleh para ulama tafsir guna memastikan umat Muslim memahami esensi ajaran Islam yang benar tentang salah satu nabi utama. Klarifikasi ini bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman dan memperkuat keyakinan berdasarkan sumber-sumber otentik Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Qur’an menggambarkan Nabi Isa AS sebagai seorang utusan Allah yang mulia, lahir dari Bunda Maryam tanpa ayah melalui mukjizat. Beliau diutus untuk Bani Israil dengan membawa pesan tauhid, menyerukan penyembahan hanya kepada Allah SWT, serta diberi berbagai mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati (dengan izin Allah), dan berbicara saat masih bayi di buaian.

Para ulama tafsir secara konsisten menjelaskan bahwa Nabi Isa AS adalah manusia pilihan Allah, bukan Tuhan atau anak Tuhan. Kelahirannya yang ajaib adalah bukti kekuasaan Allah, bukan indikasi ketuhanan. Tafsir-tafsir ini menegaskan status Nabi Isa sebagai hamba dan Rasul Allah yang patut dihormati, tetapi tidak disembah.

Selain itu, narasi Al-Qur’an juga membantah klaim penyaliban dan kematian Nabi Isa di kayu salib. Menurut keyakinan Islam, Allah SWT mengangkat Nabi Isa AS ke langit, dan orang lain yang serupa dengannya disalibkan. Beliau akan kembali ke bumi sebelum hari kiamat untuk menegakkan keadilan dan syariat Islam.

Dengan demikian, pemahaman akidah yang lurus mengenai Nabi Isa AS, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan tafsir ulama, menjadi fundamental bagi umat Muslim. Hal ini tidak hanya memperkaya wawasan keagamaan tetapi juga mengukuhkan keyakinan pada keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW sebagai penutup para nabi.

Continue Reading

News

Makna Mawaddah dan Rahmah Melampaui Hubungan Biologis dalam Islam

Hubungan suami istri dalam Islam bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi ibadah yang sarat cinta, empati, dan ketenangan batin

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Konsep hubungan suami istri dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai aktivitas biologis, melainkan sebagai ibadah yang sarat nilai spiritual. Dalam konteks ini, istilah mawaddah dan rahmah menjadi fondasi utama yang membentuk kualitas hubungan intim pasangan. Menurut berbagai sumber kajian keislaman yang dikutip, kedua konsep ini bukan hanya teori, tetapi harus terwujud nyata dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari, termasuk di ranjang.

Secara konseptual, mawaddah merujuk pada cinta yang penuh gairah, ketulusan, dan keinginan untuk membahagiakan pasangan. Apa maknanya dalam praktik? Mawaddah tercermin dalam upaya suami istri untuk saling memberi kepuasan secara halal (what), dengan cara yang penuh kehangatan dan komunikasi emosional (how). Kapan hal ini dilakukan? Dalam setiap momen kebersamaan yang dilandasi niat ibadah (when). Siapa yang terlibat? Tentu kedua pasangan yang sah (who). Di mana? Dalam ruang privat pernikahan (where). Mengapa penting? Karena hal ini menjadi sarana menjaga keharmonisan dan menjauhkan diri dari penyimpangan (why), sebagaimana dijelaskan menurut media yang dikutip sebagai sumber.

Lebih jauh, mawaddah juga mengandung unsur keaktifan dan kreativitas dalam membangun kedekatan. Suami dan istri tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga pemberi kebahagiaan. Bahasa cinta, sentuhan lembut, serta perhatian kecil menjadi bagian dari “pupuk” yang menjaga keintiman tetap hidup. Dengan demikian, hubungan intim tidak menjadi rutinitas kosong, melainkan ekspresi cinta yang terus diperbarui.

Di sisi lain, rahmah hadir sebagai penyeimbang dari mawaddah. Rahmah adalah kasih sayang yang berakar pada empati dan kelembutan hati. Dalam praktiknya, rahmah berarti memahami kondisi pasangan, seperti saat lelah atau sakit, serta tidak memaksakan kehendak. Menurut media yang dikutip sebagai sumber, konsep ini sejalan dengan filosofi Al-Qur’an yang menyebut suami istri sebagai “pakaian” satu sama lain—saling melindungi, menjaga kehormatan, dan menutupi kekurangan.

Rahmah juga menuntut penerimaan fisik dan emosional pasangan apa adanya. Dalam konteks ini, hubungan intim menjadi ruang aman yang bebas dari perbandingan, tekanan, atau ekspektasi yang tidak realistis. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan keamanan emosional dalam pernikahan, sehingga hubungan menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

Ketika mawaddah dan rahmah berjalan beriringan, maka lahirlah sakinah, yaitu ketenangan dalam rumah tangga. Bagaimana dampaknya? Hubungan intim tidak hanya menjadi sarana pemenuhan kebutuhan, tetapi juga alat meredam konflik, mempererat ikatan batin, dan menjaga kesetiaan. Menurut media yang dikutip sebagai sumber, pasangan yang mampu mengelola dua aspek ini akan lebih tahan terhadap godaan eksternal serta memiliki hubungan yang lebih harmonis dan bermakna.

Dengan demikian, Islam memandang hubungan suami istri sebagai ibadah yang utuh—menggabungkan cinta, gairah, empati, dan tanggung jawab. Mawaddah menghidupkan api cinta, rahmah menenangkan jiwa, dan keduanya bersama-sama mengantarkan pasangan menuju sakinah dalam kehidupan rumah tangga.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



LakeyBanget5 minutes ago

Persib Bandung Kembali Puncaki Klasemen Usai Bantai Bhayangkara FC

News42 minutes ago

Kapan Hasil TKA SD dan SMP 2026 Diumumkan?

LakeyBanget1 hour ago

Urutan Moda Transportasi Paling Aman

News2 hours ago

Beri Taklimat ke1.500 Komandan Satuan TNI, Prabowo Kobarkan Semangat Juang

News6 hours ago

Penutupan Prodi Antara Efisiensi dan Masa Depan Pendidikan Tinggi

News6 hours ago

Blokade Selat Hormuz Sumbat Nadi Ekonomi Dunia

News8 hours ago

Lompatan Besar Pendidikan Indonesia: Dari Kelas Biasa Menuju Smart Classroom

Review11 hours ago

Mempertimbangkan Jeda Fiskal Demi Menghalau Risiko Shut Down 2026

Review12 hours ago

Jumhur Hidayat: Jembatan Emas Ekologi dan Industri Nasional

LakeyBanget13 hours ago

Pecahkan Rekor Dunia, Desak/Kadek Persembahkan Emas di Asian Beach Games 2026

LakeyBanget13 hours ago

Ronaldo Cetak Gol ke-970 saat Al Nassr Pecundangi Raja Asia

LakeyBanget13 hours ago

Kontroversi VAR Warnai Duel Sengit Atl Madrid vs Arsenal, Arteta Reaksi Begini

News15 hours ago

ZISWAF Perkuat Ketahanan Indonesia

News18 hours ago

Pascasarjana UNJ Gelar Workshop Strategi Penulisan Manuskrip Ilmiah

Review18 hours ago

Dream Team Komunikasi M. Qodari, Bisa Apa?

Review18 hours ago

Oase Dialogis Mayjen TNI Kristomei Sianturi

News23 hours ago

UEA Resmi Keluar dari OPEC dan OPEC+ Mulai 1 Mei, Ada Apa?

News23 hours ago

Prabowo Targetkan Swasembada Energi 2029

LakeyBanget24 hours ago

Gugatan Royalti Ditolak, Sengketa Katalog Musik Jimi Hendrix Berakhir di Pengadilan

LakeyBanget1 day ago

Film Dokumenter Timnas Indonesia Siap Tayang di Bioskop, Kapan?

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.