Connect with us

Ruang Sujud

Ramadan Dan Momentum Kepulangan Kepada Tuhan

Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, tilawah terdengar dari berbagai sudut kota, dan meja makan sahur menjadi ruang sunyi tempat doa-doa lirih dipanjatkan. Namun, di balik semua ritual yang tampak, Ramadan sejatinya bukan sekadar perubahan jadwal makan atau bertambahnya rakaat salat malam. Ramadan adalah momentum kepulangan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam salah satu kajian yang disiarkan di kanal Youtube-nya dengan judul Rahasia dan Hikmah di Balik Bulan Ramadhan, Ustadz Adi Hidayat mengajak kita menyelami struktur Al-Qur’an, khususnya dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah. Di sana terdapat susunan ayat yang sangat menarik. Ayat 185 berbicara tentang kewajiban puasa dan kemuliaan Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadan. Ayat 187 menjelaskan detail hukum terkait relasi suami-istri dan batasan waktu dalam berpuasa. Namun, di antara dua ayat fiqih itu, terselip ayat 186 yang berbicara tentang doa dan kedekatan Allah dengan hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

Mengapa ayat tentang kedekatan dan doa itu diletakkan di tengah pembahasan hukum yang teknis? Di situlah letak rahasianya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Fiqih hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Allah menggunakan panggilan “’Ibadi”—hamba-hamba-Ku. Sebuah panggilan penuh kasih. Bukan “wahai orang beriman” saja, bukan pula “wahai manusia,” tetapi hamba-hamba-Ku. Di dalamnya ada sentuhan cinta. Ramadan seakan menjadi surat undangan resmi dari Allah untuk kembali pulang.

Seruan ini menyasar dua golongan sekaligus. Pertama, mereka yang telah terbiasa taat. Bagi golongan ini, Ramadan adalah ruang akselerasi. Banyak ulama terdahulu yang ketika Ramadan tiba, menghentikan aktivitas publiknya demi fokus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka tidak merasa cukup dengan ibadah rutin sepanjang tahun. Ramadan dijadikan sebagai momen kalibrasi niat, membersihkan kemungkinan riya, serta memastikan bahwa setiap amal benar-benar bermuara kepada Allah.

Namun yang lebih menyentuh, panggilan “’Ibadi” itu juga ditujukan kepada mereka yang merasa jauh, yang hidupnya mungkin penuh noda dan kesalahan. Ramadan bukan milik orang-orang suci semata. Ia justru menjadi “rumah sakit” bagi jiwa-jiwa yang sedang sakit. Dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 53, Allah memanggil hamba-hamba yang melampaui batas agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ini adalah deklarasi kasih sayang yang luar biasa.

Sering kali seseorang merasa tidak pantas datang ke masjid karena masa lalunya. Ia malu pada manusia, lalu perlahan menjauh dari Tuhan. Padahal, getaran kecil di dalam dada—keinginan mendengar ceramah, rasa haru ketika azan berkumandang, atau dorongan untuk membuka mushaf—itu bisa jadi tanda bahwa Allah sedang memanggilnya. Hidayah sering hadir dalam bentuk kegelisahan yang lembut.

Ramadan memberi peluang transformasi identitas. Seorang yang sebelumnya tenggelam dalam maksiat, ketika memutuskan bertaubat di bulan ini, sering merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan karena hidupnya tiba-tiba tanpa masalah, tetapi karena hatinya menemukan arah pulang.

Keajaiban taubat di bulan Ramadan bukan hanya pada penghapusan dosa, melainkan juga pada perubahan narasi hidup. Masa lalu yang kelam bisa Allah ubah menjadi pelajaran yang menguatkan orang lain. Luka yang dulu menjadi aib, dapat menjelma menjadi sumber empati. Inilah cara Allah memuliakan hamba yang kembali.

Kedekatan yang dijanjikan dalam ayat 186 itu bukanlah kedekatan fisik, melainkan kedekatan respons. Allah menegaskan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia memohon kepada-Nya. Namun, ada syarat yang tersirat: “maka hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku.” Artinya, hubungan ini bersifat dua arah. Allah sudah dekat. Tinggal kita yang menentukan, apakah ingin menyambut atau justru menjauh.

Ruang sujud menjadi simbol paling nyata dari kedekatan itu. Di sanalah dahi menyentuh bumi, sementara hati mengetuk langit. Tidak ada jarak sosial di hadapan Allah. Tidak ada status, jabatan, atau citra. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya.

Ramadan seharusnya mengubah kualitas sujud kita. Dari sekadar gerakan rutin menjadi percakapan intim. Dari bacaan yang dihafal menjadi pengakuan yang tulus. Jika sepanjang bulan ini kita belum merasakan getaran rindu dalam doa, mungkin yang perlu diperbaiki bukan durasi puasanya, tetapi arah hatinya.

Pada akhirnya, Ramadan adalah tentang kepulangan. Tentang keberanian mengakui bahwa kita lelah berjalan sendiri. Tentang kesediaan membuka pintu hati ketika Allah sudah lebih dulu mengetuknya dengan panggilan kasih. Pintu maaf-Nya jauh lebih luas daripada samudera kesalahan kita.

Maka sebelum Ramadan berlalu, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mendekat? Atau kita hanya sibuk menjalankan ritual tanpa pernah pulang? Di ruang sujud itulah jawabannya sering ditemukan—dalam hening, dalam air mata, dalam doa yang pelan namun penuh harap.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Ketika Rasulullah Menegur Sahabat yang Berlebihan dalam Beribadah, Termasuk Puasa

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Dalam satu hadits riwayat Imam al-Bukhari dikisahkan, suatu hari datang tiga orang sahabat ke istri-istri Nabi.

Mereka semua penasaran dengan ibadah Nabi. Sebagai orang yang tinggal serumah, istri Nabi tentu tahu detail aktivitas Nabi, termasuk dalam hal ibadah.

Kunjungan tiga sahabat itu tidak diketahui Rasulullah. Begitu mereka mendengar penjelasan apa dan bagaimana ibadah Nabi, mereka heran, ternyata ibadah Nabi tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.

Dalam pandangan mereka, sebagai Nabi yang tentu memiliki tingkat spiritualitas tinggi, ibadahnya pasti luar biasa. Tapi realitasnya tidak demikian.

Mereka pun berkesimpulan, “Wajar Nabi ibadahnya sedikit begitu, ia kan sudah dijamin mendapat ampunan dari Allah. Kalau kita? Ya tetap harus berlomba dalam beribadah. Siapa yang ibadahnya paling hebat, dia lah yang pahalanya terbanyak,” kata mereka.

Sejurus kemudian, mereka bertekad untuk beribadah dengan lebih melangit lagi. Ada yang berjanji akan melaksanakan shalat malam selamanya.

Ada pula yang bersikukuh untuk berpuasa setiap hari. Bahkan, ada juga yang mantap menyatakan untuk membujang seumur hidup demi fokus beribadah.

Tekad konyol mereka ini sampai ke telinga Rasulullah. Segeralah Rasulullah menemui mereka. “Apa betul kalian yang berkata demikian?” Nabi mengawali.

“Demi Allah, aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Tapi tidak selamanya juga aku shalat malam, tidak setiap hari pula aku berpuasa, dan aku juga tetap menikahi wanita!.”

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukanlah dari bagianku!” tegas Nabi.

Continue Reading

Ruang Sujud

Inilah Alasan Sejarawan Husein Haikal Menulis Sirah Nabi secara Rasional, Dan Kesampingkan Kisah-Kisah Ajaib

Faisal Maarif

Published

on

Ruangsujud.com – Muhammad Husein Haikal, sejarawan Mesir, menulis biografi Nabi Muhammad dalam bukunya “Hayat Muhammad” dengan pendekatan rasional.

Ia menggambarkan Rasulullah sebagai manusia agung yang berakhlak mulia, bukan sosok yang dikelilingi keajaiban supranatural.

Berlatar belakang pendidikan Barat dan pengaruh pemikiran Islam modernis, Haikal menekankan analisis sejarah yang logis dan ilmiah dalam menuturkan kisah hidup Nabi.

Menurutnya, pendekatan ini penting agar teladan Nabi dipahami secara realistis dan relevan oleh manusia biasa.

Pendekatan kritis Haikal sempat menuai kontroversi hebat di kalangan ulama tradisional Mesir.
Namun, Haikal meyakini bahwa keagungan Nabi tampak dalam sisi kemanusiaannya, mulai dari perjuangan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan beliau.

Bagi Haikal, mukjizat terbesar yang tak terbantahkan dari Rasulullah adalah Al-Qur’an.

Pesan Al-Qur’an serta keberhasilan misi Nabi dianggapnya sebagai bukti paling rasional atas kenabian Muhammad, sehingga Haikal merasa tak perlu mengandalkan kisah-kisah fantastis untuk menunjukkan kemuliaan Rasulullah.

Konsisten dengan pendekatan tersebut, Haikal mengesampingkan berbagai cerita legendaris yang terlalu ajaib dan minim bukti sejarah.

Misalnya, ia tidak memasukkan kisah malaikat Jibril membelah dada Nabi saat kecil, karena dianggap tak berdasar kuat secara historis dan mungkin bersifat simbolis saja.

Demikian pula, Haikal menghindari kisah-kisah tanda ajaib saat kelahiran Muhammad, serta mukjizat spektakuler seperti Nabi membelah bulan.

Baginya, yang utama dari kisah Rasulullah ialah keteladanannya sebagai manusia dan nilai-nilai luhur yang dibawanya, sehingga kebesaran Nabi tampak tanpa perlu dibalut mitos supranatural.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menjaga Amanah dalam Sunyi

Published

on

Monitorday.com – Kisah ini bukan bermula dari ruang konferensi atau forum resmi, melainkan dari sebuah unggahan media sosial. Dinukil dari laman Facebook Haedar Nashir, Selasa dini hari, 10 Februari 2026, sebuah pengalaman kecil di perjalanan kereta api berubah menjadi refleksi tentang kepercayaan (amanah) dan profesionalisme layanan publik.

“Tepat pukul 01.24 WIB saya turun di Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Kereta api Gajayana jurusan Malang,” tulisnya.

Kereta Api Gajayana berhenti sebentar di Stasiun Tugu Yogyakarta. Proses turun berjalan normal. Tak ada firasat apa pun. Namun baru sepertiga perjalanan menuju rumah, kesadaran itu datang: iPad mini yang biasa dipakai mengetik tertinggal di kereta.

“Kehilangan Ipad tentu sangat merisaukan. Bukan bendanya, tapi isinya,” tuturnya.

Di dalam perangkat itu tersimpan data, dokumen, serta bahan kuliah untuk mahasiswa S3 Program Studi Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Malam sebelumnya, ia memang sempat menulis bahan kuliah saat keberangkatan dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB. Kantuk yang datang setelah agenda seharian membuatnya tertidur sesaat. Tanpa disadari, iPad terjatuh di pinggir kursi dan terlupakan ketika turun.

Laporan resmi segera dibuat. Petugas merespons dengan sigap dan detail, menanyakan jenis, warna, casing, hingga nomor kursi. Dalam situasi dini hari, respons cepat itu menjadi titik awal tumbuhnya harapan.

Karena menyangkut barang penting, Haedar Nashir juga menghubungi Kepala Stasiun Yogyakarta, Raja Husein Pandapotan Harahap, yang sebelumnya dikenal saat bertugas di Stasiun Gambir. Pesan WhatsApp dikirim pukul 01.49 WIB.

“Rasanya tidak nyaman mengganggu Pak Raja yang tentu sudah istirahat, tapi apa boleh buat,” tulisnya.

Balasan datang cepat. “Siap Bapak,” jawab Raja, sebagaimana dikisahkan Haedar Nashir.

Namun pukul 02.15 WIB, kabar berikutnya belum menggembirakan. iPad belum ditemukan di gerbong. Kegundahan sempat muncul.

“Sudahlah, kalau memang rizkinya, Ipad akan kembali. Kalau pun tidak, semoga ada yang menemukan dan berkenan mengembalikan,” ujarnya.

Pukul 06.15 WIB, kabar baik akhirnya datang. iPad ditemukan dalam perjalanan terakhir di Stasiun Kota Malang. Foto perangkat tersebut dikirim sebagai bukti. Rasa lega pun menyelimuti pagi itu.

Meski tanpa iPad, pukul 10.00 WIB kuliah tetap berlangsung. “Saya mengabarkan kalau kali ini kuliah tanpa tayangan powerpoint,” tulisnya. Ia menyebut bahan kuliah sedang “jalan-jalan” bersama Kereta Api Gajayana ke Malang. Perkuliahan berjalan menggunakan papan tulis whiteboard, bahkan terasa lebih leluasa.

Siang harinya, sekitar pukul 14.25 WIB, iPad tiba kembali di Yogyakarta dan diambil perwakilan tim Media Komunikasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Serah terima berlangsung resmi dan terdokumentasi.

“Alhamdulillah Ipad sudah saya terima dengan baik di rumah… Terimakasih untuk seluruh kru KAI atas pelayanan dan bantuan terbaiknya,” tulisnya lagi dalam pesan yang ia kirimkan kepada Kepala Stasiun.

Kisah sederhana ini menjadi catatan tentang bagaimana sistem layanan publik bekerja. Bagi Haedar Nashir, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang perangkat yang kembali.

“KAI saat ini makin baik dan luar biasa pelayanannya… Tandanya manajemen KAI kian berkembang modern,” tuturnya.

Dalam perspektif administrasi publik, peristiwa ini menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari pengalaman konkret warga ketika berhadapan dengan layanan negara. Seperti dikemukakan Mark H. Moore, nilai publik (public value) terbentuk ketika institusi mampu menghadirkan manfaat nyata dan dapat dirasakan. Respons cepat, koordinasi yang efektif, dan akuntabilitas dalam pengembalian barang adalah bentuk nilai itu.

Paradigma New Public Service yang diperkenalkan Janet V. Denhardt dan Robert B. Denhardt menegaskan bahwa tugas aparatur bukan sekadar menjalankan prosedur, tetapi melayani warga dengan integritas. Profesionalisme bukan hanya soal sistem, tetapi juga etika.

Dan di situlah kisah Sang Ketum PP Muhammadiyah ini menemukan resonansinya dengan bulan puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan integritas—berbuat benar meski tak diawasi. Aparatur yang tetap bekerja sigap pukul 02.00 WIB, tanpa sorot kamera, tanpa publikasi, sejatinya sedang mempraktikkan nilai yang sama: bekerja dalam sunyi, tetapi bernilai bagi orang lain.

Jika puasa melatih manusia untuk jujur pada Tuhan dalam kesendirian, maka profesionalisme melatih aparatur untuk jujur pada amanah dalam tugasnya. Keduanya bertemu pada satu titik: kepercayaan.

Dan mungkin, pagi itu, yang kembali bukan hanya iPad.

Yang kembali adalah keyakinan bahwa pelayanan publik, seperti puasa, menemukan maknanya justru ketika dijalankan dengan tulus—meski tak selalu terlihat.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ekonomi Berdikari Prabowo dalam Perspektif Pemikir Dunia dan Indonesia

Konsep ekonomi berdikari yang digaungkan Presiden Prabowo dinilai memiliki akar kuat dalam teori kemandirian ekonomi global dan gagasan ekonomi kerakyatan Indonesia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan pentingnya “ekonomi berdikari” sebagai arah pembangunan nasional di tengah ketidakpastian global. Menurut sejumlah pidato dan pernyataan resmi yang dikutip media nasional, Prabowo menyebut bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi, terutama dalam sektor pangan, energi, dan industri strategis.

Secara konseptual, gagasan berdikari memiliki resonansi kuat dengan pemikiran Soekarno. Dalam pidato-pidatonya, Soekarno menekankan prinsip “berdikari dalam ekonomi” sebagai bagian dari Trisakti: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Bagi Soekarno, ketergantungan pada kekuatan asing berpotensi melemahkan kedaulatan nasional. Konsep ini menempatkan produksi nasional dan penguasaan sumber daya sebagai fondasi kemerdekaan sejati.

Dari sisi teori ekonomi dunia, gagasan ekonomi berdikari dapat dikaitkan dengan pemikiran Friedrich List tentang “National System of Political Economy”. List menolak liberalisme pasar bebas absolut yang digagas Adam Smith, dan menekankan perlunya proteksi industri nasional pada tahap awal pembangunan. Menurut List, negara berkembang perlu melindungi dan memperkuat industrinya sebelum bersaing secara penuh di pasar global. Pendekatan ini relevan dengan strategi hilirisasi dan substitusi impor yang kini digencarkan pemerintah.

Selain itu, teori “dependency” yang dipopulerkan oleh Andre Gunder Frank juga memberi konteks akademik pada ekonomi berdikari. Teori ini menjelaskan bagaimana negara berkembang sering terjebak dalam ketergantungan struktural terhadap negara maju melalui ekspor bahan mentah dan impor produk jadi. Dalam perspektif ini, hilirisasi sumber daya alam yang didorong pemerintah menjadi upaya memutus pola ketergantungan tersebut.

Di Indonesia sendiri, pemikiran Mohammad Hatta tentang koperasi sebagai sokoguru perekonomian juga sejalan dengan semangat berdikari. Hatta menekankan ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong, bukan dominasi modal besar semata. Konsep ini tercermin dalam dorongan pemerintah untuk memperkuat UMKM, petani, dan pelaku usaha lokal sebagai aktor utama pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, pendekatan ekonomi berdikari juga dapat dibaca melalui perspektif pembangunan struktural ala Alexander Hamilton yang mendorong industrialisasi nasional Amerika Serikat melalui kebijakan proteksi dan penguatan manufaktur. Strategi hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit yang kini dijalankan Indonesia menunjukkan kemiripan dengan strategi industrial policy yang pernah diterapkan negara-negara maju pada fase awal pertumbuhannya.

Namun, ekonomi berdikari bukan berarti autarki atau menutup diri dari perdagangan internasional. Dalam teori ekonomi modern, keterbukaan tetap penting, tetapi harus diimbangi dengan kapasitas domestik yang kuat. Pendekatan ini selaras dengan gagasan “strategic trade policy” dalam ekonomi internasional yang memungkinkan negara melindungi sektor-sektor strategisnya tanpa sepenuhnya keluar dari sistem global.

Menurut sejumlah analis yang dikutip media nasional, implementasi ekonomi berdikari membutuhkan konsistensi kebijakan, investasi pada sumber daya manusia, dan penguatan infrastruktur. Tanpa reformasi struktural, visi kemandirian berisiko menjadi retorika. Namun dengan bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki modal objektif untuk mewujudkan strategi tersebut.

Pada akhirnya, ekonomi berdikari yang disebut Prabowo merupakan sintesis antara warisan pemikiran pendiri bangsa dan teori pembangunan modern dunia. Ia menggabungkan semangat nasionalisme ekonomi ala Soekarno, ekonomi kerakyatan ala Hatta, serta pendekatan industrial policy ala List dan Hamilton. Tantangan global justru menjadi momentum untuk menata ulang struktur ekonomi nasional agar lebih tangguh, berdaulat, dan berdaya saing dalam jangka panjang.

Continue Reading

Ruang Sujud

KHGT Tawarkan Kepastian, Perbedaan Awal Ramadan Tetap Tak Terhindarkan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah memicu diskusi mengenai potensi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan pemerintah. Isu ini mencuat dalam sesi tanya jawab pada Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (13/02).

Para peserta menyoroti adanya perbedaan mendasar antara kriteria hisab yang kini diadopsi Muhammadiyah dengan metode imkanur rukyat yang digunakan pemerintah, serta implikasi sistem kalender global terhadap keseragaman awal ibadah puasa.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah beralih dari metode hisab hakiki wujudul hilal lama ke KHGT yang berbasis kriteria astronomis global. Ia menerangkan bahwa standar KHGT lebih ketat, yaitu tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat, berbeda dengan wujudul hilal sebelumnya yang hanya mensyaratkan ijtimak dan hilal di atas ufuk berapapun ketinggiannya.

Menekankan prinsip global KHGT, Maesyarah menyatakan, “Kalau kriteria itu terpenuhi di mana pun di dunia, selama ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC, maka dihitung sebagai awal bulan hijriah.”

Menurut Maesyarah, perbedaan dengan pemerintah berpotensi terjadi karena pemerintah mengadopsi pendekatan wilayah lokal (wilayatul hukmi), sementara KHGT berpegang pada prinsip matlak global. Hal ini mengakibatkan hasil penetapan awal bulan berpotensi tidak selalu sama.

Ia menegaskan perbedaan mendasar tersebut, “Karena kita global, sementara pemerintah lokal. Jadi tidak selalu bertemu.”

Continue Reading

Ruang Sujud

Imam Al-Ghazali Mundur Sebagai Rektor Universitas, ketika Banyak Ulama Sibuk Menjilat Penguasa

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Di masa mudanya, Al-Ghazali adalah merupakan Akademisi Mashur. Di mana saat usia 33 tahun, ia menjabat sebagai pemimpin Madrasah Nidhomiyyah di Baghdad, universitas paling prestisius di dunia Islam saat itu.

Posisinya setara dengan Rektor Universitas Negeri dan Penasihat Presiden saat ini. la dekat dengan Sultan, gajinya besar, dan fatwanya ditunggu-tunggu oleh negara.

Namun, di puncak kejayaan itu, Al-Ghazali melihat sesuatu yang busuk.

la menyadari bahwa kampus yang dipimpinnya bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan Alat Politik Negara.

Kurikulum didesain untuk mencetak hakim dan birokrat yang loyal pada penguasa Bani Seljuk.

Ulama berlomba-lomba menjilat istana demi jabatan. Ilmu agama dijadikan komoditas untuk meraih status sosial.

Tapi Al-Ghazali tidak menunjuk hidung orang lain. Justru Ia menunjuk dirinya sendiri.

Dalam otobiografinya, ia menulis pengakuan yang jujur: “Aku memeriksa niatku dalam mengajar. Ternyata itu tidak murni karena Allah, melainkan demi mencari popularitas.

la sadar, bahwa dirinya adalah bagian dari masalah. Karena la adalah “petinggi” dari sistem yang memproduksi kemunafikan.

Krisis batin itu begitu hebat. Hatinya menolak untuk terus berpura-pura menjadi pejabat saleh di tengah sistem yang korup.

Al-Ghazali pun kemudian mengambil keputusan yang mengguncang Baghdad. la mengundurkan diri. la tinggalkan jabatan, dan semua fasilitas mewah yang selama ini ia dapat.

la kemudian memilih menjadi pengembara miskin, menyapu lantai masjid di Damaskus, demi menyelamatkan integritas jiwanya.

Dalam pengasingannya, ia menulis karya momumental, Ihya Ulumuddin, untuk mengingatkan bahwa ilmu agama yang diterapkan dalam kehidupan kita, harus disertai dengan ruh spiritualitas.

Continue Reading

Ruang Sujud

AI, Iman, dan Cermin Kekuasaan

Tulisan ini menyoroti bagaimana kecerdasan buatan menjadi “cermin baru” yang memantulkan sekaligus membentuk iman, otoritas, dan relasi kuasa di era digital.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya menyentuh sektor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga memasuki ruang-ruang spiritual dan wacana keagamaan. Dalam berbagai ulasan terbaru, AI digambarkan sebagai “cermin baru” bagi manusia modern—alat yang tidak sekadar memproses data, tetapi juga memantulkan nilai, keyakinan, serta struktur kekuasaan yang hidup di tengah masyarakat.

Konsep “cermin” ini merujuk pada kemampuan AI mereproduksi dan merefleksikan apa yang ditanamkan kepadanya. Ketika teknologi ini digunakan untuk menjawab pertanyaan agama, merangkum tafsir, atau memberikan nasihat spiritual, muncul pertanyaan mendasar tentang otoritas. Siapa yang memegang kendali pengetahuan: ulama, institusi, atau algoritma yang dirancang manusia?

Di sisi lain, kehadiran AI juga memunculkan kekhawatiran akan pergeseran pola otoritas tradisional. Sistem yang mampu mengakses ribuan referensi dalam hitungan detik dinilai berpotensi mengubah cara umat mencari jawaban keagamaan. Namun demikian, AI tetap bergantung pada data, perspektif, dan batasan yang diprogramkan manusia, sehingga tidak sepenuhnya berdiri netral.

Berbagai ulasan juga menekankan pentingnya etika dalam pengembangan dan penggunaan AI di ruang keimanan. Tanpa kerangka moral yang jelas, teknologi dapat memperkuat bias, kepentingan, atau bahkan dominasi tertentu. Karena itu, literasi digital dan kesadaran teologis menjadi prasyarat penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen teknologi.

Pada akhirnya, AI dipandang sebagai alat—bukan pengganti iman atau otoritas spiritual. Ia dapat menjadi sarana memperkaya diskusi dan akses pengetahuan, tetapi tetap memerlukan pengawasan nilai serta tanggung jawab kolektif agar tidak menimbulkan ketimpangan baru dalam lanskap keagamaan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Buah Khuldi yang Dimakan oleh Adam dan Hawa Tidaklah Seperti yang Kita Bayangkan

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Di taman surga nan indah, Nabi Adam Alaihissalam dan Siti Hawa menikmati segala buah-buahan dan kenikmatan surga.

Mereka bebas mencicipi apa saja, kecuali satu pohon terlarang yang diperingatkan Allah untuk tidak mendekatinya.

Pohon misterius itu kemudian tersohor sebagai pohon khuldi, meski Al-Qur’an tidak pernah menyebut nama buah tersebut.

Iblis pun melihat celah untuk menggoda. Ia berbisik dengan tipu daya bahwa pohon terlarang itu sebenarnya “pohon keabadian” yang akan membuat Adam dan Hawa kekal di surga.

Terpedaya rayuan tersebut, keduanya memetik dan memakan buah itu.

Seketika aurat mereka tersingkap dan penyesalan pun memenuhi hati.

Mereka telah melanggar titah Ilahi, sehingga harus turun dari surga ke bumi, memulai hidup baru sambil memohon ampunan Tuhan.

Misteri buah terlarang itu pun mengundang tanya, sebab Al-Qur’an tak pernah merincinya dan hanya menyebutnya sebagai “pohon”.

Para ulama berbeda pendapat tentang apa sebenarnya buah huldi itu.

Sebagian mengatakan bahwa buah khuldi adalah anggur, karena menyimbolkan sesuatu yang memabukkan hingga hilang kesadaran.

Sementara yang lain ada yang menyebut buah khuldi adalah gandum, atau bahkan membayangkannya sebagai buah apel.

Namun lebih banyak ulama menegaskan bahwa manusia tak perlu memastikan jenis buah ini.

Cendekiawan modern Sayyid Qutub bahkan menganggap “pohon khuldi” adalah sekedar simbol larangan Tuhan yang dihadapi manusia di bumi.

Sebab, inti kisah ini adalah ujian ketaatan dan konsekuensi melanggar perintah Allah, bukan pada jenis buah tersebut.

Continue Reading

Ruang Sujud

Saat Abdurrahman bin Auf Mengimami Rasulullah

Published

on

Sepanjang hidupnya, saat menunaikan shalat lima waktu, Rasulullah Saw hampir tak pernah menjadi makmum bagi siapa pun. Beliau selalu berdiri di depan, memimpin langsung para sahabat. Namun ada satu kisah istimewa yang tercatat dalam Shahih Muslim: hanya satu sahabat yang pernah benar-benar menjadi imam ketika Rasulullah Saw ikut shalat bersamanya. Dialah Abdurrahman bin Auf.

Beberapa kali Rasulullah Saw sebenarnya pernah meminta para sahabat untuk maju menjadi imam. Tapi setiap kali itu pula mereka mundur. Tak ada yang merasa pantas berdiri di depan manusia paling mulia di muka bumi. Rasa hormat dan cinta membuat mereka gemetar untuk mengambil posisi itu.

Suatu hari, ketika Rasulullah Saw sedang sakit, Abu Bakar Ash-Shiddiq akhirnya maju menjadi imam. Di tengah shalat, saat tasyahud awal, Rasulullah Saw datang dengan dipapah Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya. Beliau lalu duduk di belakang Abu Bakar. Menyadari kehadiran Rasulullah, Abu Bakar spontan mundur. Ia tak sanggup meneruskan shalat sebagai imam di hadapan Nabi.

Namun setelah shalat usai, Rasulullah Saw justru menegur dengan lembut. “Mengapa tadi tidak engkau teruskan saja? Supaya suatu saat ada pengganti ketika aku sakit atau berhalangan,” sabda beliau. Abu Bakar menjawab dengan rendah hati, “Bagaimana mungkin saya menjadi imam bagi manusia paling sempurna di muka bumi?”

Keesokan harinya, menjelang shalat Ashar, waktu sudah masuk awal. Rasulullah Saw sedang pergi untuk menunaikan hajat. Para sahabat bersiap shalat. “Shalat di awal waktu adalah ajaran beliau sendiri,” kata salah satu sahabat. Tapi lagi-lagi, tak ada yang berani maju menjadi imam.

Tiba-tiba, Abdurrahman bin Auf melangkah ke depan. Tanpa ragu ia mengangkat takbir dengan suara lantang dan merdu. Shalat pun dimulai.

Di tengah rakaat, Rasulullah Saw datang dan ikut bergabung sebagai makmum. Para sahabat yang melihat itu memberi isyarat—seakan meminta Abdurrahman mundur agar Rasulullah maju menjadi imam. Tapi Abdurrahman tetap tenang. Ia tak menoleh, tak goyah. Ia melanjutkan shalat hingga selesai.

Selesai salam, sebagian sahabat cemas. Jangan-jangan Rasulullah Saw marah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah tersenyum, lalu menepuk pundak Abdurrahman bin Auf. “Bagus. Engkau telah melaksanakan shalat sesuai dengan ajaran dan hadits yang aku sampaikan.”

Dari kisah ini, ada pelajaran besar tentang keberanian dan ketaatan. Bukan soal siapa yang berdiri di depan, tapi soal konsistensi menjalankan perintah. Abdurrahman bin Auf bukan sedang merasa paling pantas. Ia hanya sedang patuh pada prinsip: shalat di awal waktu, dan ketika dibutuhkan, maju tanpa ragu.

Continue Reading

News

Bedah Buku 30 Fatwa Ramadhan Ustadz Abdul Somad

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Ustadz Abdul Somad memimpin acara Tarhib Ramadhan yang berfokus pada bedah buku “30 Fatwa Ramadhan”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, menarik perhatian jamaah yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang hukum dan tata cara ibadah puasa.

Acara tersebut bertujuan untuk membekali umat Islam dengan pengetahuan yang komprehensif mengenai berbagai permasalahan fiqih seputar Ramadhan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan syariat, serta memaksimalkan keberkahan di bulan yang mulia.

Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Somad menekankan pentingnya ilmu sebagai fondasi dalam setiap amal ibadah. “Sesungguhnya, beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan,” ujar Ustadz Abdul Somad. “Ramadhan adalah waktu untuk meningkatkan ketakwaan, dan ketakwaan itu harus didasari oleh pemahaman yang benar.”

Beliau juga menggarisbawahi relevansi dan urgensi pembahasan fatwa-fatwa terkait Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari umat. “Buku ’30 Fatwa Ramadhan’ ini hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering muncul di tengah masyarakat,” katanya. “Dengan memahami fatwa ini, umat akan lebih mantap dalam beribadah dan menjauhi keraguan.”

Kegiatan Tarhib Ramadhan yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Somad ini disambut antusias oleh para hadirin. Diskusi interaktif juga menjadi bagian dari acara, memberikan kesempatan bagi jamaah untuk bertanya langsung mengenai persoalan fiqih yang mereka hadapi.

Antusiasme jamaah dalam mengikuti bedah buku dan ceramah menunjukkan tingginya kesadaran akan pentingnya persiapan spiritual dan intelektual menjelang Ramadhan. Acara ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas ibadah puasa umat Islam.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Ruang Sujud4 hours ago

Ramadan Dan Momentum Kepulangan Kepada Tuhan

News4 hours ago

Anggaran Pendidikan Dipastikan Naik, Tak Terpangkas MBG

News6 hours ago

Di Gala Ifthar Prabowo Tegaskan Komitmen Perjanjian Dagang AS

News7 hours ago

Geram!Kapolri Perintahkan Seluruh Anggota Kepolisian Lakukan Tes Urine

News7 hours ago

Dagang RI-AS: Tarif Resiprokal 19 Persen Resmi Diteken

News7 hours ago

Pasca Libur Imlek, IHSG akan Dipengaruhi Sentimen Positif

LakeyBanget9 hours ago

Bek Al Nassr Resmi Jadi Mualaf Jelang Ramadhan, Haru Jalani Puasa Perdana

LakeyBanget9 hours ago

FIFA Tawarkan 4 Program Usai Gabung Board of Peace, Apa Saja?

Review10 hours ago

Senyuman Ketua BGN Merona Usai Gelontorkan Dana Fantastis untuk MBG

News10 hours ago

Investor USA Berhasrat Tambahkan Utang Indonesia

News13 hours ago

Trump Puji Prabowo di Forum BoP: Dia Sosok Tangguh, Saya Tak Ingin Melawannya

LakeyBanget19 hours ago

Lamine Yamal Jalani Puasa Ramadan, Barcelona Siapkan Program Khusus

News19 hours ago

DPR Apresiasi Kemendikdasmen Atas Upaya Langkah Cepat Tangani Bencana di Sumatra

News19 hours ago

Prabowo Paparkan Transformasi Nasional di Washington DC: Dari Sekolah Digital-Danantara

News20 hours ago

Tensi Memanas, PM Polandia Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran

LakeyBanget20 hours ago

Driver Gojek Bakal Dapat BPJS Gratis, Mulai Kapan?

Ruang Sujud1 day ago

Ketika Rasulullah Menegur Sahabat yang Berlebihan dalam Beribadah, Termasuk Puasa

News1 day ago

Garuda Hibahkan Pesawat untuk Jamaah Haji Aceh

News1 day ago

Fakta Baru Taipan Ritel di Dokumen Eipstein

Review1 day ago

Zakat untuk MBG? ini Penjelasan Fiqih

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.