Monitorday.com – Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, resmi mengakuisisi startup kecerdasan buatan (AI) xAI, yang juga berada di bawah kendali Musk. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk menyatukan pengembangan teknologi AI dengan eksplorasi ruang angkasa, termasuk pengembangan chatbot Grok.
Akuisisi tersebut menjadi salah satu transaksi merger dan akuisisi paling ambisius di sektor teknologi global. Kesepakatan ini menggabungkan kontraktor antariksa dan pertahanan dengan pengembang AI yang tengah berkembang pesat, di tengah kebutuhan besar akan chip, pusat data, dan pasokan energi untuk pengembangan AI skala besar.
Kesepakatan ini juga dipandang dapat memperkuat ambisi SpaceX dalam membangun pusat data, sekaligus memperbesar daya saing Elon Musk menghadapi raksasa teknologi seperti Google, Meta, Anthropic, serta OpenAI yang didukung Amazon.
Sumber yang mengetahui detail transaksi menyebutkan, akuisisi tersebut menilai SpaceX sebesar US$1 triliun atau sekitar Rp15.700 triliun, sementara xAI dihargai US$250 miliar atau sekitar Rp3.925 triliun. Dalam skema kesepakatan, investor xAI akan menerima 0,1433 saham SpaceX untuk setiap saham xAI yang dimiliki. Sejumlah eksekutif xAI juga diberi opsi menerima pembayaran tunai sebesar US$75,46 per saham.
“Ini menandai bukan hanya bab berikutnya, tetapi buku berikutnya dalam misi SpaceX dan xAI: memperluas skala untuk menciptakan ‘matahari yang sadar’ guna memahami alam semesta dan memperluas cahaya kesadaran ke bintang-bintang,” ujar Musk, seperti dikutip Reuters, Selasa (3/2).
Berdasarkan data LSEG, akuisisi xAI ini mencatatkan rekor sebagai transaksi merger dan akuisisi terbesar di dunia. Rekor sebelumnya dipegang oleh Vodafone setelah mengakuisisi Mannesmann asal Jerman senilai US$203 miliar pada tahun 2000.
Sumber lain menyebutkan, perusahaan gabungan SpaceX dan xAI diperkirakan akan menetapkan harga saham sekitar US$527 per saham. Saat ini, SpaceX telah menyandang status sebagai perusahaan swasta dengan valuasi tertinggi di dunia, dengan nilai sekitar US$800 miliar berdasarkan penjualan saham internal terbaru. Sementara itu, xAI terakhir dinilai sebesar US$230 miliar pada November lalu.
Penggabungan ini terjadi di tengah rencana SpaceX untuk melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) besar yang berpotensi menilai perusahaan lebih dari US$1,5 triliun pada tahun ini. Meski demikian, hingga kini SpaceX, xAI, dan Elon Musk belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.
Langkah tersebut semakin mengonsolidasikan jaringan bisnis Musk ke dalam ekosistem terintegrasi yang oleh sebagian investor dijuluki “Muskonomy”, mencakup Tesla, Neuralink, hingga The Boring Company. Sebelumnya, Musk juga menggabungkan platform media sosial X ke dalam xAI melalui pertukaran saham, serta mengakuisisi SolarCity menggunakan saham Tesla pada 2016.
Namun demikian, kesepakatan ini berpotensi menarik perhatian regulator dan investor terkait isu tata kelola, valuasi, serta potensi konflik kepentingan. Hal ini mengingat peran kepemimpinan Musk yang saling tumpang tindih di berbagai perusahaan, serta kemungkinan alih teknologi, insinyur, dan kontrak antarpihak.
Sebagai catatan, SpaceX memiliki kontrak federal bernilai miliaran dolar dengan NASA, Departemen Pertahanan AS, dan badan intelijen. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kewenangan meninjau transaksi merger dan akuisisi yang berpotensi berdampak pada keamanan nasional maupun risiko strategis lainnya.