Monitorday.com – Di tengah dorongan global menuju energi terbarukan, banyak orang bertanya: mengapa mobil listrik belum dilengkapi panel surya di atapnya? Bukankah matahari tersedia gratis setiap hari? Secara logika awam, mobil listrik yang ditenagai panel surya terdengar seperti solusi sempurna: ramah lingkungan, mandiri energi, dan bebas biaya pengisian.
Namun kenyataannya, hingga kini hampir semua mobil listrik di pasaran belum mengandalkan panel surya sebagai sumber daya utama. Sejumlah analisis dari pelaku industri kendaraan listrik, termasuk ulasan dari Octopus EV, menjelaskan bahwa hambatan utamanya bukan pada ide, melainkan pada keterbatasan teknologi dan desain.
Efisiensi Panel Surya Masih Terbatas
Panel surya komersial saat ini rata-rata hanya mampu mengubah sekitar 15–22 persen cahaya matahari menjadi listrik. Dalam kondisi terbaik sekalipun, energi yang dihasilkan dari panel berukuran kecil—seperti di atap mobil—sangat minim dibanding kebutuhan energi mobil listrik yang besar.
Untuk menggerakkan mobil sejauh puluhan kilometer, dibutuhkan daya yang jauh lebih besar daripada yang bisa dipanen dari sinar matahari melalui permukaan atap kendaraan.
Luas Permukaan Mobil Terlalu Kecil
Atap mobil, kap mesin, dan bagasi memiliki luas terbatas. Bahkan jika seluruh bagian itu dilapisi panel surya, energi yang dihasilkan dalam sehari penuh paparan matahari biasanya hanya cukup untuk menambah jarak tempuh beberapa kilometer saja.
Artinya, mobil tetap harus diisi ulang dari sumber listrik eksternal seperti rumah atau stasiun pengisian daya umum.
Biaya Tidak Seimbang dengan Manfaat
Penambahan panel surya bukan hanya soal menempelkan modul di atap. Diperlukan sistem kelistrikan tambahan, pengatur daya, serta desain struktur yang menopang panel tersebut. Semua ini meningkatkan biaya produksi mobil, sementara manfaat jarak tempuh yang diperoleh sangat kecil.
Bagi produsen, ini bukan investasi yang ekonomis untuk pasar massal.
Tantangan Desain dan Aerodinamika
Mobil listrik dirancang sangat memperhatikan aerodinamika untuk menghemat energi. Penambahan panel surya berukuran besar dapat mengubah desain bodi, menambah berat, dan justru menurunkan efisiensi kendaraan.
Dalam dunia otomotif modern, setiap tambahan hambatan angin berarti tambahan konsumsi energi.
Sudah Ada yang Mencoba, Tapi Belum Masif
Beberapa perusahaan sebenarnya sudah bereksperimen dengan konsep mobil listrik bertenaga surya. Salah satu yang paling dikenal adalah Lightyear dari Belanda yang merancang mobil dengan panel surya terintegrasi di hampir seluruh bodi atas kendaraan.
Hasilnya memang menjanjikan di atas kertas, tetapi biaya produksi sangat tinggi dan belum layak untuk pasar luas. Model seperti ini masih berada di ranah inovasi dan belum menjadi standar industri.
Solusi yang Lebih Realistis: Panel Surya di Rumah
Alih-alih memasang panel di mobil, pendekatan yang lebih efisien adalah memasang panel surya di rumah atau gedung, lalu menggunakan listrik tersebut untuk mengisi baterai mobil.
Dengan luas atap rumah yang jauh lebih besar, energi matahari bisa dipanen lebih optimal, disimpan, dan digunakan untuk pengisian daya kendaraan listrik secara signifikan.
Pendekatan ini dinilai jauh lebih masuk akal secara teknis maupun ekonomis.
Masa Depan Masih Terbuka
Bukan berarti ide mobil listrik bertenaga surya mustahil. Jika efisiensi panel meningkat drastis dan bobotnya makin ringan, konsep ini bisa menjadi lebih realistis di masa depan.
Untuk saat ini, mobil listrik tetap bergantung pada pengisian daya dari jaringan listrik, sementara energi surya berperan lebih efektif sebagai sumber listrik di rumah, kantor, atau pembangkit skala besar.
Intinya, bukan karena industri otomotif mengabaikan matahari. Tetapi karena, dengan teknologi yang ada sekarang, matahari belum bisa “mengecas” mobil listrik secara signifikan hanya dari atap kendaraan.
Peningkatan minat terhadap kendaraan listrik (EV) di pasar global mendorong pengembangan berbagai solusi komprehensif untuk mendukung adopsi massal. Inisiatif ini tidak hanya menyasar konsumen individu tetapi juga sektor bisnis, menawarkan kemudahan akses dan operasional EV tanpa hambatan.
Perkembangan infrastruktur dan layanan pendukung ini mencakup penyediaan kendaraan sebagai fasilitas karyawan, solusi armada bisnis, hingga inovasi dalam sistem pengisian daya. Tujuannya adalah menghilangkan kendala kepemilikan dan penggunaan EV, membuatnya lebih menarik dan praktis bagi berbagai segmen pengguna.
Bagi perusahaan, akses terhadap kendaraan listrik kini dapat diintegrasikan sebagai bagian dari tunjangan karyawan, menawarkan kemudahan operasional. Berbagai skema tersedia yang mencakup perawatan, bantuan darurat, dan asuransi, sehingga membebaskan perusahaan dari kerumitan manajemen armada.
Model kepemilikan baru juga diperkenalkan, seperti skema “bayar untuk mengemudi bukan memiliki” yang sudah mencakup perawatan. Selain itu, teknologi canggih seperti Vehicle-to-Grid (V2G) memungkinkan mobil listrik untuk mengekspor energi kembali ke jaringan listrik, menawarkan potensi efisiensi energi yang lebih luas.
Sisi lain dari pengembangan ekosistem EV adalah kemudahan pengisian daya di rumah. Berbagai solusi pengisi daya rumah yang profesional telah tersedia, lengkap dengan tarif khusus yang diklaim sangat kompetitif bagi pengemudi EV tertentu, menjadikan pengisian daya di rumah lebih hemat biaya dan nyaman.
Selain solusi rumahan, aksesibilitas terhadap jaringan pengisi daya publik juga menjadi fokus utama. Pengguna EV kini dapat mengakses lebih dari satu juta titik pengisian daya publik di berbagai wilayah melalui satu aplikasi terpadu, menghilangkan kekhawatiran akan ketersediaan infrastruktur saat bepergian.