Connect with us

Ruang Sujud

Hutang Puasa Bertahun-tahun karena Sakit: Lebih Baik Qadha atau Fidyah?

Kedua opsi ini menawarkan solusi fleksibel sesuai kondisi individu.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Kisah seorang pembaca mengenai saudaranya yang tidak berpuasa Ramadan selama bertahun-tahun karena sakit maag berat menjadi sorotan. Dokter pada saat itu melarang puasa demi kesehatan, dan kini, setelah enam tahun berlalu dan kondisi membaik, pertanyaan mendasar muncul: bagaimana cara mengganti puasa yang telah ditinggalkan? Apakah harus diqadha secara berangsur atau cukup dibayar dengan fidyah?

Islam telah memberikan panduan jelas melalui Al-Qur’an, khususnya Surah al-Baqarah ayat 184. Ayat ini menjelaskan dua opsi utama bagi umat Muslim yang tidak dapat berpuasa. Pertama, bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan, kewajiban untuk mengganti puasa (qadha) di hari lain ketika kondisi memungkinkan. Kedua, bagi mereka yang sangat berat atau tidak mampu berpuasa, terdapat alternatif fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Dalam konteks fikih, sakit maag yang parah dan berulang, seperti yang dialami saudara pembaca, dapat dikategorikan sebagai `maradh muzmin` atau penyakit menahun. Kondisi ini membuat ibadah puasa menjadi sulit atau bahkan berbahaya jika dipaksakan. Oleh karena itu, syariat memberikan keringanan, memungkinkan seseorang untuk tidak berpuasa tanpa dosa, asalkan ada upaya penggantian.

Berdasarkan pedoman tersebut, penanya termasuk dalam golongan orang sakit yang mendapatkan `rukhsah` atau keringanan. Ini berarti ia memiliki pilihan untuk mengqadha puasa yang telah ditinggalkan ketika kondisi tubuhnya benar-benar telah pulih dan memungkinkan. Namun, jika puasa masih dirasa sangat berat atau dikhawatirkan kembali membahayakan kesehatan, membayar fidyah juga menjadi pilihan yang sah dan diizinkan dalam syariat Islam. Kedua opsi ini menawarkan solusi fleksibel sesuai kondisi individu.

Sumber: Suara Muhammadiyah

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Rapper Central Cee Mualaf dan Mengubah Namanya

Langkah ini menunjukkan dimensi baru dalam perjalanan hidup seorang selebriti yang kerap menjadi sorotan, membawa aspek spiritual ke dalam citra publiknya.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Rapper terkenal asal Inggris, Central Cee, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan kepada para penggemarnya mengenai perubahan besar dalam hidupnya. Bintang hip-hop yang sebelumnya dikenal dengan nama Oakley Neil Caesar-Su ini mengumumkan bahwa dirinya telah memeluk agama Islam. Pengakuan ini disampaikan oleh sang rapper saat melakukan siaran langsung bersama PlaqueBoyMax, menarik perhatian luas dari komunitasnya dan publik secara umum.

Dalam siaran langsung tersebut, Central Cee, yang kini berusia 27 tahun, secara gamblang menyatakan, “Saya baru saja mengganti nama saya. Saya telah mengucapkan syahadat saya.” Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa ia telah mengubah nama depannya dari Oakley menjadi Akhil. Syahadat sendiri merupakan deklarasi keimanan dalam Islam, sebuah pernyataan yang menegaskan keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad, yang menjadi pintu gerbang seseorang untuk secara resmi memeluk agama Islam.

Keputusan Central Cee untuk memeluk Islam ini menambah daftar figur publik yang memilih jalan spiritual yang sama. Islam dikenal sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia, saat ini memiliki lebih dari dua miliar penganut dan terus mendekati jumlah pemeluk Kristen secara global. Diperkirakan 25 persen populasi dunia adalah Muslim, termasuk sekitar enam persen di Inggris, negara asal Central Cee. Perubahan ini menyoroti tren spiritual yang berkembang di kalangan masyarakat.

Terlepas dari perubahan personal ini, Central Cee telah mengukir namanya sebagai salah satu figur utama dalam kancah musik rap Inggris. Sejak kemunculannya pada tahun 2014, ia telah berkembang menjadi nama besar pada tahun 2021. Dengan lagu-lagu hits seperti ‘Sprinter’, ‘Doja’, dan ‘BAND4BAND’, ia berhasil menjadi rapper Inggris pertama yang mencapai satu miliar streaming. Kolaborasinya dengan artis-artis global seperti Drake, J. Cole, 21 Savage, dan Ice Spice semakin memperkuat posisinya di industri musik internasional.

Konversi dan perubahan nama yang dilakukan oleh Central Cee ini tidak hanya menjadi berita personal bagi sang artis, tetapi juga resonansi di tengah para penggemarnya dan industri hiburan. Langkah ini menunjukkan dimensi baru dalam perjalanan hidup seorang selebriti yang kerap menjadi sorotan, membawa aspek spiritual ke dalam citra publiknya. Banyak pihak yang kini menantikan bagaimana perubahan ini akan memengaruhi karya-karya dan perspektif Central Cee di masa mendatang.

Continue Reading

News

Shalat Berjamaah Pada Masjid Bertingkat

Di antaranya adalah adanya kesinambungan antara imam dan makmum, yang berarti jarak antara keduanya tidak boleh terlalu jauh dan masih dalam satu kawasan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Pengurus Mushalla Al Ikhsan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadapi sebuah tantangan unik terkait pelaksanaan salat berjamaah di bangunan mushalla mereka yang baru. Dengan selesainya pembangunan lantai dua, muncul pertanyaan mendasar mengenai keabsahan salat berjamaah dengan satu imam, mengingat konfigurasi arsitektur mushalla yang tidak biasa. Untuk mendapatkan jawaban yang kredibel, pengurus memutuskan untuk mengajukan pertanyaan ini ke rubrik Tanya Jawab Suara Muhammadiyah.

Mushalla Al Ikhsan, yang dulunya merupakan bagian dari garasi mobil dengan bentuk melengkung, telah mengalami perluasan signifikan sejak tahun 2012 dengan penambahan lantai dua. Lantai dua ini dibangun persis di atas mushalla lama, namun tanpa koneksi fisik maupun visual yang menghubungkan kedua lantai tersebut. Berbeda dengan desain masjid bertingkat pada umumnya yang menyediakan lubang di atas posisi imam agar makmum di lantai atas dapat melihat imam atau makmum di lantai bawah, Mushalla Al Ikhsan tidak memiliki fitur serupa.

Kondisi ini menimbulkan kebingungan dan pertanyaan krusial bagi pengurus: bagaimana caranya agar mushalla dua lantai ini dapat digunakan untuk salat berjamaah dengan satu imam secara sah dan sesuai syariat? Mereka berharap Suara Muhammadiyah dapat memberikan pencerahan dan solusi praktis agar ibadah berjamaah tetap dapat berlangsung tanpa kendala fiqih.

Menjawab pertanyaan tersebut, Suara Muhammadiyah menjelaskan beberapa syarat utama agar salat berjamaah dinyatakan sah. Di antaranya adalah adanya kesinambungan antara imam dan makmum, yang berarti jarak antara keduanya tidak boleh terlalu jauh dan masih dalam satu kawasan. Selain itu, makmum harus dapat mengetahui gerak-gerik atau keadaan imam, dan imam idealnya dapat terlihat oleh makmum shaf pertama. Syarat penting lainnya adalah suara imam dapat didengar oleh setidaknya makmum shaf pertama, untuk memastikan semua mengikuti gerakan imam dengan benar.

Penjelasan ini didukung oleh hadis riwayat Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Maju dan ikutilah aku, dan hendaklah orang-orang yang di belakangmu mengikutimu.” Hadis ini menggarisbawahi pentingnya keteraturan dan kepatuhan makmum terhadap imam. Dengan demikian, pengelola Mushalla Al Ikhsan perlu mempertimbangkan bagaimana memastikan terpenuhinya syarat-syarat koneksi visual dan audio, serta keterhubungan antara lantai satu dan dua, agar salat berjamaah dapat dilaksanakan secara sah dan sempurna sesuai tuntunan syariat.

Continue Reading

News

OJK dan IAEI Perkuat Sinergi untuk Majukan Ekonomi Syariah Indonesia

Penyempurnaan kurikulum pendidikan ekonomi dan keuangan syariah, penguatan kapasitas riset, serta pengembangan strategi branding untuk memperkenalkan ekonomi syariah secara lebih luas kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Amalan Saliha

Published

on

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) telah mencapai kesepakatan untuk mempererat kerja sama dalam rangka mengakselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Kolaborasi strategis ini, yang ditegaskan dalam sebuah pertemuan audiensi baru-baru ini, difokuskan pada tiga pilar utama: penyempurnaan kurikulum pendidikan, penguatan riset, serta peningkatan literasi keuangan syariah di tengah masyarakat.

Sejumlah agenda penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut meliputi penyempurnaan kurikulum pendidikan ekonomi dan keuangan syariah, penguatan kapasitas riset, serta pengembangan strategi branding untuk memperkenalkan ekonomi syariah secara lebih luas kepada masyarakat dan pelaku usaha. Ketua Harian IAEI, Syakir Sula, menekankan urgensi kolaborasi antara regulator dan kalangan akademisi. Menurutnya, sinergi ini krusial untuk memastikan pengembangan ekonomi syariah berjalan tepat sasaran dan berlandaskan pada keilmuan yang kuat. IAEI menyatakan kesiapannya menjadi mitra strategis OJK tidak hanya dalam literasi dan riset, tetapi juga dalam membentuk narasi besar ekonomi syariah Indonesia yang inklusif dan kompetitif.

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, Ismail Riyadi, menyambut positif peran IAEI. Ia menggarisbawahi pentingnya IAEI sebagai mitra kunci dalam mendukung kebijakan pengembangan keuangan syariah. Kontribusi IAEI sangat diharapkan dalam aspek akademik, penelitian, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar selaras dengan visi dan kebijakan nasional. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan SDM yang kompeten dan riset yang relevan untuk kemajuan sektor syariah.

Sekretaris Jenderal IAEI, Sutan Emir Hidayat, menyampaikan harapannya agar program-program yang telah berjalan sebelumnya dapat terus ditingkatkan dan diperluas. Program-program tersebut mencakup Forum Riset Ekonomi Syariah, pelatihan kompetensi bagi dosen, serta berbagai inisiatif literasi ekonomi dan keuangan syariah yang ditujukan bagi masyarakat luas. Peningkatan program ini diharapkan dapat semakin mengokohkan fondasi ekonomi syariah di Indonesia.

Continue Reading

News

Lima Persiapan Menjelang Bulan Ramadhan Yang Harus Kita Lakukan

Persiapan pertama adalah ilmu, yang meliputi penguasaan wawasan dan pemahaman yang benar tentang Ramadhan melalui membaca berbagai bahan rujukan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Pengajian rutin Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kecamatan Johar Baru Selasa (24/04) menggelar tawaqufan di Masjid Al Istianah. Acara ini menandai penutupan sementara pengajian yang lazim dilaksanakan di bulan Sya’ban, sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam senior, DR. Saifullah, menganalogikan waktu setahun seperti sebuah pohon, di mana Rajab adalah masa menumbuhkan daun, Sya’ban menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah saatnya memanen bagi kaum mukmin.

Menjelang bulan penuh berkah tersebut, DR. Saifullah menekankan pentingnya melakukan lima persiapan krusial. Persiapan pertama adalah ilmu, yang meliputi penguasaan wawasan dan pemahaman yang benar tentang Ramadhan melalui membaca berbagai bahan rujukan. Dengan demikian, segala aktivitas ibadah dapat berjalan optimal dan sesuai tuntunan agama.

Persiapan kedua berkaitan dengan semangat dan menjauhi perbuatan maksiat. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperbanyak amalan sunnah serta menghindari tindakan yang tidak bermanfaat sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Selanjutnya, persiapan ketiga adalah fisik, di mana aktivitas yang banyak menguras energi sebaiknya dikurangi atau dihindari agar tubuh prima saat beribadah di Ramadhan.

Tidak kalah penting, persiapan keempat adalah harta. Umat Muslim dianjurkan untuk mengalokasikan dana khusus sebelum Ramadhan guna melipatgandakan sedekah atau infaq, meneladani kedermawanan Rasulullah SAW yang sangat tinggi di bulan tersebut. Terakhir, persiapan kelima adalah menetapkan target untuk peningkatan diri.

Target peningkatan diri ini bisa berupa mengkhatamkan Al-Qur’an, sukses menunaikan shalat Tarawih, dan berhasil melaksanakan itikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kelima persiapan ini diharapkan mampu membimbing umat Muslim untuk menjalani Ramadhan dengan lebih maksimal, meraih keberkahan, serta mencapai peningkatan spiritual yang signifikan.

Continue Reading

News

Malaysia Jadi Tujuan Utama Pengusaha Muslim China

Pilihan ini bukan semata karena ukuran pasar, melainkan karena faktor praktis seperti bahasa yang sama, masyarakat multikultural, dan lingkungan bisnis yang mudah dipahami.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Malaysia telah muncul sebagai destinasi utama bagi para pengusaha Muslim Tiongkok yang ingin mengembangkan bisnis mereka ke luar negeri, terutama pasca-pandemi COVID-19. Pilihan ini bukan semata karena ukuran pasar, melainkan karena faktor praktis seperti bahasa yang sama, masyarakat multikultural, dan lingkungan bisnis yang mudah dipahami. Bagi banyak dari mereka, Malaysia berfungsi sebagai landasan untuk membangun sistem, bakat, dan produk sebelum memperluas jangkauan lebih dalam ke seluruh wilayah, demikian laporan Malay Mail.

Kemudahan berbahasa menjadi salah satu faktor krusial. Presiden Asosiasi Restoran Tiongkok Malaysia, Gao Haoyun, menjelaskan bahwa pengusaha Muslim Tiongkok umumnya berbicara Mandarin tetapi kurang fasih berbahasa Inggris, menjadikan Malaysia tempat yang relatif mudah untuk berbisnis. Lingkungan multikultural Malaysia memungkinkan mereka untuk mengurus pendaftaran perusahaan, urusan kesekretariatan, dan perekrutan staf dalam bahasa Mandarin, sebuah kemudahan yang sangat dihargai.

Dengan populasi lebih dari 34 juta jiwa, termasuk sekitar 20 juta Muslim dan lebih dari enam juta etnis Tionghoa, Malaysia menawarkan titik awal yang alami. Selain aksesibilitas bahasa dan budaya, kebijakan bisnis yang ramah serta hubungan bilateral yang kuat antara Malaysia dan Tiongkok turut mendorong ekspansi bisnis Muslim Tiongkok ke luar negeri pasca-pandemi. Ini menunjukkan bahwa Malaysia bukan hanya pasar, tetapi juga mitra strategis.

Dorongan untuk berekspansi ke luar negeri ini berakar dari dampak parah pandemi COVID-19 terhadap sektor makanan dan minuman Tiongkok. Pembatasan aktivitas dan gangguan rantai pasokan memukul keras operasi restoran. Persaingan yang semakin ketat selama pemulihan yang tidak merata mendorong banyak operator yang berfokus pada halal, terutama dari Tiongkok utara dan barat, untuk mencari pasar di luar negeri guna mendiversifikasi risiko dan menyalakan kembali pertumbuhan mereka.

Continue Reading

News

Cari Jodoh Pakai Aplikasi Ala Muslim Amerika

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Amerika terus beradaptasi dengan lanskap sosial yang berubah, mengadopsi inovasi tanpa meninggalkan esensi pencarian mereka.

Amalan Saliha

Published

on

Komunitas Muslim Amerika kini menjelajahi berbagai jalur untuk menemukan pasangan hidup, mencerminkan perpaduan unik antara tradisi dan modernitas. Dari aplikasi kencan digital yang semakin populer hingga metode perjodohan konvensional, komunitas ini menunjukkan adaptasi yang dinamis dalam pencarian jodoh yang kompatibel. Pergeseran ini menyoroti bagaimana teknologi telah mulai meresap ke dalam aspek-aspek kehidupan yang paling pribadi, termasuk urusan hati dan perjodohan.

Salah satu contoh mencolok dari tren ini adalah kisah Zohran Mamdani, seorang kandidat walikota Muslim New York City, yang secara terbuka berbagi bahwa ia bertemu istrinya melalui aplikasi kencan populer, Hinge. Pengungkapan ini tidak hanya menunjukkan normalisasi penggunaan aplikasi di kalangan Muslim, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana tokoh publik dalam komunitas tersebut memanfaatkan platform digital untuk koneksi pribadi, meruntuhkan stigma yang mungkin ada sebelumnya.

Pengalaman Mamdani bergema dengan banyak individu, termasuk Nura Maznavi, yang bertemu suaminya secara online lebih dari 14 tahun yang lalu, jauh sebelum aplikasi kencan menjadi fitur umum. Maznavi mengaku merasa "kurang seperti pecundang" setelah mengetahui tentang Mamdani. Baginya, ini adalah validasi bahwa mencari pasangan secara daring, yang dulunya mungkin dipandang aneh atau tidak konvensional, kini telah mendapatkan legitimasi dan bahkan tren di kalangan komunitasnya, menjadi jalur yang dihormati dan berhasil.

Fenomena ini menggambarkan evolusi signifikan dalam cara Muslim Amerika mendekati perjodohan. Meskipun nilai-nilai dan preferensi budaya serta agama tetap menjadi inti, alat yang digunakan untuk memfasilitasi koneksi tersebut telah berkembang pesat. Baik melalui algoritma canggih aplikasi kencan atau jaringan rekomendasi dari keluarga dan teman, tujuannya tetap sama: menemukan pasangan yang berbagi keyakinan, nilai, dan aspirasi untuk membangun rumah tangga yang stabil.

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Amerika terus beradaptasi dengan lanskap sosial yang berubah, mengadopsi inovasi tanpa meninggalkan esensi pencarian mereka. Dari obrolan daring hingga pertemuan yang diatur secara tradisional, setiap metode menawarkan jalur unik menuju pernikahan, menunjukkan kekayaan dan keberagaman pengalaman dalam mencari belahan jiwa di era modern yang terus berkembang.

Continue Reading

News

Indonesia Promosikan Pariwisata Ramah Muslim untuk Dorong Ekonomi Islam

Penguatan pariwisata ramah muslim dinilai menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi Islam nasional dan daya tarik investasi global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indonesia terus mempromosikan pariwisata ramah muslim sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi Islam nasional. Pemerintah menilai sektor ini memiliki efek berganda yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan investasi berbasis syariah.

Deputi Menteri Pariwisata menyatakan bahwa pengembangan Muslim-friendly tourism diarahkan tidak hanya pada penyediaan destinasi, tetapi juga layanan pendukung seperti akomodasi halal, fasilitas ibadah, transportasi, hingga ekosistem UMKM halal. Langkah ini bertujuan meningkatkan kenyamanan wisatawan muslim domestik maupun mancanegara.

Indonesia memiliki keunggulan alami sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan keragaman destinasi wisata. Potensi tersebut diperkuat dengan kebijakan yang mendorong standar layanan pariwisata ramah muslim agar mampu bersaing di tingkat global, khususnya dengan negara-negara tujuan wisata halal lainnya.

Pemerintah juga melihat pariwisata ramah muslim sebagai pintu masuk investasi baru di sektor ekonomi Islam. Investasi tersebut mencakup pembangunan hotel halal, kawasan wisata terintegrasi, industri kuliner halal, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Selain aspek ekonomi, promosi pariwisata ramah muslim turut diposisikan sebagai sarana diplomasi budaya dan penguatan citra Indonesia di dunia Islam. Kehadiran wisatawan muslim internasional diharapkan memperluas jejaring kerja sama lintas negara.

Menurut pemberitaan media nasional yang mengutip Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, penguatan pariwisata ramah muslim menjadi salah satu pilar penting dalam strategi Indonesia mempercepat pertumbuhan ekonomi Islam dan memperluas pengaruhnya di tingkat global.

Continue Reading

Ruang Sujud

Antara Teknologi AI dan Solusi Spiritual Islam

Krisis kesepian yang melanda generasi muda, di mana banyak di antaranya mulai melirik teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai pengganti pendamping hidup.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Dalam sebuah kajian mendalam, Ustadz Abu Taymiyyah memaparkan data mengejutkan mengenai tingkat kesepian yang dialami oleh Generasi Z. Berdasarkan riset, ditemukan bahwa sekitar 80% dari kelompok usia ini mulai mempertimbangkan untuk memiliki hubungan atau bahkan “menikah” dengan kecerdasan buatan (AI) guna menghindari kerumitan interaksi antarmanusia. Fenomena ini dipicu oleh rasa kesepian yang mencapai puncaknya di era digital, meskipun konektivitas teknologi terus meningkat.

Kesepian ini bukan sekadar masalah sosial, melainkan sudah menjadi krisis kesehatan mental global. Data dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa orang dewasa dalam rentang usia 30 hingga 44 tahun merupakan kelompok yang paling merasa kesepian, disusul oleh kaum muda usia 18 hingga 29 tahun. Hal ini sering terjadi setelah seseorang melewati fase gaya hidup bebas di usia muda dan mulai merenungkan makna hidup yang sesungguhnya.

Ustadz Abu Taymiyyah menekankan bahwa dalam pandangan Islam, kesendirian bisa menjadi dua hal yang bertolak belakang: berkah atau siksaan. Jika kesendirian digunakan untuk bermaksiat atau tidak produktif, ia akan menjadi “taman bermain” bagi setan yang memicu kehampaan hati. Namun, jika digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, kesendirian bertransformasi menjadi momen spiritual yang sangat tinggi, sebagaimana para nabi dan ulama terdahulu yang menemukan kedamaian justru saat mereka jauh dari keramaian manusia.

Islam menawarkan kerangka kerja yang komprehensif untuk mengatasi krisis ini melalui penguatan ikatan keluarga, persaudaraan sesama Muslim, dan ibadah malam (Tahajjud). Menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai institusi “anti-kesepian” dianggap sebagai langkah krusial, di mana masjid bukan hanya tempat salat, tetapi pusat interaksi sosial yang sehat. Dengan membantu sesama dan menjaga silaturahmi, seseorang akan mendapatkan rasa kebermaknaan yang tidak bisa diberikan oleh teknologi mana pun.

Sebagai penutup, ditekankan bahwa solusi sejati dari kesepian adalah menyadari tujuan utama penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dengan menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan, segala bentuk kesepian duniawi dapat terobati. Struktur kehidupan yang dibangun di atas dasar ketakwaan dan keterlibatan komunitas akan menciptakan benteng pertahanan mental yang kuat bagi Gen Z dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ekonomi Global dalam Pandangan Al-Qur’an: Menghapus Sekat antara Dunia dan Akhirat

Al-Qur’an memandang uang, perdagangan, dan ekonomi bukan sebagai urusan duniawi semata, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ibadah.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Dalam sebuah ceramah penting yang disampaikan di Malaysia beberapa waktu lalu, Ustadz Nouman Ali Khan menyoroti fenomena “sekularisasi Islam” di mana banyak Muslim memisahkan antara kehidupan spiritual dan material. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah memisahkan kedua aspek tersebut, melainkan mengajarkan bahwa cara seseorang mencari, membelanjakan, dan membangun kekayaan adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Allah.

Menurut sumber dari saluran resmi Bayyinah, Ustadz Nouman menekankan bahwa istilah ekonomi dalam Al-Qur’an sering kali direduksi maknanya, padahal kata seperti “Rizq” (rezeki) mencakup spektrum yang luas, mulai dari sumber daya alam seperti hujan dan hasil bumi hingga kesuksesan dalam rantai pasok global. Ia menjelaskan bahwa Allah menyediakan sumber daya alam bukan hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi sebagai dasar bagi kemakmuran ekonomi suatu bangsa yang dapat mencegah krisis pangan dan ketergantungan ekspor.

Lebih lanjut, ia menguraikan konsep “Fadl” (karunia) sebagai peluang bisnis dan keuntungan yang harus dikejar, bahkan di saat-saat paling spiritual sekalipun seperti saat ibadah Haji. Al-Qur’an memberikan lampu hijau bagi umat Muslim untuk melakukan jejaring bisnis dan perdagangan selama musim haji, menunjukkan bahwa mencari keuntungan ekonomi yang halal adalah bagian dari ketakwaan jika dilakukan dengan niat yang benar.

Ustadz Nouman juga mengkritik pandangan sebagian kelompok yang menganggap pengejaran pendidikan tinggi atau karier di bidang ekonomi dan teknik sebagai “hijrah untuk dunia”. Ia menggunakan contoh Nabi Nuh AS dan Dzulkarnain untuk menunjukkan bahwa pengetahuan teknis, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi global adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang harus dikuasai oleh umat Islam untuk menciptakan stabilitas dan mencegah kerusakan di muka bumi.

Sebagai penutup, ditegaskan bahwa ekonomi yang kuat adalah kunci untuk menghindari kemiskinan, kecanduan, dan korupsi. Ustadz Nouman mengajak umat Islam untuk memiliki pandangan global seperti yang dicontohkan para nabi, di mana pembangunan ekonomi dan aliansi bisnis dianggap sebagai sarana untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia secara berkelanjutan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Indonesia Targetkan Harmonisasi Standar Halal Negara OKI

Indonesia mendorong penyatuan standar sertifikasi halal agar perdagangan produk halal antarnegara Islam semakin efisien dan saling diakui.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indonesia menargetkan harmonisasi standar halal di antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) guna memperlancar arus perdagangan produk halal global. Langkah ini dipandang krusial untuk mengatasi perbedaan regulasi dan sertifikasi yang selama ini menjadi hambatan ekspor-impor produk halal.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Indonesia siap memimpin upaya tersebut dengan memperkuat dialog dan kerja sama teknis antarotoritas halal negara OKI. Harmonisasi diharapkan menciptakan saling pengakuan sertifikat halal (mutual recognition) sehingga proses perdagangan menjadi lebih cepat dan efisien.

Saat ini, perbedaan standar, lembaga sertifikasi, dan prosedur halal antarnegara Islam kerap menimbulkan biaya tambahan dan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan potensi besar pasar halal global yang terus tumbuh setiap tahun.

Indonesia, melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), telah mengembangkan sistem sertifikasi halal yang terstruktur dan diakui secara internasional. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mendorong penyelarasan standar di tingkat OKI.

Upaya harmonisasi juga diharapkan memperkuat posisi negara-negara Islam dalam rantai nilai halal dunia, sekaligus meningkatkan daya saing produk halal dari kawasan OKI di pasar global.

Menurut pemberitaan media nasional yang mengutip pernyataan Menteri Agama, inisiatif harmonisasi standar halal ini merupakan bagian dari strategi besar Indonesia untuk memperkuat kepemimpinan di sektor ekonomi syariah dan perdagangan halal internasional.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News2 minutes ago

Di Rapim TNI–Polri, Presiden Prabowo Tekankan Profesionalisme dan Persatuan

News14 minutes ago

Konsolnas 2026: Ruang Inspirasi Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

News2 hours ago

Otorita Godok Pembangunan Proyek Giant Sea Wall, ini Bocorannya

Ruang Sujud5 hours ago

Rapper Central Cee Mualaf dan Mengubah Namanya

Ruang Sujud5 hours ago

Hutang Puasa Bertahun-tahun karena Sakit: Lebih Baik Qadha atau Fidyah?

News8 hours ago

Shalat Berjamaah Pada Masjid Bertingkat

News8 hours ago

Ketua Dewan Pers: Penggunaan Karya Jurnalistik oleh AI Tanpa Royalti Adalah Perampokan

News9 hours ago

Dukung Program Presiden Prabowo Subianto, Mendikdasmen Dorong Sekolah Terapkan ASRI

News9 hours ago

Ketum PP Muhammadiyah: IPM Perkuat Iman, Ilmu, dan Pembaharuan

News9 hours ago

Merajut Peluang Bisnis Viral 2026

News9 hours ago

Kepuasan Publik pada Prabowo 79,9 Persen, Lampaui Pendahulunya

News9 hours ago

Pengukuran Indeks KPIP 2025 Kemendikdasmen Raih Nilai Tinggi

News9 hours ago

Indonesia Emas 2045 Butuh SDM Unggul dan Inovasi

News10 hours ago

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Perlu Kolaborasi Atasi Kekerasan di Sekolah

News10 hours ago

Hari Ini Prabowo Gelar Rapat Pimpinan TNI-Polri

News11 hours ago

LDP Menang Telak, PM Sanae Takaichi Amankan Mayoritas Parlemen Jepang

News11 hours ago

Kemendikdasmen Perkuat Transformasi Layanan Digital Melalui MELIA

LakeyBanget11 hours ago

Guardiola Geram Meski Man City Menang Lawan Liverpool, Lha Kok Kenapa?

News22 hours ago

Survei: Mayoritas Publik Puas Program Makan Bergizi Gratis Prabowo

News22 hours ago

Menlu Greenland Ungkap Hasil Negosiasi dengan AS

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.