Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto menggagas rencana ambisius untuk mengonversi seluruh kendaraan berbahan bakar fosil di Indonesia menjadi kendaraan listrik. Di tengah krisis energi global, ia menyebut langkah tersebut sebagai “game changer” yang diyakini mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).
Dalam sebuah diskusi bersama pimpinan media nasional, Prabowo menegaskan visinya untuk elektrifikasi total sektor transportasi. “Saya ingin total kendaraan listrik. Semua motor, mobil, truk, hingga traktor harus berbasis listrik,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, Prabowo juga menyinggung skema pembebanan harga energi. Ia mengisyaratkan bahwa penggunaan BBM nantinya akan mengikuti harga pasar global, terutama bagi kalangan mampu. Sementara itu, ia menargetkan sumber listrik ke depan berasal dari energi terbarukan, khususnya tenaga surya.
Presiden bahkan menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW) dalam dua tahun ke depan.
Di sisi lain, peralihan ke kendaraan listrik mulai dirasakan sebagian masyarakat. Haliman (55), pengemudi ojek daring di Jakarta, mengaku biaya operasionalnya turun drastis sejak beralih ke motor listrik.
“Dulu bensin bisa Rp60.000 per hari, sekarang ngecas cuma sekitar Rp8.000,” ujarnya.
Namun, ia tetap harus membayar cicilan harian sekitar Rp55.000 selama 1,5 tahun. Selain itu, kekhawatiran muncul terkait biaya penggantian baterai yang bisa mencapai puluhan juta rupiah setelah masa garansi berakhir.
Saat ini, jumlah kendaraan listrik di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Sepeda motor listrik tercatat sekitar 236.000 unit, sementara motor konvensional mencapai lebih dari 139 juta unit. Mobil listrik pun baru sekitar 123.000 unit, dibandingkan lebih dari 20 juta mobil berbahan bakar minyak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa jalan menuju elektrifikasi total masih panjang.
Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Rasio Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) saat ini sekitar 1:26, masih di bawah angka ideal 1:17.
Pemerintah melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mengoperasikan ribuan SPKLU dan menargetkan peningkatan signifikan hingga 2030. Selain itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut konversi motor listrik bisa ditekan hingga Rp5–6 juta dengan teknologi terbaru.
Namun, menurut Bhima Yudhistira dari CELIOS, persoalan tidak berhenti pada kendaraan dan infrastruktur saja.
“Bagaimana dengan suku cadang, terutama baterai? Apakah ada subsidi atau fasilitas daur ulang? Ini belum jelas,” ujarnya.
Indonesia sendiri hingga kini belum memiliki sistem pengolahan limbah baterai kendaraan listrik yang memadai.
Organisasi lingkungan WALHI menilai kebijakan ini berpotensi menjadi “solusi semu”. Mereka menyoroti dampak ekologis dari rantai pasok kendaraan listrik, termasuk eksploitasi sumber daya alam dan deforestasi.
Koordinator WALHI, Uli Arta Siagian, menilai peningkatan produksi kendaraan listrik justru bisa memperbesar tekanan terhadap lingkungan.
“Kebutuhan bahan baku akan meningkat, dan ini berisiko memperluas kerusakan ekologis,” ujarnya.
Tantangan lain datang dari sisi pasokan energi. Saat ini, listrik di Indonesia masih didominasi pembangkit berbasis batu bara, dengan porsi lebih dari 60 persen. Sementara energi terbarukan seperti tenaga surya masih sangat kecil.
Hal ini memunculkan kritik bahwa kendaraan listrik belum sepenuhnya ramah lingkungan jika sumber energinya masih berasal dari fosil.
“Kalau sumber listriknya masih batu bara, maka masalah utamanya belum terselesaikan,” kata Bhima.
Sejumlah pengamat menilai solusi jangka panjang yang lebih efektif adalah memperkuat transportasi publik. Saat ini, sekitar 52% konsumsi BBM nasional berasal dari sektor transportasi, dan sebagian besar digunakan oleh kendaraan pribadi.
Minimnya pengembangan transportasi umum dinilai menjadi akar masalah tingginya konsumsi energi.
“Subsidi transportasi publik dan pembangunan infrastrukturnya harus jadi prioritas,” ujar Bhima.
Ambisi besar Presiden Prabowo untuk elektrifikasi total kendaraan dinilai sebagai langkah progresif, namun penuh tantangan. Mulai dari infrastruktur, biaya, ekosistem industri, hingga sumber energi, semuanya perlu dibenahi secara menyeluruh.
Tanpa perencanaan matang dari hulu ke hilir, para pengamat menilai kebijakan ini berisiko menjadi solusi parsial yang belum mampu menjawab persoalan energi secara fundamental.