Connect with us

Ruang Sujud

Menjalankan Puasa Secara Mendalam [Deep Fasting]

Published

on

Puasa sering kita pahami sebatas menahan lapar dan haus. Padahal, jika merujuk pada pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, puasa adalah proses pendalaman diri—sebuah perjalanan naik tingkat. Dalam bahasa pendidikan modern, ini mirip dengan konsep deep learning dari Benjamin Bloom: belajar yang tidak berhenti pada tahu, tetapi bertransformasi menjadi laku dan karakter.

Puasa tingkat pertama adalah puasa awam: menahan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan. Ini fondasi. Dalam kerangka Bloom, ini seperti tahap remembering dan understanding—kita tahu aturannya dan mematuhinya. Penting, tetapi masih permukaan.

Naik satu tingkat, kita masuk ke puasa khusus. Mata, lidah, telinga, tangan, dan kaki ikut berpuasa. Kita belajar mengendalikan respons, menahan komentar sinis, menghindari gosip, menjaga pandangan. Ini fase applying dan analyzing: ajaran tidak lagi disimpan di kepala, tetapi diuji dalam realitas. Ada kesadaran diri. Ada refleksi.

Lalu sampailah pada puasa khususil khusus—puasanya hati. Di sinilah deep fasting benar-benar dimulai. Hati dibersihkan dari ambisi duniawi yang berlebihan. Pikiran tidak lagi sibuk menghitung menu berbuka sejak siang hari. Fokus beralih pada zikir, kedekatan, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Ini setara tahap evaluating dan creating: kita mengevaluasi orientasi hidup, lalu membentuk ulang diri menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan empatik.

Deep fasting juga menuntut konsistensi etis. Makanan sahur dan berbuka harus halal dan baik. Berbuka tidak berlebihan. Sabar dijaga—dalam ketaatan, dalam menjauhi maksiat, bahkan dalam menahan hal sia-sia. Puasa bukan ajang balas dendam pada malam hari, melainkan latihan mengurangi dominasi nafsu.

Jika deep learning melahirkan higher order thinking skills, maka deep fasting melahirkan higher order spiritual skills. Puasa menjadi laboratorium transformasi. Setiap hari adalah eksperimen kesadaran. Setiap magrib adalah evaluasi diri.

Akhirnya, menjalankan puasa secara mendalam bukan tentang berapa lama kita menahan lapar, tetapi sejauh mana kita berubah. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan menumbuhkan kualitas diri. Di situlah puasa menjadi bukan hanya ibadah tahunan, tetapi perjalanan pembelajaran seumur hidup.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Meneguhkan Iman di Era Disrupsi

Di tengah arus modernitas dan krisis makna, akidah menjadi jangkar spiritual yang meneguhkan arah hidup manusia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Di tengah derasnya arus modernitas, manusia menghadapi perubahan yang begitu cepat dalam teknologi, budaya, dan pola pikir. Globalisasi menghadirkan kemudahan sekaligus kegamangan, sementara disrupsi digital mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, bahkan memahami dirinya sendiri. Dalam situasi ini, pertanyaan mendasar kembali mengemuka: di manakah posisi akidah ketika dunia bergerak tanpa henti? Menurut sejumlah pengkaji pemikiran Islam yang dirangkum Ruang Sujud, akidah justru menemukan relevansinya yang paling mendalam di tengah krisis makna seperti hari ini.

Secara historis, modernitas membawa semangat rasionalisme dan kebebasan individu. Namun, pada saat yang sama, ia melahirkan relativisme nilai dan krisis spiritual. Banyak orang kehilangan orientasi hidup karena kebenaran dianggap cair dan subjektif. Dalam konteks inilah akidah Islam, sebagaimana dirumuskan dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, menawarkan kepastian teologis yang bersumber dari wahyu. Akidah tidak tunduk pada perubahan selera zaman, karena ia berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah yang tetap. Prinsip ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar identitas sosial, melainkan komitmen keyakinan yang kokoh.

Iman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa menjadi titik tolak dalam merespons modernitas. Ketika manusia modern cenderung memusatkan segalanya pada kemampuan akal dan teknologi, akidah mengingatkan bahwa segala daya dan ciptaan tetap berada dalam kehendak-Nya. Islam tidak menolak akal, tetapi menempatkannya dalam posisi yang proporsional. Akal adalah alat untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, bukan untuk menggantikan otoritas wahyu. Dengan keseimbangan ini, seorang muslim dapat berpartisipasi aktif dalam kemajuan ilmu tanpa kehilangan kesadaran transendennya.

Selain itu, iman kepada hari akhir memberi perspektif yang berbeda terhadap kehidupan dunia yang serba material. Modernitas sering kali menilai keberhasilan dari ukuran ekonomi dan popularitas. Namun akidah mengajarkan bahwa dunia hanyalah fase sementara sebelum kehidupan yang kekal. Keyakinan ini membentuk etika tanggung jawab: setiap tindakan memiliki konsekuensi di hadapan Allah. Dalam masyarakat yang sering terjebak pada pragmatisme, kesadaran eskatologis ini menjadi penyeimbang moral yang sangat penting.

Tradisi pemurnian akidah yang dikembangkan oleh gerakan seperti Muhammadiyah juga menunjukkan bahwa respons terhadap modernitas tidak harus bersifat defensif. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menegaskan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sembari membuka diri terhadap kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Menurut berbagai catatan sejarah organisasi tersebut, pendekatan ini memadukan keteguhan akidah dengan semangat tajdid atau pembaruan. Artinya, modernitas dihadapi bukan dengan kompromi terhadap prinsip iman, melainkan dengan penguatan fondasi tauhid.

Iman kepada qadha dan qadar pun relevan dalam menghadapi ketidakpastian global—mulai dari krisis ekonomi hingga bencana kemanusiaan. Akidah mengajarkan bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan Allah, tetapi manusia tetap dituntut untuk berikhtiar. Sikap ini melahirkan pribadi yang tangguh: tidak sombong ketika berhasil dan tidak putus asa saat gagal. Dalam era yang sarat tekanan psikologis, keseimbangan antara tawakal dan usaha menjadi kebutuhan mendasar.

Dengan demikian, akidah bukanlah warisan masa lalu yang terpisah dari realitas kekinian. Ia adalah fondasi yang menjaga arah kehidupan di tengah perubahan zaman. Modernitas boleh bergerak cepat, tetapi iman memberikan pijakan yang stabil. Seorang muslim yang memahami akidahnya tidak akan tercerabut dari akar keyakinan, meskipun hidup di tengah dunia yang terus berubah. Di situlah letak kekuatan akidah: meneguhkan hati, menjernihkan pikiran, dan menuntun langkah menuju tujuan akhir yang abadi.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menentukan Kehalalan Daging di Luar Negeri, Ini Prinsip Fikihnya

Status halal daging di negara non-Muslim tidak bisa disimpulkan secara sederhana dan membutuhkan pemahaman fikih serta konteks sosial setempat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Menentukan kehalalan daging menjadi persoalan paling krusial bagi umat Islam yang hidup di luar negeri, terutama di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim. Kompleksitas industri pangan modern membuat proses penyembelihan tidak selalu transparan, sehingga umat Islam dihadapkan pada dilema antara kehati-hatian dan kemudahan dalam menjalankan syariat.

Dalam kajian fikih, kehalalan daging ditentukan oleh beberapa unsur utama. Pertama adalah jenis hewan yang dikonsumsi. Islam secara tegas mengharamkan daging babi, darah, bangkai, serta hewan buas bertaring dan burung bercakar. Prinsip ini bersifat qat’i dan tidak mengalami perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Kedua, faktor agama penyembelih. Dalam fikih, sembelihan seorang Muslim dan Ahlul Kitab—Yahudi dan Nasrani—pada dasarnya adalah halal. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 5. Namun, kehalalan ini dapat gugur apabila terbukti bahwa penyembelihan dilakukan dengan menyebut nama selain Allah atau dengan cara yang tidak sesuai syariat.

Ketiga adalah metode penyembelihan itu sendiri. Hewan harus disembelih dalam keadaan hidup dan saluran vitalnya terputus secara sempurna. Jika hewan mati akibat dipukul, dicekik, atau disetrum sebelum disembelih, maka statusnya menjadi bangkai dan haram dikonsumsi. Di sinilah persoalan industri modern sering menimbulkan keraguan di kalangan Muslim minoritas.

Aspek keempat adalah pembacaan basmalah. Ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban membaca basmalah saat menyembelih, terutama bagi penyembelih Ahlul Kitab. Mayoritas ulama berpandangan bahwa sembelihan Ahlul Kitab tetap halal meskipun tidak diketahui apakah basmalah dibaca, selama tidak ada bukti pelanggaran syariat.

Umat Islam di luar negeri dianjurkan memahami prinsip dasar fikih sembelihan agar tidak terjebak pada sikap berlebihan, baik dalam bentuk kelonggaran tanpa dasar maupun kehati-hatian yang berujung pada kesulitan hidup. Pendekatan moderat inilah yang menjadi kunci dalam menjaga kehalalan konsumsi di tengah realitas global.

Continue Reading

Ruang Sujud

Rapper Central Cee Mualaf dan Mengubah Namanya

Langkah ini menunjukkan dimensi baru dalam perjalanan hidup seorang selebriti yang kerap menjadi sorotan, membawa aspek spiritual ke dalam citra publiknya.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Rapper terkenal asal Inggris, Central Cee, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan kepada para penggemarnya mengenai perubahan besar dalam hidupnya. Bintang hip-hop yang sebelumnya dikenal dengan nama Oakley Neil Caesar-Su ini mengumumkan bahwa dirinya telah memeluk agama Islam. Pengakuan ini disampaikan oleh sang rapper saat melakukan siaran langsung bersama PlaqueBoyMax, menarik perhatian luas dari komunitasnya dan publik secara umum.

Dalam siaran langsung tersebut, Central Cee, yang kini berusia 27 tahun, secara gamblang menyatakan, “Saya baru saja mengganti nama saya. Saya telah mengucapkan syahadat saya.” Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa ia telah mengubah nama depannya dari Oakley menjadi Akhil. Syahadat sendiri merupakan deklarasi keimanan dalam Islam, sebuah pernyataan yang menegaskan keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad, yang menjadi pintu gerbang seseorang untuk secara resmi memeluk agama Islam.

Keputusan Central Cee untuk memeluk Islam ini menambah daftar figur publik yang memilih jalan spiritual yang sama. Islam dikenal sebagai agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia, saat ini memiliki lebih dari dua miliar penganut dan terus mendekati jumlah pemeluk Kristen secara global. Diperkirakan 25 persen populasi dunia adalah Muslim, termasuk sekitar enam persen di Inggris, negara asal Central Cee. Perubahan ini menyoroti tren spiritual yang berkembang di kalangan masyarakat.

Terlepas dari perubahan personal ini, Central Cee telah mengukir namanya sebagai salah satu figur utama dalam kancah musik rap Inggris. Sejak kemunculannya pada tahun 2014, ia telah berkembang menjadi nama besar pada tahun 2021. Dengan lagu-lagu hits seperti ‘Sprinter’, ‘Doja’, dan ‘BAND4BAND’, ia berhasil menjadi rapper Inggris pertama yang mencapai satu miliar streaming. Kolaborasinya dengan artis-artis global seperti Drake, J. Cole, 21 Savage, dan Ice Spice semakin memperkuat posisinya di industri musik internasional.

Konversi dan perubahan nama yang dilakukan oleh Central Cee ini tidak hanya menjadi berita personal bagi sang artis, tetapi juga resonansi di tengah para penggemarnya dan industri hiburan. Langkah ini menunjukkan dimensi baru dalam perjalanan hidup seorang selebriti yang kerap menjadi sorotan, membawa aspek spiritual ke dalam citra publiknya. Banyak pihak yang kini menantikan bagaimana perubahan ini akan memengaruhi karya-karya dan perspektif Central Cee di masa mendatang.

Continue Reading

Ruang Sujud

Hutang Puasa Bertahun-tahun karena Sakit: Lebih Baik Qadha atau Fidyah?

Kedua opsi ini menawarkan solusi fleksibel sesuai kondisi individu.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Kisah seorang pembaca mengenai saudaranya yang tidak berpuasa Ramadan selama bertahun-tahun karena sakit maag berat menjadi sorotan. Dokter pada saat itu melarang puasa demi kesehatan, dan kini, setelah enam tahun berlalu dan kondisi membaik, pertanyaan mendasar muncul: bagaimana cara mengganti puasa yang telah ditinggalkan? Apakah harus diqadha secara berangsur atau cukup dibayar dengan fidyah?

Islam telah memberikan panduan jelas melalui Al-Qur’an, khususnya Surah al-Baqarah ayat 184. Ayat ini menjelaskan dua opsi utama bagi umat Muslim yang tidak dapat berpuasa. Pertama, bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan, kewajiban untuk mengganti puasa (qadha) di hari lain ketika kondisi memungkinkan. Kedua, bagi mereka yang sangat berat atau tidak mampu berpuasa, terdapat alternatif fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Dalam konteks fikih, sakit maag yang parah dan berulang, seperti yang dialami saudara pembaca, dapat dikategorikan sebagai `maradh muzmin` atau penyakit menahun. Kondisi ini membuat ibadah puasa menjadi sulit atau bahkan berbahaya jika dipaksakan. Oleh karena itu, syariat memberikan keringanan, memungkinkan seseorang untuk tidak berpuasa tanpa dosa, asalkan ada upaya penggantian.

Berdasarkan pedoman tersebut, penanya termasuk dalam golongan orang sakit yang mendapatkan `rukhsah` atau keringanan. Ini berarti ia memiliki pilihan untuk mengqadha puasa yang telah ditinggalkan ketika kondisi tubuhnya benar-benar telah pulih dan memungkinkan. Namun, jika puasa masih dirasa sangat berat atau dikhawatirkan kembali membahayakan kesehatan, membayar fidyah juga menjadi pilihan yang sah dan diizinkan dalam syariat Islam. Kedua opsi ini menawarkan solusi fleksibel sesuai kondisi individu.

Sumber: Suara Muhammadiyah

Continue Reading

News

Shalat Berjamaah Pada Masjid Bertingkat

Di antaranya adalah adanya kesinambungan antara imam dan makmum, yang berarti jarak antara keduanya tidak boleh terlalu jauh dan masih dalam satu kawasan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Pengurus Mushalla Al Ikhsan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadapi sebuah tantangan unik terkait pelaksanaan salat berjamaah di bangunan mushalla mereka yang baru. Dengan selesainya pembangunan lantai dua, muncul pertanyaan mendasar mengenai keabsahan salat berjamaah dengan satu imam, mengingat konfigurasi arsitektur mushalla yang tidak biasa. Untuk mendapatkan jawaban yang kredibel, pengurus memutuskan untuk mengajukan pertanyaan ini ke rubrik Tanya Jawab Suara Muhammadiyah.

Mushalla Al Ikhsan, yang dulunya merupakan bagian dari garasi mobil dengan bentuk melengkung, telah mengalami perluasan signifikan sejak tahun 2012 dengan penambahan lantai dua. Lantai dua ini dibangun persis di atas mushalla lama, namun tanpa koneksi fisik maupun visual yang menghubungkan kedua lantai tersebut. Berbeda dengan desain masjid bertingkat pada umumnya yang menyediakan lubang di atas posisi imam agar makmum di lantai atas dapat melihat imam atau makmum di lantai bawah, Mushalla Al Ikhsan tidak memiliki fitur serupa.

Kondisi ini menimbulkan kebingungan dan pertanyaan krusial bagi pengurus: bagaimana caranya agar mushalla dua lantai ini dapat digunakan untuk salat berjamaah dengan satu imam secara sah dan sesuai syariat? Mereka berharap Suara Muhammadiyah dapat memberikan pencerahan dan solusi praktis agar ibadah berjamaah tetap dapat berlangsung tanpa kendala fiqih.

Menjawab pertanyaan tersebut, Suara Muhammadiyah menjelaskan beberapa syarat utama agar salat berjamaah dinyatakan sah. Di antaranya adalah adanya kesinambungan antara imam dan makmum, yang berarti jarak antara keduanya tidak boleh terlalu jauh dan masih dalam satu kawasan. Selain itu, makmum harus dapat mengetahui gerak-gerik atau keadaan imam, dan imam idealnya dapat terlihat oleh makmum shaf pertama. Syarat penting lainnya adalah suara imam dapat didengar oleh setidaknya makmum shaf pertama, untuk memastikan semua mengikuti gerakan imam dengan benar.

Penjelasan ini didukung oleh hadis riwayat Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Maju dan ikutilah aku, dan hendaklah orang-orang yang di belakangmu mengikutimu.” Hadis ini menggarisbawahi pentingnya keteraturan dan kepatuhan makmum terhadap imam. Dengan demikian, pengelola Mushalla Al Ikhsan perlu mempertimbangkan bagaimana memastikan terpenuhinya syarat-syarat koneksi visual dan audio, serta keterhubungan antara lantai satu dan dua, agar salat berjamaah dapat dilaksanakan secara sah dan sempurna sesuai tuntunan syariat.

Continue Reading

News

OJK dan IAEI Perkuat Sinergi untuk Majukan Ekonomi Syariah Indonesia

Penyempurnaan kurikulum pendidikan ekonomi dan keuangan syariah, penguatan kapasitas riset, serta pengembangan strategi branding untuk memperkenalkan ekonomi syariah secara lebih luas kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Amalan Saliha

Published

on

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) telah mencapai kesepakatan untuk mempererat kerja sama dalam rangka mengakselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Kolaborasi strategis ini, yang ditegaskan dalam sebuah pertemuan audiensi baru-baru ini, difokuskan pada tiga pilar utama: penyempurnaan kurikulum pendidikan, penguatan riset, serta peningkatan literasi keuangan syariah di tengah masyarakat.

Sejumlah agenda penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut meliputi penyempurnaan kurikulum pendidikan ekonomi dan keuangan syariah, penguatan kapasitas riset, serta pengembangan strategi branding untuk memperkenalkan ekonomi syariah secara lebih luas kepada masyarakat dan pelaku usaha. Ketua Harian IAEI, Syakir Sula, menekankan urgensi kolaborasi antara regulator dan kalangan akademisi. Menurutnya, sinergi ini krusial untuk memastikan pengembangan ekonomi syariah berjalan tepat sasaran dan berlandaskan pada keilmuan yang kuat. IAEI menyatakan kesiapannya menjadi mitra strategis OJK tidak hanya dalam literasi dan riset, tetapi juga dalam membentuk narasi besar ekonomi syariah Indonesia yang inklusif dan kompetitif.

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, Ismail Riyadi, menyambut positif peran IAEI. Ia menggarisbawahi pentingnya IAEI sebagai mitra kunci dalam mendukung kebijakan pengembangan keuangan syariah. Kontribusi IAEI sangat diharapkan dalam aspek akademik, penelitian, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar selaras dengan visi dan kebijakan nasional. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan SDM yang kompeten dan riset yang relevan untuk kemajuan sektor syariah.

Sekretaris Jenderal IAEI, Sutan Emir Hidayat, menyampaikan harapannya agar program-program yang telah berjalan sebelumnya dapat terus ditingkatkan dan diperluas. Program-program tersebut mencakup Forum Riset Ekonomi Syariah, pelatihan kompetensi bagi dosen, serta berbagai inisiatif literasi ekonomi dan keuangan syariah yang ditujukan bagi masyarakat luas. Peningkatan program ini diharapkan dapat semakin mengokohkan fondasi ekonomi syariah di Indonesia.

Continue Reading

News

Lima Persiapan Menjelang Bulan Ramadhan Yang Harus Kita Lakukan

Persiapan pertama adalah ilmu, yang meliputi penguasaan wawasan dan pemahaman yang benar tentang Ramadhan melalui membaca berbagai bahan rujukan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Pengajian rutin Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kecamatan Johar Baru Selasa (24/04) menggelar tawaqufan di Masjid Al Istianah. Acara ini menandai penutupan sementara pengajian yang lazim dilaksanakan di bulan Sya’ban, sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam senior, DR. Saifullah, menganalogikan waktu setahun seperti sebuah pohon, di mana Rajab adalah masa menumbuhkan daun, Sya’ban menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah saatnya memanen bagi kaum mukmin.

Menjelang bulan penuh berkah tersebut, DR. Saifullah menekankan pentingnya melakukan lima persiapan krusial. Persiapan pertama adalah ilmu, yang meliputi penguasaan wawasan dan pemahaman yang benar tentang Ramadhan melalui membaca berbagai bahan rujukan. Dengan demikian, segala aktivitas ibadah dapat berjalan optimal dan sesuai tuntunan agama.

Persiapan kedua berkaitan dengan semangat dan menjauhi perbuatan maksiat. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperbanyak amalan sunnah serta menghindari tindakan yang tidak bermanfaat sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Selanjutnya, persiapan ketiga adalah fisik, di mana aktivitas yang banyak menguras energi sebaiknya dikurangi atau dihindari agar tubuh prima saat beribadah di Ramadhan.

Tidak kalah penting, persiapan keempat adalah harta. Umat Muslim dianjurkan untuk mengalokasikan dana khusus sebelum Ramadhan guna melipatgandakan sedekah atau infaq, meneladani kedermawanan Rasulullah SAW yang sangat tinggi di bulan tersebut. Terakhir, persiapan kelima adalah menetapkan target untuk peningkatan diri.

Target peningkatan diri ini bisa berupa mengkhatamkan Al-Qur’an, sukses menunaikan shalat Tarawih, dan berhasil melaksanakan itikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kelima persiapan ini diharapkan mampu membimbing umat Muslim untuk menjalani Ramadhan dengan lebih maksimal, meraih keberkahan, serta mencapai peningkatan spiritual yang signifikan.

Continue Reading

News

Malaysia Jadi Tujuan Utama Pengusaha Muslim China

Pilihan ini bukan semata karena ukuran pasar, melainkan karena faktor praktis seperti bahasa yang sama, masyarakat multikultural, dan lingkungan bisnis yang mudah dipahami.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Malaysia telah muncul sebagai destinasi utama bagi para pengusaha Muslim Tiongkok yang ingin mengembangkan bisnis mereka ke luar negeri, terutama pasca-pandemi COVID-19. Pilihan ini bukan semata karena ukuran pasar, melainkan karena faktor praktis seperti bahasa yang sama, masyarakat multikultural, dan lingkungan bisnis yang mudah dipahami. Bagi banyak dari mereka, Malaysia berfungsi sebagai landasan untuk membangun sistem, bakat, dan produk sebelum memperluas jangkauan lebih dalam ke seluruh wilayah, demikian laporan Malay Mail.

Kemudahan berbahasa menjadi salah satu faktor krusial. Presiden Asosiasi Restoran Tiongkok Malaysia, Gao Haoyun, menjelaskan bahwa pengusaha Muslim Tiongkok umumnya berbicara Mandarin tetapi kurang fasih berbahasa Inggris, menjadikan Malaysia tempat yang relatif mudah untuk berbisnis. Lingkungan multikultural Malaysia memungkinkan mereka untuk mengurus pendaftaran perusahaan, urusan kesekretariatan, dan perekrutan staf dalam bahasa Mandarin, sebuah kemudahan yang sangat dihargai.

Dengan populasi lebih dari 34 juta jiwa, termasuk sekitar 20 juta Muslim dan lebih dari enam juta etnis Tionghoa, Malaysia menawarkan titik awal yang alami. Selain aksesibilitas bahasa dan budaya, kebijakan bisnis yang ramah serta hubungan bilateral yang kuat antara Malaysia dan Tiongkok turut mendorong ekspansi bisnis Muslim Tiongkok ke luar negeri pasca-pandemi. Ini menunjukkan bahwa Malaysia bukan hanya pasar, tetapi juga mitra strategis.

Dorongan untuk berekspansi ke luar negeri ini berakar dari dampak parah pandemi COVID-19 terhadap sektor makanan dan minuman Tiongkok. Pembatasan aktivitas dan gangguan rantai pasokan memukul keras operasi restoran. Persaingan yang semakin ketat selama pemulihan yang tidak merata mendorong banyak operator yang berfokus pada halal, terutama dari Tiongkok utara dan barat, untuk mencari pasar di luar negeri guna mendiversifikasi risiko dan menyalakan kembali pertumbuhan mereka.

Continue Reading

News

Cari Jodoh Pakai Aplikasi Ala Muslim Amerika

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Amerika terus beradaptasi dengan lanskap sosial yang berubah, mengadopsi inovasi tanpa meninggalkan esensi pencarian mereka.

Amalan Saliha

Published

on

Komunitas Muslim Amerika kini menjelajahi berbagai jalur untuk menemukan pasangan hidup, mencerminkan perpaduan unik antara tradisi dan modernitas. Dari aplikasi kencan digital yang semakin populer hingga metode perjodohan konvensional, komunitas ini menunjukkan adaptasi yang dinamis dalam pencarian jodoh yang kompatibel. Pergeseran ini menyoroti bagaimana teknologi telah mulai meresap ke dalam aspek-aspek kehidupan yang paling pribadi, termasuk urusan hati dan perjodohan.

Salah satu contoh mencolok dari tren ini adalah kisah Zohran Mamdani, seorang kandidat walikota Muslim New York City, yang secara terbuka berbagi bahwa ia bertemu istrinya melalui aplikasi kencan populer, Hinge. Pengungkapan ini tidak hanya menunjukkan normalisasi penggunaan aplikasi di kalangan Muslim, tetapi juga memberikan perspektif baru tentang bagaimana tokoh publik dalam komunitas tersebut memanfaatkan platform digital untuk koneksi pribadi, meruntuhkan stigma yang mungkin ada sebelumnya.

Pengalaman Mamdani bergema dengan banyak individu, termasuk Nura Maznavi, yang bertemu suaminya secara online lebih dari 14 tahun yang lalu, jauh sebelum aplikasi kencan menjadi fitur umum. Maznavi mengaku merasa "kurang seperti pecundang" setelah mengetahui tentang Mamdani. Baginya, ini adalah validasi bahwa mencari pasangan secara daring, yang dulunya mungkin dipandang aneh atau tidak konvensional, kini telah mendapatkan legitimasi dan bahkan tren di kalangan komunitasnya, menjadi jalur yang dihormati dan berhasil.

Fenomena ini menggambarkan evolusi signifikan dalam cara Muslim Amerika mendekati perjodohan. Meskipun nilai-nilai dan preferensi budaya serta agama tetap menjadi inti, alat yang digunakan untuk memfasilitasi koneksi tersebut telah berkembang pesat. Baik melalui algoritma canggih aplikasi kencan atau jaringan rekomendasi dari keluarga dan teman, tujuannya tetap sama: menemukan pasangan yang berbagi keyakinan, nilai, dan aspirasi untuk membangun rumah tangga yang stabil.

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Amerika terus beradaptasi dengan lanskap sosial yang berubah, mengadopsi inovasi tanpa meninggalkan esensi pencarian mereka. Dari obrolan daring hingga pertemuan yang diatur secara tradisional, setiap metode menawarkan jalur unik menuju pernikahan, menunjukkan kekayaan dan keberagaman pengalaman dalam mencari belahan jiwa di era modern yang terus berkembang.

Continue Reading

News

Indonesia Promosikan Pariwisata Ramah Muslim untuk Dorong Ekonomi Islam

Penguatan pariwisata ramah muslim dinilai menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi Islam nasional dan daya tarik investasi global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indonesia terus mempromosikan pariwisata ramah muslim sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi Islam nasional. Pemerintah menilai sektor ini memiliki efek berganda yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan investasi berbasis syariah.

Deputi Menteri Pariwisata menyatakan bahwa pengembangan Muslim-friendly tourism diarahkan tidak hanya pada penyediaan destinasi, tetapi juga layanan pendukung seperti akomodasi halal, fasilitas ibadah, transportasi, hingga ekosistem UMKM halal. Langkah ini bertujuan meningkatkan kenyamanan wisatawan muslim domestik maupun mancanegara.

Indonesia memiliki keunggulan alami sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan keragaman destinasi wisata. Potensi tersebut diperkuat dengan kebijakan yang mendorong standar layanan pariwisata ramah muslim agar mampu bersaing di tingkat global, khususnya dengan negara-negara tujuan wisata halal lainnya.

Pemerintah juga melihat pariwisata ramah muslim sebagai pintu masuk investasi baru di sektor ekonomi Islam. Investasi tersebut mencakup pembangunan hotel halal, kawasan wisata terintegrasi, industri kuliner halal, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.

Selain aspek ekonomi, promosi pariwisata ramah muslim turut diposisikan sebagai sarana diplomasi budaya dan penguatan citra Indonesia di dunia Islam. Kehadiran wisatawan muslim internasional diharapkan memperluas jejaring kerja sama lintas negara.

Menurut pemberitaan media nasional yang mengutip Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, penguatan pariwisata ramah muslim menjadi salah satu pilar penting dalam strategi Indonesia mempercepat pertumbuhan ekonomi Islam dan memperluas pengaruhnya di tingkat global.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News15 minutes ago

Pesawat Susi Air Mengudara, Halmahera Utara Catat Lompatan Besar Konektivitas

News34 minutes ago

Menkes Tegaskan 120 Ribu Pasien Kronis PBI JK Tetap Terjamin Layanannya

News39 minutes ago

Tokoh Nelayan Nasional Paparkan Potensi Ekonomi Aceh di Bidang Agromaritim

Ruang Sujud4 hours ago

Menjalankan Puasa Secara Mendalam [Deep Fasting]

Ruang Sujud4 hours ago

Meneguhkan Iman di Era Disrupsi

Ruang Sujud4 hours ago

Menentukan Kehalalan Daging di Luar Negeri, Ini Prinsip Fikihnya

News4 hours ago

Sinergi Lintas Sektor Kunci Sukses Basarnas

News4 hours ago

Mendikdasmen: Hasil TKA Bahan Perbaikan Proses Pembelajaran

News4 hours ago

Prabowo Berharap Para Konglomerat Bersinergi Ciptakan Ekosistem Bisnis

News4 hours ago

RI Bakal Kirim 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza

LakeyBanget6 hours ago

Persib Tantang Ratchaburi di 16 Besar ACL Two, Hodak Usung Optimisme Tinggi

News6 hours ago

Mendikdasmen Tinjau Cek Kesehatan Gratis di IPEKA Sunter

LakeyBanget7 hours ago

Erick Thohir Bertemu Menpora Malaysia, Ini yang Dibahas

Review9 hours ago

Sengketa Lahan Bendungan Jenelata: PTPN Jangan Abai pada Hak Warga

Review10 hours ago

Urgensi Briefing Pekanan: Dari Meja Instruksi Menuju Meja Kolaborasi

News12 hours ago

Pelayanan: landing Page Institusi

LakeyBanget16 hours ago

Westlife A Gala Evening in Surabaya, Konser Penuh Nostalgia

LakeyBanget17 hours ago

Brad Pitt Kembali Berakting di Sekuel Film “Once Upon a Time in Hollywood”

LakeyBanget18 hours ago

Gegara Aturan Baru AFA, Messi Terancam Absen Bela Timnas Argentina

LakeyBanget19 hours ago

Jumlah Penonton Tertinggi di Tottenham Hotspur, Konser BTS Pecahkan Rekor

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.