Connect with us

News

Pandangan Prof Rokhmin Soal WWF Bali: Mengelola Air Sebagai Sumber Kehidupan

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan – IPB University, Prof Rokhmin Dahuri mengatakan World Water Forum di Bali menjadi sebuah perhelatan yang patut diapresiasi. Perhlatan ini membahas isu penting soal pengelolaan air sebagai sumber kehidupan.

Apalagi, kata Prof Rokhmin, Air adalah sumber daya alam yang esensial karena semua makhluk hidup memerlukannya untuk bertahan hidup. Selain untuk kebutuhan mendasar seperti minum dan makan, manusia juga membutuhkan air untuk berbagai aktivitas seperti mandi, mencuci, dan keperluan lainnya.

“Semua aspek kehidupan manusia dan sektor pembangunan seperti pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, industri manufaktur, dan pariwisata sangat bergantung pada ketersediaan air,” ucap Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia (GNTI) melalui keterangan yang diterima awak media, Rabu (22/5/2024).

Ketua Dulur Cirebonan ini memaparkan, walaupun 72 persen dari permukaan bumi ditutupi oleh air, hanya 3 persen yang merupakan air tawar (seperti danau, sungai, dan rawa) yang dapat digunakan manusia untuk kebutuhan hidup. Volume total air di bumi mencapai sekitar 1,4 miliar km3, dimana hampir semuanya (97,5 persen) adalah air laut yang bersalinitas tinggi. Hanya 2,5 persen yang merupakan air tawar, namun sebagian besar dari itu (dua per tiga) berbentuk es, terutama di wilayah Antartika dan Greenland.

Lalu, lanjut Prof Rokhmin, sepertiga sisanya hampir semuanya berupa air tanah dalam (groundwater). Sehingga, hanya sedikit sekali porsi air tawar di bumi ini yang terdapat di sungai, danau, dan perairan rawa, yang dapat digunakan dengan mudah untuk menopang kehidupan manusia dan pembangunan.
Sementara itu, sejak tahun 1900, pertambahan penduduk dunia dan pertumbuhan ekonomi telah meningkatkan konsumsi (penggunaan) air global lebih dari enam kali lipat (UNEP, 2023).

Bagi Prof Rokhmin, kendati proporsi penggunaan air tawar antar sektor pembangunan berbeda dari satu negara ke negara lainnya, sekitar 70 persen pengambilan air dari sungai, danau, dan sumber air alam lainnya secara global digunakan untuk kegiatan pertanian. Sekitar 20 persen untuk industri, dan 10 persen sisanya untuk kegiatan rumah tangga (household activities).

“Lebih dari separuh pengambilan air tawar dari alam secara global terjadi di benua Asia, tempat sebagian besar lahan pertanian beririgasi di dunia. Secara umum, penggunaan air per kapita di negara-negara industri maju jauh lebih tinggi ketimbang di negara-negara berpendapatan menengah dan miskin. Contohnya, penduduk Amerika Serikat menggunakan air tiga kali lipat lebih besar dari pada penduduk Indonesia, dan lima kali lipat penduduk Bangladesh,” papar Prof Rokhmin.

Defisit air
Ketersediaan air tawar dari alam yang terbatas dan kebutuhuannya yang terus meningkat, menempatkan air tawar sebagai SDA yang paling krusial bagi pembangunan berkelanjutan dan kelangsungan hidup manusia. Selain itu, distribusi sumber air tawar di bumi ini juga tidak merata. Di negara-negara atau wilayah dengan curah hujan rendah dan tingkat evaporasi yang tinggi, water scarcity (kelangkaan air) menjadi kendala serius bagi pembangunan ekonomi dan kehidupan manusia.

Wujud nyata dari semakin meningkatknya masalah kelangkaan air adalah semakin banyaknya sungai-sungai yang kering, pendangkalan danau dan waduk, terkurasnya aquifer (air tanah), penurunan muka air tanah (water table), dan semakin susahnya mendapatkan air pada saat musim kemarau. Contohnya, dalam kurun waktu 40 tahun (1966 – 2006) Danau Chad di Afrika Tengah mengalami penyusutan luas permukaan sekitar 95 persen (UNEP, 2006). Dan, permasalahan ini tidak hanya menimpa D. Chad, tetapi terjadi hampir di semua danau di dunia. Di Propinsi Qinhai, China yang dilewati Sungai Kuning (Yellow River), dari 4.077 danau yang ada, 2.000 danau hilang (menjadi daratan) selama 1988 – 2008. Dalam periode yang sama, Propinsi Hebei kehilangan 969 danau dari sebelumnya 1.052 danau.

Danau Chapala, Meksiko, volume airnya susut sebesar 80 persen (Brown, 2008). Di Indonesia sendiri, dari 1.575 danau yang ada hampir semuanya mengalami penyusutan luas, dan 15 danau dalam keadaan kritis. Kelima belas danau itu adalah Danau Toba, Maninjau, Singkarak, Kerinci, Danau Diatas dan Bawah, Rawa Danau, Rawa Pening, Poso, Tondano, Tempe, Matano, Limboto, Mahakam, Sentarum, dan Sentani. Volume air di 7.245 waduk di seluruh dunia mengalami penyusutan cukup signifikan selama 1999 – 2018. Padahal, pada kurun waktu yang sama, kapasitas bendungan bertambah hingga 28.000 m3 per tahun (Nature Communication, 2023).

Banyak sungai utama di dunia, yang dulu airnya mengalir sepanjang tahun dari hulu hingga ke muaranya di laut. Dalam setengah abad terakhir, mengalami kekeringan di musim kemarau atau aliran airnya tidak mencapai laut. Contohnya adalah Sungai Colorado, S. Kuning, Nil, Indus (Pakistan), Gangga, S. Amu Darya dan S. Syr Darya (Asia Tengah), S. Tigris dan S. Euphrates (Turki – Syria – Irak dan bermuara di Teluk Persia), dan S. Mekong dari hulunya di China, melintasi Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam, lalu bermuara di Laut China Selatan.

Masalah defisit air global merupakan akibat dari meningkatkannya permintaan terhadap air tawar secara fenomenal, empat kali lipat dalam setengah abad terakhir. Jutaan sumur irigasi, sumur-sumur di wilayah perkotaan dan pemukiman di seluruh dunia yang jumlahnya terus meningkat, telah mengakibatkan laju pengambilan air tanah melampaui kemampuan pulih (recharge rate) nya. Sehingga, muka air tanah di banyak negara, termasuk di China, India, Amerika Serikat, Indonesia, dan Timur Tengah turun cukup drastis. Selain itu, banyak pula aquifer yang kering, terkuras airnya.

Terkurasnya air aquifer dan penurunan muka air tanah telah berdampak negatif terhadap produksi pangan global. Misalnya, total produksi gandum China pada 2007 menurun 15 persen menjadi 105 juta ton, dari 123 juta ton pada 1997 (USDA, 2007). Kondisi serupa juga terjadi di India, Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara Uni Eropa. Oleh karena itu, krisis air global pada gilirannya bisa mengancam ketahanan pangan global.

Penurunan muka air tanah akibat overpumping (pengambilan air tanah secara berlebihan) dan semakin besarnya beban bangunan di wilayah perkotaan, telah menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence) sebesar 3 – 10 mm per tahun di 45 persen wilayah perkotaan di China. Sekitar 6,3 juta km2 lahan pesisir (coastal land) di dunia beresiko mengalami penurunan muka tanah. Selain itu, 44 kota besar pesisir dunia dilanda penurunan muka tanah, dimana 33 kota besar diantaranya berada di benua Asia, termasuk Jakarta, Semarang, dan Surabaya (NUS, 2022).

Di banyak negara, mayoritas penduduknya kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang sehat untuk makan, minum, dan keperluan lainnya. Masalah kelangkaan air telah mengakibatkan dampak buruk bagi sekitar 1,2 milyar penduduk dunia, terutama di Afrika, Asia Selatan, dan Pasifik Selatan. Lebih dari itu, sekitar 1,6 milyar warga dunia mengalami kesulitan untuk mengambil air tawar yang bersih dan sehat dari sumber air permukaan (sungai dan danau) maupun air tanah (Juniper, 2021).

Permasalahan krisis air global ini diperparah oleh Pemanasan Global. Pasalnya, peningkatan suhu bumi telah menyebabkan peningkatan laju evaporasi, gelombang panas, mengubah pola curah hujan, cuaca ekstrem, melelehnya gunung es dunia di Kutub Utara dan Kutub Selatan, peningaktan muka air laut (sea level rise), pemasaman air laut (ocean acidification), dan banjir serta kekeringan yang ekstrem.

Pencemaran perairan
Krisis air global tidak hanya terkait dengan aspek kuantitas, seperti kelangkaan air, banjir, dan kekeringan, tetapi juga aspek kualitasnya. Tingkat pencemaran ekosistem perairan sungai, danau, waduk, dan air tanah di bergabai belahan dunia semakin meluas dan mencemaskan. Konsentrasi bahan pencemar (pollutant) telah melebihi kapasitas asimilasi (assimilative capacity) banyak perairan sungai, danau, dan bendungan di sebagian besar negara di dunia. Sebut saja, Yellow River, Sungai Mekong, S. Gangga, dan S, Nil. Serta the Great Lakes di AS, Danau Victoria di Afrika, dan Danau Wuhan di China.

Pencemaran sungai, danau, waduk, dan air tanah di Indonesia juga sudah pada tingkat yang membahayakan kelestarian eksosistem perairan dan kehidupan manusia. Bahkan S. Citarum pernah dinobatkan sebagai sungai yang paling tercemar (the most polluted river) di dunia pada 2016 (UNEP dan Bank Dunia, 2017). Paada 2015, sekitar 68 persen dari seluruh sungai di Indonesia menderita pencemaran berat, 24 persen tercemar sedang, 6 persen tercemar ringan, dan hanya 2 persen yang tidak tercemar (KLHK, 2016). Lebih dari 12,7 juta ton limbah setiap tahunnya dibuang ke danau, waduk, dan sungai yang akhirnya menumpuk di wilayah pesisir dan laut (KLHK, 2022).

Berbagai jenis bahan pencemar yang berasal dari limbah industri (seperti logam berat, pewarna, khlorin, dan limbah panas); limbah pertanian (sisa pupuk, pestisida, dan insektisida); limbah rumah tangga (bahan organik, nutrien, dan sampah padat); limbah perkotaan (plastik, kertas, dan sewage); pertambangan (lumpur, tailing, dan logam berat), dan berbagai jenis limbah dari kegiatan manusia serta sektor pembangunan lainnya dibuang ke sungai, danau, waduk, dan laut tanpa diolah (dinetralkan) terlebih dahulu.

Akibatnya, banyak sungai, danau, bendungan, dan perairan laut pesisir di dunia mengalami tingkat pencemaran yang berat hingga sangat berat. Pencemaran tidak hanya mematikan biota dan eksosistem perairan, tetapi juga dapat membahayakan kesahatan manusia, bahkan mengakibatkan kematian manusia yang memanfaatkan perairan itu. Berbagai macam bahan pencemar itu ada yang berupa limbah organik dan limbah anorganik, dan ada yang bersifat B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) dan non-B3.

Jenis limbah anorganik dan B3 (seperti logam berat, pestisida, dan insektisida) dan anorganik pada umumnya sukar atau bahkan tidak bisa terurai (non-degradable) di dalam eksosistem perairan, dan sangat membahayakan bahkan mematikan biota perairan serta manusia melaui aliran bahan pencemar tersebut dalam rantai makanan.

Sementara itu, jenis limbah non-B3, organik, dan nutrien (nitrogen dan fosfor) tidak akan membahayakan ekosistem perairan dan kehidupan manusia, sepanjang jumlah yang dibuang ke dalam suatu ekosistem perairan (polluition load) tidak melampaui kapasitas asimilasinya. Pada umumnya, ekosistem perairan (sungai, danau, bendungan, dan air tanah) yang tercemar berat sampai sangat berat, apalagi tercemar oleh limbah B3, tidak bisa digunakan untuk sumber air minum, makan, mandi, pertanian, dan pariwisata.

Apa yang harus kita lakukan
Kabar baiknya adalah bahwa meskipun banyak ekosistem perairan dan sumber air di dunia yang telah kita manfaatkan secara berlebihan, mencemari, dan tidak berkelanjutan; menurut perhitungan International Geosphere-Biosphere Programme (2020) masih tersedia air tawar di planet bumi ini yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan umat manusia.

Namun, tidak berarti cara-cara kita memanfaatkan sumber daya air secara boros, mencemari, merusak lingkungan, dan tidak berkelanjutan selama ini bisa diteruskan. Sebaliknya, mulai sekarang juga kita mesti melakukan transformasi untuk merawat sumber-sumber air di bumi ini dan memanfaatkannya secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Untuk itu, ada delapan program aksi (action programs) yang harus kita laksanakan dari tingkat lokal, nasional, hingga global.

Pertama, kita harus menggunakan air untuk keperluan rumah tangga, pertanian, industri, dan kegiatan lainnya secara lebih hemat dan efisien. Selain itu, keadilan dalam penggunaan air (water-use equity) antar warga dalam suatu negara maupun antar bangsa di dunia harus ditegakkan. Pasalnya, warga dunia yang kaya umumnya menggunakan air (water footprint) jauh lebih tinggi ketimbang yang miskin. Sepuluh negara dengan penggunaan air terbesar di dunia adalah: India (1.564 km3/tahun), China (1.428 km3/tahun), AS (998 km3/tahun), Brazil (584 km3/tahun), Indonesia (431 km3/tahun), Pakistan (384 km3/tahun), Rusia (335 km3/tahun), Nigeria (309 km3/tahun), Thailand (268 km3/tahun), dan Meksiko (238 km3/tahun) (Mekonnen and Hoekstra, 2011).

Kedua, stop mencemari sungai, danau, waduk, air tanah, dan laut, dengan menerapkan zero-waste technology, teknologi 3 R (Reuse, Reduce, dan Recycle), dan teknologi pengolahan limbah sebelum dibuang ke lingkungan perairan.

Ketiga, merehabilitasi dan merawat sumber-sumber air yang telah rusak. Ini termasuk sumber-sumber air di hulu sungai dan air tanah; serta sungai, danau, dan waduk yang mengalami pendangkalan dan pencemaran.

Keempat, kurangi dan kendalikan penggunaan air tanah dangkal maupun air tanah dalam untuk mencegah penurunan water table dan land subsidence, khsusunya di wilayah perkotaan dan pemukiman padat penduduk.

Kelima, tingkatkan penampungan dan penggunaan air hujan, daur ulang air limbah non-B3 dan limbah cair (sewage) perkotaan, dan desalinasi (mengubah air laut menjadi air tawar) untuk menigkatkan ketersediaan air tawar bagi keperluan rumah tangga, pertanian, dan lainnya. Sekaligus, mengurangi tekanan penggunaan air tanah.

Keenam, rehabilitasi dan perawatan ekosistem hutan, dan perbaikan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Ini sangat urgen untuk memastikan bahwa fungsi hidro-orologis (penyediaan air di kala kemarau, dan pengendalian banjir saat musim penghujan) dari ekosistem hutan dan sungai berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Ketujuh, peningkatan kesadaran dan kapasitas pemerintah, swasta, dan masyarakat di dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Kedelapan, penguatan dan pengembangan kerjasama internasional yang saling menguntungkan dan menghormati dalam pengelolaan sumber daya air untuk kesejahteraan bersama secara berkelanjutan.

Mengakhiri pandangannya, Prof Rokhmin berharap World Water Forum ke-10 yang digelar di Bali pada 18 – 25 Mei 2024, Indonesia tidak hanya sukses sebagai tuan rumah (event organizer), tetapi juga mampu menggalang bangsa-bangsa dunia untuk berkolaborasi melaksanakan program aksi dalam mengatasi krisis air global dan pengelolaan pemanfaatan sumber saya air secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ketua Umum Gerakan Nelayan dan Tani Indonesia (GNTI)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Rismon Klarifikasi, Sains Mengoreksi Diri?

Klarifikasi Rismon Sianipar menunjukkan bahwa dalam sains, kebenaran adalah proses yang terus diuji, bukan kesimpulan instan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Fenomena klarifikasi yang dilakukan Rismon Sianipar atas analisis ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir. Peristiwa ini terjadi di tengah derasnya arus informasi di media sosial yang sering kali mendahului proses verifikasi ilmiah. Menurut berbagai sumber media yang mengulas kasus ini, perdebatan bermula dari analisis awal yang menimbulkan keraguan publik, sebelum akhirnya dikoreksi oleh penelitinya sendiri.

Kasus ini bermula ketika Rismon melakukan analisis terhadap dokumen ijazah Joko Widodo. Temuan awalnya memunculkan spekulasi di ruang publik mengenai keaslian dokumen tersebut. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, Rismon kembali melakukan penelitian ulang dengan metode yang lebih komprehensif dan menyatakan bahwa kesimpulan awalnya tidak tepat. Klarifikasi ini menjadi momen penting yang jarang terjadi di ruang publik digital.

Dalam kajian ilmiah, khususnya bidang Digital Image Processing, sebuah citra tidak hanya dilihat sebagai gambar statis, melainkan hasil interaksi kompleks antara cahaya, sudut pengambilan, resolusi, dan perangkat perekam. Perubahan kecil pada variabel-variabel tersebut dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda. Menurut penjelasan yang dikutip dari berbagai analisis media, kesalahan awal diduga terjadi karena keterbatasan dalam mengontrol variabel seperti pencahayaan dan resolusi, yang menyebabkan fenomena false negative—yakni objek yang sebenarnya ada tetapi tidak terdeteksi.

Setelah melakukan perbaikan metode, Rismon menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh, seperti analisis gradien, rekonstruksi citra, serta verifikasi multi-metode. Hasilnya menunjukkan bahwa elemen-elemen yang sebelumnya dianggap tidak ada, seperti watermark dan emboss, justru dapat teridentifikasi dengan jelas. Hal ini menegaskan bahwa perubahan hasil bukan berasal dari objek yang dianalisis, melainkan dari cara analisis itu dilakukan.

Peristiwa ini menjadi contoh konkret bagaimana sains bekerja melalui mekanisme koreksi diri. Kesalahan dalam penelitian bukanlah kegagalan akhir, melainkan bagian dari proses menuju pemahaman yang lebih akurat. Namun, di sisi lain, dinamika media sosial sering kali mempercepat penyebaran kesimpulan awal dibandingkan klarifikasi yang lebih valid.

Kasus ini juga membuka pertanyaan lebih luas tentang literasi publik dalam memahami proses ilmiah. Di era digital, masyarakat dihadapkan pada pilihan antara mempercayai informasi secara instan atau menunggu proses verifikasi yang lebih mendalam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kebenaran ilmiah membutuhkan waktu, metode, dan keterbukaan untuk dikoreksi.

Pada akhirnya, klarifikasi Rismon Sianipar bukan hanya soal satu kasus, melainkan refleksi tentang bagaimana masyarakat memaknai kebenaran. Pertanyaannya kini, apakah publik siap memahami bahwa kebenaran dalam sains adalah proses yang terus diuji, bukan sesuatu yang selesai dalam satu kesimpulan.

Continue Reading

News

Investasi Aset Digital Menurut Islam

Langkah ini menjadi respons terhadap perkembangan pesat teknologi finansial dan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto

Amalan Saliha

Published

on

Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menegaskan bahwa kripto sebagai aset digital belum memenuhi kriteria syariah, baik sebagai alat tukar maupun instrumen investasi. Kripto dinilai tidak sah digunakan sebagai mata uang karena tidak memiliki otoritas resmi, stabilitas nilai, serta mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) dan maysir (spekulasi) yang tinggi. Selain itu, kripto juga dianggap tidak memiliki underlying asset yang jelas dan tidak terhubung langsung dengan sektor riil yang produktif.

Meskipun di Indonesia kripto diakui sebagai komoditas oleh negara, fatwa tersebut menegaskan bahwa legalitas formal tidak otomatis menjadikannya halal secara syariah. Tingginya volatilitas dan potensi manipulasi pasar memperkuat risiko yang melekat pada kripto. Karena itu, Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk berhati-hati dan cenderung menghindari praktik investasi spekulatif, serta mengarahkan pilihan pada instrumen yang lebih jelas, produktif, dan sesuai dengan prinsip keadilan dalam Islam.Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dikabarkan telah mengeluarkan fatwa mengenai status mata uang kripto sebagai aset digital. Keputusan ini diharapkan dapat memberikan panduan syariah bagi umat Islam di Indonesia terkait investasi dan transaksi menggunakan aset digital yang semakin populer.

Langkah ini menjadi respons terhadap perkembangan pesat teknologi finansial dan meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto, yang selama ini masih menjadi perdebatan dalam berbagai perspektif, termasuk dari sisi agama dan hukum Islam. Fatwa ini diharapkan mengisi kekosongan panduan resmi dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Penyusunan fatwa ini diduga melibatkan kajian mendalam dari berbagai aspek, mulai dari karakteristik teknologi blockchain, volatilitas nilai, hingga potensi risiko dan manfaatnya sesuai prinsip-prinsip syariah. Tujuannya adalah memastikan bahwa aktivitas ekonomi umat Islam selaras dengan nilai-nilai keagamaan.

Meskipun detail spesifik mengenai isi fatwa belum dirilis secara luas, publik menantikan kejelasan apakah aset kripto dikategorikan sebagai māl (harta) yang sah secara syariah, atau terdapat batasan-batasan tertentu dalam penggunaannya sebagai alat investasi atau tukar.

Keputusan Tarjih Muhammadiyah ini diperkirakan akan memiliki implikasi signifikan terhadap perilaku investasi dan ekonomi syariah di Indonesia. Ini juga dapat memicu diskusi lebih lanjut di kalangan ulama dan pakar ekonomi syariah mengenai adaptasi hukum Islam terhadap inovasi finansial modern.

Adanya fatwa ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memberikan bimbingan keagamaan yang relevan dan kontekstual terhadap isu-isu kontemporer. Diharapkan, fatwa tersebut dapat menjadi rujukan penting bagi umat dalam mengambil keputusan finansial di era digital.

Continue Reading

News

Jurus Prabowo Tangkis Dampak Perang Timur Tengah Pajak hingga WFH Disiapkan

Pemerintah siapkan langkah strategis dari pajak batu bara hingga skema WFH demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3/2026), untuk merespons dampak dinamika global, khususnya perang di Timur Tengah yang berimbas pada kenaikan harga energi dan komoditas. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas ekonomi nasional agar tidak membebani masyarakat.

Dalam rapat tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Upaya ini dilakukan melalui efisiensi belanja kementerian dan lembaga (K/L) agar kondisi fiskal tetap terkendali di tengah tekanan global.

Salah satu kebijakan yang disiapkan adalah peningkatan produksi batu bara melalui penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Selain itu, pemerintah juga mengkaji penyesuaian pajak ekspor batu bara guna meningkatkan penerimaan negara, seiring tren kenaikan harga komoditas. Kebijakan ini diharapkan menjadi bantalan fiskal menghadapi ketidakpastian global.

Di sektor energi, pemerintah mendorong percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Langkah ini merupakan strategi efisiensi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang harganya tengah melonjak akibat konflik geopolitik.

Tak hanya itu, pemerintah juga mengkaji penerapan skema Work From Home (WFH) satu hari dalam lima hari kerja. Kebijakan ini bertujuan menghemat konsumsi bahan bakar dari mobilitas harian. Rencana ini tidak hanya berlaku bagi ASN, tetapi juga diharapkan dapat diadopsi sektor swasta dan pemerintah daerah, dengan target implementasi setelah Idulfitri 2026.

Meski berbagai kebijakan disiapkan, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Langkah-langkah tersebut menunjukkan respons adaptif pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Continue Reading

News

Prabowo Ajak Bangsa Eratkan Persatuan di Momen Lebaran

Published

on

Monitorday.Com – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momen kemenangan ini sebagai ajang memperkuat persatuan nasional.

Dalam pesannya, Prabowo mengungkapkan rasa syukur atas pertemuan kembali umat Muslim dengan Idul Fitri, serta menyampaikan ucapan selamat atas nama pribadi, keluarga, dan pemerintah Republik Indonesia.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita manfaatkan momen Idul Fitri ini untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan sebagai satu bangsa di tengah berbagai tantangan yang kita hadapi,” ujar Prabowo.

Presiden menekankan pentingnya memanfaatkan Idul Fitri sebagai momentum untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. Menurutnya, kebersamaan dan persatuan merupakan kunci esensial dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa di masa mendatang.

Prabowo juga menyoroti urgensi menjaga semangat gotong royong sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bekerja keras dalam membangun negara yang lebih adil, sejahtera, dan kuat demi masa depan.

Continue Reading

News

Pesan Idul Fitri 1447 H, Muchlas Rowi: Kedewasaan Umat Diuji dalam Perbedaan

Published

on

Monitorday.com, Bandung — Idul Fitri sering dipahami sebagai puncak kemenangan. Namun bagi Dr. M. Muchlas Rowi, kemenangan itu bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari ujian yang lebih halus: bagaimana manusia menjaga kelapangan hati setelah sebulan ditempa.

Dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Antapani, Kota Bandung pada Jum’at (20/3), Wakil Bendahara Majlis Diktilitbang PP Muhammadiyah ini mengajak jamaah melihat kembali satu peristiwa penting dalam sejarah Islam: Perang Uhud.

“Dari peristiwa Uhud kita belajar satu hal yang sangat penting: kemenangan dalam Islam bukan berarti perjalanan hidup tanpa ujian,” ujarnya.

Nada khutbahnya tidak meninggi, tetapi mengendap—seperti mengajak setiap orang bercermin.

Ramadhan, menurutnya, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Lebih dalam dari itu, ia adalah latihan pengendalian diri yang paling jujur.

“Ramadhan mengajarkan kita menahan diri—menahan amarah, menahan ego, menahan lisan dari kata-kata yang menyakiti orang lain,” kata Muchlas.

Namun refleksi itu tidak berhenti pada dimensi personal. Ia bergerak ke ruang sosial—ke sesuatu yang setiap tahun kembali hadir, dan setiap tahun pula menguji kedewasaan umat: perbedaan.

Dalam Ramadhan tahun ini, umat Islam di Indonesia kembali dihadapkan pada realitas yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan beragama: perbedaan dalam menentukan awal puasa dan hari Lebaran.

Sebagian memulai lebih awal. Sebagian menyusul. Sebagian merayakan hari ini. Sebagian lagi mungkin esok.

Bagi Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial ini, perbedaan itu bukan masalah. Cara menyikapinya lah yang menentukan kualitas keimanan.

“Namun perbedaan itu seharusnya tidak menjadikan hati kita sempit. Justru di situlah kedewasaan umat diuji,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa takwa tidak hanya diukur dari intensitas ibadah, tetapi dari keluasan hati dalam menerima realitas yang tidak selalu seragam.

“Orang yang bertakwa bukan hanya yang rajin beribadah, tetapi juga yang lapang hatinya dalam menyikapi perbedaan,” ujarnya.

Di tengah masyarakat yang kerap mudah terbelah oleh perbedaan kecil, pesan itu terasa relevan—bahkan mendesak.

Idul Fitri, dalam tafsir Muchlas, bukan sekadar momentum kembali ke fitrah secara spiritual, tetapi juga kesempatan memperluas ruang batin: menerima, memahami, dan tetap bersaudara di tengah perbedaan.

Sebab mungkin, kemenangan sejati bukan ketika semua menjadi sama, melainkan ketika perbedaan tidak lagi melahirkan jarak.

Continue Reading

News

Sekolah Bakal Terapkan Pembelajaran Hybrid Imbas Kebijakan Hemat Energi, Mulai Kapan?

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Pemerintah memastikan kebijakan penghematan energi nasional akan berdampak langsung pada sistem kegiatan belajar mengajar di Indonesia. Mulai April 2026, sekolah di berbagai daerah akan menerapkan penyesuaian metode pembelajaran, termasuk kombinasi daring dan tatap muka.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional menyusul kenaikan harga minyak dunia. Sektor pendidikan menjadi salah satu fokus utama selain kesehatan dan layanan publik lainnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyatakan bahwa penyesuaian metode pembelajaran akan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan karakteristik setiap mata pelajaran.

“Penyesuaian metode pembelajaran daring dan luring akan dilakukan sesuai karakteristik mata pelajaran,” ujar Pratikno dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa kegiatan pembelajaran yang membutuhkan praktik langsung tetap dilaksanakan secara tatap muka guna menjaga kualitas dan capaian kompetensi siswa.

Meski pembelajaran daring akan diperluas, pemerintah memastikan kualitas pendidikan tidak akan dikorbankan. Mata pelajaran berbasis praktikum akan tetap berlangsung secara langsung di sekolah.

Menurut Pratikno, kebijakan ini dirancang secara hati-hati agar tidak menimbulkan dampak negatif yang berlebihan di masyarakat. Pendekatan yang digunakan berbasis data konsumsi energi dan tingkat mobilitas di tiap sektor.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang meminta kementerian dan lembaga menyusun strategi penghematan energi lintas sektor secara responsif dan berbasis data.

Pembahasan teknis dilakukan melalui Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kebijakan Penghematan BBM yang digelar secara daring dan melibatkan sejumlah kementerian terkait.

Dalam rapat tersebut, pemerintah menyepakati lima strategi utama penghematan energi, yaitu:

  1. Penerapan skema kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN)
  2. Optimalisasi platform digital dalam layanan publik
  3. Pembatasan mobilitas perjalanan dinas
  4. Efisiensi operasional gedung perkantoran dan sekolah
  5. Penyesuaian pembelajaran daring dan luring

Khusus sektor pendidikan, implementasi pembelajaran daring akan mempertimbangkan kebutuhan tiap jenjang serta jenis mata pelajaran.

Pemerintah juga mencermati sejumlah isu lanjutan, seperti kemungkinan penyesuaian distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila terjadi perubahan pola kehadiran siswa di sekolah.

Selain itu, opsi skema pembiayaan alternatif tengah dikaji guna memastikan akses internet bagi peserta didik tetap terjamin selama penerapan pembelajaran daring.

Koordinasi lintas kementerian disebut menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan ini agar tidak mengganggu pelayanan publik.

Sebagai tindak lanjut, hasil rapat akan dirumuskan dalam laporan resmi kepada Presiden yang memuat analisis konsumsi energi sektor pembangunan manusia serta rekomendasi langkah penghematan dari masing-masing kementerian.

Pemerintah menargetkan kebijakan penghematan energi lintas sektor ini mulai diterapkan pada April 2026. Sejumlah kementerian yang terlibat antara lain Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Agama, Kementerian PAN-RB, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Dengan pendekatan berbasis data serta pengalaman pengaturan mobilitas selama pandemi COVID-19, pemerintah optimistis efisiensi energi dapat berjalan tanpa mengorbankan mutu pendidikan nasional.

Continue Reading

News

Trump dan Putin Sampaikan Ucapan Idulfitri 2026, Tekankan Nilai Kebersamaan dan Spiritual

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri 2026 kepada umat Islam di negaranya. Dalam pernyataan resmi Gedung Putih yang dirilis pada Rabu (18/3), Trump menekankan bahwa Idulfitri merupakan momen penting untuk mempererat hubungan keluarga, sahabat, dan komunitas setelah menjalani ibadah selama bulan Ramadan.

Ia juga menyebut hari raya tersebut sebagai pengingat akan prinsip dasar Amerika Serikat, khususnya kebebasan beragama yang menurutnya terus diperjuangkan pemerintahannya.

“Saya dan Ibu Negara menyampaikan ucapan selamat terbaik kami kepada setiap warga Amerika yang merayakan Idulfitri. Kami juga mengirimkan salam hangat untuk Idulfitri yang penuh berkah kepada semua yang merayakan,” ujar Trump dalam pernyataannya.

Ucapan serupa juga datang dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menyampaikan pesan kepada umat Islam di negaranya melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar Rusia di Indonesia. Putin menilai Idulfitri sebagai simbol upaya spiritual umat Islam dalam mencapai kesempurnaan moral, sekaligus menjunjung tinggi nilai kemurahan hati dan kasih sayang.

Ia menambahkan bahwa umat Islam di Rusia terus menjaga tradisi sejarah dan spiritual warisan leluhur serta merayakan hari raya tersebut secara luas, baik di lingkungan keluarga maupun komunitas.

Putin juga menyoroti berbagai kegiatan selama bulan Ramadan, seperti acara amal, budaya-edukatif, hingga kegiatan untuk anak-anak, yang dinilai telah menjadi tradisi positif. Menurutnya, organisasi-organisasi Islam di Rusia berperan penting dalam memperkuat institusi keluarga, membina generasi muda, serta membangun dialog konstruktif dengan negara dan masyarakat.

Lebih lanjut, Putin memberikan apresiasi khusus kepada umat Islam yang turut berkontribusi dalam membela negara dan mendukung keluarga para pahlawan.

Umat Islam di Amerika Serikat dan Rusia diketahui merayakan Idulfitri pada Jumat (20/3). Di AS, sejumlah masjid, termasuk yang dikelola oleh North American Foundation of Islamic Services di Chicago, menggelar salat Id berjamaah. Sementara itu, di Rusia, salat Id juga dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah, terutama di kawasan selatan yang mayoritas penduduknya Muslim.

Continue Reading

News

Haedar Nashir Imbau Elite Bangsa Beri Teladan

Amalan Saliha

Published

on

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyerukan kepada seluruh warga dan elite bangsa untuk menjadikan momentum Idulfitri 1447 H sebagai jalan mempererat persatuan nasional. Ia menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai ihsan dalam setiap aspek kehidupan, baik personal maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pesan ini disampaikan Haedar Nashir setelah menunaikan dan menyampaikan Khutbah Idulfitri 1447 H di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Jumat, 20 Maret. Dalam seruannya, Haedar secara khusus mengimbau masyarakat untuk tidak mempertajam perbedaan penetapan Idulfitri, melainkan melihatnya sebagai hal yang biasa dan tidak perlu menjadi sumber konflik.

Mengenai perbedaan penetapan Idulfitri, Haedar menekankan pentingnya menahan diri. “Tidak perlu kita mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain. Baik dalam konteks kewargaan maupun pemerintahan, semua pihak harus menahan diri,” ujarnya.

Ia juga mengimbau tokoh agama dan elite bangsa untuk menghindari pernyataan atau ujaran yang dapat memperkeruh suasana di tengah masyarakat, menekankan Idulfitri harus dijalani dengan kekhusyukan ibadah dan kejernihan jiwa serta pikiran. “Jalani Idulfitri dengan khusyuk, baik yang merayakan pada 20 maupun 21 Maret, bahkan yang lebih dahulu, agar kita tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru meretakkan persatuan,” imbuhnya.

Haedar Nashir menyatakan keyakinannya bahwa bangsa Indonesia memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Ia juga menyampaikan harapan untuk masa depan dunia Islam agar dapat memiliki kalender global tunggal guna meminimalisasi perbedaan penetapan hari besar keagamaan. “Ke depan, insyaallah perbedaan itu dapat diminimalisasi, jika ada keterbukaan hati dan pikiran, serta didasarkan pada ilmu pengetahuan yang tinggi,” katanya.

Harapan ini mencerminkan visi Muhammadiyah untuk menciptakan harmoni dan meminimalkan potensi konflik yang timbul dari perbedaan penafsiran keagamaan, sekaligus memperkuat fondasi persatuan nasional di tengah keragaman.

Continue Reading

News

Kemendikdasmen Perkuat Literasi dan Karakter Pelajar Melalui Pak Menteri Menyapa 

Kemendikdasmen mendorong para pelajar untuk menanamkan “growth mindset” atau pola pikir bertumbuh dalam keseharian mereka

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat karakter dan literasi digital pelajar melalui forum digital bertajuk “Pak Menteri Menyapa”. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta pada Kamis, menjadi inisiatif strategis untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Acara tersebut menjadi ruang dialog produktif antara jajaran pimpinan kementerian dengan sekitar 4.000 pelajar dari berbagai komunitas dan organisasi di seluruh Indonesia, mengusung tema “Liburan Pelajar Edukatif dan Bermutu”.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyapa para pelajar yang tetap antusias mengikuti kegiatan di masa liburan. Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti menekankan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan karakter generasi muda saat ini akan menentukan wajah Indonesia pada tahun 2045.

Sejalan dengan visi tersebut, Kemendikdasmen mendorong para pelajar untuk menanamkan “growth mindset” atau pola pikir bertumbuh dalam keseharian mereka. Hal ini dianggap krusial untuk menghadapi dinamika kehidupan dan tantangan global.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan, “Orang hebat bukan mereka yang tidak pernah jatuh, melainkan mereka yang mampu belajar dari setiap pengalaman yang pernah terjadi dalam dirinya.”

Penguatan literasi dan karakter melalui forum semacam ini diharapkan dapat membekali pelajar dengan kemampuan adaptasi dan resiliensi, memastikan mereka tumbuh menjadi individu yang kompeten dan berdaya saing tinggi.

Continue Reading

News

Pesan Politik Di Balik Prabowo-Megawati Bertemu di Istana Merdeka

Pesan kuat terpancar dari keduanya bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan akrab.

Interaksi yang terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, turut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dari Partai Gerindra dan Ketua DPR RI Puan Maharani dari PDI Perjuangan. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan dimensi penting dari pertemuan ini.

Prabowo, mengenakan baju safari berwarna cokelat, menyambut langsung Megawati sejak ia turun dari kendaraan. Ia kemudian menggandeng tangan Megawati saat menaiki tangga menuju Istana Merdeka. Di dalam istana, putra Prabowo, Didit Hediprasetyo, dan Sespri Prabowo, Rizky Irmansyah, juga turut menyambut kedatangan rombongan.

Megawati didampingi putrinya, Puan Maharani, yang keduanya kompak mengenakan batik bernuansa biru. Mereka kemudian terlihat mengobrol di ruangan tengah Istana Merdeka sebelum melanjutkan pertemuan formal. Prabowo, Megawati, Dasco, dan Puan terlihat duduk bersama di satu meja selama diskusi.

Terkait substansi pertemuan, Prabowo belum memberikan detail spesifik. Ia menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari silaturahmi antarpemimpin bangsa. “Pada hari ke-29 bulan Ramadan menjelang Idul Fitri 1447 H, saya menerima Presiden Ke-5 RI, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri, di Istana Merdeka. Pertemuan ini melanjutkan silaturahmi antarpemimpin bangsa,” ujar Prabowo.

Momen pertemuan ini juga diunggah oleh Prabowo di akun Instagram pribadinya. Interaksi antara kedua pemimpin partai besar ini menjadi sorotan publik, mengingat dinamika politik nasional dan posisi kedua tokoh sebagai figur sentral dalam perpolitikan Indonesia. Pesan kuat terpancar dari keduanya bahwa hubungan mereka baik-baik saja.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News3 hours ago

Rismon Klarifikasi, Sains Mengoreksi Diri?

News5 hours ago

Investasi Aset Digital Menurut Islam

News5 hours ago

Jurus Prabowo Tangkis Dampak Perang Timur Tengah Pajak hingga WFH Disiapkan

News10 hours ago

Prabowo Ajak Bangsa Eratkan Persatuan di Momen Lebaran

Review13 hours ago

Dialektika dalam Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan: Keniscayaan atau Kelemahan

News18 hours ago

Pesan Idul Fitri 1447 H, Muchlas Rowi: Kedewasaan Umat Diuji dalam Perbedaan

News20 hours ago

Sekolah Bakal Terapkan Pembelajaran Hybrid Imbas Kebijakan Hemat Energi, Mulai Kapan?

News20 hours ago

Trump dan Putin Sampaikan Ucapan Idulfitri 2026, Tekankan Nilai Kebersamaan dan Spiritual

News21 hours ago

Haedar Nashir Imbau Elite Bangsa Beri Teladan

News1 day ago

Kemendikdasmen Perkuat Literasi dan Karakter Pelajar Melalui Pak Menteri Menyapa 

News1 day ago

Pesan Politik Di Balik Prabowo-Megawati Bertemu di Istana Merdeka

News2 days ago

PLN Siapkan Puluhan SPKLU di Jalur Mudik Trans Jawa

LakeyBanget2 days ago

Meksiko Buka Peluang Jadi Tuan Rumah Laga Iran di Piala Dunia 2026

News2 days ago

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Bertepatan 21 Maret 2026

News2 days ago

Hasto Beberkan Hasil Pertemuan Prabowo–Megawati di Istana

LakeyBanget2 days ago

Umrah Tepat di Hari Ulang Tahun, Hamish Daud Bagikan Momen Haru dan Refleksi Hidup

LakeyBanget2 days ago

Sambut FIFA Series 2026, Menpora Erick Tinjau Stadion GBK dan Madya

News2 days ago

Sekolah 3T di NTT Rasakan Dampak Langsung Digitalisasi Pembelajaran

News2 days ago

Pemerintah Salurkan Tunjangan untuk 1,6 Juta Guru ASND di Awal 2026, Berapa?

LakeyBanget2 days ago

Rilis Teaser “SWIM”, BTS Comeback Lewat Album ARIRANG

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.