News
Perkuat Sekolah Aman dan Nyaman, Kemendikdasmen Fokus Cegah Masalah Kesehatan Mental Siswa
Published
4 hours agoon
Monitorday.com – Pemerintah menargetkan pembentukan budaya sekolah yang aman dan nyaman sebagai langkah strategis untuk mengatasi isu kesehatan jiwa anak di Indonesia. Upaya ini juga diiringi dengan penguatan peran guru sebagai pendamping siswa dalam lingkungan pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa kementeriannya telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Regulasi tersebut bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan serta mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik.
“Melalui kebijakan ini kita membangun relasi sosial yang lebih baik, baik antara guru dan murid, murid dengan murid, maupun antara sekolah dengan orang tua serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan,” kata Abdul Mu’ti dalam konferensi pers usai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam kebijakan tersebut bersifat preventif dan promotif. Peran guru bimbingan konseling (BK) diperkuat, namun tidak terbatas pada guru BK saja. Seluruh guru didorong untuk menjalankan fungsi pendampingan terhadap siswa.
Selain itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga mendorong pengembangan bakat dan minat siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun intrakurikuler sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental anak.
Dalam konsep sekolah aman dan nyaman, terdapat empat aspek utama yang menjadi fokus, yakni pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial-budaya, serta penguatan keadaban dan keamanan digital.
“Selama ini paradigma bimbingan konseling lebih bersifat kuratif, yaitu menunggu masalah muncul. Sekarang kita ubah menjadi pendekatan yang lebih preventif sekaligus mendukung pengembangan bakat, minat, dan kepribadian siswa,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan program penguatan peran guru dalam pendampingan siswa dapat menjangkau lebih dari 2,8 juta guru di seluruh Indonesia pada tahun 2029.
Fokus pada kesehatan jiwa anak dinilai semakin penting seiring meningkatnya angka pemikiran dan percobaan bunuh diri pada remaja. Data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) menunjukkan persentase siswa yang pernah berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023 atau naik sekitar 1,6 kali lipat.
Sementara itu, persentase siswa yang pernah mencoba mengakhiri hidup juga meningkat signifikan dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023 atau naik sekitar 2,7 kali lipat. Survei yang sama menunjukkan siswa perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi dalam hal pemikiran maupun percobaan bunuh diri.
Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat kelompok usia 11 hingga 17 tahun menjadi kelompok dengan kasus bunuh diri tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 tercatat 45 kasus, disusul 42 kasus pada 2024, dan 20 kasus pada 2025.
Berdasarkan data KPAI serta laporan layanan kesehatan mental daring Kementerian Kesehatan melalui Healing119.id, sejumlah faktor utama yang memicu keinginan bunuh diri pada anak antara lain konflik keluarga dan pola pengasuhan (24–46 persen), perundungan atau bullying (14–18 persen), masalah psikologis (8–26 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen).
Untuk memperkuat penanganan masalah tersebut, pemerintah menandatangani Surat Keputusan Bersama tentang Kesehatan Jiwa Anak yang melibatkan sejumlah kementerian. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji.
Kolaborasi lintas kementerian tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan serta penanganan masalah kesehatan mental anak secara lebih komprehensif di Indonesia.
Mungkin Kamu Suka
-
Mendikdasmen: Program MBG Bagian Pendidikan Karakter dan Penggerak Ekonomi Rakyat
-
Target Tiga Tahun Pemulihan Pendidikan Pascabencana
-
Wajib Belajar 13 Tahun Diperkuat, Mendikdasmen Dorong Penguatan Guru PAUD dan Pemenuhan Gizi Anak
-
Kemendikdasmen-BPS Hadirkan Data Pendidikan Lebih Akurat dan Mutakhir
-
Mendikdasmen Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif Berstandar Internasional
News
Anggaran Amil Jadi Sorotan, Ketua BAZNAS DKI Tegaskan Pengelolaan Profesional
Published
2 hours agoon
06/03/2026By
Umar Satiri
Monitorday.com – Sorotan publik mencuat terhadap laporan keuangan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) periode 2023–2024, khususnya terkait alokasi dana amil yang ramai dibahas di media sosial. Laporan tersebut memperlihatkan perbedaan alokasi penyaluran dana zakat yang memicu perdebatan luas.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua BAZNAS Bazis Provinsi DKI Jakarta, Akhmad H Abubakar, menegaskan bahwa pengelolaan dana amil di lembaganya dilakukan secara profesional dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ia menyatakan bahwa BAZNAS Bazis DKI memiliki sistem yang berbeda dan patuh pada regulasi.
“Tentunya BAZNAS yang mana yang melewati anggaran dari amil? Di BAZNAS Bazis itu profesional dan sesuai dengan ketentuan, karena BAZNAS Bazis di Jakarta beda dengan BAZNAS-BAZNAS, bedanya di situ,” ujar Akhmad di Balai Kota, Kamis (5/3/2026).
Ia juga menegaskan, “Jadi, khusus terkait dengan masalah gaji, itu sangat profesional,” katanya.
Sebelumnya, laporan keuangan BAZNAS untuk periode 2023–2024 menjadi viral setelah akun X @gilangmahesa membagikan potongan laporan keuangan hingga 31 Desember 2024 dan 2023. Unggahan tersebut menyoroti besarnya alokasi dana pada pos amil atau pengurus zakat dibandingkan beberapa kelompok penerima zakat lain, seperti fakir dan ghorimin, serta mempertanyakan kategori Fisabilillah.
Situasi ini memicu diskusi publik mengenai transparansi dan efisiensi pengelolaan dana zakat oleh lembaga amil, sementara BAZNAS Bazis DKI Jakarta bersikukuh pada profesionalisme dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.
News
Makna Nuzulul Quran
Momen ini secara luas dikenal membawa pencerahan bagi alam semesta, menandai dimulainya penyampaian petunjuk ilahi.
Published
4 hours agoon
06/03/2026
Monitorday.com– Nuzulul Quran menandai peristiwa turunnya wahyu Al-Quran yang pertama kali ke dunia. Peristiwa istimewa ini terjadi pada bulan suci Ramadan, menjadikannya bulan yang sangat mulia dalam kalender Hijriah.
Secara bahasa, “nuzulul” berarti “turun” atau “datang”, sedangkan “Quran” merujuk pada kitab suci umat Islam. Momen ini secara luas dikenal membawa pencerahan bagi alam semesta, menandai dimulainya penyampaian petunjuk ilahi.
Sebelum wahyu pertama ini, Nabi Muhammad SAW merasa sangat prihatin terhadap kemerosotan moral yang melanda masyarakat Arab. Dalam pencarian ketenangan, beliau sering menyepi ke Gua Hira untuk ‘tahannuth’, sebuah bentuk meditasi dan perenungan mendalam, guna mencari jalan membimbing kaum Arab keluar dari kegelapan.
Pada suatu malam di Gua Hira, Malaikat Jibril menampakkan diri di hadapan Nabi Muhammad SAW dan memerintahkannya, “Iqra” (Bacalah!). Namun, Nabi Muhammad menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Perintah tersebut diulang beberapa kali, menyebabkan Nabi Muhammad gemetar ketakutan.
Peristiwa ini menandai wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Surah Al-Alaq (ayat 1–5): اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
Wahyu pertama ini secara historis menjadi tonggak dimulainya risalah kenabian dan penyebaran ajaran Islam yang membawa perubahan mendasar bagi peradaban.
News
AI Ubah Cara Belajar Mahasiswa dan Pelajar
Sebagian besar mahasiswa menggunakan AI untuk apa yang disebut “executive help”—mencari solusi cepat dengan sedikit usaha—bukan untuk “instrumental help” yang melibatkan klarifikasi konsep, pembangunan keterampilan, dan dukungan pembelajaran mandiri.
Published
4 hours agoon
06/03/2026
Monitorday.com– Laporan terbaru dari University of Southern California (USC) mengungkapkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk mendapatkan jawaban cepat ketimbang untuk mendalami pemahaman konsep. Penemuan ini menyoroti bagaimana teknologi AI saat ini dimanfaatkan sebagai jalan pintas dalam tugas perkuliahan, kecuali jika dosen secara aktif mengarahkan penggunaannya untuk pembelajaran yang lebih mendalam.
Riset yang diterbitkan oleh USC Center for Generative AI and Society ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan AI untuk apa yang disebut “executive help”—mencari solusi cepat dengan sedikit usaha—bukan untuk “instrumental help” yang melibatkan klarifikasi konsep, pembangunan keterampilan, dan dukungan pembelajaran mandiri. Penelitian ini memberikan gambaran terkini tentang bagaimana AI generatif membentuk ruang kelas pendidikan tinggi.
Menanggapi temuan ini, Stephen J. Aguilar, associate professor di USC Rossier School of Education, menyatakan pentingnya arah penggunaan AI. “Generative AI is here and already having an impact,” kata Aguilar. “What matters now is whether we use it to deepen learning or to avoid it. Our research helps us understand how students and teachers alike are integrating AI into their work and studies.”
Tim peneliti, dipimpin oleh Aguilar bersama William Swartout, chief science officer di USC Viterbi School of Engineering’s Institute for Creative Technologies dan co-director Center for Generative AI and Society, melakukan dua survei baru dan satu studi eksperimental. Riset ini meliputi survei nasional terhadap 1.000 mahasiswa AS, studi eksperimental alat penulisan AI baru, dan survei global terhadap pengajar di lima negara, memberikan perspektif komprehensif.
Hasil survei terhadap mahasiswa AS secara khusus mengindikasikan bahwa penggunaan AI didominasi untuk tujuan pencarian jawaban instan. Meskipun demikian, laporan tersebut menyarankan bahwa dengan desain yang disengaja, panduan yang jelas, dan akses yang merata, AI generatif memiliki potensi untuk memperdalam pembelajaran daripada sekadar menggantikannya. Ini memerlukan perubahan pendekatan dari pengajar dan institusi.
Laporan ini mengidentifikasi praktik-praktik bagi mahasiswa dan pengajar untuk secara efektif memanfaatkan teknologi AI, menunjukkan bagaimana AI generatif membentuk kembali pendidikan. Studi ini bertujuan untuk mendorong integrasi AI yang bertanggung jawab dan produktif dalam lingkungan akademik, memastikan bahwa teknologi baru ini dimanfaatkan secara optimal untuk kemajuan pendidikan.
News
Praktik Baik Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat dalam Pembelajaran Pendidikan Inklusif
Published
5 hours agoon
06/03/2026
Monitorday.com – Program Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat gelombang pertama yang digelar sejak September 2025 mulai menunjukkan dampak positif dalam pengembangan pendidikan agama bagi peserta didik penyandang disabilitas tunarungu. Program ini melahirkan sejumlah pengajar yang kini mampu mengajarkan pembacaan Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat secara lebih sistematis dan mudah dipahami.
Melalui pelatihan tersebut, para guru memperoleh berbagai pengetahuan baru, mulai dari pemahaman Al-Qur’an berbahasa isyarat, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran, hingga pengembangan metode pengajaran yang melibatkan orang tua atau wali murid.
Salah satu praktik baik datang dari Bukhori, guru di SLB Negeri 7 Jakarta. Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga setelah mengikuti pelatihan tersebut, terutama terkait metode pembelajaran Al-Qur’an yang dirancang khusus bagi penyandang disabilitas tunarungu.
“Puji syukur melalui kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman berharga. Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas tunarungu. Murid-murid kami juga sangat antusias karena selama ini mereka belum memahami metode membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Bukhori.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan tersebut, SLB Negeri 7 Jakarta juga mengajak para orang tua siswa untuk ikut mempelajari Al-Qur’an berbahasa isyarat. Menurut Bukhori, dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam memperkuat literasi agama bagi peserta didik disabilitas.
Ia menilai, pembelajaran yang hanya berlangsung di ruang kelas tidak akan optimal tanpa keterlibatan lingkungan rumah. Dengan pemahaman yang sama, orang tua diharapkan dapat mendampingi anak-anak mereka dalam mempelajari Al-Qur’an secara berkelanjutan.
“Dengan begitu, pembelajaran agama di rumah juga akan berjalan dengan baik. Kami ingin pemahaman ini menyentuh sisi emosional dan spiritual, baik bagi murid maupun orang tuanya,” tambahnya.
Praktik baik serupa juga dirasakan oleh Wita Panca Dewi Annisa, guru SLB Negeri 3 Jakarta. Ia menilai penerapan metode Al-Qur’an isyarat membawa perubahan signifikan dalam pembelajaran agama di sekolahnya.
Sebagai pendidik yang telah mengajar selama lima tahun, Wita menjelaskan bahwa sebelumnya para guru hanya menggunakan bahasa isyarat sehari-hari yang diterjemahkan secara mandiri ke dalam bacaan Al-Qur’an. Setelah mengikuti pelatihan ToT, para guru kini memiliki metode yang lebih sistematis.
“Sebelumnya kami hanya menggunakan bahasa isyarat sehari-hari yang diterjemahkan secara mandiri ke bahasa Al-Qur’an. Setelah mengikuti kegiatan ToT Al-Qur’an Isyarat, kini kami memiliki keterampilan baru untuk mengajarkan mereka dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami,” jelas Wita.
Di sekolahnya, metode Al-Qur’an isyarat kini telah diintegrasikan dalam kegiatan Pembiasaan Pagi. Para siswa diajak membaca ayat-ayat pendek serta doa harian menggunakan bahasa isyarat.
Penerapan pembelajaran tersebut dilakukan secara bertahap sesuai jenjang pendidikan. Untuk tingkat sekolah dasar, siswa diperkenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah, sementara siswa tingkat SMP dan SMA mulai diarahkan untuk menghafal surat-surat pendek.
Dampak program ini juga dirasakan langsung oleh para siswa. Salah satunya Nadia Aulia Safira, siswi kelas IX SLB Negeri 3 Jakarta. Setelah mengikuti pembelajaran Al-Qur’an isyarat, Nadia menunjukkan antusiasme tinggi, terutama selama bulan Ramadan.
Ia bahkan secara mandiri mempraktikkan bacaan Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat setiap selesai salat Subuh tanpa harus diingatkan oleh orang tua maupun guru.
Selain itu, Nadia juga aktif membantu teman-temannya di kelas agar dapat memahami huruf hijaiyah dan membaca doa bersama menggunakan bahasa isyarat.
“Nadia adalah anak yang mandiri dan peduli. Di kelas, dia sering membantu teman-temannya saat belajar hijaiyah atau membaca doa bersama,” kata Wita.
Menanggapi berbagai kisah inspiratif tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa program ToT Al-Qur’an Isyarat merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memenuhi hak pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, program ini juga sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas yang menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif dan setara bagi semua warga negara.
“Melalui ToT Al-Qur’an Isyarat ini, saya berharap para lulusan pelatihan akan menjadi mujahid literasi yang membawa semangat pencerahan serta menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah bagi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia,” ujar Fajar di Jakarta, Selasa (3/3).
News
Indonesia Cetak Sejarah, 2.280 Ton Beras Dikirim ke Arab Saudi untuk Jemaah Haji
Published
5 hours agoon
06/03/2026
Monitorday.com – Pemerintah Indonesia resmi melepas ekspor perdana sebanyak 2.280 ton beras premium bermerek “BeFood Nusantara” ke Arab Saudi pada Rabu (4/3/2026). Beras tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah.
Pengiriman dilakukan dari Kawasan Pergudangan Sunter Timur milik Perum Bulog di Jakarta. Langkah ini menjadi tonggak baru dalam pengembangan ekosistem ekonomi haji nasional, sekaligus menghadirkan cita rasa nasi khas Indonesia bagi jemaah di Tanah Suci.
Program ekspor ini merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), serta Perum Bulog. Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin memastikan jemaah haji Indonesia dapat mengonsumsi beras dengan tekstur dan rasa yang lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat di tanah air.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi (PPE) Haji dan Umrah, Jaenal Efendi, menyebut pengiriman ini sebagai pencapaian penting yang telah lama dinantikan.
“Alhamdulillah ini adalah pecah telur yang selama ini bertahun-tahun kita menunggu bagaimana bisa ekspor beras ke Saudi, khususnya untuk jemaah haji ini. Sejauh ini jemaah kita di sana makan beras non-Indonesia yang mungkin berbeda dengan selera lidah masyarakat kita,” kata Jaenal.
Menurutnya, banyak jemaah Indonesia yang berasal dari berbagai daerah di pelosok tanah air belum terbiasa mengonsumsi nasi dari beras basmati yang selama ini banyak digunakan di Arab Saudi.
Perum Bulog memastikan beras yang dikirim termasuk kategori “super premium”. Beras tersebut diproses dari hasil panen terbaru petani di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan standar kualitas tinggi, yakni tingkat pecahan (broken) di bawah 5 persen serta kadar air di bawah 14 persen.
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan proses produksi melibatkan empat fasilitas pengolahan besar. Di antaranya pabrik PT Padi Indonesia Maju (PIM) Wilmar di Serang dan Mojokerto, serta fasilitas Bulog di Karawang dan Subang.
“Beras yang kita olah ini adalah beras yang baru dipanen dari sawah, bukan beras yang sudah lama di gudang. Setelah panen langsung dibawa ke silo, dikeringkan dengan dryer, lalu diolah menjadi beras premium dengan tingkat pecahan bahkan hanya sekitar 4 persen,” ujarnya.
Sementara itu, pengiriman ekspor dilakukan menggunakan sejumlah armada kapal, yakni Hyundai Unity, Wan Hai, serta kapal lokal Kota Sejati.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan ekspor ini menjadi bukti kuatnya ketahanan stok pangan nasional. Hingga Maret 2026, cadangan beras Indonesia tercatat mencapai 3,7 juta ton, yang disebut sebagai stok terbesar sepanjang sejarah untuk periode tersebut.
“Ini aksi nyata, bukan ilusi. Kita kirim lebih dari dua ribu ton. Ekspor pertanian di bawah komando Presiden meningkat signifikan, bahkan terakhir mencapai kenaikan sekitar 30 hingga 44 persen,” kata Amran.
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Haris, yang menilai ekspor ini membuka peluang pasar potensial (captive market) bagi produk pertanian Indonesia di luar negeri.
Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, berharap langkah ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kualitas beras Indonesia kepada masyarakat internasional, khususnya di Arab Saudi.
Dengan ekspor perdana ini, pemerintah optimistis produk pangan nasional tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar global sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi haji Indonesia.
News
Prodi Linguistik Terapan UNJ Gelar Kuliah Umum Evaluasi Berbasis Luaran dan Berdampak
Published
7 hours agoon
06/03/2026By
Natsir Amir
Monitorday.com – Program Studi Linguistik Terapan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) akan menggelar kuliah umum bertajuk “Evaluasi Berbasis Luaran & Berdampak” pada Rabu, 4 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang CyLearn, Gedung Bung Hatta Lantai 6, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.
Kuliah umum ini menjadi bagian dari penguatan implementasi evaluasi pembelajaran dan evaluasi program yang berorientasi pada luaran (output) serta dampak (impact). Tema tersebut sejalan dengan semangat transformasi pendidikan tinggi yang kini menekankan pada akuntabilitas, kualitas hasil, serta kontribusi nyata terhadap masyarakat dan pembangunan.
Sejumlah akademisi terkemuka hadir sebagai narasumber. Di antaranya Wakil Rektor 1 Bidang Akademik UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum.; Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus.; serta Koordinator Program Studi S2 dan S3 Linguistik Terapan, Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd.
Selain itu, dua guru besar juga akan memberikan pandangan akademiknya, yakni Prof. Dr. Achmad Ridwan, M.Si., Guru Besar Program Studi PEP, dan Prof. Dr. Fathiaty Murtadho, M.Pd., Guru Besar Program Studi Linguistik Terapan. Kehadiran para pakar ini diharapkan mampu memberikan perspektif komprehensif mengenai konsep, strategi, hingga praktik evaluasi yang tidak hanya menilai proses, tetapi juga mengukur dampak nyata dari penyelenggaraan pendidikan.
Mengawali kuliah umum, Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., menyampaikan bahwa sejatinya Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus., bisa hadir namun ada agenda bersamaan sehingga tidak bisa membersemai pada acara yang monumental ini.
Prof Endry juga menilai bahwa paradigma evaluasi di perguruan tinggi perlu terus diperbarui agar selaras dengan kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pada mutu dan relevansi. Evaluasi tidak lagi semata-mata administratif, tetapi harus mampu menunjukkan kontribusi konkret terhadap peningkatan kompetensi lulusan dan kebermanfaatan program studi.
Lebih lanjut, Prof Endry menegaskan bahwa di bidang linguistik terapan, evaluasi berbasis luaran dan dampak menjadi sangat penting. Hal ini karena kajian linguistik terapan tidak hanya berhenti pada tataran teoretis, tetapi juga menyentuh praktik pendidikan, kebijakan bahasa, serta kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa, dosen, dan pengelola program studi diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai perancangan instrumen evaluasi, indikator capaian, serta strategi monitoring dan tindak lanjut berbasis data. Diskusi yang berlangsung selama tiga jam tersebut juga dirancang interaktif agar peserta dapat menggali berbagai persoalan implementatif di lapangan.
Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, Program Studi Linguistik Terapan UNJ berharap dapat memperkuat budaya mutu dan memastikan setiap proses pembelajaran serta program akademik memberikan luaran yang terukur dan dampak yang nyata bagi masyarakat.
News
Prabowo Bahas Geopolitik Dunia saat Buka Puasa Bareng Tokoh Ormas Islam
Published
15 hours agoon
05/03/2026
Monitorday.com — Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan momen berbuka puasa bersama dengan sejumlah pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk berdiskusi mengenai dinamika geopolitik global serta persiapan pemerintah menghadapi libur Lebaran.
Acara berbuka puasa tersebut berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis petang. Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo duduk bersama Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Miftachul Akhyar, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, serta Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana santai sambil menikmati takjil dan kurma. Meski demikian, sejumlah isu penting turut menjadi bahan pembahasan, termasuk perkembangan situasi geopolitik dunia, khususnya eskalasi di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
“Presiden Prabowo berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia K.H. Anwar Iskandar di Istana Merdeka, Jakarta. Sembari berbuka, Presiden berbincang dan berdiskusi terkait persiapan liburan Lebaran di Tanah Air sekaligus membahas dinamika geopolitik dunia,” ujar Teddy saat dihubungi di Jakarta, Kamis malam.
Momen berbuka puasa tersebut juga dibagikan melalui akun media sosial resmi Presiden Prabowo, @prabowo. Dalam foto yang diunggah, Presiden tampak duduk diapit oleh Haedar Nashir di sisi kanan dan Anwar Iskandar di sisi kiri, sementara Miftachul Akhyar duduk berhadapan dengannya.
Dalam keterangan unggahan tersebut, Presiden menuliskan ucapan selamat berbuka puasa kepada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
Usai berbuka puasa dan melaksanakan salat magrib, Presiden Prabowo bersama para tokoh ulama kemudian menuju halaman tengah Istana Kepresidenan RI untuk bersilaturahmi dengan para kiai dan perwakilan organisasi masyarakat Islam.
Sejumlah menteri Kabinet Merah Putih turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Acara silaturahmi dengan para ulama di halaman tengah Istana Kepresidenan itu dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dan berlangsung dalam suasana hangat serta penuh kekeluargaan.
News
Ternyata Ini Rahasia OBE Menurut Prof. Ifan, Perguruan Tinggi Wajib Tahu
Published
19 hours agoon
05/03/2026By
Natsir Amir
Monitorday.com – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE) yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan. Komitmen tersebut mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Evaluasi Ketercapaian Capaian Pembelajaran Lulusan dalam Outcome-Based Education” yang digelar pada Rabu (4/3/2026).
Kuliah umum tersebut menghadirkan Prof. Ifan Iskandar, Wakil Rektor I Universitas Negeri Jakarta, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Prof. Ifan menekankan bahwa paradigma pendidikan tinggi saat ini tidak lagi hanya berfokus pada proses pengajaran, tetapi pada hasil nyata yang mampu dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan masa studinya.
Menurutnya, pendekatan OBE menempatkan capaian pembelajaran sebagai fondasi utama dalam penyusunan kurikulum, metode pembelajaran, hingga sistem evaluasi. Dengan kata lain, seluruh proses pendidikan harus dirancang secara sistematis untuk memastikan mahasiswa benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan ketika lulus dari perguruan tinggi.
“Outcome-Based Education menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada kemampuan nyata yang dimiliki mahasiswa di akhir proses pembelajaran. Artinya, kurikulum, metode pengajaran, dan sistem penilaian harus diselaraskan dengan capaian pembelajaran yang ingin dicapai,” ujar Prof. Ifan.
Ia menjelaskan bahwa implementasi OBE mencakup tiga komponen utama yang saling terintegrasi, yakni Outcome-Based Curriculum (OBC), Outcome-Based Learning and Teaching (OBLT), serta Outcome-Based Assessment and Evaluation (OBAE). Ketiga komponen tersebut memastikan bahwa kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi lulusan, proses pembelajaran berpusat pada mahasiswa, serta sistem penilaian mampu mengukur ketercapaian capaian pembelajaran secara komprehensif.
Dalam konteks kebijakan nasional, penerapan OBE juga selaras dengan standar mutu pendidikan tinggi yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi. Regulasi tersebut menegaskan bahwa standar nasional pendidikan menjadi acuan utama dalam penyusunan, penyelenggaraan, serta evaluasi kurikulum di perguruan tinggi.
Prof. Ifan menambahkan bahwa capaian pembelajaran lulusan tidak hanya mencakup penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis, sikap profesional, serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Hal ini menjadi penting karena dunia kerja saat ini menuntut lulusan yang adaptif terhadap perubahan serta mampu memecahkan persoalan secara inovatif.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan keterampilan abad ke-21 yang meliputi kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, serta berpikir kritis. Selain itu, perguruan tinggi juga perlu mendorong penguasaan tiga literasi baru yang menjadi tuntutan era digital, yakni literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia.
Dalam implementasinya, evaluasi ketercapaian CPL dilakukan melalui berbagai instrumen penilaian yang berkelanjutan, baik dalam bentuk tes maupun non-tes seperti presentasi, portofolio, studi kasus, hingga proyek kolaboratif. Penilaian tersebut tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran yang dijalani mahasiswa.
Menurut Prof. Ifan, sistem evaluasi yang berkelanjutan memungkinkan perguruan tinggi melakukan perbaikan kurikulum secara terus-menerus agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
“Evaluasi ketercapaian capaian pembelajaran menjadi kunci untuk memastikan bahwa proses pendidikan berjalan efektif dan benar-benar menghasilkan lulusan yang berkualitas,” ujarnya.
Melalui penerapan OBE yang konsisten, perguruan tinggi diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Pendekatan ini sekaligus menjadi strategi penting dalam memperkuat daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tengah dinamika perubahan global yang semakin cepat.
News
KKP Hentikan Sementara Pemanfaatan Ruang Laut Ilegal di Morowali
Published
22 hours agoon
05/03/2026By
Natsir Amir
Monitorday.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghentikan sementara kegiatan pemanfaatan ruang laut di perairan pesisir Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Penghentian sementara dilakukan lantaran pelaku usaha tidak memiliki dokumen persyaratan dasar berupa Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) untuk kegiatan reklamasi dan pembangunan jeti.
“Benar, kami stop sementara aktivitas reklamasi dan penggunaan jeti, karena hasil pemeriksaan dan permintaan keterangan sudah jelas bahwa pelaku usaha belum memiliki dokumen PKKPRL,” ujar Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Pung Nugroho Saksono (Ipunk) mengonfirmasi kejadian tersebut, Kamis (5/3).
Dia menambahkan bahwa tindakan ini merupakan wujud negara hadir menegakkan peraturan serta mencegah potensi bertambahnya kerusakan sumber daya ikan dan lingkungannya yang diakibatkan oleh pemanfaatan ruang laut ilegal.
“Pemanfaatan ruang laut termasuk sumberdaya yang ada di dalamnya harus berpihak kepada ekologi, sehingga kelestariannya tetap terjaga,” tegas Ipunk
Melengkapi pernyataan Ipunk, Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan Sumono Darwinto menjelaskan pelanggaran dilakukan oleh tiga pelaku usaha, di antaranya PT. BTIIG dengan luas ruang laut yang dilakukan reklamasi seluas 2,799 ha, PT. WXT dengan reklamasi seluas 7,714 ha, dan PT BI reklamasi seluas 1,336 ha.
Penghentian sementara dilaksanakan pada Sabtu 28 Februari dan Senin 2 Maret lalu. Penghentian sementara kegiatan terhadap ketiga pelaku usaha tersebut merupakan tindakan lain Polsus Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP3K) yang diperlukan untuk menghentikan pelanggaran.
Sementara itu, Kepala Pangkalan PSDKP Bitung Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini diduga kuat melanggar Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang jo Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Selanjutnya, akan dilakukan proses pengenaan sanksi administratif berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 31 Tahun 2021 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi di Bidang Kelautan dan Perikanan.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan bahwa telah menetapkan lima kebijakan ekonomi biru untuk menjaga ekosistem kelautan dan perikanan sebagai salah satu sumber pangan, serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dan negara. Pengawasan terhadap aktivitas menetap di ruang laut termasuk untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut itu sendiri.
News
AS Tekor Rp31 Triliun Usai Dirudal Iran dalam 4 Hari, Ini Rinciannya
Published
1 day agoon
05/03/2026
Monitorday.com – Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerugian peralatan militer senilai hampir US$2 miliar atau sekitar Rp31,4 triliun hanya dalam empat hari pertama sejak dimulainya operasi militernya terhadap Iran, Sabtu (4/3).
Data yang dihimpun dari kompilasi estimasi open-source intelligence (OSINT) yang dirilis oleh Anadolu Agency menunjukkan kerugian tersebut dipicu oleh serangkaian serangan balasan Iran menggunakan rudal dan drone, serta insiden salah sasaran atau friendly fire.
Eskalasi yang berlangsung cepat itu dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas militer dan diplomatik milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk sedikitnya tujuh pangkalan strategis.
Hingga Rabu (4/3/2026), total kerugian aset militer AS diperkirakan mencapai US$1,902 miliar. Beberapa kerusakan utama meliputi:
1. Sistem Radar Peringatan Dini AN/FPS-132 – US$1,1 miliar
Kerugian terbesar berasal dari hancurnya sistem radar peringatan dini canggih di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar akibat serangan rudal Iran. Pemerintah Qatar dilaporkan telah mengonfirmasi kerusakan pada fasilitas tersebut.
2. Komponen Radar AN/TPY-2 Sistem THAAD – US$500 juta
Citra satelit menguatkan klaim Iran mengenai serangan terhadap komponen radar sistem pertahanan rudal THAAD di kawasan industri Al‑Ruwais, Uni Emirat Arab.
3. Tiga Jet Tempur F-15E Strike Eagle – US$282 juta
Tiga jet tempur F‑15E Strike Eagle dilaporkan hilang pada Minggu akibat insiden friendly fire oleh sistem pertahanan udara Kuwait. Seluruh enam awak pesawat disebut selamat.
4. Terminal Komunikasi Satelit AN/GSC-52B – US$20 juta
Dua terminal komunikasi satelit hancur dalam serangan Iran terhadap markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama, Bahrain.
Serangan balasan Iran dilaporkan menargetkan infrastruktur militer AS di setidaknya enam negara Teluk.
Di Kuwait, tiga pangkalan utama menjadi sasaran, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem, Camp Buehring, dan Camp Arifjan. Serangan di Camp Arifjan dilaporkan menewaskan enam personel militer AS.
Sementara di Irak, pangkalan militer AS di Bandara Internasional Erbil dibombardir berulang kali sepanjang akhir pekan. Citra satelit menunjukkan sedikitnya empat bangunan mengalami kerusakan parah.
Di Dubai, Uni Emirat Arab, asap tebal dilaporkan terlihat di area fasilitas rekreasi Angkatan Laut AS di Pelabuhan Jebel Ali, yang merupakan salah satu pelabuhan persinggahan tersibuk bagi armada Amerika di kawasan tersebut.
Selain itu, markas Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan udara utama di Qatar juga dilaporkan mengalami kerusakan pada sistem komunikasi dan radar.
Krisis juga meluas ke fasilitas diplomatik Amerika di kawasan Timur Tengah.
Di Riyadh, Arab Saudi, dua drone dilaporkan menghantam kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, memicu kebakaran terbatas. Laporan media AS menyebutkan fasilitas intelijen di dalam kompleks tersebut turut terdampak.
Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuwait di Kota Kuwait diserang menggunakan rudal dan drone. Kedutaan tersebut kini ditutup untuk waktu yang belum ditentukan dan sebagian staf telah dievakuasi.
Serangan drone juga menyasar Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Dubai, yang menghantam area parkir dekat gedung utama. Otoritas setempat menyatakan api berhasil dipadamkan dengan cepat tanpa merusak struktur utama bangunan.
Serangan balasan ini disebut oleh markas pusat Angkatan Bersenjata Iran, Khatam al‑Anbiya Central Headquarters, sebagai operasi yang ditujukan khusus terhadap aset militer Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut.
Monitor Saham BUMN
Anggaran Amil Jadi Sorotan, Ketua BAZNAS DKI Tegaskan Pengelolaan Profesional
Makna Nuzulul Quran
AI Ubah Cara Belajar Mahasiswa dan Pelajar
Perkuat Sekolah Aman dan Nyaman, Kemendikdasmen Fokus Cegah Masalah Kesehatan Mental Siswa
Praktik Baik Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat dalam Pembelajaran Pendidikan Inklusif
Indonesia Cetak Sejarah, 2.280 Ton Beras Dikirim ke Arab Saudi untuk Jemaah Haji
Prodi Linguistik Terapan UNJ Gelar Kuliah Umum Evaluasi Berbasis Luaran dan Berdampak
Gol Saka di Laga ke-300 Antar Arsenal Raih Kemenangan
Prabowo Bahas Geopolitik Dunia saat Buka Puasa Bareng Tokoh Ormas Islam
Ternyata Ini Rahasia OBE Menurut Prof. Ifan, Perguruan Tinggi Wajib Tahu
KKP Hentikan Sementara Pemanfaatan Ruang Laut Ilegal di Morowali
Hanung Bramantyo Rilis Remake Film Children of Heaven di Tengah Konflik Timteng
AS Tekor Rp31 Triliun Usai Dirudal Iran dalam 4 Hari, Ini Rinciannya
Muhammadiyah Definisikan Akidah Tauhid sebagai Sistem Kepercayaan Etis
Arah Kebijakan Prabowo: Kedekatan dengan Amerika Serikat Jadi…
Kaisar China Kagumi Nabi Muhammad Tercermin Lewat Puisi
Selat Hormuz Diblokir, Indonesia Geser Impor Minyak
Mengapa Zakat di Bulan Ramadhan Begitu Istimewa? Ini 9 Keutamaannya
Apple Rilis MacBook Air dan MacBook Pro Chip M5, Performa AI 4x Lebih Cepat
