Connect with us

Ruang Sujud

Salman Al-Farisi dan Pesan Al-Qur’an tentang Kaum Pengganti

Published

on

Monitorday.com – Di antara para sahabat Nabi Muhammad Saw., ada satu sosok yang kisah hidupnya seperti perjalanan panjang mencari cahaya. Ia bukan berasal dari Mekkah, bukan pula dari Madinah. Ia datang dari negeri yang jauh dari Makkah maupun Madinah. Namanya Salman Al-Farisi.

Kisahnya dimulai dari pencarian kebenaran yang melelahkan. Salman lahir dalam keluarga terpandang di Persia dan dibesarkan dalam tradisi agama Majusi. Namun, dalam hatinya selalu ada kegelisahan. Ia merasa bahwa kebenaran tidak berhenti pada keyakinan yang diwariskan begitu saja.

Pencarian itu membawanya berpindah dari satu guru ke guru lain, dari satu negeri ke negeri lain. Ia pernah menjadi pelayan seorang pendeta, kemudian berguru kepada rahib-rahib Nasrani. Bahkan dalam perjalanan itu ia sempat diperjualbelikan sebagai budak hingga akhirnya tiba di Madinah.

Di sanalah ia bertemu dengan Nabi Muhammad Saw., pertemuan yang menutup seluruh pencariannya. Salman kemudian menjadi sahabat Nabi yang sangat dekat. Rasulullah bahkan pernah berkata tentang dirinya: “Salman adalah bagian dari keluarga kami, Ahlul Bait.”

Namun keutamaan Salman tidak hanya terletak pada kisah hidupnya yang luar biasa. Namanya juga disebut dalam sebuah peristiwa yang berkaitan dengan ayat al-Qur’an.

Ketika Ayat Itu Turun

Dalam Surat Muhammad ayat 38, Allah mengingatkan kaum Muslimin tentang pentingnya berinfak di jalan-Nya.

Ayat itu berbunyi:

“Ingatlah, kamulah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir. Dan barangsiapa kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan. Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.”

Ayat ini turun ketika sebagian orang merasa berat mengeluarkan harta mereka untuk perjuangan Islam. Ada yang takut miskin, ada pula yang masih terikat dengan kecintaan terhadap harta.

Al-Qur’an kemudian memberikan peringatan tegas: jika suatu kaum enggan berjuang dan berkorban, Allah bisa menggantikan mereka dengan kaum lain yang lebih baik. Ketika ayat ini dibacakan, para sahabat pun penasaran. Mereka bertanya kepada Rasulullah Saw.:

“Wahai Rasulullah, siapakah kaum yang akan menggantikan kami jika kami berpaling?” Pertanyaan itu dijawab dengan cara yang sangat sederhana, tetapi penuh makna. Rasulullah Saw. menepuk pundak Salman Al-Farisi yang sedang berada di dekatnya. Lalu beliau bersabda:

“Inilah orangnya dan kaumnya. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya agama ini berada di bintang Surayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.”

Para sahabat pun memahami pesan yang dalam dari jawaban Nabi. Islam tidak dimonopoli oleh satu bangsa. Tidak pula oleh satu suku atau wilayah. Jika suatu kaum lalai menjaga agama, Allah akan menghadirkan kaum lain yang lebih bersungguh-sungguh. Jika bangsa kita [Indonesia] enggan membayar zakat dan membela Agama Allah, maka mudah bagi Allah menenggelamkan bangsa ini. Termasuk juga bangsa Arab, jika enggan membela Agama Allah dan memilih membela musuh-musuh Agama Allah, maka mudah saja baginya untuk mengganti mereka dengan kaum yang lain. 

Bangsa Persia dan Tradisi Keilmuan

Sejarah kemudian membuktikan sabda Nabi tersebut. Dalam perjalanan peradaban Islam, bangsa Persia memainkan peran yang sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Banyak ulama besar yang berasal dari wilayah Persia atau kawasan sekitarnya. Di antaranya adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Al-Ghazali, hingga para ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina [Persia sebelum berdiri negara Iran]. Mereka bukan hanya menjaga agama, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi peradaban Islam.

Dalam banyak hal, tradisi intelektual Persia memberikan warna yang sangat kuat dalam dunia Islam. Semangat keilmuan, kedalaman spiritual, serta kecintaan pada ilmu menjadi ciri khas yang kemudian melahirkan banyak karya besar.

Semua itu seolah menjadi bukti dari pesan Nabi: jika agama itu jauh sekalipun, akan ada orang-orang yang mencarinya dengan sungguh-sungguh.

Namun kisah ini tidak semata tentang keutamaan satu bangsa. Pesan utamanya justru sangat universal. Allah tidak membutuhkan kita. Justru kita yang membutuhkan kesempatan untuk beramal. Infak, zakat, pengorbanan, dan perjuangan di jalan Allah bukanlah untuk menolong agama Allah—melainkan untuk menyelamatkan diri kita sendiri.

Karena agama ini tidak akan berhenti hanya karena satu generasi melemah. Jika suatu kaum menjadi lalai, Allah akan menghadirkan generasi lain. Jika suatu masyarakat menjadi kikir, Allah akan menggantinya dengan mereka yang lebih dermawan. Dan jika suatu bangsa kehilangan semangat berjuang, Allah akan mengangkat bangsa lain yang lebih sungguh-sungguh.

Kisah Salman Al-Farisi mengingatkan kita bahwa kemuliaan dalam Islam tidak ditentukan oleh asal-usul. Bukan oleh darah, suku, ataupun bangsa. Melainkan oleh kesungguhan dalam mencari kebenaran.

Salman datang dari negeri yang jauh, menempuh perjalanan panjang, bahkan mengalami penderitaan sebagai budak. Namun justru dari perjalanan itulah ia sampai pada cahaya Islam.

Dan pada suatu hari, di hadapan para sahabat Nabi, pundaknya ditepuk oleh Rasulullah—sebuah isyarat bahwa iman dan ilmu bisa datang dari mana saja. Selama ada hati yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Refleksi Perang Badar dan Geopolitik Dunia Kontemporer

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Perang Badar bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol keteguhan iman di tengah tekanan geopolitik yang timpang. Pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah, kaum Muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad menghadapi pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Secara logika militer, kekuatan 313 orang tidak sebanding dengan lebih dari 1.000 pasukan bersenjata lengkap. Namun sejarah mencatat, kemenangan justru berpihak kepada mereka yang sabar dan yakin.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.” (QS. Ali Imran: 123). Ayat ini bukan hanya penguat spiritual, tetapi juga pesan geopolitik: kekuatan moral dan legitimasi perjuangan kerap menjadi faktor penentu, bukan sekadar jumlah alutsista.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadis lain disebutkan, “Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dua hadis ini mempertegas bahwa Islam tidak memulai agresi, tetapi membela diri adalah hak yang dijamin syariat.

Dalam perspektif kontemporer, pola agresi terhadap dunia Islam sering berulang. Kita menyaksikan bagaimana kebijakan luar negeri Donald Trump atau langkah-langkah keras Benjamin Netanyahu terhadap kawasan Timur Tengah sering memantik eskalasi. Retorika keamanan kerap menjadi legitimasi tindakan ofensif. Narasi global pun dibingkai sedemikian rupa sehingga pihak yang diserang tampak sebagai ancaman.

Sejarawan Inggris Karen Armstrong berpendapat bahwa konflik yang melibatkan dunia Islam kerap dibaca secara simplistik sebagai persoalan agama, padahal sering kali berakar pada perebutan kekuasaan dan sumber daya. Sementara ilmuwan politik John Mearsheimer menegaskan bahwa politik global digerakkan oleh kepentingan kekuatan besar (great power politics), bukan idealisme moral. Artinya, agresi sering dibungkus dengan dalih nilai universal, padahal kepentingan strategislah yang dominan.

Sejarah kolonialisme juga menunjukkan pola serupa. Belanda ketika menjajah Indonesia tidak datang membawa misi spiritual, tetapi ekonomi dan dominasi. Perlawanan rakyat Nusantara dari Aceh hingga Jawa bukanlah bentuk agresi, melainkan reaksi atas penindasan. Islam di Nusantara menjadi ruh perlawanan karena ajarannya menolak kezaliman.

Hari ini, sebagian umat melihat figur-figur politik global sebagai simbol kekuatan yang menekan dunia Islam. Namun pelajaran Badar mengajarkan bahwa kemenangan bukan monopoli kekuatan material. Ia lahir dari konsolidasi iman, solidaritas, strategi, dan kesabaran kolektif. Islam tidak memulai peperangan. Tetapi ketika diserang, perlawanan tidak hanya hadir di medan tempur; ia bergerak di ranah diplomasi, ekonomi, opini publik, hingga teknologi informasi.

Badar juga menunjukkan bahwa pertolongan Allah datang melalui sebab-sebab nyata: persatuan, kepemimpinan yang tegas, dan keyakinan yang tak goyah. Dalam konteks geopolitik modern, ini berarti membangun kemandirian ekonomi, kekuatan ilmu pengetahuan, serta solidaritas antarnegara Muslim. Kemenangan bukan sekadar retorika emosional, melainkan buah dari kerja panjang.

Keyakinan bahwa “kemenangan milik yang sabar” bukanlah romantisme sejarah. Ia adalah prinsip strategis. Umat Islam tidak pernah diperintahkan untuk menjadi agresor. Namun ketika keadilan diinjak, kesabaran bukan berarti pasif. Ia adalah keteguhan untuk bertahan, menyusun kekuatan, dan menanti momentum sebagaimana Badar mengajarkan, bahwa dalam ketimpangan sekalipun, sejarah dapat berbalik arah.

Tak bisa dipungkiri bahwa geopolitik berubah-ubah, tetapi hukum moral tetap sama: kezaliman memiliki batas usia. Sebagai seorang Muslim, kita dipanggil untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah tanpa melihat perbedaan mazhab, etnis, atau suku, asalkan seseorang mengucapkan lā ilāha illā Allāh, Muhammadur rasūlullāh, ia adalah bagian dari umat Islam yang sama. Prinsip persatuan ini telah ditekankan para ulama dari berbagai tradisi, termasuk ajakan untuk mempererat hubungan antara Sunni dan Syiah demi kejayaan dan kekuatan bersama umat Islam menghadapi tantangan global.

Umat Islam memiliki ancaman bersama yang nyata di dunia geopolitik; perselisihan internal hanya akan melemahkan kita sementara pihak luar sering memanfaatkan perpecahan tersebut. Quran mengajarkan agar umat Islam “berpegang teguh pada tali Allah dan jangan bercerai-berai,” menggambarkan pentingnya solidaritas dan toleransi, bukan perdebatan yang mengarah pada permusuhan.

Mari jaga persatuan, fokus pada akhlak, keadilan, dan kematangan berpikir sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar label kelompok. Persatuanlah yang menjadi kekuatan umat dalam menegakkan Islam dan menghadapi tantangan zaman.

Dan sebagai seorang Muslim, mari tingkatkan keimanan kita, setiap Ramadhan selalu mengingatkan, bahwa dalam bulan penuh berkah itulah sejarah pernah membuktikan yang lemah secara angka dapat menang karena kuat secara iman dan strategi.

Jika waktunya tiba dan seluruh umat bersatu, maka bersiaplah untuk perjuangan panjang. Kami menantikan panggilan itu.

Continue Reading

Ruang Sujud

Pernyataan Zakat Jadi Sorotan, Menag Nasaruddin Umar Minta Maaf

Tubagus F Madroi

Published

on

Ruangsujud.com – Pernyataan Menteri Agama, KH Nasaruddin Umar dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah pada 24 Februari 2026 memicu perdebatan publik. Dalam forum tersebut, Menag menyampaikan pandangan yang kemudian dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat.

“Kalau kita ingin maju sebagai umat, kita harus meninggalkan zakat. Zakat itu tidak populer. Quran itu juga tidak mempopulerkan zakat.” Ia menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, semangat yang lebih ditekankan adalah sedekah dan kepedulian sosial yang luas, bukan sekadar kewajiban zakat sebesar 2,5 persen.

Pernyataan tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat, tokoh agama, hingga pengamat ekonomi syariah. Banyak pihak menilai pernyataan itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman tentang posisi zakat dalam ajaran Islam.

Menanggapi polemik yang berkembang, Menteri Agama akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf kepada publik. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa zakat tetap merupakan kewajiban individual (fardhu ‘ain) dan bagian dari rukun Islam yang tidak berubah kedudukannya.

“Saya memohon maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kesalahpahaman. Perlu saya tegaskan, zakat adalah fardhu ‘ain dan rukun Islam yang wajib kita tunaikan,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, pernyataan yang ia sampaikan sebenarnya dimaksudkan untuk mendorong reorientasi dalam pengelolaan dana umat. Ia menilai bahwa selain zakat, instrumen filantropi Islam seperti wakaf, infak, dan sedekah juga perlu dioptimalkan untuk memperkuat ekonomi umat.

Ia mencontohkan beberapa negara seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab yang berhasil memanfaatkan pengelolaan wakaf secara profesional sebagai motor pembangunan sosial dan ekonomi.

Menag berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya mengoptimalkan seluruh instrumen dana sosial keagamaan, tanpa mengurangi kewajiban zakat sebagai rukun Islam.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ali Khamenei dan Warisan Api yang Ia Tinggalkan

Published

on

Monitorday.com – Ayatollah Sayyed Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, salah satu kota suci bagi kaum Muslim Syiah di Iran. Ia merupakan putra kedua dari Javad Khamenei, seorang ulama sederhana, dan Khadijeh Mirdamadi, yang berasal dari keluarga ulama Persia. Khamenei dibesarkan dalam keluarga religius yang sangat memegang tradisi Syiah, di mana gelar “Sayyed” menandakan keyakinan bahwa dirinya termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW, melalui jalur Imam Husain dan Imam Zainul Abidin, sebuah status yang membuatnya dihormati dalam komunitas Syiah Iran.

Dari usia muda, Khamenei dididik dalam seminari teologi — dimulai dengan pendidikan Qur’ani dan klasik setempat, lalu melanjutkan ke pusat-pusat pendidikan ulama di Mashhad dan kemudian Qom. Di Qom, ia belajar di bawah bimbingan ulama besar, termasuk Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kemudian menjadi pemimpin Revolusi Islam Iran 1979. Pelajaran agama yang mendalam dan keterlibatannya dalam gerakan revolusioner membuatnya termotivasi untuk menentang rezim monarki Shah yang bersekutu dengan Barat.

Perjalanan Politik dan Warisan Religius

Karier politik Khamenei dimulai jauh sebelum ia mencapai puncak kekuasaan. Selama 1960-an, ia aktif menentang Shah Pahlavi dan terlibat dalam kegiatan revolusioner bersama Imam Khomeini, sehingga sempat mengalami penangkapan dan pengawasan ketat dari aparat keamanan rezim lama. Setelah kemenangan Revolusi Islam, ia memegang berbagai posisi penting di Republik Islam: dari anggota Dewan Revolusi, Wakil Menteri Pertahanan, hingga Presiden Republik Iran dari 1981 hingga 1989.

Ketika Ayatollah Khomeini wafat pada 1989, Khamenei dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran (Rahbar). Meski pada awalnya ia tidak memiliki pendidikan agama formal setinggi Khomeini, lembaga politik dan keagamaan memilihnya karena kedekatan ideologis dan loyalitasnya terhadap Revolusi. Sejak itu, jabatan Pemimpin Tertinggi memberinya wewenang luas atas lembaga negara: ia mengendalikan militer, kehakiman, media negara, Garda Revolusi Islam (IRGC), dan memiliki hak nominasi atas Dewan Pengawas yang mengatur proses elektoral.

Nama Sayyed yang melekat di depan namanya bukan sekadar gelar simbolik. Gelar ini menunjukkan klaim garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW melalui Imam Husain, cucu Nabi yang sangat dihormati dalam tradisi Syiah. Garis keturunan ini diturunkan melalui leluhur seperti Sayyed Hossein Tafreshi dan Sultan-ul-Ulama Ahmad, yang menurut tradisi Syiah merupakan bagian dari Ahlul Bait (keluarga Nabi). Kombinasi status keluarga dan posisi agama membuat Khamenei bukan hanya tokoh politik, tetapi juga simbol religius yang dihormati oleh banyak penganut Syiah di Iran.

Peran di Kancah Geopolitik dan Konflik Regional

Dalam urusan luar negeri, Khamenei memainkan peran sentral membentuk Iran sebagai kekuatan anti-Barat dan anti-Israel. Ia mendukung gerakan dan kelompok yang menjadi proxy Iran di kawasan, seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi bersenjata di Irak dan Yaman. Pendekatan geopolitiknya sering kali memicu ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel. Hubungan yang memburuk akhirnya meletus dalam konflik besar pada 28 Februari 2026, ketika serangan udara gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel menargetkan fasilitas negara dan pusat komando di Iran, termasuk kompleks tempat Khamenei berada. Serangan ini menewaskan Khamenei dan beberapa anggota keluarganya — suatu peristiwa yang mengubah dinamika politik kawasan dalam sekejap.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei menandai berakhirnya era dominasi politik dan religius yang berakar kuat di Republik Islam Iran. Figur ini tetap kontoversial: bagi para pendukungnya ia adalah simbol kedaulatan nasional dan identitas revolusioner; bagi para pengkritiknya, ia adalah pemimpin yang mempertahankan rezim otoriter dan kebijakan luar negeri agresif. Kepergiannya membuka babak baru dalam politik Iran dan menimbulkan ketidakpastian tentang siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana arah kebijakan dalam negeri dan kebijakan luar negeri Republik Islam selanjutnya.

Continue Reading

Ruang Sujud

Masjid di Jerman: Fakta yang Jarang Diketahui

Meski jumlahnya banyak, banyak hal unik dan tak terduga tentang masjid di Jerman yang serba berbeda dari negara mayoritas Muslim.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Jumlah masjid di Jerman diperkirakan mencapai ribuan, namun sebagian besar bangunan ibadah umat Islam ini tidak mudah dikenali dari luar. Banyak masjid tersembunyi di halaman belakang rumah atau kawasan komersial, sehingga tak tampak jelas di lanskap kota seperti gereja Kristen yang dominan. Istilah Hinterhofmoschee digunakan untuk menyebut fenomena ini, alias masjid halaman belakang yang nyaris tak terlihat di jalan utama.

Salah satu fakta sejarah menarik adalah bahwa masjid pertama yang dibangun di Jerman dan seluruh Eropa Tengah pada tahun 1915, di kamp tawanan di Brandenburg, pernah digunakan Kekaisaran Jerman untuk membangkitkan semangat tawanan Muslim melawan kekuatan musuhnya dalam Perang Dunia I.

Bangunan masjid tertua yang masih berdiri saat ini berada di wilayah Berlin-Wilmersdorf dan menarik karena arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal dengan dua menara tinggi lebih dari 30 meter. Masjid ini dirancang oleh arsitek Jerman Karl August Herrmann untuk komunitas Muslim Ahmadiyah Lahore pada awal abad ke-20.

Uniknya, di Berlin juga berdiri Ibn Rushd-Goethe Mosque — sebuah masjid yang progresif dan inklusif di mana laki-laki dan perempuan beribadah bersama serta perempuan diperbolehkan berkhotbah. Masjid ini menyatakan keterbukaan pada berbagai aliran Islam sekaligus berkomitmen pada prinsip kesetaraan gender dan hak asasi manusia.

Selain itu, meskipun banyak masjid berdiri di Jerman, praktik azān atau panggilan salat dari menara hampir tidak terdengar di banyak tempat. Mayoritas masjid tidak memiliki menara dan masyarakat setempat sering menganggap azan sebagai suara yang kurang diterima, sehingga hanya sekitar 30 masjid secara teratur mengumandangkannya.

Fenomena-fenomena ini menunjukkan keragaman fungsi dan bentuk masjid di Jerman, dari sejarah yang tak terduga hingga adaptasi sosial dan arsitektural di negara dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda.

Continue Reading

Ruang Sujud

5 Destinasi Ramadan di Eropa yang Wajib Dikunjungi

Lima kota Eropa ini menawarkan pengalaman Ramadan unik dari suasana religius sampai kuliner khas sambil jelajahi budaya setempat.

Amalan Saliha

Published

on


Monitorday.com — Ramadan di Eropa kini menarik perhatian wisatawan Muslim untuk merasakan suasana ibadah dan budaya yang khas di beberapa kota besar benua tersebut.

London, Inggris menjadi salah satu destinasi utama karena komunitas Muslim yang besar dan beragam. Regent’s Park Mosque menjadi pusat kegiatan Ramadan, sedangkan kawasan Edgware Road dikenal sebagai “Little Middle East” yang ramai dengan pilihan restoran halal untuk berbuka puasa.

Paris, Prancis tidak hanya identik dengan wisata romantis, tapi juga kaya pengalaman Ramadan melalui aktivitas di Grand Mosque of Paris serta distrik La Goutte d’Or yang menawarkan restoran halal dan suasana buka puasa bersama khas Prancis.

Istanbul, Turki menawarkan pengalaman religius dan sejarah yang mendalam. Kota ini dipenuhi masjid bersejarah seperti Hagia Sophia dan Masjid Biru, sementara bazar makanan khas Ramadan seperti kebab dan baklava memeriahkan suasana malam.

Berlin, Jerman memiliki komunitas Muslim besar dan kegiatan buka puasa bersama misalnya di Sehitlik Mosque. Kawasan Kreuzberg dikenal sebagai pusat kuliner halal dan pasar malam Ramadan yang menarik banyak pengunjung.

Madrid, Spanyol meskipun bukan destinasi halal utama, menyimpan sejarah Islam dan aktivitas Ramadan melalui Islamic Cultural Center of Madrid serta berbagai pilihan kuliner halal khas Andalusia di kota itu.

Menurut liputan Euronews, sejumlah kota di Eropa juga mengadakan kegiatan sosial Ramadan seperti lampu Ramadan di Coventry Street di London dan festival makanan halal di Berlin, yang semakin memperkaya pengalaman wisatawan saat bulan suci ini.

Dari Barat ke Selatan Eropa, Ramadan kini bukan sekadar waktu beribadah tetapi juga peluang menikmati budaya, kuliner, dan solidaritas lintas komunitas di benua tersebut.

Continue Reading

Ruang Sujud

Puasa di Kota Ini Bisa Hanya Satu Jam

Fenomena astronomis di atas Lingkar Arktik membuat durasi puasa di Murmansk, Rusia, bisa sangat singkat pada periode tertentu.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Fenomena unik terjadi di Murmansk, salah satu kota di Rusia, yang disebut-sebut memiliki durasi puasa hanya sekitar satu jam pada periode tertentu. Kondisi ini berkaitan langsung dengan letak geografis Murmansk yang berada di atas Lingkar Arktik, sehingga mengalami perbedaan ekstrem antara panjang siang dan malam sepanjang tahun.

Menurut RRI.co.id yang dikutip sebagai sumber, Jumat (27/2/2026), posisi geografis Murmansk membuat waktu terbit dan terbenam matahari—yang menjadi penentu awal dan akhir puasa—bisa sangat singkat saat mendekati pergantian musim. Selisih antara fajar dan magrib dalam kondisi tertentu dapat berlangsung hanya sekitar satu jam.

Murmansk sendiri dikenal dengan fenomena alam midnight sun pada musim panas, ketika matahari tidak terbenam sama sekali. Sebaliknya, saat musim dingin, kota ini mengalami polar night, yaitu periode ketika matahari tidak terbit. Dua fenomena astronomis tersebut berdampak langsung pada penentuan waktu ibadah, termasuk puasa Ramadan bagi umat Muslim setempat.

Klaim durasi puasa hanya satu jam biasanya terjadi ketika Ramadan bertepatan dengan masa transisi musim. Namun, kondisi ini tidak berlangsung sepanjang bulan Ramadan. Dalam praktiknya, umat Muslim di wilayah kutub umumnya mengikuti ketentuan khusus, seperti menyesuaikan waktu puasa dengan negara terdekat yang memiliki siklus siang-malam normal atau merujuk pada jadwal puasa di Makkah.

Perbedaan durasi puasa antarnegara memang dipengaruhi oleh posisi geografis terhadap garis khatulistiwa dan kutub. Negara-negara yang berada dekat ekuator cenderung memiliki durasi siang dan malam yang stabil, sekitar 12 jam sepanjang tahun. Sebaliknya, semakin jauh suatu wilayah dari ekuator menuju kutub, perbedaan panjang siang dan malam menjadi semakin ekstrem, sehingga memengaruhi lamanya waktu berpuasa setiap Ramadan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan saat Puasa Ramadhan

Published

on

Monitorday.com – Terik matahari Madinah seperti tak memberi ampun. Siang itu, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW berjalan dengan tubuh limbung. Sejak kemarin ia belum makan, belum minum. Lapar menggigit, haus membakar tenggorokan. Hingga akhirnya tubuh itu tak lagi mampu bertahan—ia roboh dan pingsan.

Namanya Qais bin Shirmah Al-Anshari RA.

Peristiwa itu bukan sekadar kisah tentang seorang sahabat yang kelelahan saat puasa. Dari tubuh yang tumbang itulah, turun penjelasan Allah SWT yang kemudian kita kenal dalam Surah Al-Baqarah ayat 187—ayat yang hari ini menjadi pedoman jelas kapan umat Islam boleh makan dan minum saat Ramadan.

Di awal diwajibkannya puasa, aturan belum seterang sekarang. Belum ada batas tegas tentang waktu sahur dan berbuka. Sebagian sahabat bahkan mengira jika mereka tertidur sebelum berbuka, maka mereka tak lagi boleh makan sampai keesokan hari. Puasa menjadi sangat berat, bukan karena iman lemah, tetapi karena aturan belum lengkap.

Qais termasuk yang merasakan beratnya masa transisi itu. Seusai bekerja keras dan menahan lapar seharian, ia pulang saat waktu berbuka tiba. Dengan suara lelah ia bertanya kepada istrinya,
“Apa kita punya makanan?”

Jawaban yang datang pelan dan jujur:
“Maafkan aku, suamiku. Hari ini kita tidak punya makanan apa pun. Tunggulah sebentar, aku akan mencarikan makanan untukmu.”

Qais menunggu. Namun kelelahan membuatnya tertidur sebelum makanan itu tiba. Sang istri kembali dan melihat suaminya sudah terlelap. Ia tak tega membangunkannya. Dengan lirih ia berkata,
“Kasihan engkau, suamiku!”

Malam itu berlalu tanpa seteguk air pun menyentuh bibirnya. Esoknya, dalam kondisi sangat lemah, Qais jatuh pingsan.

Kabar itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu turunlah wahyu yang menjelaskan dengan tegas: umat Islam boleh makan dan minum pada malam hari hingga terbit fajar. Aturan puasa menjadi jelas. Beban yang membingungkan diangkat. Umat Islam pun merasa lega.

Kisah Qais bin Shirmah RA bukan hanya tentang lapar dan pingsan. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap perintah Allah selalu ada kasih sayang. Islam tidak hadir untuk menyiksa, melainkan membimbing. Bahkan dari sebuah tubuh yang roboh di siang Madinah, lahir kemudahan bagi seluruh umat hingga akhir zaman.

Continue Reading

Ruang Sujud

Refleksi Pengalaman Ramadan Pertama Para Mualaf

Menahan diri dari makan dan minum selama jam siang hari untuk sebulan penuh bisa terasa menakutkan bagi mereka yang belum pernah melakukannya.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Bulan Ramadan menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam, namun bagi mualaf, mengamatinya untuk pertama kali dapat membangkitkan beragam emosi. Banyak mualaf yang merasa gembira dan siap menghadapi bulan suci ini berkat informasi dan dukungan yang memadai, sementara yang lain mungkin merasa sendirian, tidak yakin, bahkan cemas atau bingung menghadapi tantangan puasa.

Prospek menahan diri dari makan dan minum selama jam siang hari untuk sebulan penuh bisa terasa menakutkan bagi mereka yang belum pernah melakukannya. Meskipun demikian, ada cara bagi Muslim baru untuk beradaptasi dengan tantangan, mengelola emosi, dan meraih berbagai berkah Ramadan, seperti yang diceritakan oleh beberapa mualaf.

Eva Sasa, seorang mualaf yang berasal dari Milan, Italia, membagikan pengalamannya. Ia memeluk Islam pada tahun 1999 dan mengenang Ramadan pertamanya sebagai momen yang sangat istimewa.

“Ramadan pertama saya sangat spesial,” kata Eva. “Pertama-tama itu terjadi selama waktu tersingkat dalam setahun sehingga ketika saya pulang dari kuliah saya akan berbuka puasa dengan keluarga suami saya dan kami akan menuju ke masjid untuk salat tarawih. Sebagai seseorang yang menghabiskan banyak jam hidupnya di bandara internasional, saya selalu merasa kagum akan keanekaragaman yang Tuhan ciptakan pada manusia. Berdoa dalam barisan orang-orang dari seluruh benua di dunia terasa seperti saya akhirnya menjadi bagian dari keluarga Tuhan, dan saya merasakan gelombang rasa syukur ini yang masih saya rasakan setiap hari ketika saya pergi bekerja di sekolah Islam, menghadiri salat Jumat, atau berpartisipasi dalam acara masjid atau komunitas lainnya.”

Dukungan keluarga dan komunitas juga menjadi faktor penting bagi Eva dalam melewati Ramadan pertamanya. Ia menggarisbawahi bagaimana lingkungan sekitarnya sangat membantu dalam proses adaptasinya.

“Orang tua saya masih sangat tidak yakin apa artinya bahwa saya telah memilih jalan ini,” jelas Eva, “tetapi mereka tidak secara terbuka mengungkapkan negativitas atau mencoba meyakinkan saya sebaliknya. Keluarga besar suami saya sangat mendukung. Kakak ipar saya meluangkan waktu untuk mengajari saya doa-doa, salat, dan melibatkan saya dalam persiapan hidangan buka puasa Suriah favorit. Ada juga sekelompok kecil tapi indah wanita mualaf yang menerima saya dan menjadi saudari bagi saya, hingga hari ini saling menjaga hati satu sama lain.”

Menanggapi pertanyaan mengenai saran bagi mualaf yang akan berpuasa pertama kali, Eva menekankan pentingnya menemukan kelompok sesama mualaf.

“Saya pikir penting untuk menemukan kelompok mualaf Anda. Mereka akan memahami pengalaman Anda lebih dari siapa pun. Anda akan terbiasa dengan puasa, dan ada sumber daya luar biasa untuk memilih sahur Anda dengan bijak. Berbeda dengan tahun-tahun mualaf pra-Google saya, kini ada sumber daya di ujung jari Anda.”

Namun, nasihat terpenting dari Eva adalah membangun hubungan yang erat dengan Al-Quran. Ia menyarankan untuk memanfaatkan berbagai sumber daya modern yang tersedia.

“Tapi nasihat terbesar saya,” kata Eva, “adalah menjalin hubungan dengan Al-Quran. Temukan Al-Quran yang menyertakan transliterasi Romawi dan terjemahan yang dapat Anda pahami (berdasarkan interpretasi ilmiah) dan temukan qari yang menggerakkan hati Anda. Atur kecepatan di YouTube menjadi 75 dan ikuti terjemahannya, berhenti sejenak untuk memeriksa transliterasi untuk memastikan Anda masih berada di tempat yang sama. Ini membangun hubungan dengan kata-kata yang Tuhan kirimkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad, saw.”

Continue Reading

Ruang Sujud

Tak Hanya Fisik, Makanan Halal Juga Bermanfaat Secara Spiritual

Published

on


Monitorday.com – Saat sujud, kita meletakkan dahi di atas bumi. Kita datang membawa doa, harap, dan segala letih kehidupan. Namun sering kali kita lupa: apa yang kita makan setiap hari ikut menentukan bening atau keruhnya doa yang terangkat ke langit.

Islam tidak pernah memisahkan antara yang masuk ke mulut dan yang keluar dari hati. Makanan halal bukan sekadar label hukum. Ia adalah aliran energi suci yang mengalir dalam darah, membentuk cara berpikir, memengaruhi kejernihan nurani, bahkan menentukan kualitas ibadah seseorang.

1. Menguatkan Ruh, Melapangkan Doa

Secara spiritual, makanan halal adalah fondasi ketaatan. Ia membersihkan hati, melembutkan jiwa, dan membuat langkah lebih ringan menuju sajadah. Rasulullah Saw pernah mengingatkan tentang seseorang yang berdoa panjang, namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya dari yang haram—bagaimana mungkin doanya dikabulkan?

Makanan yang halal menjadi sebab dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya. Ia menumbuhkan rasa khusyuk, menghadirkan ketenangan, dan membuat hati lebih peka terhadap kebenaran. Sebaliknya, makanan haram sering kali menjadi hijab—penghalang yang tak terlihat antara manusia dan Tuhannya. Hati mengeras, ibadah terasa hambar, dan doa seperti terhenti di langit pertama.

Di ruang sujud, yang kita butuhkan bukan hanya panjangnya doa, tetapi kejernihan jiwa yang memanjatkannya.

2. Menjaga Tubuh, Menyehatkan Kehidupan

Islam adalah agama yang memuliakan tubuh. Apa yang halal dalam syariat hampir selalu sejalan dengan prinsip kesehatan: bersih, tidak najis, tidak membahayakan, dan diperoleh dengan cara yang benar.

Makanan halal identik dengan proses yang higienis, bahan yang baik, serta terhindar dari zat berbahaya. Ketika seseorang menjaga kehalalan makanannya, sejatinya ia sedang menjaga kualitas hidupnya. Tubuh menjadi lebih terawat, metabolisme lebih stabil, dan risiko penyakit akibat konsumsi sembarangan bisa diminimalkan.

Halal bukan hanya tentang “boleh dimakan”, tetapi juga tentang “layak dan baik untuk tubuh”. Dalam Al-Qur’an, Allah tidak hanya memerintahkan yang halal, tetapi juga yang thayyib—yang baik, bersih, dan menyehatkan.

3. Menumbuhkan Generasi Berkah

Apa yang masuk ke dalam tubuh orang tua akan mengalir menjadi energi dalam pengasuhan. Makanan halal yang diberikan kepada anak bukan sekadar nutrisi fisik, tetapi juga nutrisi ruhani.

Anak-anak yang tumbuh dari rezeki halal lebih mudah menerima nasihat, lebih peka terhadap nilai kebaikan, dan lebih dekat dengan fitrah kesucian. Sebaliknya, jika yang diberikan berasal dari jalan yang haram—hasil korupsi, kecurangan, atau kezaliman—maka dampaknya bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter.

Keluarga yang menjaga kehalalan makanan sejatinya sedang menanam benih keberkahan jangka panjang. Dari meja makan yang bersih, lahir generasi yang bersih pula.

4. Melindungi dari Fitnah dan Penyimpangan

Banyak keburukan besar berawal dari sumber yang kecil: makanan yang tak jelas asal-usulnya. Rezeki haram—entah karena mencuri, suap, manipulasi, atau transaksi batil—bisa menjadi racun yang perlahan menggerogoti akhlak.

Zat berbahaya yang dikonsumsi bisa merusak akal. Harta haram yang dimakan bisa merusak hati. Dari situlah lahir keberanian berbuat zalim, hilangnya empati, hingga mudahnya seseorang tergelincir dalam penyimpangan.

Menjaga makanan tetap halal adalah bentuk perlindungan diri dari fitnah yang halus tapi mematikan. Ia seperti pagar tak kasat mata yang menjaga seseorang tetap lurus.

5. Menguatkan Solidaritas dan Ekonomi Umat

Dimensi halal juga menyentuh ruang sosial. Ketika seorang Muslim memilih produk halal, ia tidak hanya sedang menjaga dirinya, tetapi juga mendukung ekosistem ekonomi yang taat syariat.

Produsen yang berkomitmen pada kehalalan perlu diapresiasi. Setiap keputusan belanja adalah sikap. Setiap pilihan konsumsi adalah pernyataan nilai. Dengan mengutamakan yang halal, kita memperkuat rantai ekonomi umat dan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya keberkahan dalam transaksi.

Continue Reading

Ruang Sujud

Mengulas Akar Syirik dari Zaman Nabi Nuh hingga Fenomena Spiritual Modern

Perjalanan sejarah syirik serta relevansinya dalam praktik spiritual kontemporer.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Kita perlu mencoba menata kembali substansi pembahasan tersebut secara reflektif, dengan menyoroti konteks historis, definisi teologis, hingga relevansinya di era modern. Persoalan syirik bukan sekadar isu masa lalu, tetapi tantangan akidah yang terus hadir dalam wajah baru.

Sebelum masa Nuh, manusia berada dalam kondisi bertauhid. Syirik muncul bukan secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap. Ketika orang-orang saleh wafat, generasi setelahnya membuat patung sebagai simbol penghormatan dan pengingat kesalehan. Pada tahap ini belum ada penyembahan. Namun generasi berikutnya mulai menjadikan simbol tersebut sebagai perantara doa, hingga akhirnya berubah menjadi objek ibadah. Di sinilah letak akar penyimpangan: pergeseran niat dari penghormatan menjadi pengkultusan. Nabi Nuh kemudian berdakwah selama 950 tahun untuk mengembalikan umatnya kepada tauhid, tetapi hanya sedikit yang beriman sebelum datangnya banjir besar sebagai azab dan titik balik sejarah manusia.

Syirik besar dipahami sebagai tindakan menyekutukan Allah secara langsung, seperti menyembah berhala, meyakini benda memiliki kekuatan ilahiah, atau bergantung pada jimat dengan keyakinan mistis. Sementara itu, syirik kecil lebih bersifat internal, seperti riya—beribadah demi pujian manusia. Secara teologis, syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi dapat menghapus pahala dan membuka jalan menuju penyimpangan yang lebih besar. Distingsi ini penting agar umat tidak menyederhanakan persoalan akidah hanya pada aspek ritual lahiriah.

Bagian yang cukup relevan dengan konteks kekinian adalah pembahasan tentang ramalan, zodiak, dan praktik perdukunan. Praktik tersebut bertumpu pada informasi gaib yang diyakini berasal dari setan yang mencuri berita dari langit lalu mencampurnya dengan kebohongan. Konsekuensi teologisnya cukup berat: mendatangi dukun meski hanya bertanya disebut dapat menyebabkan salat tidak diterima selama 40 hari, sementara mempercayainya dianggap sebagai bentuk kekufuran terhadap ajaran Muhammad. Ulasan ini menunjukkan bahwa fenomena yang sering dianggap hiburan atau tradisi populer ternyata memiliki implikasi akidah yang serius.

Fenomena modern seperti pawang hujan dan klaim indigo juga dikritisi. Praktik pawang hujan dipandang sebagai bentuk campur tangan makhluk gaib dalam urusan yang sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Sementara klaim kemampuan indigo dinilai lebih dekat pada gangguan jin daripada kelebihan spiritual. Dalam perspektif yang dibahas, tantangan terbesar bukan pada eksistensi fenomena tersebut, melainkan pada cara masyarakat memaknainya—apakah tetap dalam koridor tauhid atau justru mengarah pada ketergantungan gaib yang menyimpang.

Menariknya, wacana ini tidak berhenti pada praktik ekstrem, tetapi juga menyinggung “syirik tipis” dalam kehidupan sehari-hari. Menganggap benda tertentu membawa keberuntungan secara supranatural, meminta pertolongan kepada orang saleh yang telah meninggal, atau mengkultuskan tokoh secara berlebihan menjadi contoh yang diulas. Di sisi lain, meminta doa kepada orang yang masih hidup tetap dibolehkan selama tidak melampaui batas syariat. Di sinilah letak urgensi literasi akidah: membedakan antara penghormatan yang wajar dan pengkultusan yang berlebihan.

Secara keseluruhan, ulasan ini menunjukkan bahwa pesan utama diskusi tersebut adalah menjaga kemurnian tauhid di tengah kompleksitas zaman. Syirik tidak selalu hadir dalam bentuk penyembahan berhala seperti pada masa Nabi Nuh, tetapi bisa menyusup dalam praktik modern yang tampak biasa. Siapa pun berpotensi terjebak jika tidak memiliki pemahaman akidah yang kuat. Karena itu, memperdalam ilmu, bersikap kritis terhadap fenomena spiritual populer, dan meneguhkan niat ibadah menjadi langkah preventif agar fondasi tauhid tetap kokoh dalam setiap fase kehidupan.

Sumber : YouTube Richard Lee 

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News2 minutes ago

Strategi Ganda China dalam Menghadapi Perang AS-Iran

Ruang Sujud2 hours ago

Salman Al-Farisi dan Pesan Al-Qur’an tentang Kaum Pengganti

News6 hours ago

Demokrat dan Loyalis ‘America First’ Salahkan Israel atas Eskalasi AS-Iran

LakeyBanget10 hours ago

Bangkit dan Bersinar, Marquez Masuk Nominasi Laureus World Sportsman of the Year 2026

News11 hours ago

Kapan Perang Lawan AS-Israel Bakal Berhenti? Ini Kata Iran

News12 hours ago

Harga Minyak Dunia Melonjak, Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tidak Naik..

LakeyBanget13 hours ago

Nova Arianto Panggil 28 Pemain untuk TC Timnas U-20 di Surabaya

News16 hours ago

Diapit SBY dan Jokowi, Prabowo Pimpim Silaturahmi Kebangsaan di Istana

LakeyBanget16 hours ago

Jet Pribadi Cristiano Ronaldo Tinggalkan Arab Saudi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

News1 day ago

MBS dan Putin Bahas Serangan Iran

News1 day ago

Dubes Iran: Tak Ada Mediasi dengan AS yang Berguna

News1 day ago

SKB Dorong Kualitas Pendidikan Nonformal Inklusif

News1 day ago

Target Tiga Tahun Pemulihan Pendidikan Pascabencana

LakeyBanget1 day ago

Enno Lerian Alami Hal Tak Terduga Saat Umrah, Apa Itu?

News1 day ago

Pemerintah Resmi Umumkan Pemberian THR dan BHR Ojol Idulfitri 2026, Naik 10 Persen

LakeyBanget1 day ago

Gagal Terbang Imbas Serangan AS-Israel, Eks Rekan Messi Kabur dari Iran Pakai Mobil

LakeyBanget1 day ago

Hodak Ogah Komentari Hasil Pertandingan Lawan Persebaya, Kok Kenapa?

News1 day ago

Pendidikan Jadi Prioritas Anggaran 2026, Tunjangan Guru Naik

News1 day ago

Pemerintah Pastikan Harga Terkendali dan Stok Aman saat Ramadan hingga Jelang Lebaran

LakeyBanget2 days ago

War Tiket FIFA Series 2026 Dimulai, Lihat Daftar Harganya

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.