Connect with us

Review

Upskilling Profesional Salesforce di Era AI

Profesional Salesforce perlu memperkuat literasi AI, pengalaman praktis, kemampuan strategis, dan pembelajaran berkelanjutan agar tetap kompetitif di tengah perubahan dunia kerja.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mengubah cara profesional teknologi bekerja, termasuk dalam ekosistem Salesforce. Perubahan tersebut membuat penguasaan platform saja tidak lagi cukup. Profesional Salesforce perlu memahami bagaimana AI dapat diintegrasikan ke dalam proses bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas pengambilan keputusan.

Langkah pertama adalah memperkuat literasi AI sekaligus menguasai fitur AI yang tersedia dalam ekosistem Salesforce. Fitur seperti Prompt Builder dan Agentforce dapat menjadi titik awal bagi profesional untuk memahami penerapan AI secara langsung dalam pekerjaan. Platform pembelajaran seperti Trailhead juga dapat dimanfaatkan untuk mempelajari teknologi terbaru dan mempersiapkan sertifikasi yang relevan.

Penguasaan AI perlu dilanjutkan dengan praktik langsung atau hands-on. Profesional dapat memulai dari proyek sederhana, misalnya menggunakan AI untuk membantu membuat test case, menyusun dokumentasi, melakukan analisis data, atau melakukan review terhadap rancangan sistem. Pendekatan berbasis proyek memungkinkan pengguna memahami bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga batasan dan risiko dari hasil yang dihasilkan AI.

Kemampuan teknis juga perlu diimbangi dengan soft skills. Ketika AI semakin mampu mengerjakan tugas teknis rutin, kemampuan berpikir kritis dan strategis menjadi semakin penting. Profesional dituntut mampu merumuskan pertanyaan atau prompt yang tepat, memeriksa akurasi keluaran AI, serta menentukan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan dampak bisnis yang nyata.

Literasi data menjadi kompetensi penting lainnya. AI sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan. Karena itu, profesional Salesforce perlu memahami struktur data, kualitas data, integrasi, keamanan, serta tata kelola data. Kemampuan tersebut akan membantu memastikan penerapan AI tidak hanya menghasilkan otomatisasi, tetapi juga menghasilkan keputusan yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pembelajaran juga harus berlangsung secara berkelanjutan. Perkembangan model AI, agentic AI, otomatisasi, dan fitur-fitur baru dalam platform digital berlangsung sangat cepat. Profesional dapat mengikuti komunitas, newsletter industri, pelatihan, sertifikasi, maupun hackathon untuk memperbarui kompetensinya.

Dengan demikian, strategi terbaik bukan menggantikan keahlian Salesforce dengan AI, melainkan menggabungkan keahlian Salesforce dengan kemampuan AI, data, dan pemecahan masalah. Profesional yang mampu menggunakan AI sebagai co-pilot sekaligus tetap memiliki kemampuan mengevaluasi dan mengarahkan teknologi akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam ekosistem kerja masa depan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Review

Memilih AI yang Tepat, Jangan Terjebak pada Satu Platform

Setiap platform AI memiliki keunggulan berbeda, sehingga pengguna perlu memilih model berdasarkan jenis pekerjaan, kebutuhan data, dan efisiensi biaya.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menghadirkan semakin banyak pilihan platform dengan karakteristik dan keunggulan yang berbeda. Kondisi ini membuat pengguna tidak lagi cukup hanya mengetahui cara menggunakan AI, tetapi juga perlu memahami model mana yang paling sesuai dengan pekerjaan yang sedang dilakukan, mulai dari menulis, riset, coding, analisis dokumen hingga mengikuti informasi terkini.

ChatGPT menjadi salah satu pilihan paling serbaguna karena dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembuatan teks, gambar, video, riset, hingga pekerjaan produktivitas. Salah satu keunggulannya adalah kemampuan memanfaatkan memori dan konteks pengguna sehingga interaksi dapat dibuat lebih personal dan berkelanjutan. Karakter multipurpose tersebut membuat ChatGPT cocok sebagai AI utama untuk berbagai jenis pekerjaan.

Claude memiliki posisi yang lebih kuat pada pekerjaan berbasis teks dan coding. Platform ini dinilai cocok untuk pengguna yang membutuhkan bantuan pemrograman, otomasi tugas, penyusunan dokumen, maupun pembuatan konten dengan gaya bahasa yang lebih natural. Bagi pengembang dan pekerja yang banyak berurusan dengan kode, Claude dapat menjadi alternatif penting untuk melengkapi penggunaan AI lainnya.

Sementara itu, Gemini memiliki keunggulan pada integrasi dengan ekosistem Google. Pengguna dapat memanfaatkannya bersama berbagai layanan seperti Google Docs dan Google Drive. Kemampuan deep research serta NotebookLM juga menjadikan ekosistem Google menarik untuk pekerjaan riset dan pembelajaran berbasis dokumen. Pengguna yang sehari-hari bekerja menggunakan layanan Google dapat memperoleh manfaat lebih besar dari integrasi tersebut.

Grok menawarkan keunggulan berbeda melalui kemampuan memahami situasi dan informasi yang berkembang secara real-time, terutama karena keterhubungannya dengan platform X. Karakter tersebut membuat Grok menarik untuk memantau percakapan publik, tren, isu aktual, maupun membantu melakukan verifikasi awal terhadap informasi yang sedang berkembang. Namun, informasi real-time tetap perlu diverifikasi dengan sumber primer dan media terpercaya.

Di sisi lain, DeepSeek dan sejumlah model AI dari China menawarkan alternatif dengan biaya yang relatif kompetitif serta performa yang semakin mampu bersaing. Model-model tersebut dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang mempertimbangkan efisiensi biaya atau membutuhkan kemampuan tertentu yang berkaitan dengan konteks dan ekosistem China. Persaingan ini sekaligus menunjukkan bahwa pasar AI semakin beragam dan tidak lagi hanya didominasi oleh beberapa pemain besar.

Karena perkembangan AI berlangsung sangat cepat, pengguna juga disarankan tidak terlalu terikat pada satu platform. Model yang unggul untuk coding belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk riset, sementara model yang kuat dalam pengolahan dokumen belum tentu paling efektif untuk informasi real-time. Strategi yang lebih rasional adalah memilih AI berdasarkan tugas, misalnya menggunakan Claude untuk coding, Gemini untuk pekerjaan yang terhubung dengan dokumen Google, atau Grok untuk eksplorasi isu aktual.

Pertimbangan biaya juga menjadi faktor penting. Pengguna disarankan lebih berhati-hati dalam mengambil paket berlangganan tahunan karena kemampuan dan harga layanan AI dapat berubah dengan cepat. Paket bulanan memberikan fleksibilitas untuk berpindah platform ketika muncul model baru yang menawarkan performa atau fitur lebih baik.

Sebelum menentukan pilihan, pengguna dapat melakukan eksperimen menggunakan layanan agregator model seperti OpenRouter untuk membandingkan berbagai model dengan biaya relatif efisien. Pendekatan tersebut memungkinkan pengguna mengetahui model yang paling sesuai dengan pola kerja masing-masing sebelum mengeluarkan biaya langganan lebih besar.

Pada akhirnya, masa depan penggunaan AI bukan tentang mencari satu platform yang paling unggul untuk semua kebutuhan. Strategi yang lebih efektif adalah membangun “AI stack” pribadi dengan beberapa model yang saling melengkapi. Dengan memahami keunggulan masing-masing, pengguna dapat memperoleh hasil yang lebih baik, menghemat biaya, dan tetap fleksibel menghadapi perubahan teknologi AI yang sangat cepat.

Continue Reading

News

BUMN Masuk Babak Baru, Danantara Dorong Efisiensi dan Kinerja

Transformasi BUMN di bawah Danantara memasuki fase konsolidasi dengan fokus pada efisiensi, peningkatan keuntungan, dan optimalisasi aset negara.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memasuki fase baru transformasi di bawah pengelolaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Pemerintah mendorong konsolidasi dan streamlining perusahaan negara agar pengelolaan aset menjadi lebih efisien sekaligus meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional. Menurut ANTARA, pengamat BUMN Toto Pranoto menilai proses streamlining perlu dipercepat agar perbaikan kinerja perusahaan negara dapat berlangsung lebih efektif.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan BUMN tidak hanya sebagai pelaksana fungsi pelayanan publik, tetapi juga sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Prabowo sebelumnya memberikan apresiasi kepada pimpinan dan tim Danantara atas upaya pembenahan serta transformasi BUMN yang dinilai mulai memberikan dampak terhadap efisiensi dan peningkatan keuntungan perusahaan negara.

Salah satu indikator restrukturisasi adalah konsolidasi aset BUMN. Pada Juni 2026, Danantara menyatukan pengelolaan hotel-hotel milik BUMN di bawah InJourney. Sebanyak 45 hotel telah menandatangani Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA), yang menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan aset sektor hospitality dan meningkatkan daya saing bisnis BUMN.

Dari sisi fiskal, transformasi BUMN juga semakin terkait dengan kapasitas pembiayaan negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Danantara akan menyetorkan sekitar Rp120 triliun ke APBN 2026. Dana tersebut akan masuk sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) lainnya, sementara sebelumnya dividen BUMN tercatat dalam pos PNBP Kekayaan Negara Dipisahkan.

Perubahan struktur tersebut membuat Danantara memiliki posisi strategis dalam mengelola dan mengoptimalkan aset perusahaan negara. Tantangannya adalah memastikan konsolidasi tidak berhenti pada penggabungan aset atau perusahaan, tetapi menghasilkan produktivitas, efisiensi biaya, peningkatan laba, dan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Pengamat juga melihat kinerja positif sejumlah BUMN pada semester pertama 2026 sebagai salah satu perkembangan penting. Menurut Toto Pranoto, streamlining yang lebih cepat berpotensi membuat perusahaan negara semakin efektif dan efisien. Namun, proses tersebut tetap membutuhkan tata kelola yang kuat, transparansi, manajemen profesional, dan indikator kinerja yang terukur.

Ke depan, arah BUMN akan sangat dipengaruhi kemampuan Danantara mengelola portofolio perusahaan negara secara profesional sekaligus mendukung agenda strategis pemerintah. Jika efisiensi berhasil meningkatkan produktivitas dan keuntungan, BUMN berpotensi memberikan kontribusi lebih besar terhadap investasi, lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, serta penerimaan negara. Sebaliknya, konsolidasi tanpa perbaikan fundamental berisiko hanya memindahkan struktur kepemilikan tanpa menghasilkan perubahan kinerja yang signifikan.

Continue Reading

News

Kado Mewah untuk Muchlas Rowi

Simak peran strategis Dr. Muchlas Rowi sebagai Staf Khusus Menteri dalam memimpin transformasi digital pendidikan di Indonesia, dari AI hingga tata kelola.

Umar Satiri

Published

on

Isi kepalanya sudah melompat jauh ke depan. Melampaui umurnya yang hari ini bertambah satu angka.

Saat orang lain masih meributkan soal papan tulis dan kapur, ia sudah bicara soal kecerdasan buatan. AI.

Dialah Dr. Muhammad Muchlas Rowi. Bagi kebanyakan angkatan muda Muhammadiyah, kami lebih akrab memanggilnya: Kang Awa. Manusia yang tidak pernah betah diam di zona nyaman. Lihat saja isi kepalanya: ada filsafat UGM, ada hukum, ada manajemen. Lintas disiplin. Berjejer. Lengkap.

Maka, ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti menariknya menjadi Staf Khusus Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, saya langsung membatin: ini pilihan yang klop. Pas.

Mengapa? Pendidikan dasar kita ini sedang menghadapi ombak besar. Ombak digital. Pilihannya hanya due: ikut berselancar di atas ombak itu, atau tenggelam digulung zaman. Kang Awa diserahi tugas memegang kemudi digital itu. Tugas yang tidak ringan. Sungguh berat.

Dari IRM ke Menara Digital
Latar belakangnya adalah aktivis. Ia mengasah kepekaan sosialnya sejak belia di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Jiwa pengabdiannya panjang. Sampai-sampai dipercaya menjadi Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.

Aktivis itu biasanya punya satu kelebihan: jeli melihat masalah di akar rumput. Maka ketika ia memikirkan transformasi digital untuk sekolah-sekolah di Indonesia, yang ada di kepalanya bukan sekadar membagikan komputer atau gawai gratis. Bukan. Itu terlalu sederhana. Yang ia rancang adalah bagaimana teknologi dan AI benar-benar merombak cara guru mengajar dan cara murid menyerap ilmu.

Ia ingin teknologi menjadi jembatan keadilan, bukan justru memperlebar jurang ketimpangan antara sekolah di kota besar dan di pelosok daerah.

Menjaga Kewarasan Finansial

Hebatnya, di saat otaknya harus berpikir tentang kurikulum digital yang penuh inovasi, ia juga harus menjaga kewarasan finansial di tempat lain. Ya, Kang Awa juga seorang Komisaris Independen di PT Jamkrindo.

Ini dua dunia yang sangat kontras. Di Kemendikdasmen ia harus berpikir out of the box demi masa depan anak bangsa. Di Jamkrindo, ia justru harus menjadi benteng penegak tata kelola. Harus ketat. Harus akuntabel. Melindungi hak pemegang saham minoritas, memastikan manajemen risiko berjalan dengan presisi.

Bagaimana membagi kepala untuk dua urusan raksasa ini? Jawabannya ada pada ilmu hukum yang ia dalami hingga tingkat doktor di UTA ’45 Jakarta. Disertasinya dulu memang membedah soal tata kelola komisaris independen BUMN. Jadi, apa yang ia lakukan di Jamkrindo bukan sekadar teori, melainkan aplikasi dari keyakinan akademisnya.

Belum lagi kalau bicara soal hobinya. Ia memimpin Federasi Karate Tradisional Indonesia (INATKF). Bahkan dipercaya di tingkat Asia dan Oseania. Pantas saja staminanya seperti tidak ada habisnya. Jiwa karatenya membuat ia selalu siap menghadapi tantangan secara ksatria dan disiplin.

Bagi Kang Awa, hidup adalah perpaduan antara kontemplasi filsafat dan ketepatan jurus karate: setiap gerakan pemikiran harus taktis, lincah, namun tetap presisi di atas landasan etika.

Kado Mewah
Kini, di hari ulang tahunnya, tidak ada hadiah yang lebih mewah bagi seorang pemikir selain melihat ide-idenya mulai menetas.

Kita tentu menunggu, kejutan-kejutan digital apa lagi yang akan lahir dari meja kerjanya sebagai Staf Khusus Menteri. Kita ingin melihat AI bukan lagi menjadi barang asing yang menakutkan bagi guru-guru di daerah, melainkan menjadi asisten setia yang memajukan kecerdasan bangsa.

Selamat ulang tahun, Kang Awa. Teruslah melompat memikirkan masa depan digital kita, sembari tetap kokoh berpijak pada bumi tata kelola yang bersih. Pendidikan kita membutuhkan energi-energi lincah seperti Anda!

Continue Reading

Review

Dari Fiksi Ilmiah Menjadi Teknologi Nyata

VR, AR, dan simulasi 3D kini berkembang menjadi teknologi strategis yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, meneliti, hingga menikmati olahraga.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perkembangan teknologi dunia virtual menunjukkan bahwa batas antara dunia nyata dan digital semakin tipis. Virtual reality (VR), augmented reality (AR), serta simulasi tiga dimensi yang dahulu identik dengan film fiksi ilmiah kini mulai digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata di berbagai bidang, mulai dari penelitian medis hingga olahraga.

Salah satu pusat inovasi tersebut berada di Hit Lab di Christchurch. Lembaga ini mengembangkan teknologi yang memungkinkan manusia berinteraksi dengan komputer melalui cara yang lebih intuitif. Teknologi AR, misalnya, dapat mengubah buku biasa menjadi media interaktif dengan menambahkan objek digital yang muncul di lingkungan nyata.

Sementara itu, teknologi VR digunakan untuk menciptakan lingkungan digital yang imersif. Dalam bidang arsitektur, pengguna dapat memasuki model bangunan secara virtual sebelum bangunan tersebut benar-benar dibangun. Teknologi serupa juga dapat digunakan untuk memvisualisasikan objek yang sangat kecil, termasuk fenomena pada skala nanoteknologi yang sulit diamati secara langsung.

Perkembangan lebih jauh terlihat di Auckland Bioengineering Institute melalui Physome Project. Para peneliti mengembangkan model komputer tubuh manusia, termasuk organ seperti jantung dan paru-paru. Dengan simulasi tersebut, proses biologis yang kompleks dapat dipelajari melalui model digital sehingga peneliti dapat menguji berbagai kemungkinan tanpa selalu bergantung pada eksperimen invasif.

Teknologi simulasi juga mengubah dunia olahraga. Animation Research Limited mengembangkan sistem visualisasi dan pelacakan yang memungkinkan pergerakan objek dalam pertandingan diterjemahkan menjadi data dan tampilan digital. Dalam olahraga layar, misalnya, posisi perahu dapat dilacak dan ditampilkan secara lebih informatif kepada penonton.

Pada olahraga seperti kriket, teknologi ball-tracking menggunakan pemodelan matematika dan data pergerakan bola untuk membantu memperkirakan lintasan bola. Teknologi semacam ini memperkuat pengambilan keputusan wasit sekaligus memberikan pengalaman visual yang lebih mendalam kepada penonton.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan utama dunia virtual bukan sekadar menciptakan pengalaman digital yang menarik. Komputasi, pemodelan matematika, sensor, visualisasi, dan data menjadi fondasi yang memungkinkan komputer merepresentasikan dunia nyata secara semakin akurat.

Jika perkembangan kemampuan komputasi terus berlanjut, simulasi digital berpotensi menjadi bagian penting dari pengambilan keputusan di bidang kesehatan, pendidikan, teknik, industri, dan olahraga. Dunia virtual pada akhirnya bukan lagi sekadar tempat untuk “melarikan diri” dari realitas, tetapi dapat menjadi laboratorium digital untuk memahami, menguji, dan memperbaiki realitas itu sendiri.

Continue Reading

News

Menjaga Kedaulatan Suara Cabang dan Wilayah dalam Muktamar NU ke-35

Artikel ini menganalisis urgensi menjaga kedaulatan suara cabang dalam struktur Muktamar NU. Pahami bagaimana pemisahan kewenangan AHWA dan muktamirin melindungi representasi wilayah.

Abi Rekso Panggalih

Published

on

Hari-hari ini pembahasan hangat dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) adalah peran dan pembagian kewenangan antara Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dan muktamirin. Sejak awal kita mengerti bahwa AHWA jelas diatur pada wilayah dan fungsi keulamaan, yaitu memilih Rais ‘Aam sebagai pemegang otoritas moral dan keilmuan jam’iyyah. Sementara itu, Ketua Umum Tanfidziyah tetap dipilih secara langsung oleh muktamirin yang merepresentasikan PWNU, PCNU, dan PCINU. Pemisahan ini dimaksudkan untuk menjaga otoritas ulama sekaligus mempertahankan kedaulatan organisasi berbasis perwakilan wilayah.

Dalam Muktamar Ke-34, pembentukan AHWA dilakukan melalui usulan PWNU, PCNU, dan PCINU yang ditabulasi menjadi sembilan ulama dengan suara tertinggi. Kesembilan ulama tersebut kemudian bermusyawarah untuk menetapkan Rais ‘Aam secara mufakat. Mekanisme ini menunjukkan bahwa AHWA tidak berdiri otonom, melainkan lahir dari mandat muktamirin dan tetap memiliki basis legitimasi perwakilan.

Namun, pengaturan AHWA dalam AD/ART jelas diatur pembatasannga. Pada Pasal 40 ART hanya mengatur jumlah anggota, kualifikasi, dan tugas memilih Rais ‘Aam, tanpa ketentuan memadai mengenai masa kerja, akuntabilitas, transparansi, maupun mekanisme penyelesaian kebuntuan. Karena itu, perluasan kewenangan AHWA tanpa pembaruan regulasi berpotensi menimbulkan konsentrasi kewenangan tanpa kontrol yang memadai. Forum pra-Muktamar Ke-35 sendiri menegaskan urgensi amandemen ART terkait pelembagaan AHWA.

Wajah Desentralisasi-Keulamaan NU

Secara historis, NU tumbuh sebagai jejaring ulama, pesantren, dan komunitas Muslim tradisional, bukan organisasi yang bersifat sentralistik. Karena itu, PWNU dan PCNU tidak dapat dipahami hanya sebagai unit administratif, melainkan sebagai representasi langsung basis jamaah di tingkat wilayah.

Dalam kerangka tersebut, NU memiliki karakter sosiologis-federatif, di mana kekuatan organisasi bertumpu pada jaringan wilayah yang telah eksis sebelum struktur kepengurusan pusat terbentuk.

Sejalan dengan otoritas daerah, maka PWNU dan PCNU memiliki peran substantif dalam pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah karena membawa aspirasi dan kebutuhan umat di daerah masing-masing. Pemilihan oleh muktamirin bukan sekadar prosedur organisatoris, melainkan bentuk akuntabilitas jam’iyyah kepada seluruh lapisan struktur perwakilan.

Dalam konstitusional NU, AD/ART jelas dan lugas telah menegaskan pembagian kewenangan tersebut. Pasal 40 membedakan secara eksplisit pemilihan Rais ‘Aam oleh AHWA dan pemilihan Ketua Umum oleh muktamirin dengan persetujuan Rais ‘Aam terpilih. Sementara itu, Pasal 73 menegaskan Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi yang melibatkan PBNU, PWNU, serta PCNU/PCINU.

Dengan demikian, desain konstitusional NU secara jelas memisahkan otoritas keulamaan (AHWA) dan otoritas organisasi (muktamirin), sekaligus menempatkan Muktamar sebagai forum tertinggi yang bersifat representatif. Bagimana juga hal ini sejalan dalam penjelasan Qanun Asasi sebagai cikal-bakal prinsip pendirian NU.

Dari perspektif pengelolaan badan kerja Tanfidzyah, Ketua Umum Tanfidziyah memimpin struktur pelaksana sehari-hari organisasi. Dimana mencakup bidang sosial, pendidikan, ekonomi, serta kaderisasi. Karena itu, legitimasi Ketua Umum perlu bersumber dari perwakilan wilayah agar tercipta rasa kepemilikan kolektif dan tanggung jawab organisasi yang merata.

Pemilihan Ketua Umum Tanfidzyah oleh muktamirin adalah cerminan dari kewenangan wilayah dan cabang yang memiliki otoritas pilihan sesuai Qannun Asasi maupun AD/ART. Dengan begitu harmonisasi dalam kepengurusan bisa menjadi solid dan efektif. Dikarenakan Ketua Umum yang terpilih memiliki mandat langsung dari seluruh unsur perwakilan organisasi.

Sebaliknya, pemusatan kewenangan pemilihan Ketua Umum pada Rais ‘Aam atau AHWA berpotensi mempersempit ruang musyawarah. Dalam skema tersebut, kandidat akan bergantung pada satu pusat penentu, sehingga akuntabilitas bergeser dari forum Muktamar kepada figur tertentu, sementara partisipasi PWNU dan PCNU menjadi terbatas.

Pemilihan Tanfidzyah Melalui AHWA

Penambahan kewenangan AHWA pada pemilihan Rais ‘Aam dan kemudian Rais’Aam memilih Tanfidzyah adalah kemunduran. Sebab, Rais’Aam harus berdiri diatas semua kepentingan para Kandidat Tanfidzyah. Jika, Rais’Aam memilih salah satu Kandidat Tanfidzyah, maka kandidat lain akan merasa tidak diakomodir. kelembagaan: ulama berperan sebagai penjaga arah moral dan keilmuan, sedangkan muktamirin memegang kedaulatan organisasi. Justru, akan memicu keretakan organisasi dan faksionalisasi dalam NU.

Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU tahun 2021 juga menolak skema pemilihan Ketua Tanfidziyah melalui AHWA karena dinilai mengurangi representasi wilayah.

Dalam konteks abad kedua NU, kompleksitas organisasi menuntut perluasan partisipasi, peningkatan transparansi, dan penguatan akuntabilitas berbasis perwakilan. Risiko seperti politik uang harus diatasi melalui regulasi ketat dan pengawasan efektif, bukan dengan mengurangi hak suara muktamirin. Prinsip demokrasi permusyawaratan dan perwakilan perlu diperkuat, dalam rangka memajukan organisasi.

Dengan demikian, Muktamar Ke-35 perlu menegaskan kembali keseimbangan kelembagaan secara proporsional: AHWA memilih Rais ‘Aam, Rais ‘Aam memberikan legitimasi etik terhadap kepemimpinan, dan muktamirin memilih Ketua Umum Tanfidziyah. Skema ini menjaga otoritas keulamaan sekaligus kedaulatan jam’iyyah, sehingga kekuatan NU bertumpu pada keseimbangan antara ulama dan jamaah dalam sistem musyawarah yang utuh dan terstruktur.

Abi Rekso 
[Waketum 1 PP. Pengusaha dan Profesional Nahdliyin]

Continue Reading

News

Menjaga Nyala Proklamasi: Refleksi Hari Kemerdekaan dan Filosofi Garuda Pancasila

Garuda Pancasila adalah lambang negara yang sarat makna, mencerminkan nilai-nilai kemerdekaan dan kebhinekaan Indonesia. Pahami filosofi dan simbolismenya untuk menjaga keutuhan bangsa.

Umar Satiri

Published

on

Agustus tiba. Merah putih berkibar di mana-mana. Megah sekali. Rasa bangga langsung bergetar di dada.

Namun, 17 Agustus bukan sekadar rutinitas tahunan. Bukan pula sekadar ramainya perlombaan. Lebih dari itu. Ini adalah monumen waktu yang sakral. Hari lahirnya bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Di balik sejarah besar itu, berdiri kokoh Garuda Pancasila. Itulah lambang resmi negara kita. Keduanya bukan simbol mati tanpa jiwa. Keduanya adalah fondasi moral bangsa. Kompas pemandu arah untuk menghadapi tantangan zaman.

Makna 17 Agustus sangat dalam. Itulah kristalisasi keringat dan air mata. Juga tetesan darah pahlawan bangsa. Proklamasi 1945 adalah puncak perjuangan panjang. Bangsa ini menolak tunduk pada kolonialisme.

Saat Bung Karno membaca teks proklamasi, fajar baru Indonesia menyingsing. Kemerdekaan ini hak mutlak yang direbut dengan pengorbanan. Bukan hadiah cuma-cuma.

Maka, merayakan kemerdekaan berarti menyalakan api nasionalisme. Kita wajib menghargai jasa para pendahulu. Kita harus berkomitmen menjaga keutuhan Republik Indonesia dari perpecahan.

Para pendiri bangsa merumuskan Garuda Pancasila dengan matang. Tujuannya untuk mengabadikan semangat suci proklamasi. Menatap Garuda berarti membaca komitmen merdeka secara visual.

Susunan bulunya dirancang detail. Penuh makna historis. Ada 17 helai bulu pada masing-masing sayap. Itu tanggal kemerdekaan kita.

Lalu, ada 8 helai bulu pada ekor. Itu penanda abadi bulan Agustus.

Kombinasi 19 helai pada pangkal ekor dan 45 helai pada leher juga punya arti. Keduanya bersatu membentuk tahun keramat: 1945.

Visual ini sangat presisi. Indah. Identitas kemerdekaan terpahat abadi di tubuh sang Garuda. Ini pengingat penting. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghidupkan sejarahnya sendiri.

Garuda Pancasila tidak hanya bicara angka. Ada misi ideologis yang hidup di dadanya. Sebuah perisai tergantung anggun di sana.

Perisai itu memuat lima simbol suci. Itulah Pancasila, panduan hidup bernegara kita.

Cahaya bintang menuntun spiritualitas. Rantai emas merajut kemanusiaan. Pohon beringin tempat bangsa bernaung. Kepala banteng lambang kekuatan musyawarah. Padi dan kapas demi keadilan sosial yang merata.

Semua itu adalah jangkar moral. Gunanya menjaga stabilitas negara agar tetap tegak berdiri.

Lihat pula cakar kuatnya. Cakar itu mencengkeram erat seutas pita putih. Tulisannya tegas: Bhinneka Tunggal Ika.

Semboyan ini adalah kekuatan terbesar kita. Sebuah penegasan yang indah. Walau berbeda suku, bahasa, dan agama, kita tetap satu kesatuan utuh. Kita tidak akan goyah oleh apa pun.

Kini zaman sudah modern. Tugas kita bukan lagi mengangkat senjata di medan perang. Tugas hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. Perlu kreativitas dan kontribusi positif.

Tantangan zaman terus datang. Ada degradasi moral. Ada polarisasi sosial. Ada pula ketidakpastian ekonomi global. Semua itu menuntut kita menghidupkan nilai Pancasila melalui tindakan.

Mari jadikan 17 Agustus momentum emas. Saatnya mempererat tali persaudaraan sesama anak bangsa. Singkirkan ego pribadi atau golongan. Kepentingan masa depan Indonesia jauh lebih besar.

Jadilah generasi yang adaptif dan inovatif. Namun, tetap pegang teguh akar budaya dan falsafah negara.

Mari satukan langkah. Rapatkan barisan. Kepakkan sayap optimisme setinggi burung Garuda terbang.

Jagalah nyala api proklamasi ini. Biarkan ia membakar semangat juang di dada setiap rakyat. Kemerdekaan ini amanah besar dari para pahlawan.

Merawatnya dengan baik adalah tugas suci kita bersama. Demi Indonesia yang maju, adil, berdaulat, dan sejahtera.

Selamat Hari Kemerdekaan. Tetaplah jaya negeriku. Merdeka!

Continue Reading

News

BRIN Bawa AI Sport Science ke Pembinaan Atlet

BRIN mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan dan sport science untuk membantu meningkatkan strategi, latihan, nutrisi, serta performa atlet Indonesia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam penerapan sport science. Teknologi tersebut diharapkan mendukung strategi latihan, peningkatan performa, dan pembinaan atlet nasional.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, mengatakan prestasi atlet tidak hanya bergantung pada bakat. Sistem pendukung berbasis ilmu pengetahuan juga diperlukan agar atlet mampu bersaing di tingkat dunia.

Penerapan sport science dapat mencakup analisis kondisi fisik, kebutuhan nutrisi, konsumsi suplemen, hingga pola makan atlet. Data yang dikumpulkan kemudian dapat dimanfaatkan untuk menyusun program latihan yang lebih sesuai dengan kondisi setiap individu.

Kecerdasan buatan juga berpotensi digunakan untuk menganalisis pergerakan, strategi pertandingan, dan perkembangan performa atlet. Hasil analisis tersebut dapat membantu pelatih mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya pengamatan langsung.

Selain mendukung latihan dan pertandingan, kemajuan teknologi dapat diterapkan dalam pengembangan peralatan olahraga. Peralatan yang dirancang berdasarkan penelitian diharapkan mampu meningkatkan efektivitas latihan sekaligus mengurangi risiko cedera.

BRIN menyatakan siap berkolaborasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga serta perguruan tinggi untuk mengembangkan ekosistem sport science. Kerja sama tersebut akan menjangkau pembinaan atlet usia muda hingga tingkat elite.

Kemenpora juga tengah menyelaraskan Manajemen Talenta Nasional dengan Desain Besar Olahraga Nasional. Penyelarasan meliputi pembinaan, kompetisi, peningkatan mutu tenaga olahraga, penyediaan sarana dan prasarana, serta pengelolaan data atlet.

Pemanfaatan AI diharapkan membuat pembinaan olahraga nasional menjadi lebih terukur dan berkelanjutan. Dengan dukungan riset, teknologi, serta kolaborasi lintas lembaga, Indonesia berpeluang mempercepat lahirnya atlet berprestasi di tingkat internasional.

Continue Reading

News

Menjaga Kemurnian Mu’tamar Nahdlatul Ulama Ke-35

Memahami pentingnya tajrīd al-jamā‘ah NU untuk menjaga kemurnian Mu’tamar Nahdlatul Ulama dari ambisi pribadi. Pelajari sejarah dan relevansinya.

Abi Rekso Panggalih

Published

on

Sesungguhnya perkumpulan, saling mengenal, persatuan, dan kekompakan merupakan perkara yang manfaatnya tidak seorang pun tidak mengetahuinya.
(Hadratussyekh K.H. M. Hasyim Asy’ari,  dalam Muqaddimah Qanun Asasi)

Empat puluh dua tahun silam, Situbondo menjadi saksi bahwa Nahdlatul Ulama dapat keluar dari lorong gelap perpecahan tanpa kehilangan adab dan persaudaraan. Muktamar ke-27 NU pada 8–12 Desember 1984 tidak berlangsung di ruang yang hampa. Saat itu, jam’iyah mengalami friksi panjang antara kubu Cipete yang berpusat pada K.H. Idham Chalid dan kubu Situbondo yang bertumpu pada keteguhan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin. 

Akan tetapi, para masyayikh tidak membiarkan ikhtilaf berubah menjadi permusuhan. Mereka memilih ishlāh, saling memaafkan, lalu menandatangani Maklumat Keakraban sebagai jalan pulang menuju keutuhan jam’iyah.

Dalam keadaan genting itulah mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi—AHWA—ditempuh sebagai jalan darurat yang disepakati muktamirin. Para kiai sepuh bermusyawarah, kemudian menetapkan K.H. Achmad Siddiq sebagai Rais Aam dan K.H. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Keputusan itu bukan kemenangan Situbondo dan bukan pula kekalahan Cipete. 

Hasil itu merupakan murni serta bukti kebesaran hati para ulama untuk meletakkan NU untuk kepentingan jami’yah. Secara jujur harus diakui, Muktamar 1984 tetap berlangsung di tengah kuatnya pengaruh politik Orde Baru. Karena itu, pelajaran terpentingnya bukan semata-mata  AHWA adalah representatif spiritual, melainkan bahwa kewibawaan ulama, kerelaan berkompromi, dan keberanian serta kepemimpinan yang tajdīd mampu menyelamatkan NU dari perpecahan. 

Sepanjang sejarahnya, NU mengenal beberapa mekanisme dalam proses Muktamar. Rais Aam pernah dipilih secara langsung dan pernah pula ditetapkan melalui musyawarah AHWA. Disisi yang lain, Ketua Umum Tanfidziyah pernah ditunjuk oleh Rais Aam berdasarkan permufakatan formatur seperti pada 1984, tetapi pada muktamar-muktamar berikutnya juga dipilih melalui pemungutan suara para utusan. Representasi AHWA memerlukan figur kiai yang merdeka dan berwibawa. Sehingga pemungutan suara mencerminkan peserta yang tulus ikhlas untuk NU dan kemaslahatan.

Secara etimologis, mu’tamar berasal dari akar kata amr—urusan atau perkara—kemudian melahirkan i’timār, yakni berunding dan bermusyawarah mengenai urusan bersama. Dengan demikian, mu’tamar bukan sekadar gelanggang menghitung dukungan, melainkan majelis untuk mencari ashlah al-umūr: keputusan yang paling baik bagi jam’iyah. 

Sebenarnya musyawarah yang kita kedepankan memiliki diferensifikasi dengan demokrasi barat. Voting hanyalah salah satu instrumen ketika mufakat belum tercapai. Artinya, Muktamar ke-35 kali ini jika para pimpinan wilayah dan cabang sudah mentekadkan dirinya pada sosok Gus Kikin, kita perlu menerima realitas itu secara kaffah dan lapang dada. Ujian dalam rangka menahan ambisi untuk masa depan organisasi.

Di dalam Muqaddimah Qanun Asasi, Hadratussyekh tidak merumuskan istilah tajrīd al-jamā‘ah secara eksplisit sebagai pasal tersendiri. Terminologi tersebut lebih tepat dipahami sebagai kontekstualisasi atas pesan etik beliau mengenai al-ijtimā‘, al-ta‘āruf, al-ta‘āwun, al-ittihād, dan al-ta’alluf. Tajrīd berarti menjernihkan dan memurnikan: membersihkan niat berorganisasi dari riya, ambisi pribadi, fanatisme kelompok, serta hasrat menjadikan agama sebagai tangga kekuasaan. 

Dengan demikian, tajrīd bukan memurnikan NU dari kehidupan dunia, melainkan memurnikan cara NU mengelola perkara dunia agar tetap menjadi ibadah dan khidmah.

Krisis tajrīd al-jamā‘ah terjadi ketika rumah besar umat dipersempit menjadi ruang keluarga, kelompok, jaringan bisnis, atau kendaraan politik seseorang. Politik dan ikhtiar ekonomi tidaklah diharamkan bagi NU; keduanya bahkan diperlukan untuk membela kaum mustadh‘afīn, memperkuat pesantren, dan mewujudkan keadilan sosial. 

Lantas persoalan kita adalah ketika nama besar jam’iyah Nahdliyin digadaikan untuk melindungi kedzoliman, membenarkan kekufuran, serta memperkaya segelintir orang. NU boleh hadir dekat dengan kekuasaan, tetapi tidak boleh kehilangan jarak moral untuk menyampaikan amar ma‘ruf nahi munkar.

Didaulatnya Gus Dur dalam Muktamar Situbondo 1984, memperlihatkan kerinduan Nahdliyin terhadap pembaruan yang tidak memutus sanad. Gus Dur bukan dipilih semata-mata karena nasabnya, melainkan karena kecerdasan, keberanian, keluasan pergaulan, dan kesanggupannya menerjemahkan Khittah 1926 ke dalam tantangan zaman. Di tangannya, tradisi tidak menjadi museum, tetapi mata air yang menghidupi demokrasi, kebudayaan, kemanusiaan, serta pembelaan terhadap mereka yang disisihkan. Pembaruan ala NU bukan mencabut akar, melainkan menumbuhkan cabang baru dari pohon yang sama.

Dalam konteks hari ini, nama K.H. Abdul Hakim Mahfudz—Gus Kikin—layak dipertimbangkan secara serius berdasarkan rekam khidmah dan gagasannya. Ia memikul amanah sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur; ia juga secara terbuka menjadikan Qanun Asasi sebagai poros narasi pembenahan organisasi. 

Penugasannya sebagai calon Ketua Umum PBNU dinyatakan lahir dari pleno PWNU bersama 45 PCNU se-Jawa Timur. Semua itu merupakan modal penting, tetapi bukan cek kosong. Nasab adalah amanah, bukan surat suara; simbol harus dibuktikan melalui program mengenai kemandirian jam’iyah, transparansi keuangan, supremasi Syuriyah, kaderisasi, ekonomi umat, dan keberanian menjaga jarak dari kepentingan pragmatis. 

Kekhawatiran terhadap gangguan Muktamar ke-35 tidak boleh disepelekan. Manipulasi kepesertaan, provokasi di ruang sidang, disinformasi, transaksi dukungan, tekanan ekonomi, maupun usaha memengaruhi anggota AHWA merupakan ancaman terhadap marwah prosesi dan hasil Mu’tamar ke-35 di Jombang. 

Namun kewaspadaan tidak serta merta berubah menjadi tuduhan tanpa dalil. Fitnah tidak dapat dilawan dengan fitnah. Setiap informasi tentang ancaman terhadap pesantren, intervensi bantuan, atau intimidasi terhadap kiai harus diverifikasi, didokumentasikan, dan disampaikan melalui mekanisme organisasi maupun hukum yang sah.

*Amalan Keikhlasan, Jangan Memaksakan Syahwat Politik Dalam Organisasi Ulama*

Hari-hari ini tersimpan banyak harapan, penyelenggara Muktamar ke-35 di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mengkokohkan pagar integritas kaum Nahdliyin yang terang. 

Mekanisme dan validasi peserta adalah yang utama, tata tertib yang dirumuskan bersama untuk menampung segala model bentuk aspirasi daerah. Tata tertib persidangan jangan justeru dijadikan alat kekacauan. Kita juga berharap pada sidang-sidang komisi mengutamakan adab serta ilmu pengetahuan sebagai tuntunan. Jangan kita biarkan komplotan begundal yang mengatasnaman Nahdlatul Ulama hanya untuk menjalankan kelicikannya serta syahwat politiknya yang buas.

Anggota AHWA perlu memperoleh ruang musyawarah yang bebas, tertutup, dan aman dari lobi yang melampaui adab. 

Para kandidat beserta seluruh timnya juga wajib melakukan riyāḍah al-nafs: menahan diri, menjaga lisan, tidak mengklaim dukungan yang belum dapat dibuktikan, dan menerima pilihan muktamirin dengan lapang dada. Dukungan kepada Gus Kikin ataupun calon lain hanya memiliki kemuliaan apabila diberikan secara merdeka. Siapa pun yang merasa telah diterima melalui proses ta‘āruf tetap harus menunggu keputusan mu’tamar dengan tawadhu.

Sebab dalam NU, amanah tidak perlu direbut dengan kegaduhan; ia diterima dengan kesiapan mempertanggungjawabkannya di hadapan jam’iyah dan Allah.

Pemerintah dan aparat penegak hukum diutamakan untuk menjaga keamanan, ketertiban, lalu lintas, keselamatan peserta, serta menindak setiap ancaman dan tindak pidana. Tetapi negara harus menjadi pagar di luar, bukan tangan di dalam ruang pemilihan. Banyak yang mengharapkan pihak Kepolisian, Pemerintah daerah dan Intelijen Negara untuk secara seksama menjaga kondusifitas dan keamanan prosesi Muktanar. Dengan begitu para Muktamirin, Kiai dan kelompok muda Nahdliyin bisa mengekspresikan aspirasinya secara baik, terhormat dan bermartabat.

Tentu kita semua mengharapkan mu’tamar berlangsung aman, bebas, jujur, dan penuh mahabbah, siapa pun yang terpilih hanyalah penerima amanah; pemenang sesungguhnya adalah Nahdlatul Ulama dan Umat Islam di Indonesia. Di sanalah ma‘ūnah dan barakah akan kembali menyertai khidmah kaum Nahdliyin.

Abi Rekso Panggalih
[Wakil Ketua Umum PP. Pengusaha dan Profesional Nahdliyin]

Continue Reading

Review

Buka Rahasia Protein AI AlphaFold Antar ke Nobel Kimia

Terobosan AlphaFold2 membawa kecerdasan buatan ke jantung ilmu biologi, membantu manusia memprediksi struktur protein yang selama puluhan tahun menjadi teka-teki ilmiah.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Kecerdasan buatan (AI) mencatat tonggak bersejarah dalam ilmu pengetahuan ketika Demis Hassabis dan John Jumper dari Google DeepMind bersama David Baker dari University of Washington dianugerahi Nobel Kimia 2024. Komite Nobel membagi penghargaan dengan setengah diberikan kepada Baker untuk computational protein design, sedangkan setengah lainnya diberikan bersama kepada Hassabis dan Jumper untuk protein structure prediction.

Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar digunakan untuk mengolah bahasa, gambar, permainan, atau data bisnis. AI telah menjadi instrumen penelitian fundamental untuk memahami molekul yang menopang kehidupan. Protein berperan sebagai enzim, hormon, antibodi, sinyal biologis, hingga komponen berbagai jaringan. Bentuk tiga dimensinya sangat menentukan fungsi protein tersebut.

Teka-teki 50 Tahun Dipecahkan

Salah satu persoalan terbesar dalam biologi adalah memprediksi bagaimana rangkaian asam amino akan melipat menjadi struktur tiga dimensi protein. Para ilmuwan telah berusaha memecahkan persoalan tersebut sejak 1970-an. Terobosan besar terjadi pada 2020 ketika Hassabis, Jumper dan timnya memperkenalkan AlphaFold2.

Dengan AlphaFold2, struktur hampir seluruh 200 juta protein yang telah diidentifikasi peneliti dapat diprediksi. Menurut Nobel, hingga Oktober 2024 sistem tersebut telah digunakan lebih dari 2 juta orang di 190 negara. Sebelumnya, menentukan struktur protein tertentu dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun atau bahkan tidak berhasil dilakukan; AlphaFold2 mampu menghasilkan prediksi dalam hitungan menit, meskipun hasilnya tetap perlu dipahami dan diverifikasi oleh peneliti.

Dari Memprediksi hingga Mendesain Protein

Jika Hassabis dan Jumper membantu menjawab pertanyaan “seperti apa bentuk protein ini?”, David Baker mengambil langkah berbeda: “bisakah kita merancang protein baru?”

Baker mengembangkan metode komputasional untuk merancang protein yang tidak ditemukan di alam. Laboratoriumnya menghasilkan berbagai protein dengan potensi aplikasi pada obat-obatan, vaksin, nanomaterial, serta sensor. Dengan demikian, dua pendekatan yang berbeda—memprediksi protein yang ada dan merancang protein baru—bertemu dalam satu revolusi komputasional.

Dampaknya mulai terlihat di berbagai bidang. AlphaFold2 telah digunakan untuk membantu penelitian farmasi, memahami resistensi antibiotik, serta penelitian lingkungan, termasuk identifikasi enzim yang berpotensi membantu menguraikan plastik. Nobel menyebut kemampuan memprediksi struktur protein sekaligus merancang protein baru memiliki potensi besar bagi kemanusiaan.

AI Mengubah Cara Ilmuwan Bekerja

Penghargaan ini juga memberikan pesan penting tentang masa depan penelitian. AI tidak menggantikan ilmuwan, tetapi memperbesar kemampuan ilmuwan untuk mengeksplorasi ruang kemungkinan yang sebelumnya terlalu besar untuk dihitung secara manual.

Dalam konteks AlphaFold2, jaringan saraf dilatih menggunakan informasi dalam basis data struktur protein dan urutan asam amino. Model kemudian belajar menemukan pola yang menghubungkan urutan tersebut dengan struktur tiga dimensinya. Nobel menyebut terobosan ini sebagai revolusi dalam biokimia struktural.

Karena itu, kisah Nobel Kimia 2024 memiliki hubungan erat dengan perjalanan DeepMind yang digambarkan dalam dokumenter The Thinking Game. Eksperimen AI yang sebelumnya dimulai dari permainan seperti Atari dan Go berkembang menjadi teknologi yang membantu menjawab persoalan ilmiah nyata. Dari permainan menuju protein, AI bergerak dari sekadar menunjukkan kecerdasan mesin menuju memperluas kemampuan manusia memahami kehidupan.

Pelajaran Besar bagi Indonesia

Fenomena ini seharusnya menjadi alarm sekaligus peluang bagi pendidikan dan riset Indonesia. Penguasaan AI tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan chatbot atau membuat konten. Generasi muda perlu diarahkan untuk memahami matematika, pemrograman, data, sains, dan etika AI sehingga mampu menggunakan AI untuk menghasilkan pengetahuan baru.

Nobel Kimia 2024 menunjukkan bahwa batas antara disiplin ilmu semakin kabur. Kimia bertemu biologi, matematika bertemu komputer, dan sains bertemu kecerdasan buatan. Di sinilah tantangan pendidikan Indonesia: membangun generasi yang tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi mampu menjadi penemu, peneliti, perancang, dan pencipta teknologi berbasis AI.

Continue Reading

Review

The Thinking Game Permainan Menuju AI yang Mengubah Sains

The Thinking Game menunjukkan bagaimana ambisi DeepMind membangun kecerdasan buatan umum berkembang dari eksperimen permainan menjadi terobosan ilmiah yang berpotensi mengubah masa depan manusia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– The Thinking Game bukan sekadar dokumenter tentang kecanggihan teknologi, melainkan kisah perjalanan intelektual DeepMind dalam mengejar pertanyaan besar: apakah mesin dapat belajar, berpikir, dan menemukan solusi sebagaimana manusia? Film ini mengikuti perjalanan Demis Hassabis dan timnya membangun sistem AI yang tidak hanya unggul dalam satu tugas, tetapi mampu menghadapi berbagai persoalan kompleks.

Ambisi tersebut berangkat dari ketertarikan Hassabis terhadap cara kerja pikiran dan kecerdasan sejak usia muda. Dalam dokumenter, misi DeepMind digambarkan jauh lebih besar daripada sekadar menciptakan produk teknologi. Mereka ingin membangun mesin belajar umum yang pada akhirnya dapat membantu manusia memecahkan persoalan ilmiah paling sulit. Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi pencarian menuju Artificial General Intelligence (AGI).

Langkah awal DeepMind justru dilakukan melalui permainan. Atari menjadi laboratorium eksperimental untuk menguji kemampuan mesin belajar dari pengalaman. Strategi ini kemudian mencapai momentum besar melalui AlphaGo, sistem AI yang berhasil mengalahkan juara dunia Go, Lee Sedol. Keberhasilan tersebut penting karena Go memiliki jumlah kemungkinan langkah yang sangat besar, sehingga kemenangan AI tidak sekadar menunjukkan kemampuan menghitung, tetapi juga kemampuan menemukan strategi yang sebelumnya sulit diprediksi manusia.

Namun, pencapaian terbesar DeepMind tidak berhenti di papan permainan. Setelah membuktikan kemampuan AI dalam lingkungan permainan, perhatian tim diarahkan kepada persoalan dunia nyata, salah satunya protein folding. Persoalan ini telah menjadi tantangan biologi selama sekitar lima dekade karena struktur tiga dimensi protein menentukan banyak fungsi biologisnya. Melalui AlphaFold, DeepMind berhasil membuat lompatan besar dalam memprediksi struktur protein.

Dampaknya kemudian melampaui dunia teknologi. AlphaFold membantu mempercepat penelitian biologi dan membuka peluang baru dalam memahami penyakit, pengembangan obat, serta penelitian berbagai organisme. Terobosan tersebut ikut mengantarkan Demis Hassabis dan John Jumper meraih Nobel Kimia 2024, bersama David Baker, atas kontribusi terhadap prediksi struktur protein dan desain protein. Dengan demikian, perjalanan dari Atari menuju AlphaFold memperlihatkan perubahan paradigma: AI bukan lagi sekadar alat untuk memenangkan permainan, tetapi instrumen untuk memperluas kemampuan ilmiah manusia.

Di balik optimisme tersebut, The Thinking Game juga memperlihatkan sisi lain dari revolusi AI: pertanyaan etika dan risiko. Semakin canggih kemampuan mesin, semakin besar pula pertanyaan mengenai siapa yang mengendalikan teknologi, bagaimana memastikan AI tetap aman, serta bagaimana manfaatnya didistribusikan secara adil. Karena itu, pencapaian teknis menuju AGI tidak dapat dipisahkan dari persoalan tata kelola, keselamatan, transparansi, dan tanggung jawab sosial.

Pelajaran penting dari dokumenter ini adalah bahwa inovasi besar sering lahir dari perpaduan rasa ingin tahu, eksperimen, kegagalan, dan ketekunan. DeepMind tidak langsung menghasilkan AlphaGo atau AlphaFold. Mereka membangun kemampuan secara bertahap, menguji hipotesis, mengalami kegagalan, lalu mengembangkan pendekatan baru.

Bagi dunia pendidikan, perjalanan tersebut memberikan pesan yang sangat relevan. AI seharusnya tidak hanya dipelajari sebagai alat untuk menghasilkan jawaban, tetapi sebagai sarana untuk melatih siswa bertanya, bereksperimen, memecahkan masalah, mengevaluasi hasil, dan memahami konsekuensi teknologi. Jika filosofi ini diterapkan dalam pembelajaran, AI dapat bergeser dari sekadar tool menjadi partner berpikir.

Pada akhirnya, The Thinking Game menyampaikan sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada “seberapa pintar AI?” Pertanyaannya adalah: untuk apa kecerdasan tersebut digunakan? Jika kemampuan AI terus berkembang menuju AGI, tantangan terbesar manusia mungkin bukan lagi membuat mesin semakin cerdas, melainkan memastikan kecerdasan itu digunakan untuk memperkuat ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia.

Continue Reading