Dalam sunyi yang paling hening, manusia meletakkan dahinya di bumi. Di titik itu, antara tanah dan langit, ada perjumpaan yang tak kasat mata. Kita menyebutnya sujud. Sebuah gerak yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam—bahkan, konon, menyimpan rahasia biologis yang memikat seorang ilmuwan dari Texas.
Nama itu adalah Fidelma O’Leary. Pada 2012, ia menerima penghargaan Woman of Spirit. Latar belakangnya bukan teolog, bukan pula dai. Ia seorang profesor biologi dan neurosains di St. Edward’s University, juga dokter neurologi di Amerika Serikat. Hidupnya berkutat pada jaringan saraf, impuls listrik, dan misteri otak manusia.
Konon, dalam penelitiannya tentang sistem saraf, ia menemukan sesuatu yang membuatnya tertegun: ada bagian-bagian tertentu dari jaringan otak yang tidak selalu teraliri darah secara maksimal. Padahal, kita tahu, setiap sel otak membutuhkan suplai oksigen agar tetap hidup dan bekerja. Otak adalah organ yang rakus energi; ia menyedot sekitar 20 persen suplai darah tubuh meski beratnya hanya sekitar dua persen dari total berat badan.
Rasa ingin tahu membawanya lebih jauh. Ia meneliti, mengamati, mengkaji ulang. Hingga pada satu fase, ia menemukan bahwa perubahan posisi tubuh—terutama ketika kepala lebih rendah dari jantung—dapat memengaruhi distribusi aliran darah ke otak. Di sanalah ia mulai melirik satu gerakan yang asing baginya, tetapi akrab bagi jutaan Muslim: sujud dalam salat.
Manfaat fisiologis
Sujud melibatkan tujuh titik tumpu: dahi dan hidung, dua telapak tangan, dua lutut, serta ujung-ujung jari kaki. Secara spiritual, ia adalah simbol perendahan diri. Secara psikologis, ia adalah latihan melepas ego. Dalam sujud, manusia berada di posisi paling rendah secara fisik, namun justru di situ ia merasa paling dekat dengan Yang Maha Tinggi.
Dalam tradisi Islam, sujud bukan sekadar gerak ritual. Ia adalah momen intim untuk memuji, memohon, dan membersihkan hati dari kesombongan, riya’, dan takabur. Ketika dahi menyentuh bumi, ada pengakuan sunyi: bahwa kita hanyalah hamba.
Sebagian kalangan kemudian mengaitkan gerakan ini dengan manfaat fisiologis. Posisi kepala yang lebih rendah dari jantung dipercaya membantu aliran darah menuju otak. Dalam beberapa literatur populer kesehatan, disebutkan bahwa perubahan posisi tubuh memang memengaruhi distribusi sirkulasi darah. Tidak heran jika banyak orang merasakan ketenangan dan kesegaran setelah salat dengan khusyuk.
Namun, penting untuk bersikap bijak. Klaim bahwa ada “urat saraf yang hanya teraliri darah saat sujud” atau bahwa orang yang tidak salat pasti mengalami gangguan fungsi otak, belum memiliki dasar ilmiah yang terverifikasi secara luas dalam jurnal medis arus utama. Dunia sains bekerja dengan uji berulang dan pembuktian ketat. Sementara kisah-kisah spiritual sering kali bergerak di wilayah pengalaman personal.
Antara Iman dan Ilmu
Bagi sebagian orang, iman datang dari perenungan teks suci. Bagi yang lain, ia tumbuh dari laboratorium dan mikroskop. Kisah Dr. Fidelma—apa pun detail akademisnya—sering diceritakan sebagai contoh bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjadi jembatan menuju keyakinan.
Setelah mendalami Islam melalui buku dan diskusi, ia akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebuah keputusan yang lahir bukan dari emosi sesaat, melainkan dari proses pencarian. Ia menemukan kedamaian dalam Islam—sebuah agama yang memadukan dimensi spiritual dan disiplin ritual harian.
Dalam Islam, waktu-waktu salat—Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya—mengatur ritme hidup. Lima kali sehari, tubuh dan jiwa diajak berhenti. Membungkuk. Bersujud. Seolah ada jeda berkala untuk menyelaraskan ulang detak jantung dengan detak nurani.
Sebagian ulama juga menganjurkan untuk memperpanjang sujud, terutama pada rakaat terakhir. Dari sisi spiritual, itu adalah momen paling intim untuk berdoa. Dari sisi psikologis, ia memberi ruang relaksasi, memperlambat napas, dan menenangkan sistem saraf otonom. Dalam dunia medis modern, kita mengenal konsep mind-body connection—hubungan erat antara kondisi mental dan kesehatan fisik. Salat yang khusyuk, termasuk sujud yang tenang, bisa menjadi bentuk meditasi aktif yang terstruktur.
Rahasia Sesungguhnya
Apakah benar bentuk saraf otak menyerupai orang bersujud? Itu lebih merupakan metafora visual ketimbang fakta anatomi literal. Tetapi metafora sering kali bekerja lebih kuat daripada data statistik. Ia berbicara ke wilayah rasa.
Rahasia sujud, barangkali, bukan semata pada aliran darah. Bukan pula sekadar pada klaim medis yang sensasional. Rahasia itu mungkin terletak pada kesadaran: bahwa manusia perlu menunduk agar tidak terlampau tinggi oleh egonya sendiri.
Dalam dunia yang memuja pencapaian, sujud mengajarkan keterbatasan. Dalam masyarakat yang sibuk mengejar citra, sujud melatih keheningan. Dalam kepala yang penuh beban, sujud menawarkan jeda.
Maka ketika dahi menyentuh bumi, mungkin yang paling disegarkan bukan hanya otak—melainkan hati. Dan di situlah, rahasia itu bekerja.