Monitorday.com – Aktivitas pendakian di Gunung Rinjani resmi dibuka kembali sejak 1 April 2026. Pembukaan ini langsung disambut antusias ratusan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang mulai menjajal jalur pendakian di kawasan tersebut.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Nusa Tenggara Barat menyebutkan jumlah pendaki dibatasi maksimal 700 orang per hari yang tersebar di enam jalur resmi. Jalur tersebut meliputi Senaru, Torean, Sembalun, Timbanuh, Tetebatu, serta jalur pendidikan Aik Berik.
Kepala Seksi Subbagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardi Arisno, mengatakan tingginya minat pendaki menjadi tanda dimulainya kembali aktivitas wisata alam setelah sempat ditutup selama tiga bulan akibat cuaca ekstrem dan pemulihan ekosistem.
“Pada hari pertama pembukaan didominasi wisatawan Nusantara, dan tren ini diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan,” ujarnya, Kamis.
Sebelumnya, Balai TNGR telah membuka sistem pemesanan tiket pendakian sejak 6 Maret 2026 melalui aplikasi E-Rinjani. Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, mengimbau calon pendaki agar tidak terburu-buru memesan tiket jika kuota pada tanggal tertentu telah habis.
“Rinjani tidak ke mana-mana dan selalu menantikan kehadiran para pendaki,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya persiapan matang sebelum melakukan pendakian, serta menjaga kelestarian lingkungan di gunung berapi aktif tertinggi kedua di Indonesia tersebut.
Selama masa penutupan dari 1 Januari hingga 31 Maret 2026, pihak TNGR melakukan berbagai pembenahan, mulai dari peningkatan aspek keselamatan hingga pengelolaan destinasi yang lebih inklusif dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Selain itu, sistem pendakian kini diperbarui dengan standar yang lebih modern dan aman, seperti penggunaan gelang RFID, alat pelacak posisi pendaki, pembangunan pusat komando, integrasi komunikasi radio, hingga penerapan sistem nol sampah (zero waste) berbasis digital.
Pembukaan kembali jalur pendakian ini dilakukan setelah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kawasan, fasilitas pendukung, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi lonjakan kunjungan wisatawan.