Connect with us

Review

WFH ASN dan Hemat Energi: Ujian Nyata Transformasi Pendidikan Nasional

Transformasi budaya kerja yang diusung Kemendikdasmen bertumpu pada tiga fondasi penting—pemerataan akses, relevansi masa depan, dan partisipasi semesta.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerapkan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan pernyataan arah baru dalam tata kelola pendidikan nasional. Di tengah tuntutan efisiensi, digitalisasi, dan krisis energi global, kebijakan ini menjadi ujian konkret: mampukah birokrasi Indonesia bekerja lebih cerdas tanpa kehilangan kualitas layanan publik?

Transformasi budaya kerja yang diusung Kemendikdasmen bertumpu pada tiga fondasi penting—pemerataan akses, relevansi masa depan, dan partisipasi semesta. Namun, di balik rumusan normatif tersebut, tantangan implementasi menjadi hal yang tidak sederhana. WFH, misalnya, berpotensi meningkatkan fleksibilitas kerja, tetapi juga membuka celah bagi penurunan disiplin jika tidak diawasi secara sistemik. Di sinilah urgensi membangun ekosistem kerja berbasis kinerja, bukan sekadar kehadiran fisik.

Di sisi lain, kebijakan ini patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya efisiensi energi dan pengurangan beban mobilitas ASN. Pengurangan perjalanan dinas, optimalisasi transportasi publik, hingga dorongan penggunaan kendaraan secara kolektif mencerminkan kesadaran baru bahwa birokrasi tidak boleh lagi boros sumber daya. Dalam konteks ini, WFH bukan hanya soal bekerja dari rumah, tetapi tentang merumuskan ulang hubungan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Namun demikian, sektor pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding sektor administratif lainnya. Kehadiran guru di ruang kelas tetap menjadi elemen kunci yang tidak tergantikan oleh kebijakan fleksibilitas kerja. Komitmen Kemendikdasmen untuk memastikan guru tetap hadir saat kegiatan belajar berlangsung menunjukkan adanya batas yang jelas antara inovasi kebijakan dan kebutuhan pedagogis. Ini penting agar transformasi tidak mengorbankan kualitas pembelajaran yang bersifat langsung dan interaktif.

Lebih jauh, kebijakan ini juga mengandung dimensi kultural yang tidak kalah penting. Gerakan hemat energi dan inisiatif seperti Indonesia ASRI menuntut perubahan perilaku, bukan sekadar aturan formal. Di sinilah letak tantangan terbesar: mengubah kebiasaan lama menjadi praktik baru yang lebih efisien dan berkelanjutan. Transformasi sejati tidak terjadi di atas kertas kebijakan, tetapi dalam keseharian para pelaksananya.

Pada akhirnya, kebijakan WFH dan hemat energi ini harus dibaca sebagai eksperimen besar dalam reformasi birokrasi pendidikan. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari penghematan biaya atau penurunan konsumsi energi, tetapi dari sejauh mana layanan pendidikan tetap hadir, merata, dan berkualitas. Jika berhasil, ini bisa menjadi model baru birokrasi adaptif di Indonesia. Namun jika gagal, ia hanya akan menjadi kebijakan simbolik tanpa dampak substantif.

News

Danantara Jadi Motor Industrialisasi Baru

Pemerintah memosisikan BPI Danantara sebagai kendaraan investasi raksasa untuk mempercepat hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan posisi Indonesia dalam perdagangan global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Pemerintah Indonesia melalui BPI Danantara tengah mendorong percepatan investasi dan perdagangan global sebagai bagian dari agenda besar industrialisasi nasional era Presiden Prabowo Subianto. Lembaga ini diproyeksikan menjadi sovereign wealth fund (SWF) strategis yang mengonsolidasikan aset-aset BUMN dan kekuatan ekonomi nasional untuk mendukung pembiayaan proyek jangka panjang bernilai besar.

Dalam forum tahunan World Economic Forum di Davos, Presiden Prabowo menyebut Danantara memiliki aset kelolaan sekitar USD 1 triliun yang berasal dari konsolidasi lebih dari 1.000 BUMN strategis. Pemerintah menempatkan Danantara bukan sekadar lembaga investasi biasa, tetapi sebagai instrumen utama transformasi ekonomi Indonesia menuju negara industri berdaya saing global.

Meski demikian, sejumlah analis menilai angka USD 1 triliun tersebut lebih merepresentasikan total valuasi aset konsolidasi negara dan BUMN, bukan dana tunai siap investasi sebagaimana model SWF tradisional seperti Temasek Holdings. Karena itu, klaim Danantara langsung masuk jajaran enam besar SWF dunia masih menjadi perdebatan di kalangan pelaku pasar internasional.

Pemerintah juga menggunakan Danantara sebagai bagian dari diplomasi ekonomi global Indonesia. Dalam berbagai forum internasional, narasi yang dibangun adalah Indonesia tidak lagi ingin bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan naik kelas menjadi pusat industri bernilai tambah tinggi. Fokus tersebut diarahkan pada pengembangan kendaraan listrik, ekosistem baterai EV, hilirisasi mineral, energi hijau, kecerdasan buatan, hingga semikonduktor.

Sejumlah proyek strategis yang disebut masuk dalam prioritas pembiayaan Danantara meliputi pengolahan nikel, refinery, petrokimia, energi terbarukan, hingga gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Langkah ini merupakan kelanjutan dan perluasan strategi hilirisasi yang sebelumnya dimulai pada era Presiden Joko Widodo.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai membangun wacana konsolidasi ekspor sumber daya alam melalui mekanisme yang lebih terintegrasi. Tujuannya untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global, mengurangi praktik underinvoicing, mengendalikan harga ekspor, serta meningkatkan penerimaan negara. Namun implementasi penuh ekspor satu pintu untuk seluruh komoditas strategis masih dalam tahap pengembangan regulasi dan koordinasi lintas sektor.

Skala Danantara yang sangat besar membuat pasar global menaruh perhatian serius terhadap tata kelola lembaga tersebut. Investor internasional menilai keberhasilan Danantara akan sangat bergantung pada transparansi, independensi bisnis, profesionalisme manajemen, serta kepastian regulasi. Risiko intervensi politik, konflik kepentingan, dan potensi distorsi pasar menjadi sorotan utama dalam berbagai analisis ekonomi.

Jika berjalan efektif, Danantara dinilai berpotensi mempercepat industrialisasi nasional, memperbesar devisa negara, meningkatkan nilai tambah ekspor, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Namun para pengamat mengingatkan bahwa proyek sebesar ini juga membawa risiko besar apabila tata kelolanya tidak dijaga secara profesional dan akuntabel.

Continue Reading

Review

Rupiah Melejit, Optimisme Meroket

Pemerintah Indonesia menunjukkan optimisme kuat menghadapi kurs Rupiah Rp17.600. Strategi komunikasi dan kebijakan proaktif diimplementasikan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sentimen pasar.

N Ayu Ashari

Published

on

Monitorday.com – Mari kita rehat sejenak dari kepanikan massal yang tidak perlu ini, sebab rupiah yang menyentuh Rp17.600 per Dolar AS sebenarnya adalah sebuah pencapaian historis yang luar biasa karena sepanjang sejarah republik ini berdiri, belum pernah kita melihat angka semegah itu di papan kurs.

Beruntung sekali kita memiliki Presiden Prabowo Subianto, seorang pemimpin yang diberkahi tingkat optimisme di atas rata-rata yang dengan tenang menepis segala ramalan suram dan menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah diam, melainkan terus bergerak lincah dalam mengemas realitas menjadi motivasi yang membakar semangat.

Di saat negara-negara lain panik menghadapi gejolak global, Indonesia justru tampil sebagai oasis kedamaian di mana Presiden menjamin ketahanan pangan serta energi kita masih sangat aman, sehingga kalaupun harga barang di pasar mulai merangkak naik, kita cukup menganggapnya sebagai simulasi hidup hemat yang sangat edukatif.

Kebijakan komunikasi istana yang begitu meneduhkan ini bahkan mendapat apresiasi tingkat tinggi dari Hans-Dieter Holtzmann, seorang pakar ekonomi makro dan peneliti senior dari Institute for Sovereign Stability di Berlin, yang menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto sama sekali tidak bermaksud menyinggung atau mengecilkan kondisi situasi ekonomi saat ini.

Menurut Holtzmann, langkah tersebut merupakan strategi komunikasi psikologis tingkat tinggi (advanced psychological cushioning) di mananya tidak sedang menyangkal realitas angka, melainkan sedang melindungi sentimen pasar domestik agar tidak terjebak dalam kepanikan kolektif, sebuah bentuk kepemimpinan yang sangat matang dalam menjaga ketenangan publik di tengah rekor kurs yang bergejolak.

Maka dari itu, sungguh tidak etis jika ada masyarakat yang mengkritik kunjungan kerja luar negeri Presiden belakangan ini, karena ketika Presiden kerap terbang ke berbagai penjuru dunia, ia sama sekali tidak sedang membuang-buang anggaran negara demi pelesiran, melainkan sedang menjalankan misi suci mencari pinjaman.

Kita harus bangga memiliki kepala negara yang rela melanglang buana demi membawa pulang komitmen utang baru, di mana semua ikhtiar luar biasa ini sejatinya dilakukan demi mengamankan kondisi ekonomi dalam negeri, terlebih untuk mendanai program monumental makan siang gratis.

Sungguh sebuah siklus yang puitis, karena kita meminjam dana dari bangsa lain hari ini agar anak-anak bisa makan kenyang siang ini, sehingga kelak ketika mereka dewasa, mereka memiliki energi yang cukup untuk membayar kembali utang-utang tersebut. Dengan demikian, mari kita hadapi angka Rp17.600 ini dengan senyuman dan kebanggaan, karena dedikasi pemerintah dalam menumpuk opsi finansial global adalah bukti nyata bahwa ekonomi kita tidak sedang suram, melainkan sedang bersiap menuju lompatan besar yang entah kapan mendaratnya.

Continue Reading

Review

Gerak Cepat Pangdam Radin Inten Kejar Target Koperasi Desa

Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi memimpin percepatan pembangunan Koperasi Desa di Lampung dan Bengkulu. Target capaian ratusan titik koperasi terus dikejar demi kemandirian ekonomi masyarakat.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Ketika Presiden Prabowo Subianto meluncurkan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) secara nasional pada Sabtu (16/5/2026), perhatian publik tidak hanya tertuju pada seremoni virtual di Nganjuk. Di Lampung, tepatnya di kawasan PKOR Way Halim, sorotan tertuju pada Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi. Kehadirannya dalam video conference tersebut bukan sekadar formalitas pejabat militer, melainkan representasi dari sosok pemimpin lapangan yang taktis, responsif, dan berkomitmen penuh mengawal ketahanan pangan serta pemerataan ekonomi nasional.

Melalui narasi progres pembangunan yang dipaparkannya, Mayjen Kristomei membuktikan diri sebagai jenderal yang tidak hanya duduk di balik meja. Ia adalah eksekutor visi kepresidenan yang andal. Di saat Presiden Prabowo menegaskan bahwa Koperasi Merah Putih adalah instrumen krusial bagi kemandirian ekonomi, Mayjen Kristomei menjawab tantangan besar tersebut dengan data konkret dan capaian nyata di lapangan.

Hingga pertengahan Mei 2026, di bawah komandonya, Kodam XXI/Radin Inten telah berhasil merampungkan 562 titik koperasi secara penuh mencakup 345 titik di Lampung dan 217 titik di Bengkulu. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan manifestasi dari manajemen kerja yang ketat dan terukur.

Pada periode akhir Mei hingga awal Juni 2026, tim membidik penyelesaian 100% untuk 600 titik strategis. Target ini akan dioptimalkan dengan memanfaatkan 300 titik yang saat ini progresnya telah mencapai 70%, di mana pengerjaan kini sedang berfokus pada tahap finishing dan pemasangan atap.

Memasuki bulan Juli 2026, fokus utama akan bergeser pada pengawasan ketat dan finalisasi guna memastikan minimal 700 titik koperasi di seluruh wilayah telah selesai secara keseluruhan dan siap beroperasi.

percepatan ini dilakukan tanpa sedikit pun mengorbankan kualitas. Kristomei menunjukkan standar tinggi dalam pembangunan infrastruktur ini, salah satunya dengan menerapkan lantai epoxy pada gudang koperasi agar lebih bersih, rapi, dan tahan lama. Detail kecil ini mencerminkan profesionalitasnya: bahwa fasilitas untuk rakyat harus dibangun dengan mutu terbaik.

Lebih dari sekadar pembangun fisik, Kristomei memperlihatkan kapasitasnya dalam membangun komunikasi sosial. Ia menggerakkan instrumen teritorial—mulai dari para Dandim hingga Babinsa—untuk melebur dan bekerja sama langsung dengan masyarakat desa. Pendekatan gotong royong ini membuat pembangunan koperasi tidak terasa seperti proyek top-down yang kaku, melainkan sebuah gerakan manunggal TNI bersama rakyat.

Tantangan di lapangan, seperti kendala pembebasan lahan yang sempat menghambat pembangunan 10 titik koperasi di Bandar Lampung, dihadapi dengan kepala dingin. Alih-alih buntu, Mayjen Kristomei sukses menggalang kolaborasi harmonis dengan Pemerintah Provinsi Lampung untuk memanfaatkan lahan pemprov. Diplomasi taktis inilah yang membuat penyediaan infrastruktur berjalan mulus, yang nantinya siap diserahterimakan kepada dinas terkait untuk operasionalisasinya.

Continue Reading

Review

Pesan Monumental Pangdam XXI/ Raden Inten

Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Pangdam XXI/Raden Inten, mengungkap fakta penipuan love scamming yang mencatut nama institusi. Klarifikasi ini menjaga citra TNI dan mengedukasi masyarakat agar lebih waspada.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Di tengah pesatnya disrupsi digital, institusi TNI kembali membuktikan komitmennya sebagai benteng pertahanan yang tidak hanya menjaga kedaulatan fisik, tetapi juga kehormatan institusi dari upaya diskreditasi melalui kejahatan siber. Langkah cepat dan transparan yang ditunjukkan oleh KODAM XXI/Raden Inten dalam menyikapi isu love scamming menjadi bukti nyata bahwa TNI senantiasa hadir sebagai pelindung masyarakat, sekaligus penjaga integritas yang teguh.

Ketegasan Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, dalam mengungkap fakta di balik kasus penipuan asmara yang mencatut nama institusi pantas mendapatkan apresiasi luas. Melalui investigasi kolaboratif bersama Ditjen Pemasyarakatan dan Polda Lampung, terungkap bahwa narasi yang menyudutkan prajurit TNI hanyalah isapan jempol. Para pelaku yang beroperasi dari balik jeruji Rutan Kelas IIB Kotabumi terbukti hanya memanfaatkan teknologi AI generator dan manipulasi foto untuk menciptakan identitas palsu.

Langkah proaktif Kodam XXI dalam melakukan penelusuran identitas digital menunjukkan bahwa TNI tidak tinggal diam ketika nama baik prajurit dipertaruhkan. Investigasi tersebut secara valid mengonfirmasi bahwa akun-akun seperti ayub47139 bukanlah representasi dari prajurit aktif, melainkan alat kejahatan yang dirancang untuk memperdaya korban.

Upaya ini menuai respons positif dari kalangan akademisi. M. Natsir Amir, Mahasiswa Pascasarjana S3 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prodi Linguistik Terapan pun memuji langkah Mayjen Kristomei sebagai tindakan yang berwibawa dan menenangkan masyarakat. Menurut Natsir, klarifikasi yang didukung data teknis ini sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam stigma negatif terhadap korps baju hijau.

“Langkah Pangdam XXI memastikan pelakunya bukan anggota TNI aktif adalah bentuk pertanggungjawaban publik yang luar biasa. Ini memutus rantai ketidakpastian dan menjaga kepercayaan rakyat yang selama ini sudah sangat kuat terhadap TNI,” ujar Natsir.

Keberhasilan pengungkapan kasus yang melibatkan 137 warga binaan dengan kerugian mencapai Rp 1,4 miliar ini mengirimkan pesan kuat: TNI adalah korban dari pencurian identitas (identity theft). Para pelaku secara sengaja memoles profil mereka sebagai perwira atau bintara untuk mengeksploitasi rasa hormat dan kepercayaan masyarakat terhadap figur prajurit.

Dengan terbukanya fakta ini, citra TNI tetap tegak lurus. Keterlibatan TNI dalam konferensi pers pada Senin (11/5/2026) bukan sekadar pembelaan diri, melainkan upaya edukasi agar masyarakat lebih waspada terhadap akun-akun media sosial yang menggunakan atribut militer secara tidak sah.

KODAM XXI/Raden Inten telah menunjukkan bahwa jati diri prajurit adalah menjadi penolong, bukan penghasut. Komitmen untuk bekerja sama dengan kepolisian dalam memberantas jaringan penipuan asmara ini menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi oknum mana pun—baik di dalam maupun di luar institusi—untuk mencoreng martabat TNI. Sinergi lintas instansi ini menjadi preseden baik bahwa di bawah kepemimpinan yang transparan, kebenaran akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar di atas manipulasi teknologi.

Continue Reading

Review

Diplomasi “Sat Set” Prabowo dan Langkah Berani Menuju Kemandirian Energi Nuklir

Pelajari bagaimana Prabowo Subianto melalui diplomasi ‘sat set’ mengambil langkah berani menuju kemandirian energi nuklir Indonesia. Analisis mendalam tentang pertemuan dengan Rosatom dan dampaknya.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan pola yang konsisten: pragmatis, cepat, dan berorientasi pada hasil nyata atau yang populer dengan istilah “sat set”. Setelah resmi menjabat, Prabowo tidak membuang waktu untuk langsung masuk ke isu-isu strategis yang selama puluhan tahun hanya menjadi wacana di atas kertas. Salah satu indikator paling kuat dari gaya politik ini adalah pertemuan terbarunya dengan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, di Istana Kepresidenan Jakarta untuk membahas kerja sama nuklir damai.

Narasi yang berkembang dari pertemuan tersebut bukan sekadar soal kerja sama teknis, melainkan sebuah pernyataan politik yang tegas. Selama ini, isu nuklir di Indonesia selalu dibayangi oleh ketakutan publik dan keraguan birokrasi. Namun, di tangan Prabowo, hambatan psikologis itu seolah hendak diterjang. Langkah menghadirkan bos raksasa nuklir Rusia ke Istana menunjukkan bahwa Prabowo ingin Indonesia segera berlari mengejar ketertinggalan energi.

Gaya politik “sat set” Prabowo dalam konteks ini dapat dibaca melalui tiga perspektif utama. Pertama, Keamanan Energi sebagai Fondasi Kedaulatan. Prabowo memahami bahwa ambisi pertumbuhan ekonomi 8 persen tidak akan tercapai tanpa pasokan listrik yang stabil dan masif. Dengan melibatkan Rosatom, Prabowo sedang meletakkan batu pertama bagi diversifikasi energi yang tidak lagi bergantung pada fosil. Ini adalah politik yang tidak lagi sekadar berjanji, tapi langsung mencari solusi pada sumbernya.

Kedua, Diplomasi Non-Blok yang Aktif dan Berani. Di tengah tensi geopolitik global, mengundang perusahaan negara asal Rusia adalah langkah yang berisiko secara diplomatik bagi pemimpin yang ragu-ragu. Namun, bagi Prabowo, kepentingan nasional adalah panglima. Ia menunjukkan bahwa Indonesia bisa bekerja sama dengan siapa saja—baik Barat maupun Timur—selama itu mendatangkan manfaat bagi rakyat. Ini adalah gaya politik “pendekar” yang tidak mau didikte oleh arus kepentingan global.

Ketiga, Transformasi Narasi dari Ketakutan menjadi Peluang. Narasi nuklir damai yang diusung dalam pertemuan di Istana tersebut bertujuan untuk mengubah persepsi publik. Prabowo ingin menegaskan bahwa nuklir bukan lagi soal senjata atau bencana, melainkan soal kedaulatan medis (isotop radioaktif) dan ketahanan pangan melalui teknologi nuklir. Dengan langsung memimpin pembahasan di Istana, ia memberikan legitimasi politik tertinggi bahwa proyek ini adalah prioritas nasional, bukan sekadar proyek sampingan kementerian.

Namun, gaya “sat set” ini tentu membawa tantangan besar. Membangun infrastruktur nuklir tidak semudah membangun jalan tol; ia memerlukan presisi, regulasi yang ketat, dan transparansi yang tinggi. Publik akan menunggu apakah kecepatan bertindak Prabowo ini juga diimbangi dengan penguatan lembaga pengawas nuklir yang independen.

Sebagai kesimpulan, pertemuan Prabowo dengan Rosatom adalah sinyal kuat bahwa era “wacana tanpa eksekusi” telah berakhir. Indonesia sedang menyaksikan gaya politik baru yang lebih mengutamakan langkah nyata daripada retorika berkepanjangan. Jika komitmen nuklir damai ini berhasil diwujudkan, maka sejarah akan mencatat Prabowo sebagai pemimpin yang berhasil membawa Indonesia keluar dari bayang-bayang ketakutan energi menuju masa depan yang cerah dan mandiri. Gaya “sat set” ini bukan sekadar gaya bicara, melainkan sebuah cetak biru untuk Indonesia Maju yang sesungguhnya.

Continue Reading

Review

Sentil Trump, Iran Uji Nyali Sang Titan

Iran menetapkan lima syarat ketat untuk memulai negosiasi damai dengan AS, menolak proposal Washington dan memicu eskalasi baru.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Dunia diplomasi sedang menahan napas. Langkah berani Iran yang secara terang-terangan “menyentil” Donald Trump bukan sekadar gertakan sambal di meja perundingan, melainkan sebuah manuver geopolitik yang sangat berisiko. Di tengah kembalinya sang titan ke kursi kekuasaan, Teheran seolah sedang menguji batas kesabaran seorang pemimpin yang dikenal sulit ditebak dan gemar melakukan serangan balik yang tak terduga.

Apakah ini sebuah langkah strategis untuk mencari posisi tawar yang lebih kuat, atau justru sebuah blunder fatal yang akan memicu eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah? Satu hal yang pasti: ketika dua ego raksasa bertemu dalam perseteruan yang kian personal, batas antara diplomasi dan konfrontasi fisik menjadi sangat tipis. Mari kita bedah, apakah “sentilan” ini akan berakhir dengan kesepakatan baru yang mengejutkan, atau justru menjadi sumbu ledak bagi krisis yang jauh lebih besar.

Iran menegaskan tidak akan memasuki putaran kedua perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) kecuali lima syarat, yang ditetapkan Teheran untuk membangun kepercayaan dengan Washington, terpenuhi.
Penegasan itu, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Rabu (13/5/2026), disampaikan oleh kantor berita Iran, Fars News Agency, yang mengutip seorang sumber yang mengetahui informasi tersebut, dalam laporannya pada Selasa (12/5).

Sumber tersebut mengatakan bahwa Iran menganggap syarat-syarat itu sebagai “jaminan minimum” yang diperlukan untuk memulai negosiasi baru dengan AS.

Menurut laporan Fars News Agency, lima syarat yang ditetapkan Teheran itu mencakup “mengakhiri perang di semua front, terutama Lebanon”, mencabut sanksi-sanksi, melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan mengakui hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Iran, sebut sumber yang dikutip Fars News Agency, juga memberi tahu mediator Pakistan bahwa blokade laut AS yang terus berlanjut di Laut Arab dan Teluk Oman setelah gencatan senjata diberlakukan, telah semakin memperkuat rasa tidak percaya Teheran terhadap negosiasi dengan Washington.

Ditambahkan oleh Fars News Agency dalam laporannya bahwa syarat-syarat Iran tersebut didefinisikan semata-mata dalam kerangka menciptakan kepercayaan minimum untuk kembali ke perundingan, dan bahwa Teheran meyakini negosiasi baru tidak dapat dimulai tanpa implementasi praktis syarat-syarat tersebut.

Menurut Fars News Agency, Iran telah mengajukan lima syarat tersebut dalam proposal balasan menanggapi rencana perdamaian 14 poin yang terlebih dulu diajukan oleh AS, dalam upaya mengakhiri perang.

Rincian rencana perdamaian yang diusulkan Washington itu tidak secara gamblang diungkap ke publik. Namun laporan Fars News Agency menyebut proposal itu “sepenuhnya sepihak” dan bertujuan untuk mengamankan tujuan-tujuan perang AS yang gagal melalui negosiasi.

Laporan sejumlah media sebelumnya menyebutkan bahwa proposal Washington itu melibatkan nota kesepahaman satu halaman yang dimaksudkan mengakhiri pertempuran dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi tentang program nuklir Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran, yang disebutnya sebagai proposal “bodoh” dan “sampah”. Trump juga menyebut gencatan senjata AS-Iran yang diberlakukan sejak awal April dalam “kondisi kritis”.

Pemerintah Iran, pada Selasa (12/5), menolak gagasan untuk mengubah proposalnya. Perunding utama Teheran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru mengeluarkan ultimatum kepada AS bahwa “tidak ada alternatif lainnya” selain menerima syarat yang diajukan Iran untuk perdamaian Timur Tengah, atau menghadapi “kegagalan”.

Continue Reading

News

Prabowo dan ASEAN Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan

Hasil konkret kesepakatan mencakup penguatan ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA) untuk keamanan pasokan minyak dan energi, serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) sebagai cadangan beras darurat regional.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden Prabowo Subianto bersama para pemimpin negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah mencapai kesepakatan penting untuk memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dan pangan. Kesepakatan ini dihasilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan nyata untuk meningkatkan ketahanan dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Hasil konkret kesepakatan mencakup penguatan ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA) untuk keamanan pasokan minyak dan energi, serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) sebagai cadangan beras darurat regional.

Sugiono menegaskan bahwa inisiatif bersama ini merupakan respons langsung terhadap konflik geopolitik, termasuk yang memanas di kawasan Timur Tengah, yang diprediksi akan membawa dampak berantai bagi negara-negara ASEAN.

“Karena kita sadari bersama, sesuatu ataupun perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita, dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita. Inilah yang dirasakan dan dipahami betul oleh seluruh negara-negara ASEAN yang hadir dalam pertemuan tersebut,” tegas Sugiono dalam keterangan persnya pada hari Sabtu (9/5/2026).

Kesepakatan ini lahir dari tumbuhnya kesadaran kolektif yang kuat di antara para pemimpin kawasan. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, tantangan ekonomi, hingga perubahan iklim, para pemimpin ASEAN bersemangat menjadikan wilayah Asia Tenggara mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit menghadapi segala risiko dan guncangan dari luar.

Sugiono menambahkan, ada fokus khusus dalam membangun ketangguhan kawasan di dua bidang krusial.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh, bahwa dengan situasi dunia yang terjadi saat ini, diperlukan suatu inisiatif dan langkah bersama untuk menjadikan ASEAN ini sebagai suatu wilayah yang tangguh atau resilient. Ketangguhan ini khususnya kita bangun dan perkuat di dua sektor paling krusial, yaitu bidang energi dan bidang pangan,” ungkap Sugiono menjelaskan esensi pertemuan tersebut.

Pemerintah Indonesia memandang agenda kerja sama regional ini sangat sejalan dengan prioritas utama Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi paling mendasar dalam membangun kedaulatan serta ketahanan nasional.

“Saya kira ini juga sesuatu yang sudah menjadi, sejak awal, program utama dari pemerintahan yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto. Beliau menempatkan ketahanan energi dan ketahanan pangan sebagai hal yang paling mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara, yang harus dipenuhi oleh negara kita. Karena tanpa ketahanan di kedua sektor ini, kedaulatan negara akan sulit terwujud sepenuhnya,” tutur Sugiono menegaskan komitmen Indonesia di tingkat regional maupun nasional.

Continue Reading

News

Koperasi Merah Putih Jadi Motor Baru Ekonomi Desa 2026

Pemerintah mempercepat pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat ekonomi desa modern yang terhubung dengan akses KUR dan digitalisasi UMKM.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Pemerintah memperkuat strategi pengembangan ekonomi desa pada tahun 2026 melalui percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program ini diproyeksikan menjadi tulang punggung penguatan UMKM desa dengan mengintegrasikan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), distribusi logistik, hingga pemasaran produk lokal berbasis digital. Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda besar pembangunan ekonomi kerakyatan dan pengurangan kesenjangan wilayah.

Pemerintah menargetkan lebih dari 30.000 Koperasi Desa Merah Putih dapat beroperasi penuh pada periode April hingga Juli 2026. Jumlah tersebut merupakan bagian dari target nasional pembentukan lebih dari 80.000 unit koperasi di seluruh Indonesia. Kehadiran koperasi ini dirancang bukan hanya sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi sebagai pusat aktivitas ekonomi desa yang terintegrasi dan modern.

Dalam implementasinya, KDKMP akan menjalankan berbagai fungsi strategis. Selain menjadi agregator produk UMKM lokal, koperasi juga akan berperan sebagai pusat distribusi pupuk, LPG, dan sembako. Di sektor pertanian dan perikanan, koperasi didorong memiliki fasilitas cold storage dan layanan logistik untuk menjaga kualitas hasil produksi sekaligus memperluas akses pasar petani dan nelayan desa.

Dukungan pembiayaan menjadi salah satu faktor utama penguatan koperasi dan UMKM desa. Pemerintah meningkatkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2026 menjadi Rp320 triliun. Skema KUR tetap mempertahankan bunga rendah sebesar 6 persen efektif per tahun untuk segmen mikro dan kecil. Selain itu, pinjaman di bawah Rp100 juta tidak memerlukan agunan tambahan sehingga lebih mudah diakses pelaku usaha kecil di pedesaan.

Kebijakan baru juga memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pelaku UMKM. Pemerintah menghapus pembatasan frekuensi pengajuan KUR sehingga pelaku usaha dapat mengakses pembiayaan berkali-kali sesuai kebutuhan pengembangan usaha. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas produksi, memperluas usaha, dan meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat desa.

Sinergi antara koperasi dan UMKM menjadi fokus utama dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Produk-produk UMKM akan dipasarkan melalui konsep branding kolektif Koperasi Merah Putih agar memiliki daya saing lebih tinggi. Pemerintah juga mendorong digitalisasi koperasi melalui pemanfaatan teknologi dalam manajemen usaha, pencatatan keuangan, hingga pemasaran daring.

Dalam proses pembentukannya, desa-desa yang ingin mendirikan KDKMP harus melalui beberapa tahapan strategis. Tahapan tersebut dimulai dari Musyawarah Desa (Musdes), penyusunan AD/ART dan struktur organisasi, pembuatan akta notaris, pengurusan legalitas seperti AHU, NPWP, dan NIB, hingga implementasi sistem digital koperasi. Pemerintah menilai tata kelola profesional menjadi kunci keberhasilan koperasi desa agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Melalui program ini, pemerintah berharap Koperasi Merah Putih dapat menjadi gerbang utama penguatan UMKM desa. Dengan akses modal yang lebih luas, distribusi yang terintegrasi, serta dukungan teknologi dan pendampingan usaha, koperasi diharapkan mampu menciptakan aglomerasi ekonomi pedesaan yang mandiri, modern, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.

Continue Reading

News

MBG 2026 Serap Rp70,2 Triliun, Jangkau 61,96 Juta Penerima

Program Makan Bergizi Gratis menunjukkan percepatan signifikan dengan serapan anggaran 20,9% dan jangkauan puluhan juta penerima hingga April 2026.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 memasuki fase implementasi skala besar dengan capaian yang cukup progresif. Hingga 27 April 2026, pemerintah telah merealisasikan anggaran sebesar Rp70,2 triliun atau sekitar 20,9% dari total pagu Rp335 triliun yang dialokasikan dalam APBN tahun ini.

Struktur anggaran MBG terdiri atas pagu utama sebesar Rp268 triliun dan dana siaga Rp67 triliun. Menariknya, sebanyak 93% dana yang telah dicairkan disalurkan langsung ke daerah melalui mekanisme Virtual Account di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), guna memastikan distribusi yang cepat dan tepat sasaran.

Dari sisi penerima manfaat, program ini menargetkan 82,9 juta orang sepanjang 2026. Hingga akhir April, realisasi telah mencapai 61,96 juta penerima. Kelompok siswa menjadi penerima terbesar dengan jumlah sekitar 49,9 juta dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK. Sementara itu, kelompok non-siswa seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui tercatat sebanyak 10,5 juta orang.

Sebaran wilayah menunjukkan dominasi Pulau Jawa dengan 35,47 juta penerima, diikuti Sumatra 12,63 juta, Sulawesi 4,49 juta, Bali-Nusa Tenggara 3,52 juta, serta Maluku-Papua 2,88 juta. Distribusi ini mencerminkan konsentrasi populasi sekaligus tantangan geografis dalam pelaksanaan program berskala nasional.

Dari aspek operasional, pemerintah telah merencanakan 25.925 unit SPPG dengan ribuan di antaranya sudah beroperasi. Setiap unit dapur mengalokasikan 70% anggaran untuk bahan baku, 20% untuk operasional, dan 10% sebagai insentif tenaga kerja. Program ini juga berdampak signifikan terhadap ekonomi dengan penciptaan lebih dari 819.535 lapangan kerja baru.

Namun, tantangan logistik tetap menjadi perhatian utama. Untuk memenuhi kebutuhan protein harian, program ini diperkirakan membutuhkan sekitar 19.000 ekor sapi per hari. Skala kebutuhan ini menuntut kesiapan rantai pasok nasional, termasuk keterlibatan peternak lokal dan penguatan distribusi pangan.

Dengan capaian awal yang cukup kuat, MBG 2026 menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pangan domestik.

Continue Reading

Review

Hardiknas dan Cermin Diri Guru: Menata Ulang Integritas dan Komitmen

Hardiknas jadi waktu tepat untuk refleksi integritas guru dan komitmen pendidikan. Artikel ini menganalisis tantangan dan harapan bagi para pendidik di tengah dinamika perubahan.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang jeda—ruang untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya dengan jujur: sudahkah kita, para guru, menjalankan amanah ini dengan integritas dan komitmen yang utuh?

Menjadi guru bukanlah profesi yang statis. Ia adalah perjalanan panjang yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Bayangkan seorang guru yang hari ini berusia sekitar 50 tahun, yang mulai mengajar pada usia 23 tahun. Selama hampir tiga dekade pengabdiannya, ia telah melewati berbagai gelombang perubahan kurikulum dan kebijakan pendidikan di Indonesia. Ia memulai dari Kurikulum 1994, beralih ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, kemudian KTSP 2006, dilanjutkan dengan Kurikulum 2013 (K-13), hingga kini menghadapi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran diferensiasi dan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila dan pembelajaran mendalam. Setiap perubahan bukan sekadar pergantian dokumen, melainkan pergeseran paradigma—cara berpikir, cara mengajar, dan cara menilai.

Di balik semua itu, guru tetap berdiri di garis depan. Mereka belajar kembali, mengikuti pelatihan, menyusun perangkat pembelajaran, menyesuaikan administrasi, hingga beradaptasi dengan teknologi digital—dari RPP satu lembar, e-rapor, hingga berbagai platform pembelajaran daring. Di daerah terpencil, guru tetap hadir dengan segala keterbatasan. Di perkotaan, mereka menghadapi tuntutan inovasi dan digitalisasi yang terus meningkat. Ini adalah jasa besar yang sering kali tidak terlihat secara utuh. Namun, di balik dedikasi itu, realitas lain juga tidak bisa diabaikan. 

Guru tidak hanya berjuang di ruang kelas, tetapi juga di ruang-ruang kebijakan. Selama bertahun-tahun, guru memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan—melalui berbagai skema seperti sertifikasi guru (tunjangan profesi), tunjangan khusus daerah 3T, tunjangan fungsional, hingga berbagai kebijakan peningkatan kesejahteraan yang terus diperjuangkan pemerintah dalam reformasi pendidikan nasional. Data menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan kesejahteraan antar guru—terutama antara guru ASN dan non-ASN, serta antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Tidak sedikit guru honorer yang selama bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan yang jauh dari layak. Aspirasi ini disuarakan dalam berbagai forum kebijakan pendidikan, dan menjadi perhatian publik serta pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Perjuangan ini sah, wajar, dan penting karena tidak mungkin menuntut kualitas tinggi dari guru tanpa memastikan kesejahteraan dan keadilan yang layak. Namun di titik inilah kita perlu jernih membedakan dua hal: perjuangan untuk kesejahteraan, dan perjuangan untuk menjaga integritas sebagai guru. Keduanya sama pentingnya, tetapi tidak boleh saling menggantikan.

Di tengah dinamika tersebut, guru juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Berbagai laporan menunjukkan capaian literasi dan numerasi siswa Indonesia yang masih menjadi tantangan. Hasil asesmen internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Bahkan dalam berbagai asesmen nasional, ditemukan fakta bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dasar dalam membaca pemahaman dan berhitung sederhana. Di sisi lain, muncul pula berbagai kasus penyimpangan perilaku di kalangan pelajar—dari kekerasan verbal, perundungan, hingga tindakan yang mencerminkan lemahnya pembentukan karakter. Ironisnya, sebagian pelaku berasal dari siswa dengan capaian akademik yang baik. Situasi ini sering kali menempatkan guru dalam posisi yang kontradiktif. Di satu sisi, guru diharapkan menjadi agent of change, pelita kehidupan, bahkan figur ideal yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan. Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan keterbatasan: beban administrasi yang tinggi, tuntutan capaian akademik, tekanan sosial, serta kompleksitas karakter peserta didik.

Tidak jarang, guru merasa seolah berada di tengah pusaran tuntutan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi nyata. Namun justru di sinilah makna profesi guru diuji. Karena menjadi guru bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menjaga arah. Ki Hadjar Dewantara telah mengingatkan:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”Guru adalah teladan di depan, penggerak di tengah, dan penguat di belakang. Ini bukan sekadar semboyan. Ini adalah standar integritas.

Maka Hardiknas harus menjadi momentum autokritik. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menata ulang arah. Kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah kita masih mengajar dengan hati, atau sekadar memenuhi kewajiban?
Apakah kita memahami tujuan pendidikan, atau hanya menjalankan prosedur?
Apakah kita masih belajar, atau merasa cukup dengan apa yang sudah ada? Guru memang boleh lelah. Guru boleh merasa terbebani. Guru berhak memperjuangkan kesejahteraannya. Namun dalam saat yang sama, guru tidak boleh kehilangan kompas moralnya. Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, teknologi, atau kebijakan. Ia ditentukan oleh kualitas integritas guru itu sendiri.

Di titik ini, guru dituntut untuk tangguh—mampu bertahan dan terus berkembang di tengah tekanan. Sekaligus berdaya—mampu mengambil peran aktif dalam membentuk arah perubahan. Guru harus kembali pada esensinya: membentuk manusia. Bukan hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi membimbing mereka menjadi pribadi yang berkarakter, beretika, dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Hari Pendidikan Nasional adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali pilihan itu. Bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian.

Bahwa perjuangan untuk kesejahteraan harus berjalan, tetapi tidak boleh mengaburkan perjuangan yang lebih mendasar: menuntaskan diri sebagai pendidik. Keduanya bisa berjalan beriringan—tanpa harus saling meniadakan. Karena pada akhirnya, di tangan gurulah masa depan bangsa dibentuk. Dan dari ruang-ruang kelas yang sederhana, peradaban itu terus dibangun—bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan ketulusan, keteguhan, dan keyakinan bahwa setiap upaya yang dilakukan dengan integritas akan membawa perubahan. Guru adalah garda penjaga peradaban. Dan selama guru tetap menjaga itu, harapan bangsa akan selalu ada. Selamat menyambut Hari Pendidikan Nasional untuk para guru pejuang hebat. 

Penulis: Dr. Nanik Retnowati, M.Hum. Dekan FKIP UIKA Bogor

Continue Reading
News9 minutes ago

Sembilan WNI Misi Kemanusiaan Gaza Pulang ke Indonesia Sore Ini

News28 minutes ago

Danantara Jadi Motor Industrialisasi Baru

LakeyBanget2 hours ago

Antusias Penggemar Membludak, Konser 25 Tahun Westlife di GBK Sold Out

News3 hours ago

Negosiasi Iran Memanas, Donald Trump Batal Hadiri Pernikahan Putranya

LakeyBanget3 hours ago

JPO Asia Afrika Jadi Pusat Selebrasi Bobotoh, Catat Rute Konvoi Persib

News4 hours ago

Program 3 Juta Rumah Mulai Terealisasi, Hampir 1 Juta Unit Tercatat Hingga Mei 2026

LakeyBanget11 hours ago

Euforia Bobotoh Rayakan Persib Hattrick Juara Super League

LakeyBanget11 hours ago

Daftar Lengkap Penghargaan Super League 2025-2026: Borneo FC Dominasi Penghargaan Individu dan Tim

LakeyBanget15 hours ago

Ukir Sejarah, Persib Bandung Jadi Klub Pertama Hattrick Juara

News22 hours ago

Swasembada Beras Mulai Terwujud

News22 hours ago

Partai Kecoak Viral di India, Gerakan Satir Anak Muda Salip Popularitas Partai Modi

News23 hours ago

Prabowo Targetkan 1.000 Desa Nelayan Beroperasi pada 2026

News1 day ago

Purbaya Targetkan Rupiah Bisa Balik ke Rp 15.000!

LakeyBanget1 day ago

Herdman Pisahkan Skuad Timnas Indonesia di FIFA Match Day dan Piala ASEAN 2026, Apa Alasannya?

LakeyBanget1 day ago

BTS Resmi Gelar Konser Dua Hari di GBK, Intip Jadwal dan Harga Tiketnya

LakeyBanget1 day ago

Korlantas Polri Resmi Luncurkan SIM Digital, Barcode Berubah Tiap 10 Detik

LakeyBanget1 day ago

Lawan Oman dan Mozambik, PSSI Panggil 44 Pemain Timnas Indonesia

LakeyBanget2 days ago

Manchester City Abadikan Nama Pep Guardiola di Tribune Utara Stadion Etihad

News2 days ago

Kemendikdasmen Gandeng Sejumlah Lembaga Negara Kawal SPMB Ramah 2026

LakeyBanget2 days ago

I.League Resmi Gulirkan Piala Liga Mulai Musim 2026/27

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.