Monitorday.com –Keadilan ekologi dan keadilan ekonomi kerap dipertentangkan seolah keduanya tidak mungkin berjalan beriringan. Alam sering dianggap penghambat pembangunan, sementara ekonomi dicurigai sebagai biang kerusakan lingkungan. Padahal, akar persoalan kerap terletak pada cara manusia berbahasa. Bahasa membingkai realitas, membentuk cara berpikir, dan mengarahkan tindakan kolektif. Di titik inilah bahasa menjadi jembatan agar manfaat ekonomi dapat diraih tanpa merusak fondasi ekologis kehidupan.
Kesadaran inilah yang menjadi napas utama webinar bertajuk “Ekolinguistik: Bahasa, Lingkungan, dan Kesadaran Ekologis dalam Wacana Publik”, yang dimoderatori oleh M. Natsir Amir, Chief of UMCPRESS sekaligus News Writer di ORCA News dan Monitorday serta diselenggarakan oleh UMCPRESS, Kampung Inggris Purbalingga, dan Forum Mahasiswa S3 Linguistik Terapan UNJ Angkatan 2024, Via Zoom pada sabtu (17/01/2026).
Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, Anggota DPR RI sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan pada era Presiden Gus Dur dan Megawati, menegaskan bahwa bahasa, ekolinguistik, dan kesadaran ekologis merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan medium kebudayaan yang menentukan bagaimana manusia memaknai alam dan memosisikan diri di dalamnya. Cara manusia berbicara tentang laut, hutan, dan desa, pada hakikatnya mencerminkan relasi kuasa sekaligus tanggung jawab ekologis.
Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea ini juga menekankan bahwa bahasa bersifat performatif: ia bukan hanya menggambarkan realitas, tetapi ikut membentuk tindakan sosial dan kebijakan publik. Karena itu, bahasa pembangunan harus membumi dan menyentuh pengalaman sehari-hari masyarakat. Ia mencontohkan pentingnya penggunaan istilah “krisis iklim” alih-alih “perubahan iklim”, karena bahasa menentukan tingkat urgensi dan kepedulian publik.
Dalam konteks itu, Guru Besar IPB University ini pun menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan webinar ini, yang menurutnya merupakan contoh nyata gerakan generasi bangsa yang sadar bahwa keberlanjutan Indonesia hanya mungkin tercapai jika ekologi dan ekonomi dipikirkan secara bersamaan, bukan dipertentangkan.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Ifan Iskandar, Wakil Rektor I Universitas Negeri Jakarta sekaligus Guru Besar dalam bidang “Pemelajaran Swakelola Tata Bunyi Bahasa Inggris, Dinamika Makna, dan Kenisbian Kebenaran Ilmiah.” Bagi Prof. Ifan, keilmuan tidak berhenti pada produksi teks akademik atau laporan riset. Ilmu adalah suluk ilmiah sebuah perjalanan reflektif yang menuntut kejujuran intelektual dan kesadaran etis.
Ia mengajak peserta untuk memahami bahwa pembelajaran bahasa, khususnya tata bunyi bahasa Inggris, bukan sekadar soal pelafalan yang “benar” menurut standar baku. Kebenaran, dalam pandangannya, bukanlah batu karang yang kaku, melainkan aliran sungai yang bergerak mengikuti konteks sosial, budaya, dan strategi pembelajaran. Perspektif ini memperlihatkan bahwa bahasa adalah ekosistem hidup tempat bunyi, makna, manusia, dan lingkungan saling berinteraksi. Di sinilah ekolinguistik menemukan relevansinya: bahasa menjadi medium kesadaran ekologis sekaligus sarana pengelolaan makna secara mandiri.
Sementara itu, dari dimensi komunikasi publik, Didik Agus Suwarsono, Ph.D Candidate dari Adelaide University pun mengemukakan gagasan komunikasi publik sebagai infrastruktur ekologis. Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak hadir sebagai fakta alamiah semata, melainkan dikonstruksi melalui bahasa, wacana, dan interaksi sosial. Sebuah isu baru menjadi “masalah lingkungan” ketika ia berhasil dinarasikan, diterima, dan dirasakan relevansinya oleh publik.
Didik menjelaskan bahwa konstruksi isu lingkungan melibatkan otoritas ilmiah, pemopuler seperti aktivis dan tokoh publik, media massa, serta cultural resonance, kesesuaian pesan dengan nilai dan pengalaman budaya masyarakat. Ia menggunakan analogi yang kuat: sebagaimana jalan, pelabuhan, dan cold storage dibutuhkan untuk distribusi hasil perikanan, maka narasi, bahasa, dan komunikasi adalah infrastruktur yang memungkinkan distribusi kesadaran ekologis. Tanpa itu, kebijakan lingkungan akan kehilangan daya hidupnya.
Kemudian, Novanda Alim Setya Nugraha juga menyampaikan dari perspektif praksisnya. Ia berbicara dari pengalaman langsung mendesain Kampung Inggris Purbalingga, sebuah upaya menghidupkan bahasa dalam lanskap desa. Bagi Novanda, desa tidak lagi sekadar latar, melainkan ruang belajar hidup. Warga tidak hanya belajar bahasa Inggris sebagai keterampilan ekonomi, tetapi juga menikmati suasana desa sebagai bentuk penghargaan terhadap alam. Kehadiran pengunjung membuka sumber penghasilan baru, sementara kesadaran ekologis mendorong warga menjaga keasrian lingkungan. Dalam praktik ini, bahasa menjadi pintu masuk, ekonomi menjadi penguat, dan ekologi menjadi fondasi keberlanjutan.
Dari perspektif pedagogis disampaikan oleh Stella Sigrid Juliet, Doctoral Student in Applied Linguistics di UNJ, yang menegaskan bahwa pembelajaran bahasa harus bergerak menuju literasi kritis ekologis. Bahasa menjadi sarana memahami persoalan lokal, menumbuhkan empati, dan membangun tanggung jawab global.
Pada akhirnya, webinar ini menegaskan satu pesan kunci: bahasa bukan sekadar alat bicara, melainkan fondasi kesadaran dan tindakan. Ketika bahasa dipraktikkan sebagai suluk ilmiah, gerakan sosial, dan dedikasi kebangsaan, generasi bangsa tidak hanya belajar berbahasa tetapi belajar merawat masa depan.