Ruang Sujud
Hubungan Musa al-Hadi dengan Harun ar-Rasyid: Persaudaraan dan Perebutan Tahta
Monitorday.com – Dalam sejarah Dinasti Abbasiyah, kisah hubungan antara Musa al-Hadi dan Harun ar-Rasyid menjadi salah satu bab paling menarik — kisah tentang dua bersaudara yang sama-sama dilahirkan untuk memimpin, namun akhirnya terjebak dalam pertarungan politik yang pahit. Di antara cinta keluarga dan ambisi kekuasaan, keduanya menunjukkan dua sisi berbeda dari kepemimpinan Abbasiyah: kekuatan dan kebijaksanaan.
Musa al-Hadi dan Harun ar-Rasyid adalah putra dari Khalifah Al-Mahdi dan ibunya yang terkenal, Al-Khayzuran, seorang perempuan cerdas, berpengaruh, dan berwawasan luas. Sejak kecil, keduanya dididik dengan keras oleh ayah mereka untuk memahami tanggung jawab kekuasaan. Al-Hadi sebagai putra sulung dipersiapkan menjadi penerus pertama, sementara Harun sebagai adik dididik untuk menjadi tangan kanan kekhalifahan.
Namun, begitu Al-Mahdi wafat pada tahun 169 H (785 M) dan Al-Hadi naik tahta, hubungan dua bersaudara itu mulai berubah. Al-Hadi yang baru berusia 24 tahun merasa dirinya cukup kuat untuk memimpin tanpa bayangan siapa pun — baik ibunya, Al-Khayzuran, maupun adiknya, Harun. Ia ingin membuktikan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangannya, bukan diwariskan secara otomatis.
Masalah mulai muncul ketika Al-Hadi ingin mencabut status Harun sebagai putra mahkota yang telah ditetapkan ayah mereka sebelumnya. Dalam pandangan Al-Hadi, Harun masih muda dan belum berpengalaman dalam urusan politik. Ia juga khawatir para pendukung Harun di kalangan militer dan birokrat akan mengancam kekuasaannya. Maka, ia berniat menggantikan posisi pewaris tahta itu dengan anaknya sendiri, Ja’far bin Musa al-Hadi, yang masih kecil.
Harun ar-Rasyid, meskipun lebih muda, dikenal cerdas, tenang, dan berwibawa. Ia tidak secara terbuka melawan, namun langkah-langkah politiknya membuat Al-Hadi curiga. Banyak pejabat dan ulama yang lebih menyukai Harun karena kelembutan dan kebijaksanaannya, berbeda dengan sikap keras Al-Hadi yang terkenal temperamental. Popularitas Harun yang meningkat inilah yang membuat Al-Hadi semakin gelisah.
Dalam beberapa riwayat, Al-Hadi bahkan memerintahkan agar Harun diawasi ketat dan membatasi geraknya di Baghdad. Ia menolak nasihat ibunya, Al-Khayzuran, yang berulang kali meminta agar kedua putranya berdamai. Namun, Al-Hadi bersikeras bahwa kekuasaan tidak bisa dibagi. Dalam sebuah dialog terkenal yang dicatat oleh sejarawan al-Tabari, ia berkata:
> “Tidak boleh ada dua singa di satu gunung, dan tidak boleh ada dua khalifah di satu dunia.”
Sementara itu, Al-Khayzuran berusaha keras menjaga hubungan antara kedua putranya. Ia mencintai keduanya, tetapi lebih mempercayai Harun karena wataknya yang lebih lembut dan rasional. Ia khawatir, kerasnya Al-Hadi akan membawa bencana bagi keluarga dan negara. Maka, diam-diam ia membantu menjaga keselamatan Harun dan menggalang dukungan politik agar haknya sebagai putra mahkota tidak dicabut.
Ketegangan pun semakin meningkat. Para penasihat istana terbagi dua kubu: sebagian mendukung Al-Hadi sebagai pemimpin kuat yang berani, sementara sebagian lain memihak Harun yang dinilai lebih bijak dan berpandangan luas. Situasi ini menciptakan atmosfer kecurigaan dan intrik politik di dalam istana Baghdad.
Puncak konflik terjadi ketika Al-Hadi secara terbuka menyatakan niatnya menggantikan Harun dengan anaknya sendiri. Ia mengumpulkan pejabat dan meminta mereka bersumpah setia kepada Ja’far. Namun, sebagian besar menolak, dengan alasan baiat kepada Harun sudah disahkan oleh Al-Mahdi dan tidak bisa dibatalkan. Penolakan ini membuat Al-Hadi murka, dan ia semakin curiga bahwa ibunya dan Harun berada di balik perlawanan itu.
Beberapa sumber sejarah bahkan menyebut bahwa Al-Hadi merencanakan untuk menyingkirkan Harun secara diam-diam. Namun sebelum rencana itu terjadi, pada tahun 170 H (786 M), Al-Hadi meninggal mendadak dalam usia muda. Sebagian mengatakan ia meninggal karena sakit, namun riwayat lain menuduh Al-Khayzuran terlibat dalam kematiannya, karena takut anak sulungnya akan membunuh Harun dan menghancurkan stabilitas dinasti.
Kematian Al-Hadi mengakhiri konflik berdarah itu, dan Harun ar-Rasyid naik tahta menggantikannya. Namun, peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Abbasiyah. Harun sendiri disebut sangat berduka atas kematian kakaknya, meski hubungan mereka tegang di akhir hayat. Dalam satu kisah, ia berkata kepada penasihatnya:
> “Andai kakakku masih hidup, aku lebih memilih menjadi prajuritnya daripada menjadi khalifah.”
Kisah dua bersaudara ini menjadi refleksi klasik tentang dilema kekuasaan dan keluarga. Mereka sama-sama anak dari dinasti besar, sama-sama dididik untuk memimpin, namun terpisah oleh ambisi dan tekanan politik istana. Al-Hadi mewakili kekuatan dan keberanian, sementara Harun mewakili kebijaksanaan dan visi peradaban.
Meski berakhir tragis, hubungan keduanya memberi pelajaran penting: bahwa kekuasaan tanpa kasih akan memecah belah, dan kasih tanpa kebijaksanaan bisa menghancurkan tatanan. Dari konflik inilah, lahir generasi kepemimpinan baru di bawah Harun ar-Rasyid yang belajar dari kesalahan masa lalu — memadukan kekuatan kakaknya dengan kelembutannya sendiri.
Kisah Musa al-Hadi dan Harun ar-Rasyid bukan sekadar pertarungan tahta, tapi drama manusia tentang cinta keluarga, tanggung jawab, dan ambisi. Ia menjadi cermin bahwa di balik kemegahan istana Abbasiyah, tersimpan perjuangan batin antara darah dan kekuasaan — antara menjadi saudara dan menjadi penguasa.
Ruang Sujud
Jerman Perluas Pendidikan Islam
Sejumlah negara bagian di Jerman terus memperluas pendidikan agama Islam di sekolah negeri sebagai bagian dari penguatan integrasi dan pemenuhan hak beragama bagi peserta didik Muslim.
Monitorday.com– Pemerintah di sejumlah negara bagian Jerman melanjutkan pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah negeri. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memberikan layanan pendidikan yang setara bagi peserta didik Muslim sekaligus memperkuat integrasi sosial di tengah masyarakat yang semakin beragam.
Menurut Deutsche Welle (DW), pelajaran agama Islam kini telah diterapkan di beberapa negara bagian, seperti North Rhine-Westphalia, Hesse, Lower Saxony, dan Bavaria. Mata pelajaran tersebut diajarkan dalam bahasa Jerman dengan kurikulum yang disusun bersama akademisi dan perwakilan organisasi Islam agar sesuai dengan standar pendidikan nasional sekaligus mencerminkan nilai-nilai Islam yang moderat.
Program ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran akidah dan ibadah, tetapi juga membahas etika, toleransi, kehidupan bermasyarakat, serta dialog antaragama. Pemerintah Jerman menilai pendidikan agama Islam yang terstruktur di sekolah dapat membantu generasi muda Muslim memahami identitas keagamaannya sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap masyarakat Jerman.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut, berbagai universitas di Jerman juga membuka program studi pendidikan Islam dan teologi Islam. Lulusan program ini dipersiapkan menjadi guru agama Islam profesional yang memenuhi standar kompetensi nasional. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga pengajar dari luar negeri serta memperkuat kualitas pendidikan Islam berbasis konteks lokal.
Menurut Federal Ministry of Education and Research (BMBF), pemerintah juga terus mendukung pengembangan pusat-pusat teologi Islam di perguruan tinggi sebagai sarana penelitian, pengembangan kurikulum, serta peningkatan kualitas pendidikan guru agama Islam. Kebijakan ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap keberadaan komunitas Muslim yang kini merupakan salah satu kelompok agama terbesar di Jerman.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Jerman semakin bergerak menuju sistem yang terintegrasi dalam pendidikan nasional. Selain memberikan hak pendidikan agama kepada peserta didik Muslim, kebijakan ini diharapkan memperkuat kohesi sosial, mendorong dialog antarbudaya, dan membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Ruang Sujud
Pertumbuhan Mualaf Menguat di Inggris
Program pendampingan mualaf dan kegiatan dakwah terbuka di berbagai masjid di Inggris menunjukkan perkembangan positif, didukung pembentukan pusat pembinaan khusus bagi Muslim baru.
Monitorday.com– Perkembangan komunitas Muslim di Inggris kembali menunjukkan tren positif melalui meningkatnya perhatian terhadap pembinaan mualaf. Salah satu langkah terbaru dilakukan East London Mosque dengan meresmikan Discover One New Muslim Hub, sebuah pusat khusus untuk mendampingi masyarakat yang baru memeluk Islam maupun mereka yang masih ingin mengenal ajaran Islam lebih dalam.
Menurut East London Mosque, pusat pembinaan tersebut resmi diluncurkan pada 24 April 2026 sebagai bagian dari komitmen masjid dalam memberikan dukungan berkelanjutan kepada para mualaf. Fasilitas ini menyediakan pendampingan spiritual, kelas dasar Islam, bimbingan ibadah, serta wadah membangun jejaring sosial bagi Muslim baru.
Selain penguatan layanan di tingkat komunitas, organisasi Convert Muslim Foundation bersama Islamic Education and Research Academy (iERA) juga meluncurkan Great British Muslim Convert Study. Penelitian berskala nasional ini bertujuan memetakan jumlah, latar belakang, motivasi, serta tantangan yang dihadapi para mualaf di Inggris sehingga program pembinaan dapat disusun berdasarkan data yang lebih akurat.
Berbagai masjid di Inggris juga terus mengembangkan kegiatan dakwah yang inklusif melalui program Visit My Mosque, yaitu hari terbuka bagi masyarakat umum untuk mengenal Islam secara langsung. Program ini dinilai efektif membangun dialog lintas agama, mengurangi kesalahpahaman terhadap Islam, serta mempererat hubungan antara komunitas Muslim dan masyarakat luas.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan Islam di Inggris tidak hanya ditandai oleh bertambahnya jumlah mualaf, tetapi juga oleh semakin kuatnya ekosistem pembinaan, pendidikan, dan integrasi sosial yang mendukung keberlangsungan komunitas Muslim di negara tersebut.
News
Pembiayaan Syariah Bantu UMKM Naik Kelas
Dukungan pembiayaan syariah membantu Alfriandra Souvenir berkembang dari usaha rumahan bermodal Rp7 juta menjadi produsen suvenir dengan pasar yang semakin luas.
Monitorday.com– Pembiayaan berbasis syariah terus memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah. Salah satu contohnya terlihat pada perkembangan Alfriandra Souvenir, usaha yang dirintis sejak 1997 dengan modal awal sekitar Rp7 juta dan kemudian bertumbuh menjadi produsen suvenir dengan kapasitas usaha yang lebih besar.
Usaha tersebut berawal dari skala rumahan dengan proses produksi yang terbatas. Seiring meningkatnya permintaan, kebutuhan modal kerja, peralatan, dan pengembangan pasar juga bertambah. Dukungan pembiayaan syariah kemudian menjadi salah satu faktor yang membantu usaha tersebut memperkuat operasional dan meningkatkan kapasitas produksi.
Bank Syariah Indonesia menilai pembiayaan bagi UMKM tidak hanya berfungsi sebagai tambahan modal, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Melalui pembiayaan yang sesuai prinsip syariah, pelaku usaha memperoleh akses pendanaan yang dapat digunakan untuk membeli bahan baku, memperbaiki sarana produksi, menambah tenaga kerja, dan memperluas jaringan pemasaran.
Pertumbuhan Alfriandra Souvenir menunjukkan bahwa usaha kecil memiliki peluang besar untuk naik kelas ketika memperoleh dukungan pembiayaan, pendampingan, dan akses pasar secara berkelanjutan. Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan pentingnya pengelolaan usaha yang disiplin, inovasi produk, serta kemampuan menjaga kualitas di tengah persaingan.
Pembiayaan syariah memiliki karakteristik yang menekankan prinsip keadilan, transparansi, dan kemitraan. Skema ini dinilai sesuai bagi pelaku UMKM yang membutuhkan pembiayaan produktif sekaligus ingin menjalankan usahanya berdasarkan nilai-nilai ekonomi Islam.
Dampak pembiayaan tidak berhenti pada pertumbuhan satu perusahaan. Ketika UMKM berkembang, kebutuhan tenaga kerja, bahan baku, distribusi, dan jasa pendukung juga meningkat. Kondisi tersebut menciptakan efek berganda bagi ekonomi lokal serta membuka peluang pendapatan bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.
UMKM selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Namun, keterbatasan modal, rendahnya literasi keuangan, dan akses pasar masih menjadi kendala bagi sebagian pelaku usaha. Karena itu, perbankan syariah diharapkan tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga memberikan pendampingan manajemen dan penguatan kapasitas bisnis.
Kisah Alfriandra Souvenir menjadi gambaran bahwa pembiayaan yang tepat dapat membantu usaha rumahan berkembang secara bertahap dan berkelanjutan. Penguatan pembiayaan syariah bagi UMKM diharapkan semakin memperluas kesempatan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperkokoh ekonomi umat.
News
Nasabah Bank Emas BSI Melonjak 700 Persen
Bisnis bank emas BSI mencatat pertumbuhan pesat dengan jumlah nasabah menembus 1,3 juta orang dan perdagangan emas mencapai 8,06 ton.
Monitorday.com– PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI mencatat pertumbuhan signifikan dalam layanan bank emas atau bullion bank. Hingga Juni 2026, jumlah nasabah layanan bullion BSI meningkat sekitar 700 persen secara tahunan hingga menembus 1,3 juta orang.
Pertumbuhan jumlah nasabah tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi dan penyimpan nilai. Ketidakpastian ekonomi global serta tingginya permintaan terhadap aset aman turut mendorong masyarakat memilih emas untuk melindungi nilai kekayaannya.
Sepanjang periode tersebut, BSI tercatat telah memperdagangkan sebanyak 8,06 ton emas. Peningkatan transaksi itu juga mendorong pendapatan berbasis komisi atau fee-based income dari bisnis emas tumbuh sekitar 712 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut memperkuat posisi BSI sebagai salah satu pelopor layanan bank emas berbasis prinsip syariah di Indonesia. Layanan yang disediakan mencakup pembelian dan penjualan emas, cicilan emas, gadai emas, tabungan emas, hingga penitipan emas yang dapat diakses melalui jaringan kantor maupun aplikasi digital BYOND by BSI.
Perkembangan bisnis bullion BSI juga didukung penguatan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Danantara Indonesia. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan investasi negara, memperkuat likuiditas, serta membangun ekosistem emas nasional yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Kemudahan transaksi secara digital menjadi salah satu faktor yang meningkatkan ketertarikan masyarakat. Nasabah dapat membeli emas dalam nominal terjangkau tanpa harus langsung menyimpan emas fisik secara mandiri. Sistem tersebut dinilai memberikan akses investasi yang lebih praktis, aman, dan sesuai dengan prinsip syariah.
Pertumbuhan bank emas juga berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian nasional. Ekosistem bullion yang kuat dapat mendukung industri pertambangan, pengolahan emas, perhiasan, perdagangan, hingga pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Ke depan, BSI diharapkan terus memperkuat edukasi dan literasi masyarakat mengenai investasi emas. Nasabah tetap perlu memahami tujuan investasi, risiko perubahan harga, biaya transaksi, serta kesesuaian produk dengan kondisi keuangan masing-masing agar emas tidak hanya menjadi tren, tetapi menjadi bagian dari perencanaan keuangan syariah yang sehat.
News
Fatwa Kripto Picu Perdebatan Syariah di Pakistan
Regulator aset virtual Pakistan meminta ulama membedakan kripto spekulatif dengan token berbasis aset nyata agar inovasi keuangan digital tetap berjalan sesuai prinsip syariah.
Monitorday.com– Upaya Pakistan mengembangkan industri aset digital menghadapi tantangan setelah Jamia Darul Uloom Karachi mengeluarkan fatwa yang menyatakan mata uang kripto tidak diperbolehkan menurut hukum Islam. Lembaga pendidikan Islam berpengaruh tersebut menilai kripto tidak dapat dikategorikan sebagai harta yang diakui secara syariah dan tidak memenuhi persyaratan sebagai alat pembayaran yang sah.
Fatwa itu mendorong Pakistan Virtual Assets Regulatory Authority (PVARA) meminta penjelasan lebih terperinci. Ketua PVARA Bilal bin Saqib mengatakan penilaian syariah seharusnya tidak menyamakan seluruh aset digital karena karakter, fungsi, dan aset yang mendasarinya dapat berbeda-beda.
Regulator meminta para ulama membedakan mata uang kripto yang didominasi aktivitas spekulatif dengan token digital yang didukung aset nyata. Token berbasis emas, sukuk, obligasi pemerintah, atau komoditas dinilai dapat memiliki karakter berbeda karena mempunyai aset dasar yang jelas dan dapat diverifikasi. Karena itu, setiap produk digital dinilai perlu diperiksa secara tersendiri berdasarkan struktur dan penggunaannya.
PVARA menegaskan tidak sedang menolak pandangan para ulama. Regulator justru ingin membangun dialog agar pengembangan teknologi blockchain di Pakistan memiliki kerangka syariah yang jelas. Pendekatan tersebut dianggap penting karena Pakistan ingin menjadi salah satu pusat teknologi finansial Islam dan tidak hanya menjadi pasar perdagangan kripto spekulatif.
Perdebatan muncul ketika Pakistan sedang mempercepat pengaturan industri aset virtual. Melalui regulasi aset virtual yang diberlakukan pada 2026, PVARA diberi kewenangan untuk memberikan lisensi dan mengawasi penyedia layanan aset digital. Bank sentral Pakistan juga telah mengizinkan bank membuka rekening bagi perusahaan aset virtual yang memiliki lisensi, dengan ketentuan kepatuhan dan pencegahan pencucian uang yang ketat.
Meski memberikan akses perbankan, bank-bank Pakistan tidak diperbolehkan membeli atau menyimpan aset virtual menggunakan dana mereka sendiri maupun dana nasabah. Penyedia layanan juga harus memisahkan dana nasabah dalam rekening khusus dan tetap menjalani pemeriksaan risiko serta pelaporan transaksi mencurigakan.
Pakistan sebelumnya telah menjajaki sejumlah proyek aset digital, termasuk tokenisasi aset pemerintah dan penggunaan stablecoin untuk pembayaran lintas negara. Pemerintah juga membuka proses perizinan bagi sejumlah bursa kripto global. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Islamabad menarik investasi, mempercepat pembayaran internasional, dan memodernisasi sistem keuangan.
Fatwa dari Jamia Darul Uloom Karachi diperkirakan dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap aset digital, terutama di luar kelompok investor perkotaan. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, kejelasan status syariah menjadi faktor penting bagi perkembangan industri keuangan baru di Pakistan.
Perdebatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi blockchain dan kripto tidak dapat dinilai sebagai satu kelompok yang sepenuhnya seragam. Aset digital yang tidak memiliki dasar nilai dan diperdagangkan secara spekulatif dapat menimbulkan persoalan berbeda dibandingkan token yang mewakili emas, sukuk, properti, atau aset nyata lainnya.
Pakistan kini menghadapi tantangan untuk mempertemukan inovasi teknologi dengan ketentuan syariah. Hasil dialog antara regulator dan ulama akan menentukan apakah negara tersebut mampu mengembangkan ekosistem aset digital yang aman, transparan, serta sesuai prinsip keuangan Islam tanpa membuka ruang bagi spekulasi berlebihan.
News
Pemukim Israel Bakar Dua Masjid di Tepi Barat
Dua masjid di Qusra dan Kour dibakar dalam rangkaian serangan pemukim Israel setelah bentrokan mematikan memperburuk ketegangan di Tepi Barat.
Monitorday.com– Pemukim Israel dilaporkan menyerang sejumlah desa Palestina dan membakar sedikitnya dua masjid di wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Minggu dini hari, 26 Juli 2026. Serangan terjadi di tengah meningkatnya kekerasan setelah bentrokan mematikan di sekitar Desa Tal, barat daya Nablus, yang menewaskan enam orang.
Salah satu masjid yang menjadi sasaran berada di Qusra, sebelah selatan Kota Nablus. Masjid tersebut masih dalam tahap pembangunan dan disebut hampir selesai ketika dibakar. Bangunan mengalami kerusakan akibat api, sementara tulisan berbahasa Ibrani bernada balas dendam ditemukan pada bangunan di sekitar lokasi.
Serangan lain terjadi di Desa Kour, selatan Tulkarem. Pemukim dilaporkan membakar sebuah masjid hingga menyebabkan kerusakan pada sebagian bangunan dan interiornya. Dalam sejumlah laporan, warga dan jemaah berhasil mencegah api menyebar lebih luas setelah mengetahui adanya upaya pembakaran.
Rangkaian serangan tersebut berlangsung setelah bentrokan pada Jumat, 24 Juli 2026, di sekitar Desa Tal. Empat warga Palestina dan dua warga Israel—yang menurut sejumlah laporan merupakan personel militer atau petugas keamanan setempat—tewas dalam konfrontasi antara pemukim Israel dan penduduk desa. Kronologi kejadian masih diperdebatkan oleh pihak Palestina dan Israel.
Pihak Palestina menilai pembakaran masjid merupakan bagian dari gelombang serangan pemukim yang semakin sistematis terhadap warga, lahan pertanian, rumah, dan tempat ibadah. Sejumlah pejabat Palestina mendesak komunitas internasional menekan Israel untuk menghentikan kekerasan dan memberikan perlindungan kepada penduduk sipil di wilayah pendudukan.
Militer Israel mengakui terjadinya kekerasan dan menyatakan mengecam serangan terhadap tempat-tempat keagamaan. Aparat Israel menyebut penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku pembakaran dan perusakan. Namun, kelompok hak asasi manusia dan warga Palestina berulang kali mempertanyakan lemahnya penegakan hukum terhadap pemukim yang terlibat dalam kekerasan.
Setelah bentrokan di Tal, pemerintah Israel mengerahkan pasukan tambahan, memasang blokade jalan, dan melakukan operasi penangkapan besar-besaran di kawasan Nablus. Lebih dari 100 orang dilaporkan ditahan dalam operasi tersebut, sementara warga Palestina mengatakan pembatasan pergerakan semakin menyulitkan aktivitas sehari-hari.
Kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam sepanjang 2026. Data yang dikutip Associated Press menyebut sedikitnya 87 warga Palestina dan tiga warga Israel telah meninggal di wilayah tersebut sejak awal tahun, termasuk warga Palestina yang tewas dalam serangan pemukim.
Sebagian besar masyarakat internasional menilai permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional, sementara Israel menolak pandangan tersebut. Ekspansi permukiman dan serangan terhadap desa Palestina terus meningkatkan kekhawatiran bahwa situasi dapat berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Pembakaran dua masjid memperlihatkan bahwa eskalasi di Tepi Barat tidak hanya mengancam keselamatan warga sipil, tetapi juga menyasar tempat ibadah yang memiliki kedudukan penting bagi masyarakat. Serangan tersebut kembali memunculkan seruan agar tempat suci dilindungi dan seluruh pihak menahan diri dari tindakan yang dapat memperbesar ketegangan agama dan politik.
News
Indonesia dan 7 Negara Muslim Bersatu Bela Al-Aqsa
Indonesia bersama tujuh negara Arab dan mayoritas Muslim mengecam keras eskalasi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa dan menyerukan dunia mengambil sikap tegas.
Monitorday.com– Indonesia bersama Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Türkiye, dan Uni Emirat Arab mengecam keras eskalasi tindakan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa atau Al-Haram Al-Sharif di Yerusalem Timur yang diduduki. Kecaman disampaikan melalui pernyataan bersama para menteri luar negeri delapan negara setelah terjadinya masuknya kelompok pemukim Israel secara massal ke kawasan suci tersebut.
Para menteri luar negeri secara khusus menyoroti masuknya pemukim yang dipimpin sejumlah menteri Israel, pengibaran bendera Israel di halaman kompleks, hingga pendirian dua tenda oleh kepolisian Israel. Dalam pernyataan bersama, tindakan tersebut disebut provokatif dan tidak dapat diterima karena dinilai melanggar hukum internasional, resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta status quo historis dan hukum tempat-tempat suci di Yerusalem Timur.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Menteri Keamanan Nasional Israel dari kelompok sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, memasuki kompleks Al-Aqsa bersama ratusan warga Israel pada 23 Juli 2026. Kunjungan tersebut bertepatan dengan peringatan Tisha B’Av dalam tradisi Yahudi dan kembali memicu kecaman dari Palestina serta sejumlah negara Arab dan Muslim. (Dawn)
Delapan negara juga memperingatkan bahwa tindakan provokatif dan seruan untuk melakukan lebih banyak aktivitas di kawasan Al-Aqsa berpotensi meningkatkan kebencian dan ekstremisme. Situasi tersebut dinilai dapat menghambat upaya mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan solusi dua negara.
Dalam pernyataan itu, para menteri menegaskan penolakan terhadap setiap upaya mengubah status quo historis dan hukum di Yerusalem. Mereka kembali mengakui peran khusus Kerajaan Yordania melalui Hashemite custodianship dalam menjaga tempat-tempat suci Islam dan Kristen di kota tersebut.
Para menteri juga menegaskan seluruh kawasan Masjid Al-Aqsa seluas sekitar 144 dunam merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Menurut pernyataan tersebut, Departemen Wakaf Yerusalem dan Urusan Masjid Al-Aqsa yang berada di bawah Kementerian Awqaf dan Urusan Islam Yordania merupakan lembaga yang memiliki kewenangan mengelola kawasan tersebut dan mengatur akses masuk.
Status quo yang telah berlangsung selama puluhan tahun pada prinsipnya memungkinkan umat Yahudi mengunjungi kawasan tersebut, tetapi tidak melakukan ibadah di sana, sementara umat Islam menjalankan ibadah di kompleks Al-Aqsa. Karena itu, perubahan praktik maupun pembatasan akses menjadi isu yang sangat sensitif dan berulang kali memicu ketegangan di Yerusalem.
Indonesia dan tujuh negara lainnya juga mendesak Israel, sebagai kekuatan pendudukan, segera mencabut pembatasan akses menuju Kota Tua Yerusalem dan tidak menghalangi umat Islam yang hendak beribadah di Masjid Al-Aqsa. Pembatasan akses yang diskriminatif dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional dan upaya mengubah status quo kawasan suci tersebut.
Selain menyerukan penghentian tindakan Israel, delapan negara meminta masyarakat internasional mengambil posisi yang lebih tegas untuk menghentikan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem. Pernyataan bersama tersebut menunjukkan Al-Aqsa tetap menjadi salah satu isu yang mampu menyatukan posisi diplomatik negara-negara Muslim di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Palestina.
News
OKI Latih Tenaga Kesehatan Benin
Pelatihan penanganan perdarahan pascapersalinan digelar untuk memperkuat pelayanan darurat serta menekan angka kematian ibu di Benin.
Monitorday.com– Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersama Standing Committee on Scientific and Technological Cooperation atau COMSTECH dan Kementerian Kesehatan Benin menggelar pelatihan penanganan perdarahan pascapersalinan bagi tenaga kesehatan di Cotonou, Benin, pada 13–16 Juli 2026.
Program tersebut difokuskan pada pencegahan dan penanganan perdarahan pascapersalinan sebagai bagian dari pelayanan obstetri darurat. Pelatihan diharapkan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan sekaligus memperkuat kualitas pelayanan bagi ibu, bayi baru lahir, dan anak.
Peserta pelatihan berasal dari fasilitas kesehatan di wilayah Cotonou 5 dan Cotonou 6. Mereka memperoleh pembelajaran melalui kuliah teori, simulasi praktik, dan pelatihan klinis agar mampu mengambil tindakan secara cepat ketika menghadapi kondisi darurat persalinan.
Asisten Sekretaris Jenderal OKI Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Aftab Ahmad Khokhar, mengatakan perdarahan pascapersalinan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia. Padahal, risiko kematian dapat ditekan apabila tersedia tenaga terampil, sistem rujukan yang efektif, dan akses cepat terhadap pelayanan obstetri darurat.
Menurut Khokhar, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu langkah berkelanjutan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Program tersebut juga mencerminkan solidaritas serta kerja sama ilmiah antarnegara anggota OKI dalam mengubah pengetahuan medis menjadi pelayanan kesehatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Koordinator Jenderal COMSTECH, Mohammad Iqbal Choudhary, menjelaskan bahwa pelatihan di Benin menjadi bagian dari strategi memperkuat kerja sama ilmiah, kapasitas institusi, dan pemerataan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas di negara-negara anggota OKI.
Sesi pelatihan dipandu oleh Fiza Ali Khan dan Sana Khan dengan penekanan pada keterampilan praktis menghadapi kegawatdaruratan obstetri. Metode berbasis simulasi digunakan agar peserta tidak hanya memahami prosedur secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi klinis.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menekankan pentingnya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan cepat terhadap perdarahan setelah melahirkan. Tenaga kesehatan perlu memperoleh pelatihan praktis serta didukung fasilitas yang mampu menyediakan obat dan pelayanan darurat untuk menangani kondisi tersebut.
Melalui program ini, OKI dan COMSTECH berharap tenaga kesehatan Benin semakin siap menangani komplikasi persalinan. Penguatan kemampuan tenaga medis di tingkat layanan terdepan dinilai penting untuk mengurangi kematian ibu dan bayi serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan negara anggota.
News
Jemaah Umrah Melonjak, Indonesia Terbesar Kedua
Indonesia menempati posisi kedua negara asal jemaah umrah terbanyak pada awal musim 1448 Hijriah dengan sekitar 170 ribu orang.
Monitorday.com– Jumlah jemaah yang tiba di Arab Saudi menggunakan visa umrah meningkat 22,5 persen pada awal musim umrah 1448 Hijriah. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat sebanyak 931.500 jemaah masuk ke negara tersebut sejak 15 Zulhijah hingga akhir Muharam.
Secara keseluruhan, jumlah jemaah umrah yang datang dari luar Arab Saudi pada periode yang sama telah melampaui 1,27 juta orang. Jumlah tersebut mencakup jemaah yang masuk menggunakan visa umrah maupun jenis izin masuk lain yang dapat digunakan untuk melaksanakan ibadah umrah.
Indonesia menjadi negara asal jemaah umrah terbanyak kedua dengan sekitar 170 ribu orang. Posisi pertama ditempati Pakistan dengan sekitar 200 ribu jemaah, sedangkan Irak berada di peringkat ketiga dengan jumlah mencapai 130 ribu jemaah.
Besarnya jumlah jemaah asal Indonesia menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk melaksanakan ibadah umrah. Indonesia selama ini menjadi salah satu pasar utama penyelenggaraan perjalanan umrah karena memiliki jumlah penduduk Muslim yang besar dan jaringan penyelenggara perjalanan ibadah yang tersebar di berbagai daerah.
Data Pemerintah Arab Saudi juga menunjukkan bahwa transportasi udara masih menjadi jalur utama kedatangan jemaah. Sebanyak 75 persen jemaah umrah dari luar negeri masuk melalui bandar udara, sedangkan 25 persen lainnya tiba melalui jalur darat dan laut.
Peningkatan jumlah jemaah tersebut didukung oleh koordinasi antarlembaga pemerintah Arab Saudi serta pengembangan layanan digital dan operasional. Pemerintah terus memperluas akses pelayanan agar perjalanan jemaah, mulai dari perencanaan, kedatangan, pelaksanaan ibadah hingga kepulangan, dapat berlangsung lebih mudah dan terorganisasi.
Pertumbuhan kedatangan jemaah umrah juga menjadi bagian dari Program Pengalaman Jemaah dan agenda Visi Saudi 2030. Melalui program tersebut, Arab Saudi berupaya meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus memberikan pengalaman ibadah yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas bagi umat Islam dari berbagai negara.
News
Konferensi Al-Quds Serukan Perlindungan Yerusalem
PBB dan OKI menyerukan perlindungan warga Palestina serta penghentian langkah sepihak yang mengubah status Yerusalem Timur.
Monitorday.com– Komite PBB untuk Pelaksanaan Hak-Hak yang Tidak Dapat Dicabut dari Rakyat Palestina bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menggelar Konferensi Internasional tentang Persoalan Yerusalem di Kairo, Mesir, Sabtu, 18 Juli 2026.
Konferensi tersebut mengangkat tema “Yerusalem: Garis Depan Pengusiran dan Aneksasi serta Kunci Perdamaian yang Adil dan Berkelanjutan”. Pertemuan dihadiri pejabat pemerintahan, pemimpin agama, diplomat, perwakilan PBB, dan sejumlah pakar internasional.
Para peserta membahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Palestina di Yerusalem Timur, mulai dari pengusiran paksa, perampasan properti, perluasan permukiman, pembatasan kebebasan beribadah, hingga kekerasan terhadap warga sipil.
Asisten Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmoud Omar, menegaskan Yerusalem Timur merupakan bagian tidak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki dan menjadi ibu kota negara Palestina pada masa mendatang. Mesir menolak pengusiran paksa, aneksasi, perluasan permukiman, dan tindakan sepihak yang mengubah karakter hukum, sejarah, serta demografi kota tersebut.
Ketua Komite Hak-Hak Palestina PBB, Coly Seck, menyampaikan bahwa perdamaian yang adil dan berkelanjutan tidak dapat diwujudkan tanpa penyelesaian persoalan Yerusalem. Ia menyerukan penghentian aktivitas permukiman, perlindungan kebebasan beribadah, serta pemeliharaan status historis dan hukum tempat-tempat suci.
Sementara itu, Asisten Sekretaris Jenderal OKI untuk Urusan Palestina dan Al-Quds, Dawas Dawas, mengatakan Yerusalem tetap menjadi pusat perjuangan Palestina. Menurutnya, masyarakat internasional memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi karakter sejarah, hukum, keagamaan, dan kebudayaan kota tersebut.
Konferensi juga menjadi ruang dialog antaragama. Para pemimpin Islam dan Kristen memperingatkan bahwa pembatasan kegiatan ibadah dan ancaman terhadap tempat-tempat suci dapat meningkatkan ketegangan serta merusak warisan Yerusalem sebagai kota yang memiliki arti penting bagi tiga agama samawi.
Para peserta kemudian menyerukan peningkatan keterlibatan internasional untuk melindungi keberadaan dan hak-hak warga Palestina di Yerusalem Timur. Mereka menegaskan penyelesaian konflik harus berlandaskan hukum internasional, hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, serta pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
