News
Mantapkan Program Indonesia Siaga, RS Lapangan EMT Standar WHO Hadir Layani Kesehatan Pascagempa
Monitorday.com – Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team/EMT) Muhammadiyah yang terverifikasi oleh WHO, telah dikerahkan ke Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memperkuat layanan kesehatan esensial pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah pada Program Indonesia Siaga, khususnya respons bencana yang didukung penuh Lazismu telah mendirikan tenda Rumah Sakit (RS) Lapangan di Dampek, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, pada Rabu (26/8/2026). Pendirian rumah sakit lapangan ini untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang terdampak gempa.
Ketua EMT Muhammadiyah, Dokter Corona Rintawan, pada Kamis, (27/8/2006), mengatakan penugasan ini merupakan langkah nyata komitmen Muhammadiyah dalam mempertahankan kualitas dan standar paska verifikasi oleh WHO sekaligus mencerminkan prinsip WHO EMT.
“Tim medis darurat sudah seharusnya hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan sistem kesehatan lokal, sembari tetap terus menjaga peningkatan kualitas perawatan, koordinasi dan kemandirian operasional dalam layanan kesehatan”, tandasnya.
Untuk EMT Muhammadiyah, sambung Dokter Corona, misinya sangat jelas yaitu kami tidak datang ke Dampek untuk menggantikan Puskesmas yang ada. Justeru kami di sini hadir untuk membantu memastikan Puskesmas bisa terus berfungsi dengan optimal pascagempa.
Ia mengatakan misi ini menunjukkan bagaimana EMT nasional yang telah terverifikasi bisa menerjemahkan standar global. Bahkan menjadi dukungan yang terintegrasi secara lokal dan membantu menjaga kelangsungan layanan kesehatan penting selama kondisi darurat.
Keberadaan EMT tersebut menjadi signifikan terkait perkembangannya dalam laporan tampilan visual antarmuka digital BNPB sampai hari ini (28/8/2026), di Nusa Tenggara Timur terdapat 118 fasilitas layanan kesehatan yang terdampak. Sementara itu, jumlah orang yang sakit atau luka-luka sebanyak 1.674 jiwa.
Direncanakan Tim Medis Darurat Muhammadiyah akan menjalani tugasnya di masa tanggap darurat minimal selama 30 hari yang didukung oleh dua rosterlist. Rosterlist tersebut memuat sekelompok orang dalam tim medis berdasarkan peran dan tugasnya masing-masing di lapangan.
Adapun masing-masing rosterlist terdiri dari 25 orang yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, apoteker, psikilog, safety and security officer dan logistik. Pada prinsipnya layanan kesehatan ini ada komposisi peralatan dan sumber daya manusianya yang sesuai standar WHO.
News
Abdul Mu’ti: Tantangan Pendidikan Indonesia Ada pada Budaya
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai transformasi pendidikan tidak cukup dilakukan melalui perubahan regulasi, tetapi harus dimulai dari perubahan mindset dan budaya belajar.
Monitorday.com– Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai persoalan terbesar pendidikan Indonesia bukan semata-mata terletak pada regulasi, melainkan pada budaya dan pola pikir yang berkembang di masyarakat. Pandangan tersebut disampaikan dalam diskusi bersama Lensamu Podcast yang membahas tantangan pendidikan, pembelajaran mendalam, digitalisasi, hingga arah kepemimpinan pendidikan di Indonesia.
Menurut Abdul Mu’ti, perubahan pendidikan pada akhirnya merupakan perubahan perilaku manusia. Regulasi dapat menjadi instrumen untuk mengarahkan perubahan, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kesiapan guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat untuk mengubah cara berpikir. Karena itu, reformasi pendidikan perlu menyentuh aspek budaya, bukan hanya menghasilkan aturan atau program baru.
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini ditempatkan sebagai alternatif terhadap proses belajar yang hanya berada pada tingkat permukaan (surface-level processing) atau sekadar menghafal informasi. Pembelajaran mendalam mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, membandingkan berbagai informasi, menghubungkan konsep dengan pengalaman, serta memahami keterkaitan antara materi pelajaran dan persoalan kehidupan nyata.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, Abdul Mu’ti juga menilai teknologi tidak seharusnya ditolak. Internet dan AI justru dapat menjadi alat pembelajaran apabila digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir dan memahami informasi. Tantangannya adalah menjaga agar kemudahan memperoleh jawaban tidak membuat peserta didik kehilangan kemampuan membaca secara mendalam, menalar, bertanya, dan memverifikasi informasi.
Perspektif tersebut juga berkaitan dengan warisan pendidikan K.H. Ahmad Dahlan. Abdul Mu’ti menyoroti setidaknya tiga pembaruan penting dalam tradisi pendidikan Muhammadiyah, yakni pembaruan kurikulum, kelembagaan, dan pembelajaran. Pendidikan tidak dipisahkan secara kaku antara ilmu agama dan ilmu umum, lembaga pendidikan menggabungkan unsur modern dan pesantren, sementara peserta didik didorong untuk aktif bertanya dan berdiskusi.
Ia juga menolak dikotomi antara ilmu agama dan sains. Matematika, misalnya, bukan ilmu yang terpisah dari kebutuhan keagamaan. Kemampuan matematika dapat digunakan dalam praktik ibadah dan kehidupan umat, seperti menentukan arah kiblat maupun menghitung pembagian warisan. Cara pandang integratif semacam ini dinilai penting untuk membangun generasi yang memiliki kemampuan akademik sekaligus pemahaman keagamaan.
Dalam aspek kepemimpinan, Abdul Mu’ti menyampaikan keinginan agar dirinya dikenang sebagai menteri yang sederhana dan tidak elitis. Ia menekankan pentingnya membangun kultur kepemimpinan yang mudah dijangkau dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya menyangkut kurikulum dan teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan budaya birokrasi dan kepemimpinan.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa masa depan pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan mengubah budaya belajar. Teknologi, AI, kurikulum, dan regulasi dapat menjadi instrumen penting, tetapi tujuan akhirnya tetap membangun manusia yang mampu berpikir, memahami, bertanya, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dalam kerangka itu, pembelajaran mendalam menjadi salah satu pendekatan untuk menggeser pendidikan Indonesia dari budaya hafalan menuju budaya penalaran dan pemahaman.
News
AI Mengubah Ekonomi Daerah Hingga UMKM Tumbuh Dan Pasar Kerja Bergeser
Kecerdasan artifisial meningkatkan produktivitas ekonomi lokal, tetapi sekaligus memicu perubahan pekerjaan, kebutuhan keterampilan, fiskal daerah, dan permintaan energi.
Monitorday.com– Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai membawa perubahan pada ekonomi di tingkat lokal. Teknologi ini menawarkan efisiensi produktivitas bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah, tetapi juga menciptakan transisi ekonomi baru yang menyentuh dunia kerja, penerimaan daerah, properti komersial, hingga kebutuhan energi dan infrastruktur digital.
Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), AI generatif berpotensi menciptakan level playing field dengan perusahaan yang lebih besar. Pelaku usaha dapat memanfaatkan AI untuk layanan pelanggan, pembuatan materi pemasaran, analisis administrasi, hingga pekerjaan back-office dengan biaya relatif rendah. Efisiensi tersebut dapat menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kemampuan usaha lokal bersaing dengan jaringan bisnis nasional.
AI juga dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok dan persediaan. Analisis prediktif memungkinkan toko dan produsen lokal memperkirakan permintaan secara lebih akurat. Dengan demikian, kelebihan stok, pemborosan produk, serta biaya transportasi dapat ditekan. Bagi sektor perdagangan dan produksi daerah, kemampuan memprediksi pola permintaan menjadi salah satu manfaat ekonomi AI yang paling konkret.
Namun, manfaat produktivitas tersebut berjalan bersamaan dengan pergeseran pasar tenaga kerja. Pekerjaan administratif tingkat awal, layanan pelanggan, dan pemrosesan rutin merupakan sejumlah fungsi yang berpotensi mengalami penurunan kebutuhan tenaga kerja. Sebaliknya, permintaan meningkat terhadap pekerja yang mampu mengimplementasikan AI, mengelola data, mengawasi sistem, serta menjalankan pekerjaan teknis dan lapangan yang lebih sulit diotomatisasi.
Perubahan tersebut berpotensi menciptakan polarisasi upah. Pekerja profesional yang mampu menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas dapat memperoleh keuntungan berupa peningkatan nilai pekerjaan dan pendapatan. Sementara itu, pekerja berkeahlian rendah hingga menengah menghadapi risiko tekanan upah dan kebutuhan untuk melakukan reskilling atau upskilling. Karena itu, dampak AI terhadap ekonomi lokal tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kesiapan sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
Dari sisi pemerintah daerah, perubahan struktur pekerjaan dapat memengaruhi basis penerimaan pajak. Perubahan tingkat dan jenis pekerjaan dapat berdampak pada penerimaan pajak penghasilan daerah di wilayah yang menerapkannya, sementara perubahan kebutuhan ruang perkantoran dapat memengaruhi nilai dan pemanfaatan properti komersial. Di sisi lain, pemerintah dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi layanan publik, seperti optimalisasi lalu lintas, percepatan proses perizinan tata ruang, pengelolaan pengaduan utilitas, dan pemeliharaan infrastruktur.
Dampak lainnya muncul pada properti dan energi. Wilayah yang menjadi lokasi pusat data dapat memperoleh investasi besar, menciptakan lapangan kerja konstruksi, dan meningkatkan penerimaan daerah. Namun, pusat data juga membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar sehingga pemerintah daerah perlu mengantisipasi kapasitas jaringan listrik, ketersediaan air, serta dampak terhadap lingkungan.
Pada saat yang sama, kombinasi kerja hibrida dan otomatisasi berbasis AI dapat mengurangi kebutuhan terhadap ruang kantor tradisional. Kondisi tersebut berpotensi mengubah pasar properti komersial di sejumlah kawasan perkotaan. Gedung perkantoran yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas ekonomi dapat menghadapi kebutuhan untuk beradaptasi menjadi ruang multifungsi, hunian, fasilitas pendidikan, atau layanan lainnya.
Dengan demikian, dampak ekonomi AI di tingkat lokal bersifat dua sisi: meningkatkan produktivitas dan membuka peluang investasi, tetapi juga menuntut strategi menghadapi disrupsi pekerjaan serta kebutuhan infrastruktur baru. Pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan yang tidak hanya mendorong adopsi AI, tetapi juga memastikan pekerja dan pelaku UMKM memperoleh akses terhadap pelatihan, teknologi, pembiayaan, dan infrastruktur digital agar manfaat ekonomi AI dapat tersebar lebih merata.
News
Ekonomi Tumbuh, Waspada Utang Konsumsi Meningkat
Monitorday.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan angka yang menggembirakan di tengah tekanan global, namun kekhawatiran muncul terkait sumber pendanaan konsumsi masyarakat yang menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut. Sejumlah kalangan menduga bahwa konsumsi kini semakin ditopang oleh pinjaman, alih-alih pendapatan riil masyarakat.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mencatat total saldo pinjaman yang mencakup pinjaman daring (pindar), kartu kredit, dan paylater telah mencapai Rp 160,7 triliun per Mei 2026. Angka ini melonjak signifikan sebesar 26,4 persen secara tahunan, memicu kewaspadaan terhadap mesin pertumbuhan ekonomi yang berpotensi rapuh.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya memastikan ekonomi tumbuh mencapai 5,4 persen, menepis kekhawatiran pelambatan. ”Data mengatakan ekonomi tidak melambat, tumbuh hingga 5,4 persen. Kemarin (triwulan pertama) di angka 5,61 persen. Artinya Indonesia bisa mempertahankan ekonomi meski situasi global melambat,” kata Airlangga seusai pembukaan Rakerkornas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (4/8/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus 2026 turut mengumumkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year). Kendati demikian, proporsi konsumsi rumah tangga masih menyumbang 53 persen hingga 54 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menjadikannya variabel penentu yang krusial.
Porsi terbesar pinjaman berasal dari pindar dengan saldo Rp 103,7 triliun, atau sekitar 54,3 persen dari total gabungan ketiga pembiayaan tersebut. Lebih lanjut, pembiayaan paylater menunjukkan pertumbuhan tertinggi mencapai 42,04 persen secara tahunan, mengindikasikan pergeseran signifikan dalam pola konsumsi masyarakat yang bergantung pada fasilitas kredit.
Kewaspadaan mendalam diperlukan jika pinjaman, yang seharusnya untuk tujuan produktif, kini digunakan untuk menutup biaya konsumsi sehari-hari. Situasi ini mengancam fundamental ekonomi karena mesin pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi dapat berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh dan berbahaya.
News
Ubah “Drill and Kill” Menjadi “Thrill and Will”
Pendidikan matematika perlu bergeser dari budaya menghafal dan takut salah menuju pembelajaran yang menumbuhkan nalar, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba.
Monitorday.com– Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Iwan Pranoto menyoroti sejumlah persoalan mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia, khususnya pembelajaran matematika. Dalam diskusi bersama Cania Citta, ia menilai pembelajaran tidak seharusnya berhenti pada kemampuan siswa menghafal rumus dan mengerjakan soal secara berulang, tetapi harus membangun kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Salah satu kritik utama Prof. Iwan adalah praktik “drill and kill”, yakni pembelajaran yang terlalu bertumpu pada latihan berulang untuk memperoleh jawaban benar. Menurutnya, pendekatan tersebut perlu diarahkan menjadi “thrill and will”, yaitu pembelajaran yang mampu menghadirkan pengalaman menarik sehingga siswa memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus belajar.
Ia juga menekankan pentingnya quick win dalam proses belajar. Siswa perlu memperoleh pengalaman keberhasilan kecil secara bertahap sebelum menghadapi persoalan yang lebih kompleks. Pola tersebut dinilai serupa dengan desain permainan digital yang memberikan tantangan secara bertingkat, sehingga pemain tetap termotivasi untuk melanjutkan ke level berikutnya.
Dalam konteks matematika, Prof. Iwan menegaskan bahwa matematika pada dasarnya adalah aktivitas berpikir. Kemampuan matematika tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak rumus yang dapat dihafalkan atau seberapa cepat siswa mendapatkan jawaban akhir, tetapi dari kemampuan melakukan penalaran (reasoning), melihat hubungan antarkonsep, serta mencari solusi terhadap persoalan.
Persoalan lain yang disoroti adalah kecenderungan menerapkan pendekatan “one size fits all” dalam pendidikan. Indonesia memiliki kondisi geografis, sosial, budaya, ekonomi, dan karakteristik peserta didik yang sangat beragam. Karena itu, kebijakan pendidikan yang terlalu seragam berisiko mengabaikan kebutuhan dan potensi lokal masing-masing daerah.
Prof. Iwan juga mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membangun manusia secara utuh, bukan hanya kemampuan akademik. Empat dimensi kecerdasan yang perlu dikembangkan mencakup kecerdasan fisik, akal, sosial-emosional, dan spiritual. Pendekatan tersebut menempatkan sekolah bukan sekadar sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai ruang pembentukan manusia.
Salah satu tantangan terbesar yang perlu diubah adalah budaya takut salah. Dalam pembelajaran yang sehat, kesalahan semestinya dipandang sebagai bagian dari proses menemukan pengetahuan. Ketika siswa takut salah, mereka cenderung memilih diam dan menghindari tantangan. Sebaliknya, ketika kesalahan diperlakukan sebagai bahan refleksi, siswa memiliki ruang untuk bereksperimen dan mengembangkan keberanian berpikir.
Perubahan pendidikan, menurut gagasan yang disampaikan Prof. Iwan, tidak selalu harus menunggu program besar atau pelatihan formal yang membutuhkan biaya tinggi. Inovasi dapat dimulai dari tingkat paling bawah melalui praktik sederhana, kolaborasi antarguru, serta berbagi konten pembelajaran melalui kanal digital seperti WhatsApp dan TikTok. Transformasi pendidikan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi perubahan cara memandang proses belajar.
Gagasan tersebut relevan dengan arah Pembelajaran Mendalam, yang menempatkan pemahaman konseptual, nalar, pengalaman belajar yang bermakna, dan refleksi sebagai bagian penting dari pembelajaran. Tantangannya adalah bagaimana prinsip tersebut diterjemahkan menjadi praktik kelas yang konkret—termasuk dalam matematika—sehingga siswa tidak hanya mampu menjawab “berapa hasilnya?”, tetapi juga mampu menjelaskan “mengapa jawabannya demikian?”.
News
Trump: AS Kuasai Minyak Venezuela
Monitorday.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan minyak baru dengan Venezuela yang disebut sebagai salah satu transaksi minyak terbesar dalam sejarah.
Melalui kesepakatan tersebut, AS disebut akan memegang kendali mayoritas atas sekitar 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela yang telah terbukti. Nilai dan struktur kepemilikan kesepakatan itu belum diungkap secara rinci.
Trump mengumumkan kesepakatan tersebut melalui platform Truth Social pada Jumat (28/8). Ia mengatakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah mencapai kesepakatan dengan pejabat sementara Venezuela Delcy Rodriguez melalui kemitraan dengan perusahaan swasta.
“Transaksi ini akan sangat memperkuat hubungan yang sudah berkembang antara Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump, dikutip AFP.
Rubio mengatakan kesepakatan itu berpotensi menarik hampir US$100 miliar atau sekitar Rp1.775,74 triliun investasi swasta ke Venezuela, sekaligus membantu memulihkan perekonomian negara tersebut.
“Untuk rakyat Venezuela, kesepakatan ini akan membawa hampir US$100 miliar investasi swasta, mendukung ribuan lapangan kerja bergaji tinggi, dan mendorong pembangunan kembali ekonomi Venezuela,” tulis Rubio melalui X.
Trump juga mengklaim kesepakatan tersebut dapat meningkatkan cadangan minyak AS hingga lebih dari dua kali lipat. Bagi pemerintah AS, masuknya investasi dan produksi minyak Venezuela juga diharapkan memperbesar pasokan energi serta menekan harga bensin di dalam negeri.
Venezuela telah mengonfirmasi kesepakatan tersebut. Delcy Rodriguez menyebut perjanjian itu bersejarah dan diyakini akan memberikan dampak besar terhadap pemulihan ekonomi nasional.
“Perjanjian bersejarah ini akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap kebangkitan bangsa kita,” tulis Rodriguez di media sosial.
Sebelumnya, Axios melaporkan AS dan Venezuela tengah membahas pengembangan sekitar 12 ladang minyak produktif. Ladang tersebut diperkirakan memiliki sekitar 90 miliar barel cadangan terbukti.
Dalam skema yang dilaporkan Axios, perusahaan swasta, termasuk perusahaan asal AS, akan mengembangkan ladang-ladang tersebut. Sebagai kompensasi, AS akan memperoleh kepemilikan saham, sementara Venezuela mendapat porsi pendapatan minyak yang lebih besar.
Venezuela sendiri memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, dengan total sekitar 300 miliar barel.
Kesepakatan ini sekaligus mempertegas kepentingan strategis Trump terhadap minyak Venezuela. Washington membutuhkan pasokan minyak yang stabil dan murah untuk menjaga harga energi domestik tetap terkendali.
Namun, masuknya kembali perusahaan AS ke Venezuela bukan tanpa risiko. Infrastruktur industri minyak negara tersebut telah lama mengalami kerusakan, sementara investor asing masih dihantui rekam jejak pemerintah Caracas yang pernah mengambil alih aset perusahaan asing.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela. Perusahaan tersebut sebelumnya melaporkan produksi minyak mentah sekitar 280 ribu barel per hari dan menargetkan kenaikan produksi 50 persen hingga akhir 2028.
Kesepakatan terbaru Trump juga datang ketika cadangan minyak strategis AS berada di level terendah dalam sekitar empat dekade. Di saat yang sama, gangguan pasokan global akibat perang AS dengan Iran membuat energi menjadi salah satu isu strategis paling sensitif bagi pemerintahan Washington.
Dengan kesepakatan ini, Trump tidak hanya mengejar investasi dan minyak Venezuela. Washington juga berupaya mengamankan sumber pasokan energi baru sekaligus menekan harga bahan bakar bagi konsumen AS.
News
Ronaldo Pecahkan Rekor Al Nassr, Kejar 1.000 Gol
Monitorday.com – Cristiano Ronaldo kembali menorehkan sejarah. Megabintang Portugal itu menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Al Nassr di Saudi Pro League setelah membantu timnya mengalahkan Al Taawoun 2-1 di Riyadh, Sabtu (29/8) dini hari WIB.
Ronaldo mencetak gol pada menit ke-50 untuk mengubah skor menjadi 2-1. Gol tersebut lahir setelah ia meneruskan bola hasil tendangan Mohamed Simakan di depan gawang.
Keunggulan Al Nassr bertahan hingga peluit panjang. Namun, sorotan utama laga tertuju kepada Ronaldo yang kembali memecahkan rekor klub.
Gol ke gawang Al Taawoun merupakan gol ke-104 Ronaldo di Saudi Pro League bersama Al Nassr. Ia melewati rekor Mohammed Al Sahlawi yang sebelumnya menjadi pemain tersubur klub dengan 103 gol.
Yang membuat pencapaian Ronaldo semakin impresif adalah jumlah pertandingan yang dibutuhkan. Ronaldo hanya memerlukan 110 laga untuk mengemas 104 gol, sementara Al Sahlawi membutuhkan 205 pertandingan untuk mencatat 103 gol.
Secara keseluruhan, gol tersebut juga membawa Ronaldo semakin dekat dengan tonggak 1.000 gol dalam karier profesionalnya. Ia kini telah mengoleksi 978 gol, atau hanya berjarak 22 gol dari angka keramat tersebut.
Catatan 1.000 gol berpotensi menjadi target terbesar Ronaldo sebelum mengakhiri karier. Sang pemain sebelumnya telah memberi sinyal bahwa musim ini bisa menjadi musim terakhirnya di sepak bola.
Jika mampu menjaga produktivitasnya, bukan tidak mungkin Ronaldo menutup karier dengan pencapaian bersejarah: 1.000 gol.
News
Kapan Seorang Muslim Sebaiknya Menikah?
Islam tidak menetapkan usia tunggal untuk menikah, tetapi menekankan kesiapan fisik, mental, finansial, serta kemampuan menjaga diri dari perbuatan yang dilarang.
Monitorday.com– Islam tidak menetapkan satu batas usia sebagai waktu ideal bagi setiap Muslim untuk menikah. Pertimbangan utamanya adalah kesiapan seseorang menjalankan tanggung jawab rumah tangga. Keinginan untuk menikah perlu berjalan bersama kemampuan fisik, mental, dan finansial agar pernikahan dapat berlangsung secara sehat dan bertanggung jawab.
Dalam fikih Islam, hukum menikah dapat berbeda sesuai kondisi seseorang. Pernikahan dapat menjadi wajib apabila seseorang telah memiliki kemampuan menikah, dorongan seksual yang kuat, dan khawatir terjerumus ke dalam zina apabila tidak segera menikah. Dalam kondisi tertentu, menikah juga dapat bernilai sunah apabila seseorang telah mampu dan memiliki keinginan, tetapi masih mampu menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang.
Sebaliknya, pernikahan dapat menjadi makruh apabila seseorang belum memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban rumah tangga, terutama nafkah, sehingga berpotensi menimbulkan kesulitan bagi pasangan. Bahkan, pernikahan dapat menjadi haram apabila sejak awal dilakukan dengan niat melakukan kezaliman, menyakiti, menipu, atau mengeksploitasi pasangan.
Karena itu, kesiapan menikah tidak cukup diukur dari usia atau munculnya rasa cinta. Kematangan emosional menjadi faktor penting. Calon pasangan perlu memiliki kemampuan mengendalikan emosi, berkomunikasi, menyelesaikan konflik, serta memahami bahwa kehidupan rumah tangga membawa konsekuensi berupa tanggung jawab dan kompromi.
Kemampuan memberikan nafkah juga menjadi pertimbangan penting, khususnya bagi calon suami. Kemampuan tersebut tidak harus identik dengan kekayaan atau standar hidup tinggi, tetapi berkaitan dengan kesanggupan memenuhi kebutuhan dasar keluarga sesuai kemampuan. Di sisi lain, calon suami dan istri perlu memahami hak dan kewajiban masing-masing serta memiliki niat membangun keluarga sebagai bagian dari ibadah.
Bagi seseorang yang sudah memiliki keinginan menikah tetapi belum mampu, Nabi Muhammad SAW memberikan alternatif berupa puasa sebagai salah satu cara menjaga diri dan mengendalikan dorongan seksual. Dengan demikian, menikah bukan sekadar persoalan “sudah cukup umur”, melainkan keputusan besar yang idealnya diambil ketika seseorang siap memikul tanggung jawab lahir dan batin.
Pada akhirnya, waktu terbaik untuk menikah adalah ketika kesiapan dan kemampuan bertemu dengan keinginan untuk membangun keluarga. Pendekatan ini membuat keputusan menikah tidak semata-mata didorong tekanan sosial, usia, atau keinginan sesaat, tetapi berdasarkan pertimbangan agama, kematangan pribadi, dan tanggung jawab terhadap pasangan serta keluarga yang akan dibangun.
News
BRIN Kaji Singkong untuk Padamkan Karhutla
Monitorday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji pemanfaatan singkong sebagai alternatif teknologi untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi yang sebelumnya disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai “ubi bombing” itu dinilai memungkinkan diterapkan secara teoritis.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Polri untuk menyiapkan penerapan teknologi tersebut dalam penanganan karhutla.
“BRIN sudah mengkaji. Artinya secara teoritik itu memang sangat memungkinkan, dan BRIN sudah berkoordinasi dengan Polri dalam rangka untuk menyiapkan itu,” kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.
Meski kajiannya dinilai memungkinkan, penerapan teknologi tersebut masih menunggu perkembangan persiapan di lapangan. BRIN berharap hasil persiapan dapat segera diketahui.
“Persiapan seperti apa ini kami juga sedang terus kami tunggu update-nya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada hasilnya,” ujarnya.
BRIN Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca
Selain mengembangkan teknologi berbahan singkong, BRIN juga berkoordinasi dengan Polri dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperkuat penanganan karhutla melalui berbagai pendekatan, termasuk modifikasi cuaca.
Arif mengatakan BRIN telah menemukan sejumlah material yang dinilai lebih efisien untuk operasi modifikasi cuaca. Di antaranya adalah Jumakron dan natrium klorida (NaCl) berukuran 25 mikron.
“BRIN menemukan juga beberapa teknologi, material untuk modifikasi cuaca seperti Jumakron, NaCl 25 mikron yang memang itu lebih efisien untuk digunakan dalam teknologi modifikasi cuaca,” kata Arif.
Gagasan penggunaan singkong untuk menangani karhutla sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8), Prabowo menyebut “ubi bombing” dapat menjadi alternatif untuk mempercepat pemadaman api secara lebih efektif dan menyeluruh.
Presiden meminta inovasi berbahan baku ubi atau singkong tersebut segera dikembangkan dan diuji dalam skala lebih besar.
Prabowo juga meminta kebutuhan anggaran produksinya segera diajukan agar pemerintah dapat mendukung proses riset, produksi, hingga pengujian efektivitas teknologi tersebut.
Kini, BRIN tengah menindaklanjuti gagasan tersebut. Jika lolos tahap persiapan dan pengujian, “ubi bombing” berpotensi menjadi salah satu senjata baru pemerintah menghadapi karhutla.
News
Menag Tegaskan Tak Maju Ketum PBNU, Ini Alasannya
Monitorday.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan dirinya tidak akan ikut dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
Nasaruddin memilih tetap fokus menjalankan mandat Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Agama, khususnya dalam membina kehidupan dan memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia.
“Sehubungan dengan muktamar yang sedang berlangsung ini, karena saya sadar betul tugas saya sebagai Menteri Agama Republik Indonesia ini begitu berat dan begitu luas yang harus kami selesaikan, maka yang terbaik buat saya dan juga untuk pengembangan Kementerian Agama ke depan, atau juga termasuk NU, lebih baik saya berkonsentrasi di Kementerian Agama,” ujar Nasaruddin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Menurut Nasaruddin, besarnya tanggung jawab sebagai Menteri Agama membutuhkan konsentrasi penuh. Ia karena itu tidak ingin membagi perhatian antara tugas pemerintahan dan agenda perebutan kursi Ketua Umum PBNU.
Keputusan tersebut diambil meski Nasaruddin mengaku mendapat dukungan dari sejumlah kolega dan sahabat yang mendorongnya masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Ia menghargai dukungan tersebut, tetapi memilih tidak mengambil bagian dalam kontestasi.
“Saya minta maaf kepada teman-teman dari berbagai daerah yang mungkin telah mengimajinasikan saya untuk memimpin PBNU,” kata Nasaruddin.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi Nahdlatul Ulama sekaligus bangsa Indonesia.
“Mudah-mudahan muktamar ini berjalan lebih lancar dan menghasilkan hasil-hasil muktamar yang lebih baik untuk bangsa, khususnya untuk Nahdliyin,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin juga menegaskan Nasaruddin akan tetap menjalankan mandat Presiden Prabowo sebagai Menteri Agama.
Penegasan itu disampaikan setelah muncul dukungan dari sejumlah pihak agar Nasaruddin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.
Menurut Kamaruddin, Nasaruddin berkomitmen melanjutkan tugas yang diberikan Presiden, terutama dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan memperkuat kerukunan umat beragama.
Kementerian Agama juga akan terus mendorong penguatan pendidikan agama dan keagamaan sebagai bagian dari tugas pemerintah dalam membina kehidupan umat beragama di Indonesia.
Dengan keputusan tersebut, Nasaruddin menutup peluang dirinya masuk dalam perebutan kursi tertinggi PBNU dan memilih melanjutkan fokusnya di pemerintahan.
News
Kemendikdasmen Pulihkan 71 LKP Terdampak Bencana dan Perkuat Kompetensi 118 Guru SMK
Monitorday.com – Upaya mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua terus dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui penguatan pendidikan nonformal dan pendidikan vokasi. Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) terdampak bencana banjir di Aceh dan Sumatra Utara, sekaligus melaksanakan program upskilling dan reskilling bagi 118 guru SMK dari 11 provinsi pada Rabu (26/8) di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bidang Bangunan dan Listrik (BBL) Medan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak hanya berlangsung melalui sekolah formal. Berbagai jalur pendidikan, termasuk pendidikan nonformal, perlu mendapat ruang untuk memberikan kesempatan belajar dan mengembangkan kemampuan masyarakat.
“Education is not only about schooling but the essence of education is learning. Esensi pendidikan itu belajar, tidak hanya sekolah. Undang-Undang Sisdiknas sudah membuat rumusan yang sangat komprehensif mengenai jenis pendidikan itu: ada pendidikan formal, informal, dan nonformal. Semua diwadahi, semua diberikan kesempatan untuk memberikan layanan pendidikan karena tidak semua orang bisa sekolah formal,” jelasnya.
Prinsip tersebut juga menjadi pijakan dalam penguatan pendidikan vokasi. Mendikdasmen mendorong agar pendidikan di SMK tidak hanya diarahkan untuk menyiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, tetapi juga membangun keberanian untuk menciptakan peluang usaha melalui kreativitas dan soft skills. “Jangan selalu anak SMK itu didorong kerja kantor pakai lamaran berlapis-lapis, beri mereka visi tentang entrepreneurship. Karena kreativitas dan soft skills-nya itu yang didorong. Kalau hard skills, keterampilan teknis, akan cepat usang,” ungkap Mendikdasmen.
Penguatan orientasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan SMK yang lebih beragam dan sesuai dengan potensi daerah. Abdul Mu’ti mengatakan, potensi lokal seperti kopi, teh, nilam, hingga perikanan dapat dikembangkan menjadi bidang keahlian di SMK sehingga peserta didik mampu mengolah kekayaan alam daerah melalui keterampilan yang dimiliki dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Untuk memastikan pendidikan vokasi tetap relevan dengan perkembangan dunia kerja dan teknologi, peningkatan kompetensi guru juga dilakukan secara berkelanjutan melalui upskilling dan reskilling. Penguatan tersebut tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi perubahan. “Para guru ini memang harus terus meningkatkan kemampuannya. Continuing Professional Development. Upskilling, reskilling, itu ditingkatkan kemudian pelajari skill yang baru. Tapi hard skills saja tidak cukup, soft skills harus kita perkuat. Karena hard skills atau kemampuan teknis itu akan mudah usang sehingga yang harus kita tekankan adalah soft skills, kreativitas, inovasi, kemampuan untuk beradaptasi, menyelesaikan masalah dan lain-lain, AI, koding, dan sebagainya itu juga harus kita berikan,” ucap Mendikdasmen.
Kemendikdasmen melaksanakan program upskilling dan reskilling pada 20 Agustus s.d. 2 September 2026 yang diikuti 118 guru dari 11 provinsi. Program ini berfokus pada tiga bidang keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, dan Teknik Komputer dan Jaringan. Melalui lokakarya, kunjungan industri, dan uji kompetensi keahlian, program ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru sesuai standar teknis industri, memperkuat kompetensi pedagogik dan jiwa kewirausahaan, serta kemampuan beradaptasi dengan pembelajaran berbasis projek dan pembelajaran mendalam yang terintegrasi dengan teknologi digital, coding, dan kecerdasan artifisial.
Di sisi lain, penguatan pendidikan nonformal juga menjadi perhatian Kemendikdasmen, terutama bagi LKP yang terdampak bencana alam di Aceh dan Sumatra Utara. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan bencana alam yang terjadi di kedua wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik lembaga, tetapi juga keberlangsungan proses pembelajaran.
“Kalau kita review ke sebelumnya, bencana alam di wilayah Aceh dan Sumatra Utara berdampak merusak bangunan dan merendam alat praktik serta menguji keberlangsungan proses belajar di LKP. Namun LKP bukan sekadar fisik bangunan saja yang terkena, melainkan juga ruang harapan bagi anak bangsa untuk meraih keterampilan. Dalam kondisi sulit apa pun tentu kita harus tetap memastikan pendidikan bermutu untuk semua, dan Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu sebesar Rp4,18 miliar kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan,” jelas Dirjen Tatang.
Dari 71 LKP penerima bantuan, sebanyak 49 LKP berada di Provinsi Aceh, yakni 21 LKP di Kabupaten Bireuen, 12 LKP di Kabupaten Aceh Tamiang, 10 LKP di Kota Langsa, dan 6 LKP di Kota Lhokseumawe. Sementara itu, di Sumatra Utara terdapat 22 LKP penerima bantuan, yakni 17 LKP di Kabupaten Langkat dan 5 LKP di Kabupaten Deli Serdang. Menurut Tatang, bantuan tersebut menjadi modal untuk memulihkan sarana belajar sekaligus memperkuat tata kelola dan menghadirkan kembali media pembelajaran yang adaptif. “Penyaluran ini merupakan modal nyata untuk memulihkan sarana belajar sekaligus memperkuat tata kelola dan menghadirkan kembali media pembelajaran yang adaptif sejalan dengan kebijakan pemerataan mutu dan pendidikan karakter berbasis vokasi,” jelasnya.
Pimpinan LKP Sakinah, Samsinar, mengatakan bantuan Kemendikdasmen membantu lembaganya kembali menjalankan kegiatan kursus bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal. LKP Sakinah sebelumnya terdampak banjir pada November 2025 lalu yang merendam berbagai fasilitas, termasuk mesin jahit dan peralatan tata busana serta kecantikan. Bantuan tersebut akan digunakan untuk mengganti sarana yang rusak akibat banjir. Selama ini, LKP Sakinah turut membantu anak-anak putus sekolah memperoleh keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha, seperti menjahit dan tata rias pengantin.
“Alhamdulillah dengan adanya bantuan dari Kemendikdasmen, kami hari ini sudah pelan-pelan bangkit kembali untuk menjalankan kursus ini, yang selama ini anak-anak, terutama anak putus sekolah, sangat membutuhkan lembaga kursus ini tetap berjalan,” jelas Samsinar.
Dukungan serupa diterima LKP Rita di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Banjir merendam lembaga dan merusak berbagai sarana pembelajaran. Bantuan sebesar Rp50 juta akan digunakan untuk mengganti mesin sekaligus mendukung kegiatan pelatihan bagi masyarakat. Pimpinan LKP Rita, Dewi Rita, mengatakan bantuan tersebut memberikan semangat bagi lembaganya untuk kembali menjalankan kegiatan pembelajaran karena menurutnya, LKP menjadi salah satu jalur bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan dan membangun kemandirian.
“Semoga dengan bantuan ini kami dapat meningkatkan dan mengembalikan kembali sarana sebagai penunjang dalam melaksanakan program kami, dan terus semangat mendidik murid sehingga dapat meningkatkan SDM yang bermanfaat di masyarakat,” jelasnya.
Dewi Rita menambahkan, keberadaan LKP memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan dan membangun kemandirian. “Dengan adanya LKP mereka mampu berkarya walaupun tidak harus dengan berkuliah (sehingga) mereka mampu berusaha sendiri,” tutupnya.
