Ruang Sujud
Mengapa Adab Berdiskusi Penting? Ini Penjelasan Lengkapnya
Monitorday.com – Diskusi adalah bagian dari kehidupan manusia. Kita berdiskusi di ruang kelas, di tempat kerja, di meja makan, hingga di kolom komentar media sosial. Tapi sering kali, diskusi justru berakhir ricuh, penuh emosi, atau malah jadi ajang saling menjatuhkan. Apa yang salah? Jawabannya sering kali terletak pada satu hal yang sederhana namun sangat fundamental: adab berdiskusi.
Adab berdiskusi adalah seperangkat sikap, etika, dan kebiasaan yang harus dijunjung tinggi saat bertukar pikiran. Ia bukan hanya soal berkata sopan, tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain saat tidak sepakat. Di tengah dunia yang makin ramai dengan opini, adab ini menjadi semakin penting untuk menjaga nalar sehat, menghargai perbedaan, dan membangun peradaban dialog yang positif.
Bukan Sekadar Menang Argumen
Sering kali orang masuk ke dalam diskusi dengan satu tujuan: menang. Padahal, hakikat diskusi bukanlah saling mengalahkan, tetapi saling melengkapi dan mencari kebenaran bersama. Ketika adab diabaikan, diskusi berubah menjadi debat kusir yang lebih banyak menghasilkan kebencian ketimbang pemahaman.
Adab berdiskusi mengingatkan kita bahwa setiap orang punya hak untuk berbicara, dan setiap pendapat layak untuk didengar. Dalam diskusi yang sehat, tidak ada tempat untuk menyerang pribadi, menyela, atau meremehkan pendapat orang lain. Menang bukan karena suara paling keras, tapi karena argumen paling bijak.
Menjaga Martabat Diri dan Orang Lain
Salah satu alasan utama adab berdiskusi penting adalah karena ia mencerminkan martabat seseorang. Cara seseorang berdiskusi bisa menunjukkan tingkat kedewasaan, wawasan, dan kematangan emosinya. Orang yang bisa berbeda pendapat tanpa emosi adalah orang yang kuat secara mental.
Di sisi lain, adab berdiskusi juga berfungsi menjaga harga diri orang lain. Bahkan jika kita tidak setuju dengan sebuah pendapat, kita tetap bisa menyampaikannya tanpa merendahkan. Ini bukan hanya soal sopan santun, tapi soal respect—bahwa setiap manusia pantas dihormati meski pikirannya berbeda dengan kita.
Adab Berdiskusi dalam Perspektif Keislaman
Dalam Islam, adab berdiskusi bukan hal yang sepele. Banyak ayat dalam Al-Qur’an dan hadis yang menunjukkan betapa pentingnya berdialog dengan cara yang baik. Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah QS. An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
Ayat ini memberi kita panduan jelas bahwa bahkan dalam perbedaan ideologi atau agama sekalipun, Islam mengajarkan untuk berdebat dengan cara terbaik, bukan dengan caci maki atau emosi.
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang sangat tenang dalam berdiskusi. Beliau tidak pernah memotong lawan bicara, tidak merendahkan, dan selalu menjawab dengan penuh hikmah. Ini menjadi teladan bagi kita bahwa berdiskusi dengan adab adalah bagian dari akhlak mulia.
Tantangan di Era Digital: Diskusi Tanpa Wajah
Hari ini, banyak diskusi terjadi di dunia maya—grup WhatsApp, kolom komentar, atau media sosial. Tantangannya, ketika diskusi dilakukan tanpa tatap muka, banyak orang merasa bebas berkata seenaknya. Anonimitas memberi ruang bagi komentar pedas, serangan pribadi, bahkan ujaran kebencian.
Di sinilah adab berdiskusi menjadi sangat krusial. Kita harus menyadari bahwa di balik setiap akun ada manusia yang punya perasaan. Ketika adab ditinggalkan, internet bukan lagi tempat belajar dan bertukar ide, tapi jadi ladang konflik yang melelahkan.
Maka penting bagi kita semua—khususnya generasi muda—untuk menjadikan adab berdiskusi sebagai bagian dari literasi digital. Bukan hanya bisa menulis atau membaca, tapi juga tahu bagaimana menyampaikan ide dengan baik dan menghargai yang berbeda.
Manfaat Menjaga Adab dalam Diskusi
Berikut beberapa manfaat nyata dari menjaga adab saat berdiskusi:
- Membangun Citra Positif
Orang yang santun dan tenang dalam diskusi akan dihormati, bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan. Ia akan dikenal sebagai pribadi yang dewasa dan berkelas. - Meningkatkan Daya Pengaruh
Ide yang baik bisa tidak diterima jika disampaikan dengan cara yang salah. Sebaliknya, ide yang biasa-biasa saja bisa didengar jika disampaikan dengan adab dan strategi komunikasi yang tepat. - Menghindari Konflik yang Tidak Perlu
Banyak konflik sebenarnya bisa dicegah jika sejak awal diskusi dijalankan dengan adab. Emosi bisa diredam, perbedaan bisa dijembatani. - Membuka Jalan Kolaborasi
Diskusi yang sehat bisa membuka jalan bagi kerja sama, inovasi, dan solusi bersama. Ini jauh lebih produktif dibanding saling menjatuhkan.
Kesimpulan: Saatnya Kembali ke Nilai-Nilai Dasar
Di tengah dunia yang makin gaduh, kita butuh ruang diskusi yang sehat dan bermartabat. Adab berdiskusi bukan hanya soal gaya bicara, tapi tentang bagaimana kita membangun dunia yang lebih toleran, adil, dan saling menghormati. Ia adalah jembatan antara perbedaan dan pemahaman.
Jadi mulai sekarang, sebelum menanggapi sebuah pendapat—baik di dunia nyata maupun digital—cobalah tanyakan pada diri sendiri:
Apakah saya sedang berdiskusi untuk mencari kebenaran, atau hanya ingin menang?
Apakah kata-kata saya membangun, atau justru menyakiti?
Jika jawabannya membangun dan menghargai, maka kita telah mempraktikkan adab berdiskusi. Dan itu adalah langkah kecil namun sangat berarti untuk menciptakan perubahan besar.
Ruang Sujud
Pertumbuhan Mualaf Menguat di Inggris
Program pendampingan mualaf dan kegiatan dakwah terbuka di berbagai masjid di Inggris menunjukkan perkembangan positif, didukung pembentukan pusat pembinaan khusus bagi Muslim baru.
Monitorday.com– Perkembangan komunitas Muslim di Inggris kembali menunjukkan tren positif melalui meningkatnya perhatian terhadap pembinaan mualaf. Salah satu langkah terbaru dilakukan East London Mosque dengan meresmikan Discover One New Muslim Hub, sebuah pusat khusus untuk mendampingi masyarakat yang baru memeluk Islam maupun mereka yang masih ingin mengenal ajaran Islam lebih dalam.
Menurut East London Mosque, pusat pembinaan tersebut resmi diluncurkan pada 24 April 2026 sebagai bagian dari komitmen masjid dalam memberikan dukungan berkelanjutan kepada para mualaf. Fasilitas ini menyediakan pendampingan spiritual, kelas dasar Islam, bimbingan ibadah, serta wadah membangun jejaring sosial bagi Muslim baru.
Selain penguatan layanan di tingkat komunitas, organisasi Convert Muslim Foundation bersama Islamic Education and Research Academy (iERA) juga meluncurkan Great British Muslim Convert Study. Penelitian berskala nasional ini bertujuan memetakan jumlah, latar belakang, motivasi, serta tantangan yang dihadapi para mualaf di Inggris sehingga program pembinaan dapat disusun berdasarkan data yang lebih akurat.
Berbagai masjid di Inggris juga terus mengembangkan kegiatan dakwah yang inklusif melalui program Visit My Mosque, yaitu hari terbuka bagi masyarakat umum untuk mengenal Islam secara langsung. Program ini dinilai efektif membangun dialog lintas agama, mengurangi kesalahpahaman terhadap Islam, serta mempererat hubungan antara komunitas Muslim dan masyarakat luas.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan Islam di Inggris tidak hanya ditandai oleh bertambahnya jumlah mualaf, tetapi juga oleh semakin kuatnya ekosistem pembinaan, pendidikan, dan integrasi sosial yang mendukung keberlangsungan komunitas Muslim di negara tersebut.
News
Pembiayaan Syariah Bantu UMKM Naik Kelas
Dukungan pembiayaan syariah membantu Alfriandra Souvenir berkembang dari usaha rumahan bermodal Rp7 juta menjadi produsen suvenir dengan pasar yang semakin luas.
Monitorday.com– Pembiayaan berbasis syariah terus memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah. Salah satu contohnya terlihat pada perkembangan Alfriandra Souvenir, usaha yang dirintis sejak 1997 dengan modal awal sekitar Rp7 juta dan kemudian bertumbuh menjadi produsen suvenir dengan kapasitas usaha yang lebih besar.
Usaha tersebut berawal dari skala rumahan dengan proses produksi yang terbatas. Seiring meningkatnya permintaan, kebutuhan modal kerja, peralatan, dan pengembangan pasar juga bertambah. Dukungan pembiayaan syariah kemudian menjadi salah satu faktor yang membantu usaha tersebut memperkuat operasional dan meningkatkan kapasitas produksi.
Bank Syariah Indonesia menilai pembiayaan bagi UMKM tidak hanya berfungsi sebagai tambahan modal, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Melalui pembiayaan yang sesuai prinsip syariah, pelaku usaha memperoleh akses pendanaan yang dapat digunakan untuk membeli bahan baku, memperbaiki sarana produksi, menambah tenaga kerja, dan memperluas jaringan pemasaran.
Pertumbuhan Alfriandra Souvenir menunjukkan bahwa usaha kecil memiliki peluang besar untuk naik kelas ketika memperoleh dukungan pembiayaan, pendampingan, dan akses pasar secara berkelanjutan. Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan pentingnya pengelolaan usaha yang disiplin, inovasi produk, serta kemampuan menjaga kualitas di tengah persaingan.
Pembiayaan syariah memiliki karakteristik yang menekankan prinsip keadilan, transparansi, dan kemitraan. Skema ini dinilai sesuai bagi pelaku UMKM yang membutuhkan pembiayaan produktif sekaligus ingin menjalankan usahanya berdasarkan nilai-nilai ekonomi Islam.
Dampak pembiayaan tidak berhenti pada pertumbuhan satu perusahaan. Ketika UMKM berkembang, kebutuhan tenaga kerja, bahan baku, distribusi, dan jasa pendukung juga meningkat. Kondisi tersebut menciptakan efek berganda bagi ekonomi lokal serta membuka peluang pendapatan bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.
UMKM selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Namun, keterbatasan modal, rendahnya literasi keuangan, dan akses pasar masih menjadi kendala bagi sebagian pelaku usaha. Karena itu, perbankan syariah diharapkan tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga memberikan pendampingan manajemen dan penguatan kapasitas bisnis.
Kisah Alfriandra Souvenir menjadi gambaran bahwa pembiayaan yang tepat dapat membantu usaha rumahan berkembang secara bertahap dan berkelanjutan. Penguatan pembiayaan syariah bagi UMKM diharapkan semakin memperluas kesempatan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memperkokoh ekonomi umat.
News
Nasabah Bank Emas BSI Melonjak 700 Persen
Bisnis bank emas BSI mencatat pertumbuhan pesat dengan jumlah nasabah menembus 1,3 juta orang dan perdagangan emas mencapai 8,06 ton.
Monitorday.com– PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI mencatat pertumbuhan signifikan dalam layanan bank emas atau bullion bank. Hingga Juni 2026, jumlah nasabah layanan bullion BSI meningkat sekitar 700 persen secara tahunan hingga menembus 1,3 juta orang.
Pertumbuhan jumlah nasabah tersebut menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi dan penyimpan nilai. Ketidakpastian ekonomi global serta tingginya permintaan terhadap aset aman turut mendorong masyarakat memilih emas untuk melindungi nilai kekayaannya.
Sepanjang periode tersebut, BSI tercatat telah memperdagangkan sebanyak 8,06 ton emas. Peningkatan transaksi itu juga mendorong pendapatan berbasis komisi atau fee-based income dari bisnis emas tumbuh sekitar 712 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian tersebut memperkuat posisi BSI sebagai salah satu pelopor layanan bank emas berbasis prinsip syariah di Indonesia. Layanan yang disediakan mencakup pembelian dan penjualan emas, cicilan emas, gadai emas, tabungan emas, hingga penitipan emas yang dapat diakses melalui jaringan kantor maupun aplikasi digital BYOND by BSI.
Perkembangan bisnis bullion BSI juga didukung penguatan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Danantara Indonesia. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan investasi negara, memperkuat likuiditas, serta membangun ekosistem emas nasional yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Kemudahan transaksi secara digital menjadi salah satu faktor yang meningkatkan ketertarikan masyarakat. Nasabah dapat membeli emas dalam nominal terjangkau tanpa harus langsung menyimpan emas fisik secara mandiri. Sistem tersebut dinilai memberikan akses investasi yang lebih praktis, aman, dan sesuai dengan prinsip syariah.
Pertumbuhan bank emas juga berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian nasional. Ekosistem bullion yang kuat dapat mendukung industri pertambangan, pengolahan emas, perhiasan, perdagangan, hingga pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Ke depan, BSI diharapkan terus memperkuat edukasi dan literasi masyarakat mengenai investasi emas. Nasabah tetap perlu memahami tujuan investasi, risiko perubahan harga, biaya transaksi, serta kesesuaian produk dengan kondisi keuangan masing-masing agar emas tidak hanya menjadi tren, tetapi menjadi bagian dari perencanaan keuangan syariah yang sehat.
News
Fatwa Kripto Picu Perdebatan Syariah di Pakistan
Regulator aset virtual Pakistan meminta ulama membedakan kripto spekulatif dengan token berbasis aset nyata agar inovasi keuangan digital tetap berjalan sesuai prinsip syariah.
Monitorday.com– Upaya Pakistan mengembangkan industri aset digital menghadapi tantangan setelah Jamia Darul Uloom Karachi mengeluarkan fatwa yang menyatakan mata uang kripto tidak diperbolehkan menurut hukum Islam. Lembaga pendidikan Islam berpengaruh tersebut menilai kripto tidak dapat dikategorikan sebagai harta yang diakui secara syariah dan tidak memenuhi persyaratan sebagai alat pembayaran yang sah.
Fatwa itu mendorong Pakistan Virtual Assets Regulatory Authority (PVARA) meminta penjelasan lebih terperinci. Ketua PVARA Bilal bin Saqib mengatakan penilaian syariah seharusnya tidak menyamakan seluruh aset digital karena karakter, fungsi, dan aset yang mendasarinya dapat berbeda-beda.
Regulator meminta para ulama membedakan mata uang kripto yang didominasi aktivitas spekulatif dengan token digital yang didukung aset nyata. Token berbasis emas, sukuk, obligasi pemerintah, atau komoditas dinilai dapat memiliki karakter berbeda karena mempunyai aset dasar yang jelas dan dapat diverifikasi. Karena itu, setiap produk digital dinilai perlu diperiksa secara tersendiri berdasarkan struktur dan penggunaannya.
PVARA menegaskan tidak sedang menolak pandangan para ulama. Regulator justru ingin membangun dialog agar pengembangan teknologi blockchain di Pakistan memiliki kerangka syariah yang jelas. Pendekatan tersebut dianggap penting karena Pakistan ingin menjadi salah satu pusat teknologi finansial Islam dan tidak hanya menjadi pasar perdagangan kripto spekulatif.
Perdebatan muncul ketika Pakistan sedang mempercepat pengaturan industri aset virtual. Melalui regulasi aset virtual yang diberlakukan pada 2026, PVARA diberi kewenangan untuk memberikan lisensi dan mengawasi penyedia layanan aset digital. Bank sentral Pakistan juga telah mengizinkan bank membuka rekening bagi perusahaan aset virtual yang memiliki lisensi, dengan ketentuan kepatuhan dan pencegahan pencucian uang yang ketat.
Meski memberikan akses perbankan, bank-bank Pakistan tidak diperbolehkan membeli atau menyimpan aset virtual menggunakan dana mereka sendiri maupun dana nasabah. Penyedia layanan juga harus memisahkan dana nasabah dalam rekening khusus dan tetap menjalani pemeriksaan risiko serta pelaporan transaksi mencurigakan.
Pakistan sebelumnya telah menjajaki sejumlah proyek aset digital, termasuk tokenisasi aset pemerintah dan penggunaan stablecoin untuk pembayaran lintas negara. Pemerintah juga membuka proses perizinan bagi sejumlah bursa kripto global. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Islamabad menarik investasi, mempercepat pembayaran internasional, dan memodernisasi sistem keuangan.
Fatwa dari Jamia Darul Uloom Karachi diperkirakan dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap aset digital, terutama di luar kelompok investor perkotaan. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, kejelasan status syariah menjadi faktor penting bagi perkembangan industri keuangan baru di Pakistan.
Perdebatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi blockchain dan kripto tidak dapat dinilai sebagai satu kelompok yang sepenuhnya seragam. Aset digital yang tidak memiliki dasar nilai dan diperdagangkan secara spekulatif dapat menimbulkan persoalan berbeda dibandingkan token yang mewakili emas, sukuk, properti, atau aset nyata lainnya.
Pakistan kini menghadapi tantangan untuk mempertemukan inovasi teknologi dengan ketentuan syariah. Hasil dialog antara regulator dan ulama akan menentukan apakah negara tersebut mampu mengembangkan ekosistem aset digital yang aman, transparan, serta sesuai prinsip keuangan Islam tanpa membuka ruang bagi spekulasi berlebihan.
News
Pemukim Israel Bakar Dua Masjid di Tepi Barat
Dua masjid di Qusra dan Kour dibakar dalam rangkaian serangan pemukim Israel setelah bentrokan mematikan memperburuk ketegangan di Tepi Barat.
Monitorday.com– Pemukim Israel dilaporkan menyerang sejumlah desa Palestina dan membakar sedikitnya dua masjid di wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Minggu dini hari, 26 Juli 2026. Serangan terjadi di tengah meningkatnya kekerasan setelah bentrokan mematikan di sekitar Desa Tal, barat daya Nablus, yang menewaskan enam orang.
Salah satu masjid yang menjadi sasaran berada di Qusra, sebelah selatan Kota Nablus. Masjid tersebut masih dalam tahap pembangunan dan disebut hampir selesai ketika dibakar. Bangunan mengalami kerusakan akibat api, sementara tulisan berbahasa Ibrani bernada balas dendam ditemukan pada bangunan di sekitar lokasi.
Serangan lain terjadi di Desa Kour, selatan Tulkarem. Pemukim dilaporkan membakar sebuah masjid hingga menyebabkan kerusakan pada sebagian bangunan dan interiornya. Dalam sejumlah laporan, warga dan jemaah berhasil mencegah api menyebar lebih luas setelah mengetahui adanya upaya pembakaran.
Rangkaian serangan tersebut berlangsung setelah bentrokan pada Jumat, 24 Juli 2026, di sekitar Desa Tal. Empat warga Palestina dan dua warga Israel—yang menurut sejumlah laporan merupakan personel militer atau petugas keamanan setempat—tewas dalam konfrontasi antara pemukim Israel dan penduduk desa. Kronologi kejadian masih diperdebatkan oleh pihak Palestina dan Israel.
Pihak Palestina menilai pembakaran masjid merupakan bagian dari gelombang serangan pemukim yang semakin sistematis terhadap warga, lahan pertanian, rumah, dan tempat ibadah. Sejumlah pejabat Palestina mendesak komunitas internasional menekan Israel untuk menghentikan kekerasan dan memberikan perlindungan kepada penduduk sipil di wilayah pendudukan.
Militer Israel mengakui terjadinya kekerasan dan menyatakan mengecam serangan terhadap tempat-tempat keagamaan. Aparat Israel menyebut penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku pembakaran dan perusakan. Namun, kelompok hak asasi manusia dan warga Palestina berulang kali mempertanyakan lemahnya penegakan hukum terhadap pemukim yang terlibat dalam kekerasan.
Setelah bentrokan di Tal, pemerintah Israel mengerahkan pasukan tambahan, memasang blokade jalan, dan melakukan operasi penangkapan besar-besaran di kawasan Nablus. Lebih dari 100 orang dilaporkan ditahan dalam operasi tersebut, sementara warga Palestina mengatakan pembatasan pergerakan semakin menyulitkan aktivitas sehari-hari.
Kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam sepanjang 2026. Data yang dikutip Associated Press menyebut sedikitnya 87 warga Palestina dan tiga warga Israel telah meninggal di wilayah tersebut sejak awal tahun, termasuk warga Palestina yang tewas dalam serangan pemukim.
Sebagian besar masyarakat internasional menilai permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum internasional, sementara Israel menolak pandangan tersebut. Ekspansi permukiman dan serangan terhadap desa Palestina terus meningkatkan kekhawatiran bahwa situasi dapat berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Pembakaran dua masjid memperlihatkan bahwa eskalasi di Tepi Barat tidak hanya mengancam keselamatan warga sipil, tetapi juga menyasar tempat ibadah yang memiliki kedudukan penting bagi masyarakat. Serangan tersebut kembali memunculkan seruan agar tempat suci dilindungi dan seluruh pihak menahan diri dari tindakan yang dapat memperbesar ketegangan agama dan politik.
News
Indonesia dan 7 Negara Muslim Bersatu Bela Al-Aqsa
Indonesia bersama tujuh negara Arab dan mayoritas Muslim mengecam keras eskalasi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa dan menyerukan dunia mengambil sikap tegas.
Monitorday.com– Indonesia bersama Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Türkiye, dan Uni Emirat Arab mengecam keras eskalasi tindakan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa atau Al-Haram Al-Sharif di Yerusalem Timur yang diduduki. Kecaman disampaikan melalui pernyataan bersama para menteri luar negeri delapan negara setelah terjadinya masuknya kelompok pemukim Israel secara massal ke kawasan suci tersebut.
Para menteri luar negeri secara khusus menyoroti masuknya pemukim yang dipimpin sejumlah menteri Israel, pengibaran bendera Israel di halaman kompleks, hingga pendirian dua tenda oleh kepolisian Israel. Dalam pernyataan bersama, tindakan tersebut disebut provokatif dan tidak dapat diterima karena dinilai melanggar hukum internasional, resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta status quo historis dan hukum tempat-tempat suci di Yerusalem Timur.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Menteri Keamanan Nasional Israel dari kelompok sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, memasuki kompleks Al-Aqsa bersama ratusan warga Israel pada 23 Juli 2026. Kunjungan tersebut bertepatan dengan peringatan Tisha B’Av dalam tradisi Yahudi dan kembali memicu kecaman dari Palestina serta sejumlah negara Arab dan Muslim. (Dawn)
Delapan negara juga memperingatkan bahwa tindakan provokatif dan seruan untuk melakukan lebih banyak aktivitas di kawasan Al-Aqsa berpotensi meningkatkan kebencian dan ekstremisme. Situasi tersebut dinilai dapat menghambat upaya mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan solusi dua negara.
Dalam pernyataan itu, para menteri menegaskan penolakan terhadap setiap upaya mengubah status quo historis dan hukum di Yerusalem. Mereka kembali mengakui peran khusus Kerajaan Yordania melalui Hashemite custodianship dalam menjaga tempat-tempat suci Islam dan Kristen di kota tersebut.
Para menteri juga menegaskan seluruh kawasan Masjid Al-Aqsa seluas sekitar 144 dunam merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Menurut pernyataan tersebut, Departemen Wakaf Yerusalem dan Urusan Masjid Al-Aqsa yang berada di bawah Kementerian Awqaf dan Urusan Islam Yordania merupakan lembaga yang memiliki kewenangan mengelola kawasan tersebut dan mengatur akses masuk.
Status quo yang telah berlangsung selama puluhan tahun pada prinsipnya memungkinkan umat Yahudi mengunjungi kawasan tersebut, tetapi tidak melakukan ibadah di sana, sementara umat Islam menjalankan ibadah di kompleks Al-Aqsa. Karena itu, perubahan praktik maupun pembatasan akses menjadi isu yang sangat sensitif dan berulang kali memicu ketegangan di Yerusalem.
Indonesia dan tujuh negara lainnya juga mendesak Israel, sebagai kekuatan pendudukan, segera mencabut pembatasan akses menuju Kota Tua Yerusalem dan tidak menghalangi umat Islam yang hendak beribadah di Masjid Al-Aqsa. Pembatasan akses yang diskriminatif dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional dan upaya mengubah status quo kawasan suci tersebut.
Selain menyerukan penghentian tindakan Israel, delapan negara meminta masyarakat internasional mengambil posisi yang lebih tegas untuk menghentikan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem. Pernyataan bersama tersebut menunjukkan Al-Aqsa tetap menjadi salah satu isu yang mampu menyatukan posisi diplomatik negara-negara Muslim di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Palestina.
News
OKI Latih Tenaga Kesehatan Benin
Pelatihan penanganan perdarahan pascapersalinan digelar untuk memperkuat pelayanan darurat serta menekan angka kematian ibu di Benin.
Monitorday.com– Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersama Standing Committee on Scientific and Technological Cooperation atau COMSTECH dan Kementerian Kesehatan Benin menggelar pelatihan penanganan perdarahan pascapersalinan bagi tenaga kesehatan di Cotonou, Benin, pada 13–16 Juli 2026.
Program tersebut difokuskan pada pencegahan dan penanganan perdarahan pascapersalinan sebagai bagian dari pelayanan obstetri darurat. Pelatihan diharapkan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan sekaligus memperkuat kualitas pelayanan bagi ibu, bayi baru lahir, dan anak.
Peserta pelatihan berasal dari fasilitas kesehatan di wilayah Cotonou 5 dan Cotonou 6. Mereka memperoleh pembelajaran melalui kuliah teori, simulasi praktik, dan pelatihan klinis agar mampu mengambil tindakan secara cepat ketika menghadapi kondisi darurat persalinan.
Asisten Sekretaris Jenderal OKI Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Aftab Ahmad Khokhar, mengatakan perdarahan pascapersalinan masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di dunia. Padahal, risiko kematian dapat ditekan apabila tersedia tenaga terampil, sistem rujukan yang efektif, dan akses cepat terhadap pelayanan obstetri darurat.
Menurut Khokhar, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu langkah berkelanjutan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Program tersebut juga mencerminkan solidaritas serta kerja sama ilmiah antarnegara anggota OKI dalam mengubah pengetahuan medis menjadi pelayanan kesehatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Koordinator Jenderal COMSTECH, Mohammad Iqbal Choudhary, menjelaskan bahwa pelatihan di Benin menjadi bagian dari strategi memperkuat kerja sama ilmiah, kapasitas institusi, dan pemerataan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas di negara-negara anggota OKI.
Sesi pelatihan dipandu oleh Fiza Ali Khan dan Sana Khan dengan penekanan pada keterampilan praktis menghadapi kegawatdaruratan obstetri. Metode berbasis simulasi digunakan agar peserta tidak hanya memahami prosedur secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi klinis.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menekankan pentingnya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan cepat terhadap perdarahan setelah melahirkan. Tenaga kesehatan perlu memperoleh pelatihan praktis serta didukung fasilitas yang mampu menyediakan obat dan pelayanan darurat untuk menangani kondisi tersebut.
Melalui program ini, OKI dan COMSTECH berharap tenaga kesehatan Benin semakin siap menangani komplikasi persalinan. Penguatan kemampuan tenaga medis di tingkat layanan terdepan dinilai penting untuk mengurangi kematian ibu dan bayi serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan negara anggota.
News
Jemaah Umrah Melonjak, Indonesia Terbesar Kedua
Indonesia menempati posisi kedua negara asal jemaah umrah terbanyak pada awal musim 1448 Hijriah dengan sekitar 170 ribu orang.
Monitorday.com– Jumlah jemaah yang tiba di Arab Saudi menggunakan visa umrah meningkat 22,5 persen pada awal musim umrah 1448 Hijriah. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat sebanyak 931.500 jemaah masuk ke negara tersebut sejak 15 Zulhijah hingga akhir Muharam.
Secara keseluruhan, jumlah jemaah umrah yang datang dari luar Arab Saudi pada periode yang sama telah melampaui 1,27 juta orang. Jumlah tersebut mencakup jemaah yang masuk menggunakan visa umrah maupun jenis izin masuk lain yang dapat digunakan untuk melaksanakan ibadah umrah.
Indonesia menjadi negara asal jemaah umrah terbanyak kedua dengan sekitar 170 ribu orang. Posisi pertama ditempati Pakistan dengan sekitar 200 ribu jemaah, sedangkan Irak berada di peringkat ketiga dengan jumlah mencapai 130 ribu jemaah.
Besarnya jumlah jemaah asal Indonesia menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk melaksanakan ibadah umrah. Indonesia selama ini menjadi salah satu pasar utama penyelenggaraan perjalanan umrah karena memiliki jumlah penduduk Muslim yang besar dan jaringan penyelenggara perjalanan ibadah yang tersebar di berbagai daerah.
Data Pemerintah Arab Saudi juga menunjukkan bahwa transportasi udara masih menjadi jalur utama kedatangan jemaah. Sebanyak 75 persen jemaah umrah dari luar negeri masuk melalui bandar udara, sedangkan 25 persen lainnya tiba melalui jalur darat dan laut.
Peningkatan jumlah jemaah tersebut didukung oleh koordinasi antarlembaga pemerintah Arab Saudi serta pengembangan layanan digital dan operasional. Pemerintah terus memperluas akses pelayanan agar perjalanan jemaah, mulai dari perencanaan, kedatangan, pelaksanaan ibadah hingga kepulangan, dapat berlangsung lebih mudah dan terorganisasi.
Pertumbuhan kedatangan jemaah umrah juga menjadi bagian dari Program Pengalaman Jemaah dan agenda Visi Saudi 2030. Melalui program tersebut, Arab Saudi berupaya meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus memberikan pengalaman ibadah yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas bagi umat Islam dari berbagai negara.
News
Konferensi Al-Quds Serukan Perlindungan Yerusalem
PBB dan OKI menyerukan perlindungan warga Palestina serta penghentian langkah sepihak yang mengubah status Yerusalem Timur.
Monitorday.com– Komite PBB untuk Pelaksanaan Hak-Hak yang Tidak Dapat Dicabut dari Rakyat Palestina bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menggelar Konferensi Internasional tentang Persoalan Yerusalem di Kairo, Mesir, Sabtu, 18 Juli 2026.
Konferensi tersebut mengangkat tema “Yerusalem: Garis Depan Pengusiran dan Aneksasi serta Kunci Perdamaian yang Adil dan Berkelanjutan”. Pertemuan dihadiri pejabat pemerintahan, pemimpin agama, diplomat, perwakilan PBB, dan sejumlah pakar internasional.
Para peserta membahas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Palestina di Yerusalem Timur, mulai dari pengusiran paksa, perampasan properti, perluasan permukiman, pembatasan kebebasan beribadah, hingga kekerasan terhadap warga sipil.
Asisten Menteri Luar Negeri Mesir, Mahmoud Omar, menegaskan Yerusalem Timur merupakan bagian tidak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki dan menjadi ibu kota negara Palestina pada masa mendatang. Mesir menolak pengusiran paksa, aneksasi, perluasan permukiman, dan tindakan sepihak yang mengubah karakter hukum, sejarah, serta demografi kota tersebut.
Ketua Komite Hak-Hak Palestina PBB, Coly Seck, menyampaikan bahwa perdamaian yang adil dan berkelanjutan tidak dapat diwujudkan tanpa penyelesaian persoalan Yerusalem. Ia menyerukan penghentian aktivitas permukiman, perlindungan kebebasan beribadah, serta pemeliharaan status historis dan hukum tempat-tempat suci.
Sementara itu, Asisten Sekretaris Jenderal OKI untuk Urusan Palestina dan Al-Quds, Dawas Dawas, mengatakan Yerusalem tetap menjadi pusat perjuangan Palestina. Menurutnya, masyarakat internasional memiliki tanggung jawab bersama untuk melindungi karakter sejarah, hukum, keagamaan, dan kebudayaan kota tersebut.
Konferensi juga menjadi ruang dialog antaragama. Para pemimpin Islam dan Kristen memperingatkan bahwa pembatasan kegiatan ibadah dan ancaman terhadap tempat-tempat suci dapat meningkatkan ketegangan serta merusak warisan Yerusalem sebagai kota yang memiliki arti penting bagi tiga agama samawi.
Para peserta kemudian menyerukan peningkatan keterlibatan internasional untuk melindungi keberadaan dan hak-hak warga Palestina di Yerusalem Timur. Mereka menegaskan penyelesaian konflik harus berlandaskan hukum internasional, hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, serta pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
News
Agama Dan Negara Terus Saling Memerlukan
Dewan Pertimbangan MUI menegaskan kembali pentingnya sinergi antara nilai keagamaan dan pilar kebangsaan demi keutuhan negara.
Monitorday.com– Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menyampaikan pesan penting bagi seluruh lapisan masyarakat. Pesan tersebut secara khusus mengingatkan tentang eratnya hubungan dalam konteks tata kehidupan berbangsa di Indonesia. Lembaga ini menegaskan bahwa agama dan negara sejatinya merupakan dua elemen penting yang terus saling melengkapi serta memerlukan.
Pernyataan strategis ini hadir untuk mempertegas posisi penting umat Islam di Tanah Air. Umat Muslim diharapkan terus mengambil peran aktif dalam mendukung terciptanya harmoni yang berkelanjutan di tengah masyarakat. Langkah tersebut diyakini akan memberikan dampak positif terhadap terjaganya stabilitas nasional secara menyeluruh dan komprehensif.
Dalam praktiknya, peran agama tidak bisa dilepaskan dari jalannya roda pemerintahan masa kini. Nilai-nilai agama diyakini akan terus menjadi fondasi moral yang sangat kokoh bagi berbagai arah kebijakan. Pedoman moral ini memastikan bahwa setiap keputusan birokrasi selalu berjalan selaras dengan etika dan kebaikan umat.
Di sisi lain, institusi negara juga memikul tanggung jawab yang tidak kalah krusial terhadap keberadaan agama. Negara secara konstitusi berkewajiban memberikan perlindungan penuh bagi kebebasan beribadah seluruh warganya tanpa terkecuali. Jaminan keamanan ini menjadi instrumen utama agar setiap masyarakat dapat menjalankan keyakinannya dengan aman dan tenang.
Sinergi yang kuat antara kedua elemen ini dipastikan akan menciptakan lingkungan sosial yang sangat kondusif. Pemerintah dan seluruh tokoh agama dituntut untuk selalu bergandengan tangan dalam menghadapi dinamika tantangan zaman. Pada akhirnya, kolaborasi erat ini akan membawa bangsa Indonesia melangkah menuju peradaban yang jauh lebih gemilang.
