News
Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah Ciptakan Pemimpin yang Menggerakkan Perubahan
Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Gelombang 2, Tenaga Kependidikan, sekaligus Penutupan Pelatihan Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).
Kegiatan ini juga diikuti secara daring oleh peserta BCKS di enam Unit Pelaksana Teknis (UPT) lainnya yakni Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Aceh, BGTK Lampung, KGTK Gorontalo, BBGTK Jawa Tengah, BBGTK Jawa Timur, dan BBGTK Sulawesi Selatan. Sebanyak 40 kelas yang mengikuti kegiatan dari berbagai daerah tersebut turut menyimak kegiatan ini secara daring dari UPT masing-masing.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani menyampaikan, hingga Agustus 2026, sebanyak 5.704 peserta telah mengikuti Pelatihan BCKS. Sebanyak 3.033 peserta dibiayai APBN dan 2.671 peserta melalui APBD. Capaian tersebut menunjukkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam menyiapkan calon kepala sekolah yang kompeten.
“Sudah hampir 80% pemenuhan kebutuhan kepala sekolah terpenuhi,” ujar Nunuk di BBGTK Jawa Barat, Jumat (28/8). Ia menambahkan, jumlah peserta masih akan bertambah karena sejumlah pelatihan yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat masih dalam proses seleksi substansi.
Terkait Pelatihan BCKS Gelombang 2 yang diadakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat ini, telah berlangsung sejak 14 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026 mendatang. Pelatihan BCKS diikuti 415 peserta yang berasal dari 10 kabupaten di Jawa Barat mulai dari jenjang TK hingga SLB. Pelatihan dilaksanakan dengan mengombinasikan pembelajaran mandiri melalui LMS dan tatap muka melibatkan para widyaiswara di Unit Pelaksana Teknis (UPT) GTK, kepala sekolah mentor dari berbagai jenjang. Khusus di Jawa Barat, untuk BCKS SMK bermitra dengan dunia usaha dan industri yaitu PT Len Industri (Persero) di Bandung.
Dirjen Nunuk berharap, dengan dukungan partisipasi pelatihan ini dapat melahirkan pemimpin pendidikan yang kompeten, visioner, dan siap membawa transformasi di sekolah masing-masing. Secara bersamaan sedang berlangsung Pelatihan BCKS oleh beberapa UPT lainnya dengan jumlah partisipan sekitar 1.300 peserta.
Sampai bulan Agustus 2026, Ditjen GTK melalui Direktorat KSPSTK telah melakukan intervensi pelatihan Tenaga Kependidikan (Tendik) kepada 633 peserta dan 220 fasilitator. Sepanjang 2026, rencana pelatihan tendik diikuti sebanyak 1.860 peserta oleh 27 UPT GTK dengan pembiayaan APBN dan APBD. Pelatihan ini dikhususkan untuk operator sekolah, bendahara sekolah, tenaga laboratorium, dan perpustakaan.
Bagi Hetty Kusmiati, guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengikuti pelatihan BCKS ini membuatnya merasa mendapatkan bekal baru untuk memimpin sekolah dan meningkatkan kualitas pembelajaran. “Ilmunya sangat bermanfaat untuk diterapkan sebagai pemimpin di sekolah, menjadi seorang kepala sekolah yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah menuju pendidikan yang gemilang,” ujar Hetty.
Berangkat dari materi-materi yang ia terima, Hetty mulai membayangkan perubahan yang akan dilakukan ketika mendapat amanah memimpin sekolah. Ia ingin menerapkan pengetahuan tentang pengelolaan sekolah, pola pikir kepemimpinan, kompetensi sosial, komunikasi, kemitraan, hingga pengelolaan sumber daya sekolah. “Saya sudah mendapat inspirasi-inspirasi baru yang mungkin nanti akan saya terapkan ketika saya menjabat sebagai kepala sekolah,” ungkapnya.
Semangat serupa disampaikan Budiyanto, guru dari Kabupaten Purwakarta. Menurutnya, BCKS memberikan pengetahuan baru tentang kepemimpinan dan manajemen sekolah. “Program BCKS sangat perlu sekali. Program ini harus dirasakan oleh semua kepala sekolah,” tuturnya.
Ia pun membawa tekad untuk melakukan perubahan ketika mendapat kepercayaan memimpin sekolah. “Saya akan mereformasi pendidikan di sekolah itu ke arah perubahan yang lebih baik lagi, sesuai dengan apa yang saya dapatkan ilmunya dari sini,” ujar Budi.
Dalam kesempatan yang sama, turut bergabung secara daring, peserta Pelatihan BCKS dari Aceh. Mewakili peserta lainnya, salah satu peserta menyampaikan harapan selepas kegiatan ini, ia dapat menjadi kepala sekolah yang transformatif dan mampu berkontribusi guna meningkatkan mutu pendidikan. Tak ketinggalan, perwakilan peserta dari Lampung juga menyampaikan pendapat bahwa pelatihan ini memberinya bekal tentang keteladanan sebagai kepala sekolah dan mengajarkan strategi untuk mengelola sumber daya di satuan pendidikan.
Penguatan kompetensi guru menjadi penting terutama dalam menghadapi transisi bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028. Terlebih, banyak guru memiliki latar belakang pendidikan nonbahasa Inggris. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti berharap, pelatihan ini mampu melahirkan guru yang percaya diri menggunakan bahasa Inggris, membangun komunitas belajar, serta mengembangkan budaya belajar melalui refleksi, kolaborasi profesional, dan komunitas belajar. “Jangan biarkan komunikasi dan kolaborasi berakhir di sini. Bangun dan pelihara jejaring profesional yang saling menguatkan, berbagi, dan belajar,” pesan Abdul Mu’ti.
Selain itu, Mendikdasmen juga menekankan pentingnya kolaborasi para pemangku kepentingan dalam menciptakan SDM bermutu yang mampu menggerakkan ekosistem pendidikan. Ia menyampaikan bahwa kekuatan pendidikan terletak pada kolaborasi. “Pendidikan bermutu lahir dari kolaborasi dan semangat berbagi, bukan dari kerja sendiri,” pungkasnya.
News
Menjaga Batas antara Akad Komersial dan Akad Sosial
Monitorday.com – Suatu pagi di Pasar Madinah, Rasulullah saw. berjalan melewati seorang pedagang makanan, lalu memasukkan tangan beliau ke dalam tumpukan dagangan yang tampak kering di bagian atas, tetapi ternyata basah di bagian dalam. Rasulullah kemudian menegur, “Mengapa tidak engkau letakkan yang basah itu di atas agar orang melihatnya?”
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Muslim; sebuah teguran sederhana yang menyimpan pesan besar bahwa transaksi bukan sekadar soal barang dan harga, melainkan juga soal keterbukaan dan kejujuran.
Dalam Islam, sesuatu yang tampak menguntungkan belum tentu membawa keberkahan jika cara mendapatkannya menyimpan ketidakjelasan. Pembeli berhak mengetahui kondisi barang, penjual wajib menjelaskan keadaan sebenarnya, dan kedua belah pihak harus memahami akad yang sedang mereka lakukan. Sebab, ketika akad dibuat samar, ruang untuk mengambil keuntungan dari ketidaktahuan orang lain menjadi semakin terbuka.
Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan ekonomi yang lebih luas, terutama ketika seseorang berada dalam posisi membutuhkan. Islam membedakan dengan jelas antara transaksi yang bersifat komersial dan transaksi yang bersifat sosial. Pembedaan ini penting karena tidak semua kebaikan harus menghasilkan keuntungan, dan tidak semua keuntungan boleh dibungkus dengan alasan kebaikan.
Dalam fikih muamalah, akad komersial seperti bai’ atau jual-beli memang dibangun untuk pertukaran yang menghasilkan keuntungan. Pedagang membeli barang, kemudian menjualnya dengan harga yang disepakati; keuntungan menjadi bagian yang wajar dari aktivitas bisnis. Selama barangnya halal, harga dan objeknya jelas, tidak ada penipuan, serta dilakukan atas dasar kerelaan, keuntungan bukan sesuatu yang harus dicurigai.
Berbeda dengan akad tabarru’, yang sejak awal dibangun atas semangat sosial: membantu, memberi, atau meringankan beban orang lain. Pinjaman (qardh) misalnya, pada dasarnya merupakan bentuk pertolongan kepada seseorang yang membutuhkan, bukan kesempatan untuk mencari keuntungan dari kesulitannya. Di sinilah Islam memberikan pagar agar semangat tolong-menolong tidak berubah menjadi transaksi komersial yang terselubung.
Rasulullah saw. bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai pencampuran akad tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan larangan menggabungkan pinjaman dengan jual-beli, yang dikenal dengan ungkapan “la yahillu salafun wa bai’”. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berkaitan dengan potensi munculnya keuntungan yang tidak semestinya melalui penggabungan dua akad yang karakter dan tujuannya berbeda.
Mengapa harus dipisahkan? Karena orang yang meminjam biasanya berada dalam posisi yang lebih lemah secara ekonomi. Ketika pemberi pinjaman mensyaratkan orang tersebut membeli barang, menggunakan jasa tertentu, atau melakukan transaksi lain yang menguntungkan pemberi pinjaman, bantuan tadi tidak lagi terasa sebagai bantuan yang bebas. Di titik itulah hubungan sosial bisa bergeser menjadi relasi yang eksploitatif.
Bayangkan seseorang meminjam Rp10 juta karena sedang terdesak kebutuhan keluarga. Pemberi pinjaman mengatakan tidak ada bunga, tetapi ia mensyaratkan peminjam membeli barang dagangannya dengan harga tertentu atau memberikan keuntungan dalam transaksi lain. Secara kasatmata tidak disebut bunga, tetapi jika tambahan keuntungan tersebut muncul karena adanya pinjaman dan menjadi syarat yang melekat pada pinjaman, maka persoalan syariahnya menjadi serius dan berpotensi menyerupai riba terselubung.
Di sinilah keindahan ekonomi Islam sebenarnya terlihat. Islam tidak melarang orang mencari keuntungan, tetapi Islam ingin memastikan bahwa keuntungan lahir dari transaksi yang memang dimaksudkan sebagai transaksi bisnis. Sebaliknya, ketika akadnya adalah pertolongan, jangan diam-diam disisipkan kepentingan komersial yang membuat orang yang sedang membutuhkan justru membayar lebih mahal atas pertolongan yang diterimanya.
Karena itu, pemisahan akad bukan sekadar persoalan teknis dalam dokumen perjanjian. Ia adalah cara menjaga niat agar tetap lurus sekaligus menjaga hak para pihak agar tidak saling menzalimi. Pinjaman sosial biarlah menjadi pinjaman sosial, sementara jual-beli biarlah menjadi jual-beli dengan harga, objek, dan keuntungan yang terang.
Dalam praktik bisnis modern, prinsip ini justru semakin relevan. Koperasi, lembaga keuangan, platform digital, paylater, pembiayaan, hingga berbagai skema bisnis berbasis komunitas perlu berhati-hati agar label “membantu” tidak menjadi pintu masuk untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya tidak muncul dari akad sosial. Transparansi akad menjadi penting agar masyarakat tidak hanya tahu berapa yang harus dibayar, tetapi juga memahami mengapa ia harus membayar.
Pada akhirnya, ekonomi Islam tidak sedang mengajarkan manusia untuk takut terhadap keuntungan. Islam justru mengajarkan bahwa keuntungan harus ditempatkan pada tempatnya, sementara pertolongan harus dijaga kemurniannya. Ketika akad komersial dan akad sosial dipisahkan secara tegas, bisnis tetap bisa tumbuh, solidaritas tetap hidup, dan hubungan ekonomi tidak berubah menjadi permainan memanfaatkan kelemahan orang lain.
Sebab keberkahan tidak hanya ditentukan oleh berapa besar uang yang diperoleh, tetapi juga dari akad apa uang itu lahir. Menolonglah ketika akadnya memang untuk menolong, berdaganglah ketika akadnya memang untuk berdagang, dan jangan mencampurkan keduanya demi keuntungan yang tersembunyi. Di situlah keadilan ekonomi menemukan ruhnya: keuntungan diperoleh secara halal, pertolongan diberikan dengan ikhlas, dan setiap transaksi membawa keberkahan bagi semua pihak.
News
Kemendikdasmen Perluas Akses Pendidikan Bermutu
Monitorday.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) merupakan bagian dari program prioritas Presiden Republik Indonesia yang bertujuan memberikan layanan pendidikan yang unggul bagi anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa, baik dalam bidang akademik maupun olahraga, seni, dan bidang keunggulan lainnya.
Pada tahun pertama, sebanyak 17 SNT mulai dibuka di sejumlah provinsi dan kabupaten di Indonesia. Untuk sementara, proses pembelajaran dilaksanakan di sekolah transit karena sekolah yang direncanakan dibangun di lahan seluas 10 hingga 20 hektare tersebut masih dalam proses pembangunan. Pembangunannya ditargetkan mulai pada akhir tahun ini.
“Penyelenggaraan dan proses belajar mengajar sudah mulai berlangsung. Hari Senin kemarin saya membuka MPLS di SNT 7 di Parung, Bogor, yang diikuti oleh seluruh SNT di Indonesia,” tutur Mendikdasmen.
News
Kado Mewah untuk Muchlas Rowi
Simak peran strategis Dr. Muchlas Rowi sebagai Staf Khusus Menteri dalam memimpin transformasi digital pendidikan di Indonesia, dari AI hingga tata kelola.
Isi kepalanya sudah melompat jauh ke depan. Melampaui umurnya yang hari ini bertambah satu angka.
Saat orang lain masih meributkan soal papan tulis dan kapur, ia sudah bicara soal kecerdasan buatan. AI.
Dialah Dr. Muhammad Muchlas Rowi. Bagi kebanyakan angkatan muda Muhammadiyah, kami lebih akrab memanggilnya: Kang Awa. Manusia yang tidak pernah betah diam di zona nyaman. Lihat saja isi kepalanya: ada filsafat UGM, ada hukum, ada manajemen. Lintas disiplin. Berjejer. Lengkap.
Maka, ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti menariknya menjadi Staf Khusus Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, saya langsung membatin: ini pilihan yang klop. Pas.
Mengapa? Pendidikan dasar kita ini sedang menghadapi ombak besar. Ombak digital. Pilihannya hanya due: ikut berselancar di atas ombak itu, atau tenggelam digulung zaman. Kang Awa diserahi tugas memegang kemudi digital itu. Tugas yang tidak ringan. Sungguh berat.
Dari IRM ke Menara Digital
Latar belakangnya adalah aktivis. Ia mengasah kepekaan sosialnya sejak belia di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Jiwa pengabdiannya panjang. Sampai-sampai dipercaya menjadi Wakil Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Aktivis itu biasanya punya satu kelebihan: jeli melihat masalah di akar rumput. Maka ketika ia memikirkan transformasi digital untuk sekolah-sekolah di Indonesia, yang ada di kepalanya bukan sekadar membagikan komputer atau gawai gratis. Bukan. Itu terlalu sederhana. Yang ia rancang adalah bagaimana teknologi dan AI benar-benar merombak cara guru mengajar dan cara murid menyerap ilmu.
Ia ingin teknologi menjadi jembatan keadilan, bukan justru memperlebar jurang ketimpangan antara sekolah di kota besar dan di pelosok daerah.
Menjaga Kewarasan Finansial
Hebatnya, di saat otaknya harus berpikir tentang kurikulum digital yang penuh inovasi, ia juga harus menjaga kewarasan finansial di tempat lain. Ya, Kang Awa juga seorang Komisaris Independen di PT Jamkrindo.
Ini dua dunia yang sangat kontras. Di Kemendikdasmen ia harus berpikir out of the box demi masa depan anak bangsa. Di Jamkrindo, ia justru harus menjadi benteng penegak tata kelola. Harus ketat. Harus akuntabel. Melindungi hak pemegang saham minoritas, memastikan manajemen risiko berjalan dengan presisi.
Bagaimana membagi kepala untuk dua urusan raksasa ini? Jawabannya ada pada ilmu hukum yang ia dalami hingga tingkat doktor di UTA ’45 Jakarta. Disertasinya dulu memang membedah soal tata kelola komisaris independen BUMN. Jadi, apa yang ia lakukan di Jamkrindo bukan sekadar teori, melainkan aplikasi dari keyakinan akademisnya.
Belum lagi kalau bicara soal hobinya. Ia memimpin Federasi Karate Tradisional Indonesia (INATKF). Bahkan dipercaya di tingkat Asia dan Oseania. Pantas saja staminanya seperti tidak ada habisnya. Jiwa karatenya membuat ia selalu siap menghadapi tantangan secara ksatria dan disiplin.
Bagi Kang Awa, hidup adalah perpaduan antara kontemplasi filsafat dan ketepatan jurus karate: setiap gerakan pemikiran harus taktis, lincah, namun tetap presisi di atas landasan etika.
Kado Mewah
Kini, di hari ulang tahunnya, tidak ada hadiah yang lebih mewah bagi seorang pemikir selain melihat ide-idenya mulai menetas.
Kita tentu menunggu, kejutan-kejutan digital apa lagi yang akan lahir dari meja kerjanya sebagai Staf Khusus Menteri. Kita ingin melihat AI bukan lagi menjadi barang asing yang menakutkan bagi guru-guru di daerah, melainkan menjadi asisten setia yang memajukan kecerdasan bangsa.
Selamat ulang tahun, Kang Awa. Teruslah melompat memikirkan masa depan digital kita, sembari tetap kokoh berpijak pada bumi tata kelola yang bersih. Pendidikan kita membutuhkan energi-energi lincah seperti Anda!
News
Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026-2031
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031. Ketahui detail proses pemilihan dan profilnya di sini.
Monitorday.com – KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu mengungguli empat kandidat lain dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8).
Gus Kikin meraih 472 suara, menjadi peraih suara terbanyak dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU. Setelah proses penjaringan, pemilihan Ketua Umum kemudian ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dengan restu tertulis Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar.
Keputusan tersebut diumumkan anggota AHWA KH Anwar Iskandar di ruang sidang pleno Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
“Setelah melakukan musyawarah dari lima calon yang diajukan, maka anggota AHWA secara mufakat memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketum PBNU masa khidmah 2026–2031,” kata Anwar saat membacakan keputusan AHWA, Senin pagi.
Musyawarah sembilan anggota AHWA digelar tertutup di Ndalem Kasepuhan pada pukul 06.20–07.00 WIB. Sidang diawali pembacaan Ummul Quran dan ditutup dengan doa yang dipimpin KH Anwar Manshur.
Berita acara penetapan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU kemudian ditandatangani seluruh anggota AHWA.
Sembilan anggota AHWA tersebut yakni KH Nurul Huda Dazuli, TGK KH Nuruzzahri Yahya, KH Baharuddin HS, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siradj, dan KH Abun Bunyamin.
Sebelum ditetapkan melalui AHWA, Gus Kikin sudah memimpin perolehan suara dari muktamirin. Ia mengantongi 472 suara, meninggalkan empat kandidat lainnya.
- KH Zulfa Mustofa: 262 suara
- KH Abdussalam Sochib: 261 suara
- KH Yahya Cholil Staquf: 258 suara
- KH Abdul Ghofar Rozin: 155 suara
Dengan hasil tersebut, Gus Kikin mendapat mandat kuat untuk memimpin PBNU selama lima tahun ke depan.
Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan cicit Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, salah satu pendiri NU, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Ia meneruskan kepemimpinan pamannya, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, yang wafat pada 2020.
Di lingkungan NU, Gus Kikin sebelumnya menjabat Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur periode 2024–2029. Ia juga pernah menjadi salah satu ketua di PBNU.
Pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU resmi mendapat mandat dari PWNU Jawa Timur pada Juli 2026. Gus Kikin juga dikenal sebagai sepupu jauh Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Dalam pencalonannya, Gus Kikin membawa sejumlah agenda utama, antara lain menguatkan kembali Qanun Asasi NU sebagai pedoman dasar organisasi, memperkuat adab dan sanad keilmuan, serta mengembangkan potensi ekonomi warga NU.
Kini, dengan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 resmi terbentuk.
News
IRGC Gempur Dua Pangkalan Militer AS di Yordania
IRGC mengklaim telah menggempur dua pangkalan militer AS di Yordania dengan rudal balistik. Serangan ini terjadi menyusul eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Monitorday.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim melancarkan serangan rudal balistik terhadap dua pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Senin (31/8). Serangan disebut sebagai balasan atas serangan AS terhadap Pulau Larak sehari sebelumnya.
IRGC menyatakan rudal Iran menghantam pangkalan King Hussein dan Al Azraq. Teheran mengklaim serangan tersebut menghancurkan sejumlah infrastruktur teknis dan fasilitas perbaikan, termasuk lokasi penempatan pesawat tempur.
“(Serangan ini) menghancurkan infrastruktur teknis dan perbaikan, serta lokasi penempatan fighter,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip Al Jazeera.
IRGC juga memperingatkan Washington bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan serangan yang lebih besar.
“Agresi dan kejahatan tidak akan menyelesaikan keputusasaan musuh dalam upaya melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Setiap serangan juga akan menerima balasan yang lebih menghancurkan,” kata IRGC.
Serangan Iran tersebut terjadi setelah militer AS melancarkan serangan terhadap peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Senin dini hari.
Washington menyebut serangan itu dilakukan setelah militer AS menilai IRGC tengah bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz, jalur strategis bagi lalu lintas energi dunia.
IRGC sebelumnya mengecam serangan AS dan berjanji melakukan pembalasan. Klaim serangan terhadap dua pangkalan AS di Yordania menjadi indikasi terbaru meningkatnya ketegangan kedua negara, di tengah konflik yang telah berlangsung sekitar enam bulan dan sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
News
KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU
KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin PBNU sebagai Rais Aam untuk periode 2026–2031. Keputusan ini ditetapkan melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Monitorday.com – KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Rais Aam untuk masa khidmah 2026–2031.
Keputusan tersebut ditetapkan melalui musyawarah sembilan kiai sepuh NU yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Musyawarah berlangsung tertutup di Ndalem Kasepuhan, kediaman KH Wahab Hasbullah, di kompleks Muktamar ke-35 NU, Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8).
Anggota AHWA KH Anwar Iskandar mengumumkan keputusan tersebut seusai sidang tertutup di Gedung Sidang Pleno V, Gedung Serba Guna.
“Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota AHWA secara mufakat memutuskan bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031,” kata Anwar.
Dengan keputusan itu, Miftachul Akhyar melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam setelah sebelumnya menduduki posisi yang sama pada masa khidmah 2021–2026.
Miftachul Akhyar merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya. Karier organisasinya di NU telah berlangsung panjang, mulai dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam PBNU, hingga Pejabat Rais Aam sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Rais Aam definitif.
Di luar NU, Miftachul Akhyar juga pernah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai Ketua Umum untuk periode 2020–2025.
News
Muhammadiyah dan Kitab Kuning: Turats Tetap Penting dalam Tajdid
Muhammadiyah tidak menolak kitab kuning, tetapi menjadikannya bagian penting dari tradisi intelektual untuk memahami, mengkritisi, dan mengembangkan pembaruan pemikiran Islam.
Monitorday.com– Muhammadiyah tidak dapat disebut sebagai gerakan yang anti terhadap kitab kuning atau turats. Ustaz Nur Fajri Ramadan, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, menjelaskan bahwa warisan intelektual ulama klasik justru memiliki posisi penting dalam proses tajdid atau pembaruan pemikiran Islam.
Menurut Nur Fajri, pembaruan tidak mungkin dilakukan secara memadai tanpa memahami khazanah keilmuan yang telah diwariskan ulama terdahulu. Kajian terhadap turats diperlukan agar proses purifikasi maupun pembaruan tidak dilakukan secara parsial, tetapi memiliki landasan keilmuan dan mampu memahami konteks pemikiran yang berkembang dalam sejarah Islam.
Pandangan tersebut juga memiliki akar sejarah dalam perjalanan Muhammadiyah. Tokoh seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur dikenal memiliki tradisi belajar yang bersentuhan dengan literatur dan pemikiran ulama klasik. Dengan demikian, tajdid tidak berarti memutus hubungan dengan tradisi keilmuan masa lalu, melainkan melakukan pembacaan kembali secara kritis untuk menjawab persoalan yang muncul pada zaman berbeda.
Dalam praktik organisasi, Muhammadiyah juga mengembangkan pendekatan yang relatif egaliter terhadap kemampuan membaca kitab kuning. Kemampuan memahami teks Arab klasik bukan satu-satunya ukuran kontribusi seseorang dalam gerakan Muhammadiyah. Dokter, akademisi, insinyur, profesional, pendidik, maupun bidang keahlian lainnya dapat memberikan kontribusi sesuai kompetensinya masing-masing selama berada dalam kerangka nilai dan tujuan organisasi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi intelektual dan profesionalisme dapat berjalan beriringan. Penguasaan turats menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pemahaman keislaman, sementara keahlian modern diperlukan untuk menghadapi persoalan masyarakat yang semakin kompleks. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Diskusi tersebut juga memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah berupaya menggunakan kerangka teologi untuk merespons persoalan kontemporer, termasuk ateisme dan isu kesejahteraan hewan. Tantangannya bukan sekadar memberikan jawaban normatif, tetapi menghadirkan pendekatan keagamaan yang argumentatif, kontekstual, dan tetap mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan serta realitas sosial.
Dengan demikian, tudingan bahwa Muhammadiyah anti-kitab kuning perlu dilihat secara lebih proporsional. Tajdid bukan berarti meninggalkan turats, melainkan memahami warisan intelektual tersebut untuk kemudian melakukan pembaruan sesuai kebutuhan zaman. Dalam perspektif ini, tradisi klasik dan pemikiran modern dapat ditempatkan sebagai dua sumber dialog intelektual yang saling memperkaya bagi perkembangan pemikiran Islam.
News
OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Digital Lewat Digination Day
Pelajari bagaimana OJK melalui Digination Day 2026 memperkuat inovasi, regulasi adaptif, dan perlindungan konsumen dalam mengembangkan keuangan digital serta aset kripto di Indonesia.
Monitorday.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempercepat penguatan ekosistem inovasi teknologi sektor keuangan, aset keuangan digital, dan aset kripto (IAKD). Langkah itu ditegaskan dalam Digital Financial Innovation Day (OJK Digination Day) 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan regulator, pemerintah, parlemen, pelaku industri, investor, akademisi, dan masyarakat untuk mendorong pengembangan keuangan digital yang inovatif sekaligus aman, inklusif, berintegritas, dan berkelanjutan.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Hernawan Bekti Sasongko menegaskan inovasi keuangan digital kini telah menjadi bagian dari sistem keuangan nasional. Karena itu, sektor tersebut harus tunduk pada prinsip tata kelola, manajemen risiko, dan pelindungan konsumen yang setara dengan sektor keuangan lainnya.
“Same activity, same risk, same regulation,” kata Hernawan.
OJK juga memperkenalkan OJK Fintech Startup Accelerator sebagai penghubung perusahaan rintisan dengan industri jasa keuangan, investor, dan regulator. Program ini diperkuat melalui demo day dan business matching untuk membuka akses inovator terhadap pendanaan serta kemitraan industri.
Di sisi regulasi, OJK menyiapkan kerangka yang lebih adaptif terhadap perkembangan kecerdasan artifisial, tokenisasi aset, blockchain, dan aset kripto. Arah kebijakan tersebut akan dituangkan dalam Peta Jalan IAKD 2026–2031, sejalan dengan penyempurnaan kerangka hukum sektor keuangan melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026.
Pertumbuhan transaksi digital juga terus berlanjut. Hingga Juli 2026, OJK mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital mencapai 22,93 juta akun.
Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto mencapai Rp20,52 triliun, sementara transaksi derivatif tercatat Rp3,41 triliun.
Aktivitas tersebut ditopang infrastruktur pasar yang terdiri atas dua bursa aset keuangan digital, dua lembaga kliring penjaminan dan penyelesaian, dua pengelola tempat penyimpanan, serta 26 pedagang aset keuangan digital berizin.
Di sektor inovasi teknologi keuangan, OJK mencatat delapan penyelenggara pemeringkat kredit alternatif dan 16 penyelenggara agregasi jasa keuangan. Seluruhnya telah membangun 1.357 kemitraan dengan Lembaga Jasa Keuangan (LJK).
Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun menilai perkembangan IAKD dan aset kripto berpotensi membuka sumber pembiayaan baru sekaligus memperluas inklusi keuangan. Namun, peluang tersebut harus diimbangi regulasi yang adaptif, akses pendanaan, peningkatan kapasitas, dan penguatan talenta digital.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menambahkan, pengembangan ekosistem digital membutuhkan sinergi antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan OJK. Komdigi berfokus pada infrastruktur, kebijakan kecerdasan artifisial, dan talenta digital, sedangkan OJK memastikan inovasi tetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian, pelindungan konsumen, dan stabilitas sistem keuangan.
Selain mendorong industri, OJK memperkuat sisi edukasi dan pelindungan konsumen dengan meluncurkan Buku Saku 2.0 Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto.
Publikasi yang disusun bersama industri tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat memahami karakteristik, manfaat, sekaligus risiko aset keuangan digital dan aset kripto.
Kepala Eksekutif Pengawas IAKD OJK Adi Budiarso mengatakan literasi dan kecerdasan finansial menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, OJK memusatkan pengembangan IAKD pada tiga agenda: deepening, untuk memperdalam ekosistem yang sudah terbentuk; widening, untuk memperluas jangkauan dan pemanfaatan inovasi; serta safeguarding, untuk memperkuat pelindungan konsumen dan mitigasi risiko.
OJK menegaskan Digination Day 2026 bukan sekadar agenda seremonial. Forum tersebut diarahkan menjadi ruang kerja bersama untuk menyelaraskan kebijakan dan memperkuat fondasi keuangan digital nasional.
Dengan regulasi yang adaptif, inovasi yang bertanggung jawab, dan pelindungan konsumen yang kuat, OJK menargetkan ekosistem keuangan digital Indonesia tumbuh lebih inklusif, aman, kompetitif, dan berkelanjutan.
News
Sebanyak 4.021 Alumni LKP Siap Bekerja di 11 Negara
Ribuan alumni LKP berhasil menembus pasar kerja global di 11 negara berkat Gebyar Kursus 2026. Ini bukti nyata peran pendidikan nonformal dalam mencetak talenta siap kerja.
Monitorday.com – Kebutuhan industri yang bergerak cepat menuntut arah baru dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Kursus dan Pelatihan mengadakan Gebyar Kursus 2026, mengusung tema “Connecting Skills, Creating Futures“, di Jakarta, Sabtu (29/8).
Dalam acara tersebut, sebanyak 4.021 alumni lembaga kursus dan pelatihan (LKP) dilepas untuk bekerja di 11 negara. Capaian ini menjadi bukti bahwa keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan nonformal dapat membuka jalan menuju dunia kerja, bahkan hingga mancanegara.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa pelepasan ribuan alumni tersebut menunjukkan peran penting pendidikan nonformal dalam memberikan keterampilan kepada anak-anak Indonesia agar dapat memperoleh pekerjaan di sektor-sektor profesional, baik di dalam maupun luar negeri.
“Mereka adalah diaspora-diaspora Indonesia yang ke luar negeri bukan semata-mata untuk mencari rezeki, tetapi mereka adalah duta-duta Indonesia yang membawa misi Indonesia, membawa misi untuk memperkuat jalinan kerja sama dan bahkan jaringan bisnis antara Indonesia dengan negara-negara lain di mana mereka berada.”
Mendikdasmen juga memberikan apresiasi kepada forum LKP dan Direktorat Kursus dan Pelatihan yang telah menyelenggarakan Gebyar LKP 2026. Menurutnya, pemerintah terus berupaya menghadirkan layanan pendidikan yang fleksibel, mudah dijangkau, dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Hal ini selaras dengan arahan Bapak Presiden. Selain program SMK Go Global dan juga SMK 3 + 1, program ini juga menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pendidikan formal dan nonformal berperan penting dalam membekali anak-anak Indonesia dengan kecakapan hidup untuk mendapatkan penghidupan dan kehidupan yang layak, baik untuk mereka secara pribadi maupun dalam konteks yang lebih besar untuk kepentingan bangsa dan negara,” tambahnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa pelepasan ini bukan sekadar seremoni pemberangkatan kerja, melainkan bagian dari misi besar menghubungkan keterampilan dengan kesempatan.
“Hari ini kita tidak sekadar melepas 4.021 alumni, tetapi kita melepas talenta Indonesia yang membawa keterampilan, karakter, dan nama bangsa ke panggung dunia. Dengan Connecting Skills, Creating Futures, kita hubungkan keterampilan mereka, kita buka kesempatannya, dan bersama kita ciptakan masa depan yang lebih baik,” ujar Tatang.
Dukungan juga datang dari Ketua Komisi X DPR RI, Agung Widyantoro, yang mengapresiasi Gebyar Kursus 2026. Pihaknya menekankan pentingnya responsivitas LKP terhadap kebutuhan pasar kerja yang dinamis.
“LKP harus mampu membaca perubahan pasar kerja agar program pelatihannya tidak tertinggal dari perkembangan industri. Hubungan antara lembaga kursus, pemerintah, dan dunia usaha/dunia industri (DUDI) perlu terus diperkuat. LKP diharapkan tidak hanya berfokus pada sertifikasi, tetapi memastikan akses pekerjaan yang nyata. Keterampilan teknis juga perlu dilengkapi dengan kemampuan digital, manajemen usaha, pemasaran, literasi keuangan, hingga pembuatan jejaring agar lulusan didorong menjadi pencipta lapangan kerja,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Forum Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (PLKP) Indonesia, Zulkifli M. Adam, menegaskan bahwa lulusan LKP memiliki daya serap yang luas, baik di pasar kerja domestik, internasional, maupun jalur kewirausahaan.
“Ini adalah salah satu wujud konkret lembaga kursus bersama pemerintah dalam rangka menuntaskan masalah pengangguran dan kemiskinan,” ujar Zulkifli.
Sektor perhotelan dan kuliner (hospitality) serta tenaga pengasuh (caregiver) menjadi bidang utama yang menyerap banyak lulusan di luar negeri. Pada pelepasan kali ini, para alumni LKP memperoleh kesempatan berkarier di berbagai negara, antara lain Jepang, Malaysia, Bulgaria, Thailand, Albania, Singapura, dan Turki.
Rangkaian Gebyar Kursus 2026 juga dimeriahkan dengan kompetisi keterampilan, pameran/ekspo, promosi program unggulan LKP, hingga sesi business matching. Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen berkomitmen dalam perluasan akses pendidikan keterampilan dan penguatan kemitraan strategis dengan para pemangku kepentingan. Hal ini dikarenakan perubahan dunia yang cepat, tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai, tetapi juga SDM yang terus belajar.
News
Pollux Hotels Tunjuk OTIS Elevator untuk Proyek Fraser Residence
Pollux Hotels memilih OTIS Elevator sebagai mitra untuk proyek Fraser Residence, menandai kolaborasi strategis dalam menghadirkan solusi transportasi vertikal yang inovatif dan aman.
Monitorday.com — Pollux Hotels resmi menjalin kolaborasi dengan PT Citas Otis Elevator (OTIS) melalui penunjukan OTIS sebagai mitra elevator untuk proyek Fraser Residence. Kolaborasi ini menjadi kerja sama perdana antara Pollux Hotels dan OTIS Elevator, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendukung pengembangan Fraser Residence dengan infrastruktur transportasi vertikal yang mengedepankan aspek keselamatan, kenyamanan, keandalan, dan teknologi.
Penandatanganan kerja sama berlangsung pada Jumat, 21 Agustus 2026, di WorldCapital Tower, Jakarta, dan dihadiri oleh Joseph Hasnan, President Director PTCitas Otis Elevator; M. Fajar Hermansyah, Operations Leader; P&L Responsible; serta Nurzaman Khairudin, Modernization & Full Replacement Sales Engineer OTIS.
Dari jajaran manajemen Pollux Hotels, turut hadir Teny Siti Febriyani, President Commissioner, dan Aswin Desmonda Rosidi, Director.
Dalam kesempatan tersebut, Teny Siti Febriyani, President Commissioner Pollux Hotels, menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat berkembang menjadi partnership jangka panjang yang memberikan manfaat bagi kedua perusahaan.
“Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi partnership jangka panjang yang saling memberikan manfaat, baik dalam pengembangan properti baru maupun dalam modernization dan improvement terhadap existing properties kami. Semoga kerja sama ini dapat terus berkembang dan memberikan value yang positif bagi kedua perusahaan.”
”Penunjukan OTIS untuk proyek Fraser Residence merupakan bagian dari komitmen Pollux Hotels dalam menghadirkan kualitas infrastruktur yang mendukung standar keselamatan dan kenyamanan bagi para penghuni. Sebagai pengembangan hunian yang bekerja sama dengan Frasers Hospitality, Fraser Residence diharapkan dapat memberikan pengalaman tinggal yang aman, nyaman, dan berkualitas.
Sementara itu, Joseph Hasnan, President Director PT Citas Otis Elevator, menyampaikan bahwa OTIS merasa bangga dapat menjadi bagian dari pengembangan Fraser Residence bersama Pollux Hotels.
Joseph menjelaskan bahwa OTIS merupakan salah satu perusahaan elevator terbesar di dunia dengan sejarah panjang dalam industri transportasi vertikal. Berdiri sejak 1853, OTIS dikenal sebagai pionir dalam pengembangan safety elevator dan telah menjadi bagian dari berbagai bangunan ikonik di dunia, termasuk Burj Khalifa, Menara Eiffel, dan Petronas Twin Towers.
Dengan pengalaman lebih dari satu abad, OTIS terus mengembangkan teknologi dan solusi elevator yang mengutamakan keselamatan, reliability, dan inovasi.
Joseph juga menyampaikan bahwa terdapat keselarasan antara visi OTIS dan Pollux Hotels, sehingga diharapkan kolaborasi ini dapat berkembang menjadi kerja sama jangka panjang.
“Merupakan suatu kebanggaan bagi kami dapat berkolaborasi dengan Pollux Hotels. Kami melihat bahwa visi OTIS dan Pollux memiliki alignment yang baik. Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi partnership jangka panjang dan memberikan value yang positif bagi kedua perusahaan.”
Selain mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan, OTIS juga menghadirkan solusi teknologi yang mendukung konektivitas digital dan pengelolaan elevator secara lebih pintar.
Salah satunya melalui Otis ONE™, solusi berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan kondisi dan performa elevator dipantau secara real-time. Teknologi ini membantu mengidentifikasi potensi masalah sejak dini sehingga proses pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih proaktif.
OTIS juga memiliki Otis eCall™ Plus, yang memungkinkan pengguna memanggil elevator melalui smartphone tanpa harus menyentuh tombol fisik. Selain itu, integrasi berbasis cloud dan API memungkinkan sistem elevator terhubung dengan sistem manajemen gedung, termasuk sistem keamanan maupun perangkat pintar lainnya.
Penerapan teknologi tersebut sejalan dengan kebutuhan properti modern yang tidak hanya menuntut kenyamanan dan estetika, tetapi juga safety, reliability, efficiency,dan digital connectivity.
Kolaborasi ini turut mendapat apresiasi dari Efendy Susanto, Director of Business Development for Frasers Hospitality, yang menekankan pentingnya kualitas infrastruktur dan mitra yang andal dalam mendukung pengalaman penghuni maupun tamu.
“At Frasers Hospitality, we believe that quality infrastructure and reliable partnersare important in supporting a safe and comfortable experience for our guests. Weappreciate Pollux’s continued commitment to the development of Fraser Residenceand congratulate the team on this milestone with Otis.”
”Penunjukan OTIS sebagai mitra elevator untuk Fraser Residence menjadi langkah awal dalam hubungan strategis antara Pollux Hotels dan OTIS Elevator. Ke depan, kerjasama ini diharapkan dapat terus berkembang, tidak hanya dalam mendukung proyek Fraser Residence, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan properti baru maupun modernization and improvement terhadap existing properties Pollux Hotels.
Melalui kolaborasi ini, Pollux Hotels dan OTIS optimistis dapat menghadirkan solusi transportasi vertikal yang mendukung standar keselamatan, kenyamanan, dan kualitas yang dibutuhkan oleh properti modern, sekaligus menciptakan long-term partnership yang memberikan nilai positif bagi kedua perusahaan.
