Connect with us

Review

Sengketa Lahan Bendungan Jenelata: PTPN Jangan Abai pada Hak Warga

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Pengaduan warga Desa Tanah Karaeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, ke DPR RI terkait sengketa lahan pembangunan Bendungan Jenelata menyingkap persoalan klasik agraria yang terus berulang: proyek strategis negara berjalan, sementara hak warga justru terpinggirkan. Masuknya perkara ini ke ranah pengadilan seharusnya menjadi alarm keras bagi negara agar tidak sekadar berlindung di balik dalih kepentingan umum, tetapi benar-benar menegakkan keadilan agraria.

Persoalan utama sengketa ini terletak pada tumpang tindih klaim kepemilikan lahan. PTPN mengklaim lahan tersebut sebagai miliknya, namun hingga kini tidak mampu menunjukkan alas hak yang sah. Fakta ini diperkuat oleh keterangan BPN Kabupaten Gowa yang menyatakan bahwa baik eks PKG maupun PTPN XIV belum memiliki Sertipikat Hak Guna Usaha (HGU) atau sertipikat lain atas bidang tanah yang disengketakan. Dalam negara hukum, klaim tanpa bukti bukanlah dasar yang dapat dibenarkan, apalagi jika klaim tersebut berpotensi menggusur hak hidup masyarakat.

Di sisi lain, terdapat 26 kepala keluarga warga Desa Tanah Karaeng yang secara nyata menguasai dan memanfaatkan lahan tersebut. Mereka tidak hanya tinggal dan mengelola tanah, tetapi juga rutin membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang diterbitkan pemerintah daerah. Pembayaran PBB bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pengakuan negara—meski tidak langsung atas relasi warga dengan tanah tersebut. Mengabaikan fakta ini sama artinya dengan mengingkari tanggung jawab negara sendiri.

Lebih memprihatinkan lagi, proses mediasi di pengadilan telah berlangsung dua kali tanpa kehadiran pihak PTPN, bahkan tanpa keterangan yang jelas. Sikap absen ini menunjukkan ketimpangan relasi kuasa antara korporasi negara dan warga. Ketika masyarakat kecil dipaksa taat prosedur hukum, institusi besar justru terkesan abai. Padahal, mediasi adalah ruang penting untuk mencari solusi berkeadilan tanpa memperpanjang konflik sosial.

Pembangunan bendungan memang penting untuk ketahanan air, energi, dan pertanian. Namun, pembangunan tidak boleh mengorbankan prinsip keadilan dan kepastian hukum. Proyek strategis nasional yang dibangun di atas konflik agraria justru berisiko menciptakan luka sosial berkepanjangan dan delegitimasi negara di mata rakyatnya sendiri.

Kehadiran warga ke Badan Aspirasi Masyarakat DPR RI harus dimaknai sebagai seruan agar negara hadir secara adil, bukan sebagai ancaman terhadap pembangunan. DPR RI, pemerintah, dan lembaga terkait wajib memastikan bahwa setiap jengkal tanah yang digunakan benar-benar memiliki dasar hukum yang jelas, serta menjamin perlindungan hak warga terdampak.

Jika negara terus membiarkan klaim tanpa bukti mengalahkan fakta penguasaan dan penghidupan warga, maka yang dipertaruhkan bukan hanya lahan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap hukum dan keadilan itu sendiri.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Review

Urgensi Briefing Pekanan: Dari Meja Instruksi Menuju Meja Kolaborasi

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Dalam setiap organisasi , selalu ada ruang yang menentukan arah: sebuah meja tempat orang-orang duduk, berbagi cerita tentang kerja, kegelisahan, dan harapan. Briefing pekanan, pada hakikatnya, adalah ruang itu. Bukan sekadar pertemuan rutin yang mencatat target dan tenggat, melainkan denyut kesadaran kolektif bahwa kerja adalah proses yang harus dibaca bersama.

Pemimpin yang setiap pekan bertanya kepada anak buahnya, “Apa yang akan kamu kerjakan?” lalu dengan jujur menelaah, “Apa yang sudah dan belum terselesaikan?”, sesungguhnya sedang mempraktikkan kepemimpinan yang matang. Ia tidak berdiri di menara gading instruksi, tetapi turun ke meja tempa tempat kerja dibentuk, ditempa, dan disempurnakan.Briefing pekanan menjelma ruang perjumpaan.

Di sana, kata-kata tidak melayang sebagai laporan kosong, melainkan sebagai refleksi kerja nyata. Pemimpin mendengar, bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Ia menyimak ritme timnya: siapa yang berlari terlalu cepat, siapa yang tertahan oleh beban, dan siapa yang membutuhkan uluran tangan.

Dari mendengar itulah lahir kebijakan yang berakar, bukan keputusan yang mengawang.Meja briefing bukan meja instruksi. Ia adalah meja kolaborasi. Di atasnya, ide-ide saling beradu bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling menguatkan. Di sanalah pemimpin menimbang: tugas mana yang cukup diselesaikan sendiri, mana yang harus dipikul bersama. Kerja tidak lagi dipandang sebagai beban personal, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif.

Dalam briefing, semua peran diberi ruang. Tidak ada kontribusi yang dianggap kecil, tidak ada suara yang ditelan hiruk-pikuk jabatan. Setiap sumbangsih diakui, setiap upaya dicatat. Dari sinilah tumbuh rasa memiliki bahwa organisasi bukan sekadar tempat bekerja, melainkan rumah gagasan dan pengabdian.Budaya briefing pekanan juga mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: keberhasilan tidak pernah lahir dari satu sosok tunggal.

Tidak ada superman dalam kerja yang berkelanjutan. Yang ada adalah supertim sekumpulan manusia dengan kelebihan dan keterbatasan, yang bergerak dalam irama yang sama. Pemimpin bukan pahlawan tunggal, melainkan penjaga harmoni.

Pada akhirnya, briefing pekanan adalah cermin. Ia memantulkan apa adanya wajah organisasi: kejujurannya, kedewasaannya, dan kemampuannya belajar. Dan dari meja tempa itulah, kerja menemukan maknanya, bukan sekadar selesai, tetapi bernilai.

Continue Reading

Review

Gentengisasi Prabowo dan Solusi Ekologis

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah Republik Indonesia semakin serius mendorong kualitas hunian rakyat melalui program gentengisasi nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto. Inisiatif ini menjadi terobosan inovatif untuk menghadirkan hunian tropis yang nyaman, ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru, terutama di sektor industri genteng lokal.

Gentengisasi adalah gerakan mengganti atap rumah berbahan seng dengan genteng tanah liat berkualitas. Selain memperindah estetika permukiman, genteng memiliki keunggulan ekologis dan fungsional. Genteng tanah liat mampu menahan panas lebih baik daripada atap logam sehingga rumah tetap sejuk di cuaca tropis. Material ini bersifat alami, dapat diperbarui, dan memiliki jejak karbon lebih rendah dibanding produksi atap logam yang intensif energi.

Dari perspektif epistemologi, gentengisasi merupakan wujud pengetahuan lokal yang dikontekstualkan secara ilmiah: masyarakat belajar bahwa atap tradisional tanah liat tidak hanya estetis, tetapi juga adaptif terhadap iklim tropis. Pengetahuan ini menjadi dasar keputusan pemerintah untuk menerapkan kebijakan hunian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dari sisi aksiologi, gentengisasi menekankan nilai-nilai sosial dan ekologis. Program ini bukan hanya soal mengganti material atap, tetapi juga soal meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menjaga kesejahteraan termal rumah, serta menghormati kearifan lokal arsitektur Nusantara. Nilai-nilai ini mencerminkan komitmen pemerintah terhadap hunian yang sehat, estetis, dan selaras dengan lingkungan.

Sementara itu, dari ontologi, gentengisasi mencerminkan realitas fisik dan eksistensi hunian tropis yang ideal: hunian yang alami, tahan lama, dan harmonis dengan alam. Material tanah liat, sebagai entitas fisik dan simbol budaya, menegaskan hubungan manusia dengan lingkungannya, sekaligus membangun identitas arsitektur Indonesia yang autentik.

Dari sisi ekonomi, peluang bisnis genteng terbuka lebar. Skema gentengisasi diproyeksikan menumbuhkan industri kecil dan menengah (IKM) di berbagai daerah. Pemerintah mendorong keterlibatan koperasi desa, pelaku usaha lokal, dan generasi muda untuk memproduksi genteng berbasis bahan lokal. Hal ini menciptakan rantai nilai ekonomi berkelanjutan, mulai dari pengolahan tanah liat, produksi genteng, hingga distribusi ke konsumen.

Industri genteng lokal diprediksi dapat membuka ribuan lapangan kerja baru, memperkuat kapasitas industri desa, dan mendukung pengembangan keterampilan warga. Meningkatnya produksi genteng lokal juga akan menekan impor bahan bangunan dan meningkatkan kemandirian ekonomi nasional. Para pengusaha lokal bahkan dapat memanfaatkan tren hunian tropis sehat ini untuk ekspansi ke pasar properti dan renovasi rumah, sehingga peluang bisnis genteng diperkirakan akan terus tumbuh signifikan.

Para pengamat kebijakan publik menilai gentengisasi adalah kombinasi strategi sosial, ekologis, dan ekonomi yang efektif. Hunian rakyat menjadi lebih sehat dan nyaman, lingkungan lebih lestari, dan ekonomi lokal berkembang. Selain itu, program ini memberi nilai tambah bagi komunitas lokal yang dapat menghasilkan genteng secara mandiri dan kreatif, sekaligus memperkuat identitas budaya arsitektur Indonesia.

Dengan target Indonesia bebas atap seng dalam tiga tahun, gentengisasi tidak hanya menjadi program estetika atau renovasi, tetapi simbol transformasi hunian tropis yang alami, ramah lingkungan, bernilai, dan penuh peluang bisnis. Masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah diharapkan bersinergi menjadikan gentengisasi sebagai langkah konkret menuju hunian sehat, ekonomi produktif, dan lingkungan yang lebih hijau

Continue Reading

Review

Di Tengah Badai Masalah, Presiden Justru Bahas Isu “Gentengisasi”

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Awal tahun 2026 dibuka dengan lanskap nasional yang penuh problematika. Harga kebutuhan pokok belum sepenuhnya stabil, lapangan kerja masih menjadi kecemasan publik, konflik agraria tak surut, sementara tekanan geopolitik global terus membayangi ekonomi domestik. Namun, di tengah daftar panjang persoalan tersebut, perhatian publik justru tersedot pada satu istilah yang mendadak naik panggung: gentengisasi.

Istilah itu mengemuka ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara di lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Alih-alih membahas isu strategis yang selama ini menghantui ruang publik, Presiden menyinggung pentingnya gentengisasi sebuah konsep yang terdengar teknis, lokal, sekaligus mengundang kebingungan. Dalam hitungan jam, istilah tersebut menjadi perbincangan luas, bukan karena urgensinya, melainkan karena kesan absurd yang melekat padanya.

Secara harfiah, gentengisasi merujuk pada penggunaan genteng sebagai penutup atap bangunan. Dalam konteks pembangunan, istilah ini sejatinya bukan hal baru. Namun, ketika disampaikan di level kebijakan nasional, di tengah kondisi negara yang sedang menghadapi tantangan struktural, publik pun bertanya-tanya: apakah ini prioritas, metafora, atau sekadar selip humor yang luput dari penjelasan?

Di ruang-ruang diskusi publik, gentengisasi segera ditarik ke berbagai tafsir. Ada yang mencoba memahaminya sebagai simbol kemandirian industri bahan bangunan lokal. Ada pula yang membaca sebagai upaya standardisasi pembangunan perumahan rakyat. Namun tak sedikit yang melihatnya sebagai contoh komunikasi kebijakan yang terlepas dari konteks krisis nyata yang sedang dihadapi masyarakat.

Nada satir pun tak terhindarkan. Di media sosial, genteng mendadak naik kelas dari sekadar material bangunan menjadi metafora negara. “Negeri bocor, solusinya genteng,” tulis seorang warganet. Yang lain berkelakar, sebelum berbicara tentang kecerdasan buatan, transisi energi, atau reformasi birokrasi, negara kini tampak sibuk memastikan atap tidak bocor.

Para pengamat kebijakan menilai, persoalan utamanya bukan pada istilah gentengisasi itu sendiri, melainkan pada momentum dan cara penyampaiannya. Dalam situasi ketika publik menunggu arah besar pemerintahan—tentang ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan—narasi yang muncul justru terkesan minor dan terfragmentasi.

“Komunikasi politik di masa krisis membutuhkan sensitivitas simbolik,” ujar seorang analis kebijakan publik. Menurutnya, setiap kata yang keluar dari kepala negara akan dibaca sebagai cerminan prioritas. Ketika simbol yang muncul terasa remeh, publik dengan mudah menilai negara sedang kehilangan fokus.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang komprehensif mengenai maksud strategis gentengisasi dalam kerangka kebijakan nasional. Di tengah ketidakjelasan itu, istilah tersebut terlanjur menjadi artefak awal tahun sebuah penanda bagaimana jarak antara bahasa kekuasaan dan kegelisahan rakyat bisa terasa semakin lebar.

Di saat negeri membutuhkan peta jalan yang kokoh, gentengisasi justru hadir sebagai ironi: atap dibicarakan panjang lebar, sementara fondasi persoalan bangsa masih retak di banyak sisi.

Continue Reading

News

Vera Rubin, Mesin NVIDIA di Balik Revolusi AI Global

Platform superkomputer Vera Rubin menjadi fondasi baru NVIDIA untuk menopang ledakan komputasi AI, dari model penalaran hingga simulasi fisika skala besar.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com—Untuk menopang lonjakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan yang kian ekstrem, NVIDIA memperkenalkan platform superkomputer terbarunya bernama Vera Rubin. Platform ini dirancang untuk menjawab tantangan scaling laws AI, di mana reasoning models dan simulasi fisika membutuhkan daya komputasi hingga lima kali lebih besar setiap tahunnya.

Nama Vera Rubin diambil untuk menghormati Vera Rubin, astronom yang menemukan bukti keberadaan materi gelap (dark matter). Menurut Jensen Huang, penamaan ini melambangkan peran platform tersebut sebagai “mesin tak terlihat” yang menopang revolusi AI modern, sebagaimana penemuan Rubin mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta.

Berbeda dari generasi sebelumnya, Vera Rubin bukan sekadar chip baru, melainkan sebuah sistem komputasi terintegrasi yang terdiri dari enam chip revolusioner yang dirancang ulang sepenuhnya. Komponen utamanya mencakup CPU Vera dengan performa dua kali lipat pada batas daya yang sama, GPU Rubin yang menawarkan performa floating point lima kali lebih tinggi dibandingkan Blackwell, serta NVLink 6 Switch yang memungkinkan komunikasi penuh antar-GPU dengan lalu lintas data setara dua kali trafik internet global.

Selain itu, sistem ini diperkuat oleh teknologi jaringan ConnectX-9 dan BlueField 4 untuk mempercepat aliran data sekaligus meningkatkan keamanan. Salah satu terobosan penting lainnya adalah efisiensi energi. Meski memiliki tenaga dua kali lebih besar dari pendahulunya, Vera Rubin menggunakan pendingin cairan dengan air bersuhu 45 derajat Celsius, sehingga menghilangkan kebutuhan chiller boros energi di pusat data. NVIDIA memperkirakan pendekatan ini berpotensi menghemat sekitar 6 persen konsumsi daya pusat data global.

NVIDIA juga mengatasi hambatan memori AI dengan memperkenalkan context memory storage berbasis BlueField 4. Teknologi ini memungkinkan AI menyimpan dan mengingat konteks percakapan atau data dalam jangka sangat panjang tanpa membebani memori GPU utama, sebuah terobosan krusial bagi aplikasi AI yang membutuhkan “ingatan” jangka panjang.

Dalam presentasinya, Jensen Huang menegaskan bahwa NVIDIA kini bukan lagi sekadar produsen chip grafis, melainkan arsitek tumpukan komputasi masa depan. Mulai dari Vera Rubin yang mendukung confidential computing, jaringan Spectrum-X, simulasi Omniverse, hingga model AI terbuka seperti Cosmos dan Alpa Mayo, semuanya dirancang sebagai satu ekosistem terpadu.

Dengan kemampuan melatih model hingga empat kali lebih cepat dibandingkan Blackwell, NVIDIA memastikan batas kemampuan AI terus didorong lebih jauh. Visi akhirnya adalah dunia di mana setiap mobil, pabrik, dan perangkat lunak ditenagai AI yang mampu menalar dan berinteraksi langsung dengan dunia fisik. Menurut Jensen, revolusi tersebut bukan lagi wacana masa depan—melainkan telah tiba.

Continue Reading

Review

Doktor: Disertasi Meluncur, Novelty Tertinggal

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Suatu hari, sebuah percakapan WhatsApp singkat dengan Wakil Rektor I Universitas Negeri Jakarta, Prof. Ifan Iskandar, justru memantik renungan panjang tentang dunia akademik kita. Pesannya sederhana namun menggelitik: bagaimana mungkin sebuah ujian terbuka disertasi dapat dinyatakan selesai dengan paparan yang nyaris tanpa novelty, bersifat informatif, dengan scope penelitian yang kecil, bahkan jauh dari tuntutan KKNI Level 9?

Jawaban Prof. Ifan yang tidak saya ubah satu huruf pun ini terdengar ringan, namun menghantam tepat ke jantung persoalan: “Hehehehehehehe, then when everyone can become a doctor, the meaning of a doctor fades away and vanishes.” Sebuah kalimat yang mungkin terdengar seperti candaan, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik epistemologis yang tajam.

Candaan ini mengingatkan pada humor klasik antara Presiden Soeharto dan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Clinton, dengan bangga, menyatakan bahwa riset di negaranya telah menghasilkan teknologi yang mampu menembus luar angkasa. Soeharto pun menimpali dengan gaya khasnya: Indonesia juga bisa sampai ke luar angkasa jika seluruh skripsi, tesis, dan disertasi yang pernah ditulis dikumpulkan dan ditumpuk bersama. Bedanya, satu berisi kemajuan teknologi, yang lain lebih sering berisi kelengkapan administratif.

Di sinilah ironi akademik kita bermula. Pendidikan doktoral idealnya merupakan puncak produksi pengetahuan: melahirkan kebaruan, menawarkan perspektif baru, atau setidaknya memberikan kontribusi nyata bagi pemecahan masalah sosial. Namun dalam praktik, disertasi kerap direduksi menjadi ritual formal: yang penting selesai, bukan bermakna.

Maka lahirlah humor pahit di lorong-lorong kampus: “Disertasi yang baik adalah disertasi yang selesai.” Bahkan ditambah embel-embel, “ala kadarnya.” Candaan ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Ia muncul dari sistem yang lebih menghargai kelulusan tepat waktu, jumlah doktor, dan akreditasi, dibandingkan kebermanfaatan riset bagi masyarakat dan bangsa.

Kita perlu jujur mengakui bahwa inflasi gelar doktor berisiko menurunkan nilai simbolik dan substantif ilmu itu sendiri. Ketika semua orang bisa menjadi doktor tanpa tuntutan keilmuan yang ketat, maka doktor tidak lagi menjadi penanda kepakaran, melainkan sekadar status administratif.

Humor akademik ini seharusnya tidak hanya membuat kita tertawa, tetapi juga tersentak. Pertanyaannya bukan apakah kita terlalu serius meneliti, atau justru terlalu rakus mengejar gelar. Pertanyaannya lebih mendasar: untuk siapa dan untuk apa disertasi ditulis? Jika jawabannya hanya demi wisuda dan jabatan, mungkin benar kata Prof. Ifan, makna doktor perlahan akan memudar, lalu menghilang.

Continue Reading

Review

Pemimpin Defisit Intelektual! No More

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Menjelang 2029, publik kembali disuguhi satu penyakit lama dalam demokrasi Indonesia: elektabilitas dijadikan segalanya, sementara etikabilitas dan intelektualitas diletakkan di pinggir panggung. Siapa pun bisa maju Presiden, Wakil Presiden, hingga calon DPR asal surveinya tinggi. Soal moral, kapasitas berpikir, dan rekam jejak intelektual? Itu urusan nanti, bahkan sering kali tidak dianggap penting sama sekali.

Inilah paradoks demokrasi kita. Prosedurnya berjalan, tetapi substansinya pincang. Kita rajin memilih, namun abai menilai. Akibatnya, yang terpilih bukan selalu yang paling layak, melainkan yang paling dikenal. Popularitas menggantikan kompetensi. Pencitraan mengalahkan integritas.

Kemarahan publik bukan tanpa alasan. Masyarakat muak melihat pemangku kepentingan yang pendidikan dan kapasitasnya dipertanyakan, bahkan ada yang riwayat ijazahnya bermasalah. Ketika jabatan publik diisi oleh figur dengan bekal intelektual minim dan etika rapuh, kebijakan yang lahir pun sering tak lebih dari keputusan reaktif, populis, dan jauh dari kepentingan rakyat. Negara akhirnya dijalankan dengan logika coba-coba, bukan nalar kebijakan.

Perlu ditegaskan: pendidikan formal bukan satu-satunya ukuran kecerdasan dan moralitas. Banyak warga dengan latar SMA atau paket C yang jujur, berintegritas, dan bermoral tinggi. Namun persoalannya bukan di situ. Negara modern menghadapi persoalan yang kompleks: geopolitik, ekonomi global, teknologi, lingkungan, dan keadilan sosial. Semua itu menuntut kapasitas berpikir analitis, kemampuan membaca data, serta kecakapan merumuskan kebijakan berbasis pengetahuan. Tanpa intelektualitas yang memadai, kekuasaan justru menjadi alat coba-coba yang mahal bagi rakyat.

Akademisi etika kepemimpinan asal Amerika Serikat, Joanne B. Ciulla, menegaskan bahwa kepemimpinan tanpa etika adalah kontradiksi. Pemimpin yang efektif tetapi tidak bermoral, menurutnya, bukan solusi, melainkan masalah. Kekuasaan yang dilepaskan dari etika akan selalu cenderung disalahgunakan, betapapun tingginya legitimasi elektoral yang dimiliki.

Pandangan itu diperkuat oleh Arthur I. Applbaum dari Harvard University yang menekankan bahwa demokrasi tidak cukup hanya sah secara prosedural. Ia harus bernilai secara moral. Pemimpin terpilih tetap dapat kehilangan legitimasi ketika perilakunya bertentangan dengan kepentingan publik dan prinsip etika dasar. Dalam situasi seperti itu, pemilu hanya menjadi ritual lima tahunan tanpa makna substantif.

Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan berbahaya. Ketika elektabilitas dijadikan satu-satunya pintu masuk kekuasaan, kita sedang menormalisasi mediokritas dan mengabaikan akal sehat. Lebih berbahaya lagi, kita sedang mengajarkan pada generasi muda bahwa untuk memimpin negara, yang penting terkenal, bukan berkualitas.

Pemilu 2029 seharusnya menjadi momentum koreksi besar. Sudah waktunya publik dan partai politik berhenti berpura-pura bahwa semua kandidat “sama saja”. Tidak. Ada yang layak, ada yang tidak. Ada yang beretika dan berkapasitas, ada pula yang hanya piawai memainkan emosi massa.

Jika demokrasi ingin diselamatkan dari kehancuran perlahan, maka urutannya harus dibalik: etikabilitas sebagai fondasi, intelektualitas sebagai prasyarat, dan elektabilitas sebagai hasil. Tanpa itu, kita hanya akan terus memproduksi pemimpin populer yang miskin gagasan—dan rakyat kembali menanggung ongkosnya.

Continue Reading

Review

Jika Membela Diri Bisa Jadi Tersangka, Masih Perlukah Lapor Polisi?

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Penonaktifan sementara Kapolres Sleman oleh Kepolisian Republik Indonesia kembali membuka luka lama dalam relasi antara aparat penegak hukum dan kepercayaan publik. Langkah tersebut dinilai banyak pihak belum cukup, bahkan dianggap sekadar upaya meredam kegaduhan, bukan menyelesaikan persoalan mendasar yang merusak citra institusi Polri.

Kapolres Sleman dinonaktifkan menyusul polemik penanganan kasus hukum yang menjerat seorang warga Sleman yang membela diri saat istrinya menjadi korban penjambretan. Dalam peristiwa itu, korban justru ditetapkan sebagai tersangka setelah terjadi kecelakaan yang menewaskan dua pelaku kejahatan. Penetapan status hukum tersebut memicu kemarahan publik karena dinilai mengabaikan rasa keadilan dan logika hukum yang paling dasar.

Polri menyatakan penonaktifan dilakukan untuk menjamin objektivitas pemeriksaan lanjutan dan menjaga profesionalisme institusi. Namun di mata publik, pernyataan itu terdengar normatif dan berjarak dengan fakta yang dirasakan masyarakat di lapangan. Banyak pihak menilai, kegagalan pengawasan dan pengambilan keputusan hukum yang keliru tidak bisa diselesaikan hanya dengan penonaktifan sementara.

Kasus ini menambah daftar panjang kritik terhadap pola penegakan hukum yang dianggap menyimpang. Di tengah maraknya kejahatan jalanan, masyarakat justru dihadapkan pada realitas pahit: korban atau pihak yang membongkar kejahatan kerap berujung menjadi tersangka, sementara pelaku kejahatan kerap lolos dari pertanggungjawaban hukum yang setimpal. Persepsi inilah yang kini semakin menguat di ruang publik.

Sejumlah pengamat hukum menilai persoalan ini bukan semata kesalahan individu, melainkan cerminan problem struktural di tubuh kepolisian. Ketika diskresi aparat digunakan tanpa kepekaan terhadap keadilan substantif, hukum berubah menjadi alat yang menakutkan bagi warga, bukan pelindung hak-hak mereka. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi keberlangsungan kepercayaan publik terhadap negara hukum.

Desakan agar Kapolres Sleman tidak hanya dinonaktifkan, tetapi diberhentikan secara permanen, terus menguat. Publik menilai, kegagalan menjaga profesionalisme dan rasa keadilan harus diikuti dengan sanksi tegas agar menjadi pembelajaran serius bagi institusi. Tanpa langkah tegas, kasus serupa dikhawatirkan akan terus berulang di daerah lain.

Fenomena ini juga memunculkan kritik sinis di tengah masyarakat. Ungkapan bahwa “jika terjadi kejahatan sebaiknya jangan melapor ke polisi” mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap aparat penegak hukum. Pernyataan tersebut, meski bernada ironi, menjadi alarm keras bahwa legitimasi moral kepolisian sedang berada di titik nadir.

Kepercayaan publik adalah modal utama penegakan hukum. Ketika aparat justru dipersepsikan lebih sibuk melindungi prosedur dan oknum, bukan keadilan, maka krisis kepercayaan menjadi keniscayaan. Kasus Kapolres Sleman kini menjadi simbol persoalan yang lebih luas: pertanyaan besar tentang komitmen reformasi kepolisian yang selama ini didengungkan.

Sampai kapan praktik semacam ini dibiarkan terjadi, dan sampai kapan masyarakat harus menelan kekecewaan atas penegakan hukum yang dinilai timpang, menjadi pertanyaan yang belum dijawab secara tegas oleh institusi Polri.

Continue Reading

News

AI Fisik Ubah Wajah Industri Berat dan Robotika Global

Transformasi industri berat memasuki babak baru seiring pemanfaatan AI fisik dan digital twin untuk merancang pabrik dan robot sepenuhnya di dunia virtual.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com—Revolusi AI fisik tidak hanya berdampak pada kendaraan otonom dan robot layanan, tetapi juga merambah sektor industri berat dan manufaktur skala besar. NVIDIA mengumumkan kemitraan strategis dengan berbagai raksasa industri global untuk mentransformasi cara pabrik dan sistem robotika dirancang serta dioperasikan.

Menurut NVIDIA, kolaborasi dilakukan bersama Siemens, serta perusahaan desain chip terkemuka Cadence dan Synopsys. Tujuan utama kemitraan ini adalah menciptakan kembar digital (digital twins), yakni replika virtual dari pabrik, robot, hingga chip masa depan yang dapat dirancang, disimulasikan, dan diuji sepenuhnya sebelum dibangun secara fisik.

Dalam kerangka ini, NVIDIA memanfaatkan platform Omniverse sebagai dunia virtual terpadu. Melalui Omniverse, proses desain manufaktur dapat diuji terhadap berbagai skenario produksi, gangguan rantai pasok, hingga risiko keselamatan, tanpa harus menghentikan operasional pabrik nyata. Pendekatan ini dinilai mampu menekan biaya, mempercepat inovasi, dan meningkatkan efisiensi industri.

NVIDIA menegaskan bahwa dalam visi baru ini, robotika tidak semata soal robot humanoid yang tampil menyerupai manusia. Robotika justru mencakup pabrik raksasa yang pada hakikatnya merupakan “robot besar” yang bekerja secara otomatis untuk merakit produk, bahkan merakit robot lain. Pabrik diposisikan sebagai sistem cerdas yang mampu beradaptasi, belajar, dan mengoptimalkan dirinya sendiri.

Untuk mendukung visi tersebut, NVIDIA menyediakan platform Isaac Sim dan Isaac Lab. Kedua platform ini digunakan untuk melatih dan menguji berbagai jenis robot, mulai dari robot bedah presisi tinggi, manipulator industri di lini produksi, hingga robot humanoid generasi baru.

Menurut NVIDIA, integrasi AI fisik, simulasi, dan digital twin akan mengubah cara industri berat berkembang. Pabrik masa depan tidak lagi dibangun lewat trial and error di dunia nyata, melainkan “dilatih” terlebih dahulu di dunia virtual, sebelum akhirnya diwujudkan secara fisik dengan tingkat efisiensi dan keselamatan yang jauh lebih tinggi.

Continue Reading

News

Physical AI Dorong NVIDIA Hadirkan Kecerdasan ke Dunia Nyata

Physical AI menjadi lompatan baru NVIDIA dalam membawa kecerdasan buatan keluar dari layar komputer menuju robot dan kendaraan otonom di dunia nyata.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com—NVIDIA memperkenalkan konsep Physical AI sebagai fase lanjutan evolusi kecerdasan buatan, yakni AI yang tidak hanya memahami bahasa dan data digital, tetapi juga hukum fisika, kausalitas, serta interaksi di dunia nyata. Visi ini menandai upaya membawa kecerdasan buatan dari ranah virtual ke lingkungan fisik seperti robot, pabrik, dan kendaraan otonom.

Menurut NVIDIA, tantangan terbesar Physical AI adalah mengajarkan “akal sehat” fisika kepada komputer. Konsep yang bagi manusia terasa intuitif—seperti gravitasi, gesekan, dan inersia—harus dipelajari mesin melalui proses komputasi yang kompleks. Tanpa pemahaman ini, AI dinilai sulit mengambil keputusan yang aman dan rasional di dunia nyata.

Untuk menjawab tantangan tersebut, NVIDIA memperkenalkan konsep “Tiga Komputer”. Pertama, komputer untuk melatih model AI berskala besar. Kedua, komputer inferensi yang tertanam langsung di robot atau kendaraan. Ketiga, komputer simulasi yang berfungsi menciptakan dunia virtual. Menurut NVIDIA, simulasi menjadi kunci karena pengumpulan data dunia nyata dinilai lambat, mahal, dan berisiko.

Di sinilah peran NVIDIA Cosmos, sebuah world foundation model yang dilatih menggunakan video berskala internet serta data fisika. Cosmos memungkinkan pengembang mengubah komputasi menjadi data sintetis, sehingga berbagai skenario langka dan berbahaya—seperti kecelakaan ekstrem—dapat disimulasikan secara digital sebelum diterapkan di dunia nyata. Hal ini, menurut NVIDIA, mempercepat pengembangan sekaligus meningkatkan aspek keselamatan.

Penerapan paling nyata dari Physical AI adalah Alpa Mayo, sistem AI kendaraan otonom yang diklaim memiliki kemampuan “berpikir” dan menalar. Berbeda dengan sistem sebelumnya, Alpa Mayo dilatih secara end-to-end dari input kamera hingga aktuasi setir, serta mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan berkendara yang diambilnya.

NVIDIA mengumumkan Alpa Mayo akan mulai beroperasi pada kuartal pertama tahun ini, diawali di Amerika Serikat sebelum diperluas ke Eropa dan Asia. Mercedes-Benz disebut sebagai mitra utama yang akan mengadopsi tumpukan teknologi Physical AI ini, sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi NVIDIA.

Continue Reading

Review

Arah Kebijakan Nasional Diuji di Tengah Tekanan Global dan Dinamika Politik

Tekanan global, dinamika elite, dan tuntutan publik menempatkan arah kebijakan nasional pada persimpangan penting antara stabilitas, keberpihakan ekonomi, dan etika politik.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah kembali menegaskan komitmennya menjaga arah kebijakan nasional agar tetap adaptif terhadap dinamika global, tanpa menggeser agenda pembangunan jangka panjang dari kepentingan publik. Tekanan ekonomi dunia, fluktuasi pasar keuangan, serta ketidakpastian geopolitik menjadi tantangan nyata dalam perumusan kebijakan nasional memasuki tahun anggaran baru.

Menurut pandangan ekonomi Keynesian yang banyak dikutip media arus utama, stabilitas dan intervensi negara menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global. John Maynard Keynes menekankan bahwa dalam situasi krisis dan perlambatan, negara perlu hadir melalui kebijakan fiskal yang aktif untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong sektor produktif. Pendekatan ini relevan dengan dorongan reformasi anggaran yang lebih berpihak pada penciptaan lapangan kerja.

Di sisi politik, stabilitas ekonomi-politik dinilai sebagai prasyarat utama menjaga kepercayaan pasar dan investasi. Mengacu pada teori Political Stability and Economic Performance, seperti dikemukakan Samuel P. Huntington, stabilitas institusi politik menentukan efektivitas kebijakan pembangunan. Menurut media yang mengulas pandangan ini, ketidakstabilan politik berpotensi melemahkan konsistensi kebijakan ekonomi dan menurunkan kepercayaan investor.

Wacana reformasi anggaran negara pun kembali menguat, dengan penekanan pada efisiensi belanja dan pengalihan dana ke sektor produktif. Langkah ini sejalan dengan teori Public Finance yang menekankan bahwa anggaran negara bukan sekadar alat administratif, melainkan instrumen strategis untuk mengarahkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

Namun, dinamika kekuasaan elite politik menjelang penentuan agenda strategis nasional turut menjadi sorotan. Teori elite klasik dari Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca menyebutkan bahwa kebijakan publik kerap dipengaruhi oleh sirkulasi dan kepentingan kelompok elite. Menurut media yang mengutip pandangan ini, menguatnya manuver elite berpotensi memunculkan tarik-menarik antara kepentingan publik dan kepentingan politik jangka pendek.

Di tingkat masyarakat, ketahanan ekonomi rakyat terus diuji oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan perlambatan daya beli. Kondisi ini memperkuat tuntutan agar kebijakan pemerintah lebih responsif dan inklusif, khususnya bagi kelompok menengah ke bawah. Tanpa keberpihakan nyata, tekanan ekonomi berisiko memperlebar kesenjangan sosial.

Isu transparansi pengelolaan keuangan negara juga kembali mengemuka. Akademisi menilai penguatan sistem pengawasan dan keterbukaan informasi menjadi keharusan, sejalan dengan prinsip good governance yang menempatkan akuntabilitas sebagai fondasi kepercayaan publik.

Selain sektor ekonomi dan fiskal, reformasi pendidikan nasional dipandang krusial untuk menopang daya saing ekonomi jangka panjang. Investasi pada kualitas sumber daya manusia dinilai sebagai strategi paling berkelanjutan agar Indonesia mampu bertahan dan tumbuh di tengah kompetisi global yang semakin ketat.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



LakeyBanget4 minutes ago

Erick Thohir Bertemu Menpora Malaysia, Ini yang Dibahas

Review3 hours ago

Sengketa Lahan Bendungan Jenelata: PTPN Jangan Abai pada Hak Warga

Review3 hours ago

Urgensi Briefing Pekanan: Dari Meja Instruksi Menuju Meja Kolaborasi

News5 hours ago

Pelayanan: landing Page Institusi

LakeyBanget9 hours ago

Westlife A Gala Evening in Surabaya, Konser Penuh Nostalgia

LakeyBanget10 hours ago

Brad Pitt Kembali Berakting di Sekuel Film “Once Upon a Time in Hollywood”

LakeyBanget11 hours ago

Gegara Aturan Baru AFA, Messi Terancam Absen Bela Timnas Argentina

LakeyBanget12 hours ago

Jumlah Penonton Tertinggi di Tottenham Hotspur, Konser BTS Pecahkan Rekor

News12 hours ago

IKN Siap Sambut Aktivitas ASN, Fasilitas Dasar Kian Lengkap

News13 hours ago

Kapolri Tegaskan Komitmen Dukung Program Pemerintah

News13 hours ago

Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi I-2026 Jelang Libur Idulfitri 2026

News13 hours ago

Mendikdasmen Tegaskan Akselerasi Program Prioritas dalam Konsolnas 2026

News21 hours ago

Simulasi Kebijakan Pendidikan Hadir di Konsolidasi Nasional 2026 Kemendikdasmen

News1 day ago

Survei: Wajah Baru Ramaikan Bursa Capres 2029, Ada Sjafrie hingga Purbaya

News1 day ago

Gelar Konsolnas 2026, Kemendikdasmen Perkuat Kolaborasi dan Koordinasi dengan Daerah

LakeyBanget1 day ago

Green Day Meriahkan Pembukaan Super Bowl LX Tanpa Muatan Politik

News1 day ago

NasDem Nilai Wacana Prabowo Dua Periode Masuk Akal, Ini Pertimbangannya

News1 day ago

Pemerintah Siapkan Perpres Penghapusan Tunggakan dan Denda BPJS Kesehatan Kelas 3

LakeyBanget2 days ago

Selamat! Gelandang Persib Resmi Menikah, Umuh Muchtar Jadi Saksi

News2 days ago

Di Rapim TNI–Polri, Presiden Prabowo Tekankan Profesionalisme dan Persatuan

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.