Connect with us

News

Survei: Wajah Baru Ramaikan Bursa Capres 2029, Ada Sjafrie hingga Purbaya

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan munculnya sejumlah wajah baru dalam bursa bakal calon presiden (capres) 2029. Nama-nama tersebut berasal dari kalangan menteri hingga kepala daerah, di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta beberapa gubernur aktif.

Peneliti IPI, Abdan Sakura, mengatakan kemunculan tokoh-tokoh baru ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membentuk elektabilitas, seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, eksposur media, integritas, serta visi dan program kerja.

“Untuk Sjafrie, misalnya, indikator kepemimpinan dan ketokohan mencapai 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen,” ujar Abdan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Abdan, sejumlah tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Sjafrie Sjamsoeddin dinilai memiliki kelayakan yang cukup kuat sebagai figur potensial, meski penilaian tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral.

“Celah ini membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya pemain utama,” katanya.

Abdan juga menilai rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menunjukkan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup, seiring pemilih yang semakin rasional dan kontekstual dalam menentukan pilihan.

Dalam survei tersebut, sejumlah gubernur tercatat masuk dalam bursa bakal capres 2029, di antaranya Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

“Wajah-wajah baru tersebut masuk dalam 10 besar tokoh bakal capres 2029. Sjafrie berada di urutan ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen, disusul Purbaya Yudhi Sadewa 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen,” jelas Abdan.

Ia menambahkan, elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan sejumlah kepala daerah dan tokoh nasional lainnya. Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada di peringkat keempat dengan elektabilitas 8,5 persen, disusul Dedi Mulyadi di posisi kelima dengan 7,9 persen, serta Pramono Anung di urutan keenam dengan 7,8 persen.

Sementara itu, puncak elektabilitas masih dikuasai Presiden Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen, jauh meninggalkan tokoh lainnya. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua dengan elektabilitas 12,2 persen, diikuti mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan 9 persen.

“Nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, baik dari sisi kelayakan maupun elektabilitas. Ini menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih,” ujar Abdan.

Namun demikian, ia menegaskan adanya jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang masih moderat mengindikasikan publik belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan. “Publik mengenal dan menilai, tetapi belum menentukan sikap politiknya,” katanya.

Survei IPI dilakukan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17–65 tahun yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia. Metode pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan margin of error sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Prabowo Dorong Kendaraan Listrik, Dinilai Mampu Antisipasi Krisis Energi

Pentingnya komitmen kebijakan yang kuat dan konsisten agar implementasinya berjalan optimal

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Presiden Prabowo Subianto menegaskan ambisinya untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik secara menyeluruh, mencakup sepeda motor hingga truk, sebagai strategi utama untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi berbasis minyak.

Kebijakan ini dinilai oleh Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, sebagai langkah strategis yang tepat untuk mengantisipasi potensi krisis minyak dan gas (migas) global, meskipun ia menekankan pentingnya komitmen kebijakan yang kuat dan konsisten agar implementasinya berjalan optimal.

Adhiguna menjelaskan, lonjakan harga minyak dunia yang dapat melampaui 100 dolar AS per barel berpotensi memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara, bahkan menambah beban fiskal dalam jumlah signifikan setiap harinya jika tidak ada langkah antisipasi.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat pembangunan infrastruktur pengisian kendaraan listrik serta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar adopsi kendaraan listrik dapat berjalan optimal. Selain itu, pengembangan industri kendaraan listrik juga perlu diawasi agar tidak bergantung pada impor, serta mampu memberikan nilai tambah bagi industri domestik.

Di sisi lain, akademisi menilai bahwa elektrifikasi kendaraan merupakan langkah strategis dalam transisi energi dan dekarbonisasi. Namun, transisi ini masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan infrastruktur, kesiapan sistem kelistrikan, serta daya beli masyarakat yang harus diperhatikan.

Presiden Prabowo menyampaikan pandangannya terkait potensi besar dari kebijakan ini. “Presiden Prabowo menyatakan bahwa penggunaan kendaraan listrik dapat menekan biaya energi masyarakat secara signifikan dan menjadi “game changer” dalam sistem energi nasional.”

Continue Reading

News

Momen Unik Prabowo dan Presiden Korsel

Pendekatan diplomatik yang ditunjukkan Prabowo dinilai melampaui batas formalitas hubungan antarnegara.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden terpilih Prabowo Subianto melakukan kunjungan diplomatik ke Korea Selatan, ditandai dengan perpaduan pembahasan serius dan momen hangat yang mencuri perhatian publik. Pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tidak hanya membahas isu kenegaraan, tetapi juga diwarnai gestur persahabatan seperti simbol jari hati dan interaksi santai yang disebut sebagai diplomasi ‘anabul’.

Kunjungan tersebut berlangsung pada Rabu, 1 Maret 2026, di Istana Kepresidenan Republik Korea, Cheong Wa Dae. Agenda resmi dimulai dengan upacara kenegaraan menyambut Prabowo, dilanjutkan dengan pertemuan bilateral antar kedua pemimpin serta jamuan makan siang yang menjadi panggung bagi interaksi personal tersebut.

Salah satu momen ikonik terjadi saat jamuan makan siang, di mana hadir Carmen, anggota grup K-pop Hearts2Hearts asal Indonesia. Kehadiran Carmen menarik perhatian kedua presiden. Mereka bertiga lantas mengabadikan foto bersama dengan kompak melakukan simbol jari hati (finger heart), pose yang digunakan para idola K-pop bagi para penggemarnya.

Dalam kesempatan lain, Presiden Prabowo juga memberikan hadiah berupa kerajinan unggulan UMKM Indonesia kepada Presiden Lee Jae Myung. Hadiah tersebut mencakup keris Bali dan guci keramik khas Jawa Timur. Pemberian ini merefleksikan kekayaan budaya Indonesia sekaligus menjadi wujud diplomasi ekonomi kreatif untuk memperkenalkan produk lokal ke kancah internasional.

Tidak hanya untuk pemimpin negara, Prabowo turut memberikan hadiah untuk anjing peliharaan Presiden Lee. Ia menghadiahi syal dan kalung kepada anjing bernama Bobby, yang memiliki kesamaan nama dengan kucing peliharaan Prabowo sendiri. Momen ini terjadi saat keduanya berbincang santai dalam Friendship Event di Garden of Sangchungjae.

Pendekatan diplomatik yang ditunjukkan Prabowo dinilai melampaui batas formalitas hubungan antarnegara. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, “pendekatan diplomasi yang dilakukan Prabowo tidak semata untuk hubungan kedua negara, tapi juga menyentuh kedekatan personal.”

Continue Reading

News

Tren Mobil Listrik Pemula Perlu Panduan

Setiap jenis memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri, sehingga penyesuaian dengan kebutuhan berkendara sangat dianjurkan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Popularitas kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat signifikan seiring berbagai insentif pemerintah dan kekhawatiran akan fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) konvensional. Fenomena ini mendorong banyak masyarakat untuk mempertimbangkan beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dan hemat energi.

Peningkatan minat ini tercermin dalam data resmi Gaikindo yang mencatat penjualan mobil listrik pada tahun 2025 mencapai 103.931 unit, melonjak drastis sekitar 10 kali lipat dibandingkan tahun 2022 yang hanya sebesar 10.327 unit. Angka ini mengindikasikan semakin banyaknya pengguna kendaraan listrik di Indonesia.

Meskipun demikian, bagi pengemudi pemula atau mereka yang baru berniat beralih, terdapat beberapa aspek penting yang kerap menjadi kesulitan untuk dipahami. Hal-hal tersebut mencakup cara kerja dasar mobil listrik, prosedur pengisian daya, serta estimasi biaya perawatan yang diperlukan.

Mobil listrik beroperasi menggunakan motor listrik sebagai tenaga penggerak utama yang disuplai oleh energi dari baterai. Sistem ini tidak membutuhkan bahan bakar minyak untuk berfungsi, melainkan memanfaatkan daya listrik yang diisi ulang melalui mekanisme pengecasan khusus.

Penting untuk diketahui bahwa kendaraan elektrifikasi memiliki beragam jenis, di antaranya Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), hingga Fuel Cell Hybrid Electric Vehicle (FCHEV). Setiap jenis memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri, sehingga penyesuaian dengan kebutuhan berkendara sangat dianjurkan.

Proses pengisian daya mobil listrik umumnya relatif mudah dan menawarkan dua opsi utama bagi pengguna. Pilihan pertama adalah pengecasan yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah, sementara opsi kedua memanfaatkan fasilitas stasiun pengisian umum seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Continue Reading

News

Ambisi Besar Prabowo Elektrifikasi Semua Kendaraan: Solusi Krisis Energi atau Tantangan Baru?

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto menggagas rencana ambisius untuk mengonversi seluruh kendaraan berbahan bakar fosil di Indonesia menjadi kendaraan listrik. Di tengah krisis energi global, ia menyebut langkah tersebut sebagai “game changer” yang diyakini mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).

Dalam sebuah diskusi bersama pimpinan media nasional, Prabowo menegaskan visinya untuk elektrifikasi total sektor transportasi. “Saya ingin total kendaraan listrik. Semua motor, mobil, truk, hingga traktor harus berbasis listrik,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, Prabowo juga menyinggung skema pembebanan harga energi. Ia mengisyaratkan bahwa penggunaan BBM nantinya akan mengikuti harga pasar global, terutama bagi kalangan mampu. Sementara itu, ia menargetkan sumber listrik ke depan berasal dari energi terbarukan, khususnya tenaga surya.

Presiden bahkan menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW) dalam dua tahun ke depan.


Di sisi lain, peralihan ke kendaraan listrik mulai dirasakan sebagian masyarakat. Haliman (55), pengemudi ojek daring di Jakarta, mengaku biaya operasionalnya turun drastis sejak beralih ke motor listrik.

“Dulu bensin bisa Rp60.000 per hari, sekarang ngecas cuma sekitar Rp8.000,” ujarnya.

Namun, ia tetap harus membayar cicilan harian sekitar Rp55.000 selama 1,5 tahun. Selain itu, kekhawatiran muncul terkait biaya penggantian baterai yang bisa mencapai puluhan juta rupiah setelah masa garansi berakhir.


Saat ini, jumlah kendaraan listrik di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Sepeda motor listrik tercatat sekitar 236.000 unit, sementara motor konvensional mencapai lebih dari 139 juta unit. Mobil listrik pun baru sekitar 123.000 unit, dibandingkan lebih dari 20 juta mobil berbahan bakar minyak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa jalan menuju elektrifikasi total masih panjang.


Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Rasio Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) saat ini sekitar 1:26, masih di bawah angka ideal 1:17.

Pemerintah melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah mengoperasikan ribuan SPKLU dan menargetkan peningkatan signifikan hingga 2030. Selain itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut konversi motor listrik bisa ditekan hingga Rp5–6 juta dengan teknologi terbaru.

Namun, menurut Bhima Yudhistira dari CELIOS, persoalan tidak berhenti pada kendaraan dan infrastruktur saja.

“Bagaimana dengan suku cadang, terutama baterai? Apakah ada subsidi atau fasilitas daur ulang? Ini belum jelas,” ujarnya.

Indonesia sendiri hingga kini belum memiliki sistem pengolahan limbah baterai kendaraan listrik yang memadai.


Organisasi lingkungan WALHI menilai kebijakan ini berpotensi menjadi “solusi semu”. Mereka menyoroti dampak ekologis dari rantai pasok kendaraan listrik, termasuk eksploitasi sumber daya alam dan deforestasi.

Koordinator WALHI, Uli Arta Siagian, menilai peningkatan produksi kendaraan listrik justru bisa memperbesar tekanan terhadap lingkungan.

“Kebutuhan bahan baku akan meningkat, dan ini berisiko memperluas kerusakan ekologis,” ujarnya.


Tantangan lain datang dari sisi pasokan energi. Saat ini, listrik di Indonesia masih didominasi pembangkit berbasis batu bara, dengan porsi lebih dari 60 persen. Sementara energi terbarukan seperti tenaga surya masih sangat kecil.

Hal ini memunculkan kritik bahwa kendaraan listrik belum sepenuhnya ramah lingkungan jika sumber energinya masih berasal dari fosil.

“Kalau sumber listriknya masih batu bara, maka masalah utamanya belum terselesaikan,” kata Bhima.


Sejumlah pengamat menilai solusi jangka panjang yang lebih efektif adalah memperkuat transportasi publik. Saat ini, sekitar 52% konsumsi BBM nasional berasal dari sektor transportasi, dan sebagian besar digunakan oleh kendaraan pribadi.

Minimnya pengembangan transportasi umum dinilai menjadi akar masalah tingginya konsumsi energi.

“Subsidi transportasi publik dan pembangunan infrastrukturnya harus jadi prioritas,” ujar Bhima.


Ambisi besar Presiden Prabowo untuk elektrifikasi total kendaraan dinilai sebagai langkah progresif, namun penuh tantangan. Mulai dari infrastruktur, biaya, ekosistem industri, hingga sumber energi, semuanya perlu dibenahi secara menyeluruh.

Tanpa perencanaan matang dari hulu ke hilir, para pengamat menilai kebijakan ini berisiko menjadi solusi parsial yang belum mampu menjawab persoalan energi secara fundamental.

Continue Reading

News

Ekonom Senior INDEF Nilai Kenaikan Harga Minyak Berpotensi Picu Inflasi dan Gejolak Sosial

Published

on

Monitorday.Com — Kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara sekaligus menurunkan daya beli masyarakat. Jika tidak diantisipasi dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi risiko sosial yang lebih luas.

Ekonom Senior INDEF, Aviliani, dalam wawancara di program Rosi pada Kamis (malam), menjelaskan bahwa tren kenaikan harga minyak akan semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui peningkatan subsidi energi.

“Kalau harga minyak terus naik, tekanan terhadap APBN pasti semakin besar, karena subsidi energi ikut meningkat. Ini yang perlu diantisipasi,” ujarnya.

Menurut Aviliani, dampak kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan pada sisi fiskal, tetapi juga menjalar ke sektor riil. Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa.

Kondisi tersebut, lanjutnya, akan langsung dirasakan masyarakat melalui melemahnya daya beli. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan semata pada besaran subsidi, melainkan pada kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Isu utamanya bukan hanya subsidi, tetapi daya beli masyarakat. Kalau daya beli turun, itu akan berdampak ke seluruh sektor ekonomi,” kata Aviliani.

Ia juga mengingatkan bahwa tekanan ekonomi yang tidak tertangani dapat memicu dampak lanjutan, termasuk potensi gejolak sosial. Oleh karena itu, diperlukan langkah mitigasi yang tidak hanya bersifat jangka pendek.

Salah satu solusi yang didorong adalah percepatan penciptaan lapangan kerja, khususnya melalui proyek infrastruktur dan program pembangunan di daerah.

“Pembangunan proyek infrastruktur atau program lain di daerah perlu dipercepat untuk membuka peluang kerja. Ini penting sebagai bantalan ekonomi,” ujarnya.

Aviliani menekankan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah harus mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan perlindungan daya beli masyarakat, agar tekanan akibat kenaikan harga minyak tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Continue Reading

News

Krisis Energi Global Picu Kebijakan WFH di Sejumlah Negara, Ini Daftarnya

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah mendorong sejumlah negara mengambil langkah strategis untuk menekan konsumsi bahan bakar. Salah satu kebijakan yang banyak diterapkan adalah sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) guna mengurangi mobilitas harian masyarakat.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor industri, tetapi juga mengubah pola kerja di berbagai negara. Pemerintah di sejumlah wilayah bahkan mulai menerapkan kebijakan WFH secara luas sebagai bagian dari upaya efisiensi energi. Indonesia pun mulai mengadopsi langkah serupa sebagai respons terhadap situasi global.

Berikut sejumlah negara yang telah menerapkan kebijakan WFH:

1. Pakistan
Pemerintah Pakistan di bawah kepemimpinan Shahbaz Sharif memberlakukan kebijakan WFH bagi 50 persen pekerja. Selain itu, masa libur sekolah juga diperpanjang sejak awal Maret.

Langkah ini diambil untuk menekan konsumsi bahan bakar di tengah lonjakan harga minyak global. Kenaikan harga BBM di Pakistan bahkan mencapai 55 rupee per liter, yang disebut sebagai salah satu kenaikan terbesar dalam sejarah negara tersebut.

2. Thailand
Di Thailand, kebijakan WFH diberlakukan bagi pegawai negeri sejak 3 Maret oleh Anutin Charnvirakul. Namun, aturan ini tidak berlaku bagi sektor pelayanan publik.

Selain WFH, pemerintah juga mengeluarkan berbagai imbauan hemat energi, seperti mengatur suhu AC pada 26–27 derajat Celsius, mengenakan pakaian kerja yang lebih santai, mematikan perangkat listrik saat tidak digunakan, hingga mengurangi penggunaan lift.

3. Vietnam
Pemerintah Vietnam melalui Kementerian Perdagangan mengimbau pelaku usaha untuk menerapkan sistem WFH. Kebijakan ini bertujuan mengurangi mobilitas dan konsumsi BBM.

Vietnam menjadi salah satu negara yang terdampak signifikan akibat ketergantungan impor energi dari Timur Tengah, terutama setelah terganggunya distribusi energi global.

4. Sri Lanka
Di Sri Lanka, pemerintah menerapkan WFH sekaligus memangkas hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan. Kebijakan ini diumumkan oleh Prabath Chandrakeerthi selaku Komisaris Jenderal Layanan Esensial.

Sejak 18 Maret, hari Rabu ditetapkan sebagai hari libur tambahan. Kebijakan ini juga berlaku untuk sekolah dan universitas sebagai bagian dari langkah penghematan energi nasional.

5. Mesir
Pemerintah Mesir resmi menerapkan kebijakan WFH mulai April 2026, dengan aturan satu hari kerja dari rumah setiap pekan bagi para pekerja.

Namun, sektor vital seperti rumah sakit, sekolah, dan pabrik tetap beroperasi normal. Selain itu, pemerintah juga mewajibkan toko, restoran, dan kafe tutup lebih awal sebelum pukul 21.00 waktu setempat sejak 28 Maret.

Kebijakan-kebijakan tersebut mencerminkan upaya global dalam menghadapi tekanan krisis energi. Dengan membatasi mobilitas dan aktivitas operasional, negara-negara berharap konsumsi energi dapat ditekan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Continue Reading

News

Pratama Arhan Siap Ukir Sejarah, Jadi Lulusan Pertama Udinus dengan Ijazah Blockchain

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com] – Pesepakbola nasional Pratama Arhan berpeluang mencatat sejarah sebagai lulusan pertama Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang memperoleh ijazah berbasis teknologi blockchain.

Rektor Udinus, Pulung Nurtantio Andono, menyampaikan bahwa Arhan dijadwalkan mengikuti wisuda pada April 2026, berdasarkan data dari Biro Akademik kampus tersebut. Ia menegaskan bahwa Arhan bersama angkatannya akan menjadi pelopor penerapan sistem ijazah digital berbasis blockchain di Udinus.

Menurut Pulung, penerapan teknologi ini merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan era digital, terutama dalam mencegah pemalsuan dokumen akademik. Dengan sistem blockchain, ijazah tidak lagi sekadar dokumen fisik, tetapi memiliki rekam jejak digital yang transparan, aman, dan tidak dapat dimanipulasi.

Dalam implementasinya, Udinus bekerja sama dengan sejumlah lembaga internasional, yakni Dubai Blockchain Center, Indonesia Blockchain Center (IBC), serta Sealbound UAE.

Rektor juga menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi Arhan yang mampu menyeimbangkan karier sebagai atlet profesional dengan pendidikan akademik. Ia bahkan mendukung rencana pemain tersebut untuk melanjutkan studi ke jenjang magister (S2) di Udinus.

Arhan, yang kini memperkuat klub Bangkok United, baru saja menyelesaikan sidang skripsi di Program Sarjana Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Udinus pada 1 April 2026. Pemain kelahiran Blora itu mengaku sempat merasa tegang sebelum menjalani sidang, namun akhirnya berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Ia dinyatakan lulus dengan revisi dan bertekad segera menyelesaikan perbaikan agar dapat mengikuti wisuda tahun ini. Dalam penelitiannya, Arhan mengangkat topik mengenai peran brand ambassador, pemasaran media sosial, dan brand familiarity dalam meningkatkan penjualan sepatu sepak bola merek Mizuno.

Selama menjalani studi, Arhan mengaku mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing dan rekan-rekannya di lingkungan kampus. Ia juga telah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan S2 dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi melalui program beasiswa yang disediakan Udinus.

Sementara itu, dosen pembimbingnya, Mahmud, menyatakan bahwa Arhan mampu menjalani proses sidang dengan lancar dan menjelaskan hasil penelitiannya secara baik. Ia menambahkan bahwa revisi yang diberikan merupakan hal wajar dan akan segera diselesaikan dengan pendampingan lebih lanjut.

Continue Reading

News

Perjumpaan Simbolik Pangeran Diponegoro dan Iran, Ketika Pohon Menjadi Bahasa Perlawanan

Published

on

By

H. Erdy Nasyrul, M.I.Kom
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

Monitorday.com – Langit sejarah kerap mempertemukan hal-hal yang tak pernah benar-benar saling bersentuhan. Ia tidak mempertemukan tokoh dalam ruang dan waktu yang sama, tetapi mempertemukan makna, dalam bentuk simbol yang hidup, berpindah, dan menemukan resonansinya kembali di zaman yang berbeda.

Di tanah Jawa abad ke-19, Pangeran Diponegoro memimpin sebuah perlawanan yang tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada jaringan kultural yang halus dan nyaris tak terlihat. Dalam gerak gerilya yang senyap itu, pohon, terutama sawo kecik, menjadi lebih dari sekadar tanaman. Ia hadir sebagai penanda, sebagai kode, sebagai bahasa diam yang hanya dimengerti oleh mereka yang berada dalam lingkar perjuangan.

Pohon itu tidak berbicara, tetapi ia memberi tahu. Ia tidak berteriak, tetapi ia menghubungkan.

Dalam lanskap yang berbeda, berabad kemudian, simbol yang sama kembali muncul, kali ini di tengah gejolak Timur Tengah. Mojtaba Khamenei, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Tasnim, menyerukan rakyat Iran untuk menanam pohon di seluruh negeri, sebagai penghormatan kepada para martir yang gugur dalam konflik.

Seruan itu bukan sekadar ajakan ekologis. Ia adalah narasi. Ia adalah upaya membangun memori kolektif, menanam harapan di atas tanah yang baru saja menyerap luka. Setiap bibit yang ditanam diposisikan sebagai simbol kehidupan yang tidak tunduk pada kematian, sebagai tanda bahwa bangsa yang diserang masih memiliki masa depan.

Di titik ini, sejarah seperti berbisik pelan, ada sesuatu yang sama.

Namun kesamaan itu bukanlah hubungan langsung. Tidak ada garis sejarah yang menghubungkan Diponegoro dengan Iran modern. Tidak ada warisan yang berpindah secara literal. Yang ada adalah perjumpaan simbolik, dua peradaban yang, dalam tekanan dan krisisnya masing-masing, menemukan bahasa yang sama untuk mengekspresikan perlawanan.

Pada masa Diponegoro, pohon bekerja dalam kesunyian. Ia menjadi bagian dari strategi, penanda lokasi, simpul komunikasi, sekaligus identitas kultural yang mengikat para pengikutnya. Dalam tradisi Jawa, sawo kecik sendiri tidak berdiri sebagai objek biasa. Ia dimaknai sebagai sarwo becik, lambang kebaikan, keteguhan, dan keselarasan hidup.

Dengan demikian, pohon dalam konteks Diponegoro bukan hanya alat, tetapi juga nilai. Ia menyatukan dimensi spiritual dan perlawanan dalam satu simbol yang sederhana.

Di Iran, makna itu mengalami transformasi. Pohon tidak lagi tersembunyi sebagai kode, melainkan tampil di ruang publik sebagai ekspresi kolektif. Ia menjadi ritual nasional, ditanam untuk mengenang, sekaligus untuk menegaskan bahwa kematian tidak mengakhiri narasi sebuah bangsa.

Jika dalam perang Diponegoro pohon adalah “jejak yang ditinggalkan”, maka dalam konteks Iran pohon adalah “masa depan yang ditanam”.

Perbedaan ini justru memperjelas satu hal, simbol yang sama dapat hidup dalam bentuk yang berbeda, tetapi tetap membawa pesan yang serupa.

Baik di Jawa maupun di Iran, pohon menjadi metafora tentang waktu. Ia tumbuh perlahan, berakar dalam, dan bertahan lama. Ia tidak memberikan kemenangan instan, tetapi menjanjikan keberlanjutan.

Dalam dunia yang sering kali mengukur kekuatan dari kecepatan dan daya hancur, simbol ini menawarkan perspektif lain, bahwa ketahanan sejati justru dibangun dari sesuatu yang tumbuh, bukan yang menghancurkan.

Di tengah konflik global, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pertanyaan tentang “siapa yang menang” sering kali terdengar terlalu tergesa. Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak selalu menjadi penentu akhir dari sebuah peradaban. Bahkan, dalam banyak kasus, pihak yang tampak kalah justru meninggalkan jejak yang lebih dalam dan lebih bertahan lama.

Penyair Romawi Horace pernah menulis, Graecia capta ferum victorem cepit. Artinya, Yunani yang ditaklukkan justru menaklukkan penakluknya yang buas. Kekuasaan boleh datang dengan pedang, tetapi pengaruh sering kali datang melalui budaya, melalui nilai, melalui simbol yang hidup lebih lama dari kemenangan itu sendiri.

Pengalaman Nusantara memberi cermin yang serupa. Secara kasat mata, negeri ini pernah ditaklukkan oleh Belanda. Namun dalam perjalanan waktu, interaksi itu tidak berjalan satu arah. Banyak jejak Nusantara justru hidup dalam ruang budaya Belanda, baik dalam kuliner, bahasa, maupun kebiasaan sosial. Sebuah pengingat bahwa relasi penakluk dan yang ditaklukkan tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Dalam konteks itulah, simbol pohon menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar metafora ekologis, tetapi representasi dari sesuatu yang lebih besar, bahwa peradaban yang berakar kuat tidak mudah ditaklukkan, bahkan ketika secara militer ia ditekan.

Kadang, perlawanan justru tumbuh dari sesuatu yang paling sunyi, sebuah bibit yang ditanam, akar yang menembus tanah, dan keyakinan bahwa kehidupan akan terus berlanjut.

Dari Jawa hingga Iran, pohon mengajarkan hal yang sama, bahwa perlawanan bukan hanya tentang bertahan dari hari ini, tetapi tentang memastikan bahwa masa depan tetap memiliki tempat untuk tumbuh.

Mungkin, di situlah makna terdalam dari simbol ini, bahwa setiap pohon yang ditanam adalah bentuk perlawanan paling tenang, tetapi juga paling panjang umur.

Continue Reading

News

Paradoks Hubungan Sains dan Agama

Mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Religion and Spirituality mengungkapkan bagaimana sistem keyakinan pribadi seseorang membentuk pandangan mereka tentang hubungan antara sains dan agama. Penelitian ini menemukan pola yang berbeda: individu dengan keyakinan agama yang kuat cenderung melihat sains dan agama sebagai dua entitas yang saling melengkapi, sementara mereka yang sangat percaya pada sains lebih mungkin menganggap keduanya bertentangan.

Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana kerangka pemahaman yang berbeda memengaruhi persepsi seseorang tentang hubungan yang kompleks antara sains dan agama. Hasil studi ini menambah dimensi pada perdebatan global yang telah berlangsung selama berabad-abad mengenai kompatibilitas kedua domain tersebut.

Perdebatan mengenai hubungan antara sains dan agama memang telah berlangsung lama. Ada kelompok yang berpendapat bahwa keduanya adalah jalur yang saling melengkapi untuk memahami dunia dan realitas, sementara kelompok lain beranggapan bahwa keduanya pada dasarnya tidak selaras dan saling bertentangan.

Studi-studi sebelumnya seringkali fokus pada situasi di mana sains dan agama dibandingkan atau dipertentankan secara langsung. Akibatnya, masih ada pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana keyakinan pada salah satu bidang, baik sains atau agama, memengaruhi persepsi tentang kompatibilitas keduanya, terlepas dari perbandingan langsung tersebut.

Untuk mengatasi kesenjangan penelitian ini, para peneliti dalam studi terbaru ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana keyakinan pada sains dan keyakinan agama, sebagai sistem makna yang terpisah, dapat memprediksi apakah seseorang akan melihat sains dan agama sebagai kompatibel atau bertentangan.

Dengan melibatkan 684 partisipan dari berbagai latar belakang budaya dan agama di Inggris, Belanda, dan Kazakhstan, para peneliti berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana keyakinan-keyakinan ini berinteraksi dalam konteks yang beragam.

Continue Reading

News

Gempa M7,6 Guncang Bitung, Sejumlah Wilayah di Sulut dan Malut Berstatus Siaga Tsunami

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang perairan Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2/4), berpotensi memicu tsunami di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Informasi ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan hasil pemodelan terkini.

BMKG menetapkan sejumlah daerah dalam status Siaga dan Waspada dengan estimasi waktu kedatangan gelombang tsunami yang berbeda-beda. Wilayah berstatus Siaga diimbau untuk segera melakukan evakuasi, sementara daerah berstatus Waspada diminta menjauhi kawasan pesisir dan aliran sungai.

Berikut rincian wilayah terdampak:

Status Siaga:

  • Kota Ternate, Maluku Utara (estimasi tiba 06:53:14 WITA)
  • Halmahera, Maluku Utara (06:54:14 WITA)
  • Kota Tidore, Maluku Utara (06:56:14 WITA)
  • Kota Bitung, Sulawesi Utara (07:12:14 WITA)
  • Minahasa Bagian Selatan, Sulawesi Utara (07:17:14 WITA)
  • Minahasa Selatan Bagian Selatan, Sulawesi Utara (07:18:14 WITA)
  • Minahasa Utara Bagian Selatan, Sulawesi Utara (07:18:14 WITA)

Status Waspada:

  • Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (07:14:14 WITA)
  • Minahasa Utara Bagian Utara, Sulawesi Utara (07:15:14 WITA)
  • Bolaang Mongondow Bagian Selatan, Sulawesi Utara (07:21:14 WITA)

BMKG juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah di wilayah berstatus Siaga perlu segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi. Sementara itu, masyarakat di wilayah Waspada diminta tetap waspada dan menjauhi pantai serta tepian sungai guna menghindari potensi bahaya.

Hingga saat ini, perkembangan situasi masih terus dipantau oleh otoritas terkait. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta instansi pemerintah setempat.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Review9 hours ago

Dilema EV vs Mobil Bensin Antara Hemat Harian atau Bebas Jarak

News9 hours ago

Prabowo Dorong Kendaraan Listrik, Dinilai Mampu Antisipasi Krisis Energi

News9 hours ago

Momen Unik Prabowo dan Presiden Korsel

News9 hours ago

Tren Mobil Listrik Pemula Perlu Panduan

Ruang Sujud9 hours ago

Nikmat Mana, Kebaikan atau Kemaksiatan?

News10 hours ago

Ambisi Besar Prabowo Elektrifikasi Semua Kendaraan: Solusi Krisis Energi atau Tantangan Baru?

News10 hours ago

Ekonom Senior INDEF Nilai Kenaikan Harga Minyak Berpotensi Picu Inflasi dan Gejolak Sosial

News10 hours ago

Krisis Energi Global Picu Kebijakan WFH di Sejumlah Negara, Ini Daftarnya

LakeyBanget11 hours ago

Pulihkan Energi Usai Lebaran, Berikut Cara Terapkan Slow Living di Akhir Pekan

LakeyBanget11 hours ago

Yamal Kecam Chant Anti-Islam di Laga Spanyol vs Mesir: Agama Bukan Bahan Menghina

News20 hours ago

Pratama Arhan Siap Ukir Sejarah, Jadi Lulusan Pertama Udinus dengan Ijazah Blockchain

LakeyBanget20 hours ago

Indonesia Jadi Tim Terbaik ASEAN di Tour of Thailand 2026

News1 day ago

Perjumpaan Simbolik Pangeran Diponegoro dan Iran, Ketika Pohon Menjadi Bahasa Perlawanan

News1 day ago

Paradoks Hubungan Sains dan Agama

LakeyBanget1 day ago

Dibuka 1 April 2026, Ratusan Pendaki Auto Serbu Gunung Rinjani

LakeyBanget1 day ago

Luna Maya Nilai Kedalaman Karakter Jadi Kekuatan Utama Film Zona Merah

News1 day ago

Gempa M7,6 Guncang Bitung, Sejumlah Wilayah di Sulut dan Malut Berstatus Siaga Tsunami

News1 day ago

Wamendikdasmen: TKA Bukan Sekadar Ujian Tapi Mengukur Kemampuan Siswa

News2 days ago

Prabowo Terima Penghargaan The Grand Order of Mugunghwa dari Presiden Korsel

News2 days ago

WFH Bukan Libur, Mendikdasmen Pastikan Sekolah Tetap Normal dan Budaya Kerja Sehat Diperkuat

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.