News
Swasembada Energi dan Mendesaknya Isu Ketahanan Energi ASEAN
Potensi tersebut mencakup sumber daya dari tenaga air, tenaga surya, hingga tenaga angin, yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi
Monitorday.com– Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Indonesia menghadapi dua tantangan besar yang saling berkaitan: ancaman krisis energi dan ancaman krisis air. Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem dan kemarau panjang, sementara gejolak geopolitik dunia membuat harga energi fosil semakin sulit diprediksi. Dalam konteks inilah, langkah pemerintah mempercepat swasembada energi dan air pada 2026 menjadi agenda yang bukan sekadar teknokratis, melainkan strategi mempertahankan ketahanan nasional.
Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada energi sebagai target strategis empat tahun ke depan. Target ini cukup ambisius, tetapi memiliki dasar yang kuat karena Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan sumber daya energi terbarukan yang melimpah. Energi surya, panas bumi, biomassa, hidro, hingga energi laut tersedia dalam skala besar dan tersebar di berbagai wilayah nusantara.

Fokus pemerintah terhadap pengembangan energi surya hingga target kapasitas 100 GW menunjukkan adanya pergeseran paradigma energi nasional. Selama puluhan tahun Indonesia terlalu bergantung pada energi fosil, terutama batu bara dan impor BBM. Ketergantungan tersebut membuat ketahanan energi nasional sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan konflik internasional. Ketika harga minyak dunia melonjak, APBN ikut terbebani. Ketika pasokan global terganggu, stabilitas ekonomi nasional ikut terancam.
Karena itu, percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) bukan sekadar proyek lingkungan hidup, melainkan kebutuhan geopolitik dan ekonomi. Negara yang mampu mandiri energi akan memiliki posisi tawar lebih kuat di tengah kompetisi global. Indonesia tampaknya mulai memahami hal tersebut.
Langkah elektrifikasi desa dan pulau terpencil berbasis tenaga surya juga patut diapresiasi. Selama ini ketimpangan akses listrik menjadi salah satu hambatan pembangunan daerah tertinggal. Energi surya menawarkan solusi yang lebih murah dan fleksibel dibanding membangun jaringan listrik konvensional ke wilayah-wilayah terpencil. Dengan teknologi panel surya dan baterai yang semakin efisien, desa-desa terpencil memiliki peluang menjadi mandiri energi.
Namun, swasembada energi tidak akan cukup tanpa penguatan ketahanan air. Kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada 2026 menjadi alarm serius bagi Indonesia. Krisis air bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang mulai dirasakan banyak daerah. Penurunan debit sungai, kekeringan lahan pertanian, hingga keterbatasan akses air bersih berpotensi memicu persoalan sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Karena itu, percepatan pembangunan bendungan, embung, irigasi, dan sumur bor merupakan langkah strategis. Infrastruktur air harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek fisik tahunan. Negara-negara yang berhasil menjaga stabilitas pangan dan industrinya umumnya memiliki sistem manajemen air yang kuat dan terintegrasi.
Program PAMSIMAS yang diperkuat di wilayah perdesaan juga menjadi contoh penting bahwa ketahanan air tidak cukup dibangun dari pendekatan sentralistik semata. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan pengelolaan air bersih. Infrastruktur tanpa partisipasi warga sering kali berakhir mangkrak atau tidak terawat.
Yang menarik, pemerintah mulai mendorong sinergi antara swasembada energi dan air. Integrasi penggunaan energi terbarukan untuk pompa air di daerah kering merupakan langkah yang relevan dengan tantangan masa depan. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral. Krisis energi dan krisis air saling berkaitan sehingga solusi yang dibangun juga harus terpadu.
Meski demikian, tantangan implementasi tetap besar. Target besar energi surya membutuhkan investasi sangat besar, kepastian regulasi, dan kesiapan industri nasional. Indonesia masih menghadapi persoalan klasik seperti birokrasi perizinan, keterbatasan infrastruktur transmisi listrik, hingga ketergantungan impor teknologi panel surya dan baterai. Jika tidak diantisipasi, swasembada energi justru dapat berubah menjadi ketergantungan teknologi baru terhadap negara lain.
Di sektor air, persoalan koordinasi antarlembaga juga masih menjadi hambatan. Banyak proyek bendungan dan irigasi yang belum sepenuhnya terkoneksi dengan kebutuhan pertanian dan tata ruang daerah. Selain itu, ancaman kerusakan lingkungan seperti deforestasi dan alih fungsi lahan terus memperparah kemampuan alam menyimpan air.
Karena itu, swasembada energi dan air seharusnya tidak dipahami hanya sebagai proyek pembangunan fisik. Agenda ini harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, perguruan tinggi, hingga masyarakat sipil. Tanpa perubahan pola konsumsi dan kesadaran kolektif, pembangunan infrastruktur saja tidak akan cukup.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi negara yang tangguh energi dan air. Posisi geografis di wilayah tropis memberikan paparan sinar matahari melimpah sepanjang tahun. Curah hujan yang tinggi juga menjadi potensi besar bila dikelola dengan baik. Tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan mengelola sumber daya tersebut secara visioner dan berkelanjutan.
Tahun 2026 dapat menjadi titik penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian nasional. Ketika dunia menghadapi ancaman krisis energi dan air, Indonesia memiliki kesempatan membuktikan bahwa pembangunan berbasis sumber daya domestik dan energi bersih bukan sekadar slogan politik. Jika dijalankan secara konsisten, swasembada energi dan air dapat menjadi fondasi utama ketahanan nasional sekaligus warisan strategis bagi generasi mendatang.
Belum lama ini Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan energi telah menjadi tantangan mendesak yang harus dihadapi bersama oleh negara-negara di kawasan ASEAN. Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).
KTT tersebut merupakan bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN yang berlangsung di Cebu, Filipina, pada Kamis (7/5/2026). Presiden Prabowo menekankan bahwa meningkatnya tekanan global dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah menjadikan isu energi bukan lagi sekadar tantangan jangka panjang, melainkan kebutuhan yang memerlukan respons cepat.
“Ketahanan energi adalah salah satu isu penting yang kita hadapi saat ini. Dengan meningkatnya tekanan global dan ketidakstabilan di Timur Tengah, ini bukan lagi masalah jangka panjang, melainkan masalah mendesak,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden menyebut kawasan BIMP-EAGA memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Potensi tersebut mencakup sumber daya dari tenaga air, tenaga surya, hingga tenaga angin, yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi.
Selain itu, kawasan tersebut juga dinilai memiliki sumber daya lahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk mendukung transisi energi di kawasan ASEAN. “Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” katanya.
Menanggapi potensi tersebut, Presiden Prabowo mendorong langkah konkret dalam mempercepat pengembangan energi bersih di kawasan. Beberapa inisiatif yang ditekankan antara lain pengembangan tenaga air di Kalimantan, proyek energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir untuk masa depan energi ASEAN yang lebih stabil.
News
Sugiono Desak Reformasi PBB di Tengah Gejolak Dunia
Monitorday.com – Menteri Luar Negeri RI Sugiono menilai reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semakin mendesak seiring perubahan dan gejolak global pada abad ke-21.
Hal itu disampaikan Sugiono dalam pidatonya pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Sabtu (26/9) waktu setempat.
“Indonesia senantiasa percaya pada PBB. Akan tetapi, kepercayaan pada PBB juga berarti percaya bahwa PBB harus berevolusi seiring dengan dunia yang dilayaninya,” kata Sugiono, sebagaimana dipantau melalui siaran daring di Jakarta, Minggu.
Meski aktif mendorong reformasi, Indonesia tetap memandang PBB sebagai institusi multilateral yang perannya belum tergantikan. Menurut Sugiono, PBB menyediakan ruang bagi negara-negara untuk mencari jalan keluar atas perbedaan kepentingan tanpa harus berujung pada kekerasan dan konflik.
“PBB memberi aturan bersama di tengah perbedaan kepentingan dan memungkinkan kita menghimpun kemampuan ketika negara-negara tak bisa bertindak sendirian,” ujarnya.
Sugiono menegaskan, ketidaksempurnaan multilateralisme saat ini seharusnya dijawab dengan memperkuat dan memperbaiki sistem tersebut, bukan meninggalkannya.
Ia menyebut sistem multilateral yang relevan untuk abad ke-21 harus lebih representatif, tangguh, dan mampu menghasilkan dampak konkret bagi masyarakat dunia.
Menurut Sugiono, reformasi PBB dan sistem multilateral tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, meningkatnya tantangan global membuat langkah pembenahan perlu dimulai segera.
“Kita harus mulai memperkuat kapasitas kolektif kita dalam menghadapi krisis, merespons secara efektif krisis global dan kondisi kemanusiaan, serta menjaga perdamaian, pembangunan, dan kerja sama,” kata dia.
Selain reformasi PBB, Sugiono mendorong pembenahan arsitektur keuangan internasional. Reformasi diperlukan agar sistem keuangan global lebih mampu menjawab kebutuhan negara-negara berkembang.
Menurut dia, sistem tersebut juga perlu memperluas ruang bagi negara berkembang untuk menentukan prioritas pembangunan sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Sugiono mengatakan kemampuan Indonesia berkontribusi secara konsisten terhadap komunitas internasional berangkat dari keberhasilan membangun ketahanan nasional di dalam negeri.
Upaya itu, kata dia, tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga dengan memperkuat persatuan dalam keberagaman dan menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia.
Delegasi Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB 2026 dipimpin Sugiono. Ia tiba di New York pada Senin (21/9) dan mengikuti sejumlah pertemuan tingkat tinggi serta pertemuan bilateral sebelum menyampaikan pidatonya pada Sabtu.
News
G30S/PKI dalam Kesaksian Salim Said: Konflik Militer, Politik, dan Kekacauan Sejarah
Prof. Salim Said melihat G30S dalam konteks panjang konflik TNI-PKI, politik Nasakom, krisis ekonomi, dan lemahnya perencanaan operasi yang berujung pada tragedi.
Monitorday.com– Peristiwa Gerakan 30 September 1965 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah politik Indonesia. Dalam wawancara di kanal YouTube yang dipandu Fajar Aditya, almarhum Prof. Salim Said, pakar militer dan saksi sejarah, menguraikan latar belakang peristiwa tersebut dengan menempatkannya dalam konteks konflik panjang antara Tentara Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia.
Menurut Salim Said, akar ketegangan antara TNI dan PKI dapat ditelusuri hingga Pemberontakan Madiun 1948. Sejumlah perwira TNI terlibat langsung dalam operasi penumpasan pemberontakan tersebut. Pengalaman itu kemudian menjadi bagian penting dari ingatan politik dan militer ketika Presiden Soekarno memperkenalkan konsep Nasakom, yang berupaya mempertemukan nasionalisme, agama, dan komunisme dalam satu konfigurasi politik.
Dalam pandangan Salim, posisi Soekarno pada masa itu juga tidak sederhana. Secara konstitusional, Presiden memiliki kekuasaan politik yang besar, tetapi tidak mempunyai dukungan militer yang sepenuhnya kuat. Kondisi tersebut mendorong Soekarno untuk merangkul PKI sebagai salah satu kekuatan politik guna menjaga keseimbangan menghadapi kekuatan TNI. Politik keseimbangan inilah yang kemudian membuat hubungan antara kelompok-kelompok politik dan militer semakin kompleks.
Salim juga menyoroti bahwa operasi penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal pada 1965 tidak dapat begitu saja dipahami sebagai sebuah rencana yang berjalan sempurna. Ia menggambarkan adanya kekacauan dalam perencanaan yang kemudian menghasilkan konsekuensi fatal. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa sejarah G30S tidak hanya berkaitan dengan keputusan politik tingkat elite, tetapi juga dengan dinamika operasi di lapangan.
Salah satu bagian yang menarik dalam penjelasan Salim adalah mengenai Sam Kamaruzaman. Ia menilai posisi dan peran Sam dalam rangkaian peristiwa tersebut masih menyimpan pertanyaan sejarah. Sam bukan perwira militer, tetapi disebut memiliki peran dalam mengoordinasikan sejumlah perwira TNI yang telah terpengaruh komunisme dalam operasi 1 Oktober 1965. Peran tokoh-tokoh di sekitar peristiwa tersebut menjadi salah satu bidang yang terus dikaji oleh para sejarawan.
Di luar konflik politik dan militer, faktor ekonomi juga menjadi bagian penting dari konteks kejatuhan pemerintahan Soekarno. Salim menyoroti kondisi ekonomi yang sangat buruk pada masa itu, termasuk inflasi yang mencapai sekitar 600 persen. Tekanan ekonomi memperbesar ketidakpuasan masyarakat dan semakin melemahkan posisi politik pemerintahan Soekarno setelah krisis politik 1965.
Bagi Salim Said, memahami G30S tidak cukup dengan menghafalkan kronologi atau mengulang narasi yang sudah dikenal. Generasi muda perlu membaca berbagai sumber sejarah dan memahami hubungan antara konflik politik, militer, ekonomi, serta kepentingan para aktor pada zamannya. Pesan tersebut sejalan dengan prinsip Soekarno tentang “jas merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Wawancara tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa G30S/PKI merupakan peristiwa sejarah yang memiliki banyak lapisan. Kesaksian Salim Said menjadi salah satu perspektif yang dapat digunakan untuk memahami periode tersebut, sementara berbagai dokumen, penelitian akademik, dan kesaksian lain tetap diperlukan untuk melihat peristiwa 1965 secara lebih utuh dan kritis.
News
Pezeshkian: Iran Siap Berdamai, tapi AS Harus Pulihkan Kepercayaan
Monitorday.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran masih membuka pintu penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat. Namun, ia menegaskan dialog sulit dilanjutkan tanpa pemulihan kepercayaan antara kedua negara.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut setibanya di New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Sidang ke-81 Majelis Umum PBB.
Dalam wawancara dengan CBS News pada Jumat (25/9), Pezeshkian mengatakan Iran dan AS harus mematuhi kesepakatan yang telah dibuat secara tertulis. Washington, menurut dia, juga perlu membuktikan bahwa mereka tidak berniat menggulingkan pemerintahan Iran.
Ia meminta masyarakat AS memahami posisi Teheran dengan melihat konflik dari sudut pandang Iran.
“Cobalah menempatkan diri Anda pada posisi kami. Bayangkan ada seseorang yang datang dan membunuh pemimpin tertinggi Anda. Lalu, tidak mematuhi semua yang telah Anda sepakati. Apa reaksi Anda? Ini bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan begitu mudah,” ujar Pezeshkian.
Pezeshkian mempertanyakan keseriusan AS dalam mencari jalan keluar dari konflik. Ia menuding tujuan Washington adalah menggulingkan pemerintahan Iran, seraya merujuk pada pernyataan Israel mengenai perang tersebut.
“Tujuan Amerika adalah menggulingkan pemerintahan kami. Israel sendiri mengatakannya dalam pidato mereka, apa yang mereka lakukan adalah melumpuhkan pemerintah, bukan bernegosiasi,” katanya.
Ia juga mempertanyakan alasan AS melancarkan serangan ketika proses negosiasi tengah berlangsung.
“Lalu, mengapa mereka membom kami di tengah-tengah negosiasi? Mengapa mereka datang dan membunuh para ilmuwan, pejabat, dan rakyat kami? Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka,” ujar Pezeshkian.
Menurutnya, sanksi, ancaman, dan serangan yang masih berlangsung membuat Iran meragukan komitmen AS terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
“Jadi, jika mereka terlibat dalam pembicaraan, maka apakah mereka benar-benar akan menepatinya?” kata dia.
Meski hubungan kedua negara masih tegang, Pezeshkian mengatakan Iran tetap menginginkan perdamaian di kawasan. Ia juga menyerukan AS menghentikan dukungan terhadap Israel, yang ia sebut sedang melakukan “genosida”.
Pezeshkian meminta Washington mengedepankan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam menangani konflik, termasuk tidak memaksa masyarakat meninggalkan rumah, membunuh warga sipil, maupun menargetkan anak-anak, rumah sakit, dan ilmuwan.
Konflik Iran-AS dan Israel meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan ribuan orang, sementara Iran membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah fasilitas AS di berbagai negara di kawasan.
AS kemudian melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah lokasi di Iran ketika perundingan kedua negara menemui jalan buntu. Sebelumnya, Iran dan AS disebut telah menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni.
Sejak itu, pembicaraan terhenti di tengah perbedaan pandangan mengenai pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur strategis utama dunia untuk pengiriman energi dan barang.
News
5 Pejabat Lapas Cibinong di Nonaktifkan, Termasuk Kalapas
Monitorday.com – Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) menonaktifkan lima pejabat struktural Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Langkah ini diambil setelah Ombudsman RI menemukan dugaan fasilitas khusus bagi warga binaan dalam inspeksi mendadak pada 23 September 2026.
Inspektur Jenderal Kementerian Imipas Rudi Setiawan mengatakan penonaktifan dilakukan untuk memudahkan proses pemeriksaan dan investigasi terhadap temuan Ombudsman.
“Kami menonaktifkan 5 pejabat struktural yang diduga ya bertanggung jawab terkait peristiwa yang ditemukan oleh Ombudsman,” ujar Rudi dalam konferensi pers, Sabtu (26/9/2026).
Lima pejabat tersebut terdiri atas Kepala Lapas, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP), Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Kasi Binadik), Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban (Kasi Kamtib), serta Kepala Urusan Umum.
Mereka akan menjalani pemeriksaan untuk mengungkap bagaimana fasilitas khusus tersebut bisa tersedia dan beroperasi di dalam lingkungan Lapas Cibinong.
“Akan kami lakukan pemeriksaan, bagaimana peristiwa atau kondisi yang terjadi sampai ditemukan dan sampai hari ini,” kata Rudi.
Temuan bermula saat tim Ombudsman melakukan inspeksi mendadak pada Rabu (23/9/2026). Anggota Ombudsman RI Syafrida R. Rasahan mengatakan tim menemukan sejumlah bangunan di sekitar area lapas yang diduga digunakan sebagai hunian warga binaan.
Bangunan tersebut dilengkapi fasilitas yang berbeda dari hunian lapas pada umumnya, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, ruang makan, dapur, televisi, kulkas, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga.
Tak berhenti di situ, Ombudsman juga menemukan fasilitas kebugaran atau gym yang tengah dibangun serta simulator golf yang masih dalam pengerjaan. Di salah satu lokasi, tim bahkan menemukan minuman beralkohol di dalam kulkas.
Saat dimintai keterangan, seorang penghuni yang mengaku sebagai warga binaan menyebut dirinya membayar untuk menempati fasilitas tersebut. Namun, Ombudsman belum memperoleh informasi mengenai nominal pembayaran karena petugas lapas mendatangi lokasi saat pemeriksaan berlangsung.
Ombudsman juga menemukan celah keamanan berupa akses keluar di belakang bangunan yang tidak terkunci. Akses tersebut terhubung dengan area hutan bambu dan tempat pembuangan sampah.
Selain itu, Ombudsman menerima laporan keluarga warga binaan mengenai dugaan pungutan Rp150.000 per minggu di Blok A.
Penonaktifan lima pejabat tersebut merupakan bagian dari proses pemeriksaan internal Kementerian Imipas. Status nonaktif tidak serta-merta berarti kelima pejabat telah dinyatakan bersalah.
Pemeriksaan akan menentukan ada atau tidaknya tanggung jawab masing-masing pejabat atas kondisi yang ditemukan Ombudsman.
Kasus ini menjadi sorotan karena Lapas Cibinong sebelumnya menyandang predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), sebagaimana dicatat dalam temuan Ombudsman.
News
Langkah Kultural Abdul Mu’ti Menyulam Diplomasi Buku
Buku adalah duta besar yang tidak pernah pensiun dan tidak perlu paspor untuk berbicara ke dunia luar. Ketika sebuah negara ingin mengenalkan jati diri terdalamnya, mereka tidak mengirim pejabat, namun aksara atau buku berusia ratusan tahun.
Di tahun 1973 misalnya, Negarakertagama pulang ke tanah air dalam kunjungan kenegaraan Ratu Juliana ke Indonesia. Kini naskah itu tersimpan di Perpustakaan Nasional RI dengan kode NB 9. Pada 2008, UNESCO menempatkannya dalam Memory of the World—sebuah pengakuan bahwa aksara lama itu menyimpan ingatan yang bernilai universal.Aksara lama itu pun menjelma duta yang melintasi zaman.
Langkah kultural inilah yang melatari peristiwa bersejarah di Marston Road, Inggris, saat jajaran rak buku Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS) resmi menyambut dua buah pemikiran dari Indonesia. Ditulis oleh Abdul Mu’ti, buku ‘Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan’ serta ‘Pluralisme Positif: Gagasan dan Pengalaman Muhammadiyah dalam Pendidikan’ menjadi karya Menteri Pendidikan Indonesia pertama yang berhasil dikatalogisasi ke dalam sistem Perpustakaan Global Universitas Oxford.
Dua buku tersebut tentu tak berhenti sebagai catatan tentang pengalaman Muhammadiyah dalam mengelola keberagamaan. Ia membawa pengalaman lokal memasuki percakapan akademik yang lebih luas. Ini adalah babak baru diplomasi buku kita: saat narasi inklusivitas madrasah dan sekolah Muhammadiyah bertransformasi menjadi bahan kajian para ilmuwan internasional.
Masuknya kedua buku ini bukan sekadar urusan seremonial serah terima cendera mata. Perpustakaan Oxford, khususnya OCIS, dikenal memiliki standar kurasi yang sangat ketat. Sebuah karya harus memiliki kontribusi keilmuan yang signifikan agar dapat lolos dan terintegrasi ke dalam sistem SOLO (Search Oxford Libraries Online). Melalui proses ini, gagasan Abdul Mu’ti tentang bagaimana Islam dan pluralisme hidup berdampingan di Indonesia kini resmi diakui sebagai referensi ilmiah global.
Esensi KrisMuha
Dua buku yang ditulis Abdul Mu’ti juga membawa tesis kuat tentang keharmonisan yang organik, bukan sekadar toleransi pasif di atas kertas. Karena itu, esensi dari diplomasi buku ini terletak pada bobot pesan yang dibawanya.
Di buku ‘Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan’ yang ditulisnya bersama Fajar Riza Ul Haq, Mu’ti memotret fenomena sosiologis unik di wilayah-wilayah perbatasan atau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kristen di Ende, serta berbagai daerah di Papua.
Di wilayah-wilayah berpenduduk Muslim minoritas tersebut, banyak warga Kristen dan Katolik yang mempercayakan pendidikan anak-anak mereka di sekolah maupun perguruan tinggi Muhammadiyah. Fenomena ini melahirkan varian sosiologis yang populer disebut ‘KrisMuha’ (Kristen Muhammadiyah).
Buku ini secara empiris membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu menjadi ruang aman bagi komunitas non-Muslim tanpa harus melakukan sinkretisme ataupun asimilisasi paksa. Para siswa Kristen tetap mendapatkan hak pendidikan agama sesuai keyakinan mereka sendiri, sejalan dengan mandat Undang-Undang Sistem Pendidikan nasional Indonesia.Identitas teologis masing-masing pihak tetap terjaga rapat, namun kolaborasi sosial kemanusiaan mereka berjalan lekat.
Sementara itu, dalam buku kedua, ‘Pluralisme Positif’, yang ditulis bersama Azaki Khoirudin, Mu’ti menawarkan sebuah reorientasi konseptual. Muhammadiyah tidak sekadar’membiarkan’ perbedaan (toleransi pasif), melainkan aktif membangun infrastruktur sosial-pendidikan yang merangkul semua golongan demi kemajuan bersama (pluralisme aktif).
Benang Merah Historis
Menariknya, ada momen emosional dan historis yang terekam dalam peristiwa diplomasi buku ini di Inggris. Direktur OCIS, Dr. Farhan Nizami, menyambut hangat saat melihat lembar kata pengantar dalam buku Kristen Muhammadiyah. Lembaran tersebut ditulis oleh almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra, tokoh intelektual Muslim Indonesia legendaris yang juga merupakan mantan Fellow Akademis di OCIS (1994-1995).
Azyumardi Azra juga merupakan anggota dewan penyunting Journal of Islamic Studies terbitan Oxford University Press. Pertemuan garis sejarah ini menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan Abdul Mu’ti adalah kelanjutan dari estafet diplomasi intelektual yang telah dirintis para pemikir bangsa.
Secara global, fenomena koeksistensi unik di Indonesia ini sebenarnya telah memantik perhatian para peneliti internasional. Masuknya pemikiran Mu’ti ke Oxford menegaskan relevansi riset-riset terdalam mengenai Islam Indonesia. Contohnya, sosiolog ternama Robert W. Hefner dalam studinya bertajuk ‘Making Modern Muslims: The Prospects for Islamic Democracy in Indonesia” (2009) menyatakan bahwa organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, memiliki peran krusial dalam meletakan fondasi masyarakat sipil yang demokratis dan inklusif. Hefner menilai pola pendidikan Islam di Indonesia berhasil memadukan nilai keagamaan yang kokoh dengan kesadaran penuh terhadap realitas pluralitas bangsa.
Lebih spesifik lagi, riset kolega Oxford dari Universitas Birmingham, Stefanus Hendrianto (2020) dalam jurnal akademik mengenai hukum dan agama di Asia Tenggara, mencatat bahwa model akomodasi pendidikan berbasis agama di wilayah timur Indonesia memberikan pelajaran penting bagi Dunia Barat. Hendrianto berpendapat bahwa institusi pendidikan berbasis agama di Indonesia seringkali berfungsi sebagai jembatan sipil di daerah pasca-konflik atau daerah minoritas. Menurutnya, ini sebuah pencapaian yang jarang ditemukan dalam Diskursus Sekularisme Barat yang cenderung memisahkan agama dari ruang publik pendidikan.
Di tengah lanskap global yang sering kali melihat dunia Islam melalui lensa stereotip konflik, ketegangan geopolitik, atau radikalisme, Indonesia memamerkan alternatif yang menyegarkan. Di Indonesia, Islam tidak semata hadir sebagai identitas, tetapi sebagai kekuatan kultural yang mampu merawat perbedaan tanpa kehilangan akar keyakinan.
Diplomasi buku ala Abdul Mu’ti membuktikan dua poin strategis. Pertama, ekspor praktik baik. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi konsumen pasif dari teori-teori Barat tentang multikulturalisme, melainkan bertransformasi menjadi eksportir model toleransi praktis di ranah akar rumput.
Kedua, soft power yang autentik. Pendidikan dan manajemen keberagaman adalah wajah terbaik dari soft powerIndonesia. Dunia internasional – khususnya ekosistem ilmiah barat, memerlukan dokumentasi tentangan bagaimana mayoritas muslim di Indonesia mampu mengelola perbedaan secara dewasa.
Kini, dua buku tersebut telah berdiri tegak di rak perpustakaan Marston Road, siap dipinjam, dibaca, dan dibedah oleh para peneliti, mahasiswa, serta pembuat kebijakan dari berbagai belahan dunia. Dari rak itulah, pengalaman Indonesia berpeluang memasuki percakapan yang jauh lebih luas: tentang agama, pendidikan, dan cara sebuah masyarakat merawat keberagaman.
Langkah akademis sekaligus politis dari Abdul Mu’ti ini mengingatkan kita semua bahwa diplomasi terbaik tidak selalu diteriakan di mimbar-mibar politik yang bising. Terkadang, ia bekerja dalam senyap, berbisik secara elegan melalui lembar demi lembar halaman buku yang dibaca di sudut perpustakaan, sambil perlahan merestrukturisasi cara dunia memandang peradaban Islam Indonesia.
News
OJK Tutup 15 Bank per September 2026, Ini Daftarnya
Monitorday.com – Sebanyak 15 bank telah ditutup sepanjang 2026. Hingga 25 September, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mencabut izin usaha 15 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) di berbagai daerah.
Terbaru, OJK mencabut izin usaha PT BPRS Musyarakah Ummat Indonesia di Tangerang, Banten. Pencabutan berlaku berdasarkan Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-72/D.03/2026 tertanggal 25 September 2026.
Bank yang beralamat di Jalan KH Hasyim Ashari No. 8, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, tersebut kini menghentikan seluruh kegiatan operasionalnya dan menutup kantor untuk umum.
Pencabutan izin juga terjadi secara bertahap sejak awal tahun. Pada Januari, OJK mencabut izin PT BPR Suliki Gunung Mas di Sumatra Barat pada 7 Januari dan PT BPR Prima Master Bank di Surabaya, Jawa Timur, pada 27 Januari.
Pada Februari, giliran Perumda BPR Bank Cirebon, Jawa Barat, yang izinnya dicabut pada 9 Februari, disusul PT BPR Kamadana di Kabupaten Bangli, Bali, pada 18 Februari.
Memasuki Maret, OJK mencabut izin PT BPR Koperindo Jaya di Jakarta Pusat pada 9 Maret dan PT BPR Pembangunan Nagari di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 31 Maret.
Pencabutan berlanjut pada April terhadap PT BPR Sungai Rumbai di Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat, efektif 7 April. Pada Juni, OJK mencabut izin PT BPR Ceper Permata Artha di Klaten, Jawa Tengah, efektif 25 Juni.
Pada Juli, tiga bank kembali ditutup. Ketiganya yakni PT BPR Dwicahaya Nusaperkasa di Batu, Jawa Timur, pada 3 Juli; PT BPR Mataram Mitra Manunggal di Yogyakarta pada 7 Juli; serta PT BPR Syariah Hasanah Mandiri di Depok, Jawa Barat, pada 16 Juli.
Selanjutnya, PT BPR Citra Bersada Abad di Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi, dicabut izinnya pada 19 Agustus.
Pada September, OJK telah mencabut izin tiga bank, yakni PT BPRS Gaido Indonesia di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 1 September; PT BPR Pasarraya Kuta di Bali pada 17 September; serta PT BPRS Musyarakah Ummat Indonesia pada 25 September.
Daftar 15 Bank yang Ditutup
- PT BPR Suliki Gunung Mas, Sumatra Barat — 7 Januari 2026
- PT BPR Prima Master Bank, Surabaya, Jawa Timur — 27 Januari 2026
- Perumda BPR Bank Cirebon, Jawa Barat — 9 Februari 2026
- PT BPR Kamadana, Bangli, Bali — 18 Februari 2026
- PT BPR Koperindo Jaya, Jakarta Pusat — 9 Maret 2026
- PT BPR Pembangunan Nagari, Agam, Sumatra Barat — 31 Maret 2026
- PT BPR Sungai Rumbai, Dharmasraya, Sumatra Barat — 7 April 2026
- PT BPR Ceper Permata Artha, Klaten, Jawa Tengah — 25 Juni 2026
- PT BPR Dwicahaya Nusaperkasa, Batu, Jawa Timur — 3 Juli 2026
- PT BPR Mataram Mitra Manunggal, Yogyakarta — 7 Juli 2026
- PT BPR Syariah Hasanah Mandiri, Depok, Jawa Barat — 16 Juli 2026
- PT BPR Citra Bersada Abad, Bekasi, Jawa Barat — 19 Agustus 2026
- PT BPRS Gaido Indonesia, Cianjur, Jawa Barat — 1 September 2026
- PT BPR Pasarraya Kuta, Bali — 17 September 2026
- PT BPRS Musyarakah Ummat Indonesia, Tangerang, Banten — 25 September 2026
OJK menyatakan setelah izin usaha dicabut, penyelesaian hak dan kewajiban masing-masing bank akan dilakukan oleh tim likuidasi yang dibentuk oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Direksi, dewan komisaris, dan pemegang saham bank yang izinnya telah dicabut juga dilarang melakukan tindakan hukum terkait aset dan kewajiban bank tanpa persetujuan tertulis dari LPS.
News
Diks Beri Penalti, Romeny Cetak Gol
Monitorday.com – Ada momen menarik di balik gol Ole Romeny saat Timnas Indonesia mengalahkan Singapura 2-0 pada matchday Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Romeny mencetak gol kedua Indonesia pada menit ke-73 melalui titik putih. Penalti diberikan setelah terjadi handball pemain Singapura di dalam kotak terlarang.
Menariknya, Kevin Diks sebenarnya telah disiapkan sebagai eksekutor penalti. Namun, bek Timnas Indonesia itu memilih memberikan kesempatan kepada Romeny yang bersiap meninggalkan lapangan.
Romeny tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Striker Fortuna Sittard itu melepaskan tembakan mendatar ke sisi kanan gawang yang gagal dijangkau kiper Singapura.
Gol itu membuat Indonesia unggul 2-0.
Semenit berselang, Romeny ditarik keluar dan digantikan Rayhan Hannan. Komentator pertandingan menyebut Diks sengaja memberikan kesempatan mengambil penalti kepada Romeny sebelum sang striker meninggalkan lapangan.
Indonesia membuka keunggulan pada menit ke-13 melalui Ragnar Oratmangoen. Ia menuntaskan umpan matang Luke Vickery untuk membawa Garuda unggul 1-0.
Situasi semakin menguntungkan Indonesia setelah Safuwan Baharudin menerima kartu merah pada menit ke-49. Bermain dengan 10 pemain, Singapura semakin kesulitan meredam tekanan Indonesia.
Keunggulan jumlah pemain membuat Indonesia lebih dominan dan menciptakan sejumlah peluang. Namun, beberapa kesempatan gagal dikonversi menjadi gol hingga pertandingan berakhir 2-0.
Kemenangan ini menjadi modal Indonesia untuk melanjutkan perjuangan di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026.
Indonesia kini mengoleksi tiga poin dan menempati posisi kedua klasemen, tertinggal selisih gol dari Malaysia yang berada di puncak dengan jumlah poin sama.
Malaysia sebelumnya menang 3-0 atas Bangladesh di venue yang sama.
Laga berikutnya menjadi lebih krusial. Indonesia akan menghadapi Malaysia pada Senin (28/9/2026).
News
Menkomdigi Dorong Microsoft Kembangkan AI di Indonesia
Monitorday.com – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendorong Microsoft memperluas investasi jangka panjang di Indonesia, khususnya di sektor cloud, kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, dan pengembangan ekosistem digital.
Hal itu disampaikan Meutya saat bertemu President Microsoft Global Affairs Lisa Monaco di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan kolaborasi pemerintah Indonesia dan Microsoft di bidang teknologi.
Meutya mengatakan kerja sama tersebut perlu memberikan dampak lebih besar bagi kapasitas teknologi nasional, antara lain melalui transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan talenta, serta peningkatan kemampuan pelaku industri digital Indonesia.
“Tujuan kami bukan hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki keterampilan digital, tetapi juga mengembangkan lebih banyak pengembang, inovator, insinyur, dan pemimpin digital Indonesia,” kata Meutya dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Menurut Meutya, kemitraan dengan perusahaan teknologi global harus membuka lebih banyak ruang bagi institusi, pelaku usaha, pengembang, dan perusahaan teknologi Indonesia untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Dalam pertemuan tersebut, Meutya juga memaparkan langkah pemerintah menyiapkan tata kelola AI nasional melalui rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan dan Etika AI.
Regulasi tersebut diarahkan untuk memberikan kepastian bagi pengembang sekaligus memastikan teknologi AI dikembangkan secara bertanggung jawab.
“Kami ingin memastikan bahwa regulasi tidak menghambat inovasi, tetapi justru memberikan perlindungan dan kepastian yang tepat agar AI dapat berkembang secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Meutya turut membahas pelindungan anak di ruang digital serta implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
Ia mendorong Microsoft memperkuat penerapan prinsip keamanan sejak tahap perancangan (security by design) dan memastikan pengembangan teknologinya tetap mengedepankan prinsip tanggung jawab.
Meutya juga menyoroti komitmen investasi Microsoft senilai US$1,7 miliar atau sekitar Rp27 triliun di Indonesia. Menurutnya, investasi tersebut perlu menghasilkan manfaat jangka panjang bagi peningkatan kapasitas teknologi nasional.
“Kami apresiasi komitmen investasi Microsoft sebesar US$1,7 miliar di Indonesia, khususnya dalam infrastruktur cloud dan AI, serta kontribusinya dalam memperkuat ekosistem digital Indonesia,” kata Meutya.
Ia berharap investasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi turut mendorong transfer pengetahuan, pengembangan talenta, dan peningkatan kemampuan industri digital dalam negeri.
Meutya juga ingin Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai pasar oleh perusahaan teknologi global, tetapi berkembang menjadi pusat infrastruktur dan inovasi digital di kawasan.
“Kami berharap Indonesia dapat semakin menjadi bukan hanya pasar penting bagi Microsoft, tetapi juga pusat strategis infrastruktur digital dan inovasi di kawasan,” ungkapnya.
Menurut Meutya, ekonomi digital membutuhkan infrastruktur yang tangguh dan inklusif agar mampu menopang kebutuhan masyarakat sekaligus pertumbuhan industri.
Pemerintah berharap investasi dan kolaborasi dengan Microsoft ikut memperkuat kapabilitas serta daya saing digital nasional sebagai bagian dari agenda menuju Indonesia Emas 2045.
“Kami melihat Microsoft sebagai mitra penting dalam memperkuat kapabilitas dan daya saing digital Indonesia. Kami berharap Microsoft terus memperluas investasi dan komitmen jangka panjangnya di Indonesia,” tutup Meutya.
News
Indonesia Teken Konvensi PBB Terkait Kejahatan Siber
Monitorday.com – Indonesia resmi menandatangani Konvensi PBB tentang Kejahatan Siber di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, Kamis (24/9/2026) waktu setempat.
Menteri Luar Negeri Sugiono menandatangani konvensi tersebut atas nama Pemerintah Indonesia. Konvensi ini menjadi instrumen global pertama di bawah kerangka PBB yang mengatur upaya pencegahan dan pemberantasan kejahatan siber sekaligus memperkuat kerja sama internasional dalam menangani kejahatan siber lintas negara.
“Bagi Indonesia, Konvensi ini penting untuk memperkuat upaya pencegahan dan kriminalisasi tindak pidana siber di tingkat nasional, sekaligus menjadi dasar bagi penegak hukum RI dalam memperkuat kerja sama internasional untuk memerangi kejahatan siber, termasuk penipuan dan perjudian daring, serta pornografi anak,” kata Sugiono dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI, Jumat.
Dengan penandatanganan tersebut, Indonesia bergabung dengan 90 pihak yang telah menandatangani Konvensi Siber. Dari jumlah tersebut, tiga pihak telah meratifikasinya.
Sugiono mengatakan Indonesia telah terlibat aktif dalam proses perundingan konvensi sejak pembentukan Komite Ad Hoc pada 2019 hingga konvensi tersebut diadopsi pada 24 Desember 2024.
Indonesia berperan dalam proses tersebut sebagai negosiator maupun rapporteur melalui Perwakilan RI di Wina, Austria.
Setelah penandatanganan, pemerintah akan mempersiapkan proses ratifikasi serta langkah yang diperlukan agar ketentuan konvensi dapat diterapkan dalam kerangka hukum nasional.
Konvensi Siber akan mulai berlaku pada hari ke-90 setelah instrumen ratifikasi, penerimaan, persetujuan, atau aksesi ke-40 disimpan.
Penandatanganan konvensi menjadi bagian dari agenda Indonesia dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB 2026. Sugiono hadir sebagai kepala delegasi Indonesia dan telah berada di New York sejak Senin (21/9) waktu setempat untuk mengikuti berbagai pertemuan tingkat tinggi.
Sugiono dijadwalkan menyampaikan pernyataan nasional Indonesia dalam sesi Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB pada Sabtu malam (26/9) waktu setempat.
Langkah Indonesia menandatangani Konvensi Siber menandai komitmen Jakarta untuk memperkuat penanganan kejahatan siber di dalam negeri sekaligus memperluas kerja sama penegakan hukum dengan negara lain.
News
Mentan Amran Dorong Anak Muda Jadi Motor Swasembada Pangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong mahasiswa dan generasi muda aktif berwirausaha serta melahirkan inovasi riset demi mempercepat tercapainya swasembada pangan Indonesia.
Monitorday.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong generasi muda mengambil peran lebih besar dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Menurutnya, sektor pertanian membutuhkan anak muda yang berkarakter, inovatif, berani berwirausaha, dan aktif menghasilkan riset.
“Keberlanjutan swasembada pangan Indonesia membutuhkan generasi muda yang berkarakter, inovatif, berani berwirausaha, serta mampu menciptakan terobosan baru di bidang pertanian,” kata Amran dalam Seminar Nasional Gebyar Ajang Tani Inspiratif (Gantari) 2026 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat.
Seminar tersebut mengangkat tema “Regenerasi Pemuda sebagai Penggerak Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia.”
Amran mengatakan mahasiswa tidak harus menjadikan pekerjaan sebagai pegawai sebagai satu-satunya tujuan setelah lulus. Menurutnya, pertanian membuka ruang bagi generasi muda untuk menjadi pengusaha, birokrat, akademisi, maupun inovator.
“Kalau mau sukses, jangan sia-siakan waktu sekarang. Mau jadi pengusaha, birokrat, akademisi, bisa. Yang penting karakter,” ujar Amran.
Ia menilai karakter menjadi fondasi penting dalam membangun keberhasilan. Kejujuran, disiplin, kemauan belajar, kerja keras, dan kegigihan disebut sebagai sikap yang perlu ditanamkan sejak bangku pendidikan.
“Kalau berkarakter, rajin, kerja keras, insya Allah sukses,” katanya.
Amran juga meminta mahasiswa tidak takut masuk ke bidang penelitian dan menciptakan inovasi baru. Menurutnya, peluang justru terbuka ketika generasi muda berani menggarap persoalan yang belum banyak disentuh dan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan.
Ia mencontohkan pengalaman penelitiannya di bidang pertanian yang membutuhkan waktu dan ketekunan. Karena itu, mahasiswa diminta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan dalam penelitian.
“Jangan mudah menyerah. Manusia itu harus punya mimpi besar. Kalau mau berhasil, big dream, kemudian bertindak dan persistent. Ujungnya sukses,” tegasnya.
Amran dalam kesempatan itu juga memaparkan perkembangan sektor pertanian nasional. Ia menyebut target swasembada pangan yang sebelumnya diproyeksikan membutuhkan waktu empat tahun dapat dicapai lebih cepat.
Menurut Amran, capaian tersebut diperkuat dengan sejumlah penghargaan internasional serta peningkatan kesejahteraan petani. Ia menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) telah mencapai 129, yang disebutnya sebagai level tertinggi dalam sejarah Indonesia.
Pemerintah, lanjut Amran, juga menyiapkan stok beras untuk menghadapi risiko iklim, termasuk El Nino dan kekeringan.
“Ini kehidupan harus dipersiapkan. Kita persiapkan satu tahun sebelumnya, dua tahun. Stok kita tertinggi selama Republik ini berdiri,” ujarnya.
Selain menjaga produksi dan cadangan pangan, pemerintah mendorong peningkatan ekspor produk pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Tidak Ada Sukses Tanpa Kolaborasi”
Amran menegaskan pembangunan pertanian tidak dapat ditopang pemerintah sendirian. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, petani, dan generasi muda dinilai penting untuk membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan.
“Tidak ada sukses tanpa kolaborasi,” katanya.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa memanfaatkan kampus sebagai ruang untuk membangun karakter, memperluas jejaring, melakukan penelitian, dan melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di tengah masyarakat.
