Ketika lomba bukan sekadar soal menang, tapi belajar berpikir seperti mesin dan berperilaku seperti manusia.
Di atas panggung megah Dome Theater Universitas Muhammadiyah Malang, suasana malam itu terasa berbeda. Tepuk tangan menggema ketika nama Nicholas Ardi Tirta disebut sebagai peraih medali emas Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA) 2025). Ia tersenyum lega, bukan semata karena kemenangan, tetapi karena satu hal sederhana: berhasil membuat mesin memahami perintahnya sendiri.
“Sengit dan jago-jago semua, tetapi kuncinya sesuatu enggak bisa diraih kalau enggak kerja keras,” katanya dengan nada tenang.
Bagi Nicholas, ikut olimpiade AI bukan sekadar lomba menulis kode, melainkan perjalanan menemukan cara baru dalam belajar—bukan dari buku, melainkan dari logika dan kesabaran. Dan di situlah letak “enaknya”: rasa puas saat ide berubah menjadi algoritma yang bekerja, saat baris-baris kode menjawab rasa ingin tahu manusia.
Lomba yang Bukan Sekadar Lomba
Ekshibisi kompetisi kecerdasan artifisial adalah ajang sosialisasi, atau juga persiapan kompetisi. Sebelum pada akhirnya bidang ini dilombakan dalam Olimpiade Sains Nasional. Belum ada konfirmasi kapan kecerdasan artifisaial akan menjadi bidang lomba sendiri. Namun hebatnya, meski belum resmi menjadi bidang lomba, pesertanya ternyata membludak. Hanya dalam waktu 2 minggu saja, ada sekira 1300an sekolah yang mendaftar.
Ajang ini menjadi wadah bagi siswa menyalurkan kreativitas dan logika, sekaligus sarana sosialisasi mata pelajaran baru Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang kini mulai diterapkan di sekolah menengah.
Selama tiga hari, 30 finalis dari berbagai provinsi beradu kemampuan dalam menciptakan solusi berbasis AI. Mereka datang dari latar belakang beragam—dari sekolah negeri di Surabaya hingga madrasah di Pekanbaru—namun disatukan oleh semangat yang sama: keingintahuan.
“Awalnya saya kira AI itu sulit, ternyata menyenangkan,” tutur Zafran Prayata Wiza, peraih medali emas dari MAN 2 Kota Pekanbaru, Riau. “Kita seperti bermain puzzle logika. Kalau potongan kodenya pas, hasilnya memuaskan sekali.”
Bagi mereka, kompetisi semacam ini bukan soal siapa paling jenius, tetapi siapa yang paling sabar mencari pola, mencoba ulang, dan tetap berpikir jernih ketika hasilnya belum sesuai harapan.
Belajar dari Proses, Bukan dari Nilai
Para peserta EKKA menjalani proses panjang: memahami persoalan, membangun algoritma. Mereka belajar berpikir sistematis, menggabungkan ilmu matematika, logika, dan bahasa pemrograman menjadi satu kesatuan solusi.
“Banyak peserta belajar secara otodidak,” ungkap Muhammad Muchlas Rowi, Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan. “Dan itu menunjukkan potensi besar. EKKA bukan hanya lomba, tapi ruang untuk menemukan cara baru belajar.”
Bagi Muchlas, olimpiade semacam ini melatih siswa berpikir komputasional—sebuah keterampilan penting di abad 21. Dengan berpikir komputasional, anak-anak belajar menyederhanakan masalah kompleks menjadi langkah-langkah logis yang bisa diselesaikan, baik oleh manusia maupun mesin.
Nilai itulah yang membuat kompetisi seperti EKKA terasa bermakna. Di balik angka dan logika, tersembunyi pelajaran hidup: bahwa kesalahan bukan akhir, melainkan bagian dari proses berpikir yang harus dilewati.
Belajar Empati di Era Mesin
Ironisnya, di tengah pembicaraan tentang teknologi yang kian “cerdas”, justru di sinilah nilai-nilai kemanusiaan tumbuh. Dalam EKKA, para siswa belajar untuk berpikir seperti mesin agar mereka dapat memahami cara manusia berpikir. Mereka harus menulis logika yang sempurna, tapi juga memahami kebutuhan pengguna—sebuah latihan empati yang tak terduga.
“Kita ingin AI dipahami bukan sebagai ancaman, tapi sebagai peluang,” ujar salah satu panitia nasional EKKA. “Anak-anak yang ikut lomba ini belajar berpikir rasional, tapi juga belajar beretika digital.”
AI, dalam konteks pendidikan, bukan tentang menggantikan guru atau manusia, melainkan tentang bagaimana manusia bisa tetap relevan dengan kemampuan berpikir, beradaptasi, dan berkolaborasi dengan mesin.
Menemukan Kesenangan dalam Logika
Setiap kompetisi pasti melahirkan juara. Namun bagi para finalis EKKA 2025, kemenangan sejati justru terjadi jauh sebelum nama mereka diumumkan. Ia hadir ketika baris kode pertama kali berhasil dijalankan, ketika mereka menemukan solusi setelah berjam-jam mencoba, atau ketika memahami bahwa failure hanyalah bagian dari eksplorasi.
Dari sinilah mereka belajar bahwa berpikir logis bisa seindah berimajinasi. Bahwa teknologi bukan dunia yang kaku, tapi ruang bermain bagi kreativitas. Dan bahwa belajar AI bukan hanya soal memprogram komputer, tapi juga memprogram diri sendiri: menjadi lebih sabar, lebih tekun, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
Di era digital ini, olimpiade dan eksibisi seperti EKKA 2025 bukan hanya ruang kompetisi, melainkan laboratorium masa depan pendidikan. Dari sini lahir generasi yang tak hanya mahir menulis kode, tapi juga memahami nilai di balik setiap perintah logika.
Bagi para siswa, “enaknya” ikut olimpiade bukan terletak pada medali, melainkan pada rasa puas saat mereka tahu: mereka telah belajar menjadi manusia yang berpikir seperti mesin—tanpa kehilangan hati sebagai manusia.
Tak heran bila para alumni olimpiade seringkali diincar oleh sekolah, perguruan tinggi, maupun industri. Sukses di olimpiade menjadi semacam jaminan masa depan.