Connect with us

News

Harumkan Indonesia, Virty Kiraina Rowi Sabet Medali Emas di Olimpiade Inovasi WICO Korea Selatan

Virty Kiraina bersama tim pelajar SMA Indonesia meraih medali emas di WICO 2026 Korea Selatan berkat inovasi GlucoStrip. Prestasi ini mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.

Umar Satiri

Published

on

Monitorday.com, SEOUL – Berawal dari keresahan terhadap tingginya angka konsumsi gula yang memicu ancaman diabetes, sekelompok pelajar SMA asal Indonesia sukses menciptakan sebuah terobosan medis inovatif di kancah internasional.

Lewat karya berjudul ‘GlucoStrip, Virty Kiraina Rowi bersama timnya berhasil merebut perhatian dunia dan memboyong medali Emas (Gold Award) pada ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) 2026 di Korea Selatan.

Prestasi gemilang di panggung dunia ini sukses diukir oleh remaja berbakat yang akrab disapa Kirei tersebut bersama rekan satu timnya: Indira Aulia Ramadhani, Maylaffathiya Alya Mumtaz, Rumaisha Nagib, dan Shaffaira Zahra Adityazka. Tim siswa SMA berprestasi ini berhasil menaklukkan kompetisi ilmiah internasional berkategori elite yang berlangsung pada 16-18 Juli 2026 kemarin.

Nilai kompetisi tahun ini pun terasa jauh lebih bergengsi karena diselaraskan langsung dengan pameran global Asia LOHAS yang berbasis konsep ramah lingkungan.

Panggung Inovator Muda Se-Dunia

WICO bukanlah kompetisi kaleng-kaleng. Diselenggarakan oleh Korea Uiversity Invention Association (KUIA) dan didukung oleh parlemen Korea Selatan, ajang tahunan ini menjadi barometer kreativitas pelajar di seluruh dunia. WICO menantang para inovator muda untuk mempresentasikan ide-ide segar, strategi baru, serta produk inovatif yang mampu menjawab tantangan global.

Pada gelaran tahun 2026 ini, persaingan terasa begitu ketat. Lantaran ratusan penemu muda dari puluhan negara datang membawa teknologi dan gagasan terbaik. Mereka diuji oleh dewan juri internasional yang terdiri dari para pakar, akademisi, dan praktisi industri global.

Integrasi antara kompetisi WICO dengan gerakan Asia LOHAS (Lifestyle of Health and Sustainability) memberikan warna pada standarisasi penilaian tahun ini. melalui parameter ESG (Environmental, Social, and Governance), tim juri tidak hanya mencari terobosan teknologi yang mutakhir ansich. Lebih dari itu, setiap hasil inovasi dituntut memiliki nilai guna yang peka terhadap aspek sosial, mendukung pola hidup sehat, serta aman bagi ekosistem masa depan bumi.

Kolaborasi Ide Segar

Di tengah kepungan inovasi hebat dari berbagai negara, karya kesehatan yang diusung oleh Kirei bersama timnya mampu memikat hati para juri. Mereka membawa proyek inovatif berjudul “GlucoStrip: A Novel Oral Film Approach for Sugar Intake Regulation” (Sebuah pendekatan strip oral baru untuk mengatur asupan gula).

Kolaborasi ide segar, penguasaan materi yang matang saat sesi presentasi, serta solusi aplikatif terhadap masalah kesehatan global berhasil memenuhi standar tinggi kriteria penilaian WICO untuk kategori Best Presentation, Outstanding Creativity, and Innovation, sekaligus memenuhi poin-poin penting ESG.

Keberhasilan Kirei dan rekan-rekan timnya meraih Gold Award menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia memiliki daya saing yang sejajar—bahkan unggul—di kancah internasional sejak usia sekolah. Di usia remaja, mereka telah menunjukkan bahwa kreativitas yang diasah dengan ketekunan mampu mendobrak batas dan mengharumkan nama bangsa di panggung dunia.

Prestasi dari Seoul ini diharapkan mampu menjadi pemantik api semangat bagi pelajar-pelajar lain di tanah air. Bahwa dari tangan anak muda, inovasi yang ramah kesehatan dan berkelanjutan bisa lahir untuk memberikan dampak bagi dunia. Selamat untuk Kirei, Indira, Maylaffathiya, Rumaisha, dan Shaffaira! Indonesia bangga.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Dukung Kopdes Merah Putih, Pemerintah Kucurkan Rp240 triliun

Pemerintah mengalokasikan Rp240 triliun untuk Kopdes Merah Putih, memastikan pembiayaan serta operasional awal. Program ini bertujuan memperkuat ekonomi desa melalui koperasi modern.

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah memastikan pendanaan Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih senilai Rp240 triliun telah siap digelontorkan. Kepastian ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius menjadikan koperasi sebagai motor baru penggerak ekonomi desa sekaligus memperkuat distribusi barang bersubsidi di seluruh Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, dana sebesar Rp240 triliun akan disalurkan melalui skema pembiayaan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) selama enam tahun. Namun, pemerintah akan mengambil alih seluruh kewajiban pembayaran pokok maupun bunga pinjaman tersebut.

“Rp240 triliun selama enam tahun akan berasal dari pinjaman Himbara, tetapi pemerintah yang akan mencicilnya,” kata Purbaya di Yogyakarta, Kamis (17/7/2026).

Menurut Purbaya, pemerintah memperkirakan kebutuhan pembayaran cicilan mencapai sekitar Rp40 triliun setiap tahun. Besaran tersebut akan disesuaikan dengan jumlah koperasi yang telah beroperasi secara efektif.

Ia menegaskan, persoalan pendanaan kini bukan lagi tantangan utama. Fokus pemerintah beralih pada keberhasilan implementasi program agar berjalan tertib, transparan, dan bebas dari penyimpangan anggaran.

“Pendanaannya sudah tidak menjadi isu lagi. Yang paling penting sekarang adalah pelaksanaannya berjalan rapi, bersih, dan kebocoran anggaran bisa ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.

Tak hanya menanggung cicilan pinjaman, pemerintah juga akan membiayai kebutuhan operasional koperasi pada masa awal berdiri. Dukungan tersebut mencakup pelatihan pengelola, biaya operasional, hingga pembayaran gaji pegawai selama satu hingga dua tahun pertama.

Skema ini dirancang agar koperasi memiliki ruang untuk membangun usaha yang sehat sebelum mampu membiayai operasionalnya secara mandiri.

Program Kopdes Merah Putih merupakan salah satu agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ekonomi desa, memangkas rantai distribusi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan koperasi modern.

Pemerintah juga menyiapkan fondasi bisnis yang dinilai mampu menjaga keberlanjutan koperasi. Salah satunya dengan mengarahkan penyaluran seluruh barang bersubsidi melalui jaringan Kopdes Merah Putih.

Kebijakan tersebut diproyeksikan menciptakan sumber pendapatan yang stabil bagi koperasi sekaligus memperkuat perannya sebagai pusat distribusi kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

“Kalau seluruh barang bersubsidi disalurkan melalui Kopdes Merah Putih, seharusnya koperasi sudah memiliki peluang keuntungan. Yang penting tata kelolanya baik dan tidak terjadi korupsi,” kata Purbaya.

Di tengah besarnya nilai investasi negara, pemerintah memastikan pengawasan akan dilakukan secara ketat. Langkah ini menyusul munculnya berbagai sorotan terkait potensi pemborosan anggaran, termasuk dugaan markup dalam pengadaan kendaraan operasional koperasi.

Meski program masih berada pada tahap implementasi dan belum memasuki proses audit khusus, pemerintah memastikan setiap penggunaan anggaran akan diawasi melalui pemeriksaan acak maupun audit mendalam guna menjaga akuntabilitas.

“Pengawasan dilakukan bukan untuk menghambat pelaksanaan, tetapi agar penggunaan anggaran lebih tertib, efisien, dan akuntabel,” ujar Purbaya.

Sebelumnya, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menyatakan telah mulai melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap pembangunan Kopdes Merah Putih sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk meminimalkan potensi penyimpangan anggaran sekaligus memastikan program berjalan sesuai tujuan.

Dengan dukungan pendanaan mencapai Rp240 triliun, jaminan pembiayaan dari pemerintah, serta sistem pengawasan yang diperketat, Kopdes Merah Putih diproyeksikan menjadi pusat aktivitas ekonomi desa yang modern, profesional, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi instrumen baru dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari akar rumput.

Continue Reading

News

Motor Listrik Nasional Segera Meluncur, Prabowo: Era Kendaraan Karya Anak Bangsa Dimulai

Presiden Prabowo Subianto memastikan peluncuran motor listrik nasional dalam beberapa minggu. Ini adalah langkah awal untuk mewujudkan kendaraan buatan anak bangsa dan mendukung transisi energi.

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden RI Prabowo Subianto memastikan Indonesia akan segera memasuki babak baru industri otomotif nasional. Dalam beberapa pekan mendatang, pemerintah akan meluncurkan motor listrik nasional sebagai tonggak lahirnya kendaraan buatan anak bangsa sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.

Komitmen tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya TNI dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

“Sebentar lagi kita sudah punya motor nasional. Saya akan launching beberapa minggu ini motor listrik nasional,” ujar Prabowo dalam sambutannya yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Presiden menegaskan, motor listrik produksi dalam negeri diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebangkitan industri nasional, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu sasaran utamanya adalah para petani yang membutuhkan moda transportasi dengan biaya operasional lebih hemat dan efisien.

Tak berhenti pada kendaraan roda dua, Prabowo juga mengungkapkan pemerintah tengah mempersiapkan mobil nasional hasil karya putra-putri Indonesia. Menurutnya, kemampuan sumber daya manusia dan teknologi yang dimiliki bangsa sudah cukup untuk melahirkan industri otomotif nasional yang mampu bersaing di tingkat global.

“Kita akan punya motor buatan anak-anak Indonesia. Kita akan punya mobil buatan anak-anak Indonesia,” tegasnya.

Prabowo menilai pembangunan kendaraan nasional merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat sektor manufaktur, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Ia optimistis Indonesia memiliki seluruh modal utama, mulai dari kekayaan sumber daya alam, kualitas sumber daya manusia, hingga kapasitas teknologi, untuk membangun ekosistem industri otomotif yang semakin tangguh dan kompetitif.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari agenda pemerintah mempercepat penggunaan kendaraan listrik sebagai upaya mendukung transisi energi bersih dan menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Menutup pidatonya, Prabowo kembali menegaskan keyakinannya terhadap masa depan Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen bangsa berani memasang cita-cita besar demi mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dan makmur.

“Kita optimis. Kita canangkan cita-cita kita setinggi langit. Indonesia akan jadi negara makmur,” tandas Prabowo.

Continue Reading

News

Mendikdasmen: MPLS Ramah Dorong Penguatan Karakter Sejak Hari Pertama Sekolah

Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah terbukti efektif memperkuat karakter siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang positif. Berbagai testimoni menunjukkan antusiasme siswa dan dukungan orang tua terhadap program ini.

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Lagu Hari Baru dan Rukun Sama Teman dinyanyikan bersama mengawali keceriaan hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah, di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (17/7). Peserta didik baru tampak antusias berkenalan, bermain bersama teman-teman baru, serta mulai membiasakan hidup rukun dalam suasana yang aman, nyaman, dan menggembirakan. 

Momen gembira tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat meninjau pelaksanaan MPLS di SMA Muhammadiyah Sumbawa Besar, SD Negeri 1 Sumbawa, dan SD Negeri 14 Sumbawa. Mendikdasmen mengapresiasi pelaksanaan MPLS di sekolah-sekolah yang dikunjunginya. Menurutnya, berbagai program pembiasaan yang diterapkan selama MPLS menjadi langkah awal dalam membangun karakter peserta didik dan budaya sekolah yang aman serta nyaman.

Alhamdulillah saya mengunjungi beberapa sekolah. Saya melihat pelaksanaan MPLS di sekolah-sekolah ini sangat bagus, beberapa program yang menjadi kebijakan kami, seperti 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), kemudian keceriaan dengan menyanyi lagu Hari Baru, serta membangun sekolah budaya sekolah yang aman dan nyaman dengan membiasakan mereka hidup rukun,” ujar Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, di Kabupaten Sumbawa, NTB, Jumat (16/7).

Sementara itu, Kepala SD Negeri 14 Sumbawa, Asminingsih, mengatakan pelaksanaan MPLS di sekolahnya dirancang agar peserta didik merasa nyaman sejak hari pertama. Selama lima hari kegiatan, sekolah memperkenalkan 7KAIH serta membiasakan peserta didik hidup rukun bersama teman-temannya. Menurutnya, sebelum MPLS dimulai sekolah juga melaksanakan pra-MPLS dengan mengundang orang tua untuk menyosialisasikan rangkaian kegiatan sehingga proses adaptasi peserta didik dapat berlangsung lebih optimal.

“Dalam pelaksanaan MPLS ini kami mengutamakan ramah, nyaman dan menggembirakan buat anak-anak kami. Dalam pelaksanaannya selama lima hari ini kami memperkenalkan kepada anak-anak kami bagaimana konsep 7 pembiasaan 7KAIH, kemudian rukun sama teman dalam belajar,” ujar Asminingsih.

Hal tersebut juga didukung oleh guru kelas I SD Negeri 14 Sumbawa, Kristina. Ia mengatakan MPLS merupakan masa transisi penting bagi peserta didik yang baru memasuki jenjang sekolah dasar. Selama pelaksanaan MPLS, peserta didik dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan sehingga mereka dapat beradaptasi dengan baik. Baginya, konsep MPLS Ramah memberikan ruang bagi guru untuk lebih memahami karakter setiap peserta didik sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari perundungan.

“Tujuan MPLS yang pertama itu pengenalan sekolah baru untuk mereka, SD tempat mereka akan mengenyam pendidikan selama enam tahun. Di sekolah kami, mereka tidak dibebankan untuk langsung belajar, kami berkenalan, bermain dengan teman-temannya. Puji syukur selama MPLS ini reaksi mereka sangat positif, senang sekali karena bernyanyi, dan bermain,” jelas Kristina.

Senada dengan itu, keterlibatan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan MPLS Ramah. Sintia, wali murid kelas I SD Negeri 14 Sumbawa, mengaku komunikasi yang dibangun sekolah melalui penyampaian informasi dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) setiap hari membuat anaknya semakin antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. “Respons anak saya saat mengikuti MPLS alhamdulillah dia sangat senang. Setiap hari dia bertanya apa yang perlu disiapkan dan antusias mengisi LKPD untuk esok harinya,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu peserta didik baru SMA Muhammadiyah Sumbawa Besar, Defli, mengaku kegiatan MPLS membantunya mengenal lingkungan sekolah, bertemu teman-teman baru, serta merasakan suasana sekolah yang nyaman dan asri. “Kegiatan MPLS-nya menyenangkan, kami diperkenalkan dengan lingkungan sekolah, bertemu teman-teman baru. Lingkungan sekolah di sini juga nyaman dan asri,” ucap Defli

Sejalan dengan itu, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Sumbawa Besar, Jon Kennedi menegaskan bahwa sekolah telah menerapkan konsep MPLS bebas perundungan melalui berbagai aktivitas yang mendorong peserta didik saling mengenal dan berkolaborasi. Sekolah juga menerapkan berbagai permainan interaktif agar peserta didik baru dapat membangun kedekatan satu sama lain sejak awal memasuki lingkungan sekolah.

“Kami menerapkan sistem bahwa sistem MPLS di sekolah kami adalah bebas perundungan, dengan harapan supaya sekolah kami menjadi nyaman untuk peserta didik. Kami mengajarkan kepada mereka mulai dari sapa, kemudian berinteraksi dengan teman-teman, termasuk menerapkan sistem permainan supaya mereka mengenal satu sama lain,” jelas Jon.

Rangkaian MPLS Ramah di Sumbawa memperlihatkan bahwa pengenalan lingkungan sekolah bukan sekadar mengenalkan ruang kelas atau tata tertib, tetapi juga menjadi langkah awal membangun karakter, kebiasaan baik, serta budaya sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Sejalan dengan hal tersebut, Mendikdasmen menegaskan bahwa berbagai pembiasaan positif perlu terus diterapkan setelah MPLS berakhir.

“Yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat menerapkan kebiasaan baik yang kita sebut 7 KAIH dan juga membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Mulainya tentu dari awal ketika MPLS. Semoga ini bisa jadi awal yang baik buat kita,” tutup Mendikdasmen.

Continue Reading

News

Senja di Punggol, Fajar di Gawai

Pelajari perjalanan Singapura menjadi negara pintar. Dari Punggol hingga SingPass, temukan bagaimana teknologi mengubah kehidupan dan mengatasi berbagai tantangan.

Ma'ruf Mutaqin

Published

on

LUASNYA cuma 700 kilometer persegi. Lebih sedikit. Tidak punya minyak. Tidak punya tambang. Air minum saja dulu harus beli dari tetangga. Tapi lihatlah hari ini.

Tahun 2014, Lee Hsien Loong berdiri di podium. Perdana Menteri Singapura waktu itu melempar satu visi: Smart Nation. Negara Pintar. Bukan proyek mercusuar. Bukan gagasan di atas kertas. Ini soal cetak biru mengubah nasib.

Lalu, bagaimana rupa negara pintar itu hari ini? Datanglah ke Punggol.

Dulu Punggol hanya kawasan pinggiran. Kini ia menjelma jadi distrik masa depan.
Di sana, panel surya menangkap matahari. Jaringan listriknya pintar. Tahu kapan harus berhemat, tahu kapan harus menyalurkan daya.

Bahkan sampah pun tidak perlu truk bising yang memacetkan jalan. Semua disedot otomatis lewat pipa bawah tanah. Angin dan sensor IoT mengatur ritme kota.

Di jalanan Jurong, pemandangannya lain lagi. Bus melaju tenang. Taksi berbelok mulus. Tidak ada sopirnya. Semua otonom, dikendalikan kecerdasan buatan.
Di atas aspal, kamera dan platform sensor nasional mengawasi. Arus lalu lintas dihitung setiap detik. AI bekerja mengurai kemacetan sebelum klakson sempat berbunyi.

Uang tunai? Sudah hampir punah.
Masuklah ke hawker center—pusat jajanan terbuka legendaris itu. Aroma laksa dan nasi ayam mengepul.

Dulu, kocek baju para penjual penuh uang receh. Sekarang tidak lagi. Cukup tempel gawai. Scan kode QR. Lewat PayNow atau GrabPay, transaksi selesai dalam hitungan detik. Bahkan nenek penjual kopi pun sudah fasih berbisnis tanpa menyentuh lembaran kertas.

Di saku setiap warga, ada SingPass. Ini bukan sekadar kartu identitas digital. Ini kunci pembuka segalanya.

Mau lapor pajak? Pakai SingPass. Mau beli rumah subsidi pemerintah? Klik SingPass. Birokrasi dipangkas habis hingga ke akar-akarnya. Semua urusan negara selesai dari atas tempat tidur, sebelum kopi pagi Anda dingin.

Kesehatan pun tidak mau kalah. Sistem NEHR mencatat rekam medis warga secara terpadu. Sakit di ujung barat, berobat di ujung timur, datanya sama.

Pasien lansia dipantau lewat perangkat yang menempel di pergelangan tangan. Jika detak jantung aneh, sistem AI langsung mengirim sinyal ke rumah sakit terdekat. Telemedisin bukan lagi gaya hidup, tapi urat nadi penyelamat jiwa.

Apakah perjalanannya mulus? Tentu tidak. Ada harga yang harus dibayar.

Ketika semua data dikumpul, warga cemas. “Kami diawasi,” bisik mereka. Privasi jadi taruhan.
Pemerintahnya tidak tuli. Mereka langsung menggedok Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDPA) yang super ketat. Transparansi jadi harga mati.

Tantangan kedua: kaum tua. Teknologi berlari cepat, orang tua kerap tertatih. Singapura sadar, mereka tidak boleh meninggalkan siapa pun di belakang.

Maka lahirlah program Seniors Go Digital. Anak-anak muda turun ke jalan, mengajari para lansia cara memesan makanan dan membaca berita lewat aplikasi. Gawai disubsidi. Pelatihan digratiskan.

Lalu, ada hantu siber. Tahun 2018, data SingHealth dijebol peretas. Dunia gempar. Itu tamparan keras bagi negara yang mengklaim diri pintar.

Sejak itu, pertahanan siber dirombak total. Spesialis dilatih. Raksasa teknologi seperti Google dan Alibaba diajak bersekutu. Benteng digital dipertebal setiap hari.

Kini, hasilnya nyata. Indeks Kota Pintar IMD konsisten menempatkan Singapura di puncak dunia. Kota dari Seoul sampai San Francisco datang untuk meniru.

Namun, perubahan terbesar bukan pada mesin atau algoritmanya. Melainkan pada manusianya.

Ada pergeseran budaya yang profan. Anak prasekolah sudah belajar logika pemrograman (coding). Di sudut lain, seorang kakek asyik memesan jadwal senam di pusat komunitas lewat layar sentuh.

Teknologi telah menyatu dengan takdir sosial mereka. Singapura hari ini sedang menatap horizon baru. Komputasi kuantum mulai diuji. AI disuntikkan lebih dalam lagi ke jantung birokrasi.

Mereka membuktikan satu hal kepada dunia. Bahwa ukuran geografi tidak pernah membatasi mimpi.

Ini adalah kisah tentang ambisi yang bertemu dengan eksekusi. Cerita tentang sebuah pulau kecil yang berhasil melompat pagar zaman, karena mereka berani mendekap masa depan dengan kedua tangan terbuka.

Continue Reading

News

Anomali Si ‘Laba-Laba’

Julian Alvarez mempertahankan gaya hidup bersih, tanpa tato, rokok, atau alkohol. Prinsip ini, yang diwarisi dari ayahnya, berkontribusi besar pada performa fisiknya yang prima di lapangan.

Umar Satiri

Published

on

COBA Anda perhatikan lengan Lionel Messi. Penuh rajah. Lihat pula leher Rodrigo De Paul. Penuh guratan tinta. Hampir seluruh skuad tim nasional Argentina yang kini berlaga di Piala Dunia 2026 bertato. Kulit mereka adalah kanvas berjalan.

Kecuali satu orang: Julian Alvarez. Penyerang Atlético Madrid berjuluk El Araña—Si Laba-Laba—itu bersih. Kulitnya polos. Mulus. Seperti bayi yang baru lahir di Calchín, kota kecil di provinsi Córdoba, Argentina, tempat ia berasal.

Bukan hanya tato. Pemuda ini juga menjauhi dua hal yang akrab dengan dunia selebritas lapangan hijau: rokok dan alkohol.

Di tengah gemerlapnya panggung sepak bola Eropa, Álvarez memilih jalan yang sunyi dari stereotipe itu. Di era di mana ekspresi diri visual dan gaya hidup bebas menjadi norma baru bagi pesepak bola muda, komitmen Álvarez adalah sebuah kelangkaan yang mewah.

Suatu hari di kamp latihan Albiceleste, rekan-rekan setimnya baru ngeh. Mereka kaget. “Eh, kamu kok satu-satunya yang tidak punya tato?” tanya salah seorang pemain dengan nada heran.

Álvarez hanya tersenyum. Khas anak desa yang membumi.

Ia tidak sedang ingin tampil beda. Bukan pula pamer kesucian demi mendapat pujian. Alasan Álvarezsederhana saja. Sangat kekeluargaan.

“Waktu saya kecil, ayah saya selalu berpesan: jangan bertato, jangan merokok, jangan minum alkohol,” kenang Álvarez.

Ayahnya, Gustavo Álvarez, adalah mantan sopir truk dan buruh pabrik sereal. Orang kecil. Tapi prinsip hidupnya raksasa. Gustavo bersama sang istri, Mariana, mendidik tiga anak laki-lakinya dengan disiplin besi. Tubuh adalah kuil prestasi. Jangan dirusak oleh zat adiktif, jangan dikotori sebelum terbukti di lapangan. Aturan ini bukan bentuk pengekangan masa kecil, melainkan kompas moral agar ia tidak goyah.

Kini Álvarez sudah dewasa. Uangnya banyak. Gajinya miliaran rupiah per pekan. Ia sudah memenangi segalanya dalam sepak bola: Piala Dunia, Copa América, hingga Liga Champions. Secara teori, ia bebas melakukan apa saja. Ia bisa membeli apa pun yang ia mau. Ia punya kuasa penuh atas hidupnya.

Tapi kata-kata sang sopir truk dari Calchín itu rupanya lebih kuat dari godaan gemerlap Eropa. “Sekarang saya bebas menentukan pilihan. Tapi saya merasa tidak butuh semua itu,” kata Álvarez kalem.

Prinsip “bersih” ini bukan tanpa khasiat. Justru inilah bahan bakar magisnya di Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung saat ini. Ketika turnamen memasuki fase paling krusial dan menguras fisik, keputusan Álvarez untuk menjaga tubuhnya tetap murni berbuah manis. Di tengah jadwal super padat yang membuat banyak bintang dunia kelelahan, fisik Álvarez justru berada di puncak performa.

Lihatlah penampilannya. Fisiknya seperti tanpa batas. Paru-paru dan hati Álvarez bekerja sempurna tanpa beban residu alkohol maupun nikotin. Proses pemulihan fisiknya luar biasa cepat. Di saat pemain lain sudah ngos-ngosan di babak perpanjangan waktu, Álvarez masih memiliki energi luar biasa untuk memburu bola.

Bukti nyatanya tersaji nyata. Saat pertandingan melelahkan harus berlanjut hingga menit-menit akhir, Álvarez masih memiliki stamina untuk melepaskan tembakan melengkung spektakuler. Gol-gol pentingnya lahir dari kondisi fisik yang prima.

Kontras itu kembali terlihat usai pertandingan semifinal yang melelahkan melawan Inggris. Saat ruang ganti meledak dalam euforia perayaan kemenangan dramatis 2-1, beberapa pemain mulai menyalakan cerutu dan menenggak bir kemenangan. Pesta pora adalah hal lumrah di sepak bola.

Álvarez? Ia merayakannya dengan caranya sendiri: senyum lebar, pelukan hangat kepada rekan setim, lalu meraih segelas air putih hangat dan mate—teh tradisional Amerika Selatan. Baginya, euforia sejati ada pada pencapaian di lapangan, bukan pada apa yang dikonsumsi setelah peluit panjang berbunyi.

Di era modern yang serba FOMO—fear of missing out—di mana anak muda berlomba mencari validasi visual dan pengakuan sosial, Álvarez memilih jalan sunyi. Jalan disiplin utuh. Pendekatan pragmatis Álvarezdalam merawat tubuhnya ini mengingatkan publik pada sosok Cristiano Ronaldo yang juga konsisten menolak tato demi bisa rutin mendonorkan darah.

Ia membuktikan satu hal penting: untuk menaklukkan dunia, Anda tidak perlu ikut-ikutan larut dalam arus tren. Cukup jaga tubuhmu, hormati orang tuamu, dan biarkan kakimu yang bicara di lapangan hijau.

Kini, dengan tubuh “polos” tanpa tinta, Si Laba-Laba siap merajut sejarah baru di partai puncak melawan Spanyol. Gustavo tentu tersenyum bangga di tribun penonton. Aturan sederhana dari rumah kecil di Calchín itu kini menjadi teladan nyata bagi seluruh dunia.

Continue Reading

News

China Bidik Kepemimpinan Dunia dalam Tata Kelola AI

Melalui konferensi AI di Shanghai, China menawarkan teknologi terbuka, pelatihan, dan organisasi multilateral untuk memperkuat pengaruhnya dalam menentukan aturan kecerdasan artifisial global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– China semakin terbuka menunjukkan ambisinya menjadi pemimpin dalam pengembangan sekaligus tata kelola kecerdasan artifisial dunia. Dalam World Artificial Intelligence Conference atau WAIC 2026 di Shanghai, Presiden China Xi Jinping menawarkan visi kerja sama AI global yang lebih terbuka, inklusif, dan tidak didominasi oleh negara maju tertentu.

Xi menyatakan kecerdasan artifisial seharusnya menjadi teknologi yang dapat dinikmati seluruh umat manusia, bukan hanya dikuasai sekelompok negara dan perusahaan besar. Ia juga mengkritik pembatasan ekspor teknologi yang dilakukan dengan alasan keamanan nasional karena dinilai berpotensi memperlebar kesenjangan teknologi antara negara maju dan negara berkembang.

Untuk memperkuat tawaran tersebut, China mendorong pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO. Sebanyak 29 negara dilaporkan telah menandatangani kesepakatan pendirian organisasi antarpemerintah tersebut, yang akan berfokus pada kerja sama internasional, pengembangan kapasitas, dan penyusunan tata kelola AI global.

China juga menjanjikan sejumlah program konkret bagi negara berkembang. Program itu mencakup penyediaan 5.000 kesempatan pelatihan AI selama lima tahun, pemanfaatan teknologi AI untuk layanan meteorologi di 30 negara, serta pembentukan pusat-pusat kerja sama dengan ASEAN, BRICS, Uni Afrika, dan kelompok negara Global South lainnya.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa persaingan AI antara China dan Amerika Serikat tidak lagi terbatas pada model bahasa, semikonduktor, dan pusat data. Persaingan kini meluas ke diplomasi teknologi dan perebutan pengaruh dalam menentukan standar internasional. China berusaha menampilkan dirinya sebagai mitra yang menawarkan teknologi lebih terbuka, terutama melalui pengembangan model AI sumber terbuka.

WAIC 2026 sekaligus menjadi panggung bagi industri teknologi China untuk memperlihatkan kemajuannya. Huawei memperkenalkan infrastruktur komputasi AI Atlas 950 SuperPoD, sedangkan Moonshot AI menampilkan model terbuka Kimi K3 yang diklaim memiliki 2,8 triliun parameter. Konferensi yang berlangsung pada 17–20 Juli itu menghadirkan lebih dari 1.100 perusahaan, sekitar 3.000 produk pameran, dan lebih dari 300 peluncuran produk AI tingkat global.

Meski demikian, ambisi China menghadapi sejumlah hambatan. Pembatasan akses terhadap chip canggih masih dapat memperlambat pengembangan teknologi, sementara kekhawatiran mengenai transparansi, perlindungan data, sensor, dan penggunaan AI untuk pengawasan tetap menjadi tantangan bagi penerimaan internasional. Karena itu, keberhasilan China tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kemampuannya membangun kepercayaan global.

Konferensi di Shanghai menandai perubahan penting dalam peta persaingan AI dunia. China tidak lagi hanya ingin menjadi pengguna atau produsen teknologi, tetapi juga berupaya menjadi perancang institusi dan aturan internasional. Negara-negara berkembang pun berpotensi menjadi arena utama persaingan pengaruh antara model tata kelola AI yang ditawarkan Beijing dan pendekatan yang dipimpin Amerika Serikat serta sekutunya.

Continue Reading

News

Telepon Bergaya 90-an Kembali Diminati Orang Tua

Orang tua di berbagai negara mulai kembali mengadopsi perangkat komunikasi bergaya era 1990-an sebagai solusi untuk membatasi penggunaan ponsel pintar oleh anak-anak. Tren ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak penggunaan gawai berlebihan dan risiko dunia digital.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sebagian orang tua justru memilih pendekatan yang lebih sederhana untuk menjaga komunikasi dengan anak-anak. Mereka kembali menggunakan perangkat yang terinspirasi dari telepon rumah klasik era 1990-an sebagai alternatif pengganti ponsel pintar.

Salah satu perangkat yang tengah populer adalah “Tin Can”, telepon berbasis Wi-Fi yang dipasang di dinding dengan desain menyerupai telepon rumah yang dahulu banyak digunakan di dapur keluarga. Meski tampil klasik, perangkat ini memanfaatkan koneksi internet untuk melakukan panggilan suara tanpa dilengkapi berbagai fitur hiburan maupun media sosial.

Popularitas perangkat tersebut didorong oleh meningkatnya kekhawatiran orang tua terhadap tingginya waktu penggunaan layar oleh anak-anak. Selain itu, mereka juga ingin mengurangi risiko paparan konten negatif di internet, perundungan siber, hingga kecanduan media sosial yang semakin banyak dialami anak usia sekolah.

Tren ini mulai terlihat di sejumlah kawasan berteknologi maju di Amerika Serikat, seperti Livermore, California, dan Boulder, Colorado. Di wilayah tersebut, banyak keluarga memilih memberikan akses komunikasi kepada anak melalui perangkat sederhana ini dibandingkan membekali mereka dengan ponsel pintar.

Dengan menggunakan telepon berbasis Wi-Fi, anak-anak tetap dapat menghubungi orang tua maupun anggota keluarga ketika diperlukan. Namun, mereka tidak memiliki akses ke aplikasi media sosial, permainan daring, maupun berbagai fitur digital lain yang kerap menyita perhatian dan waktu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan penggunaan perangkat yang semakin canggih. Bagi sebagian orang tua, solusi yang lebih sederhana justru dinilai lebih efektif untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan komunikasi dan perlindungan anak dari dampak negatif dunia digital.

Munculnya kembali konsep telepon rumah dalam bentuk modern menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu berarti menambah fitur, melainkan juga menghadirkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan keluarga di era digital.

Continue Reading

News

Apple Gugat OpenAI Terkait Rahasia

Sengketa paten dan dugaan pencurian rahasia dagang kini mengakhiri kemitraan strategis kedua raksasa teknologi tersebut.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Hubungan kemitraan strategis antara Apple dan OpenAI yang sempat terjalin pada 2024 lalu kini resmi berujung di meja hijau. Apple secara resmi menggugat OpenAI terkait dugaan pelanggaran yang sangat serius. Langkah hukum ini diambil menyusul munculnya tuduhan kuat mengenai dugaan pencurian rahasia dagang perusahaan.

Tuduhan pencurian tersebut berpusat pada klaim bahwa OpenAI memanfaatkan platform ChatGPT secara tidak sah. Informasi rahasia dagang itu diduga kuat digunakan oleh OpenAI untuk kepentingan pengembangan produk mereka sendiri. Secara spesifik, mereka dituduh sedang membangun perangkat keras atau gadget AI secara mandiri berbekal data tersebut.

Imbas dari keretakan hubungan dan sengketa paten ini langsung memicu pergeseran strategi yang signifikan bagi Apple. Perusahaan raksasa teknologi tersebut dikabarkan mulai mengalihkan sebagian operasi fitur kecerdasan buatan mereka ke pihak lain. Fitur Apple Intelligence yang sebelumnya mengandalkan OpenAI kini dipastikan beralih untuk menggunakan model Gemini milik Google.

Continue Reading

News

Agama Dan Negara Terus Saling Memerlukan

Dewan Pertimbangan MUI menegaskan kembali pentingnya sinergi antara nilai keagamaan dan pilar kebangsaan demi keutuhan negara.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menyampaikan pesan penting bagi seluruh lapisan masyarakat. Pesan tersebut secara khusus mengingatkan tentang eratnya hubungan dalam konteks tata kehidupan berbangsa di Indonesia. Lembaga ini menegaskan bahwa agama dan negara sejatinya merupakan dua elemen penting yang terus saling melengkapi serta memerlukan.

Pernyataan strategis ini hadir untuk mempertegas posisi penting umat Islam di Tanah Air. Umat Muslim diharapkan terus mengambil peran aktif dalam mendukung terciptanya harmoni yang berkelanjutan di tengah masyarakat. Langkah tersebut diyakini akan memberikan dampak positif terhadap terjaganya stabilitas nasional secara menyeluruh dan komprehensif.

Dalam praktiknya, peran agama tidak bisa dilepaskan dari jalannya roda pemerintahan masa kini. Nilai-nilai agama diyakini akan terus menjadi fondasi moral yang sangat kokoh bagi berbagai arah kebijakan. Pedoman moral ini memastikan bahwa setiap keputusan birokrasi selalu berjalan selaras dengan etika dan kebaikan umat.

Di sisi lain, institusi negara juga memikul tanggung jawab yang tidak kalah krusial terhadap keberadaan agama. Negara secara konstitusi berkewajiban memberikan perlindungan penuh bagi kebebasan beribadah seluruh warganya tanpa terkecuali. Jaminan keamanan ini menjadi instrumen utama agar setiap masyarakat dapat menjalankan keyakinannya dengan aman dan tenang.

Sinergi yang kuat antara kedua elemen ini dipastikan akan menciptakan lingkungan sosial yang sangat kondusif. Pemerintah dan seluruh tokoh agama dituntut untuk selalu bergandengan tangan dalam menghadapi dinamika tantangan zaman. Pada akhirnya, kolaborasi erat ini akan membawa bangsa Indonesia melangkah menuju peradaban yang jauh lebih gemilang.

Continue Reading

News

Kemenhaj Ajukan Dana Rp4 Triliun

Persiapan operasional ibadah haji tahun mendatang mulai dikebut lewat pengajuan anggaran strategis demi jaminan kenyamanan jemaah.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Kementerian terkait saat ini telah secara resmi mengajukan anggaran uang muka sebesar Rp4 triliun.

Pengajuan kucuran dana bernilai fantastis tersebut diperuntukkan secara khusus guna mengamankan penyewaan tenda serta berbagai layanan krusial.

Berbagai fasilitas penting tersebut dipersiapkan sejak dini untuk menopang seluruh kebutuhan operasional pelaksanaan ibadah haji tahun 2027 mendatang.

Kebijakan percepatan penganggaran ini merupakan bentuk langkah antisipatif dan persiapan lebih awal yang dinilai sangat strategis.

Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk menjamin tingkat kenyamanan, kelengkapan fasilitas, hingga keamanan jemaah haji Indonesia secara maksimal.

Dengan adanya kepastian ketersediaan layanan sejak awal, berbagai potensi kendala dan masalah operasional di Tanah Suci diharapkan dapat diminimalisir.

Pada akhirnya, inisiatif perlindungan sejak dini ini sangat diharapkan mampu mengawal kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji secara keseluruhan.

Continue Reading
LakeyBanget31 menit ago

Mantap! Mariano Peralta Resmi Gabung Persib Bandung

LakeyBanget2 jam ago

Pelatih Spanyol Ogah Man-Marking Messi di Final Piala Dunia 2026, Ini Alasannya

LakeyBanget2 jam ago

Sederet Artis Bakal Meriahkan Final Piala Dunia 2026, Siapa Saja?

LakeyBanget3 jam ago

Juarai Japan Open 2026, Fajar/Fikri Komentar Begini

News9 jam ago

Harumkan Indonesia, Virty Kiraina Rowi Sabet Medali Emas di Olimpiade Inovasi WICO Korea Selatan

News12 jam ago

Dukung Kopdes Merah Putih, Pemerintah Kucurkan Rp240 triliun

News14 jam ago

Motor Listrik Nasional Segera Meluncur, Prabowo: Era Kendaraan Karya Anak Bangsa Dimulai

News14 jam ago

Mendikdasmen: MPLS Ramah Dorong Penguatan Karakter Sejak Hari Pertama Sekolah

News15 jam ago

Senja di Punggol, Fajar di Gawai

LakeyBanget16 jam ago

Takhta Raja Gol Berganti, Mbappe Salip Messi dan Ukir Sejarah Baru di Piala Dunia

News16 jam ago

Anomali Si ‘Laba-Laba’

LakeyBanget16 jam ago

Tutup Piala Dunia 2026, Inggris Sabet Peringkat Ketiga

News2 hari ago

China Bidik Kepemimpinan Dunia dalam Tata Kelola AI

LakeyBanget2 hari ago

Resmi Jadi Mitra FIFA untuk Liputan Piala Dunia 2026, IShowSpeed Terima Bayaran Fantastis

News2 hari ago

Telepon Bergaya 90-an Kembali Diminati Orang Tua

News2 hari ago

Apple Gugat OpenAI Terkait Rahasia

LakeyBanget2 hari ago

Jersey Final Piala Dunia 1958 Milik Pele Laku Rp87 Miliar, Jadi Memorabilia Termahal Sang Legenda

News2 hari ago

Agama Dan Negara Terus Saling Memerlukan

News2 hari ago

Kemenhaj Ajukan Dana Rp4 Triliun

News2 hari ago

Narasi Baru Untuk Lawan Islamofobia