LakeyBanget
Sederet Artis Bakal Meriahkan Final Piala Dunia 2026, Siapa Saja?
Piala Dunia 2026 akan hadirkan halftime show perdana dengan deretan artis papan atas dunia. Simak siapa saja yang akan memeriahkan panggung spektakuler tersebut.
Monitorday.com – Final Piala Dunia 2026 tak hanya akan menentukan siapa raja baru sepak bola dunia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen terbesar FIFA itu, partai puncak akan diselingi halftime show megah yang menghadirkan sederet musisi kelas dunia dalam sebuah panggung hiburan berskala global.
Pertunjukan yang akan digelar saat jeda babak pertama itu menjadi terobosan baru FIFA dalam menghadirkan pengalaman berbeda bagi miliaran penonton di seluruh dunia. Konsep ini pertama kali diumumkan pada 2024 dan akhirnya resmi diwujudkan pada final Piala Dunia 2026.
FIFA menggandeng organisasi Global Citizen sebagai mitra penyelenggara, sementara vokalis Coldplay, Chris Martin, dipercaya sebagai kurator artistik yang bertugas menyusun konsep pertunjukan sekaligus menentukan para penampil.
Deretan nama besar industri musik dipastikan meramaikan panggung bersejarah tersebut. Line-up resmi yang diumumkan FIFA meliputi Madonna, Shakira, BTS, Justin Bieber, Burna Boy, Gustavo Dudamel, serta PS22 Chorus yang akan tampil bersama Coldplay.
Menjelang laga final, atmosfer pertunjukan mulai terasa setelah Shakira dan Burna Boy membagikan cuplikan latihan melalui media sosial. Video tersebut memperlihatkan persiapan panggung megah dan koreografi yang tengah dimatangkan untuk penampilan mereka.
FIFA menyebut halftime show ini dirancang sebagai perpaduan antara sepak bola, musik, dan aksi sosial dalam satu panggung, sekaligus membuka babak baru bagi penyelenggaraan final Piala Dunia yang selama ini berlangsung tanpa hiburan khusus saat jeda pertandingan.
Meski daftar lagu belum diumumkan secara lengkap, sejumlah bocoran mulai bermunculan. BTS dijadwalkan membawakan lagu Permission to Dance, sementara Shakira dan Burna Boy diperkirakan akan menyanyikan lagu kolaborasi Dai Dai, mengacu pada cuplikan latihan yang telah mereka unggah.
Sementara itu, para penampil lainnya masih menyimpan rapat materi yang akan dibawakan pada malam puncak. Kerahasiaan tersebut semakin meningkatkan antusiasme publik terhadap halftime show perdana yang diprediksi menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.
Dengan memadukan pertandingan final dan konser para superstar dunia dalam satu panggung, FIFA berharap final Piala Dunia 2026 tak hanya dikenang karena perebutan trofi, tetapi juga sebagai momentum lahirnya tradisi baru yang menggabungkan olahraga, hiburan, dan pesan kemanusiaan di hadapan miliaran pasang mata.
LakeyBanget
Pelatih Spanyol Ogah Man-Marking Messi di Final Piala Dunia 2026, Ini Alasannya
Luis de la Fuente menjelaskan alasan di balik keputusan Spanyol untuk tidak menerapkan man-marking terhadap Lionel Messi di Final Piala Dunia 2026. Ia memilih kekuatan kolektif.
Monitorday.com – Ancaman Lionel Messi kembali menghantui Spanyol jelang final Piala Dunia 2026. Namun, pelatih La Furia Roja, Luis de la Fuente, memastikan timnya tidak akan menerapkan strategi man-marking terhadap kapten Argentina tersebut, meski memiliki pengalaman pahit saat menghadapi sang megabintang.
Spanyol akan menantang Argentina pada partai puncak Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB. Di tengah sorotan yang kembali mengarah kepada Messi, De la Fuente memilih mengandalkan kekuatan kolektif ketimbang memberikan tugas khusus kepada satu pemain untuk mengawal peraih delapan Ballon d’Or itu.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. De la Fuente pernah merasakan langsung bagaimana strategi pengawalan individu terhadap Messi justru berakhir menjadi mimpi buruk.
“Saya akan menceritakan kisah lucu tentang Messi. Saya bertemu Lionel Messi sewaktu saya melatih Sevilla di División de Honor dan kami bertanding melawan Barcelona di ajang Copa del Rey,” ujar De la Fuente, dikutip dari The Guardian, Minggu (19/7).
Kala itu, Sevilla sengaja menugaskan satu pemain untuk mengikuti pergerakan Messi sepanjang pertandingan. Strategi tersebut sempat berjalan sesuai rencana.
“Kami bertandang ke Barcelona. Mereka berbicara yang bagus-bagus soal bocah bernama Messi. Jadi kami menempatkan seorang pemain untuk melakukan man-marking padanya. Pada menit ke-70 skornya masih 0-0,” kenangnya.
Namun, semuanya berubah ketika pemain yang bertugas mengawal Messi menerima kartu kuning dan terpaksa ditarik keluar. Tanpa penjagaan ketat, Messi langsung menunjukkan kelasnya.
“Saat mereka memberi kartu kuning pada pemain yang mengawalnya, saya pun menarik pemain itu keluar. Dan dalam 15 menit, Messi mencetak empat gol,” ungkap De la Fuente sambil mengundang tawa awak media yang menghadiri konferensi pers.
Meski pengalaman tersebut masih membekas, pelatih berusia 65 tahun itu menegaskan Spanyol tidak akan mengulang strategi serupa di laga final.
“Apakah itu artinya kami akan melakukan man-marking pada Messi? Tidak. Apa itu artinya kami akan mengawasinya? Ya, tetapi dengan cara yang sama seperti mereka mengawasi para pemain kami,” tegasnya.
De la Fuente menilai menghadapi pemain sekelas Messi tidak cukup hanya dengan membebankan tanggung jawab kepada satu pemain. Menurutnya, organisasi permainan yang solid, disiplin, dan kerja sama antarlini menjadi kunci utama untuk meredam pengaruh sang kapten Argentina.
Pendekatan itu akan menjadi ujian besar bagi Spanyol. Pasalnya, Messi datang ke final dengan performa luar biasa setelah mencetak delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen, sekaligus menjadi otak permainan yang mengantar Argentina kembali menembus partai puncak.
Kini, tantangan terbesar La Furia Roja bukan sekadar menghentikan seorang Lionel Messi, melainkan memutus pengaruh pemain yang masih mampu mengubah jalannya pertandingan dalam hitungan menit. Final Piala Dunia 2026 pun dipastikan menjadi panggung duel antara disiplin kolektif Spanyol dan magis sang legenda hidup Argentina.
LakeyBanget
Juarai Japan Open 2026, Fajar/Fikri Komentar Begini
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sukses meraih gelar Japan Open 2026, mengalahkan ganda putra nomor satu dunia. Ini adalah trofi pertama mereka di tahun 2026.
Monitorday.com – Penantian panjang akhirnya terbayar. Ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, sukses mengakhiri puasa gelar dengan cara paling meyakinkan setelah menaklukkan pasangan nomor satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, pada final Japan Open 2026, Minggu (19/7).
Dalam duel berintensitas tinggi yang menyajikan pertarungan kelas elite, Fajar/Fikri tampil lebih disiplin dan efektif untuk mengamankan kemenangan dua gim langsung, 21-19 dan 21-17. Gelar di Tokyo menjadi trofi pertama mereka sepanjang 2026 sekaligus mengakhiri penantian hampir satu tahun sejak terakhir kali berjaya di China Open 2025.
“Pertama-tama alhamdulillah bersyukur diberikan kelancaran dan bisa menyabet gelar di Japan Open ini. Penantian hampir satu tahun setelah juara di China Open 2025. Semoga ini jadi awal dari kebangkitan kami untuk bisa meraih gelar-gelar berikutnya,” ujar Fajar.
Lebih dari sekadar prestasi di lapangan, kemenangan ini juga memiliki makna emosional bagi pasangan pelatnas PBSI tersebut. Fajar mempersembahkan gelar perdananya setelah menikah untuk sang istri.
“Gelar ini saya persembahkan secara khusus untuk istri saya karena ini gelar pertama setelah menikah,” kata Fajar.
Sementara itu, Fikri menyebut trofi di Jepang sebagai buah dari kesabaran yang selama ini ia jalani bersama orang-orang terdekat yang terus memberikan dukungan.
“Gelar ini untuk saya sendiri, buah dari kesabaran selama ini. Untuk keluarga dan orang-orang yang saya cintai dan seluruh suporter yang selalu mendukung dan mendoakan kami,” ujar Fikri.
Keberhasilan menumbangkan Kim/Seo tak diraih dengan mudah. Fajar mengakui pasangan Korea Selatan memiliki pertahanan luar biasa dan kemampuan menghidupkan kembali bola-bola sulit, sehingga memaksa mereka tampil nyaris tanpa cela.
“Kelebihan Kim/Seo adalah kemampuan mereka membalikkan bola-bola yang sebenarnya sudah menyulitkan, punya pertahanan yang sangat luar biasa. Tapi di pertemuan kali ini kami selalu bisa mewaspadai hal itu dan kami lebih disiplin menerapkan strategi,” tutur Fajar.
Fikri menambahkan, kunci kemenangan terletak pada kekompakan, komunikasi, serta keberhasilan menjalankan strategi yang telah disiapkan sejak awal pertandingan.
“Mereka bukan lawan yang mudah, mereka bermain sangat baik. Hanya tadi di lapangan kami bisa lebih solid, lebih dominan menerapkan strategi dengan tepat. Komunikasi dengan partner dan pelatih pun berjalan sangat baik, sehingga semua yang disiapkan bisa terlaksana dari awal sampai akhir,” kata Fikri.
Gelar Japan Open 2026 bukan hanya menambah koleksi prestasi Fajar/Fikri, tetapi juga mengirim pesan tegas bahwa pasangan andalan Indonesia itu telah kembali ke jalur juara. Kemenangan atas pasangan terbaik dunia menjadi modal penting untuk menatap turnamen-turnamen besar berikutnya dengan kepercayaan diri yang kembali menyala.
LakeyBanget
Takhta Raja Gol Berganti, Mbappe Salip Messi dan Ukir Sejarah Baru di Piala Dunia
Kylian Mbappe telah mencetak sejarah baru sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia, melampaui Lionel Messi. Rekor ini menandai pergantian takhta raja gol turnamen.
Monitorday.com – Kylian Mbappe resmi mengukir sejarah baru di Piala Dunia. Penyerang Timnas Prancis itu kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen setelah melewati rekor yang sebelumnya dipegang Lionel Messi.
Rekor tersebut tercipta usai Mbappe mencetak dua gol saat Prancis menghadapi Inggris pada laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami Stadium, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB.
Meski Prancis harus mengakui keunggulan Inggris dengan skor 4-6, dua gol Mbappe menjadi pencapaian bersejarah. Tambahan tersebut membuat koleksi golnya di putaran final Piala Dunia mencapai 22 gol, melewati torehan Lionel Messi yang sebelumnya memimpin daftar sepanjang masa dengan 21 gol.
Pencapaian itu menandai pergantian takhta dalam daftar raja gol Piala Dunia. Di usia 27 tahun, Mbappe juga masih memiliki peluang besar untuk memperlebar rekornya pada edisi-edisi mendatang.
Sementara itu, Lionel Messi harus turun ke posisi kedua setelah sebelumnya menjadi pemegang rekor. Di bawah keduanya, legenda Jerman Miroslav Klose menempati posisi ketiga dengan 16 gol, diikuti Ronaldo Nazario dari Brasil yang mengoleksi 15 gol.
Posisi berikutnya ditempati legenda Jerman Barat, Gerd Mueller, dan striker Inggris Harry Kane yang sama-sama mengemas 14 gol. Sementara legenda Prancis, Just Fontaine, berada di peringkat ketujuh dengan koleksi 13 gol. Hingga kini, Fontaine masih memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia.
Daftar Top Skorer Sepanjang Sejarah Piala Dunia
• Kylian Mbappe (Prancis) – 22 gol
• Lionel Messi (Argentina) – 21 gol
• Miroslav Klose (Jerman) – 16 gol
• Ronaldo Nazario (Brasil) – 15 gol
• Gerd Mueller (Jerman Barat) – 14 gol
• Harry Kane (Inggris) – 14 gol
• Just Fontaine (Prancis) – 13 gol
Perubahan di puncak daftar top skorer menjadi salah satu catatan paling bersejarah pada Piala Dunia 2026.
Di tengah persaingan memperebutkan gelar juara, turnamen empat tahunan ini juga melahirkan rekor baru yang menempatkan Kylian Mbappe sebagai raja gol sepanjang sejarah Piala Dunia, menggantikan Lionel Messi yang sebelumnya menduduki posisi tersebut.
LakeyBanget
Tutup Piala Dunia 2026, Inggris Sabet Peringkat Ketiga
Timnas Inggris sukses meraih peringkat ketiga Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Prancis 6-4 dalam laga seru. Bukayo Saka mencetak hattrick, sementara Kylian Mbappe memecahkan rekor gol individu.
Monitorday.com – Timnas Inggris menutup perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil manis setelah mengalahkan Prancis 6-4 pada laga perebutan peringkat ketiga di Miami Stadium, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB.
Pertandingan berlangsung spektakuler dengan total 10 gol yang tercipta sepanjang 90 menit. Inggris tampil dominan sejak awal laga dan sempat unggul empat gol tanpa balas di babak pertama. Prancis bangkit pada paruh kedua dan nyaris mengejar ketertinggalan, namun The Three Lions mampu menjaga keunggulan hingga peluit panjang berbunyi.
Bukayo Saka menjadi aktor utama kemenangan Inggris lewat torehan hattrick. Tiga gol lainnya dicetak Declan Rice, Ezri Konsa, dan Jude Bellingham. Sementara itu, empat gol Prancis lahir melalui dua gol Kylian Mbappe serta masing-masing satu gol dari Bradley Barcola dan Ousmane Dembele.
Inggris langsung menekan sejak menit awal. Laga baru berjalan dua menit ketika Declan Rice membawa timnya unggul melalui tembakan keras dari luar kotak penalti setelah merebut bola di lini tengah.
Keunggulan Inggris bertambah pada menit ke-18. Ezri Konsa sukses menanduk bola hasil sepak pojok Rice untuk mengubah skor menjadi 2-0.
Dominasi Inggris berlanjut pada menit ke-37 saat Bukayo Saka menuntaskan umpan Marcus Rashford menjadi gol ketiga. Menjelang turun minum, Saka kembali mencatatkan namanya di papan skor melalui sepakan akurat dari tepi kotak penalti yang menutup babak pertama dengan keunggulan telak 4-0.
Memasuki babak kedua, Prancis menunjukkan respons positif. Kylian Mbappe membuka peluang kebangkitan lewat gol pada menit ke-48, disusul Bradley Barcola yang memperkecil ketertinggalan menjadi 2-4 enam menit kemudian.
Mbappe kembali mencetak gol pada menit ke-66 untuk memangkas jarak menjadi 3-4 dan membuat pertandingan berlangsung semakin sengit.
Saat Prancis terus menekan demi mencari gol penyeimbang, Inggris justru memperoleh hadiah penalti pada menit ke-87. Bukayo Saka yang dipercaya sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna untuk mencetak hattrick sekaligus membawa Inggris menjauh 5-3.
Prancis belum menyerah. Ousmane Dembele memperkecil skor menjadi 4-5 pada menit ke-90+6 sehingga harapan menyamakan kedudukan kembali terbuka.
Namun, Inggris memastikan kemenangan hanya dua menit berselang. Jude Bellingham melakukan solo run sebelum menaklukkan kiper Prancis dengan penyelesaian tenang pada menit ke-90+8. Gol tersebut mengunci kemenangan 6-4 sekaligus memastikan Inggris finis di peringkat ketiga Piala Dunia 2026.
Di balik kekalahan Prancis, Kylian Mbappe tetap menorehkan pencapaian individu yang bersejarah. Dua gol yang dicetaknya membuat sang penyerang mengoleksi 22 gol sepanjang penampilannya di putaran final Piala Dunia. Catatan tersebut melewati rekor Lionel Messi yang sebelumnya mengemas 21 gol, sekaligus menjadikan Mbappe sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen.
Tambahan dua gol itu juga mengantarkan Mbappe ke puncak daftar top skor Piala Dunia 2026 dengan koleksi 10 gol dan tiga assist, mengungguli Lionel Messi yang sebelumnya memimpin lewat torehan delapan gol dan empat assist.
LakeyBanget
Resmi Jadi Mitra FIFA untuk Liputan Piala Dunia 2026, IShowSpeed Terima Bayaran Fantastis
IShowSpeed resmi menjadi mitra FIFA untuk Piala Dunia 2026, dengan bayaran fantastis USD25 juta. Ia akan siaran langsung setiap hari, menjangkau jutaan penonton, dan tampil di upacara penutupan.
Monitorday.com – YouTuber dan streamer ternama, IShowSpeed, dikabarkan menerima bayaran sebesar USD25 juta atau sekitar Rp406 miliar untuk menyiarkan langsung rangkaian Piala Dunia 2026. Nilai tersebut merupakan bagian dari kerja sama resmi antara FIFA, Fox Sports, dan YouTube.
Dalam kemitraan tersebut, pemilik nama lengkap Darren Jason Watkins Jr. itu dijadwalkan melakukan siaran langsung setiap hari selama berlangsungnya turnamen. Kehadirannya diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penonton, khususnya dari kalangan generasi muda yang aktif mengonsumsi konten digital.
Popularitas IShowSpeed terbukti dari tingginya jumlah penonton siaran langsungnya di YouTube. Rata-rata setiap tayangan disaksikan lebih dari 2 juta penonton. Bahkan, siaran pertandingan pembuka yang melibatkan Portugal disebut mencapai sekitar 9,2 juta penonton.
Selain bertugas sebagai streamer resmi, IShowSpeed juga dijadwalkan tampil dalam upacara penutupan Piala Dunia 2026. Ia disebut akan berbagi panggung dengan sejumlah nama besar dunia hiburan, seperti Tom Cruise, Robbie Williams, Jennifer Hudson, Nicole Scherzinger, dan Laura Pausini.
Di luar kiprahnya sebagai kreator konten, IShowSpeed juga dikenal berkat fenomena yang dijuluki “Speed Curse”. Istilah tersebut muncul karena beberapa tim yang secara terbuka didukungnya justru berakhir tersingkir dari kompetisi. Portugal menjadi salah satu tim yang kerap dikaitkan dengan fenomena tersebut.
Meski awalnya dianggap sekadar kebetulan, “Speed Curse” terus menjadi perbincangan di kalangan penggemar sepak bola dan berkembang menjadi salah satu fenomena unik yang melekat pada sosok IShowSpeed.
LakeyBanget
Jersey Final Piala Dunia 1958 Milik Pele Laku Rp87 Miliar, Jadi Memorabilia Termahal Sang Legenda
Jersey legendaris Pele dari final Piala Dunia 1958 terjual Rp87 miliar di lelang Sotheby’s, mencatat rekor sebagai memorabilia termahalnya. Kaus ini menjadi saksi bisu dua gol kemenangan Pele.
Monitorday.com – Jersey yang dikenakan legenda sepak bola Brasil, Pele, saat membawa negaranya menjuarai Piala Dunia 1958 terjual dalam lelang dengan harga fantastis. Kaus bersejarah tersebut laku seharga US$4,9 juta atau sekitar Rp87 miliar.
Rumah lelang Sotheby’s pada Kamis (16/7/2026) menyatakan bahwa penjualan itu menjadikan jersey tersebut sebagai memorabilia termahal yang pernah terkait dengan Pele.
Jersey bernomor punggung 10 itu dikenakan Pele ketika tampil di final Piala Dunia 1958 melawan tuan rumah Swedia di Stockholm. Saat itu, Pele yang baru berusia 17 tahun mencetak dua gol dan membawa Brasil menang 5-2 sekaligus meraih gelar juara dunia pertamanya.
Menurut Sotheby’s, proses lelang berlangsung ketat dengan 10 penawaran yang diajukan oleh lebih dari lima peserta. Hasil tersebut juga menempatkan jersey Pele sebagai kaus sepak bola termahal kedua yang pernah terjual melalui lelang.
Rekor penjualan tertinggi masih dipegang oleh jersey Diego Maradona yang dikenakan saat mencetak gol kontroversial “Tangan Tuhan” untuk Argentina dalam laga melawan Inggris di Piala Dunia 1986. Jersey tersebut terjual seharga US$9,3 juta pada 2022.
Pele, yang wafat pada 2022 dalam usia 82 tahun, hingga kini masih tercatat sebagai pemain termuda yang pernah mencetak gol di partai final Piala Dunia. Dua gol yang ia cetak pada final 1958 menjadi bagian penting dari sejarah sepak bola dunia.
Sotheby’s juga mengungkapkan bahwa jersey bersejarah tersebut sebelumnya pernah dilelang pada 2004 dengan harga 70.505 pound sterling atau sekitar US$105.600. Kenaikan nilainya dalam lebih dari dua dekade mencerminkan besarnya nilai historis dan daya tarik memorabilia milik salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa.
LakeyBanget
Google Cloud: Dua Faktor Ini Ngak Bakal Gantikan Kemampuan Manusia di Era AI, Apa Itu?
Moe Abdula dari Google Cloud mengidentifikasi empati dan adaptasi sebagai dua kemampuan inti manusia yang tak akan digantikan AI. Pelajari mengapa sifat-sifat ini krusial di tengah revolusi teknologi.
Monitorday.com – Vice President Customer Engineering Google Cloud Asia Pacific, Moe Abdula, menilai perkembangan kecerdasan artifisial (AI) tidak akan mampu menggantikan dua kemampuan mendasar yang dimiliki manusia, yakni empati serta kemampuan untuk terus beradaptasi dan menciptakan inovasi.
Menurut Moe, kedua keterampilan tersebut telah bertahan melewati berbagai gelombang perkembangan teknologi dan diyakini akan tetap menjadi nilai utama manusia di era AI.
“Saya pikir ada keterampilan manusia yang akan bertahan, dan mereka telah melewati semua pergeseran teknologi di masa lalu. Kemampuan kita untuk memiliki empati dan koneksi adalah hal yang sangat manusiawi,” kata Moe usai acara taklimat media Google Cloud di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan memahami emosi, merasakan kondisi orang lain, serta memberikan respons yang tepat dalam interaksi sosial merupakan aspek yang sulit ditiru oleh teknologi, termasuk AI.
Sebagai contoh, Moe menyoroti profesi kepolisian yang menuntut interaksi langsung dengan masyarakat dalam berbagai situasi. Menurutnya, kemampuan aparat dalam meredakan ketegangan, memahami kondisi seseorang, hingga membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat membutuhkan empati dan penalaran yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
“Keterampilan memahami bagaimana meredakan ketegangan, memahami kondisi, dan membantu seseorang memahami apa yang benar atau salah adalah hal yang sangat manusiawi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa karakteristik tersebut membuat sejumlah profesi yang mengandalkan hubungan antarmanusia, penilaian situasional, dan kecerdasan emosional akan lebih sulit tergantikan oleh AI.
Selain empati, Moe menyebut kemampuan manusia untuk terus belajar, beradaptasi, dan menemukan cara baru dalam menyelesaikan persoalan sebagai keunggulan lain yang membedakan manusia dari AI.
Menurutnya, AI bekerja berdasarkan data dan instruksi yang diberikan manusia sehingga kemampuannya bergantung pada informasi yang telah dipelajari. Sementara itu, manusia mampu melampaui pengetahuan yang ada dengan menciptakan pendekatan baru sesuai perkembangan zaman.
Untuk menggambarkan kemampuan tersebut, Moe mencontohkan perjalanan manusia dalam mengembangkan teknologi transportasi, mulai dari memanfaatkan hewan sebagai alat transportasi hingga menciptakan kendaraan modern.
Ia juga menyinggung perubahan dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Kemampuan berhitung manual yang dahulu menjadi tolok ukur kecerdasan, menurutnya, mengalami pergeseran setelah hadirnya kalkulator. Namun, manusia tidak berhenti pada penggunaan teknologi tersebut, melainkan memanfaatkannya untuk menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks.
“Manusia terus menemukan cara baru untuk bekerja dan memanfaatkan teknologi. Itu adalah keterampilan yang hanya dimiliki manusia,” kata Moe.
Menurutnya, kemampuan beradaptasi sekaligus memanfaatkan teknologi untuk menciptakan inovasi akan menjadi keterampilan yang semakin penting di tengah pesatnya perkembangan AI.
LakeyBanget
Tom Cruise-Jennifer Hudson Bakal Meriahkan Final Piala Dunia 2026
FIFA menyiapkan hiburan megah untuk final Piala Dunia 2026. Aktor Tom Cruise dan penyanyi Jennifer Hudson akan turut memeriahkan acara puncak turnamen sepak bola ini.
Monitorday.com – FIFA menyiapkan rangkaian hiburan berskala besar untuk memeriahkan final Piala Dunia FIFA 2026 yang akan berlangsung di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, pada 19 Juli. Sejumlah nama besar dari industri hiburan dunia, mulai dari aktor Tom Cruise hingga penyanyi Jennifer Hudson, dijadwalkan tampil dalam perhelatan puncak turnamen sepak bola terbesar tersebut.
Berdasarkan laporan The Hollywood Reporter pada Selasa (14/7), Tom Cruise akan menjadi bagian dari pertunjukan spesial yang disiapkan FIFA. Sementara itu, Jennifer Hudson dipercaya membawakan lagu kebangsaan Amerika Serikat sebelum pertandingan dimulai.
FIFA juga mengumumkan bahwa upacara penutupan yang digelar sebelum laga final akan dimeriahkan oleh penampilan Laura Pausini, Nicole Scherzinger, Robbie Williams, serta kreator konten YouTube IShowSpeed.
Tak hanya menyuguhkan penampilan para bintang, FIFA juga melibatkan para penonton sebagai bagian dari pertunjukan. Organisasi tersebut mengimbau para penggemar datang lebih awal agar dapat berpartisipasi dalam rangkaian acara di stadion.
“Upacara penutupan akan menutup perjalanan Piala Dunia FIFA 2026 melalui musik, budaya, dan sepak bola, sebelum pertandingan yang sangat dinantikan untuk menentukan juara turnamen bersejarah ini,” ujar Chief Operating Officer (COO) Piala Dunia FIFA 2026, Heimo Schirgi.
Final Piala Dunia FIFA 2026 disiapkan dengan skala hiburan yang disejajarkan dengan ajang bergengsi seperti Super Bowl dan Olimpiade. Beragam penampilan musik serta kemunculan selebritas dunia menjadi bagian dari konsep perayaan tersebut.
Sebelumnya, FIFA juga telah mengumumkan bahwa halftime show pertama dalam sejarah final Piala Dunia akan menghadirkan sejumlah bintang internasional, di antaranya Madonna, Shakira, BTS, dan Justin Bieber sebagai penampil utama.
Selain itu, Burna Boy, Gustavo Dudamel, dan PS22 Chorus akan bergabung bersama Coldplay dalam pertunjukan berdurasi 11 menit tersebut. Halftime show akan digelar oleh FIFA bekerja sama dengan Global Citizen sebagai perpaduan antara sepak bola, musik, dan aksi sosial.
Pertunjukan itu sekaligus menjadi bagian dari kampanye FIFA Global Citizen Education Fund yang menargetkan penggalangan dana sebesar 100 juta dolar AS untuk memperluas akses pendidikan dan sepak bola bagi anak-anak di berbagai negara. Salah satu sumber pendanaan berasal dari donasi sebesar 1 dolar AS untuk setiap tiket Piala Dunia FIFA 2026 yang terjual.
LakeyBanget
Resmi Jadi WNI, Luke Vickery Bidik Mimpi Besar Bersama Timnas Indonesia
Luke Vickery resmi jadi WNI, menambah daftar pemain naturalisasi Timnas Indonesia. Ia memiliki ambisi besar membawa Garuda ke Piala Dunia 2030.
Monitorday.com – Winger muda Luke Vickery resmi menyandang status Warga Negara Indonesia (WNI) setelah menjalani prosesi pengambilan sumpah kewarganegaraan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney, Australia, Kamis (16/7/2026). Naturalisasi pemain berusia 20 tahun itu menjadi bagian dari upaya memperkuat skuad Timnas Indonesia menuju target jangka panjang, termasuk Piala Dunia 2030.
Luke Vickery lahir di Kailua, Hawaii, Amerika Serikat, pada 25 Oktober 2005. Pemain dengan tinggi badan 183 sentimeter itu berposisi sebagai sayap kanan dan saat ini memperkuat klub kasta tertinggi Liga Australia, Macarthur FC.
Berdasarkan data Transfermarkt, Vickery bergabung dengan Macarthur FC pada September 2025 dan masih terikat kontrak hingga Juni 2028.
Pemain muda tersebut memiliki garis keturunan Indonesia dari pihak ibu. Neneknya, Hetty Nanda, lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 3 Desember 1937, sehingga memenuhi syarat untuk menjalani proses naturalisasi.
Vickery merupakan salah satu pemain yang masuk dalam rekomendasi pelatih Timnas Indonesia, John Herdman. Sebelum resmi menjadi WNI, ia juga telah mengikuti sesi latihan bersama skuad Garuda menjelang agenda FIFA Matchday melawan Oman dan Mozambik pada Juni lalu.
Meski telah resmi menjadi WNI, peluang Vickery untuk tampil bersama Timnas Indonesia dalam waktu dekat masih belum pasti. Menjelang Piala AFF 2026, Macarthur FC dikabarkan belum memberikan izin kepada pemainnya untuk bergabung dengan tim nasional.
Kendati demikian, Vickery menegaskan komitmennya untuk memberikan kontribusi bagi sepak bola Indonesia. Ia mengaku memiliki ambisi besar membantu Timnas Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2030.
“Saya bersama tim siap membawa Indonesia tampil di Piala Dunia 2030,” ujar Vickery usai prosesi pengambilan sumpah WNI yang turut dihadiri Menteri Hukum RI, Supratman Andi Agtas.
Dengan status barunya sebagai WNI, Luke Vickery kini menambah daftar pemain naturalisasi yang diproyeksikan memperkuat Timnas Indonesia. Kehadirannya diharapkan menambah pilihan di sektor sayap sekaligus meningkatkan daya saing skuad Garuda dalam menghadapi berbagai turnamen internasional mendatang.
LakeyBanget
Ketika Mental Juara Bicara Kalahkan Pragmatisme Three Lions
Argentina menunjukkan mental juara sejati dengan bangkit dan mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa keyakinan dan karakter lebih dari sekadar taktik.
Monitorday.com – Semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, Kamis (16/7) dini hari, menghadirkan sebuah pelajaran berharga tentang sepak bola. Pertandingan klasik antara Inggris dan Argentina tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknik atau taktik, tetapi juga oleh keberanian, mentalitas, dan keyakinan hingga peluit akhir berbunyi.
Dua filosofi yang bertolak belakang tersaji sepanjang laga. Inggris memilih jalan pragmatis demi mengamankan keunggulan, sementara Argentina menunjukkan karakter sebagai tim yang menolak menyerah dalam situasi apa pun.
Three Lions sempat berada di jalur menuju final setelah Anthony Gordon membawa Inggris unggul 1-0 pada menit ke-55. Gol itu lahir dari rangkaian serangan yang dibangun Harry Kane, diteruskan Declan Rice ke Morgan Rogers, sebelum umpan silang Rogers diselesaikan Gordon dengan sempurna.
Namun, sejak gol tersebut tercipta, arah pertandingan berubah drastis. Alih-alih mempertahankan intensitas serangan, Inggris justru memilih mundur dan menumpuk pemain di lini belakang. Tim asuhan Thomas Tuchel menyerahkan penguasaan permainan kepada Argentina selama hampir 40 menit terakhir.
Keputusan itu menjadi titik balik yang menentukan.
Saat Inggris semakin fokus bertahan, perhatian mereka terhadap Lionel Messi perlahan mengendur. Kesalahan kecil itu menjadi mahal.
Messi memang tidak mencetak gol, tetapi justru memperlihatkan kualitasnya sebagai pengatur permainan. Dua assist yang ia ciptakan menjadi pembeda dalam pertandingan, masing-masing diselesaikan Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez hanya lima menit sebelum waktu normal berakhir.
Selain dua assist, Messi juga menjadi pemain dengan jumlah umpan silang terbanyak dalam pertandingan, yakni tujuh crossing yang sebagian besar akurat.
Begitu ruang terbuka bagi sang kapten, lini tengah Argentina ikut hidup. Enzo Fernandez tampil dominan dengan mencatatkan 87 operan—terbanyak sepanjang laga—serta empat percobaan ke gawang, termasuk satu gol yang mengawali kebangkitan Albiceleste.
Fernandez bahkan mengambil alih peran Messi sebagai kreator peluang utama ketika perhatian pemain Inggris terpecah menghadapi gelombang serangan Argentina dari berbagai arah.
Pertandingan ini kembali membuktikan bahwa menghadapi tim sekelas Argentina, bertahan total terlalu dini merupakan perjudian yang sangat berisiko.
Padahal sebelum semifinal ini berlangsung, Argentina datang sebagai tim paling produktif di Piala Dunia 2026 dengan koleksi 17 gol dan nilai expected goals (xG) tertinggi, yakni 13,9. Statistik tersebut menunjukkan bahwa Albiceleste selalu mampu menciptakan peluang, bahkan ketika lawan memilih bermain dengan blok pertahanan rendah (low block).
Ironisnya, justru strategi itulah yang diadopsi Inggris setelah unggul.
Sepanjang babak pertama, Inggris sebenarnya mampu mengimbangi bahkan beberapa kali menguasai lapangan tengah dan kedua sisi permainan. Mereka tampil agresif sesuai rencana.
Hal itu sejalan dengan pernyataan asisten pelatih Anthony Barry saat jeda pertandingan yang mengatakan bahwa Inggris akan terus menjadi pihak yang mengambil inisiatif serangan dan tidak merasa inferior saat bermain di wilayah Argentina.
Sayangnya, ucapan itu hanya berlaku selama 45 menit pertama.
Memasuki babak kedua, Inggris berubah menjadi tim yang pasif. Mereka lebih sibuk menjaga keunggulan daripada mencari gol tambahan. Perubahan mentalitas inilah yang akhirnya membuka jalan bagi kebangkitan Argentina.
Selain duel taktik, semifinal ini juga diwarnai perang psikologis.
Lionel Scaloni seolah telah memulainya bahkan sebelum pertandingan dimulai dengan memainkan Giuliano Simeone sejak awal menggantikan Rodrigo De Paul.
Giuliano merupakan putra Diego Simeone, sosok yang dikenang publik Inggris karena perannya dalam insiden kartu merah David Beckham pada Piala Dunia 1998. Keputusan tersebut seakan menjadi simbol bahwa Argentina siap membawa pertandingan ke dalam duel fisik sekaligus mental.
Sepanjang pertandingan, agresivitas pemain-pemain Argentina memang sangat terasa. Mereka tampil keras, intens, dan terus menekan secara psikologis.
Beberapa pemain Inggris terlihat terpancing emosi, termasuk Jude Bellingham yang sebelumnya tampil luar biasa saat menghadapi Norwegia, tetapi kali ini gagal menjaga ketenangannya.
Sejak menit ketiga, benturan keras sudah menghiasi pertandingan. Salah satu insiden yang ramai diperbincangkan adalah tekel Enzo Fernandez terhadap Elliot Anderson yang dinilai layak diganjar kartu kuning. Ironisnya, Anderson justru kemudian menerima kartu kuning setelah menghentikan laju Messi.
Meski demikian, Inggris masih mampu mengimbangi permainan keras Argentina hingga pertengahan babak kedua.
Momentum pertandingan berubah ketika Thomas Tuchel mulai mengutamakan pertahanan.
Anthony Gordon—pencetak gol sekaligus ancaman utama di sisi kiri serangan Inggris—ditarik keluar untuk memberi ruang bagi Ezri Konsa dan mengubah sistem menjadi lima bek.
Sebaliknya, Scaloni membaca situasi dengan sangat baik. Ia memasukkan Gonzalo Montiel, Rodrigo De Paul, dan Nicolas Otamendi untuk memperkuat duel fisik sekaligus menjaga tekanan tetap tinggi.
Ketika kebuntuan belum terpecahkan, Lautaro Martinez ikut dimasukkan untuk menambah daya dobrak.
Puncaknya terjadi saat Tuchel kembali mempertebal pertahanan dengan memasukkan Nico O’Reilly menggantikan Declan Rice. Keputusan tersebut justru membuat Argentina sepenuhnya menguasai lapangan tengah.
Albiceleste semakin leluasa mengurung pertahanan Inggris hingga akhirnya dua umpan silang Messi menghasilkan dua gol kemenangan melalui Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.
Kemenangan Argentina bukan sekadar hasil perubahan taktik, melainkan cerminan mentalitas yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Mereka tidak panik ketika tertinggal. Mereka tetap sabar, terus menyerang, dan percaya bahwa peluang akan datang selama pertandingan belum selesai.
Sebaliknya, Inggris terlihat lebih fokus mempertahankan keunggulan daripada mengendalikan permainan. Pilihan pragmatis itu justru membuat mereka kehilangan identitas yang sebelumnya mampu menekan Argentina.
Semifinal ini mengajarkan satu hal sederhana namun penting: menghadapi tim dengan karakter sekuat Argentina, kemenangan tidak cukup dijaga dengan bertahan. Kemenangan harus terus diperjuangkan melalui keberanian menyerang, penguasaan bola, dan ketenangan dalam mengambil keputusan.
Kini Argentina melangkah ke final Piala Dunia 2026 untuk keenam kalinya. Di partai puncak, mereka berpotensi menghadapi Spanyol, juara Eropa yang memiliki karakter bermain agresif, mampu menguasai bola, dan tetap tenang di bawah tekanan.
Jika pertemuan itu benar-benar terjadi, final Piala Dunia 2026 berpeluang menjadi duel ideal antara dua tim dengan mental juara dan filosofi menyerang yang sama-sama kuat.
