Connect with us

News

Menkeu Purbaya Pimpin Sidang Debottlenecking KEK

Menteri Keuangan memimpin sidang debottlenecking untuk mengurai hambatan regulasi serta memastikan produsen lokal ber-TKDN tinggi mendapat akses yang setara di KEK.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memimpin Sidang Terbuka Aduan Kanal Debottlenecking Satgas P3M-PPE secara langsung. Sidang penting ini diadakan khusus untuk mengurai berbagai hambatan regulasi yang kerap mengganggu jalannya investasi. Selain itu, forum tersebut juga fokus menyelesaikan masalah persaingan usaha di lingkungan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Pemerintah secara tegas menginstruksikan agar dilakukan penyelarasan aturan secara komprehensif di kawasan tersebut. Penyelarasan ini bertujuan agar para produsen lokal tidak merasa tersingkirkan oleh arus investasi luar. Setiap pelaku usaha dalam negeri yang memenuhi kriteria tentu harus mendapatkan perhatian yang lebih adil.

Fokus utama dari kebijakan ini ditujukan bagi produsen lokal yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri. Pemerintah menetapkan batas minimal TKDN yang cukup tinggi yakni di atas 40 persen bagi pelaku usaha. Kategori produsen inilah yang wajib didukung penuh agar mampu berkembang di negeri sendiri.

Melalui aturan baru ini, para pengusaha lokal ber-TKDN tinggi dipastikan akan mendapat akses yang jauh lebih luas. Mereka juga diberikan kesempatan bersaing yang setara dengan korporasi besar di dalam KEK. Langkah afirmatif ini diyakini mampu mendongkrak penggunaan produk buatan anak bangsa secara masif.

Kebijakan debottlenecking ini sekaligus menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi industri domestik. Perlindungan regulasi yang berpihak pada rakyat akan memperkuat struktur perekonomian nasional dari hulu ke hilir. Iklim investasi yang sehat pun pada akhirnya harus berjalan seiring dengan kemajuan pengusaha lokal.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Penerimaan Pajak Ekonomi Digital Tembus Rp8,68 Triliun

Total penerimaan pajak sektor ekonomi digital hingga paruh pertama tahun 2026 berhasil menghimpun angka sebesar Rp8,68 triliun untuk memperkuat struktur penerimaan negara.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Direktorat Jenderal Pajak (DJP) secara resmi mengumumkan bahwa total penerimaan pajak dari sektor ekonomi digital hingga paruh pertama tahun 2026 telah berhasil menghimpun angka sebesar Rp8,68 triliun. Capaian fiskal yang sangat positif ini merefleksikan efektivitas pemungutan pajak di era modern yang semakin terdigitalisasi. Pertumbuhan penerimaan tersebut sekaligus menjadi indikator kuat bahwa potensi ekonomi digital nasional sangat besar dan potensial.

Anggaran dan penerimaan pajak ini bersumber dari berbagai instrumen utama seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE), serta sektor digital lainnya. Pemerintah terus mengoptimalkan kanal-kanal digital tersebut untuk memperluas basis perpajakan secara nasional. Kebijakan ini memastikan bahwa setiap aktivitas transaksi digital global maupun lokal turut berkontribusi bagi kas negara.

Seluruh himpunan dana dari sektor digital ini menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dari waktu ke waktu. Lonjakan penerimaan tersebut sengaja dioptimalkan guna memperkuat struktur penerimaan negara secara berimbang dan berkelanjutan. Dengan struktur fiskal yang semakin kokoh, pemerintah memiliki ruang fiskal yang lebih longgar untuk membiayai berbagai program pembangunan strategis nasional.

Continue Reading

News

Bocah Cengeng dari Lereng Seng

Umar Satiri

Published

on

CERITA KECIL tentang manusia paling populer di bumi ini selalu menarik untuk dibongkar kembali. Kita semua tahu siapa Cristiano Ronaldo, seorang megabintang sepak bola dengan tubuh modern.

Namun, tak banyak yang paham bahwa kurikulum pendidikan terbaik yang diterimanya justru berasal dari sebuah wilayah kumuh yang miring di lereng bukit Funchal, kepulauan Maderia. 

Di sanalah bocah kurus berambut keriting itu menghabiskan masa kecilnya denga sebuah bola plastik usang yang hampir tidak pernah lepas dari kakinya.

Pendidikan formal Ronaldo sebenarnya sangat berantakan dan penuh dengan catatan merah yang buram. Dia tercatat hanya mampu menyelesaikan sekolah hingga tingkat kelas enam Sekolah Dasar saja sebelum akhirnya menyerah total pada ruang kelas. 

Ronaldo kecil menganggap dinding kelas sebagai penjara yang mempersempit ruang geraknya yang selalu meluap-luap. Nilai-nilainya hancur bukan karena dia bodoh, melainkan karena seluruh konsentrasi dan jiwanya sudah tertinggal di jalanan beraspal kasar luar sekolah. 

Dia sering kedapatan membolos hanya demi menendang bola bersama anak-anak yang usianya jauh lebih tua.

Puncak dari kegagalan pendidikan formalnya terjadi pada usia empat belas tahun yang sangat dramatis. Ronaldo terlibat konfrontasi hebat dengan salah satu guru di sekolah barunya setelah dia memutuskan merantau ke kota Lisbon. Sang guru mengejek aksen daerah Madeiranya yang kental dan meremehkan impian besarnya untuk menjadi pemain sepak bola profesional kelas dunia. 

Merasa harga dirinya diinjak-injak, Ronaldo muda spontan mengangkat sebuah kursi kayu lalu melemparkannya tepat ke arah guru tersebut. Insiden besar itu membuatnya langsung dikeluarkan secara permanen dari sekolah hari itu juga tanpa ada kesempatan kedua.

Kejadian pengusiran itu justru menjadi berkah terselubung yang mengubah seluruh garis takdir hidupnya ke depan. Dolores Aveiro, sang ibu yang berprofesi sebagai juru masak, mengambil keputusan yang sangat berani dan tidak biasa bagi orang tua pada umumnya. Bukannya memukuli atau menghukum sang anak, Dolores justru memberikan restu penuh kepada Ronaldo untuk berhenti sekolah secara total. 

Sang ibu sadar betul bahwa bakat terbesar anaknya bukan berada di atas meja kertas, melainkan di atas lapangan hijau. Sejak detik itulah, petualangan pendidikan karakter Ronaldo yang sesungguhnya dimulai tanpa melibatkan buku pelajaran satu lembar pun.

Lalu, dari mana Ronaldo mendapatkan tingkat kedisiplinan besi yang membuatnya bertahan di puncak dunia hingga usia senja? Jawabannya adalah kombinasi antara trauma kemiskinan akut dan ekosistem asrama akademi Sporting Lisbon yang sangat militeristik. 

Di usia yang baru menginjak dua belas tahun, Ronaldo sudah harus belajar hidup mandiri terpisah ribuan kilometer dari pelukan hangat keluarganya. Dia tinggal di sebuah kamar asrama sempit bersama anak-anak berbakat lain dari seluruh penjuru Portugal. Kehidupan di asrama Sporting Lisbon memaksa Ronaldo kecil untuk mendidik dirinya sendiri dengan jadwal yang luar biasa ketat.

Di asrama itu, aturan adalah panglima tertinggi yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun. Ronaldo wajib bangun subuh, membersihkan kamarnya sendiri, mencuci pakaian larinya, dan datang ke lapangan latihan tepat waktu sebelum peluit pelatih berbunyi. Jika ada pemain yang terlambat satu menit saja, hukumannya adalah membersihkan tempat sampah atau tidak diberi jatah makan malam. 

Ronaldo yang memiliki sifat dasar egois dan manja perlahan-lahan terkikis oleh sistem pendidikan asrama yang sangat disiplin ini. Dia menyerap semua aturan itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai satu-satunya senjata untuk bertahan hidup.

Faktor pemicu kedisiplinan ekstremnya yang lain adalah memori kolektif tentang penderitaan masa kecilnya di rumah seng Madeira. Ayahnya adalah seorang mantan tentara yang mengalami trauma perang hebat lalu beralih menjadi pecandu alkohol berat hingga akhir hayatnya. 

Ronaldo kecil tumbuh dengan melihat ibunya pergi bekerja sebelum matahari terbit demi membelikan dirinya sepasang sepatu bola murah yang jahitannya sering terlepas. Pengalaman pahit melihat perut keluarganya kelaparan menciptakan sebuah ketakutan psikologis yang luar biasa besar di dalam kepala Ronaldo. Ketakutan kembali menjadi miskin itulah yang kemudian bertransformasi menjadi bahan bakar motivasi utama yang tidak pernah habis.

Setiap malam ketika lampu asrama sudah dipadamkan oleh penjaga, Ronaldo justru memulai sesi pendidikan mandirinya secara sembunyi-sembunyi. Dia sering menyelinap masuk ke dalam ruang kebugaran yang gelap gulita hanya untuk melatih otot kakinya menggunakan beban tambahan. 

Para pelatih akademi bahkan berkali-kali harus mengunci pintu ruang latihan menggunakan gembok besi besar agar Ronaldo mau pergi tidur. Namun dasar keras kepala, anak itu selalu menemukan celah untuk tetap berlatih menggunakan ember air sebagai beban pengganti. Pola pikir “deliberate practice” atau latihan yang disengaja ini sudah terbentuk sempurna bahkan sebelum dia mengenal apa itu taktik sepak bola modern.

Dari kisah hidup Ronaldo, kita bisa melihat sebuah antitesis dari sistem pendidikan konvensional yang sering kali kaku. Sekolah formal mungkin telah mendepak dirinya karena dianggap sebagai anak nakal yang tidak memiliki masa depan cerah. Namun, universitas kehidupan jalanan dan kerasnya asrama olahraga telah meluluskannya dengan predikat terbaik dalam hal kekuatan mental. 

Dia membuktikan bahwa disiplin tidak melulu lahir dari bangku kuliah yang nyaman dengan pendingin ruangan yang sejuk. Kedisiplinan sejati sering kali justru lahir dari rahim penderitaan, air mata frustrasi, dan tekad bulat untuk merobek peta kemiskinan keluarga.

Kini, anak nakal yang gemar melempar kursi itu telah menjelma menjadi salah satu ikon global terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Warisan terbesar dari seorang Cristiano Ronaldo bukanlah deretan trofi emas atau jumlah kekayaannya yang melimpah ruah di bank. 

Warisan utamanya adalah sebuah pembuktian ilmiah bahwa kerja keras yang dikombinasikan dengan obsesi sehat mampu mengalahkan bakat alami apa pun di dunia. Semua itu berakar dari kurikulum kehidupan masa kecilnya yang keras, sebuah pendidikan tanpa ijazah kertas namun menghasilkan mentalitas manusia baja.

Continue Reading

News

Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia secara resmi memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility pada level 4,75%, serta suku bunga Lending Facility di angka 6,50%. Keputusan strategis ini diambil sebagai langkah lanjutan dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional secara keseluruhan. Berbagai instrumen moneter tersebut dikelola secara hati-hati agar tetap sejalan dengan target inflasi dan pertumbuhan jangka panjang.

Fokus utama dari kebijakan moneter tersebut adalah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah pasar. Langkah ini dinilai sangat mendesak demi meredam tekanan eksternal yang kerap menguji ketahanan sektor keuangan domestik. Dengan nilai tukar yang stabil, daya beli masyarakat dan biaya impor kebutuhan pokok pun dapat lebih terkendali.

Selain itu, kebijakan ini juga ditujukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah bersama bank sentral berupaya memastikan bahwa sektor riil tetap mendapatkan likuiditas yang cukup untuk berekspansi. Sinergi fiskal dan moneter terus ditingkatkan demi menggerakkan roda perekonomian di berbagai daerah.

Berbagai langkah antisipatif tersebut diperlukan dalam menghadapi dinamika global yang penuh dengan ketidakpastian. Geopolitik dunia serta arah kebijakan suku bunga negara maju menjadi faktor eksternal yang dicermati secara saksama. Langkah pencegahan ini memastikan perekonomian dalam negeri tidak mudah terguncang oleh sentimen negatif luar.

Bank Indonesia senantiasa memantau perkembangan indikator makroekonomi secara berkala. Evaluasi rutin terhadap data inflasi, pertumbuhan, dan neraca pembayaran dilakukan untuk merumuskan respons kebijakan yang tepat. Transparansi asesmen ini menjadi landasan kredibilitas otoritas moneter di mata publik.

Konsistensi kebijakan ini diharapkan mampu memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dan investor. Kepastian iklim investasi merupakan kunci utama untuk menarik lebih banyak penanaman modal asing maupun domestik. Pada akhirnya, langkah berkelanjutan ini akan membawa perekonomian nasional menuju pertumbuhan yang semakin inklusif.

Continue Reading

News

Trump Ancam Iran: Serangan Terbesar Siap Diluncurkan

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com — Ketegangan di Timur Tengah mendidih. Presiden AS Donald Trump menegaskan siap melancarkan operasi militer dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran.

Langkah ini diambil merespons rentetan serangan Teheran ke berbagai fasilitas militer AS di kawasan Teluk.

Kepada Axios pada Kamis (23/7), Trump mengungkapkan bahwa keputusan akhir kini berada di ujung jarinya.

“Saya hampir mengambil keputusan. Kami semua sudah siap,” tegas Trump, memberi sinyal bahwa lampu hijau dapat menyala kapan saja.

Trump mengklaim daya tempur militer AS sudah lebih dari cukup untuk meratakan sasaran. Meski begitu, ia mengisyaratkan kesiapan sekutu utamanya di kawasan.

“Israel akan bergabung dalam dua menit jika saya minta. Tapi kami tidak membutuhkan siapa pun,” ujarnya.

Ancaman ini menandai babak baru eskalasi kedua negara. Selama 12 malam berturut-turut, AS telah menggempur wilayah pesisir Iran—menghancurkan sejumlah infrastruktur vital seperti jembatan dan terowongan—sebagai balasan atas aksi Teheran yang menyasar kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran tak tinggal diam. Menerapkan doktrin “mata ganti mata”, Teheran membalas dengan merontokkan situs-situs militer AS di kawasan, termasuk menghantam menara telekomunikasi di Kuwait usai fasilitas serupa milik mereka diserang.

Iran menegaskan, setiap kerusakan pada infrastrukturnya akan dibayar tuntas dengan serangan serupa ke wilayah negara-negara Arab sekutu AS.

Continue Reading

News

Jalan Sunyi Melahirkan Rumah Pendidikan

Indonesia meraih penghargaan WSIS Prizes 2026 dari PBB berkat Rumah Pendidikan. Inovasi ini menyatukan layanan pendidikan digital untuk efisiensi dan kemudahan akses.

Umar Satiri

Published

on

Monitorday.com – Para menteri duduk berderet. Berkas-berkas terbuka di atas meja. Sebagian menatap lembar laporan, sebagian lagi memutar pelan bolpoin di jemarinya. Sore itu [20/7] Sidang Kabinet Paripurna yang dihelat di Istana Negara nyaris berakhir tanpa senyum. Harmoni ganjil nan sunyi, bak terperangkap dalam kanvas realisme Edward Hopper.

Untungnya, Presiden Prabowo membuka halaman terakhir naskah taklimatnya, lalu membagikan kabar yang seketika mengubah wajah seisi ruang sidang.

“Baru saja kita dapat kabar bagus dari PBB. Memberi penghargaan tertinggi dari 122 negara dalam kategori e-government dan kategori digitalisasi pendidikan,” ujar Presiden.

Kabar yang dimaksud ternyata bukan tentang capaian ekonomi, bukan pula tentang perubahan tata kelola MBG. Melainkan pengakuan dunia terhadap sebuah inovasi digital yang lahir dari sektor pendidikan, yaitu Rumah Pendidikan.

Rumah Pendidikan, superaplikasi layanan pendidikan milik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menenngah, dinobatkan sebagai peraih Winner WSIS Prizes 2026 pada kategori Action Line C7: ICT Applications – e-Government. Penghargaan ini diberikan oleh International Telecommunication Union (ITU), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), itu menempatkan Indonesia yang terbaik di antara 122 negara peserta.

Lebih dari Sebuah Aplikasi

Banyak inovasi digital lahir dengan janji yang sama: mempermudah kehidupan. Namun, tidak sedikit yang justru menambah kerumitan. Satu layanan melahirkan satu aplikasi, satu kebutuhan memunculkan satu portal baru. Lama-kelamaan, layar gawai para guru, kepala sekolah, siswa, hingga orang tua dipenuhi ikon-ikon yang berdiri sendiri, saling berdekatan tetapi nyaris tak pernah saling berbicara.

Di sekolah-sekolah, fragmentasi itu menjadi rutinitas yang nyaris tak disadari. Seorang guru dapat membuka beberapa platform berbeda hanya untuk menyelesaikan pekerjaan dalam satu hari. Murid berpindah dari satu akun ke akun lain untuk mengakses materi belajar. Kepala sekolah mengolah data pada sistem yang berbeda dengan sistem pelaporan. Orang tua pun kerap kebingungan menentukan pintu mana yang harus diketuk ketika ingin memperoleh informasi mengenai pendidikan anaknya.

Dalam dunia teknologi, keadaan semacam itu dikenal sebagai digital fragmentation. Teknologi memang bertambah, tetapi pengalaman penggunanya justru terpecah. Alih-alih menyederhanakan layanan, sistem yang dibangun secara terpisah menciptakan sekat-sekat baru yang tidak terlihat. Biayanya bukan hanya anggaran, melainkan waktu, energi, dan perhatian jutaan pengguna.

Di titik itulah gagasan Rumah Pendidikan di era Mendikdsmen Abdul Mu’ti menemukan relevansinya. Ia tidak lahir untuk menambah satu aplikasi lagi di layar telepon pintar masyarakat Indonesia. Sebaliknya, ia dibangun untuk menghubungkan aplikasi-aplikasi yang telah ada, menyatukan layanan, data, dan para pemangku kepentingan pendidikan ke dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi. Pengembangannya menempatkan integrasi layanan, interoperabilitas data, tata kelola digital, dan penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi utama transformasi tersebut. 

Transformasi seperti ini sesungguhnya bukan semata-mata tentang teknologi. George Westerman dari MIT Sloan School of Management pernah menulis bahwa transformasi digital bukanlah proses mengubah sesuatu menjadi digital, melainkan mengubah cara organisasi menciptakan nilai melalui teknologi. Dalam konteks pendidikan, nilai itu bukan diukur dari banyaknya aplikasi yang dimiliki pemerintah, melainkan dari seberapa mudah guru mengajar, murid belajar, orang tua mendampingi, dan pemerintah mengambil keputusan berdasarkan data yang sama.

Karena itu, Rumah Pendidikan lebih tepat dipahami sebagai perubahan cara negara melayani pendidikan. Di dalamnya, teknologi hanya menjadi jembatan. Tujuan akhirnya tetap manusia. Ketika layanan saling terhubung, data dapat dipertukarkan, dan pengalaman pengguna menjadi lebih sederhana, yang sesungguhnya sedang dibangun bukan sekadar sebuah portal digital. Yang sedang dibangun adalah fondasi baru bagi tata kelola pendidikan Indonesia.

Menjahit Kepingan yang Berserakan

Transformasi digital sering kali dipersepsikan sebagai perlombaan menghadirkan teknologi terbaru. Setiap persoalan dianggap selesai ketika sebuah aplikasi diluncurkan. Namun, dalam praktiknya, teknologi yang lahir tanpa keterhubungan justru dapat menciptakan persoalan baru: layanan bertambah, tetapi pengalaman pengguna menjadi semakin rumit.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam dua dekade terakhir, banyak negara menghadapi tantangan serupa ketika layanan publik berkembang secara sektoral. Setiap unit membangun sistemnya sendiri, mengumpulkan datanya sendiri, dan melayani penggunanya melalui portal yang berbeda. Secara teknis, semua berjalan. Namun, dari sudut pandang warga, layanan terasa seperti lorong-lorong panjang yang tidak saling terhubung.

Ekosistem pendidikan Indonesia pun tidak sepenuhnya lepas dari tantangan tersebut. Seiring berkembangnya kebutuhan digital, berbagai layanan hadir untuk menjawab fungsi yang berbeda-beda. Ada yang berfokus pada pembelajaran, ada yang menangani data pendidikan, ada pula yang mendukung pengembangan kompetensi guru, asesmen, atau administrasi sekolah. Masing-masing menjawab kebutuhan tertentu, tetapi tidak selalu berada dalam pengalaman pengguna yang utuh.

Berangkat dari kondisi itulah, Rumah Pendidikan menempatkan integrasi sebagai gagasan utama. Rumah Pendidikan bukan sebagai aplikasi tunggal, melainkan sebagai portal layanan digital yang menyatukan layanan, data, serta para pemangku kepentingan pendidikan dalam satu ekosistem yang lebih mudah diakses, aman, dan berkelanjutan. Fondasi itu dibangun di atas tiga pilar utama: teknologi dan infrastruktur digital, tata kelola beserta kebijakan digital, serta pengembangan sumber daya manusia. 

Cara pandang ini memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak berhenti pada pembangunan perangkat lunak. Yang diubah bukan hanya tampilan antarmuka atau jumlah fitur, melainkan hubungan antarlayanan. Dalam pendekatan seperti itu, teknologi berfungsi sebagai penghubung yang memungkinkan berbagai proses bekerja sebagai satu kesatuan, bukan sebagai sistem-sistem yang berdiri sendiri.

Sekilas, penghargaan yang diterima Rumah Pendidikan tampak mengundang pertanyaan. Mengapa sebuah platform pendidikan justru dinobatkan sebagai pemenang kategori e-Government, bukan e-Learning? Jawabannya terletak pada cara dunia memandang transformasi digital. Dalam perspektif tata kelola pemerintahan, ukuran keberhasilan tidak lagi berhenti pada kecanggihan teknologi, tetapi pada kemampuan teknologi menghadirkan layanan publik yang lebih sederhana, terintegrasi, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.

Rumah Pendidikan dinilai tidak sekadar menyediakan ruang belajar digital. Platform ini mengintegrasikan beragam layanan pendidikan, menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, serta membangun tata kelola berbasis data dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan layanan publik digital yang menempatkan interoperabilitas, kolaborasi, dan integrasi sebagai fondasi utama transformasi pemerintahan digital. 

Barangkali di situlah letak makna penghargaan tersebut. Pengakuan internasional itu bukan semata diberikan kepada sebuah aplikasi, melainkan kepada sebuah pendekatan dalam membangun layanan publik. Di mata dunia, transformasi digital pendidikan tidak hanya berbicara tentang bagaimana teknologi digunakan untuk belajar, tetapi juga tentang bagaimana negara menghadirkan pelayanan yang lebih efektif, lebih terhubung, dan lebih mudah dijangkau oleh warganya.

Continue Reading

News

SPMB Sekolah Nasional Terintegrasi Tahun Ajaran 2026/2027 Resmi Dibuka

Jangan lewatkan kesempatan Pendaftaran SPMB SNT 2026/2027 untuk SMP dan SMA. Pelajari jadwal, persyaratan, dan cara daftar di 17 lokasi SNT seluruh Indonesia.

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Tahun Ajaran 2026/2027. Pendaftaran dibuka mulai 21 hingga 27 Juli 2026 bagi calon murid kelas VII SMP dan kelas X SMA pada 17 lokasi penyelenggaraan SNT di berbagai daerah Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, mengajak calon murid dan orang tua di wilayah penyelenggaraan SNT untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan segera mempersiapkan seluruh persyaratan pendaftaran. “Kami mengajak calon murid dan orang tua di 17 wilayah penyelenggaraan SNT untuk memanfaatkan kesempatan ini. Siapkan dokumen dengan lengkap dan lakukan pendaftaran melalui portal resmi sebelum 27 Juli 2026,” ujar Dirjen Gogot.

Penerimaan murid baru tahun ini dilaksanakan di 17 wilayah, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

SPMB SNT memprioritaskan calon murid yang berdomisili di kecamatan atau kabupaten/kota yang sama dengan lokasi SNT. Sementara itu, calon murid berprestasi dari wilayah sekitar juga dapat dipertimbangkan sesuai ketentuan dan daya tampung yang tersedia.

Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara daring melalui portal snt.kemendikdasmen.go.id/spmb. Pada laman tersebut, pendaftar dapat memperoleh informasi mengenai persyaratan, tata cara pendaftaran, serta tahapan seleksi. Pendaftar perlu membuat akun, mengisi data secara lengkap, mengunggah dokumen persyaratan, serta menyimpan bukti pendaftaran.

Dokumen yang perlu disiapkan antara lain kartu keluarga, akta kelahiran, NISN, ijazah atau surat keterangan lulus, rapor lima semester terakhir, sertifikat Tes Kemampuan Akademik (TKA), identitas orang tua atau wali, pasfoto, serta surat pernyataan orang tua atau wali. Calon murid yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik dapat melampirkan sertifikat prestasi. Dokumen kepesertaan program perlindungan sosial dapat disertakan untuk afirmasi ekonomi.

Pelaksanaan SPMB SNT meliputi lima tahapan, yaitu pengumuman dan sosialisasi pada 21–24 Juli 2026, pendaftaran pada 21–27 Juli 2026, proses seleksi pada 27–31 Juli 2026, pengumuman hasil seleksi pada 3 Agustus 2026, serta daftar ulang pada 4–7 Agustus 2026. Proses seleksi dilakukan melalui seleksi administrasi dan Tes Skolastik yang mengukur kemampuan penalaran verbal, numerik, pemecahan masalah, serta penalaran logis calon murid.

Kemendikdasmen juga mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan satuan pendidikan di sekitar lokasi SNT untuk turut membantu menyosialisasikan informasi serta memberikan pendampingan kepada calon murid yang mengalami kendala akses internet maupun penyiapan dokumen.

Pada Tahun Ajaran 2026/2027, kegiatan pembelajaran SNT dapat dilaksanakan terlebih dahulu di lokasi operasional yang telah disiapkan pemerintah daerah. Murid yang diterima tetap berstatus sebagai murid Sekolah Nasional Terintegrasi dan tidak perlu mengikuti proses seleksi ulang ketika kegiatan belajar mengajar berpindah ke bangunan permanen.

Continue Reading

News

Perkuat Validasi Data ATS, Kemendikdasmen Gandeng Pemerintah Daerah dan Mitra Strategis

Kemendikdasmen intensifkan validasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan kolaborasi daerah dan mitra. Ini untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan.

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI), terus memperkuat upaya penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui kegiatan validasi dan pemutakhiran data yang dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah dan mitra strategis. 

Menutup Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) tahun 2026, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa penguatan tata kelola, kualitas pembelajaran, serta kapasitas satuan pendidikan merupakan agenda utama dalam pembangunan pendidikan nasional.

“Pemerintah terus berupaya menempatkan pendidikan nonformal sebagai bagian yang setara dalam ekosistem pendidikan nasional. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak lagi hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dapat di lingkungan keluarga, masyarakat, komunitas, maupun lembaga pendidikan nonformal,” ungkap Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq, di Cimahi, Selasa (21/7).

Kepada seluruh peserta acara, Wamen Fajar menekankan pentingnya peningkatan kualitas tata kelola data satuan pendidikan. Data yang akurat menurutnya menjadi fondasi penting dalam penyaluran berbagai program pemerintah, termasuk bantuan operasional satuan pendidikan dan berbagai intervensi kebijakan lainnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi tantangan di masa depan. Penguatan kapasitas kelembagaan, peningkatan mutu layanan pembelajaran, serta pengembangan kompetensi tenaga pendidik menjadi langkah penting agar pendidikan nonformal mampu memanfaatkan berbagai peluang yang ada.

“Tujuan besar pembangunan pendidikan nasional adalah membangun masyarakat pembelajar. Yaitu masyarakat yang terus belajar sepanjang hayat tanpa dibatasi oleh usia maupun jalur pendidikan yang ditempuh,” ujar Wamen Fajar

Sementara itu, Direktur PNFI, I Gusti Made Ardana, mengatakan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta satuan pendidikan nonformal. Melalui kolaborasi ini, diharapkan proses pendataan dan penjangkauan anak-anak yang belum bersekolah dapat dilakukan secara lebih efektif.

Terkait dengan hal tersebut, Direktorat PNFI menargetkan seluruh proses validasi data dapat diselesaikan paling lambat pada 31 Agustus 2026. Dengan demikian, data yang sudah diverifikasi benar-benar mencerminkan kondisi lapangan guna memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena ketidakakuratan data.

Dalam pelaksanaan program, Made menuturkan bahwa Kemendikdasmen terus memperkuat kerja sama dengan dinas pendidikan dan dinas sosial di berbagai daerah. Selain itu, organisasi masyarakat yang telah menunjukkan praktik baik dalam penanganan ATS juga dilibatkan sebagai mitra strategis. 

Salah satu praktik baik penanganan ATS berasal dari Provinsi Jawa Barat. Dari sekitar 13 ribu data ATS yang ditangani, lebih dari 8 ribu telah berhasil diverifikasi dan ditindaklanjuti. Bahkan, sekitar 64,6 persen anak yang telah diverifikasi berhasil dikembalikan ke layanan pendidikan. 

“Capaian penanganan ATS di Jawa Barat menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan mampu memberikan dampak nyata dalam menurunkan angka ATS,” tutup Made.

Continue Reading

News

Rupiah Bertahan di Rp17.915

Rupiah bergerak terbatas terhadap dolar Amerika Serikat setelah Bank Indonesia menahan suku bunga acuan dan memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar.
tukar

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Nilai tukar rupiah bergerak terbatas terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia tercatat sebesar Rp17.915 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di Rp17.909 per dolar AS.

Pergerakan rupiah di pasar spot sempat menunjukkan arah yang beragam pada awal perdagangan. Sejumlah data pasar mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.914–Rp17.917 per dolar AS, sehingga perubahan nilainya relatif terbatas dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pergerakan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21–22 Juli 2026. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75 persen, sedangkan Lending Facility dipertahankan pada level 6,50 persen.

Keputusan menahan suku bunga diambil setelah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026. Kebijakan tersebut sebelumnya ditempuh untuk menjaga daya tarik aset rupiah, mendorong masuknya modal asing, dan meredam tekanan terhadap nilai tukar.

Bank Indonesia memilih memperkuat stabilisasi rupiah melalui sejumlah kebijakan tambahan, termasuk memperluas insentif bagi investasi portofolio dan menekan biaya lindung nilai valuta asing. Strategi tersebut diarahkan untuk menarik aliran modal masuk tanpa kembali meningkatkan biaya pinjaman di dalam negeri.

Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berasal dari tingginya ketidakpastian global. Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak, serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dapat mendorong investor memindahkan dana menuju aset yang dianggap lebih aman.

Bank Indonesia menegaskan stabilisasi nilai tukar tetap menjadi bagian penting dari kebijakan moneter. Intervensi dapat dilakukan melalui pasar spot maupun instrumen transaksi berjangka untuk menjaga pergerakan rupiah agar tetap sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, stabilnya suku bunga memberikan ruang bagi pemerintah dan bank sentral untuk tetap mendukung kegiatan ekonomi domestik. Bank Indonesia mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dalam kisaran 4,9–5,7 persen, dengan inflasi diproyeksikan tetap berada dalam sasaran 1,5–3,5 persen.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati aliran modal asing, pergerakan indeks dolar AS, harga komoditas, serta langkah lanjutan Bank Indonesia. Faktor-faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah rupiah dalam perdagangan beberapa hari mendatang.

Continue Reading

News

IHSG Melaju ke Level 6.430

IHSG melonjak 1,51 persen pada perdagangan sesi pertama, ditopang saham properti, energi, dan teknologi serta masuknya kembali dana investor asing.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang pada perdagangan sesi pertama Kamis, 23 Juli 2026. Indeks ditutup menguat 95,67 poin atau 1,51 persen ke level 6.430,15 setelah bergerak di rentang 6.338 hingga 6.437.

Penguatan berlangsung cukup luas. Sebanyak 450 saham berada di zona hijau, 166 saham melemah, dan 177 saham tidak berubah. Nilai perdagangan mencapai sekitar Rp11,89 triliun dengan volume 34,81 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 1,75 juta kali.

Seluruh indeks sektoral tercatat menguat pada jeda siang. Sektor properti memimpin kenaikan sebesar 4,46 persen, disusul sektor energi 4,32 persen, teknologi 2,83 persen, barang baku 2,71 persen, dan perindustrian 2,36 persen.

Saham-saham komoditas dan perusahaan yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi menjadi penggerak utama pasar. BUMI, TPIA, dan DEWA tercatat sebagai tiga saham dengan nilai transaksi terbesar sepanjang sesi pertama.

Saham BUMI membukukan nilai transaksi sekitar Rp1,23 triliun, sedangkan TPIA dan DEWA masing-masing mencatat transaksi sekitar Rp838,6 miliar dan Rp691,9 miliar. Investor asing juga mencatat pembelian bersih sekitar Rp164 miliar pada sesi pertama.

Analis menilai penguatan saham energi dan barang baku berkaitan dengan kenaikan harga minyak mentah dan emas di pasar global. Harga komoditas terdorong meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.

Sentimen domestik turut dipengaruhi keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 21–22 Juli 2026. Bank sentral juga memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kinerja indeks saham unggulan juga bergerak positif. Indeks LQ45 naik 0,98 persen ke posisi 638,75, sementara Jakarta Islamic Index menguat 2,56 persen menjadi 390,40. Penguatan tersebut menunjukkan kenaikan pasar tidak hanya terpusat pada saham lapis kedua, tetapi turut menjangkau sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham syariah.

Meski demikian, posisi 6.430 merupakan data penutupan sesi pertama dan dapat berubah hingga berakhirnya perdagangan. Investor tetap perlu mencermati perkembangan harga komoditas global, aliran modal asing, pergerakan rupiah, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi arah IHSG.

Continue Reading

News

Krisis Energi Tekan Manufaktur Asia

Berbagai negara di kawasan Asia kini harus menghadapi tantangan ganda berupa krisis energi dan pelambatan sektor manufaktur secara bersamaan.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Berbagai negara Asia saat ini tengah berjuang meredam pukulan krisis energi yang tidak merata. Kondisi sulit ini terjadi sebagai imbas langsung dari peperangan yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Di saat yang sama, kawasan ini juga dihadapkan berbarengan dengan tren melambatnya aktivitas pabrik di berbagai sentra industri utama.

Tekanan berat pada sektor industri ini dipastikan akan semakin diperberat oleh sejumlah faktor eksternal. Salah satunya adalah munculnya sentimen pelemahan daya beli yang kini membayangi pasar. Selain itu, ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan global yang baru juga turut menambah beban dan tantangan bagi para pelaku usaha.

Menghadapi situasi yang kurang menguntungkan ini, sebuah langkah responsif sangat dibutuhkan. Rantai pasok industri di Asia kini dituntut meracik strategi adaptasi dengan cepat. Penyesuaian operasional tersebut menjadi kunci utama demi meredam dampak stagnasi permintaan tersebut.

Continue Reading