News
Perkuat Validasi Data ATS, Kemendikdasmen Gandeng Pemerintah Daerah dan Mitra Strategis
Kemendikdasmen intensifkan validasi data Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan kolaborasi daerah dan mitra. Ini untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan.
Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI), terus memperkuat upaya penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui kegiatan validasi dan pemutakhiran data yang dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah dan mitra strategis.
Menutup Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) tahun 2026, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa penguatan tata kelola, kualitas pembelajaran, serta kapasitas satuan pendidikan merupakan agenda utama dalam pembangunan pendidikan nasional.
“Pemerintah terus berupaya menempatkan pendidikan nonformal sebagai bagian yang setara dalam ekosistem pendidikan nasional. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak lagi hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dapat di lingkungan keluarga, masyarakat, komunitas, maupun lembaga pendidikan nonformal,” ungkap Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq, di Cimahi, Selasa (21/7).
Kepada seluruh peserta acara, Wamen Fajar menekankan pentingnya peningkatan kualitas tata kelola data satuan pendidikan. Data yang akurat menurutnya menjadi fondasi penting dalam penyaluran berbagai program pemerintah, termasuk bantuan operasional satuan pendidikan dan berbagai intervensi kebijakan lainnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi tantangan di masa depan. Penguatan kapasitas kelembagaan, peningkatan mutu layanan pembelajaran, serta pengembangan kompetensi tenaga pendidik menjadi langkah penting agar pendidikan nonformal mampu memanfaatkan berbagai peluang yang ada.
“Tujuan besar pembangunan pendidikan nasional adalah membangun masyarakat pembelajar. Yaitu masyarakat yang terus belajar sepanjang hayat tanpa dibatasi oleh usia maupun jalur pendidikan yang ditempuh,” ujar Wamen Fajar.
Sementara itu, Direktur PNFI, I Gusti Made Ardana, mengatakan bahwa fokus utama kegiatan ini adalah memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta satuan pendidikan nonformal. Melalui kolaborasi ini, diharapkan proses pendataan dan penjangkauan anak-anak yang belum bersekolah dapat dilakukan secara lebih efektif.
Terkait dengan hal tersebut, Direktorat PNFI menargetkan seluruh proses validasi data dapat diselesaikan paling lambat pada 31 Agustus 2026. Dengan demikian, data yang sudah diverifikasi benar-benar mencerminkan kondisi lapangan guna memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena ketidakakuratan data.
Dalam pelaksanaan program, Made menuturkan bahwa Kemendikdasmen terus memperkuat kerja sama dengan dinas pendidikan dan dinas sosial di berbagai daerah. Selain itu, organisasi masyarakat yang telah menunjukkan praktik baik dalam penanganan ATS juga dilibatkan sebagai mitra strategis.
Salah satu praktik baik penanganan ATS berasal dari Provinsi Jawa Barat. Dari sekitar 13 ribu data ATS yang ditangani, lebih dari 8 ribu telah berhasil diverifikasi dan ditindaklanjuti. Bahkan, sekitar 64,6 persen anak yang telah diverifikasi berhasil dikembalikan ke layanan pendidikan.
“Capaian penanganan ATS di Jawa Barat menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan mampu memberikan dampak nyata dalam menurunkan angka ATS,” tutup Made.
News
LDI 2026 Perluas Wawasan dan Peluang Talenta Muda
Monitorday.com – Bagi para peserta Lomba Debat Indonesia (LDI) 2026, kompetisi bukan hanya tentang memenangkan pertandingan. Di balik panggung debat, mereka menemukan pengalaman baru, bertemu teman-teman dari berbagai daerah, memperluas wawasan, hingga melihat peluang pendidikan dan masa depan yang lebih luas.
Pengalaman tersebut dirasakan Allesia Keiran The dari Bina Bangsa School PIK, salah satu Ten Best Speaker LDI 2026. Menurutnya, LDI memberikan kesempatan untuk bertemu dengan peserta dari berbagai wilayah yang sebelumnya mungkin tidak akan ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya, LDI sangat membantu karena membuka kesempatan untuk bertemu dengan begitu banyak orang dari berbagai daerah, terutama karena ini merupakan kompetisi tingkat nasional. Kita bisa bertemu dengan debater dari Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan berbagai daerah lainnya yang mungkin tidak akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurut Allesia, pengalaman dan prestasi yang diperoleh dari LDI juga dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan. Sertifikat nasional yang diterbitkan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kemendikdasmen, menjadi salah satu bentuk pengakuan atas capaian peserta.
“Selain hadiah yang didapatkan ketika memenangkan LDI, kita juga mendapatkan sertifikat nasional yang diterbitkan oleh Puspresnas, Kemendikdasmen. Menurut saya, bahkan dengan menjadi bagian dari kompetisi dan finalis LDI, hal itu dapat membantu meningkatkan peluang untuk mendapatkan beasiswa maupun bersaing mendapatkan tempat di universitas-universitas terbaik di dunia,” katanya.
“Saya sangat menghargai pengalaman ini karena kemungkinan dapat membantu saya masuk ke universitas-universitas pilihan saya, bahkan mendapatkan beasiswa,” lanjutnya saat ditemui dalam acara penandatanganan Naskah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pusat Prestasi Nasional dan International Global Network, Jakarta (9/9).
Cerita serupa disampaikan Gabrielle Angeline Stephanson Li dari SMAK 1 Penabur Jakarta yang meraih predikat Third Best Speaker. Baginya, prestasi menjadi bentuk penghargaan terhadap proses dan kerja keras yang telah dilalui.
“Dari perspektif internal, penghargaan atau prestasi juga bisa memberikan kepuasan diri atau self-fulfillment atas semua pencapaian dan kerja keras yang telah kami lalui. Ini menjadi hal yang membanggakan bagi diri sendiri,” ujar Gabrielle.
Tidak hanya soal penghargaan, Gabrielle merasakan perubahan dalam dirinya setelah mengikuti LDI. Ia menjadi lebih percaya diri dalam berdebat, memperoleh wawasan yang lebih luas, sekaligus membangun jejaring dengan peserta lainnya.
“Pengalaman juga memberikan wawasan yang jauh lebih luas. Kami sekarang menjadi lebih percaya diri dalam berdebat, memiliki pengetahuan yang lebih luas, dan juga memiliki koneksi yang lebih luas melalui prestasi yang kami raih di LDI,” tuturnya.
Pengalaman tersebut juga mendapat apresiasi dari orang tua peserta. Anastasia, orang tua salah satu finalis LDI, Ava Mikayla Emmanoelle, menilai kesempatan mengikuti kompetisi nasional telah memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan sekaligus belajar dari lingkungan yang lebih luas.
“Kami mengapresiasi Puspresnas, Kemendikdasmen yang telah memberikan kesempatan kepada anak-anak melalui Lomba Debat Indonesia, khususnya English Debate. Mereka dapat menyalurkan talentanya sekaligus mendapatkan pengalaman berkompetisi di tingkat nasional dan bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Anastasia, dari pengalaman tersebut, anak-anak kini memiliki kesempatan untuk berlanjut ke tingkat internasional. Sebanyak 15 Best Speakers LDI cabang ajang Debat Bahasa Inggris 2026 akan mendapatkan pembinaan lanjutan melalui kolaborasi Puspresnas dan International Global Network (IGN). Selanjutnya, dari pembinaan tersebut, tiga peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Januari 2027.
“Kami sangat mengapresiasi bahwa setelah tingkat nasional, kesempatan itu masih dilanjutkan melalui AYIMUN di tingkat internasional. Ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar lebih jauh sekaligus menjalankan tanggung jawab ketika mewakili Indonesia di tingkat internasional,” ujar Anastasia.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan prestasi anak tidak hanya diukur dari hadiah atau piala yang diperoleh. Ada proses panjang yang perlu dijalani, termasuk menjaga keseimbangan antara prestasi dan pendidikan.
“Bagi anak, prestasi bukan hanya tentang hadiah atau piala. Ada proses, pengorbanan, dan komitmen yang harus dijalani. Yang paling penting adalah bagaimana mereka tetap menjaga prestasi di sekolah karena tujuan utama mereka tetap belajar,” ujarnya.
Bagi para talenta muda tersebut, LDI menjadi lebih dari kompetisi. Pertemuan dengan peserta dari berbagai daerah, pengalaman berdebat, bertambahnya wawasan dan kepercayaan diri, hingga kesempatan menuju forum internasional menjadi bagian dari perjalanan yang dapat membentuk mereka untuk terus berkembang.
Pembinaan lanjutan melalui AYIMUN menjadi kesempatan berikutnya bagi para peserta untuk membawa pengalaman tersebut ke ruang yang lebih luas sekaligus belajar mengambil peran di lingkungan internasional.
News
Trump: Konflik AS-Iran Bakal Berakhir Usai Pemilu
Monitorday.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi konflik yang sedang berlangsung dengan Iran akan segera berakhir setelah pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.
“Oh, saya pikir perang ini akan segera berakhir setelah pemilu (sela) karena mereka sudah tidak mampu bertahan lebih lama lagi,” kata Trump kepada wartawan sebelum bertolak ke Dallas, Texas, Rabu (9/9).
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak konflik terhadap politik domestik AS. Pemilu sela atau midterm election Kongres akan digelar pada November, dengan Partai Republik menghadapi ancaman kehilangan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Sejumlah analis menilai peluang Partai Demokrat merebut mayoritas DPR berkaitan dengan merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump. Kampanye militer terhadap Iran serta kenaikan harga di dalam negeri menjadi sejumlah faktor yang dinilai dapat memengaruhi posisi Partai Republik dalam pemilu.
Trump sendiri sebelumnya telah mengakui kemungkinan partainya kehilangan kendali atas DPR. Ia bahkan memperkirakan kemenangan Demokrat akan diikuti upaya pemakzulan terhadap dirinya.
Prediksi Trump soal berakhirnya konflik setelah pemilu tersebut menempatkan perang dengan Iran bukan hanya sebagai isu keamanan luar negeri, tetapi juga sebagai persoalan yang berpotensi menentukan peta politik Washington.
News
BSI Siapkan Rekening Gratis tanpa Admin
Monitorday.com – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menyiapkan rekening tabungan tanpa biaya administrasi untuk mendukung rencana pemerintah membuka rekening secara massal bagi masyarakat Indonesia.
Dua produk yang disiapkan adalah BSI TabunganKu untuk masyarakat berusia 17 tahun ke atas dan BSI Tabungan SimPel iB bagi masyarakat di bawah 17 tahun. Keduanya menggunakan akad wadiah atau titipan sehingga nasabah tidak dikenakan biaya administrasi bulanan.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan fasilitas tersebut disiapkan untuk menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh masyarakat memiliki rekening bank.
“Dengan kemudahan ini, kami berharap dana bantuan yang disalurkan pemerintah dapat diterima dan dimanfaatkan masyarakat secara optimal,” kata Anggoro dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Kedua rekening tersebut juga terhubung dengan layanan mobile banking BYOND by BSI. Setoran awalnya dibuat sangat ringan, yakni minimal Rp20 ribu untuk BSI TabunganKu dan hanya Rp1.000 untuk BSI Tabungan SimPel iB.
Tanpa biaya administrasi bulanan, saldo nasabah tidak akan tergerus setiap bulan. Artinya, jika pemerintah menyalurkan bantuan sebesar Rp50 ribu ke rekening penerima, dana tersebut dapat diterima secara utuh tanpa potongan biaya administrasi.
BSI menyebut penggunaan akad wadiah sekaligus memberikan alternatif layanan perbankan yang sesuai prinsip syariah. Rekening tersebut juga dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mulai merencanakan kebutuhan keuangan jangka panjang, termasuk investasi syariah melalui Tabungan Emas dan persiapan ibadah haji.
Anggoro mengatakan BSI siap mendukung agenda pemerintah memperluas akses keuangan dan memperkuat inklusi keuangan syariah. Kehadiran rekening tanpa biaya administrasi dinilai dapat membuat layanan perbankan lebih mudah dijangkau masyarakat dari berbagai lapisan.
Rencana pembukaan rekening massal tersebut sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Pemerintah tengah menyiapkan mekanisme agar seluruh masyarakat Indonesia memiliki rekening bank, salah satunya melalui BSI.
Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo untuk memperluas inklusi sekaligus meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Airlangga mengatakan pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp11 triliun dari APBN untuk program tersebut. Dana itu ditujukan bagi lebih dari 200 juta masyarakat, dengan masing-masing rekening memperoleh dana pembukaan sebesar Rp50 ribu.
“Dari APBN. Totalnya kalau 200 juta penduduk kan berarti kira-kira 600 juta (dolar AS) atau sekitar Rp11 T (triliun) lah,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (9/9).
Program rekening massal ini diharapkan menjadi salah satu langkah pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan sekaligus memastikan penyaluran bantuan dan berbagai program pemerintah dapat dilakukan secara lebih efektif.
News
Dukung Pencarian Jurnalis di Selat Sunda, Kemkomdigi Perkuat Konektivitas
Monitorday.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendukung upaya pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak saat hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda.
Dukungan dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) serta penguatan kualitas telekomunikasi di sekitar wilayah operasi pencarian dan pertolongan.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut dan mengajak masyarakat mendoakan keselamatan seluruh rombongan.
“Kami turut merasakan kekhawatiran keluarga, rekan-rekan pers, dan seluruh masyarakat. Doa kami menyertai M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman Daus, Donal Husni, serta seluruh awak kapal yang berada dalam rombongan tersebut. Semoga seluruhnya dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat,” kata Meutya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Lima jurnalis yang hilang kontak tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto Kantor Berita Antara; Ari Basuki, pewarta foto Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, pewarta foto iNews.id; Firman Daus, jurnalis Anadolu Agency; dan Donal Husni, jurnalis lepas.
Kelima jurnalis tersebut bersama tiga kru speedboat dilaporkan hilang kontak setelah bertolak untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026) siang.
Hingga Rabu siang, keberadaan rombongan belum diketahui. Operasi pencarian dilakukan melalui operasi SAR gabungan dengan melibatkan sejumlah unsur terkait.
Meutya mengatakan Kemkomdigi terus berkoordinasi dengan Basarnas sebagai otoritas pencarian dan pertolongan, serta TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, dan pihak terkait lainnya.
“Koordinasi dilakukan untuk mendukung kelancaran operasi pencarian dan memastikan informasi mengenai perkembangan situasi dapat disampaikan secara tepat dan terverifikasi,” jelasnya.
Dari sisi komunikasi dan digital, Kemkomdigi melalui Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital juga berkoordinasi dengan operator telekomunikasi untuk memastikan dukungan konektivitas yang diperlukan dalam operasi pencarian dan pertolongan.
“Melalui Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital, Kemkomdigi juga memberi dukungan upaya pencarian rombongan wartawan dengan penguatan kualitas telekomunikasi di wilayah sekitar Selat Sunda,” ungkap Meutya.
Menurutnya, dukungan jaringan akan terus dievaluasi sesuai dengan perkembangan kebutuhan operasi di lapangan.
Meutya menegaskan keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap kegiatan jurnalistik, terutama ketika peliputan dilakukan di wilayah yang memiliki potensi bahaya bencana.
“Karena itu, kami mengimbau seluruh insan pers maupun masyarakat untuk mematuhi batas aman dan arahan otoritas terkait, tidak mendekati kawasan berbahaya, serta memperhatikan perkembangan cuaca, kondisi laut, dan aktivitas vulkanik sebelum melakukan kegiatan di lapangan,” imbaunya.
Kemkomdigi juga mengingatkan masyarakat agar menyaring informasi terkait hilang kontaknya rombongan jurnalis tersebut. Informasi mengenai perkembangan pencarian hendaknya diperoleh dan disebarluaskan berdasarkan keterangan resmi dari otoritas berwenang.
“Kami mendorong masyarakat untuk memperoleh dan menyebarluaskan informasi yang berasal dari sumber resmi dan terverifikasi, antara lain Basarnas, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, serta otoritas terkait lain,” terang Meutya.
Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, termasuk dugaan mengenai kondisi korban, lokasi keberadaan rombongan, maupun perkembangan operasi pencarian.
“Kemudian, tidak membuat atau menyebarkan spekulasi, konten yang menyesatkan, hoaks, maupun informasi yang dapat menimbulkan kepanikan dan keresahan di tengah masyarakat,” tambah Meutya.
Kemkomdigi berharap masyarakat memberikan ruang dan dukungan kepada keluarga serta tim SAR agar proses pencarian dapat berlangsung dengan tenang dan optimal.
“Kemkomdigi akan terus memantau perkembangan informasi di ruang digital dan berkoordinasi dengan kementerian/lembaga serta pihak terkait,” sebut Meutya.
Ia menegaskan informasi resmi terkait perkembangan operasi akan disampaikan melalui kanal komunikasi pemerintah. Masyarakat pun diimbau bersama-sama menjaga ruang informasi tetap tenang, akurat, dan bertanggung jawab.
“Yang paling utama saat ini adalah mendoakan keselamatan seluruh rekan jurnalis dan awak kapal, serta mendukung upaya pencarian agar mereka dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat,” pungkasnya.
News
Indonesia Buka Pintu AI AS, Syaratnya Kepentingan Nasional
Monitorday.com – Indonesia membuka peluang lebih luas untuk memperkuat kerja sama teknologi dengan Amerika Serikat, termasuk di bidang kecerdasan artifisial (AI) dan pelindungan anak di ruang digital. Namun, pemerintah menegaskan keterbukaan tersebut tetap berada di bawah kendali kepentingan nasional.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan adopsi teknologi global harus berjalan beriringan dengan kepastian regulasi dan perlindungan masyarakat.
“Teknologi harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kerja sama dan penerapannya harus tetap berada dalam kerangka kepentingan nasional, termasuk memastikan masyarakat mendapatkan ruang digital yang aman,” kata Meutya dalam pertemuan dengan Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joy Sakurai di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026).
Pertemuan Indonesia-AS tersebut membahas sejumlah agenda strategis, terutama pengembangan AI dan kebijakan pelindungan anak di ruang digital.
Di sektor AI, pemerintah tengah menyiapkan kerangka tata kelola yang mengatur pengembangan dan pemanfaatan teknologi berdasarkan tingkat risiko. Pendekatan ini dirancang untuk menjaga ruang inovasi tanpa mengorbankan keamanan dan kepercayaan publik.
Meutya mengatakan pemerintah juga menyiapkan peta jalan AI untuk mengimbangi tingginya tingkat adopsi teknologi tersebut di Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda.
“Regulasi berbasis risiko bukan untuk menghambat inovasi, melainkan membangun rasa aman dan kepercayaan publik terhadap teknologi,” ujarnya.
Kerangka AI bertanggung jawab itu akan membagi teknologi berdasarkan tingkat risikonya, mulai dari risiko yang tidak dapat ditoleransi, risiko tinggi, hingga risiko rendah. Aturan penerapannya akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sektor melalui regulasi sektoral.
Isu lain yang menjadi pembahasan adalah keamanan anak di ruang digital. Pemerintah memilih pendekatan berbasis usia dan tingkat risiko platform, bukan memutus akses anak secara menyeluruh.
Pemerintah membatasi kepemilikan akun mandiri pada platform berisiko tinggi untuk pengguna berusia minimal 16 tahun. Sementara itu, platform dengan tingkat risiko lebih rendah dapat diakses secara mandiri mulai usia 13 tahun.
Meutya juga mendorong perusahaan teknologi besar mengubah desain produknya agar lebih ramah anak. Langkah yang didorong mencakup pembatasan durasi layar serta penutupan akses komunikasi dengan orang asing tanpa persetujuan orang tua.
“Kami membatasi akses mandiri hingga usia 16 tahun untuk platform digital berisiko tinggi dan usia 13 tahun untuk risiko rendah,” kata Meutya.
Amerika Serikat menyambut langkah Indonesia dalam memperkuat tata kelola digital. Washington juga menawarkan dukungan melalui AI Export Center di San Francisco, tenaga ahli, serta asistensi penerapan AI bagi instansi pemerintah.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperluas akses terhadap teknologi global tanpa melepas kendali atas regulasi dan kepentingan nasional.
Bagi pemerintah, kedaulatan digital bukan berarti menutup pintu terhadap teknologi asing. Kedaulatan justru diwujudkan dengan memastikan Indonesia tetap memegang kendali atas aturan, penggunaan teknologi, perlindungan infrastruktur strategis, serta kepentingan masyarakat sebagai penerima manfaat utama transformasi digital.
News
Pezeshkian Bakal Hadir di KTT BRICS, Putin dan Xi Bertemu
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dipastikan menghadiri agenda KTT BRICS di New Delhi, yang juga menjadi ajang pertemuan penting antara Vladimir Putin dan Xi Jinping.
Monitorday.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian dipastikan menghadiri KTT BRICS di New Delhi, India, yang digelar 12-13 September mendatang. Kunjungan tersebut menjadi agenda penting di tengah pertemuan para pemimpin negara anggota BRICS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Pezeshkian akan bertolak ke India pada Jumat (10/9) atau Sabtu (11/9).
“Presiden Iran akan mengunjungi India untuk menghadiri KTT BRICS,” ujar Baghaei kepada televisi Iran, Selasa (8/9).
KTT BRICS tahun ini akan mempertemukan sejumlah pemimpin negara di New Delhi. Presiden Rusia Vladimir Putin juga dijadwalkan hadir dalam pertemuan tersebut.
Kehadiran Putin menjadi sorotan tersendiri. Kremlin sebelumnya mengungkapkan bahwa Putin akan memanfaatkan momentum KTT untuk menggelar pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Ajudan Kremlin, Yury Ushakov, mengatakan pertemuan bilateral tersebut akan berlangsung di sela-sela agenda KTT.
Dengan kehadiran Pezeshkian, Putin, Xi, dan Modi, KTT BRICS di New Delhi berpotensi menjadi panggung penting bagi penguatan koordinasi di antara kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik non-Barat.
News
Usia 17 Tahun, Warga Bakal Dapat Rekening Bank
Pemerintah berencana membuka rekening bank otomatis dengan saldo Rp50 ribu bagi warga berusia 17 tahun untuk mendorong inklusi keuangan dan digitalisasi UMKM.
Monitorday.com – Pemerintah menyiapkan program pembukaan rekening bank secara otomatis bagi warga Indonesia yang memasuki usia 17 tahun dan telah memiliki KTP.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar setiap warga memiliki rekening perbankan.
“Begitu mereka usianya 17 tahun langsung otomatis dikasih KTP dan dikasih rekening koran,” kata Airlangga dalam Simposium Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026).
Pemerintah menunjuk dua bank untuk menjalankan program tersebut, yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Tak hanya membuka rekening, pemerintah juga berencana memberikan dana awal sebesar Rp50 ribu untuk setiap penerima.
Airlangga memastikan dana tersebut tidak boleh dipotong oleh bank. Pemerintah akan menyiapkan regulasi bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melindungi dana tersebut.
“Nanti Pak Ferry (Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan) bikin regulasinya supaya BI dan OJK kita minta untuk tidak bisa disedot,” ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, rekening tersebut nantinya tak sekadar menjadi tempat menyimpan uang. Pemerintah akan memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, termasuk penyaluran bantuan sosial tunai.
Rekening juga diarahkan untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemilik rekening yang menjalankan usaha akan mendapatkan akses sistem pembayaran QRIS secara otomatis tanpa biaya transaksi.
“Ada payment system QR otomatis tersedia. QR tidak minta discount. Jadi, nol biaya untuk para pedagang,” katanya.
Menurut dia, skema tersebut diharapkan dapat memperluas inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi syariah.
Pemerintah menargetkan 200 juta penduduk memiliki rekening melalui program tersebut.
Pembukaan rekening akan menggunakan basis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Untuk itu, pemerintah akan memanfaatkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.
Namun, mekanisme pelaksanaannya masih belum final. Airlangga belum merinci apakah rekening akan langsung terbentuk ketika warga berusia 17 tahun membuat KTP atau tetap membutuhkan proses pendaftaran tambahan.
Dengan skema tersebut, pemerintah ingin menjadikan rekening bank sebagai bagian dari identitas ekonomi warga sejak memasuki usia dewasa—mulai dari menerima bantuan hingga mengakses layanan pembayaran dan aktivitas usaha.
News
PISA 2025: Skor Naik, Tantangan Pendidikan Indonesia Belum Usai
Indonesia mencatat peningkatan pada hasil asesmen PISA 2025 untuk literasi dan sains. Kemendikdasmen merespons capaian ini dengan menyiapkan sejumlah langkah penguatan mutu guru dan kurikulum.
Monitorday.com – Indonesia mencatat kenaikan skor literasi membaca dan sains dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Keduanya naik enam poin dibandingkan hasil 2022, di tengah semakin banyaknya anak usia 15 tahun yang bertahan dalam sistem pendidikan formal.
Kenaikan ini menjadi sorotan karena terjadi bersamaan dengan lonjakan akses pendidikan. Coverage Index Indonesia meningkat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025.
Dengan kata lain, cakupan anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal hampir berlipat ganda dalam lebih dari dua dekade. Perkembangan tersebut menunjukkan perluasan partisipasi pendidikan tidak otomatis diikuti penurunan capaian pembelajaran.
PISA 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melibatkan 91 negara/ekonomi dan lebih dari 760 ribu murid. Ini merupakan jumlah partisipasi terbesar sejak PISA pertama kali digelar pada 2000.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin dalam Ngopi dan Temu Media Perilisan dan Tindak Lanjut Hasil PISA 2025, Selasa (8/9/2026).
Sains menjadi salah satu capaian yang menonjol dalam PISA 2025. Skor Indonesia meningkat dari 383 pada 2022 menjadi 389, atau naik enam poin.
Kenaikan yang sama terjadi pada literasi membaca, dari 359 menjadi 365. Sementara itu, skor matematika Indonesia berada di angka 364.
Kenaikan skor sains dinilai penting karena domain tersebut menjadi fokus utama PISA 2025. Hasil itu menunjukkan adanya perkembangan kemampuan murid Indonesia dalam memahami pengetahuan sekaligus menggunakan penalaran ilmiah.
Kemajuan Indonesia juga tidak semata-mata tercermin dari angka. OECD mencatat murid Indonesia memiliki tingkat keingintahuan yang relatif tinggi dan menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri.
Mereka juga mencatat capaian relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan sejumlah kemampuan pada mata pelajaran konvensional. Murid Indonesia pun lebih sering terpapar pembelajaran yang mengajarkan cara menilai kredibilitas konten buatan kecerdasan artifisial (AI) dibandingkan murid di banyak negara lain.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengapresiasi perkembangan tersebut. Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan yang juga dialami banyak negara: memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Akses Pendidikan Hampir Berlipat Ganda
Coverage Index menjadi salah satu indikator penting untuk membaca perubahan sistem pendidikan Indonesia.
Ketika pertama mengikuti PISA pada 2003, indeks tersebut berada di level 0,46. Dua puluh dua tahun kemudian, angkanya mencapai 0,90.
Artinya, semakin banyak anak Indonesia yang bertahan dalam sistem pendidikan hingga usia 15 tahun dan masuk dalam cakupan asesmen PISA.
Perjalanan tersebut juga dibarengi perubahan dalam pelaksanaan asesmen. Sejak 2018, Indonesia sepenuhnya beralih dari paper based test (PBT) ke computer based test (CBT).
Namun, perluasan akses bukanlah garis akhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyaknya anak yang bersekolah diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
Hasil PISA 2025 pun menjadi salah satu pijakan Kemendikdasmen untuk menentukan arah kebijakan pendidikan berikutnya.
Empat Strategi Kemendikdasmen
Kemendikdasmen menyiapkan empat strategi sebagai tindak lanjut hasil PISA 2025.
Pertama, memperkuat kompetensi guru melalui pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta peningkatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk coding dan kecerdasan artifisial.
Kedua, meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penerapan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter murid.
Ketiga, mengharmoniskan Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kompetensi bernalar yang menjadi salah satu aspek penting dalam kerangka PISA.
Keempat, memperkuat peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) dan kemitraan orang tua dalam mendukung pembelajaran mendalam.
Empat strategi tersebut menunjukkan bahwa capaian PISA tidak ditempatkan sekadar sebagai perlombaan mengejar angka. Kemampuan bernalar, kemandirian belajar, literasi digital, karakter, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi sasaran yang lebih luas.
Untuk menopang agenda tersebut, Kemendikdasmen menyediakan berbagai platform pembelajaran dan asesmen yang dapat dimanfaatkan guru dan murid secara mandiri, antara lain Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid, serta portal simulasi dan latihan asesmen Pusmendik.
Dengan demikian, PISA 2025 bukan hanya menjadi rapor posisi Indonesia dalam asesmen pendidikan internasional. Hasil tersebut sekaligus menjadi ujian berikutnya: bisakah perluasan akses pendidikan terus berjalan tanpa mengorbankan kualitas, dan bisakah kenaikan skor diterjemahkan menjadi kemampuan nyata murid menghadapi dunia yang berubah cepat?
News
Mendikdasmen: Literasi Jadi Fondasi Indonesia Emas 2045
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan bahwa penguasaan literasi komprehensif menjadi fondasi utama untuk mencetak generasi berkarakter menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Monitorday.com – Kemampuan membaca dan menulis saja tak lagi cukup untuk menghadapi perubahan zaman. Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), teknologi digital, hingga krisis lingkungan, literasi dituntut menjadi kemampuan untuk memahami realitas, berpikir kritis, dan mengambil keputusan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan literasi merupakan fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Literasi adalah fondasi bagi Indonesia Emas 2045. Bangsa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, peduli lingkungan, dan sejahtera,” kata Abdul Mu’ti saat membuka Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 bertema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, literasi tak boleh lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca teks. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk “membaca dunia”—memahami persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan, lalu menggunakan pengetahuan tersebut untuk mendorong perubahan.
Tuntutan itu semakin besar di tengah perubahan teknologi dan sosial yang berlangsung cepat. Masyarakat menghadapi banjir informasi, disrupsi digital, kecerdasan artifisial, serta ancaman krisis lingkungan.
Karena itu, literasi harus mencakup kemampuan menilai informasi secara kritis, merefleksikan konten yang dikonsumsi, memverifikasi informasi, dan terus belajar sepanjang hayat.
“Tidak sekadar menerima informasi, tetapi menelaah, mempertanyakan, dan memverifikasi,” ujarnya.
Tantangan literasi, kata Abdul Mu’ti, bukan hanya soal menghadapi teknologi baru. Di tingkat global, kesenjangan literasi dasar masih menjadi persoalan besar.
Mengutip data UNESCO, sekitar 739 juta pemuda dan orang dewasa di dunia belum memiliki keterampilan literasi dasar. Sementara itu, empat dari 10 siswa secara global belum mencapai tingkat kemahiran minimum membaca pada akhir pendidikan dasar.
Abdul Mu’ti mengingatkan angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat jutaan orang yang belum sepenuhnya memperoleh hak dasar untuk belajar, memahami lingkungan, dan mengembangkan potensi diri.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan gerakan literasi selama enam dekade. Tahun ini menandai 60 tahun sejak Hari Aksara Internasional pertama kali diperingati pada 1966.
Menurut Abdul Mu’ti, momentum tersebut perlu digunakan untuk melihat capaian literasi sekaligus merumuskan agenda baru yang relevan dengan era digital dan kecerdasan artifisial.
Tema “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera” menjadi kerangka yang ditawarkan untuk memperluas gerakan literasi di Indonesia. Abdul Mu’ti menyebutnya sebagai konsep 3S yang sederhana, mudah diingat, sekaligus kontekstual.
Sesama menekankan pentingnya memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari kesempatan belajar. Pendidikan inklusif, literasi kritis, dan dialog antargenerasi menjadi bagian dari upaya tersebut.
Semesta mengarahkan literasi untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan. Literasi iklim, konservasi, dan praktik hidup berkelanjutan perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Adapun Sejahtera berkaitan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidup. Literasi finansial, kewirausahaan, kecakapan hidup, dan keterampilan digital menjadi bagian penting agar masyarakat mampu bekerja, berkarya, dan hidup lebih baik.
“Tema 3S ini menjadi rumah gerakan yang ringkas, mudah diingat, dan kontekstual bagi satuan pendidikan, komunitas, dan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menegaskan pembangunan masyarakat yang literat tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Gerakan literasi membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
Satuan pendidikan, keluarga, pemerintah daerah, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), sanggar kegiatan belajar (SKB), taman bacaan masyarakat, forum pendidikan nonformal dan informal (PNFI), komunitas literasi, organisasi masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, media, hingga pegiat pendidikan dinilai memiliki peran penting.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para pegiat literasi yang terus membuka ruang belajar di berbagai daerah, termasuk di wilayah dengan keterbatasan fasilitas.
“Kalian adalah garda terdepan yang menghidupkan literasi di tengah masyarakat, di pelosok desa, di ruang belajar sederhana, dan di tengah segala keterbatasan yang ada,” tuturnya.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Momentum tersebut didorong menjadi gerakan nyata melalui berbagai kegiatan literasi di daerah dan komunitas.
Abdul Mu’ti menilai kegiatan literasi tidak harus berskala besar. Yang lebih penting, kegiatan tersebut dekat dengan persoalan warga dan menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.
Dengan melibatkan warga belajar, keluarga, dan komunitas, literasi diharapkan tidak berhenti sebagai program pemerintah, tetapi berkembang menjadi kebiasaan sekaligus gerakan sosial.
News
Hukum Komoditas Berjangka dalam Perspektif Syariah
Transaksi komoditas berjangka memiliki perbedaan hukum menurut mekanisme akadnya, sehingga tidak semua bentuk perdagangan berjangka dapat langsung dinilai halal atau haram.
Monitorday.com– Perdagangan komoditas berjangka menjadi salah satu instrumen yang berkembang dalam sistem keuangan modern, tetapi mekanismenya menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan prinsip syariah. Menurut Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), transaksi jual beli harus memenuhi ketentuan syariah, termasuk kejelasan objek, akad, harga, serta terhindar dari unsur riba, gharar, dan maisir. Karena itu, hukum komoditas berjangka perlu dilihat berdasarkan struktur dan mekanisme transaksi yang digunakan.
Dasar umum dalam muamalah terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 275, yang menegaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Al-Qur’an juga memberikan prinsip penting mengenai transaksi tidak tunai dalam QS Al-Baqarah ayat 282, yang memerintahkan agar transaksi utang piutang untuk jangka waktu tertentu dicatat dengan jelas. Kedua ayat tersebut menjadi landasan bahwa perdagangan pada dasarnya diperbolehkan, tetapi mekanisme dan akadnya harus memenuhi ketentuan syariah.
Dalil lain yang relevan adalah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan HR Muslim, “Barang siapa membeli makanan, janganlah ia menjualnya hingga ia menerimanya.” Hadis tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pembahasan kepemilikan dan qabdh (penguasaan) barang sebelum barang dijual kembali. Dalam konteks komoditas berjangka, persoalan apakah komoditas benar-benar dimiliki dan dikuasai oleh pihak yang menjual menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Masalah muncul apabila kontrak berjangka hanya menjadi sarana spekulasi atas perubahan harga tanpa adanya transaksi komoditas yang memenuhi ketentuan syariah. Jika transaksi mengandung gharar (ketidakjelasan yang terlarang), maisir (spekulasi/perjudian), atau riba, maka terdapat persoalan syariah yang serius. Allah SWT melarang maisir dalam QS Al-Ma’idah ayat 90, sementara Rasulullah SAW melarang transaksi yang mengandung gharar sebagaimana diriwayatkan oleh HR Muslim.
Namun, konsep perdagangan berjangka tidak serta-merta identik dengan perjudian. Dalam fikih muamalah terdapat akad-akad yang memungkinkan transaksi dengan penyerahan barang pada waktu kemudian, dengan persyaratan tertentu. Salah satunya adalah akad salam, yaitu pembayaran dilakukan di muka sedangkan barang diserahkan kemudian dengan spesifikasi yang jelas. Rasulullah SAW membolehkan akad salam dengan ketentuan ukuran, timbangan, dan waktu penyerahan harus diketahui, sebagaimana hadis riwayat HR Bukhari dan Muslim.
Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara komoditas berjangka yang memiliki struktur akad syariah dan kontrak futures konvensional yang mekanismenya tidak memenuhi ketentuan syariah. Dalam praktik pasar modern, aspek seperti margin, leverage, penyelesaian secara tunai (cash settlement), kepemilikan aset, serta mekanisme short selling dapat memengaruhi penilaian hukumnya.
Di Indonesia, perdagangan komoditas berjangka berada dalam kerangka regulasi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Sementara dari perspektif syariah, penilaian tidak cukup hanya melihat nama instrumennya, tetapi harus memeriksa akad, objek transaksi, mekanisme pembayaran, penyerahan, serta risiko yang ditanggung para pihak. Dengan pendekatan tersebut, transaksi yang memenuhi prinsip jual beli syariah dapat dibedakan dari transaksi yang dominan mengandung spekulasi.
Karena itu, umat Islam yang ingin bertransaksi komoditas berjangka perlu memahami akad dan mekanisme produknya secara rinci, bukan hanya melihat label “komoditas” atau “syariah”. Menurut DSN-MUI, prinsip dasar muamalah adalah kebolehan transaksi selama tidak terdapat dalil yang melarangnya dan selama unsur-unsur yang dilarang syariah dapat dihindari. Dengan demikian, hukum komoditas berjangka bersifat kasuistis, bergantung pada bentuk akad dan praktik transaksinya.
Catatan: Pembahasan ini merupakan perspektif umum fikih muamalah, bukan fatwa untuk kontrak tertentu. Untuk menentukan status syariah suatu produk futures secara spesifik, kontrak dan mekanisme produknya perlu diperiksa berdasarkan fatwa DSN-MUI serta ketentuan regulator yang berlaku.
