Monitorday.com– Agenda Ketahanan dan Swasembada Pangan yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan perkembangan signifikan di berbagai sektor. Pemerintah mengeklaim capaian tersebut terlihat dari keberhasilan peningkatan produksi beras nasional, penguatan cadangan pangan pemerintah, hingga pembangunan infrastruktur logistik pangan di berbagai daerah.
Salah satu capaian utama adalah deklarasi kembalinya swasembada beras nasional. Produksi beras domestik Indonesia disebut mencapai 34,71 juta ton, menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Pemerintah menyatakan target swasembada yang sebelumnya diproyeksikan selesai dalam empat tahun berhasil dipercepat hanya dalam waktu satu tahun. Melimpahnya produksi dalam negeri juga membuat pemerintah menghentikan impor beras karena stok nasional dinilai mencukupi kebutuhan masyarakat.
Lonjakan hasil panen turut berdampak pada meningkatnya cadangan beras pemerintah. Hingga Mei 2026, stok beras nasional yang dikuasai pemerintah dilaporkan mencapai 5,3 juta ton. Kondisi tersebut membuat kapasitas gudang milik Perum Bulog mengalami kepadatan sehingga pemerintah harus menyewa gudang tambahan untuk menampung hasil produksi.
Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pangan nasional, Presiden Prabowo juga melakukan groundbreaking pembangunan 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri di Tuban, Jawa Timur pada 16 Mei 2026. Gudang tersebut dirancang memiliki kapasitas masing-masing 1.000 ton dan akan terintegrasi dengan rantai distribusi logistik pangan nasional, termasuk untuk mendukung pasokan bahan baku program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di sisi kesejahteraan petani, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menerapkan strategi stabilisasi harga pangan berbasis tiga pilar, yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan kelancaran distribusi pangan. Kebijakan itu dinilai berhasil menjaga Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani pada kisaran Rp6.815 hingga Rp7.000 per kilogram, lebih tinggi dibanding Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi tersebut memberi ruang keuntungan yang lebih baik bagi petani selama musim panen raya.
Pemerintah bersama Komisi IV DPR RI juga mempercepat program penyerapan gabah petani minimal 4 juta ton setara beras guna menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah tersebut dipandang penting untuk memperkuat daya tahan pangan nasional sekaligus menjaga keseimbangan pasar domestik.
Keberhasilan swasembada beras kini mulai diperluas ke komoditas strategis lainnya, terutama jagung. Presiden Prabowo telah menandatangani Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026 yang berfokus pada perlindungan harga jagung lokal, peningkatan kesejahteraan petani pangan, penyediaan bibit unggul, serta distribusi pupuk yang lebih tepat sasaran.
Di sektor perluasan lahan pertanian, pemerintah terus mendorong proyek cetak sawah skala besar di Merauke, Papua Selatan. Pada tahap awal, optimalisasi lahan seluas 40 ribu hektar dilaporkan telah mencapai target penuh. Perbaikan drainase, bantuan pengolahan lahan sebesar Rp900 ribu per hektar, serta dukungan pupuk membuat petani yang sebelumnya hanya panen sekali setahun kini mampu melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Pemerintah saat ini melanjutkan pengembangan koridor lumbung pangan nasional melalui penambahan cetak sawah baru seluas 100 ribu hektar menuju target akhir 1 juta hektar di kawasan Wanam hingga Mutik, Papua Selatan. Program tersebut diproyeksikan menjadi salah satu fondasi utama ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.