Connect with us

Review

Memahami Dasar Jual Beli Saham

Investasi saham semakin diminati masyarakat Indonesia, namun pemula perlu memahami prinsip dasar, risiko, dan strategi sebelum mulai bertransaksi.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Minat masyarakat Indonesia terhadap investasi saham terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Kemudahan membuka rekening efek secara digital, berkembangnya aplikasi investasi, serta meningkatnya edukasi pasar modal telah mendorong semakin banyak generasi muda memasuki dunia investasi. Namun, di balik peluang memperoleh keuntungan, investasi saham tetap memiliki risiko yang perlu dipahami melalui literasi keuangan yang memadai.

Saham merupakan bukti kepemilikan seseorang terhadap sebagian perusahaan yang tercatat di pasar modal. Dengan memiliki saham, investor berhak memperoleh potensi keuntungan dalam bentuk capital gain, yaitu selisih harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga beli, serta dividen, yaitu pembagian sebagian laba perusahaan apabila diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sebaliknya, investor juga berpotensi mengalami capital loss apabila harga jual lebih rendah daripada harga pembelian.

Bagi pemula, langkah pertama adalah membuka rekening dana nasabah (RDN) melalui perusahaan sekuritas yang telah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan dan menjadi anggota Bursa Efek Indonesia. Setelah rekening aktif, investor dapat menyetor dana dan mulai membeli saham melalui aplikasi perdagangan. Saat membeli saham, investor menentukan jumlah lot dan harga yang diinginkan. Satu lot saham di Indonesia terdiri atas 100 lembar saham.

Sebelum membeli saham, investor disarankan melakukan analisis sederhana terhadap perusahaan. Analisis fundamental mencakup penilaian terhadap kinerja keuangan, pertumbuhan laba, tingkat utang, prospek bisnis, serta kualitas manajemen. Sementara itu, analisis teknikal memanfaatkan pergerakan harga dan volume transaksi untuk membantu menentukan waktu yang relatif tepat dalam membeli maupun menjual saham. Kedua pendekatan tersebut dapat saling melengkapi sesuai tujuan investasi masing-masing.

Prinsip penting lainnya adalah memahami manajemen risiko. Pemula sebaiknya tidak menempatkan seluruh dana pada satu saham, melainkan melakukan diversifikasi ke beberapa sektor agar risiko dapat tersebar. Investor juga dianjurkan menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi, bukan dana kebutuhan sehari-hari atau dana darurat. Selain itu, menetapkan target keuntungan (take profit) dan batas kerugian (stop loss) dapat membantu mengendalikan emosi ketika pasar berfluktuasi.

Dalam praktiknya, harga saham dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kinerja perusahaan, kondisi ekonomi nasional, suku bunga, inflasi, nilai tukar rupiah, hingga sentimen global. Oleh karena itu, investor pemula perlu membiasakan diri mengikuti laporan keuangan emiten, keterbukaan informasi perusahaan, serta perkembangan ekonomi domestik maupun internasional. Keputusan investasi yang didasarkan pada analisis umumnya lebih baik dibandingkan hanya mengikuti rekomendasi media sosial atau tren sesaat.

Pemerintah bersama regulator pasar modal terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat. Program edukasi yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia, perusahaan sekuritas, perguruan tinggi, maupun komunitas investor bertujuan membangun budaya investasi yang sehat dan berkelanjutan. Dengan memahami konsep dasar jual beli saham, mengenali risiko, serta menerapkan disiplin investasi, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu instrumen untuk membangun kekayaan jangka panjang sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Sepuluh Program Prioritas Prabowo Mulai Tunjukkan Dampak

Berbagai program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan capaian awal di bidang kesehatan, pendidikan, perumahan, pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejumlah program prioritas nasional mulai memperlihatkan capaian yang signifikan. Pemerintah menempatkan berbagai program tersebut sebagai instrumen untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa.

Program yang paling menonjol adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menargetkan program ini menjangkau sekitar 82,9 juta penerima manfaat yang terdiri dari siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, MBG juga menciptakan efek berganda terhadap ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, UMKM, dan jaringan dapur penyedia makanan.

Di sektor kesehatan, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu upaya terbesar pemerintah dalam membangun budaya deteksi dini penyakit. Program ini memungkinkan masyarakat memperoleh pemeriksaan kesehatan tanpa biaya sehingga berbagai penyakit tidak menular dapat ditemukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan mahal untuk ditangani. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga menjalankan program penuntasan tuberkulosis serta pembangunan rumah sakit berkualitas untuk memperluas akses layanan kesehatan.

Pada bidang pendidikan dan pengentasan kemiskinan, pemerintah mengembangkan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Program ini dipadukan dengan rehabilitasi sekolah serta pembangunan Sekolah Unggul Garuda untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Pemerintah berharap pendekatan tersebut dapat memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui peningkatan akses pendidikan yang lebih merata.

Sementara itu, Program 3 Juta Rumah mulai menunjukkan perkembangan dengan ratusan ribu unit rumah yang telah dibangun maupun direnovasi. Program ini tidak hanya menyediakan hunian yang lebih layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri konstruksi, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan sektor bahan bangunan. Dampaknya menjangkau berbagai lapisan ekonomi mulai dari pekerja bangunan hingga pelaku usaha kecil di daerah.

Di tingkat desa, pemerintah mengandalkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Program ini dirancang untuk memperkuat akses permodalan, distribusi barang, pemasaran hasil produksi, dan pengembangan usaha masyarakat. Bersama program Kampung Nelayan serta penguatan UMKM, koperasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat desa secara berkelanjutan.

Pada sektor pangan, pemerintah menjalankan program lumbung pangan, pembangunan bendungan, dan pengembangan jaringan irigasi untuk mendukung target swasembada pangan nasional. Investasi pada infrastruktur pertanian ini bertujuan meningkatkan produktivitas lahan, menjaga stabilitas pasokan pangan, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas strategis.

Secara keseluruhan, sepuluh program prioritas yang mencakup MBG, CKG, Sekolah Rakyat, Program 3 Juta Rumah, Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan, Lumbung Pangan, pembangunan bendungan dan irigasi, penuntasan tuberkulosis, serta pembangunan rumah sakit berkualitas dirancang untuk mengatasi berbagai dimensi kemiskinan secara bersamaan. Mulai dari gizi, kesehatan, pendidikan, perumahan, akses ekonomi, hingga produktivitas masyarakat.

Pengamat menilai keberhasilan jangka panjang program-program tersebut akan sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan, pengawasan anggaran, ketepatan sasaran penerima manfaat, serta kemampuan pemerintah menjaga kesinambungan program. Namun, berbagai capaian awal yang mulai terlihat menunjukkan bahwa agenda pembangunan yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat mulai bergerak dari tahap perencanaan menuju implementasi yang lebih luas di lapangan.

Continue Reading

News

Program 3 Juta Rumah Tembus 324 Ribu Unit, Pemerintah Kejar Akselerasi Hingga Akhir Tahun

Hingga pertengahan Juni 2026, realisasi Program 3 Juta Rumah mencapai 324.213 unit. Pemerintah kini fokus mempercepat pembangunan dan renovasi rumah melalui kolaborasi negara, pengembang, swadaya, dan gotong royong.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Program Pembangunan dan Renovasi 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan perkembangan. Berdasarkan data Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) hingga 13 Juni 2026, realisasi program tersebut telah mencapai 324.213 unit rumah secara nasional.

Capaian tersebut disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, yang menyebutkan bahwa pembangunan dan renovasi rumah berlangsung melalui empat jalur utama, yakni jalur negara, pengembang, swadaya masyarakat, dan gotong royong. Dari total realisasi yang tercatat, jalur pengembang menjadi kontributor terbesar dengan 181.291 unit rumah yang telah terealisasi.

Selain sektor pengembang, jalur swadaya masyarakat juga menunjukkan progres yang cukup signifikan. Pemerintah menilai partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat penyediaan hunian layak sekaligus memperbaiki kualitas rumah yang selama ini masuk kategori tidak layak huni. Program ini juga terintegrasi dengan skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026.

Pemerintah menegaskan bahwa target 3 juta rumah tidak mungkin dicapai hanya melalui anggaran negara. Karena itu, strategi yang ditempuh adalah membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan pengembang, perbankan, pemerintah daerah, BUMN, sektor swasta, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Berbagai insentif juga terus didorong untuk mempercepat pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Di sisi lain, sejumlah proyek pendukung mulai bermunculan untuk memperkuat program tersebut. Konsep hunian vertikal bagi MBR, pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD), hingga pemanfaatan lahan milik BUMN dan swasta menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjawab kebutuhan perumahan di kawasan perkotaan yang semakin padat.

Meski progres mencapai lebih dari 324 ribu unit menunjukkan kemajuan, tantangan yang dihadapi masih besar. Dengan target jutaan unit rumah dalam beberapa tahun ke depan, pemerintah perlu memastikan ketersediaan lahan, akses pembiayaan murah, percepatan perizinan, serta ketepatan sasaran penerima manfaat. Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, pengembang, dan sektor keuangan dinilai menjadi kunci keberhasilan program yang digadang-gadang sebagai salah satu proyek sosial terbesar dalam sejarah pembangunan perumahan Indonesia.

Continue Reading

News

Tiga Kekuatan yang Mengubah Peta Dunia

Konflik geopolitik modern semakin dipengaruhi oleh perebutan sumber energi, sementara lonjakan kebutuhan listrik untuk kecerdasan buatan (AI) menciptakan dimensi persaingan baru.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perang modern tidak lagi semata-mata dipicu oleh sengketa wilayah atau perbedaan ideologi. Dalam banyak kasus, penguasaan sumber energi menjadi faktor strategis yang menentukan arah konflik. Minyak, gas alam, uranium, hingga logam kritis kini menjadi aset geopolitik yang diperebutkan karena menentukan ketahanan ekonomi, kemampuan industri, dan kekuatan militer suatu negara.

Selama lebih dari satu abad, minyak menjadi “darah” perekonomian dunia. Konflik di Timur Tengah, Laut Kaspia, Afrika Utara, hingga Laut China Selatan sering kali berkaitan dengan akses terhadap cadangan energi atau jalur distribusinya. Selat Hormuz, misalnya, menjadi salah satu titik paling strategis karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Gangguan di kawasan ini dapat memicu lonjakan harga energi global, inflasi, hingga perlambatan ekonomi internasional.

Kini, muncul babak baru dalam persaingan energi, yakni kebutuhan listrik yang sangat besar untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI). Model AI generatif membutuhkan pusat data (data center) yang mengoperasikan ribuan hingga ratusan ribu unit pemroses grafis (GPU). Seluruh infrastruktur tersebut mengonsumsi energi listrik dalam jumlah masif, bahkan setara dengan konsumsi listrik sebuah kota kecil. Seiring meningkatnya penggunaan AI dalam industri, kesehatan, pendidikan, pertahanan, dan pemerintahan, kebutuhan energi diproyeksikan terus melonjak dalam dekade mendatang.

Fenomena tersebut mengubah cara negara memandang keamanan energi. Jika sebelumnya energi diprioritaskan untuk sektor transportasi dan manufaktur, kini pasokan listrik yang stabil menjadi syarat utama dalam membangun ekosistem AI nasional. Negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Uni Eropa, dan negara-negara Teluk mulai berlomba membangun pembangkit listrik baru, memperluas jaringan transmisi, serta mengembangkan pusat data berskala besar untuk mempertahankan daya saing teknologi.

Persaingan tidak hanya terjadi pada minyak dan gas, tetapi juga pada sumber energi masa depan. Pembangkit listrik tenaga nuklir kembali mendapat perhatian karena mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar secara stabil selama 24 jam. Di sisi lain, investasi pada energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, hidro, dan panas bumi terus meningkat sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memenuhi target penurunan emisi karbon. Baterai penyimpanan energi dan teknologi jaringan listrik pintar (smart grid) juga menjadi komponen penting dalam menopang kebutuhan AI.

Selain energi, perlombaan AI turut meningkatkan permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, kobalt, grafit, dan unsur tanah jarang (rare earth elements). Mineral tersebut dibutuhkan untuk baterai, semikonduktor, server, hingga infrastruktur kelistrikan. Akibatnya, negara yang memiliki cadangan mineral strategis memperoleh posisi tawar baru dalam geopolitik global. Persaingan investasi di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara pun semakin intensif.

Perang di masa depan kemungkinan tidak hanya dipicu oleh perebutan ladang minyak, tetapi juga oleh upaya menguasai rantai pasok energi dan teknologi digital. Serangan terhadap jaringan listrik, kabel bawah laut, satelit komunikasi, hingga pusat data dapat melumpuhkan ekonomi suatu negara tanpa harus menguasai wilayahnya secara fisik. Dengan demikian, keamanan energi dan keamanan siber menjadi dua sisi dari mata uang yang sama dalam era AI.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, potensi panas bumi yang besar, serta pasar digital yang terus berkembang, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting dalam rantai pasok ekonomi AI. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila diiringi dengan pembangunan pembangkit listrik yang andal, penguatan jaringan transmisi, pengembangan pusat data nasional, serta kebijakan hilirisasi mineral yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi industri dalam negeri.

Pada akhirnya, perang, energi, dan AI membentuk sebuah segitiga strategis baru. Negara yang mampu menguasai sumber energi, membangun infrastruktur kelistrikan yang tangguh, dan memimpin inovasi AI akan memiliki keunggulan ekonomi, militer, dan politik yang semakin menentukan dalam tatanan dunia abad ke-21.

Continue Reading

News

Stabilitas Kurs Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional

Fluktuasi nilai tukar Rupiah sepanjang 2026 menunjukkan besarnya pengaruh dinamika global terhadap ekonomi domestik, mulai dari harga obat hingga biaya produksi industri nasional.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com-Rupiah sebagai mata uang resmi Indonesia kembali menjadi sorotan di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Nilai tukar mata uang nasional tidak hanya mencerminkan kondisi pasar keuangan, tetapi juga menjadi indikator penting kesehatan ekonomi suatu negara. Dalam beberapa bulan terakhir, pergerakan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan perubahan arus modal internasional.

Sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia, Rupiah diterbitkan dan dikelola oleh Bank Indonesia. Nama Rupiah sendiri berasal dari kata Sanskerta “Rupya” yang berarti kekayaan atau kemakmuran, mencerminkan nilai historis dan simbolis yang melekat pada mata uang nasional. Selain berfungsi sebagai alat tukar, Rupiah juga menjadi simbol kedaulatan ekonomi negara.

Pada pertengahan 2026, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS. Sebelumnya, Rupiah sempat mengalami tekanan hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS, kebutuhan pembayaran dividen perusahaan asing, serta meningkatnya permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor.

Meski demikian, sejumlah langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia mulai menunjukkan hasil positif. Intervensi pasar valas, penguatan kerja sama dengan bank sentral negara mitra, serta pengelolaan likuiditas yang lebih aktif membantu mengurangi tekanan terhadap Rupiah. Penguatan sekitar satu persen dalam beberapa periode terakhir menjadi sinyal bahwa pasar mulai merespons kebijakan stabilisasi yang ditempuh otoritas moneter.

Dampak pergerakan kurs Rupiah tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar keuangan, tetapi juga masyarakat luas. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan harga barang impor, termasuk bahan baku industri dan produk kesehatan. Industri farmasi misalnya menghadapi kenaikan biaya akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Di sektor pangan, produsen yang menggunakan bahan baku impor seperti kedelai juga merasakan peningkatan biaya produksi yang dapat memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.

Di sisi lain, depresiasi Rupiah juga memberikan peluang bagi sektor-sektor yang berorientasi ekspor. Produk ekspor Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif di pasar internasional karena harga dalam mata uang asing menjadi lebih murah. Oleh karena itu, tantangan pemerintah bukan sekadar menjaga agar Rupiah tetap kuat, melainkan memastikan stabilitas nilai tukar yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Ke depan, stabilitas Rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga internasional, kondisi geopolitik, serta keberhasilan Indonesia memperkuat fundamental ekonominya. Peningkatan investasi, diversifikasi ekspor, hilirisasi industri, dan penguatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional menjadi beberapa strategi yang dapat memperkuat ketahanan Rupiah menghadapi gejolak global. Dalam konteks tersebut, menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan intervensi moneter semata.

Continue Reading

News

AI Medis dan GovTech Jadi Andalan Baru, Diagnosis Lebih Akurat hingga Layanan Publik Kian Efisien

Pemanfaatan kecerdasan buatan semakin meluas dari sektor kesehatan hingga pemerintahan, menghadirkan akurasi diagnosis yang lebih tinggi sekaligus mempercepat transformasi layanan publik berbasis data.

Amalan Saliha

Published

on

[domain_capita]- Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin menunjukkan dampak nyata di berbagai sektor strategis. Dua bidang yang saat ini menjadi fokus utama pemanfaatan AI adalah layanan kesehatan dan transformasi pemerintahan digital (GovTech). Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi, akurasi, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Di sektor kesehatan, sistem AI generasi terbaru mulai berperan sebagai pendukung pengambilan keputusan klinis. Salah satu contoh yang banyak diperbincangkan adalah Diagnostic Orchestrator yang dikembangkan oleh Microsoft AI. Sistem tersebut dirancang untuk membantu tenaga kesehatan menganalisis kasus-kasus medis kompleks yang sering kali membutuhkan kombinasi berbagai data klinis, hasil laboratorium, serta riwayat pasien.

Kemampuan AI dalam menganalisis data dalam jumlah besar memungkinkan tingkat akurasi diagnosis yang sangat tinggi. Dalam berbagai pengujian, sistem semacam ini disebut mampu mencapai tingkat akurasi hingga 85,5 persen pada kasus-kasus kompleks. Kehadiran teknologi tersebut dipandang sebagai salah satu solusi potensial untuk mengatasi kekurangan tenaga medis yang masih menjadi tantangan di banyak negara, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.

Sementara itu, di sektor pemerintahan, teknologi AI semakin banyak digunakan untuk memperkuat tata kelola berbasis data. Melalui pendekatan GovTech, pemerintah memanfaatkan AI untuk membersihkan dan memvalidasi data kependudukan nasional, mengidentifikasi data ganda, serta meningkatkan kualitas basis data yang menjadi fondasi berbagai program pelayanan publik.

Selain pengelolaan data, AI juga dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi kecurangan administrasi dan mempercepat proses pengawasan layanan publik. Algoritma kecerdasan buatan mampu mengenali pola-pola anomali yang sulit terdeteksi secara manual, sehingga dapat membantu pemerintah meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan program serta anggaran negara.

Di Indonesia, implementasi GovTech menjadi bagian penting dari agenda transformasi digital nasional. Integrasi data lintas kementerian dan lembaga diharapkan dapat menciptakan layanan publik yang lebih cepat, tepat sasaran, dan efisien. Pemanfaatan AI dalam administrasi perpajakan, verifikasi data bantuan sosial, hingga pengelolaan identitas digital diproyeksikan menjadi pendorong utama modernisasi birokrasi dalam beberapa tahun ke depan.

Penggunaan AI di bidang kesehatan dan pemerintahan menunjukkan bahwa teknologi ini tidak lagi sekadar alat pendukung, melainkan mulai menjadi infrastruktur strategis yang menentukan kualitas layanan publik dan daya saing suatu negara. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengembangan AI tetap dibarengi dengan regulasi yang kuat, perlindungan data pribadi, serta pengawasan etis agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Continue Reading

News

AI Terpadu dan Komputasi Kuantum Pasca-LLM

Industri teknologi mulai meninggalkan ketergantungan pada satu model AI besar dan beralih ke sistem AI terpadu yang menggabungkan banyak model spesialis, sementara integrasi awal dengan komputasi kuantum membuka peluang baru dalam pemecahan masalah kompleks.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Perkembangan kecerdasan buatan memasuki fase baru yang ditandai dengan pergeseran dari pendekatan model tunggal menuju arsitektur AI terpadu (Unified AI). Jika beberapa tahun terakhir industri berfokus pada pengembangan Large Language Model (LLM) berukuran sangat besar, kini perusahaan teknologi mulai mengombinasikan berbagai model spesialis untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan biaya operasional.

Pendekatan Multi-Model memungkinkan satu sistem AI memanfaatkan model yang berbeda sesuai kebutuhan tugas. Sebagai contoh, model bahasa digunakan untuk analisis teks, model visi komputer untuk pemrosesan gambar, dan model analitik untuk pengolahan data numerik. Sistem kemudian memilih model yang paling tepat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Strategi ini dinilai lebih hemat dibandingkan memaksa satu model raksasa menangani seluruh jenis tugas.

Perusahaan-perusahaan AI besar juga mulai menerapkan konsep “router AI”, yakni mekanisme yang secara otomatis mengarahkan permintaan pengguna ke model yang paling sesuai. Pendekatan tersebut tidak hanya mengurangi konsumsi komputasi yang mahal, tetapi juga meningkatkan kualitas keluaran karena setiap model bekerja pada bidang keahliannya masing-masing. Tren ini diperkirakan akan menjadi standar baru dalam pengembangan AI perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Di saat yang sama, industri mulai mengeksplorasi integrasi AI dengan komputasi kuantum. Meskipun komputer kuantum komersial skala besar masih dalam tahap pengembangan, sejumlah perusahaan teknologi telah menguji arsitektur hybrid yang menggabungkan prosesor konvensional, AI, dan komputasi kuantum. Tujuannya adalah memanfaatkan keunggulan masing-masing teknologi untuk menyelesaikan persoalan yang sulit ditangani komputer klasik.

Salah satu potensi terbesar kombinasi AI-kuantum adalah optimasi matematis tingkat lanjut. Bidang seperti desain obat, simulasi material baru, logistik global, analisis risiko keuangan, hingga pemecahan masalah enkripsi dapat memperoleh manfaat signifikan dari kemampuan komputasi kuantum yang dipadukan dengan kecerdasan AI. Dalam skenario ini, AI berperan mengidentifikasi pola dan menentukan strategi pemecahan masalah, sementara komputer kuantum menjalankan perhitungan yang sangat kompleks.

Meski masih berada pada tahap awal, banyak analis menilai integrasi Unified AI dan komputasi kuantum akan menjadi fondasi gelombang teknologi berikutnya setelah era AI generatif. Jika AI generatif mengubah cara manusia berinteraksi dengan informasi, maka AI terpadu berbasis multi-model dan komputasi kuantum berpotensi mengubah cara dunia menyelesaikan persoalan ilmiah, industri, dan keamanan siber yang selama ini dianggap terlalu rumit untuk ditangani teknologi konvensional.

Continue Reading

News

MANGOS Gantikan FAANG, AI Makin Diawasi dan Komputasi Kuantum Kian Dekat ke Industri

Pergeseran kekuatan pasar teknologi global ditandai oleh munculnya kelompok MANGOS, pengetatan regulasi AI, serta percepatan pengembangan komputasi kuantum yang diproyeksikan mengubah lanskap industri digital dunia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com–Peta teknologi global tengah mengalami perubahan besar yang ditandai oleh bergesernya pusat kekuatan pasar modal, meningkatnya pengawasan terhadap kecerdasan buatan (AI), serta percepatan pengembangan teknologi komputasi generasi berikutnya. Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian investor dan regulator dunia tertuju pada perusahaan-perusahaan teknologi yang menjadi motor utama transformasi digital global.

Di sektor pasar modal, momentum terbesar datang dari SpaceX yang disebut mencetak sejarah melalui penawaran umum perdana (IPO) dengan valuasi yang menembus lebih dari 2 triliun dolar AS. Fenomena ini turut memunculkan istilah baru di Wall Street, yakni “MANGOS”, yang dianggap mewakili generasi baru raksasa teknologi dunia. Akronim tersebut merujuk pada Microsoft dan Meta, Anthropic, Nvidia, Google, OpenAI, serta SpaceX. Pergeseran ini menunjukkan bahwa dominasi perusahaan berbasis AI dan komputasi canggih semakin menggantikan era FAANG atau F = Facebook (sekarang Meta) A = Apple A = Amazon N = Netflix dan G = Google (Alphabet) yang selama satu dekade terakhir menjadi simbol saham teknologi unggulan.

Di sisi regulasi, perkembangan AI menghadapi pengawasan yang semakin ketat. Pemerintah Amerika Serikat disebut memperluas kontrol terhadap model AI canggih dengan alasan keamanan nasional. Salah satu dampaknya adalah pembatasan akses terhadap model-model tertentu yang dikembangkan Anthropic. Pada saat yang sama, OpenAI juga menghadapi penyelidikan terkait potensi risiko terhadap pengguna. Pemerintah AS bahkan mulai mengarah pada kebijakan yang mewajibkan pengujian keamanan siber terhadap model AI mutakhir sebelum diluncurkan secara luas ke masyarakat.

Transformasi besar juga terjadi pada dunia komputasi dan sistem operasi. Microsoft memperkenalkan konsep komputasi berbasis agen (agent-first computing) melalui Project Solara, yang menempatkan AI Agent sebagai pusat interaksi pengguna lintas perangkat. Sementara itu, Apple memperkuat strategi Apple Intelligence melalui pembaruan Siri dan peningkatan kemampuan produktivitas pada sistem operasinya. Perubahan ini menandakan bahwa masa depan perangkat digital tidak lagi berfokus pada aplikasi semata, melainkan pada agen AI yang mampu menjalankan tugas secara otomatis dan kontekstual.

Persaingan menuju era komputasi kuantum juga semakin intensif. IBM menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk membangun fasilitas manufaktur chip kuantum komersial yang diklaim mendekati kondisi bebas kesalahan. Di sisi lain, Microsoft menargetkan hadirnya chip kuantum praktis dalam beberapa tahun mendatang. Jika berhasil diwujudkan, teknologi ini berpotensi merevolusi sektor farmasi, keuangan, logistik, hingga keamanan siber dengan kemampuan komputasi yang jauh melampaui komputer konvensional.

Di Indonesia, transformasi digital pemerintah juga terus dipercepat melalui pengembangan GovTech dan integrasi data nasional. Pemanfaatan AI mulai diarahkan untuk membersihkan dan menyelaraskan basis data lintas instansi guna meningkatkan kualitas layanan publik. Bersamaan dengan itu, wacana pembentukan regulasi khusus AI semakin menguat sebagai respons terhadap pesatnya perkembangan teknologi global. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang ekonomi digital sekaligus meminimalkan risiko yang muncul dari penggunaan AI di berbagai sektor strategis.

Continue Reading

News

Mendidih di Ninivala

Temukan keunikan Ninivala, mata air di Pulau Seram yang airnya mendidih tapi dingin. Sebuah permata tersembunyi dengan mitos ‘Kali Jodoh’ yang memikat.

Umar Satiri

Published

on

Airnya biru. Biru sekali. Namanya Ninivala.

Letaknya di perut Pulau Seram. Maluku Tengah. Untuk ke sana, fisik harus kuat. Mental juga harus seperti baja. 

Dari Amahai saja tiga jam. Dari Tehoru masih satu setengah jam lagi. Mendaki. Menanjak. Membelah hutan yang rimbunnya minta ampun.

Tapi begitu sampai di Desa Piliana, lelah itu seperti hilang. Menguap.

Di gerbang masuk, saya bertemu penjaganya. Orang-orang Nahulu. Penampilan mereka khas: kain merah terikat di kepala. Gagah. Mereka adalah penjaga adat yang teguh. Menjaga pintu masuk menuju surga yang tersembunyi itu.

Tiketnya? Hanya Rp 10 ribu. Terlalu murah untuk sebuah keajaiban alam.

Saya turun ke bawah. Mendekat ke air. Di sana, saya melihat fenomena aneh. Ada gelembung-gelembung udara kecil yang muncul dari dasar danau. Dari sela-sela akar pohon purba. Persis air mendidih. Banyak sekali.

Refleks, saya ingin menjauh. Takut panas. Tapi orang lokal hanya tersenyum. Saya coba celupkan tangan. Nyesss!

Ternyata dingin. Sangat dingin.

Itu bukan uap panas. Itu napas bumi. Mata air yang keluar dengan tekanan dari bawah tanah. Menciptakan pemandangan yang magis. Jernihnya luar biasa. Segar sekali.

Masyarakat menyebutnya “Kali Jodoh”. Mitosnya, siapa yang mandi di situ, urusan hatinya bakal dimudahkan. Entah benar atau tidak. Tapi suasananya memang romantis. Menenangkan.

Saking asyiknya menikmati Ninivala, ada kejadian lucu. Sepatu kawan saya hanyut sebelah. Ditelan arus, hilang di sela akar. Dia harus pulang ke Jakarta hanya dengan sebelah sepatu.

Orang-orang di Piliana bilang: itu tanda. Kalau ada yang tertinggal, artinya sang pemilik harus kembali lagi. Ninivala seperti tidak mau dilepaskan begitu saja. Ia ingin kita pulang untuk kedua kalinya.

Bagi saya, Ninivala bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah bukti betapa kayanya pedalaman Maluku. Air yang mendidih tapi dingin. Keindahan yang tersembunyi di balik jalan terjal.

Siapa pun yang pernah ke sana, pasti setuju: Maluku itu bukan cuma soal laut. Di tengah hutannya pun, ada permata yang biru sekali.

Continue Reading

News

Dunia Punya Cara Berbeda Mengukur Kemampuan Siswa

Sistem ujian nasional dan tes akademik di berbagai negara menunjukkan perbedaan besar dalam menentukan kelulusan, pemetaan mutu, hingga seleksi masuk perguruan tinggi.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Sistem ujian nasional dan tes kemampuan akademik di berbagai negara memiliki pola yang sangat beragam. Ada negara yang menjadikan ujian terpusat sebagai penentu utama masa depan pendidikan siswa, sementara negara lain lebih mengandalkan asesmen sekolah, evaluasi lokal, atau seleksi perguruan tinggi secara mandiri.

China menjadi salah satu contoh negara dengan sistem ujian paling kompetitif melalui Gaokao. Ujian masuk perguruan tinggi nasional ini digelar serentak setiap Juni dan menjadi penentu utama bagi siswa untuk masuk ke universitas negeri. Karena bobotnya sangat besar, Gaokao kerap disebut sebagai salah satu ujian paling ketat di dunia.

Korea Selatan juga memiliki sistem ujian yang sangat menentukan, yakni College Scholastic Ability Test atau CSAT yang dikenal dengan nama Suneung. Ujian ini dilaksanakan serentak setiap November. Saking pentingnya, berbagai aktivitas publik seperti jadwal penerbangan hingga jam operasional bursa saham dapat disesuaikan agar tidak mengganggu konsentrasi peserta ujian.

Berbeda dengan China dan Korea Selatan, Amerika Serikat tidak memiliki ujian nasional terpusat untuk kelulusan sekolah. Evaluasi pendidikan lebih banyak ditentukan oleh negara bagian dan distrik sekolah. Namun, untuk masuk perguruan tinggi, siswa biasanya mengikuti tes terstandardisasi seperti SAT atau ACT, meski dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kampus mulai menerapkan kebijakan test-optional.

Inggris menerapkan sistem ujian berjenjang melalui GCSE, IGCSE, dan A-Level. GCSE umumnya ditempuh siswa pada usia sekitar 16 tahun, sementara A-Level diambil pada usia sekitar 18 tahun. Nilai A-Level menjadi salah satu komponen utama dalam pendaftaran ke universitas, terutama untuk program studi dengan tingkat persaingan tinggi.

Di Jepang, kelulusan sekolah tidak ditentukan oleh ujian nasional seperti model lama di beberapa negara. Evaluasi kelulusan dilakukan secara internal oleh masing-masing sekolah. Namun, untuk masuk universitas negeri, siswa mengikuti tes nasional bernama Kyotsu Test yang kemudian dipadukan dengan ujian mandiri dari universitas tujuan.

Indonesia kini juga mengalami perubahan besar dalam sistem evaluasi pendidikan. Ujian Nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan maupun standar nasional penerimaan siswa. Pemerintah menerapkan Asesmen Nasional untuk memetakan mutu pendidikan, sementara Tes Kemampuan Akademik atau TKA bersifat opsional untuk mengukur capaian akademik individu murid.

Seleksi masuk perguruan tinggi di Indonesia dilakukan melalui sejumlah jalur, antara lain Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi, Seleksi Nasional Berdasarkan Tes, dan Jalur Mandiri. Dengan model ini, evaluasi pendidikan tidak lagi hanya bertumpu pada satu ujian tunggal, melainkan menggabungkan pemetaan mutu, rekam prestasi, tes akademik, dan kebijakan masing-masing perguruan tinggi.

Perbandingan berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu model ujian yang sepenuhnya sama. Setiap negara membangun sistem sesuai kebutuhan, sejarah, budaya belajar, dan orientasi kebijakan pendidikannya. Namun, satu hal yang sama adalah ujian dan asesmen tetap menjadi instrumen penting untuk membaca capaian siswa, kualitas sekolah, serta kesiapan generasi muda menghadapi pendidikan lanjutan.

Continue Reading

News

Dari Janji ke Pembuktian: Fase Baru Program Prioritas Pemerintah

Perhatian publik terhadap program prioritas pemerintah kini bergeser ke aspek implementasi. Analisis Sosmon.id mengungkap fokus pada kualitas pelaksanaan dan dampak nyata program.

Umar Satiri

Published

on

DALAM setiap pemerintahan, ada fase ketika perhatian publik masih tertuju pada visi, janji, dan arah kebijakan. Pada fase ini, masyarakat umumnya bertanya: apa yang akan dilakukan pemerintah? Namun ada pula fase berikutnya ketika fokus mulai bergeser. Bukan lagi mengenai apa yang ingin dicapai, melainkan bagaimana program dijalankan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.

Hasil pemantauan Sosmon.id terhadap pemberitaan media daring dan postingan media sosial mengenai sepuluh program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo selama periode 11–28 Mei 2026 menunjukkan bahwa pergeseran tersebut sedang berlangsung. Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Penguatan UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih, Swasembada Pangan, Reformasi Pendidikan, hingga Cek Kesehatan Gratis telah menjadi bagian dari atensi publik di ruang digital. Namun yang menarik, narasi yang berkembang tidak lagi didominasi oleh pembahasan mengenai tujuan program, melainkan mulai bergeser pada kualitas pelaksanaan, tata kelola, efektivitas, serta dampaknya di lapangan.

Analisis ini disusun berdasarkan pemantauan Sosmon.id terhadap 1.252 pemberitaan dan postingan digital yang berasal dari media online serta berbagai platform media sosial selama periode observasi. Data dikumpulkan dari sumber-sumber terbuka seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan media daring nasional, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Artificial Intelligence (AI), Natural Language Processing (NLP), dan Large Language Model (LLM) untuk mengidentifikasi tema dominan, pola narasi, sentimen, serta isu-isu yang berkembang di ruang digital. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang lebih mendalam terhadap arah perhatian publik, tidak hanya berdasarkan volume pemberitaan, tetapi juga konteks yang melatarbelakanginya.

Dari seluruh program yang dipantau, Makan Bergizi Gratis menjadi program yang paling banyak memperoleh perhatian. Namun menariknya, sebagian besar unggahan dan pemberitaan tidak lagi memperdebatkan pentingnya peningkatan gizi anak atau urgensi program tersebut bagi pembangunan sumber daya manusia. Narasi yang berkembang justru berpusat pada aspek implementasi, mulai dari tata kelola, keamanan makanan, efektivitas penggunaan anggaran, hingga berbagai peristiwa yang terjadi dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain, perhatian publik telah bergerak dari level gagasan menuju level pelaksanaan.

“Perhatian publik telah bergeser dari pembahasan mengenai tujuan program menuju kualitas pelaksanaannya.”

Pola serupa juga terlihat pada program Penguatan UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih. Jika pada tahap awal banyak diskusi berfokus pada konsep penguatan ekonomi desa dan pemberdayaan masyarakat, maka dalam periode pemantauan ini perhatian mulai bergeser ke pertanyaan yang lebih teknis dan substantif. Publik mulai menyoroti bagaimana model operasional koperasi dijalankan, bagaimana keterlibatan UMKM lokal diperkuat, serta bagaimana manfaat program dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat desa.

Fenomena yang sama terlihat pada program Swasembada Pangan, Swasembada Energi dan Air, Reformasi Pendidikan, maupun Cek Kesehatan Gratis. Narasi besar mengenai ketahanan pangan, kemandirian energi, peningkatan kualitas pendidikan, dan akses kesehatan masih mendapatkan perhatian positif. Namun ruang digital menunjukkan bahwa masyarakat mulai memberikan perhatian yang lebih besar pada aspek pelaksanaan, jangkauan layanan, transparansi, kualitas pelaksanaan, serta dampak nyata yang dirasakan kelompok sasaran.

Dari perspektif kebijakan publik, kondisi ini sebenarnya merupakan perkembangan yang wajar. Pressman dan Wildavsky menjelaskan bahwa keberhasilan kebijakan pada akhirnya lebih ditentukan oleh implementasi dibandingkan desain awalnya. Ketika sebuah program baru diluncurkan, perhatian publik biasanya masih berpusat pada visi dan tujuan yang ingin dicapai. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai membandingkan janji kebijakan dengan pengalaman yang mereka rasakan secara langsung. Pada fase inilah keberhasilan program tidak lagi diukur dari seberapa baik gagasannya dikomunikasikan, tetapi dari seberapa baik program tersebut dijalankan di lapangan.

Menariknya, sebagian besar atensi digital terhadap program-program prioritas pemerintah berkembang melalui platform berbasis visual seperti Instagram dan TikTok yang mendominasi distribusi unggahan selama periode observasi. Karakteristik platform ini membuat pengalaman lapangan memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan persepsi publik. Sebuah keberhasilan implementasi dapat dengan cepat menyebar dan memperkuat kepercayaan publik. Sebaliknya, kendala pelaksanaan yang terjadi di lapangan juga dapat dengan mudah menjadi perhatian luas dalam waktu singkat.

Di sinilah muncul perubahan penting yang perlu dipahami. Jika pada masa lalu reputasi sebuah program lebih banyak dibangun melalui komunikasi kebijakan, saat ini reputasi program semakin ditentukan oleh pengalaman implementasi yang terdokumentasikan dalam berbagai unggahan digital. Publik tidak hanya menerima informasi mengenai sebuah program, tetapi juga menyaksikan bagaimana program tersebut dijalankan melalui beragam konten yang beredar di media sosial.

Karena itu, tantangan berikutnya bagi program-program prioritas pemerintah bukan lagi sekadar meningkatkan tingkat pengenalan publik. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan kualitas pelaksanaan mampu memenuhi ekspektasi yang telah terbentuk. Semakin tinggi perhatian publik terhadap suatu program, semakin besar pula tuntutan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi implementasi.

Bagi pemerintah, kondisi ini tidak perlu dibaca sebagai sinyal negatif. Justru sebaliknya, meningkatnya perhatian terhadap aspek pelaksanaan menunjukkan bahwa program-program prioritas telah berhasil masuk ke dalam radar perhatian publik. Masyarakat tidak lagi bertanya mengenai keberadaan program, tetapi mulai mengevaluasi hasil dan pelaksanaannya. Dalam banyak kasus, fase ini merupakan tanda bahwa sebuah kebijakan telah bergerak dari tahap pengenalan menuju tahap pembuktian.

Dari perspektif media monitoring, temuan ini juga menunjukkan pentingnya pemantauan narasi digital secara berkelanjutan. Postingan media sosial dan pemberitaan digital bukan hanya merekam apa yang sedang menjadi perhatian publik, tetapi juga memberikan sinyal awal mengenai isu implementasi yang berpotensi berkembang lebih besar. Dengan memahami pola perhatian publik sejak dini, pemerintah dapat merumuskan langkah komunikasi, mitigasi risiko, dan perbaikan kebijakan secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Kesimpulannya, hasil analisis Sosmon.id menunjukkan bahwa program-program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo telah memasuki fase baru. Perhatian publik di ruang digital mulai bergeser dari pembahasan mengenai tujuan program menuju kualitas pelaksanaannya. Pergeseran ini menandakan bahwa program-program tersebut semakin dikenal dan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Dalam konteks tersebut, keberhasilan ke depan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan visi kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan memastikan implementasi yang konsisten, akuntabel, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Continue Reading
News3 menit ago

Prabowo Apresiasi Lompatan Inovasi Anak Bangsa, Akademisi Diminta Hadirkan Solusi untuk Indonesia

Review34 menit ago

Memahami Dasar Jual Beli Saham

News8 jam ago

Vatikan Dorong Riset Agentic AI Berorientasi pada Martabat Manusia

News9 jam ago

Momentum Pemulihan Menguat di Tengah Tantangan Global

News10 jam ago

Sepuluh Program Prioritas Prabowo Mulai Tunjukkan Dampak

News11 jam ago

Percepat Industrialisasi Nasional, Prabowo Minta Perguruan Tinggi Cetak SDM Unggul

LakeyBanget11 jam ago

Luar Biasa! Mental Pantang Menyerah, Ekuador Sabet Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026

News13 jam ago

Kemendikdasmen Gandeng TNI Percepat Rehabilitasi 190 Sekolah Terdampak Bencana di Aceh

News13 jam ago

Koding dan KA Masuk Prioritas Pendidikan Nasional 2027, Kemendikdasmen Siapkan Tambahan Anggaran

LakeyBanget21 jam ago

Bersinar di Piala Dunia 2026, Vinicius Samai Rekor Ronaldo dan Rivaldo

News22 jam ago

OJK: 40 Persen Layanan Nasabah Bank Berbasis AI

LakeyBanget22 jam ago

Pedagang Online Bersiap, Marketplace Wajib Potong PPh Mulai Bulan Depan

News23 jam ago

Menuju Swasembada Energi, B50 Resmi Meluncur 1 Juli

News23 jam ago

Revitalisasi SMK Diperkuat, Kemendikdasmen Siapkan Lulusan Vokasi Bersaing di Kancah Global

News1 hari ago

Kapal Gamsunoro Milik Pertamina Tembus Selat Hormuz, Pertamax Berpeluang Turun?

News1 hari ago

Program 3 Juta Rumah Tembus 324 Ribu Unit, Pemerintah Kejar Akselerasi Hingga Akhir Tahun

News1 hari ago

Tenggat November Demi Status Emerging Market

LakeyBanget1 hari ago

Ducati Resmi Gaet Acosta, Duet Maut Bareng Marquez Siap Guncang MotoGP 2027

News1 hari ago

Perkuat Kualitas Pendidikan, DPR Usul Gaji Guru Jadi Segini

News1 hari ago

Abdul Mu’ti Dorong Muhammadiyah Berinovasi, Soroti Sekolah yang Kekurangan Murid