DI TENGAH riuh rendah wacana ekonomi nasional, satu nama yang beberapa bulan terakhir mencuri atensi publik adalah Purbaya Yudhi Sadewa. Kehadirannya begitu organik, nyaris tanpa strategi komunikasi politik yang kentara. Ia muncul bukan karena skandal, bukan karena konflik, tetapi karena sebuah fenomena yang lebih halus: ia menjadi media darling baru, terutama di ranah digital. Ruang yang biasanya didominasi figur-figur flamboyan kini justru diramaikan oleh seorang teknokrat yang identik dengan tabel, APBN, dan dinamika fiskal.
Kemunculan ini dapat dipahami melalui lensa Teori Framing Erving Goffman, yang menegaskan bahwa publik tidak pernah melihat realitas secara utuh; mereka melihatnya melalui bingkai-bingkai tertentu. Dalam kasus Purbaya, bingkai itu berlapis: seorang menteri yang turun langsung mengajar di kelas, seorang teknokrat yang berbicara lugas tentang kebijakan makro, sekaligus figur yang diseret masuk ke pusaran isu sensitif seperti saran World Bank atau rencana redenominasi.
Framing yang terbentuk bukanlah sesuatu yang terpusat atau dikendalikan oleh satu institusi. Ia tumbuh dari interaksi publik, dari komentar acak, dari potongan video TikTok yang viral, dari unggahan Instagram yang estetik, dari analisis YouTube yang lebih panjang. Semua itu membentuk satu mosaik besar tentang siapa Purbaya di mata publik.
Data monitoring yang dilakukan melalui platform Sosmon.id memperlihatkan betapa kuatnya dinamika ini. Sepanjang November 2025, ada 234 percakapan digital yang menyebut nama Purbaya. Puncaknya terjadi pada 13 November, ketika 136 unggahan muncul dalam satu hari dan seluruhnya berasal dari media sosial. Tidak ada media arus utama yang terlibat. Ini menegaskan satu hal penting: reputasi Purbaya kini dibentuk oleh narasi digital—bukan oleh ruang redaksi, dan Sosmon.id menjadi jendela yang membantu membaca pergeseran tersebut dengan lebih presisi.
Pertarungan di Ruang Digital
Citra teknokrat biasanya bergerak pelan. Namun pada diri Purbaya, narasi publik bergerak cepat, secepat ritme scroll TikTok dan Instagram. Momen ketika ia berdiri di depan kelas SMA, mengajar konsep dasar keuangan pribadi, menjadi titik paling humanis dalam seluruh rangkaian pemberitaan digital. Foto dan video itu menyebar, direproduksi ulang, dipotong, diberi caption, dan akhirnya membentuk bingkai yang hangat: seorang pejabat yang membumi, menyapa generasi muda tanpa jarak, tanpa podium.
Namun framing positif ini berjalan berdampingan dengan bingkai lain yang lebih rumit. Ketika isu tentang surat World Bank yang menyarankan agar pemerintah tidak membangun kilang muncul kembali, narasinya cepat sekali mengalir dari satu akun TikTok ke akun lainnya. Kata kuncinya sama, tetapi penekanan emosinya berbeda. Ada yang menyampaikannya sebagai kritik, ada yang menautkannya dengan isu ketidakpastian ekonomi, dan ada pula yang menjadikannya sebagai bahan spekulasi. Dalam bingkai itulah Purbaya ditarik menjadi representasi kompetensi pemerintah secara keseluruhan.
Efeknya tidak bisa diabaikan. Meskipun hanya terdapat sejumlah kecil unggahan dengan sentimen negatif, sebagian besar di antaranya memiliki engagement tinggi. Reputasi Purbaya yang dibangun oleh momen mengajar, edukasi finansial, dan penjelasan kebijakan akhirnya berdampingan dengan narasi keraguan yang tumbuh dari berbagai konteks.
Di ruang digital, framing bekerja tidak linier. Ia tidak mengikuti urutan kronologis. Satu unggahan positif bisa tenggelam oleh potongan video singkat yang menyederhanakan isu makro secara ekstrem. TikTok, misalnya, menjadi arena di mana framing dapat berubah dalam hitungan menit. Video 30 detik tentang kilang atau rekomendasi World Bank bisa memperkuat rasa ragu publik. Sementara itu, di Instagram dan Facebook, publik lebih banyak membaca Purbaya dalam bingkai apresiatif: pejabat yang mengajar, pejabat yang menjelaskan ekonomi dengan sederhana, pejabat yang dirasa “hadir”.
YouTube menjadi ruang yang lebih reflektif. Di platform ini, Purbaya sering digambarkan sebagai sosok yang “menantang kebiasaan lama” atau “pembawa reformasi substantif”. Narasi yang lebih panjang ini memberi ruang bagi publik untuk memaknai ulang Purbaya, bukan sekadar melalui cuplikan singkat, tetapi melalui analisis yang utuh. Namun di sisi lain, YouTube juga menjadi ruang untuk kritik mendalam, terutama terkait kebijakan fiskal dan dampaknya terhadap keseharian masyarakat.
Fluktuasi Kepercayaan Publik
Jika dicermati secara keseluruhan, reputasi Purbaya berada pada dua kutub yang berbeda, tetapi berjalan seiring. Di satu sisi, ia dilihat sebagai teknokrat yang dekat dengan publik, mampu menjelaskan konsep keuangan dengan bahasa yang sederhana, dan menunjukkan komitmen pada literasi finansial. Di sisi lain, ia dibaca melalui bingkai kecemasan publik terhadap isu makro: harga kebutuhan pokok, redenominasi, utang negara, dan efisiensi belanja pemerintah.
Dalam konteks framing Goffman, kedua bingkai ini tidak harus bertentangan. Justru di sinilah letak kompleksitasnya: reputasi seorang pejabat tidak lagi tunggal. Ia merupakan produk interaksi terus-menerus antara tindakan nyata, persepsi publik, dan narasi digital yang tersebar melalui algoritma.
Fluktuasi yang muncul dalam persepsi publik terhadap Purbaya bukan sekadar perubahan mood sesaat, melainkan pergantian bingkai yang bekerja secara simultan di ruang digital. Yang mengalami fluktuasi adalah tingkat kepercayaan publik—yang terlihat bergerak dari apresiatif ketika Purbaya tampil mengajar atau menjelaskan kebijakan secara langsung, menjadi ragu ketika isu-isu makro seperti rekomendasi World Bank, potensi ketidakefisienan anggaran, atau rencana redenominasi kembali mencuat.
Dalam perspektif Framing Goffman, perubahan bingkai ini sangat wajar. Publik tidak mengonsumsi informasi secara linear; mereka merespons apa yang tampil di depan mata mereka, dalam konteks yang sedang dominan pada saat itu. Ketika bingkai yang muncul adalah Purbaya sebagai sosok humanis yang turun ke sekolah, maka kepercayaan publik menguat. Namun ketika bingkai yang muncul adalah isu-isu sensitif yang dipotong dalam klip TikTok berdurasi 20–30 detik, publik dapat dengan cepat membaca ulang sosok yang sama melalui lensa keraguan.
Inilah yang membuat reputasi Purbaya tampak berayun: bukan karena konsistensi kebijakannya berubah-ubah, melainkan karena bingkai yang membentuk cara publik melihatnya berubah dengan cepat, mengikuti ritme algoritma dan dinamika percakapan digital. Dalam ekosistem seperti ini, reputasi menjadi entitas yang senantiasa dinegosiasikan—menguat ketika bingkai positif mengemuka, melemah ketika bingkai negatif mendominasi—sebuah siklus yang mencerminkan logika era media sosial itu sendiri.
Dari seluruh rangkaian percakapan digital, satu kesimpulan penting muncul: reputasi Purbaya dibangun di ruang yang sepenuhnya baru. Ruang yang tidak lagi mengandalkan jurnalisme institusional, tetapi pada jaringan sosial yang bekerja dengan logika kecepatan, kedekatan, dan resonansi emosional. Purbaya bukan teknokrat yang duduk di balik layar—ia menjadi figur yang hidup dalam perbincangan warganet, seringkali tanpa konteks penuh, tetapi dengan daya pengaruh yang besar.
Dalam lanskap seperti ini, tugas utama bukan hanya menghadirkan kebijakan yang kuat, tetapi juga menghadirkan narasi yang sejernih mungkin. Narasi yang mampu menahan distorsi, menjembatani kesenjangan pemahaman publik, dan sekaligus memperkuat posisi Purbaya sebagai wajah reformasi fiskal.
Reputasi, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi tentang bagaimana publik membingkainya. Dan di era media sosial, bingkai itu berubah setiap saat—dibentuk, dinegosiasikan, dan disebarkan oleh jutaan tangan yang menggeser layar ke kiri dan kanan, menentukan apa yang layak dilihat dan dipercaya.