Connect with us

News

Rupiah Vs Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Rupiah pekan ini masih rawan bergerak volatil karena tekanan dolar AS, arah suku bunga The Fed, dan sentimen MSCI meski status Indonesia tetap bertahan di emerging market.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Rupiah pekan ini diperkirakan bergerak volatil dengan bias melemah terbatas. Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS, sementara sentimen domestik sedikit tertolong oleh keputusan MSCI yang masih mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market. Data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di Rp17.868 per dolar AS pada 23 Juni 2026, melemah dibanding Rp17.819 pada 22 Juni dan Rp17.753 pada 17 Juni 2026.

Di pasar spot, tekanan terlihat lebih kuat. Data Investing.com menunjukkan USD/IDR sempat berada di sekitar Rp18.020,1, dengan rentang harian Rp17.856,4 hingga Rp18.037,1. Artinya, level psikologis Rp18.000 per dolar AS kembali menjadi area penting yang perlu diawasi pelaku pasar.

Faktor global menjadi penekan paling dominan. Reuters melaporkan indeks dolar AS menguat ke level tertinggi lebih dari setahun karena pasar mulai memperkirakan sikap The Fed yang lebih hawkish. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli naik menjadi 36,3%, sementara peluang kenaikan pada September melonjak menjadi 69,1%.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia sudah merespons tekanan rupiah dengan menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 5,75% pada RDG 17-18 Juni 2026. BI menyebut langkah itu ditujukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, termasuk lewat intervensi valas, spot, DNDF, serta penguatan daya tarik SRBI.

Sentimen MSCI menjadi katalis penting pekan ini. Indonesia memang masih dipertahankan dalam kategori emerging market, tetapi MSCI tetap menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham dan indikasi perdagangan terkoordinasi. Risiko penurunan status ke frontier market masih terbuka jika tidak ada perbaikan memadai hingga review November 2026.

Dengan kombinasi faktor tersebut, skenario dasar rupiah pekan ini berada di kisaran Rp17.800-Rp18.050 per dolar AS. Jika dolar global terus menguat dan pasar kembali risk-off, rupiah berpotensi menguji area Rp18.100-Rp18.150. Sebaliknya, jika sentimen MSCI memberi kelegaan dan aliran dana asing membaik, rupiah berpeluang kembali ke bawah Rp17.900.

Kesimpulannya, rupiah belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Kenaikan BI-Rate memberi bantalan, tetapi arah dolar AS dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia masih menjadi penentu utama. Pekan ini, pelaku pasar perlu mencermati data inflasi PCE AS, komentar pejabat The Fed, pergerakan indeks dolar, serta respons investor asing terhadap hasil MSCI.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

AI Dunia Makin Panas

Persaingan AI global kini bergeser dari sekadar chatbot menuju perang model frontier, agen kerja otomatis, cip mahal, pusat data raksasa, dan perebutan talenta kelas dunia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perkembangan kecerdasan buatan dunia memasuki fase baru pada 2026. Persaingan tidak lagi hanya soal siapa yang punya chatbot paling pintar, tetapi siapa yang mampu membangun agen AI yang bisa bekerja lintas aplikasi, menulis kode, menganalisis data, memahami gambar-video-audio, hingga menjalankan tugas kompleks secara semi-otomatis. OpenAI, misalnya, merilis GPT-5.5 pada April 2026 dan menekankan peningkatan pada kemampuan kerja komputer, coding, tool use, serta konteks panjang untuk pengguna ChatGPT, Codex, dan API.

Di kubu pesaing utama, Anthropic terus menekan pasar enterprise dan developer melalui Claude Opus 4.8 yang dirilis pada 28 Mei 2026. Anthropic menyebut model ini tersedia luas dengan harga reguler US$5 per satu juta token input dan US$25 per satu juta token output, sambil menonjolkan peningkatan pada transparansi, kejujuran, dan kemampuan kerja teknis. Google juga memperkuat lini Gemini 3.1 Pro sebagai model reasoning multimodal dengan kemampuan memahami teks, gambar, video, audio, PDF, hingga repositori kode besar dengan konteks 1 juta token.

Pertarungan AI juga berubah menjadi perang coding agent dan workplace agent. OpenAI mendorong Codex sebagai agen rekayasa perangkat lunak, sementara Claude, Gemini, dan xAI ikut masuk ke pasar developer. xAI pada Juni 2026 memperluas distribusi Grok ke ekosistem enterprise seperti Amazon Bedrock, Databricks, dan Microsoft Word, menandakan bahwa pertarungan tidak hanya terjadi di aplikasi konsumen, tetapi juga di infrastruktur kerja perusahaan.

Namun kejutan terbesar datang dari China. DeepSeek, Alibaba Qwen, ByteDance Doubao, Kimi, Tencent, dan Z.ai memperkuat posisi China sebagai kekuatan AI berbiaya rendah dan agresif. Reuters melaporkan DeepSeek-V4 memang tidak mengguncang pasar sebesar pendahulunya, tetapi tetap menunjukkan peningkatan dan kini harus bersaing ketat dengan Kimi dan Qwen di dalam negeri. Alibaba juga merilis Qwen 3.5 untuk era agentic AI, dengan klaim peningkatan kemampuan menjalankan tugas kompleks secara mandiri dan biaya lebih efisien.

ByteDance menjadi contoh lain bagaimana AI China tidak hanya bermain di model, tetapi juga distribusi pengguna. Doubao 2.0 dirilis pada Februari 2026, sementara Reuters mencatat Doubao memimpin aplikasi chatbot AI di China dengan 155 juta pengguna aktif mingguan, mengungguli DeepSeek yang berada di posisi kedua dengan 81,6 juta pengguna aktif mingguan. Artinya, China bukan hanya mengejar kualitas model, tetapi juga membangun skala pemakaian massal yang sangat besar.

Di sisi lain, infrastruktur menjadi medan perang paling mahal. Nvidia masih menjadi pemain kunci karena hampir seluruh raksasa AI membutuhkan GPU, jaringan, dan sistem komputasi skala besar untuk melatih serta menjalankan model. Nvidia memperkenalkan platform Rubin pada Januari 2026 dan mengklaim efisiensi besar untuk biaya token inferensi serta pelatihan model Mixture-of-Experts dibanding platform Blackwell. Reuters juga melaporkan Nvidia memperkirakan permintaan kuat untuk Blackwell dan Rubin, dengan proyeksi besar dari penjualan cip AI hingga 2027.

Besarnya kebutuhan komputasi membuat pusat data AI menjadi bisnis strategis baru. Blackstone dilaporkan berencana menginvestasikan US$30 miliar untuk pusat data AI di Jepang dalam tiga hingga lima tahun ke depan, dengan kapasitas gabungan lebih dari 1 gigawatt. Pada saat yang sama, belanja AI raksasa teknologi mulai menimbulkan pertanyaan pasar: apakah investasi pusat data, GPU, listrik, dan jaringan akan menghasilkan imbal balik yang cukup besar, atau justru memicu overinvestment.

Persaingan AI juga makin politis. Pemerintah Amerika Serikat mendorong perusahaan AI besar agar memberikan akses awal kepada pemerintah untuk meninjau model frontier sebelum dirilis luas. Reuters melaporkan OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, Microsoft, dan xAI sudah menyetujui akses awal tersebut, sementara Meta masih ditekan untuk ikut dalam skema review terkait risiko keamanan nasional. Di Eropa, AI Act mulai berlaku penuh pada 2 Agustus 2026, menjadikan regulasi sebagai faktor penting dalam peta kompetisi AI global.

Kesimpulannya, peta AI mutakhir dunia kini terbagi dalam empat arena besar. Pertama, model frontier tertutup yang dipimpin OpenAI, Anthropic, Google, dan xAI. Kedua, model terbuka dan murah yang makin kuat dari China serta Meta Llama. Ketiga, infrastruktur komputasi yang masih sangat bergantung pada Nvidia, pusat data, energi, dan jaringan. Keempat, regulasi dan keamanan nasional yang membuat AI bukan lagi sekadar produk teknologi, tetapi bagian dari persaingan geopolitik dunia.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, perkembangan ini membawa peluang sekaligus risiko. Peluangnya ada pada adopsi AI untuk pendidikan, layanan publik, industri kreatif, UMKM, media, dan produktivitas kerja. Risikonya, ketergantungan pada model asing, biaya komputasi mahal, kebocoran data, serta ketimpangan talenta digital bisa membuat Indonesia hanya menjadi pasar, bukan pemain. Karena itu, strategi AI nasional perlu bergerak dari sekadar memakai chatbot menuju penguasaan data, talenta, infrastruktur, regulasi, dan ekosistem aplikasi lokal.

Continue Reading

News

Klasifikasi MSCI, Kenapa Penting?

Klasifikasi MSCI menentukan cara investor global memandang pasar saham suatu negara, termasuk risiko aliran dana asing ke Indonesia.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Klasifikasi MSCI adalah pengelompokan pasar saham negara-negara dunia ke dalam kategori Developed Market, Emerging Market, Frontier Market, dan Standalone Market. Klasifikasi ini penting karena menjadi acuan besar bagi manajer investasi global dalam menyusun portofolio dan menentukan bobot investasi di tiap negara. MSCI menyebut klasifikasi pasar sebagai input penting dalam konstruksi indeks karena menentukan komposisi peluang investasi yang direpresentasikan.

Secara sederhana, Developed Market adalah pasar maju dengan ekonomi, likuiditas, akses investor, dan infrastruktur pasar yang sangat matang. Emerging Market adalah pasar berkembang yang sudah cukup besar dan likuid, tetapi masih memiliki ruang perbaikan dalam aksesibilitas, transparansi, atau tata kelola. Frontier Market berada satu tingkat di bawah emerging market, biasanya lebih kecil, kurang likuid, dan lebih berisiko bagi investor global. Sementara Standalone Market adalah pasar yang dipantau MSCI, tetapi belum masuk indeks komposit utama karena likuiditas rendah atau akses investor masih terbatas.

MSCI menilai klasifikasi pasar melalui tiga kriteria besar, yaitu economic development, size and liquidity requirements, serta market accessibility. Untuk aspek aksesibilitas pasar, MSCI memperhatikan antara lain keterbukaan terhadap kepemilikan asing, kemudahan arus modal masuk-keluar, efisiensi operasional pasar, ketersediaan instrumen investasi, serta stabilitas kerangka kelembagaan.

Dalam konteks Indonesia, isu MSCI menjadi perhatian besar karena Indonesia saat ini masih berada dalam kategori emerging market, tetapi status itu sedang berada dalam pengawasan. Reuters melaporkan MSCI memperpanjang review terhadap status Indonesia hingga November 2026 dan membuka kemungkinan penurunan klasifikasi ke frontier market jika perbaikan dinilai belum memadai.

Masalah utama yang disorot MSCI berkaitan dengan transparansi struktur kepemilikan saham, visibilitas free float, keandalan data perdagangan, serta kekhawatiran investor internasional terhadap dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Isu-isu tersebut masuk ke area information flow dan market infrastructure, yang merupakan bagian dari kerangka aksesibilitas pasar MSCI.

Dampaknya tidak kecil. Jika Indonesia benar-benar turun dari emerging market ke frontier market, pasar saham berisiko kehilangan sebagian dana asing karena banyak investor global mengikuti indeks MSCI sebagai patokan. Reuters mengutip estimasi Goldman Sachs bahwa downgrade dapat memicu potensi arus keluar hingga sekitar US$13 miliar dari saham Indonesia.

Bagi rupiah, klasifikasi MSCI ikut penting karena pasar saham dan nilai tukar sama-sama sensitif terhadap arus dana asing. Jika investor menilai risiko pasar Indonesia meningkat, tekanan bisa merembet ke IHSG, obligasi, dan rupiah. Sebaliknya, jika otoritas mampu memperbaiki transparansi, free float, dan kepercayaan investor sebelum review November, status emerging market bisa tetap menjadi bantalan psikologis bagi pasar keuangan Indonesia.

Continue Reading

News

Iran dan Oman Bentuk Komite Bersama Terkait Selat Hormuz Pasca Kesepakatan dengan AS

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Iran dan Oman sepakat membentuk komite bersama guna membahas berbagai isu strategis terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Pengumuman tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, setelah kunjungan delegasi Iran ke Muscat, Oman.

“Setelah kunjungan delegasi ke Muscat, Iran dan Oman telah membentuk komite bersama untuk dialog mengenai Selat Hormuz. Rincian kerja sama ini akan dipublikasikan dalam pernyataan bersama,” kata Ghalibaf melalui akun Telegram resminya, Selasa.

Pembentukan komite tersebut menjadi langkah lanjutan dari upaya kedua negara dalam menjaga stabilitas dan kelancaran aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran telah menyatakan tengah mengembangkan mekanisme pelayaran bersama Oman untuk memastikan keamanan jalur maritim yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Perkembangan ini juga terjadi di tengah membaiknya hubungan Iran dan Amerika Serikat. Pekan lalu, kedua negara menandatangani nota kesepahaman secara daring yang mengatur penghentian konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari.

Kesepakatan tersebut mencakup sejumlah poin penting, termasuk jadwal pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta komitmen Teheran untuk memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Sebagai tindak lanjut, perundingan teknis antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan Qatar telah digelar di Burgenstock, Swiss, pada 21 Juni. Pertemuan tersebut difokuskan pada implementasi kesepakatan dan langkah-langkah teknis guna memastikan stabilitas kawasan serta kelancaran aktivitas perdagangan internasional.

Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke berbagai wilayah dunia. Setiap perkembangan yang berkaitan dengan keamanan dan operasional jalur tersebut kerap menjadi perhatian pasar energi internasional.

Pembentukan komite bersama Iran dan Oman diharapkan dapat memperkuat koordinasi kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus mendukung kelancaran pelayaran internasional di salah satu jalur maritim terpenting di dunia.

Continue Reading

News

Kemendikdasmen Tebar Bantuan Laboratorium IPA, Dorong Literasi Sains dan Budaya Berpikir Ilmiah

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kualitas pembelajaran sains di jenjang sekolah menengah atas (SMA) melalui penyaluran Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA kepada 100 SMA terpilih di berbagai daerah.

Program ini ditujukan untuk meningkatkan literasi sains, keterampilan eksperimen, serta membangun budaya berpikir ilmiah di kalangan peserta didik. Selain memperkuat sarana pendidikan, bantuan tersebut diharapkan mampu mendorong proses pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, dan berbasis praktik.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa laboratorium memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang berkualitas. Menurutnya, laboratorium bukan sekadar ruang praktik, tetapi menjadi tempat siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung.

“Sekolah tanpa laboratorium tidak punya makna pembelajaran. Dia hanya sekolah, hanya schooling, bukan learning. Bantuan ini sebenarnya upaya untuk memperkuat ekosistem pembelajaran anak-anak kita,” ujar Fajar saat membuka Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah Sarana Laboratorium IPA Jenjang SMA di Tangerang Selatan, Banten, Senin (22/6/2026).

Fajar menjelaskan bahwa penguatan literasi sains menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi yang dihadapi generasi muda. Ia menilai siswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Literasi sains tidak hanya soal memahami informasi, tetapi bagaimana siswa mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjelaskan fenomena yang berkembang di sekitarnya,” katanya.

Menurut Fajar, aktivitas praktikum di laboratorium sangat sejalan dengan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini menjadi salah satu fokus pengembangan Kemendikdasmen.

Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menerima teori di ruang kelas, tetapi juga menguji dan membuktikannya melalui eksperimen. Proses ini diyakini dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan memecahkan masalah berdasarkan fakta ilmiah.

“Praktikum di laboratorium mencerminkan praktik pembelajaran mendalam. Ketika di kelas siswa diberi teori, di laboratorium mereka diminta menguji teori tersebut,” jelasnya.

Karena itu, Fajar mengajak seluruh sekolah penerima bantuan untuk menjadikan laboratorium sebagai ruang tumbuhnya rasa ingin tahu, kreativitas, dan budaya berpikir ilmiah.

Ia menekankan bahwa peserta didik harus didorong untuk mengalami langsung proses memperoleh pengetahuan, bukan sekadar menjadi konsumen informasi.

Sementara itu, Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto, mengungkapkan bahwa program bantuan laboratorium IPA tahun 2026 mendapat respons luar biasa dari sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Dalam kurun waktu sekitar satu pekan sejak pendaftaran dibuka melalui Sistem Informasi Manajemen Sarana dan Prasarana (Simaspras), sebanyak 1.834 SMA mengajukan permohonan bantuan.

Namun, dengan kuota yang tersedia hanya 100 paket bantuan, proses seleksi dilakukan secara ketat berdasarkan sejumlah kriteria prioritas. Di antaranya sekolah hasil revitalisasi, sekolah terdampak bencana, sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta sekolah yang menjadi model implementasi Pembelajaran Mendalam, pembelajaran koding, dan kecerdasan artifisial (AI).

“Kami ingin meningkatkan kapasitas sekolah dalam merancang kegiatan pembelajaran praktikum yang bermakna, relevan dengan kurikulum, dan mampu mendorong keterampilan eksperimen siswa,” ujar Yuli.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga laboratorium benar-benar menjadi pusat pembelajaran sains yang aktif. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi di masa depan.

Continue Reading

News

Haris Rusly Moti Sebut Narasi “1998 Redux” Diorkestrasi Oligarki Serakahnomic

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti menilai narasi dan tagar “1998 redux” tidak lahir secara organik dari gerakan sosial maupun gerakan mahasiswa. Menurutnya, narasi tersebut diorkestrasi secara top-down oleh kelompok yang ia sebut sebagai oligarki serakahnomic melalui akun-akun proxy di media sosial.

“Mereka terobsesi untuk mengulangi mega-perampokan yang pernah dilakukan dengan menunggangi krisis moneter dan gerakan mahasiswa tahun 1998,” kata Haris dalam keterangan tertulisnya, pada Selasa (23/6).

Haris mengaitkan pandangannya dengan peristiwa krisis moneter 1997–1998 yang menurutnya dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk melakukan penyalahgunaan sumber daya keuangan negara. Ia menyinggung kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang disebutnya sebagai salah satu skandal korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia.

Menurut Haris, kerugian negara akibat penyalahgunaan dana talangan tersebut mencapai ratusan triliun rupiah. Ia juga menilai sebagian dana hasil kejahatan keuangan pada masa itu mengalir ke luar negeri.

Lebih lanjut, Haris mengatakan narasi seperti “Indonesia Gelap”, “Sale Indonesia”, “Kabur dari Indonesia”, “Buang Rupiah”, dan “1998 Redux” tidak mencerminkan aspirasi mayoritas masyarakat maupun gerakan mahasiswa.

“Saya tidak yakin gerakan sosial dan gerakan mahasiswa yang murni mengangkat narasi tersebut. Gerakan mahasiswa pada dasarnya lahir dari motivasi untuk menyelamatkan Indonesia,” ujarnya.

Haris, yang merupakan eksponen gerakan mahasiswa 1998 di Universitas Gadjah Mada dan pemrakarsa 98 Resolution Network, menilai narasi-narasi tersebut justru mencerminkan situasi yang dihadapi kelompok oligarki yang merasa terancam oleh berbagai kebijakan pemerintah.

Ia menyebut langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat penguasaan negara atas sumber daya alam, menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945, memberantas korupsi, serta menyita aset hasil tindak pidana korupsi telah membatasi ruang gerak kelompok yang selama ini memperoleh keuntungan dari pengelolaan sumber daya negara.

Menurut Haris, pihak yang memiliki kemampuan untuk melakukan aksi seperti menjual aset di Indonesia, melepas kepemilikan rupiah, atau memindahkan kekayaan ke luar negeri adalah kelompok yang memiliki akumulasi modal besar.

“Saya tidak yakin 99 persen rakyat Indonesia yang tidak memegang dolar akan melakukan sale Indonesia, buang rupiah, dan kabur dari Indonesia,” katanya.

Haris juga mengimbau gerakan mahasiswa untuk tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah sekaligus waspada terhadap berbagai narasi yang beredar di media sosial.

Ia menilai kebijakan pemerintah yang bertujuan mengembalikan penguasaan sumber daya alam kepada negara dan mengoptimalkannya bagi kesejahteraan rakyat sejalan dengan perjuangan berbagai gerakan sosial yang selama ini mengadvokasi isu pertambangan dan agraria.

Karena itu, Haris mengajak gerakan mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil untuk berpartisipasi secara kritis dalam upaya mengembalikan kekayaan negara dan sumber daya alam yang dinilai selama ini dikuasai oleh segelintir kelompok oligarki.

Continue Reading

News

Alasan Purbaya Optimistis Harga Pertamax Bakal Turun

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpotensi mengalami penurunan dalam waktu mendatang. Keyakinan tersebut didasari prospek meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang diperkirakan akan menekan harga minyak dunia.

Dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6), Purbaya mengatakan penurunan harga minyak global akan memberikan dampak positif terhadap harga BBM di dalam negeri sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” ujar Purbaya.

Menurutnya, lonjakan harga minyak dunia yang terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian global sebelumnya menjadi tantangan berat bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut mendorong pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebagai langkah mitigasi terhadap tekanan eksternal.

Purbaya menjelaskan bahwa tingginya harga minyak dunia sempat menjadi ujian bagi stabilitas ekonomi nasional. Namun, seiring membaiknya situasi global dan munculnya sinyal perdamaian antara AS dan Iran, tekanan tersebut diperkirakan mulai mereda.

“Ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali, kita dalam ujian yang berat,” katanya.

Ia menilai perkembangan terkini menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih positif. Dengan prospek penurunan harga energi dan berkurangnya risiko geopolitik, kinerja ekonomi pada kuartal II 2026 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Purbaya menambahkan, fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat fondasi ekonomi yang telah dibangun agar pertumbuhan nasional dapat berlangsung lebih optimal dan berkelanjutan.

“Kalau dilihat dari data yang sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki pondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal,” ujarnya.

Jika tren penurunan harga minyak dunia berlanjut, masyarakat berpeluang menikmati harga BBM nonsubsidi yang lebih rendah, sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi penguatan daya beli dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Continue Reading

News

Rosan Lapor ke Prabowo, 258 BUMN Rampung Dikonsolidasikan

CEO Danantara Rosan Roeslani melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa proses konsolidasi BUMN terus berjalan dengan 258 entitas telah dirampingkan dan sekitar 300 perusahaan lainnya akan menyusul.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa proses konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN) terus menunjukkan kemajuan. Hingga pertengahan tahun 2026, sebanyak 258 perusahaan BUMN telah berhasil dikonsolidasikan, sementara sekitar 300 entitas lainnya akan segera memasuki tahap perampingan.

Laporan tersebut disampaikan Rosan dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo sebagai bagian dari evaluasi transformasi BUMN. Langkah konsolidasi dilakukan untuk menyederhanakan struktur korporasi, mengurangi tumpang tindih usaha, serta meningkatkan efisiensi operasional dan tata kelola perusahaan pelat merah.

Menurut Rosan, proses konsolidasi tidak sekadar mengurangi jumlah perusahaan, tetapi juga bertujuan membangun BUMN yang lebih sehat, kompetitif, dan memiliki kapasitas lebih besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui penggabungan dan restrukturisasi, pemerintah berharap setiap BUMN memiliki fokus bisnis yang lebih jelas serta mampu meningkatkan produktivitas dan profitabilitas.

Program transformasi BUMN menjadi salah satu agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo. Selain memperkuat daya saing nasional, konsolidasi diharapkan mampu meningkatkan nilai aset negara, memperbaiki efisiensi penggunaan modal, serta memperkuat kontribusi dividen kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dengan masih adanya sekitar 300 entitas yang akan dikonsolidasikan, proses transformasi BUMN diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa tahap ke depan. Pemerintah menargetkan terbentuknya struktur BUMN yang lebih ramping, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global, sekaligus menjadi motor penggerak investasi, industrialisasi, dan pembangunan ekonomi Indonesia.

Continue Reading

News

Tiga Kekuatan yang Mengubah Peta Dunia

Konflik geopolitik modern semakin dipengaruhi oleh perebutan sumber energi, sementara lonjakan kebutuhan listrik untuk kecerdasan buatan (AI) menciptakan dimensi persaingan baru.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Perang modern tidak lagi semata-mata dipicu oleh sengketa wilayah atau perbedaan ideologi. Dalam banyak kasus, penguasaan sumber energi menjadi faktor strategis yang menentukan arah konflik. Minyak, gas alam, uranium, hingga logam kritis kini menjadi aset geopolitik yang diperebutkan karena menentukan ketahanan ekonomi, kemampuan industri, dan kekuatan militer suatu negara.

Selama lebih dari satu abad, minyak menjadi “darah” perekonomian dunia. Konflik di Timur Tengah, Laut Kaspia, Afrika Utara, hingga Laut China Selatan sering kali berkaitan dengan akses terhadap cadangan energi atau jalur distribusinya. Selat Hormuz, misalnya, menjadi salah satu titik paling strategis karena sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Gangguan di kawasan ini dapat memicu lonjakan harga energi global, inflasi, hingga perlambatan ekonomi internasional.

Kini, muncul babak baru dalam persaingan energi, yakni kebutuhan listrik yang sangat besar untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI). Model AI generatif membutuhkan pusat data (data center) yang mengoperasikan ribuan hingga ratusan ribu unit pemroses grafis (GPU). Seluruh infrastruktur tersebut mengonsumsi energi listrik dalam jumlah masif, bahkan setara dengan konsumsi listrik sebuah kota kecil. Seiring meningkatnya penggunaan AI dalam industri, kesehatan, pendidikan, pertahanan, dan pemerintahan, kebutuhan energi diproyeksikan terus melonjak dalam dekade mendatang.

Fenomena tersebut mengubah cara negara memandang keamanan energi. Jika sebelumnya energi diprioritaskan untuk sektor transportasi dan manufaktur, kini pasokan listrik yang stabil menjadi syarat utama dalam membangun ekosistem AI nasional. Negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Uni Eropa, dan negara-negara Teluk mulai berlomba membangun pembangkit listrik baru, memperluas jaringan transmisi, serta mengembangkan pusat data berskala besar untuk mempertahankan daya saing teknologi.

Persaingan tidak hanya terjadi pada minyak dan gas, tetapi juga pada sumber energi masa depan. Pembangkit listrik tenaga nuklir kembali mendapat perhatian karena mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar secara stabil selama 24 jam. Di sisi lain, investasi pada energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, hidro, dan panas bumi terus meningkat sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memenuhi target penurunan emisi karbon. Baterai penyimpanan energi dan teknologi jaringan listrik pintar (smart grid) juga menjadi komponen penting dalam menopang kebutuhan AI.

Selain energi, perlombaan AI turut meningkatkan permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, kobalt, grafit, dan unsur tanah jarang (rare earth elements). Mineral tersebut dibutuhkan untuk baterai, semikonduktor, server, hingga infrastruktur kelistrikan. Akibatnya, negara yang memiliki cadangan mineral strategis memperoleh posisi tawar baru dalam geopolitik global. Persaingan investasi di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara pun semakin intensif.

Perang di masa depan kemungkinan tidak hanya dipicu oleh perebutan ladang minyak, tetapi juga oleh upaya menguasai rantai pasok energi dan teknologi digital. Serangan terhadap jaringan listrik, kabel bawah laut, satelit komunikasi, hingga pusat data dapat melumpuhkan ekonomi suatu negara tanpa harus menguasai wilayahnya secara fisik. Dengan demikian, keamanan energi dan keamanan siber menjadi dua sisi dari mata uang yang sama dalam era AI.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, potensi panas bumi yang besar, serta pasar digital yang terus berkembang, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting dalam rantai pasok ekonomi AI. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila diiringi dengan pembangunan pembangkit listrik yang andal, penguatan jaringan transmisi, pengembangan pusat data nasional, serta kebijakan hilirisasi mineral yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi industri dalam negeri.

Pada akhirnya, perang, energi, dan AI membentuk sebuah segitiga strategis baru. Negara yang mampu menguasai sumber energi, membangun infrastruktur kelistrikan yang tangguh, dan memimpin inovasi AI akan memiliki keunggulan ekonomi, militer, dan politik yang semakin menentukan dalam tatanan dunia abad ke-21.

Continue Reading

News

Kemarahan Meluas di India, Pelaut Jadi Korban Konflik AS-Iran

Tewasnya tiga pelaut India dalam serangan AS di Selat Hormuz memicu krisis diplomatik baru antara New Delhi dan Washington.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Kemarahan publik di India terus meningkat setelah tiga pelaut India tewas dalam serangan militer Amerika Serikat terhadap sebuah kapal tanker komersial di kawasan Selat Hormuz. Insiden tersebut memicu kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump karena dinilai menjadikan pekerja sipil sebagai korban dalam operasi militer terhadap Iran.

Korban merupakan warga negara India yang bekerja sebagai awak kapal tanker minyak komersial. Menurut pemerintah AS, kapal tersebut diserang karena dianggap melanggar blokade terhadap ekspor minyak Iran dan dinilai tidak kooperatif. Namun, pemerintah India menilai penggunaan kekuatan mematikan terhadap kapal sipil tidak dapat dibenarkan dan telah menyampaikan protes resmi kepada Washington.

Ketegangan semakin meningkat setelah pemerintah AS pada awalnya tidak menyampaikan belasungkawa maupun permintaan maaf atas kematian ketiga pelaut tersebut. Sikap tersebut memicu kritik dari berbagai kalangan di India, termasuk keluarga korban dan politisi oposisi yang mendesak pemerintah mengambil sikap lebih tegas terhadap Washington.

Isu keselamatan pelaut kemudian menjadi salah satu agenda dalam pertemuan Presiden Donald Trump dengan Perdana Menteri Narendra Modi di sela-sela KTT G7. Modi menegaskan bahwa keselamatan ratusan ribu pelaut India yang bekerja di jalur pelayaran internasional, termasuk di Selat Hormuz, merupakan kepentingan utama India. Trump menyampaikan simpati atas insiden tersebut dan menyatakan AS akan terus bekerja sama dengan India terkait keamanan maritim.

Insiden ini terjadi di tengah memburuknya hubungan India dan Amerika Serikat akibat sejumlah isu lain, termasuk tarif perdagangan, pembelian minyak Rusia oleh India, serta dinamika geopolitik di Asia Selatan. Para analis menilai kematian pelaut India berpotensi memperdalam defisit kepercayaan antara kedua negara, meskipun keduanya tetap memiliki kepentingan strategis yang besar di kawasan Indo-Pasifik.

Data industri menunjukkan India merupakan salah satu pemasok tenaga pelaut terbesar di dunia. Ratusan ribu pelaut India bertugas di kapal-kapal niaga internasional yang setiap hari melintasi Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Karena itu, setiap eskalasi militer di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada keamanan energi dunia, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan bagi awak kapal sipil dari berbagai negara.

Continue Reading

News

IHSG Tunggu Evaluasi Akhir MSCI

IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah karena pasar masih menunggu kejelasan sentimen MSCI, rupiah, dan arah suku bunga global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini, Selasa, 23 Juni 2026.

Tekanan terhadap IHSG belum sepenuhnya mereda setelah indeks ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Investor masih berhati-hati karena pasar dibayangi sejumlah sentimen penting, baik dari dalam negeri maupun global.

Dari sisi teknikal, IHSG diperkirakan bergerak di area 6.060 hingga 6.290. Area support terdekat berada di kisaran 6.058, sementara support berikutnya berada di sekitar 5.917. Adapun resistance terdekat berada di area 6.287, dengan resistance lanjutan di sekitar 6.516.

Sentimen utama yang membayangi pasar hari ini adalah evaluasi MSCI terhadap status pasar saham Indonesia. Pelaku pasar mencermati apakah Indonesia tetap dipertahankan sebagai emerging market, apakah status pembekuan atau freeze terhadap saham-saham Indonesia berlanjut, serta bagaimana dampaknya terhadap arus dana asing.

Selain MSCI, investor juga masih mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah yang masih rentan tertekan dapat membuat investor asing lebih berhati-hati masuk ke aset berisiko, termasuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia.

Dari eksternal, pasar global juga belum sepenuhnya kondusif. Harga minyak memang melemah setelah muncul perkembangan positif dalam pembicaraan Amerika Serikat dan Iran, tetapi sentimen itu tertahan oleh kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih ketat.

Kondisi tersebut membuat IHSG hari ini berpeluang bergerak dua arah. Jika mampu bertahan di atas area 6.058–6.060, indeks berpotensi kembali menguji area 6.200 hingga 6.290. Namun jika tekanan jual membesar dan support tersebut jebol, IHSG berisiko bergerak turun mendekati area 5.917.

Untuk strategi perdagangan, pelaku pasar disarankan tetap selektif dan tidak agresif mengejar saham yang sudah naik tinggi. Saham berkapitalisasi besar, sektor defensif, perbankan besar, konsumer, telekomunikasi, serta saham dengan fundamental kuat masih lebih menarik dicermati di tengah volatilitas pasar.

Dengan berbagai sentimen tersebut, skenario utama IHSG hari ini adalah konsolidasi cenderung melemah. Namun peluang rebound teknikal tetap terbuka apabila tekanan asing mereda, rupiah stabil, dan pasar mendapat sinyal positif dari perkembangan MSCI maupun sentimen global.

Continue Reading