Connect with us

Review

Pacu Jalur dan Tinjauan Sastra Pariwisata di Tanah Melayu

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Viralnya pacu jalur di Kuantan Singingi (Kuansing) dengan julukan baru “Pacu Jalur Aura Farming” belakangan menyedot perhatian publik, bahkan hingga ke peshoro dunia. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Rayyan Arkan Dikha, penari pacu jalur yang aksinya terekam kamera dan menyebar luas. Namun di balik viralitas yang memukau itu, ada hal yang jauh lebih penting: bagaimana mengembangkan pacu jalur sebagai warisan budaya Melayu yang sarat nilai luhur, sekaligus membenahi infrastruktur pariwisata, agar tidak hanya menjadi tontonan sesaat tetapi benar-benar menopang ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Sebagai tradisi yang telah berlangsung lebih dari seabad, pacu jalur bukan sekadar perlombaan dayung panjang di sungai Kuantan. Ia adalah ekspresi sastra dan budaya Melayu yang hidup. Iringan pantun, dendang, gurindam, hingga seruan semangat para tukang jalur merupakan bagian dari sastra lisan Melayu yang sangat kaya. Dalam pacu jalur, kita bisa mendengar bagaimana masyarakat Melayu menyelipkan doa, petuah, dan filosofi hidup melalui kata-kata yang dirangkai indah: tentang kerjasama, tentang sabar dan tekun, tentang hormat pada alam.

Sayangnya, dalam hiruk-pikuk era media sosial, makna mendalam ini sering larut dalam sensasi. Foto-foto estetik dan tarian penuh aura Rayyan lebih cepat viral daripada makna pantun yang dilantunkan para tetua di tepi sungai. Budaya Melayu bukan sekadar tentang visual yang eksotis, tetapi juga tentang nilai-nilai yang diembannya: gotong royong (muafakat), rendah hati, menghormati leluhur, dan mencintai lingkungan. Inilah yang seharusnya dipertahankan sebagai landasan pengembangan pariwisata budaya, bukan sekadar mengejar klik dan likes.

Tinjauan terhadap sastra Melayu juga menunjukkan bahwa pantun, hikayat, dan gurindam yang muncul di arena pacu jalur adalah modal besar untuk memperkaya daya tarik wisata. Pemerintah daerah semestinya tidak hanya memoles event dengan koreografi yang menarik mata, tetapi juga mengedukasi wisatawan tentang puisi-puisi air yang dilantunkan, makna simbolik dari jalur (perahu) yang dihias, dan falsafah kehidupan yang diajarkan melalui perlombaan ini. Sastra Melayu adalah jiwa dari pacu jalur, dan jiwa itu harus tetap bernyawa.

Selain aspek budaya, masalah klasik yang tak kunjung tuntas adalah kondisi infrastruktur menuju Kuantan Singingi. Jalan-jalan yang rusak, berlubang, bahkan di beberapa titik nyaris tak layak dilalui, membuat wisatawan harus berjuang untuk mencapai lokasi acara. Padahal, kelancaran akses adalah syarat dasar untuk mengembangkan destinasi wisata. Pemerintah pusat dan daerah perlu memandang perbaikan jalan sebagai investasi, bukan beban. Sebab tanpa akses yang memadai, event sebesar apapun hanya akan menjadi konsumsi lokal, tak pernah benar-benar memberi dampak ekonomi jangka panjang.

Julukan “Pacu Jalur Aura Farming” sejatinya punya potensi menjadi branding yang kuat. Aura yang dimaksud tak hanya dalam arti tarian yang memukau atau atmosfer mistis yang memikat, tetapi juga aura nilai-nilai luhur Melayu yang terus dipupuk (farming), bukan dibiarkan layu karena hanya dikejar sensasinya. Branding ini bisa ditopang dengan paket-paket wisata tematik yang memadukan lomba perahu dengan pelatihan pantun, pameran naskah Melayu, serta kunjungan ke situs-situs sejarah Kuansing. Dengan demikian, pariwisata tidak berhenti pada permukaan, tetapi mengakar pada kebudayaan.

Rayyan Arkan Dikha yang viral memang membuka mata dunia tentang pacu jalur, tetapi perhatian itu hanya akan jadi percikan jika tidak segera disusul dengan perbaikan infrastruktur, tata kelola yang lebih serius, serta narasi budaya yang lebih kuat. Sastrawan, budayawan, dan pemerintah mesti duduk bersama untuk menyusun strategi yang berbasis pada warisan sastra Melayu, bukan hanya pada citra viral.

Kini saatnya mengembalikan pacu jalur ke khitahnya: bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Bukan hanya lomba perahu di permukaan air, tetapi juga perjalanan batin Melayu yang menghormati alam, sesama, dan sejarah. Dengan sastra Melayu sebagai ruhnya, jalan-jalan yang mulus sebagai jalurnya, dan kebijakan yang bijak sebagai nahkodanya, pacu jalur bisa benar-benar menjadi aura farming yang menebar manfaat, bukan hanya gemerlap semu yang cepat pudar.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Prabowo dan ASEAN Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan

Hasil konkret kesepakatan mencakup penguatan ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA) untuk keamanan pasokan minyak dan energi, serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) sebagai cadangan beras darurat regional.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden Prabowo Subianto bersama para pemimpin negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah mencapai kesepakatan penting untuk memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dan pangan. Kesepakatan ini dihasilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan nyata untuk meningkatkan ketahanan dan stabilitas kawasan Asia Tenggara. Hasil konkret kesepakatan mencakup penguatan ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA) untuk keamanan pasokan minyak dan energi, serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) sebagai cadangan beras darurat regional.

Sugiono menegaskan bahwa inisiatif bersama ini merupakan respons langsung terhadap konflik geopolitik, termasuk yang memanas di kawasan Timur Tengah, yang diprediksi akan membawa dampak berantai bagi negara-negara ASEAN.

“Karena kita sadari bersama, sesuatu ataupun perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita, dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita. Inilah yang dirasakan dan dipahami betul oleh seluruh negara-negara ASEAN yang hadir dalam pertemuan tersebut,” tegas Sugiono dalam keterangan persnya pada hari Sabtu (9/5/2026).

Kesepakatan ini lahir dari tumbuhnya kesadaran kolektif yang kuat di antara para pemimpin kawasan. Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, tantangan ekonomi, hingga perubahan iklim, para pemimpin ASEAN bersemangat menjadikan wilayah Asia Tenggara mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit menghadapi segala risiko dan guncangan dari luar.

Sugiono menambahkan, ada fokus khusus dalam membangun ketangguhan kawasan di dua bidang krusial.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh, bahwa dengan situasi dunia yang terjadi saat ini, diperlukan suatu inisiatif dan langkah bersama untuk menjadikan ASEAN ini sebagai suatu wilayah yang tangguh atau resilient. Ketangguhan ini khususnya kita bangun dan perkuat di dua sektor paling krusial, yaitu bidang energi dan bidang pangan,” ungkap Sugiono menjelaskan esensi pertemuan tersebut.

Pemerintah Indonesia memandang agenda kerja sama regional ini sangat sejalan dengan prioritas utama Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi paling mendasar dalam membangun kedaulatan serta ketahanan nasional.

“Saya kira ini juga sesuatu yang sudah menjadi, sejak awal, program utama dari pemerintahan yang dipimpin oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto. Beliau menempatkan ketahanan energi dan ketahanan pangan sebagai hal yang paling mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara, yang harus dipenuhi oleh negara kita. Karena tanpa ketahanan di kedua sektor ini, kedaulatan negara akan sulit terwujud sepenuhnya,” tutur Sugiono menegaskan komitmen Indonesia di tingkat regional maupun nasional.

Continue Reading

News

Koperasi Merah Putih Jadi Motor Baru Ekonomi Desa 2026

Pemerintah mempercepat pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat ekonomi desa modern yang terhubung dengan akses KUR dan digitalisasi UMKM.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Pemerintah memperkuat strategi pengembangan ekonomi desa pada tahun 2026 melalui percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Program ini diproyeksikan menjadi tulang punggung penguatan UMKM desa dengan mengintegrasikan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), distribusi logistik, hingga pemasaran produk lokal berbasis digital. Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda besar pembangunan ekonomi kerakyatan dan pengurangan kesenjangan wilayah.

Pemerintah menargetkan lebih dari 30.000 Koperasi Desa Merah Putih dapat beroperasi penuh pada periode April hingga Juli 2026. Jumlah tersebut merupakan bagian dari target nasional pembentukan lebih dari 80.000 unit koperasi di seluruh Indonesia. Kehadiran koperasi ini dirancang bukan hanya sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi sebagai pusat aktivitas ekonomi desa yang terintegrasi dan modern.

Dalam implementasinya, KDKMP akan menjalankan berbagai fungsi strategis. Selain menjadi agregator produk UMKM lokal, koperasi juga akan berperan sebagai pusat distribusi pupuk, LPG, dan sembako. Di sektor pertanian dan perikanan, koperasi didorong memiliki fasilitas cold storage dan layanan logistik untuk menjaga kualitas hasil produksi sekaligus memperluas akses pasar petani dan nelayan desa.

Dukungan pembiayaan menjadi salah satu faktor utama penguatan koperasi dan UMKM desa. Pemerintah meningkatkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2026 menjadi Rp320 triliun. Skema KUR tetap mempertahankan bunga rendah sebesar 6 persen efektif per tahun untuk segmen mikro dan kecil. Selain itu, pinjaman di bawah Rp100 juta tidak memerlukan agunan tambahan sehingga lebih mudah diakses pelaku usaha kecil di pedesaan.

Kebijakan baru juga memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pelaku UMKM. Pemerintah menghapus pembatasan frekuensi pengajuan KUR sehingga pelaku usaha dapat mengakses pembiayaan berkali-kali sesuai kebutuhan pengembangan usaha. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas produksi, memperluas usaha, dan meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat desa.

Sinergi antara koperasi dan UMKM menjadi fokus utama dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Produk-produk UMKM akan dipasarkan melalui konsep branding kolektif Koperasi Merah Putih agar memiliki daya saing lebih tinggi. Pemerintah juga mendorong digitalisasi koperasi melalui pemanfaatan teknologi dalam manajemen usaha, pencatatan keuangan, hingga pemasaran daring.

Dalam proses pembentukannya, desa-desa yang ingin mendirikan KDKMP harus melalui beberapa tahapan strategis. Tahapan tersebut dimulai dari Musyawarah Desa (Musdes), penyusunan AD/ART dan struktur organisasi, pembuatan akta notaris, pengurusan legalitas seperti AHU, NPWP, dan NIB, hingga implementasi sistem digital koperasi. Pemerintah menilai tata kelola profesional menjadi kunci keberhasilan koperasi desa agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Melalui program ini, pemerintah berharap Koperasi Merah Putih dapat menjadi gerbang utama penguatan UMKM desa. Dengan akses modal yang lebih luas, distribusi yang terintegrasi, serta dukungan teknologi dan pendampingan usaha, koperasi diharapkan mampu menciptakan aglomerasi ekonomi pedesaan yang mandiri, modern, dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.

Continue Reading

News

MBG 2026 Serap Rp70,2 Triliun, Jangkau 61,96 Juta Penerima

Program Makan Bergizi Gratis menunjukkan percepatan signifikan dengan serapan anggaran 20,9% dan jangkauan puluhan juta penerima hingga April 2026.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 memasuki fase implementasi skala besar dengan capaian yang cukup progresif. Hingga 27 April 2026, pemerintah telah merealisasikan anggaran sebesar Rp70,2 triliun atau sekitar 20,9% dari total pagu Rp335 triliun yang dialokasikan dalam APBN tahun ini.

Struktur anggaran MBG terdiri atas pagu utama sebesar Rp268 triliun dan dana siaga Rp67 triliun. Menariknya, sebanyak 93% dana yang telah dicairkan disalurkan langsung ke daerah melalui mekanisme Virtual Account di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), guna memastikan distribusi yang cepat dan tepat sasaran.

Dari sisi penerima manfaat, program ini menargetkan 82,9 juta orang sepanjang 2026. Hingga akhir April, realisasi telah mencapai 61,96 juta penerima. Kelompok siswa menjadi penerima terbesar dengan jumlah sekitar 49,9 juta dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK. Sementara itu, kelompok non-siswa seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui tercatat sebanyak 10,5 juta orang.

Sebaran wilayah menunjukkan dominasi Pulau Jawa dengan 35,47 juta penerima, diikuti Sumatra 12,63 juta, Sulawesi 4,49 juta, Bali-Nusa Tenggara 3,52 juta, serta Maluku-Papua 2,88 juta. Distribusi ini mencerminkan konsentrasi populasi sekaligus tantangan geografis dalam pelaksanaan program berskala nasional.

Dari aspek operasional, pemerintah telah merencanakan 25.925 unit SPPG dengan ribuan di antaranya sudah beroperasi. Setiap unit dapur mengalokasikan 70% anggaran untuk bahan baku, 20% untuk operasional, dan 10% sebagai insentif tenaga kerja. Program ini juga berdampak signifikan terhadap ekonomi dengan penciptaan lebih dari 819.535 lapangan kerja baru.

Namun, tantangan logistik tetap menjadi perhatian utama. Untuk memenuhi kebutuhan protein harian, program ini diperkirakan membutuhkan sekitar 19.000 ekor sapi per hari. Skala kebutuhan ini menuntut kesiapan rantai pasok nasional, termasuk keterlibatan peternak lokal dan penguatan distribusi pangan.

Dengan capaian awal yang cukup kuat, MBG 2026 menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pangan domestik.

Continue Reading

Review

Hardiknas dan Cermin Diri Guru: Menata Ulang Integritas dan Komitmen

Hardiknas jadi waktu tepat untuk refleksi integritas guru dan komitmen pendidikan. Artikel ini menganalisis tantangan dan harapan bagi para pendidik di tengah dinamika perubahan.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang jeda—ruang untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya dengan jujur: sudahkah kita, para guru, menjalankan amanah ini dengan integritas dan komitmen yang utuh?

Menjadi guru bukanlah profesi yang statis. Ia adalah perjalanan panjang yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Bayangkan seorang guru yang hari ini berusia sekitar 50 tahun, yang mulai mengajar pada usia 23 tahun. Selama hampir tiga dekade pengabdiannya, ia telah melewati berbagai gelombang perubahan kurikulum dan kebijakan pendidikan di Indonesia. Ia memulai dari Kurikulum 1994, beralih ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, kemudian KTSP 2006, dilanjutkan dengan Kurikulum 2013 (K-13), hingga kini menghadapi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran diferensiasi dan penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila dan pembelajaran mendalam. Setiap perubahan bukan sekadar pergantian dokumen, melainkan pergeseran paradigma—cara berpikir, cara mengajar, dan cara menilai.

Di balik semua itu, guru tetap berdiri di garis depan. Mereka belajar kembali, mengikuti pelatihan, menyusun perangkat pembelajaran, menyesuaikan administrasi, hingga beradaptasi dengan teknologi digital—dari RPP satu lembar, e-rapor, hingga berbagai platform pembelajaran daring. Di daerah terpencil, guru tetap hadir dengan segala keterbatasan. Di perkotaan, mereka menghadapi tuntutan inovasi dan digitalisasi yang terus meningkat. Ini adalah jasa besar yang sering kali tidak terlihat secara utuh. Namun, di balik dedikasi itu, realitas lain juga tidak bisa diabaikan. 

Guru tidak hanya berjuang di ruang kelas, tetapi juga di ruang-ruang kebijakan. Selama bertahun-tahun, guru memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan—melalui berbagai skema seperti sertifikasi guru (tunjangan profesi), tunjangan khusus daerah 3T, tunjangan fungsional, hingga berbagai kebijakan peningkatan kesejahteraan yang terus diperjuangkan pemerintah dalam reformasi pendidikan nasional. Data menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan kesejahteraan antar guru—terutama antara guru ASN dan non-ASN, serta antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Tidak sedikit guru honorer yang selama bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan yang jauh dari layak. Aspirasi ini disuarakan dalam berbagai forum kebijakan pendidikan, dan menjadi perhatian publik serta pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Perjuangan ini sah, wajar, dan penting karena tidak mungkin menuntut kualitas tinggi dari guru tanpa memastikan kesejahteraan dan keadilan yang layak. Namun di titik inilah kita perlu jernih membedakan dua hal: perjuangan untuk kesejahteraan, dan perjuangan untuk menjaga integritas sebagai guru. Keduanya sama pentingnya, tetapi tidak boleh saling menggantikan.

Di tengah dinamika tersebut, guru juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Berbagai laporan menunjukkan capaian literasi dan numerasi siswa Indonesia yang masih menjadi tantangan. Hasil asesmen internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Bahkan dalam berbagai asesmen nasional, ditemukan fakta bahwa sebagian siswa masih mengalami kesulitan dasar dalam membaca pemahaman dan berhitung sederhana. Di sisi lain, muncul pula berbagai kasus penyimpangan perilaku di kalangan pelajar—dari kekerasan verbal, perundungan, hingga tindakan yang mencerminkan lemahnya pembentukan karakter. Ironisnya, sebagian pelaku berasal dari siswa dengan capaian akademik yang baik. Situasi ini sering kali menempatkan guru dalam posisi yang kontradiktif. Di satu sisi, guru diharapkan menjadi agent of change, pelita kehidupan, bahkan figur ideal yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan. Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan keterbatasan: beban administrasi yang tinggi, tuntutan capaian akademik, tekanan sosial, serta kompleksitas karakter peserta didik.

Tidak jarang, guru merasa seolah berada di tengah pusaran tuntutan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi nyata. Namun justru di sinilah makna profesi guru diuji. Karena menjadi guru bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi menjaga arah. Ki Hadjar Dewantara telah mengingatkan:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”Guru adalah teladan di depan, penggerak di tengah, dan penguat di belakang. Ini bukan sekadar semboyan. Ini adalah standar integritas.

Maka Hardiknas harus menjadi momentum autokritik. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menata ulang arah. Kita perlu bertanya dengan jujur:
Apakah kita masih mengajar dengan hati, atau sekadar memenuhi kewajiban?
Apakah kita memahami tujuan pendidikan, atau hanya menjalankan prosedur?
Apakah kita masih belajar, atau merasa cukup dengan apa yang sudah ada? Guru memang boleh lelah. Guru boleh merasa terbebani. Guru berhak memperjuangkan kesejahteraannya. Namun dalam saat yang sama, guru tidak boleh kehilangan kompas moralnya. Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, teknologi, atau kebijakan. Ia ditentukan oleh kualitas integritas guru itu sendiri.

Di titik ini, guru dituntut untuk tangguh—mampu bertahan dan terus berkembang di tengah tekanan. Sekaligus berdaya—mampu mengambil peran aktif dalam membentuk arah perubahan. Guru harus kembali pada esensinya: membentuk manusia. Bukan hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi membimbing mereka menjadi pribadi yang berkarakter, beretika, dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Hari Pendidikan Nasional adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali pilihan itu. Bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian.

Bahwa perjuangan untuk kesejahteraan harus berjalan, tetapi tidak boleh mengaburkan perjuangan yang lebih mendasar: menuntaskan diri sebagai pendidik. Keduanya bisa berjalan beriringan—tanpa harus saling meniadakan. Karena pada akhirnya, di tangan gurulah masa depan bangsa dibentuk. Dan dari ruang-ruang kelas yang sederhana, peradaban itu terus dibangun—bukan dengan kesempurnaan, tetapi dengan ketulusan, keteguhan, dan keyakinan bahwa setiap upaya yang dilakukan dengan integritas akan membawa perubahan. Guru adalah garda penjaga peradaban. Dan selama guru tetap menjaga itu, harapan bangsa akan selalu ada. Selamat menyambut Hari Pendidikan Nasional untuk para guru pejuang hebat. 

Penulis: Dr. Nanik Retnowati, M.Hum. Dekan FKIP UIKA Bogor

Continue Reading

News

Ketahanan Energi RI Kuat di Tengah Gejolak Global

Indonesia mencatat ketahanan energi peringkat kedua dunia saat Uni Emirat Arab keluar dari OPEC, memicu perubahan peta energi global.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Ketahanan energi Indonesia per Mei 2026 dilaporkan berada dalam posisi sangat kuat, bahkan menempati peringkat kedua dunia menurut JP Morgan Asset Management. Capaian ini mencerminkan kemampuan tinggi Indonesia dalam menghadapi guncangan global, terutama di tengah dinamika geopolitik dan pasar energi internasional yang semakin kompleks.

Secara teknis, Dewan Energi Nasional mencatat indeks ketahanan energi Indonesia berada di angka 6,64, masuk kategori “tahan”. Indikator ini mengacu pada empat aspek utama, yakni ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan keberterimaan lingkungan (acceptability). Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga memastikan bahwa pasokan energi nasional dalam kondisi aman dan stabil.

Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Produksi minyak bumi domestik terus mengalami penurunan, sementara ketergantungan terhadap energi fosil masih mencapai sekitar 90%. Untuk itu, pemerintah mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) seperti panas bumi, tenaga air, surya, dan bioenergi, mengingat potensi nasional yang mencapai ribuan gigawatt.

Di sisi global, laporan dari International Energy Agency dan Ember menunjukkan konsumsi energi dunia tumbuh 2,2% pada 2024, sebelum melambat menjadi sekitar 1,3% pada 2025. Negara berkembang seperti Tiongkok dan India menjadi motor utama, menyumbang lebih dari 80% pertumbuhan permintaan energi global.

Transformasi menuju energi bersih juga semakin nyata. Untuk pertama kalinya sejak 1940-an, listrik rendah karbon menyumbang lebih dari 40% pembangkitan global pada 2024, dengan energi terbarukan mencapai rekor 32%. Investasi energi global bahkan menembus USD 3 triliun, di mana sekitar USD 2 triliun dialokasikan untuk teknologi energi bersih.

Namun, dinamika baru muncul setelah Uni Emirat Arab resmi keluar dari OPEC per 1 Mei 2026. Keputusan ini mengakhiri keanggotaan selama hampir enam dekade dan dipicu oleh keinginan meningkatkan produksi minyak tanpa terikat kuota, serta strategi memaksimalkan pendapatan sebelum transisi energi global mencapai puncaknya.

Langkah UEA ini diperkirakan melemahkan kontrol OPEC terhadap harga minyak dunia. Analis energi menilai peningkatan produksi UEA berpotensi menekan harga minyak dalam jangka menengah, sekaligus menambah ketidakpastian pasar di tengah ketegangan geopolitik kawasan Teluk, termasuk konflik yang mempengaruhi jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Harga energi global yang fluktuatif dapat berdampak pada subsidi dan stabilitas fiskal. Namun, dengan fondasi ketahanan energi yang kuat dan percepatan transisi menuju energi bersih, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjaga stabilitas domestik sekaligus beradaptasi dengan perubahan lanskap energi global.

Continue Reading

News

Dukun dan Dinamika Politik Indonesia

Mereka dianggap sebagai pembisik handal yang melicinkan jalan dalam memperoleh “restu” kekuasaan

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Keberadaan jasa dukun di Indonesia disebut tak terpisahkan dari kontestasi politik, bahkan di era modern yang didominasi lembaga survei sebagai tolak ukur demokrasi. Fenomena perdukunan ini, sebagai bagian dari dinamika sosial, telah lama menjadi elemen tersembunyi dalam perjuangan kekuasaan.

Dukun dipahami sebagai individu yang dipercaya memiliki kekuatan magis, digunakan secara rahasia untuk kepentingan pribadi atau permintaan orang lain, baik untuk menolong maupun menimbulkan kerugian. Peran mereka dalam politik menjanjikan keuntungan dan kemenangan bagi para pengguna.

Sebagai fenomena politik, dukun telah ada seiring berkembangnya demokrasi pasca kemerdekaan. Dalam era Orde Baru, meskipun pola rekrutmen politik relatif sederhana, peran dukun tetap mendapatkan tempat khusus dan tersembunyi.

Mereka dianggap sebagai pembisik handal yang melicinkan jalan dalam memperoleh “restu” kekuasaan. Tidak jarang, dukun juga dimanfaatkan untuk menyingkirkan lawan atau kawan politik yang berpotensi menjadi ancaman.

“Ki Gendeng Pamungkas, seorang dukun santet terkemuka, mengaku bahwa dia sering diminta oleh para politisi dan lingkaran dalam kekuasaan untuk menyantet dan menghilangkan nyawa lawan politik, bahkan terhadap kawan yang potensial ‘menggunting dalam lipatan’.”

Kepemimpinan Soeharto, misalnya, disebut-sebut sangat kental dengan wilayah abu-abu ini, bahkan secara sengaja menyandarkan diri pada penasihat spiritual dan mistis. Sejumlah dukun loyal diyakini “memagari” kepemimpinannya, dengan laporan adanya “seribu dukun” di belakang Soeharto dari berbagai penjuru negeri. Beberapa nama penasihat spiritual seperti Romo Marto Pangarso, Romo Diat, dan Soedjono Hoemardani turut disebut. Selain itu, legitimasi kekuasaan Soeharto juga didukung kepemilikan benda-benda gaib seperti ageman dan pulung, serta kekuatan mistis. Ia diyakini memiliki setidaknya 113 pusaka yang berkontribusi pada kepemimpinan politiknya yang kokoh. Integrasi antara dukun, pusaka, dan kekuasaan pemimpin menunjukkan bahwa elemen mistis tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari politik Indonesia.

Continue Reading

News

Blokade Selat Hormuz Sumbat Nadi Ekonomi Dunia

Kenaikan harga minyak dunia dan harga gas di Amerika Serikat menjadi salah satu dampak langsung dari kebuntuan geopolitik ini

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Posisi Selat Hormuz begitu vital. Setidaknya 20% lalu lintas energi dunia melalui celah itu. Blokade di perairan sempit itu bak kolesterol yang menyumbat nadi ekonomi dunia. Banyak negara megap-megap sesak nafas kekurangan pasokan energi.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas menyusul desakan Presiden AS Donald Trump agar Teheran menghentikan ambisi nuklirnya. Seruan ini datang di tengah kenaikan harga minyak global dan berlanjutnya kebuntuan di Selat Hormuz.

Di sisi lain, juru bicara Iran menanggapi seruan tersebut dengan nada mencemooh, meremehkan kampanye blokade dan tekanan ekonomi Washington yang diterapkan terhadap negaranya.

Trump sebelumnya mendesak Iran dengan menyatakan, “Iran harus meninggalkan ambisi nuklirnya seiring melonjaknya harga gas di AS.”

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Iran menyikapi kampanye blokade dan tekanan ekonomi yang diinisiasi oleh Trump dengan ejekan. Pernyataan ini muncul di tengah lonjakan harga minyak dan berlanjutnya kebuntuan di Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak dunia dan harga gas di Amerika Serikat menjadi salah satu dampak langsung dari kebuntuan geopolitik ini. Situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk minyak dunia, juga semakin memperkeruh ketegangan.

Kedua negara terus terlibat dalam perang urat saraf di mana Washington berupaya menekan Teheran melalui sanksi, sementara Iran tetap menolak tuntutan tersebut, menandakan bahwa konfrontasi ini masih jauh dari kata usai.

Continue Reading

Review

Mempertimbangkan Jeda Fiskal Demi Menghalau Risiko Shut Down 2026

Indonesia menghadapi risiko shut down ekonomi pada Juni 2026 akibat pelemahan Rupiah dan ruang fiskal yang menyempit. Kebijakan jeda fiskal mendesak untuk menunda program belanja jumbo demi stabilitas nasional.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Kamis pagi, 30 April 2026, menjadi momen yang menyesakkan bagi pasar keuangan domestik. Rupiah dibuka “remuk,” melemah ke level Rp17.349 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar fluktuasi harian; ini adalah alarm keras bagi ketahanan ekonomi nasional. Dengan cadangan devisa yang terus menguap dari US156,5miliar diakhir 2025 menjadi US148,2 miliar pada Maret 2026 Indonesia kini berada di zona “lampu kuning.”

Di tengah badai ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah (Iran vs AS-Israel) yang mengancam penutupan Selat Hormuz, Indonesia menghadapi ancaman nyata: economic shut down pada Juni 2026 jika manajemen fiskal tidak segera dirombak.

Data menunjukkan bahwa posisi fiskal kita tidak lagi dalam kondisi “baik-baik saja.” Dana Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang seharusnya menjadi pelapis likuiditas saat pendapatan negara seret, kini hanya tersisa Rp120 triliun di Bank Indonesia. Sementara itu, Rp300 triliun lainnya terkunci dalam bentuk deposito on call di perbankan.

Kondisi ini diperparah oleh efek rembetan kenaikan harga energi. Kenaikan harga napta dan bahan bakar diesel nonsubsidi telah mencekik sektor manufaktur dan pertambangan. Jika pemerintah terus memaksakan belanja jumbo di tengah menyempitnya ruang napas fiskal, defisit APBN terancam melampaui batas aman 3 persen PDB.

Pemerintah saat ini memegang tiga program “tak tersentuh”: Makan Bergizi Gratis (MBG), Ketahanan Desa dan Masyarakat Pancasila (KDMP), serta belanja pertahanan. Ketiganya tetap melaju kencang meski program lain dipangkas habis-habisan.

Yang paling mencolok adalah belanja pertahanan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak UU No.17 Tahun 2003, terdapat alokasi BA BUN sebagai cadangan anggaran pertahanan senilai Rp150,5 triliun, yang berfungsi sebagai pelapis anggaran Kementerian Pertahanan sebesar Rp187,1 triliun. Totalitas anggaran ini sangat masif di tengah kapasitas fiskal yang “ngos-ngosan.”

Rencana penarikan Pinjaman Luar Negeri (PLN) sebesar US$34,8 miliar untuk periode 2025-2029 juga patut dikritisi. Membeli alutsista dengan utang melalui skema Kreditor Swasta Asing (KSA) yang lebih mahal dibanding Lembaga Penjamin Kredit Ekspor (LPKE) di saat outlook utang Indonesia merosot (Moody’s & Fitch), adalah langkah yang sangat berisiko. Biaya bunga akan membengkak, dan beban Rupiah Murni Pendamping (RMP) akan menyedot sisa-sisa likuiditas negara.

Melihat potret buram di atas, pemerintah harus berani mengambil keputusan yang tidak populer namun esensial: Menunda sementara (pending) anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mengapa MBG? Meskipun secara filosofis program ini baik untuk masa depan SDM, namun dalam konteks kedaruratan ekonomi 2026, MBG adalah beban konsumtif yang sangat besar. Memaksakan MBG di tengah rupiah yang menembus Rp17.300-an hanya akan memicu inflasi pangan yang lebih tinggi dan memperlebar defisit.

Selain menunda MBG, pemerintah juga perlu mengevaluasi efektivitas Pinjaman Dalam Negeri (PDN) senilai Rp54 triliun. Jangan sampai dana ini hanya menjadi modal bagi industri pertahanan domestik untuk sekadar menjadi “makelar” impor alutsista, alih-alih membangun kemandirian seperti kelanjutan produksi massal Tank Harimau/Kaplan untuk mengganti AMX-13 yang sudah uzur.

Indonesia sedang berjalan di atas tali tipis. Ancaman shut down ekonomi pada Juni 2026 bukanlah isapan jempol jika pemerintah tetap bersikeras menjalankan semua program jumbo secara bersamaan.

Diperlukan skala prioritas yang realistis. Menunda MBG dan merasionalisasi belanja pertahanan yang berbasis utang luar negeri bukan berarti membatalkan visi pembangunan, melainkan upaya menyelamatkan kapal besar Indonesia agar tidak karam sebelum mencapai tujuan. Jika rupiah terus melemah dan cadangan devisa terus terkuras, maka program makan gratis sekalipun tidak akan mampu mengenyangkan rakyat di tengah krisis ekonomi yang sistemik.

Pemerintah harus memilih: menjaga gengsi program unggulan atau menjaga stabilitas moneter yang menjadi fondasi hidup 280 juta rakyat Indonesia. Lampu kuning sudah menyala; jangan tunggu sampai merah.

Continue Reading

Review

Jumhur Hidayat: Jembatan Emas Ekologi dan Industri Nasional

Ketahui bagaimana Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup, berencana menyelaraskan kelestarian alam dengan pertumbuhan industri di Indonesia. Sebuah era baru untuk ekologi dan ekonomi nasional.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, penunjukan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH) menjadi angin segar sekaligus simbol harapan baru. Ia hadir bukan sekadar sebagai birokrat, melainkan sebagai sosok “jembatan hidup” yang dinilai mampu menyelaraskan ambisi kelestarian alam dengan mesin pertumbuhan ekonomi nasional.

Sambutan hangat dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan bahwa Jumhur adalah figur yang memiliki kredibilitas lintas sektoral. Rekam jejaknya yang panjang sebagai tokoh serikat pekerja dan mitra strategis industri memberinya perspektif unik yang jarang dimiliki pejabat publik lainnya: empati yang mendalam terhadap realitas lapangan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menegaskan bahwa kekuatan utama Jumhur terletak pada pemahamannya yang komprehensif mengenai dinamika sektor manufaktur. Bagi dunia usaha, Jumhur adalah kawan diskusi yang paham betul bagaimana roda industri bergerak.

“Pengalaman Pak Jumhur dalam dunia ketenagakerjaan menjadi modal penting untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan lingkungan dan keberlanjutan industri,” ujar Saleh Husin saat serah terima jabatan, Rabu (29/4/2026).

Jumhur dipandang sebagai pemimpin yang mampu menerjemahkan kebijakan lingkungan hidup yang sering kali dianggap kaku menjadi langkah-langkah strategis yang pro-produktivitas. Ia diharapkan mampu memangkas hambatan birokrasi dan “ekonomi biaya tinggi” yang selama ini membayangi perizinan lingkungan.

Di bawah kepemimpinan Jumhur, konsep Net Zero Emission tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan peluang. Kadin menaruh harapan besar agar Jumhur mampu mendorong pemanfaatan bahan baku daur ulang dari limbah industri sebagai sumber daya bernilai tambah.

Visi ini sejalan dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) yang menjadi tren global. Di tangan Jumhur, pengelolaan sampah industri diharapkan bertransformasi menjadi pilar ekonomi sirkular yang kuat. Konsistensi kebijakan ini diyakini akan memperkokoh daya saing industri nasional di kancah internasional.

Optimisme yang terpancar dari para pelaku usaha bukan tanpa alasan. Sinergi antara kebijakan lingkungan yang digagas Jumhur dengan kebutuhan industri dipandang sebagai kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kehadiran Jumhur Hidayat di kabinet adalah representasi dari kepemimpinan yang inklusif dan berorientasi solusi. Ia tidak hanya berdiri sebagai penjaga alam, tetapi juga sebagai motor penggerak penciptaan lapangan kerja melalui industri yang hijau dan berkelanjutan.

“Sekali lagi selamat kepada Pak Menteri Jumhur. Kami berharap beliau sukses menjawab tantangan global yang kompleks ini,” tutup Saleh Husin.

Dengan integritas dan pemahaman mendalam atas realitas sosial-ekonomi, Jumhur Hidayat kini memikul mandat besar: membuktikan bahwa Indonesia bisa tumbuh pesat tanpa harus kehilangan hijaunya.

Continue Reading

Review

Dream Team Komunikasi M. Qodari, Bisa Apa?

Pelajari bagaimana M. Qodari memimpin Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI dengan sebuah Dream Team Komunikasi untuk membentuk narasi negara yang padu dan agresif. Langkah ini diharapkan mampu melawan hoaks dan memperkuat edukasi publik.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Kita semua menyadari bahwa di era banjir informasi seperti saat ini, kejujuran dan ketepatan narasi adalah barang mewah. Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang sering kali dipenuhi oleh disinformasi, kita menyaksikan sebuah langkah berani dari Presiden Prabowo Subianto.

Penunjukan Muhammad Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan sebuah pernyataan bahwa kita sedang membangun benteng pertahanan komunikasi yang solid atau yang layak kita sebut sebagai “Dream Team”.

Mengapa kita harus menaruh kepercayaan besar pada sosok Qodari? Jawabannya terletak pada rekam jejak dan kedalaman berpikir yang selama ini kita saksikan. Kita mengenal beliau bukan hanya sebagai seorang analis politik yang tajam, tetapi sebagai praktisi yang memahami denyut nadi publik.

Saat menjabat di Kantor Staf Presiden (KSP), kita melihat bagaimana Qodari mampu menjahit berbagai isu strategis nasional menjadi narasi yang utuh dan menenangkan. Kebijaksanaan inilah yang kita butuhkan sekarang kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan namun tetap tajam dalam memberikan solusi.

Kita memahami bahwa komunikasi pemerintah selama ini sering kali terfragmentasi. Terkadang kita merasa bingung dengan pernyataan yang berbeda dari tiap lembaga. Namun, dengan hadirnya Bakom di bawah nakhoda Qodari, kita melihat adanya harapan akan lahirnya “orkestrasi” komunikasi yang padu. Kita tidak lagi ingin melihat informasi yang tumpang tindih; kita menginginkan satu suara negara yang jernih, tegas, dan berwibawa.

Satu hal yang patut kita apresiasi adalah komitmennya untuk tidak membiarkan pemerintah terus-menerus berada dalam posisi defensif. Kita mendengar penegasan beliau bahwa komunikasi pemerintah harus “agresif”.

Namun, kita harus memaknai agresivitas ini sebagai bentuk tanggung jawab untuk meluruskan kebenaran. Kita bangga memiliki tim komunikasi yang tidak diam saat diserang oleh hoaks, melainkan bergerak cepat dengan data dan fakta. Ini adalah bentuk perlindungan terhadap hak kita sebagai warga negara untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Kita juga melihat sosok Qodari sebagai jembatan intelektual antara visi besar Presiden dan pemahaman masyarakat akar rumput. Kita mengetahui bahwa kebijakan yang baik tanpa komunikasi yang baik hanya akan berujung pada kegaduhan. Di sinilah peran “Dream Team” ini menjadi sangat krusial. Mereka bertugas memastikan bahwa setiap tetes kebijakan yang diambil di Istana benar-benar dirasakan manfaatnya dan dipahami tujuannya oleh kita semua di pelosok negeri.

Pada akhirnya, kita mendukung penuh langkah strategis ini. Kita percaya bahwa di tangan sosok yang bijaksana dan berpengalaman seperti M. Qodari, komunikasi pemerintah tidak hanya akan menjadi sekadar corong informasi, tetapi menjadi sarana edukasi publik yang mencerdaskan.

Mari kita kawal bersama perjalanan “Dream Team” ini, demi kedaulatan informasi dan kemajuan bangsa yang kita cintai. Kita optimis, di bawah nakhoda yang tepat, narasi Indonesia akan semakin mendunia.

Continue Reading
News4 hours ago

DPR Minta Lembaga Penyiaran Gencarkan Sosialisasi Piala Dunia 2026 hingga Daerah 3T

LakeyBanget5 hours ago

Dibekali AI, RoboBus Tanpa Sopir Layani Jemaah Haji di Masjid Quba

LakeyBanget5 hours ago

Buntut Insiden Ini, AFC Jatuhi Persib Bandung Denda Rp3,5 Miliar

News10 hours ago

Dana Koruptor Triliunan Rupiah Terungkap

News10 hours ago

Angin Segar untuk Guru Honorer

News12 hours ago

Lazismu Kupas Tuntas Pengalihan DAM Haji ke Tanah Air, Solusi Atasi Ketimpangan Distribusi Daging Kurban

Ruang Sujud15 hours ago

Mukjizat Nabi Isa dalam Islam Bukti Kekuasaan Allah

LakeyBanget20 hours ago

Tandang ke Markas PSM, Persib Tak Didampingi 3 Sosok Penting Ini

News20 hours ago

Prabowo Perkuat Dukungan bagi UMKM dan Percepatan Pengentasan Kemiskinan

News24 hours ago

Ambisi Donald Trump Menjadikan Venezuela Negara Bagian AS ke-51

LakeyBanget1 day ago

Gabung Hyundai Hillstate, Berapa Gaji Megawati “Megatron”?

LakeyBanget1 day ago

Korlantas Polri Resmi Terapkan e-BPKB, Mulai Kapan?

News1 day ago

Pemerintah Luncurkan Panduan Pendidikan Antikorupsi 2026, Sekolah Jadi Benteng Integritas

News1 day ago

Viral Penilaian Kontroversial LCC Empat Pilar, MPR Nonaktifkan Juri dan MC

Ruang Sujud2 days ago

Ekonomi Islam Dinilai Tawarkan Jalan Tengah di Tengah Dominasi Kapitalisme dan Sosialisme

News2 days ago

Penyelamat Guru Honorer: SE Mendikdasmen No 7 Tahun 2026

News2 days ago

Danantara dan Sejumlah Pemda Teken MoU PSEL, Tangsel Kamu Kapan?

News2 days ago

Bahlil Beberkan Kabar Terbaru Soal Impor Minyak Mentah Rusia

LakeyBanget2 days ago

Lisa Blackpink Dijadwalkan Tampil di Pembukaan Piala Dunia 2026

LakeyBanget2 days ago

Messi In, Dybala Out: Berikut Daftar Skuad Sementara Argentina Piala Dunia 2026

Banner subscribe popup ×

Berlangganan Berita Terbaru Monitorday

Dapat memilih lebih dari satu.